Cerita Kehamilan Keduaku, Putar Otak Hadapi Hiperemesis Hingga Kesulitan Tidur Demi Asuh Si Sulung



Aku dan suami memang berencana memiliki anak dengan jarak usia yang dekat. Bukannya tanpa pertimbangan, tapi alasan "sekalian susah" menjadi dasar pengambilan keputusan ini. Mumpung anak pertama masih berusia dua tahun, dan keriwehan emak-emak yang punya bayi masih melekat, mungkin memiliki bayi lagi tidak akan membutuhkan penyesuaian yang sulit.


Baby blues syndrome yang aku alami setelah kelahiran anak pertama sungguh menggores trauma. Bayangkan jika si sulung sudah berusia lima tahun dan aku baru berencana untuk hamil lagi. Pola tidur di malam hari yang sudah teratur, anak yang sudah mandiri, masa menyusui yang sudah lama terlewati, pasti akan menuntut usaha yang keras untuk beradaptasi kembali. Jadi akan aku hindari perubahan hidup mendadak setelah melahirkan ini dengan cara memiliki anak berjarak usia dekat. 


Masa kehamilan anak kedua adalah masa terberat yang aku alami disepanjang 31 tahun hidupku. Sekuat tenaga bertahan tanpa mengeluh demi Si Sulung yang harus diasuh. Ingin rasanya menyerah saja. Tapi aku yakin, seorang ibu tidak selemah itu.


Berbeda dengan kehamilan anak pertama yang diperlakukan bak ratu, kehamilan keduaku sangat jauh dari hal-hal yang memanjakan. Dulu, capek sedikit saja langsung dipersilahkan tidur seharian, bantalnya sampai disusunkan pula oleh suami. Makanan selalu tersedia sesuai selera. Ah, jika diingat-ingat, masa kehamilan anak pertama adalah masa dimana semua keinginanku akan dipenuhi dalam sekejap. Sangat berbanding terbalik dengan kehamilan kedua yang penuh perjuangan. 


Aku seorang full time mom dan tidak memiliki Asisten Rumah Tangga (ART). Semua pekerjaan rumah, termasuk mengasuh anak, sudah menjadi rutinitasku sehari-hari. Namun semua pekerjaan yang bisa aku lakukan dengan sempurna selama ini berubah menjadi sangat sulit setelah keluhan kehamilan kedua mulai terasa. Rumah berantakan dan tak satupun hasil masakan yang bisa aku hidangkan. Mengasuh anak pertama yang menyenangkan, tiba-tiba terasa begitu membebani. Saat badan lemas dan inginnya tiduran, masih ada manusia kecil yang harus dimandikan, disuapi makan dan ditemani bermain. Bagaimanapun keadaanku, mengasuh tetap menjadi nomor satu.






Mual Parah! Aku Muntah Puluhan Kali Dalam Sehari

Aku mengalami hiperemesis, mual dan muntah sepanjang hari | Foto: freepik.com

Sebenarnya saat hamil anak pertama, aku juga mengalami hiperemesis. Aku bisa muntah tanpa henti sepanjang hari. Tidak ada yang namanya morning sickness, yang aku rasakan adalah all time sickness. Harapan untuk menghilangnya hiperemesis ini pada kehamilan kedua ternyata tidak menjadi kenyataan. Justru mual dan muntah yang aku rasakan malah lebih parah. Meneguk air putih saja bisa membuatku muntah sampai tidak ada lagi yang bisa dimuntahkan. Perut benar-benar kosong dan kadang terasa nyeri.


Hiperemesis gravidarium (HG) adalah kondisi ibu hamil yang ditandai dengan gejala mual yang parah, muntah-muntah, kehilangan berat badan dan gangguan elektrolit dalam tubuh. HG bisa berlangsung sepanjang kehamilan, bahkan hingga bayi lahir.

__________

Belum tahu penyebab pasti dari HG. Namun beberapa pakar menyebut bahwa tingkat hormon yang meningkat saat hamil menjadi salah satu penyebabnya.

__________

Risiko HG diantaranya:

🔹️ Berat badan turun.

🔹️ Gangguan ginjal yang membuat jarang buang air kecil.

🔹️ Ketidakseimbangan mineral dalam tubuh.

🔹️ Otot yang melemah.

🔹️ Air ludah yang terlalu banyak.


