Header Ads

Pengalaman Pertama Menyusui Bayi



Ternyata menyusui bayi itu tak segampang kedengarannya. Apalagi anak pertama. Itulah yang kualami saat pertama kali menyusui putra pertamaku, Byan. Ketika kudekap tubuh mungil Byan, tanpa menunggu lama langsung kucoba untuk menyusuinya. Alhamdulillah Byan sudah mulai bisa menghisap. Nggak kusangka ternyata hisapan bayi sakit banget. Bener-bener sakit. Mau dilepas nggak mungkin. Gimanapun sakitnya, aku harus tetap menahannya. Ternyata masalah yang kuhadapi bukan cuma itu saja, tapi saat itu asi ku belum keluar. Kering sama sekali. Aku panik bukan main karena Byan selalu menangis seperti kelaparan. Entah berapa kali aku memencet bel untuk memanggil suster untuk menanyakan apakah Byan baik-baik saja. Dan untuk kesekian kali juga suster menjelaskan bahwa bayi yang baru lahir memiliki cadangan makanan untuk bertahan hidup selama 72 jam. Yang harus kulakukan hanya terus menyusui Byan karena air liur bayi bisa merangsang produksi asi.

Aku teringat beberapa tulisan yang kubaca sebelum lahiran mengenai asi. Ada yang bilang bahwa obat bius atau obat yang dikonsumsi oleh ibu yang melahirkan secara caesar akan menghambat produksi asi. Jangan-jangan penyebab asiku tidak keluar adalah itu. Ya walaupun begitu aku harus tetap berusaha semaksimal mungkin selama 3 hari ini agar Byan tidak terpaksa diberi susu formula.

Sehari telah berlalu tanpa setetes asipun yang diminum Byan. Aku sedih dan hampir putus asa. Bahkan mertuaku menyuruh suster untuk memberi susu formula. Tapi lagi-lagi suster memberi semangat untuk meyakinkan bahwa asi seorang ibu itu pasti akan keluar. Berkali-kali kucoba menyusui Byan setiap dia nangis. Tapi tetap juga sia-sia. Bahkan dengan paksa kupencet payudaraku berharap ada cairan yang keluar. Tak ku pedulikan lagi sakit yang kurasakan. Semua vitamin dan susu pelancar asi yan dikasih dokter aku minum. Semuanya hanya demi Byan.

Hari kedua setelah byan lahir, akhirnya keluar juga cairan bening kental dan lengket. Yang aku tau asi itu berwarna putih kekuning-kuningan, tidak seperti ini. Aku tak tau itu apa. Tapi Byan terlihat menghisap dengan enaknya. Tapi paling nggak Byan sudah meminum sesuatu untu mengisi lambungnya. Aku bertanya kepada suster mengenai cairan bening itu. Ternyata itu kolostrum yang sangat bagus untuk bayi. Aku senang sekali mendengarnya, akhirnya asiku keluar juga. Aku bisa menyusui Byan. 

Besokya muncul lagi permasalahan baru yang harus kuhadapi. Putingku lecet dan berdarah karena hisapan Byan. Sakitnya nggak bisa dijelasin deh. Sakit banget pokoknya. Yang paling parahnya aku harus menyusui Byan terus nggak peduli gimanapun keadaanya. Tips yang dikasih sama suster sih sederhana, selalu melumuri puting dengan asi karena asi bisa mengobati lecet yang ada. Sebenernya ada sih obat oles untuk mengobatinya, tapi aku nggak mau karena jika aku menggunakannya otomatis Byan akan meminum obat itu saat menyusu nanti.

ketika aku dikunjungi oleh dokter laktasi, beliau menjelaskan bahwa lecet yang terjadi pada puting saat menyusui bayi disebabkan karena posisi yang salah. Jika menyusui bayi dengan posisi yang tepat maka puting tidak akan bergesekan dengan lidah, tetapi agak masuk kedalam mendekati kerongkongan. Selain itu posisi badan bayi juga harus menghadap ibu. Bukan hanya kepalanya saja yang dimiringkan kearah ibu, tetapi seluruh badannya juga harus dimiringkan. Bisa menyusui dengan posisi duduk atau berbaring. Tapi berdasarkan pengalamanku, menyusui bayi dengan posisi berbaring lebih sering menyebabkan bayi muntah karena posisi tubuh bayi yang datar. Sebaiknya susui bayi dalam posisi duduk dan kepala bayi ditinggikan agar gaya gravitasi membantu asi turun ke lambung bayi.

Berikut gambar yang memperlihatkan posisi menyusui yang benar.



Semoga bermanfaat..

2 comments:

  1. Pengalaman menyusuiku gak semudah yang dibayangkan. Memang penting banget ibu baru membekali diri dengan informasi mengenai ASI dan cara menyusui.

    http://ceritanggita.blogspot.co.id/2014/02/drama-menyusui-pada-ibu-baru.html

    Untuk sharing saga. Smog bermanfaat

    ReplyDelete