Header Ads

SELAMAT, ANDA LULUS! - Kilas Balik


Aku lahir dari keluarga yang sangat berkecukupan dan itu sangat memanjakan. Eits tapi bukan berarti semua yang aku minta bakalan dikasih lho ya. Aku sudah diajarkan mandiri dan nggak boleh manja sedari dini. Dini banget. Kenapa? Karena kedua orang tuaku sama-sama kerja kantoran. Otomatis aku sudah dititipkan ke pengasuh selama ditinggal kerja. Sampai menginjakkan bangku sekolah Taman Kanak-kanak (dibaca:TK), aku berdomisili di ibukota Jakarta tercinta ini. Ya namanya di kota besar, pasti jarak dari kantor ke rumah jauh banget. Apalagi alat komunikasi belum secanggih sekarang. Boro-boro bisa video call, telepon rumah aja mungkin cuma dipakai di gedung perkantoran atau rumah mewah orang-orang kaya raya. Memantau keadaanku dirumah sudah dipastikan sangat sulit sekali. CCTV juga belum ada, internet juga belum, CCTV online juga pasti nggak ada dong. Duh kalau dipikir-pikir zaman sekarang sudah canggih banget ya.

Buka album foto lama dan melihat kelucuan aku ketika masih bau kencur kadang bikin ketawa-ketawa sendiri. Aku terlihat sehat dan sangat bahagia. Disela-sela kesibukannya, Mama Papa selalu bawa aku bermain kesana kemari, mendaki gunung lewati lembah, sungai mengalir indah ke samudra (heleh malah nyingnyong). Pokoknya kehidupanku sungguh sempurna. Makasih Mama Papa ku tercinta, sini peluk satu-satu. Jadi pengen sungkeman deh.

Dibalik kebahagiaan yang terpancar dari foto-foto itu, ada juga berbagai suka duka yang tersimpan dalam yang hanya terkuak kalau kita lagi asyik cerita-cerita masa lalu pas mati lampu. Nyari pengasuh anak itu ternyata sangat sangat sangat susah. Secara daycare kan belum ada di zaman bahelak itu. Kata 'sangat' sampai tiga kali ditulis berarti itu menyatakan kalau nyari pengasuh itu luar biasa pontang panting setengah matinya. Kalau dapat yang baik, penyanyang, jujur, rajin dan sesuai dengan keinginan sih hati bakalan tenang aman tentram dan damai. Tapi kalau yang enggak banget dan selalu nambahin beban pikiran, kudu sabar dan tawakal. Mulai dari yang berulah ini itu, nggak balik pas pulang kampung lebaran, yang suka nyiksa, yang emosian, yang suka nyolong, banyak lagi deh kelakuan lain yang kalau ditulisin bakalan bikin mata jereng buat bacanya. Kebayang kan gimana orang tuaku berjuang mati-matian membesarkan anak-anaknya. Untung cuma punya adek satu, kalau lima kan makin berabe. Makasih ya Ma Pa sudah berjuang demi anakmu ini.

Entah kenapa yang paling melekat dibenak ini adalah perlakuan yang kurang menyenangkan dari mbak-mbak pengasuh. Ada trauma tersendiri yang membekas direlung hati yang paling dalam. Beneran lho ini nggak bercanda. Namanya juga anak kecil pasti banyak kelakuannya kan. Nah pas banget dapat pengasuh yang emosian, bisa pecah perang dunia itu di rumah. Aku yang tak berdaya sudah pasti kalah dan bakalan menerima serangan. Kira-kira bisa ditangkap kan maksudnya apa, lagian kalau ditulisin detail kayaknya bisa bikin nggak enak perasaan dan hati.