- Dikutip dari https://id.theasianparent.com/hiperemesis-gravidarum-saat-hamil


Saat kandunganku melewati bulan ke-2, mual sudah mulai terasa. Awalnya masih biasa, bisa terlupakan dengan kesibukan. Selera makan yang mulai menurun juga bisa disiasati dengan memilih makanan yang dirasa paling menggiurkan. Namun saat memasuki bulan ke-3 hingga melewati bulan ke-6, mual itu sangat sulit ditahan dan membuatku sering sekali muntah. Memasuki bulan ke-7 dan ke-8, mual mulai mereda meski tidak seluruhnya menghilang. Paling tidak, muntah bisa aku tahan sehingga makanan bisa tercerna dengan sempurna. Sayangnya, mual itu kembali parah ketika kandunganku memasuki bulan ke-9 hingga hari melahirkan tiba. 


Hiperemesis sudah mengambil alih semua perhatianku. Sebelumnya aku masih bisa memasak menu sederhana untuk anak dan suami, namun sekarang berjarak satu meter dari dapur saja sudah membuat rasa mualku semakin menjadi-jadi. Bawang, bumbu dapur atau apapun bahan masakan yang berbau menyengat pasti aku singkirkan. Meski begitu, tetap saja rumah terasa mengeluarkan aroma aneh yang membuatku pusing. 


Mual dan muntah berkepanjangan ini tentu berdampak pada aktifitas keseharianku. Mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi, aku muntah tanpa jeda. Setiap ada makanan dan minuman yanga masuk dalam lambung, seolah ditolak mentah-mentah. Aku sangat lemas karena tidak ada makanan yang dicerna. Untuk berdiri saja aku harus menopang dengan tangan agar tidak jatuh. Obat mual dari dokter yang dosisnya selalu dinaikkan setiap kali konsultasi, tidak menolong sama sekali. Berbagai ramuan herbal juga sudah aku coba, tapi tak sedikitpun mengurangi.


Mengeluh tak akan menyelesaikan masalah. Hanya satu yang aku pikirkan saat itu, bertahan demi Si Sulung. 


Tanpa adanya bantuan ART, aku sungguh kesulitan. Rumah berantakan, tidak disapu berhari-hari, piring kotor menumpuk, dan yang pasti makanan selalu dipesan melalui aplikasi ojek online. Aku tidak peduli dengan pekerjaan rumah tangga yang terbengkalai, hanya anak pertamakulah yang menjadi prioritas. Dia masih bergantung penuh padaku. Aku tidak mau keputusanku untuk memilih hamil saat usianya belum genap dua tahun, malah membuatnya terganggu. Bagaimanapun caranya, aku tidak akan kalah dari hiperemesis itu.



Tips Kuat Menghadapi Hiperemesis Ala Aku


Setiap hari aku memutar otak untuk menemukan cara paling tepat agar kuat menghadapi keluhan mual dan muntah ini. Tidak ada pilihan, aku harus bertahan untuk mengasuh anak pertamaku. Minimal dapat mencukupi kebutuhan utamanya seperti makan, mandi, tidur dan bermain sebisanya. Meski terseok-seok, akhirnya aku menemukan beberapa tips ampuh untuk bertahan selama dilanda badai hiperemesis. Berikut tips tersebut yang mungkin bisa dicoba juga oleh ibu hamil lain dengan keluhan serupa.


1 Ceritakan

Luapkanlah segala rasa yang terpendam kepada orang terdekat, misalnya suami. Jangan malu jika ingin menangis, marah, teriak atau apapun agar beban terlepas. Biasanya setelan bercerita, ada sedikit perasaan lega di hati. Kelegaan ini akan memberi sugesti baik sehingga kekuatan untuk bertahan kembali terisi.


2 Berpikiran Positif

Selama merasakan mual, berarti janin dalam keadaan sehat. Selalulah berpikiran seperti itu. Hormon HCG yang menjadi penyebab rasa mual hanya dihasilkan oleh ibu hamil. Jadi selama hormon itu masih bekerja, berarti kehamilan masih berlanjut. Tanamkan dalam diri kalau semua ini akan segera berlalu. Bukankah pengorbanan besar akan membuahkan sesuatu yang besar pula? Yaitu bayi mungil yang akan segera lahir.

Jangan memikirkan hal yang tidak penting untuk dipikirkan. Jika ada masalah, aku akan mencoba memandangnya dari sisi yang paling baik, bukan malah berlarut-larut memikirkan buruknya saja. Jangan lupa pula berdoa untuk selalu diberi kekuatan dan kesabaran. Tanpa campur tangan Tuhan mungkin aku tidak akan sanggup melalui semuanya. Kalau aku sudah ditakdirkan untuk hamil, berarti aku pasti kuat melaluinya.


3 Hindari Makanan Pedas, Berminyak, Berlemak dan Bersantan

Setiap kali aku makan makanan pedas, berminyak, berlemak dan bersantan, pasti akan muntah setelahnya. Padahal makanan inilah yang aku idamkan selama hamil. Disaat menyantapnya memang nikmat, bahkan satu bungkus nasi padang bisa aku habiskan. Tapi setelah sesi makan berakhir, mual dan muntah akan semakin parah.


