Header Ads

SELAMAT, ANDA LULUS! - Berjuang Demi Masa Depan


Secepatnya mendapatkan pekerjaan. Itulah yang sangat aku inginkan setelah lulus D3 Teknik Komputer di Politeknik Negeri Padang. Aku yakin dengan IPK yang lumayan menjanjikan pasti ada perusahaan yang mau menerimaku menjadi karyawannya. Tapi ternyata hal itu belum bisa terwujud. Orang tuaku menginginkan aku harus memegang ijazah S1. Oke, aku juga setuju karena mengingat saingan para pencari kerja yang rata-rata berpendidikan S1 atau bahkan sudah S2. Bisa kalah saing kalau memaksakan mencari kerja sekarang. Walaupun keterima pasti posisinya juga tidak sesuai dengan yang diharapkan. Disela menunggu waktu pendaftaran program S1 disalah satu perguruan tinggi negeri di Padang (sengaja memilih negeri karena rating yang bagus dan satu-satunya universitas keguruan negeri di Padang serta ketertarikanku dengan profesi guru yang bisa memiliki banyak waktu luang dengan keluarga), aku sempat memasukkan surat lamaran ke beberapa perusahaan. Sudah mengikuti beberapa tes tapi ternyata belum ada yang berhasil. Mungkin karena aku selalu menolak jika nanti ditempatkan di luar kota Padang saat tes wawancara. Ya gimana mau kerja keluar kota, aku kan harus lanjutin S1 dulu. Hitung-hitung sebagai pengalaman saat melamar kerja lagi nanti. Kan sudah kebanyang akan di tes apa saja oleh pihak perusahaan. Tapi aku sih pengennya jadi PNS biar aman sampai akhir hayat sudah ditanggung sama pemerintah. Waktu itu masih belum terlalu serius untuk mencari pekerjaan, masih membayangkan saja nanti arahnya akan kemana. Biarlah berjalan seperti air mengalir sesuai takdir Allah.

Singkat cerita, akhirnya dengan perjuangan yang luar biasa aku bisa menyelesaikan program S1 Pendidikan Teknik Informatika dan Komputer dengan IPK yang juga lumayan tinggi. Masih dikasih rezki sama Allah untuk mengikuti tes CPNS karena saat diterimanya ijazah, pengumuman CPNS pun bertebaran dimana-mana. Wah kesempatan emas ini tidak boleh terlewatkan. Dengan hasrat menggebu-gebu aku mencari lowongan guru Teknik Informatika karena memang profesi guru lah yang aku inginkan. Tapi formasi yang ada hanya di Sekolah Luar Biasa (SLB). Jadi mikir seribu kali untuk daftar disana, apa bisa aku mengajar anak-anak dengan keadaan istimewa seperti mereka? Kok ragu ya, rasanya nggak bisa.

Saat mengikuti Praktek Lapangan (PL), kebetulan aku ditempatkan disalah satu sekolah negeri kejuruan seni yang menerima anak-anak dengan kebutuhan khusus. Sempat dapat pengalaman mengajar anak autis yang luar biasa pintarnya, bahkan dia yang sering ngajarin aku ini itu. Dikasih tugas yang seharusnya dikerjakan untuk satu semester, eh malah minggu depannya sudah selesai semua. Yang nggak pernah aku lupakan adalah saat dimana dia tidak bisa mengontrol emosi yang terpancing dari hal apapun yang dia tidak suka, bahkan hal sepele sekalipun. Bisa langsung mukulin kursi ke orang lain atàu hal berbahaya lainnya. Aduh benar-benar menguji adrenalin. Tidak siap mental rasanya jika nanti akan menghadapi hal seperti ini setiap hari. Jadinya aku memutuskan untuk mengurungkan niat mendaftar pada formasi CPNS guru di SLB. 