Aku juga harus bersahabat dengan kesibukan orang tuaku. Kadang aku iri dengan teman-teman yang bisa dijemput ibunya, yang dikepangin rambutnya sebelum berangkat sekolah, disambut sepulang sekolah dirumah, ditanyain tadi disekolah ngapain, belajar apa dan hal remeh temeh lainnya. Yah memang terlihat sepele, tapi aku sangat menginginkannya. Sangat.  Tapi mau gimana lagi, harus diterima dengan lapang dada. Kan orang tuaku kerjanya juga buat sang anak-anak tercinta. Tuh kan aku sudah belajar ikhlas dari masih belia walaupun kayaknya belum berhasil sampai sekarang (ilmu ikhlas itu sulit kawan). Negatifnya, mungkin karena ini aku selalu ingin menjadi pusat perhatian dimanapun dan kapanpun, bahkan sampai sekarang. Aku selalu ingin mencari perhatian dari siapa saja. Aku akan selalu merasa sedih berlebihan saat tak ada teman dan sendirian. Aku selalu ingin berkumpul dengan orang lain yang membuat aku nyaman. Aku menjadi sosok yang haus perhatian dan phobia kesendirian.

Waktu aku SMP dan adikku masih SD disaat kami memutuskan untuk tidak menggunakan jasa ART lagi, aku harus mengerjakan pekerjaan rumah dulu sebelum bisa bermain dengan teman-teman yang waktu itu aku lagi gatel-gatelnya pengen sepedaan sama main petak umpet (puber yang terlambat memang). Pulang sekolah mah masih jam satu siang, beda sama anak sekolah sekarang yang belajar bisa sampai matahari mau terbenam. Jadi ya aku harus mengorbankan waktu bermain walaupun kadang masih sempat sih kalau ngerjain pekerjaan rumahnya dicepet-cepetin, hehe. Positifnya aku jadi lebih mandiri dan multitalenta dalam urusan pekerjaan rumah tangga.

Akhirnya Mama memutuskan untuk pensiun dini dan itu membuat aku bahagia luar biasa. Gimana nggak girang coba, hal yang aku idam-idamkan akhirnya terjadi. Aku nggak bertemu rumah kosong lagi setiap pulang sekolah. Aku nggak sendirian lagi dirumah sampai sore. Ih senengnya waktu itu. Cukup dengan kehadiran sosok ibu di rumah saja saat pulang sekolah aku berasa semangat banget buat buru-buru pulang ke rumah. Makasih Ma.

Aku jadi ingat saat ditanyain mengenai cita-citaku kelak, dengan spontan aku menjawab ingin jadi ibu rumah tangga. Nggak jarang aku mendapat cemoohan dan melihat tertawa seringai yang meremehkan dari orang lain. "Ah jadi ibu rumah tangga mah nggak perlu dicita-citain, udah pasti bakalan terjadi dengan sendirinya tanpa usaha apa-apa. Tinggal tiduran di rumah juga bisa". Yah begitulah tanggapan mereka. Tapi entah kenapa aku selalu menganggap seorang ibu rumah tangga tidak serendah itu. Profesi yang satu ini sungguh luar biasa. Bisa mengasuh dan mendidik anak serta melayani suami dan membuatkannya secangkir teh hangat sepulang kerja adalah hal yang paling mulia di dunia ini. Memang prinsipil sih, jadi nggak semua orang bisa sependapat tentang hal ini.

Perjalanan hidup lah yang membuat aku nggak tega meninggalkan Byan bersama pengasuh. Aku ingin hadir disetiap detik kehidupannya. Aku akan menjadi orang pertama yang akan menjadi sandarannya saat dia sedih, yang selalu siap kapanpun saat dia butuh. Aku nggak mau dia mengemis perhatian dari orang lain. Gimanapun juga aku ibunya dan Byan pasti butuh aku. Aku ingin Byan mendapatkan yang terbaik dari orang tuanya seperti aku yang juga sudah mendapatkan yang terbaik dari orang tuaku. Aku tidak berani mengambil resiko apapun dalam kehidupan anak-anakku. Allah menitipkan Byan kepadaku dan apapun akan aku korbankan demi membesarkannya dengan tanganku sendiri.


No comments