4 Minum Air Hangat

Bukan hanya makanan, minum air putih juga membuatku muntah. Ini sangat mengkhawatirkan. Ibu hamil seharusnya lebih banyak minum karena tubuhnya membutuhkan banyak cairan. Untung saat itu suami menyarankan meminum air hangat. Ternyata  cara ini ampuh untuk membuatku tidak memuntahkan kembali air yang telah diminum. Jadi selama hamil aku selalu meminum air hangat, termasuk saat bepergian dengan membawa termos kecil atau tumbler.


5 Hindari Kafein

Teh dan kopi adalah minuman berkafein yang paling sering aku konsumsi. Meski saat meneguknya terasa nikmat, ternyata dampak yang diberikannya bisa membuatku lemas seharian karena muntah. Sama halnya dengan makanan pedas, ternyata kafein dapat menaikkan asam lambung dan membuat rasa mual semakin parah. 


6 Jangan Banyak Bergerak/Beraktifitas 

Jika sumber energi yang masuk ke dalam tubuh sedikit, otomatis energi yang bisa dihasilkan juga sedikit. Lakukanlah sesuatu yang memang wajib untuk dilakukan dan tidak bisa diwakili orang lain. Misalnya seperti aku yang harus mengasuh anak, energi benar-benar hanya diprioritaskan untuk itu. Jangan memaksakan diri melakukan sesuatu yang dirasa membebani. Kalau malas beres-beres rumah, ya biarkan saja berantakan. Tidak akan ada yang tega memarahi ibu hamil. 


7 Tidurlah Disetiap Kesempatan

Terserah mau pagi, siang, sore atau malam. Pokoknya, selagi ada waktu beristirahat, berbaringlah. Bisa terlelap atau tidak, itu urusan belakangan. Yang penting dengan berbaring, tubuh akan terasa lebih rileks. 


8 Meludah Jika Menelannya Membuat Semakin Mual

Hiperemesis membuat produksi air liur dimulutku seperti air keran yang terus terbuka. Sayangnya, menelan ludah sendiri membuatku semakin ingin muntah. Maaf, bukan bermaksud untuk membicarakan hal yang jorok, dengan alasan untuk bertahan, aku akan membuang ludah tersebut setiap saat jika memungkinkan. Jadi aku sangat sering meludah saat hamil demi mengurangi rasa mual. Sebagai gantinya, aku lebih banyak meminum air putih agar cairan tubuh tetap tercukupi.


9 Jika Tidak Kuat Menahan, Muntahkan Saja

Menahan muntah adalah cara terbaik untuk mempertahankan makanan yang berhasil masuk ke lambung agar dapat dicerna. Tapi ada saatnya menahan muntah terasa begitu berat, malah setelah memuntahkannya perut sedikit lebih nyaman. Jadi jika tidak kuat, lebih baik muntahkan saja. Setelah itu baru berjuang kembali untuk makan.


10 Makan Sesering Mungkin dengan Porsi Kecil

Sangat penting tapi sering terabaikan. Makan dengan porsi kecil namun sering jauh lebih ramah untuk lambung ibu hamil dari pada makan banyak dalam satu waktu. Asam lambung yang meningkat saat perut kosong akan semakin memicu rasa mual. Inilah yang wajib dihindari. Apalagi bagi ibu yang memiliki riwayat magh, harus lebih diperhatikan lagi keadaan lambungnya.


11 Jangan Terlalu Banyak Memantang Makanan

Memberikan nutrisi terbaik untuk janin yang dikandung adalah keinginan semua ibu hamil. Aku maunya begitu, makan makanan sehat tanpa terkontaminasi makanan instan, junk food dan MSG. Tapi mempraktikkan itu saat hamil anak kedua rasanya sulit sekali. Memaksakan diri untuk selalu makan healthy food yang kebanyakan rasanya tidak enak, hanya akan membuat rasa mual dan frekuensi muntahku meningkat tajam. Dalam keadaan terdesak, misal sudah berusaha makan nasi lengkap dengan lauk dan sayur tapi selalu muntah, maka aku akan memakan apa saja yang aku inginkan, tidak peduli itu makanan kemasan atau makanan siap saji. Yang terpenting adalah tidak berlebihan dan semata-mata hanya demi mendapatkan energi agar tetap bisa bertahan.


