“New Normal” Tinggal Hitungan Hari, Camkan 4 Hal Ini Demi Tetap Kuat Hadapi Pandemi

Source : freepik.com by peenat

Dibalik banyaknya narasi beredar tentang mewabahnya Covid-19, nyatanya pandemi ini benar-benar membuat banyak negara kewalahan, termasuk Indonesia. Tidak hanya berdampak pada kesehatan saja, kestabilan ekonomi yang semakin goyah juga turut memakan korban. Jumlah pasien positif meningkat, pengangguran korban PHK pun bertambah. Banyak usaha gulung tikar dan buruh harian tak lagi bertuan.

Bukannya mengenyampingkan masalah kesehatan,
tapi realita memburuknya keadaan ekonomi rakyat
tak mungkin diabaikan.

PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) sudah diberlakukan hampir 3 bulan lamanya. Kebijakan yang diharapkan mampu menekan jumlah pasien terinfeksi Corona, terasa sia-sia. Bukannya berkurang, kasus baru justru semakin bertambah. Kebijakan yang tumpang tindih dan berubah-ubah dimanfaatkan sebagai celah bagi warga "ngeyelan" untuk tetap bepergian. Padahal tanpa disadari, mereka bisa saja berstatus OTG (Orang Tanpa Gejala) yang menjadi carrier paling berbahaya. Belum lagi orang-orang luar biasa yang tak takut Corona, nongkrong berkerumun hingga puluhan orang masih tetap dilakukan. Saat diperingatkan petugas, bukannya bubar, malah marah-marah merasa tidak bersalah. Wajar rasanya jika pandemi ini semakin jauh dari kata "selesai".

Akhirnya pemerintah mengeluarkan kebijakan baru untuk hidup berdampingan dengan Corona yang dinamakan dengan "New Normal" atau tatanan normal baru. Awal bulan Juni nanti, seluruh kegiatan seperti sebelum adanya wabah sudah diizinkan aktif kembali. Toko, pasar, pusat perbelanjaan, perkantoran hingga nanti secara berangsur menghidupkan sektor pariwisata. Semuanya boleh dilakukan, asalkan tetap menjalankan protokol kesehatan, seperti rajin mencuci tangan, menggunakan masker, mengantongi hand sanitizer dan menjaga jarak.

***

Apakah "New Normal" sama dengan Herd Immunity?

Dilansir dari Kompas.com , Herd Immunity adalah kondisi ketika sebagian besar kelompok atau populasi manusia kebal terhadap suatu penyakit karena sudah pernah terpapar dan sembuh dari penyakit tersebut.  Untuk mencapai Herd Immunity, setidaknya 70 persen dari populasi harus terinfeksi terlebih dahulu. 
Sedangkan "New Normal" adalah perubahan perilaku untuk tetap menjalankan aktivitas normal namun ditambah menerapkan protokol kesehatan guna mencegah terjadinya penularan Covid-19 - Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmita.

Resiko besar dan banyaknya jumlah korban, membuat pemerintah Indonesia tidak mengambil solusi Herd immunity. Apalagi mengingat belum adanya vaksin Covid-19. Sebagai jalan tengah, diterapkanlah apa yang disebut dengan "New Normal", demi memulihkan keadaan ekonomi namun tetap mengedepankan pelaksanaan protokol kesehatan.

Kenyataan di lapangan bagaimana?

Menurutku, "New Normal" maupun Herd immunity adalah dua hal yang memiliki persamaan. Jika dilihat dari definisinya, Herd immunity memang terkesan mengerikan karena diprediksi akan memakan banyak korban selama vaksin belum ditemukan. Sedangkan "New Normal" tampak jauh lebih ramah karena masih adanya peraturan ketat mengenai penerapan protokol kesehatan. Padahal, kalau ditarik benang merahnya, dalam kedua hal tersebut tetap saja berakhir dengan "siapa yang kuat, dia yang bertahan".

Kuat dalam "New Normal" bukan berarti
orang yang kebal terhadap Covid-19,
namun orang-orang yang tetap melaksanakan protokol
kesehatan meskipun aktifitas telah dinormalkan kembali.
Mereka seolah memiliki tameng untuk tetap terlindungi.

Jika dibandingkan dengan Herd immunity, kebijakan "New Normal" dinilai dapat meminimalisir penyebaran virus di tengah masyarakat. Namun tetap saja akan ada kelompok yang akan tereliminasi dan beresiko besar tertular. Siapakah mereka?  Mereka adalah orang "ngeyelan" dan tidak peduli akan pentingnya protokol kesehatan. OTG atau ODP (Orang Dalam Pemantauan) yang merasa sehat, bisa jadi berbaur dengan mereka yang negatif atau berimun rendah. Tidak semua warga bisa diawasi sepanjang waktu oleh petugas untuk tetap melaksanakan protokol kesehatan. Jika masih banyak warga yang bandel, mungkin saja akan terjadi lonjakan pasien positif, sedangkan rumah sakit dan tenaga medis terbatas. So, seleksi alam akan tetap bekerja. Apapun yang akan terjadi nanti, entah itu "New Normal" atau Herd immunity sekalipun, terseleksi atau tidaknya seseorang, tergantung kepada masing-masing individunya. Semaksimal apa usaha pencegahan yang telah dilakukan.