Ditawari lagi buat kuliah nyambung S2. Aaaaakk nggak sanggup maaaak! Capek ngerjain Tugas Akhir yang kemaren saja rasanya belum hilang, malah disuruh kuliah lagi. Demi menghindari dikuliahin S2, aku mencari posisi CPNS untuk jenjang pendidikan D3 karena ijazah itu yang aku punya selain S1. Alhamdulillah banyak formasinya dan syarat usia masih memenuhi walaupun sudah di batas akhir. Mulailah perjuanganku disini.

Aku mendaftar di beberapa kementerian karena saat itu masih diperbolehkan sebelum peraturan baru keluar yang hanya memperbolehkan mendaftar di satu instansi pemerintah saja. Luar biasa menguntungkan bukan? Aku sangat bersyukur dengan anugerah ini. Beberapa instansi yang masih menyelenggarakan tes dasar secara manual, lokasi pelaksanaannya masih di kantor wilayah Sumatera Barat yaitu Padang. Tapi beberapa instansi yang sudah menggunanakan sistem  Computer Assisted Test (CAT) pasti akan melaksanakan tes di kantor BKN Regional Provinsi. Untuk regional Provinsi Sumatera Barat dan Riau, kantor BKN Regionalnya bertempat di Pekanbaru. Nah otomatis aku harus kesana. Sudah pesimis bakalan nggak dapat izin. Aku belum pernah sekalipun mendapat izin untuk beraktifitas di luar kota Padang. Tapi mau nggak mau aku harus ngomong ke orang tua untuk mendapatkan izin itu. Bismillah saja mudah-mudahan ada keajaiban. Awalnya sempat ditolak mentah-mentah dengan berbagai alasan, tapi aku berusaha terus dan terus bahkan sampai mengeluarkan air mata. Alhamdulillah hati mereka akhirnya luluh dan mengizinkan aku untuk mengikuti tes di Pekanbaru. Itupun karena disana ada Ibu (kakak dari papa) yang bisa mengawasi dan menjadi tempat menginap. Perjalanan darat yang memakan waktu lebih kurang 8 jam, mengharuskan aku untuk bermalam disana nantinya. Alhamdulillah ya Allah akhirnya hal luar biasa ini terjadi juga. Aku harus berjuang demi masa depanku. Kali ini harus sungguh-sungguh. Aku harus membekali diri dengan belajar semampunya walaupun aku masih buta dengan tes berbasis CAT. Apa sama dengan tes manual biasa? Ah yang penting usaha saja dulu, sisanya serahkan sama yang Maha Kuasa.

Beberapa hari sebelum jadwal tes, aku malah terkena gejala DBD. Duh hancur banget rasanya. Aku benar-benar nggak bisa berkonsentrasi belajar. Hanya bisa berdoa supaya dikasih kesembuhan biar kuat mengikuti tes. Setelah beberapa hari terbaring dan jadwal tes pun semakin dekat, aku belum juga pulih. Akhirnya aku nekat untuk pergi dengan keadaan masih belum fit hanya untuk melihat bagaimana bentuk soalnya (ngakunya sih sudah sehat, padahal mah belum). Dengan bekal ilmu seadanya dan lemah lunglai aku berusaha membaca dan mengingat semua soal yang terpampang di layar komputer. Aku tidak berharap lulus tes saat itu karena memang aku nyaris tidak bisa menjawab semua soalnya. Ternyata benar, aku belum memenuhi batas skor minimum. Yah wajar sih, aku nggak belajar apa-apa. Berbekal nekat saja ikutan tes ini. Tapi alhamdulillah hasil dari pengorbanan ini adalah aku jadi tahu bagaimana model soalnya. Apapun instansinya yang menggunakan sistem CAT, pasti model soalnya tidak akan jauh berbeda (teori sendiri).