12 Cari Pengalih Perhatian

Contohnya maraton nonton drama korea, main gadget sampai bosan, jalan-jalan menghirup udara segar keluar rumah, makan malam diluar bersama suami atau ke salon jik ada kesempatan. Rasa mual terlupakan sejenak dan pikiran akan lebih fresh




Bagiku, Ngidam Itu Mitos

Ngidam merupakan cara untuk menyampaikan kebutuhan ibu hamil | Foto: freepik.com


Sejak hamil pertama, aku tidak pernah merasakan apa yang dinamakan ngidam. Seperti yang aku pahami, ngidam adalah keinginan ibu hamil untuk melakukan suatu hal seperti makan makanan tertentu atau permintaan khusus. Ada kepercayaan bahwa jika ngidam ibu hamil ini tidak dituruti, maka bayi yang lahir bisa ileran atau suka ngeces.


Aku heran kenapa ada ibu hamil yang ingin makan kayu, mengunyah batu, menjitak kepala suami atau makan mangga hasil petikan suami sendiri. Padahal dari apa yang aku rasakan, mengidam punya penyebab yang lebih masuk akal. Misalnya saat aku ngidam makan mie instan, alasannya adalah karena aku terlalu mual untuk memakan makanan sehat dan mie instan memiliki rasa gurih yang sangat memanjakan lidah. Penjelasan ilmiah juga membuktikan bahwa jika ibu hamil mengidamkan suatu makanan, berarti tubuhnya sedang membutuhkan zat tertentu. Contohnya, ibu hamil yang ngidam mengunyah es batu, ternyata itu bisa meredakan bengkak di mulut dan lidah saat mengalami anemia.


Fenomena ngidam selain makanan juga lumayan sering aku alami. Selama hamil anak pertama, aku sangat ingin menggandeng suami. Ini aku artikan sebagai bentuk pernyataan bahwa aku butuh perhatian yang lebih lagi dari suami, yang merupakan ayah dari bayi yang aku kandung. Bagaimanapun, ini anak berdua, jadi sudah menjadi tanggung jawab berdua juga. Masak iya aku susah payah bertahan menghadapi berbagai keluhan, malah tidak diacuhkan suami? Kondisi tubuh yang tidak karuan saat hamil pasti mendambakan perhatian ekstra.


Agar tidak mudah terpengaruh dengan mitos yang belum tentu teruji kebenarannya, ibu atau calon ibu harus mencari informasi terkait kehamilan dan dunia parenting dari sumber yang terpercaya.

___________

Salah satunya adalah https://id.theasianparent.com/ yang merupakan situs parenting terbaik di Indonesia. Aku juga mengikuti akun media sosialnya, yaitu Instagram, Facebook dan channel Youtube-nya.

___________

Berbagai ilmu parenting mulai dari masa pra kehamilan, kehamilan dan pasca kehamilan ada di theAsianparent Indonesia. Ilmunya pasti, teruji dan tentunya sangat bermanfaat.


Bukan istilah ngidamnya yang salah, tapi pemahaman selama ini yang mengartikan bahwa ngidam adalah bawaan jabang bayi yang harus dituruti. Jika tidak, maka bisa berdampak buruk bagi si bayi tersebut nantinya. Padahal dibalik ngidam itu ada penjelasan ilmiah yang lebih masuk akal, yaitu kebutuhan tubuh akan zat tertentu atau untuk mencari perhatian lebih.




Berat Janin Kurang

Berat janin kurang, aku boost dengan makanan tinggi protein dan lemak | Foto: freepik.com


Ibu hamil seharusnya mencukupkan kebutuhan nutrisi agar janin dapat berkembang dengan baik. Hiperemesis yang aku alami membuat proses pemenuhan nutrisi ini tidak bisa terlaksana sesuai rencana. Bukannya tanpa usaha, tapi setiap makanan yang aku makan tidak bisa bertahan seluruhnya di lambung. Bergantung kepada suplemen saja ternyata tidak cukup. Minum susu khusus ibu hamil juga tidak cocok dengan pencernaanku yang intoleransi laktosa. Setiap kali mengkonsumsi segelas susu khusus ibu hamil, 30 menit setelahnya perutku akan penuh gas dan berujung diare.


Aku memanfaatkan waktu semaksimal mungkin untuk makan dan minum segala macam makanan tinggi lemak dan protein pada saat usia kandunganku 7 bulan hingga 8 bulan. Karena pada waktu yang singkat inilah aku bisa makan banyak tanpa memuntahkannya kembali. 


Tidak bisa makan dan minum dengan normal karena hiperemesis, bukan hanya mengancam kondisi tubuhku saja, namun juga kepada janin yang aku kandung. Berat janin menjadi tidak sesuai dengan yang seharusnya. Aku selalu mendapatkan pe-er untuk menaikkan berat janin setiap kali konsultasi ke dokter kandungan.