Baca juga : Profesi yang Diambil Alih Ibu selama Pandemi Corona

***

Pertanyaannya, sudah siapkah kita menjadi kelompok kuat yang akan bertahan dimasa "New Normal"? Camkan 4 hal berikut.

Tidak lama lagi kita akan memasuki satu masa dimana terdapat banyak kebiasaan baru yang dianggap biasa. Segala sesuatu yang kita lakukan harus mengacu kepada protokol kesehatan yang tiada hentinya dikampanyekan demi keamanan diri. "New Normal" menjadi langkah yang diambil pemerintah untuk mengatasi permasalahan pandemi ini. Kesehatan dan ekonomi diibaratkan sebagai dua sisi mata uang yang sama-sama menduduki posisi penting dalam kehidupan. Tidak ada salah satu yang bisa dipilih. Yang ada hanyalah mencari cara agar kedua hal tersebut bisa diselamatkan.

"New Normal" masih menimbulkan banyak kekhawatiran. Bagaimana tidak, pusat keramaian akan segera dibuka kembali. Meskipun pemerintah selalu menekankan untuk tetap memperhatikan protokol kesehatan, tapi apakah semuanya akan mematuhi? Apakah semuanya akan terpantau petugas pengawas?

Satu-satunya cara terampuh adalah mempersiapkan diri dan keluarga agar tetap kuat selama pandemi. Karena sejatinya keselamatan diri tetaplah bergantung kepada seberapa maksimal usaha pencegahan yang dilakukan.

“New Normal” Bukan Berarti Keadaan Sudah Kembali Normal

Jangan pernah beranggapan bahwa saat dimana diberlakukannya kebijakan "New Normal" berarti bahwa semuanya sudah kembali pulih. "New Normal" bukan berarti normal, tetapi diterapkannya kebiasaan baru yang menjadi hal lumrah dikarenakan pandemi. Mall dan pusat keramaian mulai dibuka kembali. Meskipun nanti akan ada pengecekan pengunjung saat masuk, masih besar kemungkinan OTG akan lolos dan menyebarkan virus kepada pengunjung lain. Itu hanya satu contoh kecil penyebaran Covid-19 yang akan terjadi nanti, masih ada puluhan celah lain yang mengancam kita semua. Alangkah lebih bijak jika kita tetap mengutamakan keamanan dan memilih diam di rumah sampai pandemi benar-benar berakhir. 

Wajib Lakukan Protokol Kesehatan!

"New Normal" mengedepankan penerapan protokol kesehatan agar tetap aman dalam beraktifitas. Kita tidak akan bertahan jika tetap bandel dan menyepelekan poin yang satu ini. Dengan menjaga diri sendiri berarti kita telah menjaga keluarga, saudara, tetangga dan semua orang yang dijumpai.

Sekedar mengingatkan, inilah beberapa hal yang harus dilakukan sebagai penerapan protokol kesehatan sesuai rekomendasi ahli.

✔ Cuci tangan sesering mungkin. Terutama sebelum dan sesudah makan. Gunakan sabun apapun minimal 20 detik. Pastikan seluruh permukaan kulit tangan, sela jari hingga pergelangan tercuci bersih.
✔ Bawa hand sanitizer kamanapun untuk menjaga tangan agar tetap bersih jika memang tidak ada fasilitas mencuci tangan disekitar.
✔ Jangan memegang area wajah, terutama mata, hidung dan mulut.
✔ Terapkan etika batuk dan bersin dengan cara menutup mulut dengan lengan atas bagian dalam atau tisu yang segera dibuang setelahnya.
✔ Pakai masker saat keluar rumah. Bagi yang memiliki penyakit bawaan, gunakanlah masker medis. Dan yang tidak, gunakanlah masker non-medis atau masker kain. Hal ini dikarenakan jumlah masker medis yang terbatas.
✔ Lebih aman mengenakan sarung tangan saat berbelanja atau harus menyentuh barang yang sering dipegang orang.
✔ Langsung mandi sekembalinya dari luar. Tidak usah duduk, bercengkrama atau melakukan hal lainnya, langsung menuju kamar mandi.
✔ Lakukan isolasi diri secara mandiri jika menunjukkan gejala Covid-19 seperti batuk, demam, sakit tenggorokan dan sesak nafas. Konsultasi ke dokter agar mendapat penanganan tepat dan diagnosa pasti.
✔ Jaga jarak dengan orang lain minimal 1 meter dan jangan berkerumun. Kehidupan sosial tetap bisa terjalin melalui fasilitas daring.
✔ Jika tidak penting, tidak usah keluar rumah. 
✔ Hindari menerima tamu dan bertamu. Jika terpaksa, tetaplah menjaga jarak, hindari kontak fisik seperti bersalaman, berpelukan atau yang lainnya, serta selalu menggunakan masker. Tidak perlu berlama-lama dan ssgera pamit jika urusan telah selesai.
✔  Tetaplah menghirup udara segar dan usahakan berjemur matahari pagi di halaman, lapangan atau taman yang sepi. 
✔ Biarkan udara di dalam rumah bertukar setiap hari dengan membuka jendela beberapa jam di pagi hari.
✔ Semprot cairan disinfektan secara berkala pada benda yang berpotesi menjadi tempat bersarangnya virus, seperti gagang pintu, handphone, dompet atau kunci.
✔ Jika kondisi tubuh kurang fit, minum multivitamin.
✔ Lakukan pola hidup sehat dengan mengkonsumsi makanan bergizi, cukup buah dan sayur, minum air putih 8 gelas per hari dan istirahat yang cukup.