Beberapa hari kemudian ketika semua penyakit sudah pergi dan aku beneran sehat, perjuangan pun dilanjutkan. Berbekal hafalan Undang Undang Dasar 1945 beserta pasal-pasalnya yang aku baca berulang kali bahkan sampai bukunya lecek, aku siap untuk mengikuti tes pada dua kementerian lagi yaitu Badan Kepegawaian Negara (BKN) dan Kementerian Pekerjaan Umum (PU). Tes dilaksanakan pada jadwal yang berbeda yang mengharuskan aku untuk bolak-balik Pekanbaru-Padang. Capek? Iya, pasti. Tapi hasilnya sangat menggembirakan, aku lulus Tes Kemampuan Dasar (TKD) di dua instansi tersebut. Bahkan hasil tes di BKN hanya lulus 3 orang pada TKD ini dan yang dibutuhkan pun juga 3 orang. Apalagi aku mendapatkan skor tertinggi. Walaupun masih ada tes selanjutnya, aku sudah dipastikan akan lulus menjadi CPNS di BKN. Bahagianya luar biasa.

Beberapa waktu kemudian tiba-tiba saja ada junior angkatan waktu kuliah di Politeknik yang menelepon ke rumah, namanya Lala. Dia mengetahui bahwa aku lulus TKD di Kementerian PU dan mengajak untuk mengikuti tes selanjutnya di Medan bersama dengan dia. Aku sempat menolak karena sudah pasti aku tidak akan diizinkan. Ke Pekanbaru saja minta izinnya susah, apalagi ke Medan yang lebih jauh dan harus naik pesawat? Tapi karena Lala mendesak dengan alasan dia tidak diizinkan berangkat ke Medan kalau hanya sendiri, aku memberanikan diri untuk meminta izin ke orang tua. Tanpa diduga dan dengan gampangnya aku mendapatkan izin. Sempat nggak percaya tapi itu nyata. Tanpa babibu sore itu juga aku dan Lala langsung membeli tiket pesawat ke Medan ditengah terpaan hujan yang deras. Singkatnya, besok sore aku berangkat dan di Medan pun sudah dijemput oleh saudaranya Lala sekaligus menginap di rumah mereka. Kurang enak apa coba? Didaerah orang lain aku mendapatkan fasilitas yang sangat spesial (walaupun terlihat biasa saja bagi orang lain). Malamnya aku sempatkan belajar dengan materi-materi kuliah dulu yang masih aku temukan di lemari. Karena kali ini Tes Kemampuan Bidang (TKB) yang diuji pastinya ilmu yang berhubungan dengan posisi yang dilamar.

Keesokan harinya kami diantar menuju lokasi tes, disana sudah dipenuhi dengan ribuan peserta tes lainnya. Nyaliku langsung menciut melihat banyaknya orang yang berkumpul. Ini baru satu lokasi tes, masih banyak lokasi lain yang tersebar di seluruh Indonesia. Ya sudah yang penting ikut saja dulu, lulus nggak lulus kan BKN sudah di tangan, hehe. Akhirnya tes pun selesai, sangat kecil harapanku untuk lulus karena lumayan banyak soal yang aku jawab dengan keragu-raguan. Apalagi di instansi ini masih ada tes ketiga yaitu wawancara. Yaaah seperti pupuslah harapan untuk lulus.

Beberapa hari setelah mengikuti tes Kementerian PU di Medan, aku dipanggil untuk mengikuti tes wawancara BKN di Pekanbaru. Sangat percaya diri saat itu karena aku yakin akan lulus. Apalagi tes wawancaranya hanya ditanyakan masalah umum yang semua pertanyaannya berhasil aku jawab dengan santai dan yang pastinya jujur. Sudah pasti lulus lah pokoknya di BKN. Ini tes terakhir yang aku ikuti, tanpa memikirkan hasil tes dari instansi lainnya, aku hanya fokus menunggu pengumuman dari BKN yang sebentar lagi akan menyatakan aku lulus dan segera memulai babak baru di Pekanbaru karena aku memilih penempatan disana.


No comments