Segala cara akan aku usahakan untuk mencapai berat janin ideal, agar kejadian kelahiran anak pertama yang hanya 2,5 kg tidak terulang lagi. Meski tergolong berat lahir bayi yang normal, tapi itu berada pada batas minimal. Kurang 100 gr lagi sudah masuk dalam BBLR (Berat Badan Lahir Rendah) dengan berbagai risikonya. Makanya, aku menargetkan anak keduaku lahir minimal dengan berat badan 3 kg.



Makanan dan Minuman yang Aku Konsumsi untuk Menaikkan Berat Janin 


Berbekal informasi yang aku dapatkan dari dokter dan artikel seputar kehamilan di berbagai media, akhirnya aku bisa menaikkan berat badan janin dengan cepat di semester 3 kehamilan. Anak keduaku berhasil lahir di usia 36 minggu dengan berat 3 kg. Kuncinya adalah mengkonsumsi beberapa makanan dan minuman berikut setiap hari dalam porsi normal.


1 Perbanyak Protein, Bukan Karbohidrat

Jangan terlalu banyak mengkonsumsi makanan yang mengandung karbohidrat, seperti nasi, roti, mie, pasta, kentang atau kombinasinya. Makanlah sumber karbohidrat secukupnya saja. Lebihkan pada proteinnya, seperti daging sapi, ikan, ayam, tahu, tempe, telur dan protein lainnya. Karbohidrat yang dikonsumsi akan menambah berat badan ibu saja, sedangkan protein akan sangat mendukung kenaikan berat janin. 


2 Jus Alpukat

Alpukat banyak mengandung lemak yang baik untuk tubuh. Mengkonsumsi jus alpukat yang manis setiap hari akan mempercepat kenaikan berat janin. Dalam sehari aku meminum minimal satu gelas jus alpukat dan maksimalnya dua gelas saja. 


3 Es Krim

Makanan yang satu ini pasti sudah diketahui dan dibuktikan oleh banyak ibu hamil. Es krim manis yang mengandung banyak lemak pastinya akan cepat menaikkan berat janin. Tapi perlu diingat, jika kondisi kesehatan ibu kurang baik, seperti sedang terkena flu atau batuk, jangan dipaksakan mengkonsumsi es krim. Nanti penyakitnya malah semakin parah dan berdampak buruk terhadap kehamilan. 


4 Susu

Dokter kandunganku mengatakan bahwa susu apa saja aman dikonsumsi oleh ibu hamil. Mau susu cair, susu bubuk, susu cokelat, susu strawberi, susu vanila, merek yang murah, ataupun merek yang mahal. Minimal sudah melalui proses pasteurisasi sehingga kuman dan bakteri jahat sudah mati. Jadi tidak harus susu khusus ibu hamil. Berhubung aku alergi laktosa, aku memilih meminum susu full cream yang mengandung lebih banyak lemak. Dokter juga sempat menyarankan meminum susu penggemuk badan untuk boost berat janin, tapi aku belum sempat mencobanya. 


5 Lemak Tambahan

Siapa bilang lemak tambahan hanya untuk MPASI anak? Lemak tambahan juga bisa dimasukkan ke dalam menu ibu hamil. Apa saja contohnya lemak tambahan tersebut? Bisa EVO, minyak kelapa, butter, mentega, santan atau minyak sayur


6 Cokelat 

Perbanyaklah mengkonsumsi makanan manis yang satu ini karena bisa menambah berat janin. Cokelat bisa saja diolah dalam bentuk makanan ataupun minuman, jadi silahkan pilih mana yang disuka. 




Susah Tidur Saat Hamil Tua, Aku Memilih Lebih Produktif

Kesulitan tidur saat hamil tua, aku habiskan malam dengan aktifitas produktif | Foto: freepik.com


Memasuki bulan ke-8, rasa tidak nyaman mulai menganggu karena perut yang semakin besar. Pergerakan tubuh melambat karena berat dan gangguan tidur selalu terjadi setiap malam. Semua ibu hamil pasti tahu bagaimana rasanya sesak dan kebingungan mencari posisi tidur yang pas di penghujung masa kehamilan. Meski sudah miring kiri dan miring kanan, tetap juga tidak bisa merasa nyaman.


Saat hamil anak pertama, aku masih menjadi penguasa kasur yang bisa tidur dengan ganjalan bantal dimana-mana dan posisi semaunya. Tapi ketika Si sulung lahir, kebebasan itu tidak ada lagi. Meski sudah berusaha miring ke berbagai arah, tetap juga aku tidak bisa tidur. Berbagai cara lain juga sudah aku coba, seperti mandi air hangat dan minum segelas susu hangat sebelum tidur, tidak bermain gadget setelah memasuki kamar, meredupkan lampu, hingga menggunakan essential oil. Namun semuanya nihil, setiap malam aku tetap mengalami kesulitan tidur. Tentu saja ini sangat berpengaruh terhadap kondisi tubuh dan aktifitasku di siang hari. Malam pun bingung mau melakukan apa. Semua orang tertidur, hanya aku yang terbangun.