Produktif Tidak Harus Keluar Rumah

Bosan di rumah wajar. Tapi bukan berarti membenarkan diri dengan melakukan kesibukan di luar rumah yang sebenarnya bisa dihindari. Berbeda dengan karyawan atau pegawai yang terikat kontrak kerja dan mengharuskan mereka bekerja dari kantor, profesi lain yang tidak terikat tempat dan waktu seperti pemilik online shop, blogger, vlogger, desainer lepas, pelukis, penulis, dan sebagainya, tentu saja bisa memilih rumah sebagai tempat bekerja. Sebisa mungkin produktiflah dari rumah tanpa mencari alasan untuk keluar.

Jika Semua akan Terinfeksi, Fokus dan Pastikan Keluargamu Menjadi Orang Terakhir yang Berstatus Positif

Virus yang tidak bisa dilihat dengan mata telanjang ini berhasil membuat lengah banyak penduduk dunia. Area yang dirasa aman-aman saja, bisa jadi ramai virus. “New Normal” yang membebaskan kembali aktifitas warga tentunya menimbulkan kekhawatiran baru. Berusahalah agar kita sekeluarga bertahan selama mungkin di tengah pandemi ini. Lakukan segala upaya untuk tetap aman meskipun terasa tidak nyaman. Semakin lama bertahan, maka semakin besar pula kita akan selamat. Suatu saat pandemi Corona pasti berakhir, entah itu dengan ditemukannya vaksin atau punah karena kekebalan manusia. Tugas penting kita adalah tetap fokus dan pastikan diri serta keluarga menjadi orang yang bertahan paling lama di tengah pandemi. Hingga akhirnya semua benar-benar normal kembali.

***

Itulah beberapa hal yang sama-sama harus kita camkan demi menjaga diri dan orang lain dari infeksi Covid-19. Ini masalah kita bersama dan butuh kerjasama. Penyelesaiannya tidak cukup dengan usaha satu orang, melainkan menuntut kesadaran menyeluruh.

Stay safe dan siap hadapi tatanan normal baru :)
Semoga bermanfaat.


8 comments:

  1. Kita pasti bisa menjalani kebiasaan di New Normal ini. Semangat!

    ReplyDelete
  2. Saya rasa Indonesia belum cukup untuk masuk ke ranah new normal. Btw tulisannya bagus dan menarik!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pemerintah mungkin memiliki pertimbangan tertentu kenapa harus memberlakukan New Normal. Apapun itu, lebih baik fokus dan berusaha maksimal agar kita dan keluarga bisa bertahan selama mungkin dan selamat dari masa pandemi Covid-19 ini. Semangat!

      Delete
  3. pandemi memaksa prilaku kita berubah, yg awalnya cuek dengan kesehatan, bahkan kalo makan cuci tangan seadanya, srkng pakai sabun. keluar rumah tanpa maskr, skrng ga bisa lagi.

    new normal dipercepat walopun indonesia belum siap, demi menyelamatkan ekonomi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Meskipun terpaksa, membiasakan diri untuk hidup sehat dan bersih itu tetaplah hal baik. Semoga keterusan sampai nanti setelah pandemi berakhir.

      Siap tidak siap, tetap harus siap hehe. Berharap kebijakan ini tepat.

      Delete
  4. bener2 ketat ya makanya aku sekarang kalau mau keluar sekalian apa yang mau dibeli biar gak bolak balik ke luar

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama Mbak. Kalau bisa dipesan online saja semuanya hehe

      Delete

Sebelum komentar, login ke akun Google dulu ya teman-teman. Jangan ada "unknown" diantara kita. Pastikan ada namanya, biar bisa saling kenal :)