Ketimbang berguling-guling semalam suntuk, aku memilih beraktifitas produktif yang bisa dilakukan sendiri dan tidak mengganggu orang lain. Aku belajar menulis naskah non-fiksi dan menyelesaikan dua ratus halaman selama hampir 2 bulan. Ini sangat membantu. Aku menghabiskan waktu malam dengan kegiatan yang aku sukai, sehingga stres berkurang. 


Meski begitu, aku tidak mengenyampingkan pentingnya waktu istirahat bagi ibu hamil. Melakukan hal produktif yang disenangi dikeheningan malam memang menyenangkan. Namun sebelum memutuskan untuk melakukannya, aku tetap memperhatikan beberapa hal berikut ini agar tidak berdampak buruk bagi tubuh.


1 Tetap Mencoba Tidur

Aku tetap mencoba tidur terlebih dahulu. Masuk kamar jam sembilan malam. Jika hingga jam satu dini hari aku masih terjaga, baru aku keluar kamar dan mulai menulis. 


2 Tidur Siang

Sebisa mungkin aku selalu tidur siang setiap hari bersama anak pertamaku, sekitar dua atau tiga jam. Ini cukup untuk memberi sedikit energi dan membuat mataku tidak perih. 


3 Beri Waktu Libur

Aktifitas menulisku harus diliburkan minimal dua hari dalam seminggu. Ini akan memberi waktu agar tubuhku bisa berusaha maksimal untuk tidur. Takutnya jika dipaksa begadang setiap hari,  malah memancing datangnya penyakit karena daya tahan tubuh yang melemah.


4 Jangan Lakukan Aktifitas Berat dan Cukupkan Nutrisi

Aktifitas berat akan menyerap banyak energi. Kondisi tubuh yang tidak stabil karena kesulitan tidur di malam hari tentu saja tidak menyimpan banyak energi, sehingga energi yang seadanya itu harus dihemat sebaik mungkin. Pastikan pula nutrisi tubuh tercukupi agar dapat bertahan meski kebutuhan istirahat tidak terpenuhi dengan baik.


Perlu digarisbawahi, mungkin tidak semua ibu hamil akan cocok dengan cara ini. Aku memilih melakukan hal produktif untuk menghabiskan malam karena memang inilah cara yang paling membuatku tetap fit, baik secara psikis maupun fisik. Tentunya dengan memperhatikan beberapa hal yang telah aku tuliskan sebelumnya. Hanya berguling-guling saja semalaman tanpa bisa tertidur sering membuatku semakin lelah dipagi hari. Suasana hatipun memburuk. Makanya aku lebih memilih bangun dan melakukan sesuatu saat usahaku untuk tidur gagal.




Calon Kakak yang Menangguhkan dan Suami yang Sempat Kebingungan

Si Sulung dan suami adalah sumber kekuatanku 


Bunda muntah lagi? Mau diambilin plastik?

Bunda capek ya? 

Bunda cepat sembuh ya.

Anak pertamaku, 2 tahun.


Usianya baru 2 tahun, tapi satu kalimat darinya bisa membuatku bersemangat sepanjang hari. Mungkin melalui mulut mungilnya inilah, Tuhan mengirimkan aku kekuatan.  Tiap kali aku mual dan ingin muntah, anakku selalu menawarkan untuk diambilkan plastik. Memang biasanya aku menaruh kantong plastik kresek ditempat yang mudah dijangkau agar tidak susah dicari saat mualku memburuk. Beberapa kali, tanpa diminta, tangan kecilnya juga memijati kaki besarku yang membengkak. Harapannya agar aku dapat sembuh dengan cepat sangat membuat haru. Dia juga kerap menyuruhku tidur dan bilang akan baik-baik saja kalau main sendiri.


Aku memang selalu menceritakan apa saja kepadanya, termasuk saat kakiku kram, kepalaku pusing, atau ketika aku merasa sangat lemas. Dia adalah orang yang paling lama menghabiskan waktu bersamaku, bahkan melebihi suamiku. Makanya, aku lebih sering berbicara banyak hal dengan si calon kakak ini. Anak sekecil itu saja begitu tangguh dan ikhlas menerima keadaan Bundanya yang tidak bisa lagi totalitas bermain seperti sebelumnya. Apakah aku pantas untuk menyerah? Tentu saja tidak!


Perjuangan berbulan-bulan agar tetap kuat ini tidak lepas dari peran suami dan anak pertamaku. Meski terkesan berjuang sendiri, tapi merekalah alasanku untuk tetap berusaha sekuat mungkin mengalahkan keluhan kehamilan yang cukup menguras tenaga dan pikiran. Mereka begitu berharga bagiku.


Ketidakberdayaanku saat mengalami hipermemsis tentu sangat membutuhkan peran suami untuk berbagi tugas, baik itu pekerjaan rumah tangga maupun mengasuh anak. Tapi anehnya, selama hamil anak kedua, aku malah merasa tidak nyaman jika berada didekat suami. Aroma tubuhnya membuatku sangat mual, meskipun baru selesai mandi. Aku juga bingung kenapa itu bisa terjadi, padahal saat hamil anak pertama aku selalu ingin didekat suami.


Beruntungnya, suamiku tidak merasa terganggu dengan itu. Meski bingung harus menanggapinya dengan cara apa, dia selalu berusaha menyelesaikan pekerjaan rumah setiap kali ada kesempatan. Tidak lupa membeli lauk pauk untuk aku dan anak pertamaku sebelum berangkat kerja. Dia tahu aku tidak sanggup memasak dan mengurus rumah. Dia juga tidak marah saat aku meminta untuk menjaga jarak. Dengan cara ini,  aku merasa sangat terbantu dan dimengerti.



Hal Sederhana yang Bisa Dilakukan Suami untuk Istri


Terkadang suami sering bingung mau berbuat apa untuk meringankan pekerjaan istrinya. Karena kebingungan inilah dia jadi terlihat cuek dan terkesan tidak peduli. Apalagi saat istri sedang hamil yang sangat butuh perhatian. Sekedar berbagi cerita, inilah beberapa hal sederhana yang dilakukan suamiku yang sangat membantu menjaga mood saat hamil. 


1 Tanya Keadaan Istri

Sebisa mungkin sepulang kerja jangan pegang hape dulu, tapi lihatlah keadaan istri, sedang apa dia, bagaimana perasaannya dan bagaimana harinya. Bertanya akan kegiatan kesehariannya dan bagaimana keadaan anak-anak atau keadaan rumah, akan memberikan kebahagiaan tersendiri kepada istri karena merasa diperhatikan. Istri juga akan merasa memiliki partner dalam mengurus rumah tangga, merasa tidak sendiri dan ada tempat untuk bergantung. 


2 Dengarkan Cerita Istri

Menjalani hari sebagai ibu hamil dengan serba ketidaknyamanannya, tentu membutuhkan tempat mencurahkan unek-unek agar tidak menjadi racun yang bisa merusak segalanya. Siapa lagi orang terdekat dan terpercaya yang bisa diajak bicara selain suami? Dengan mendengarkan saja tanpa berkomentar, sudah cukup melegakan istri. Apalagi kalau direspon dengan memberikan saran atau semangat, pasti lebih membahagiakan lagi. 


3 Ucapkan Terima Kasih

"Makasih ya, udah jagain anakku". Istri mana yang tidak meleleh saat mendengar kalimat ini dari suaminya. Semua lelah istri seketika menguap jika diapresiasi, apalagi oleh suami sendiri. Bukankah ini sebuah hal kecil yang gampang dilakukan? 


4 Sesekali Ajaklah Jalan-jalan

Setiap orang pasti memiliki rasa jenuh dengan aktifitas hariannya. Disinilah suami bisa membuktikan perhatiannya dengan mengajak jalan-jalan istri. Sangat berbeda rasanya jika ide jalan-jalan ini keluar dari inisiatif suami, bukan istri. Tidak perlu jauh-jauh, bahkan hanya berkeliling kota atau ke mall terdekat saja sudah cukup. 


5 Bantu Pekerjaan Istri

Pekerjaan seorang ibu dimulai sejak terbukanya mata hingga nanti tertidur kembali, tanpa waktu istirahat dan tanpa hari libur. Mirisnya, masih saja ada yang tidak mengerti dan tidak mau mencoba mengerti, berdalih bahwa memang itulah kodrat seorang wanita. Padahal tidak ada salahnya jika sesekali suami mencuci piring atau bergantian menjaga anak dikala istrinya mengerjakan pekerjaan yang lain. Jika ingin memberi perhatian yang lebih lagi, bisa memberikan waktu me time bagi sang istri dan mengambil alih semua pekerjaan rumah. Dijamin kebahagiaan akan selalu menyertai keseharian istri dan pastinya akan membawa suasana positif dalam rumah.




Aku Memutuskan Kembali Sesar

Keputusan melahirkan secara sesar yang harus aku ambil | Foto: freepik.com


Sebenarnya mau melahirkan secara normal maupun secara sesar, tidak akan mengurangi perjuangan ibu untuk menghadirkan sang buah hati ke dunia ini. Keduanya sama-sama menyisakan sakit di tubuh ibu. Walaupun masih banyak orang yang beranggapan bahwa melahirkan dengan tindakan sesar bukanlah cara melahirkan yang sesuai dengan kodrat seorang wanita. Tidak jarang kalimat cemoohan dilontarkan kepada mereka yang memilih untuk sesar. Padahal banyak alasan dibaliknya. Mungkin saja jika memaksakan diri untuk tetap melahirkan normal, akan ada risiko besar yang terjadi, bahkan bisa mengancam nyawa ibu dan bayi. 


Sebagian besar penyebab dilakukannya bedah sesar adalah karena adanya alasan medis. Seperti sungsang, ketuban rembes, bayi terlilit tali pusar atau plasenta yang menutupi jalan lahir. Tidak peduli sudah seberapa banyak persiapan ibu untuk melahirkan secara normal, jika kondisi medis memperlihatkan ada suatu indikasi darurat, tetap saja persalianan normal tidak bisa dijalankan. 


Selain indikasi medis, ada alasan lain yang memaksa ibu untuk melahirkan secara sesar. Seperti pengalamanku yang harus memilih sesar kembali untuk melahirkan anak kedua. Meskipun secara medis kondisiku memungkinkan untuk vaginal birth after cesarean (VBAC).


Aku dan suami sepakat bahwa terlalu riskan jika aku melakukan persalinan normal untuk anak kedua kami. Bukan karena alasan kondisi fisik, tapi lebih kepada kondisi keluarga. Aku hanya berdua saja dengan anak pertamaku di rumah yang baru berusia 2,5 tahun. Saudara juga tidak ada yang dapat segera dimintai tolong jika terjadi sesuatu. Mengandalkan tetangga juga tidak mungkin, mereka tidak pasti berada di rumah selama 24 jam penuh. Jika nanti tiba-tiba terjadi kontraksi atau tanda-tanda melahirkan lain, sedangkan suami sedang tidak berada di rumah, apa yang harus aku lakukan? Aku tidak berpengalaman melahirkan normal. Apalagi lokasi kuliah suami yang lumayan jauh. Kondisi jalan yang tidak bisa diprediksi tidak menjamin suami bisa tiba dalam waktu cepat.


Aku dan suami tidak berani mengambil risiko apapun, dan akhirnya memilih untuk sesar kembali. Walaupun saat konsultasi terakhir, dokter menyatakan bahwa kondisiku memungkinkan untuk melahirkan secara normal. Apalah jadinya jika aku menunggu kontraksi alami dan merasakan kesakitan luar biasa, sedangkan saat itu terjadi Byan sedang tidur, sedang sakit, sedang rewel dan suami tidak ada dirumah? Semuanya akan kacau dan diluar kendali.


Cerita melahirkan sesarku ini hanyalah satu dari jutaan cerita sesar lainnya. Mungkin banyak lagi alasan yang menakdirkan para ibu melakukan bedah sesar. Bukannya menentang kodrat, tapi akan lebih banyak hal positif terjadi jika tidak memaksakan diri untuk melahirkan secara normal. Semua kembali lagi kepada diri masing-masing, mau mengambil risiko atau tidak. Apapun itu, keselamatan ibu dan bayi harus tetap diutamakan. Alangkah lebih baik jika tidak memberi komentar yang menyudutkan kepada ibu pasca melahirkan jika tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. 




Kesimpulan

Setiap ibu memiliki cerita kehamilan yang unik. Bahkan kehamilan kakak beradik pun bisa berbeda. Ada yang melaluinya dengan santai, tapi tidak sedikit pula yang melaluinya dengan perjuangan hebat. Keluhan kehamilan bisa saja menjadi beban berat bagi ibu. Namun kekuatan luar biasa seorang ibu selalu berhasil menangguhkan, hingga akhirnya semua terlewati dengan sempurna. Selain tekad yang kuat dari ibu, peran suami, anak dan orang sekitar juga sangat mempengaruhi. Maka dari itu, berilah perlakuan terbaik kepada ibu hamil karena hamil itu bukanlah perkara mudah. 


___________________


Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Cerita Parents yang diselenggarakan oleh theAsianparent Indonesia dengan kategori pilihan Kehamilan dan tema pilihan Cerita Kehamilan.


Referensi:

alodokter.com

id.theasianparent.com

nova.grid.id

sehatq.com



No comments:

Post a Comment

Sebelum komentar, login ke akun Google dulu ya teman-teman. Jangan ada "unknown" diantara kita. Pastikan ada namanya, biar bisa saling kenal :)