Featured Slider

Ide Bekal Anak TK yang Cocok untuk Awal Sekolah Tatap Muka

No comments

"Awal semester ini, anak-anak sudah diperbolehkan membawa bekal. Namun pastikan yang simpel-simpel saja ya, Bu, Pak."

Itulah pesan yang disampaikan oleh kepala sekolah anak pertama saya, awal bulan lalu. Kuncinya ada di simpel. Saya menerjemahkan maksud dari simpel ini adalah bekal yang pas dan cocok dimakan anak di suasana pandemi dan keadaan sekolah tatap muka yang baru saja dilaksanakan dengan segala pembatasan.


Ide bekal anak


Penerapan protokol kesehatan tentu sangat ketat. Bahkan dari jenis botol minum pun sampai di atur, yaitu harus memakai sedotan agar tidak perlu membuka masker sepenuhnya atau terlalu besar ketika anak merasa haus. Jam sekolah yang masih 1,5 jam, pastinya juga menjadi pertimbangan bagi saya untuk menentukan bekal yang cocok. 


Penerapan bekal yang mengusung tema kelengkapan gizi mungkin belum bisa saya terapkaan dulu di awal PTM ini. Kenapa? Alasan pertama, jelas sekali bahwa waktu makan pasti sangat terbatas. Biasanya bekal yang bergizi lengkap, akan lebih banyak komponen dan bersifat makanan berat. Jadi, bekal yang saya siapkan harus memenuhi tiga syarat berikut.


Praktis Dimakan

Saya memastikan bekal yang dibawa anak sangat mudah dimakan. Sebisa mungkin saya menghindari penggunaan sendok. Mentok-mentok garpu saja untuk menusuk makanannya. Tidak menyendok seperti memakan menu utama seperti nasi, mie dan sebagainya. Maunya tinggal comot dan sekali hap.

Tidak Berantakan

Pernah sekali, saya membekalkan bakpao isi cokelat. Ternyata anak saya protes karena cokelatnya meleber ke mana-mana dan itu membuatnya kesulitan membersihkan di tengah keterbatasan gerak. Akhirnya saya menjadikan tidak berantakan sebagai salah satu syarat yang tidak boleh dikesampingkan. Baik itu dari remah yang berserakan, isi yang terlalu meleleh, apalagi yang harus disendok dan berkuah krim. Walau terpaksa ada saos tertentu yang mesti dipakai, pastikan tidak berlebihan dan saus tersebut sangat kental. Jadi tidak mudah menetes dan belepotan.

Lebih Ringan

Bukan hanya dari pilihan jenis makanannya yang lebih sepeti snack, porsinya juga mesti disesuikan dengan waktu makan yang sempit. Jadi saya lebih memilih bekal yang sederhana. Porsinya juga lebih sedikit, agar setiap bekal yang dibawa habis. 


Dasar saya menetapkan persyaratan itu demi memudahkan saya memilih dan memilah bahan saat belanja dan memikirkan menu apa yang sebaiknya dibuat. Takutnya, susah-susah masak, malah anaknya tidak bisa menghabiskan karena keterbatasan waktu makan. 


Baca juga: 3 Tahun Anakku Susah Makan, Ternyata Inilah Penyebabnya


Selama tiga minggu tatap muka ini, saya baru berani membekali satu jenis makanan saja dan alhamdulillah bisa dihabiskan anak. Porsinya pas dan makannya tidak ribet. Sebagai referensi, empat ide bekal makanan super duper praktis ini bisa jadi pilihan. Sebagai bocoran, saya bukan tipe ibu kreatif, jadi sebisa mungkin dalam soal masak-masak, saya juga memikirkan cara yang paling simpel. Malah sebagian besar tidak di masak. Yang penting tetap enak dan tidak ngasih sembarang makanan.


Frozen Food

Ide bekal anak

Saya bukan ibu yang anti frozen food. Karena saya akui bahwa jenis makanan praktis yang satu ini bisa diandalkan setiap waktu. Salah satunya dalam menyiapkan bekal anak yang baru mulai sekolah tatap muka. Sepengetahuan saya, dari sekian banyak frozen food favorit, nyaris semuanya mudah untuk dimakan. Beberapa frozen food yang biasa saya jadikan bekal adalah gyoza (karena ini kesukaan anak saya), nugget ayam, kentang goreng, bakpao mini (sesuaikan isinya, jangan pilih yang mudah meleleh karena akan menyusahkan anak makan), sosis dan bakso.


Khusus untuk sosis dan bakso, biasanya saya kreasikan. Misalnya sosis yang dibalutkan mie atau bakso yang dibakar dengan lumuran kecap. Kalau ingin lebih mempermudah anak, biasanya juga saya beri tusuk sate atau tusuk gigi untuk menghindari pengambilan langsung dengan tangan. Kenapa tidak garpu? Sebenarnya garpu memang lebih familiar digunakan, namun anak saya biasanya lebih antusias dengan peralatan makan yang jarang ia gunakan.


Buah

Ide bekal anak

Pilihan bekal yang satu ini saya dapatkan ketika ngobrol dengan anak. Biasanya saya selalu menanyakan apa yang terjadi selama di sekolah. Salah satunya pasti ia menceritakan bekal-bekal teman yang dirasa menarik. Ternyata banyak juga yang membawa buah. Makanya beberapa kali saya membekalkan buah juga seperti apel, pir atau anggur tanpa biji. Sebaiknya hindari buak yang sangat berair seperti semangka atau buah yang mudah benyek dan licin, seperti alpukat.


Mungkin nanti buahnya akan saya lebih variasikan lagi. Soalnya saya belum menemukan buah yang lebih praktis dimakan selain yang tiga ini. Inginnya juga memasukkan pisang, tapi takutnya kalau dikupas dari rumah, malah menghitam dan tidak menarik untuk dimakan. Walau masih rencana, kemungkinan besar akan saya olah sederhana. Seperti membuat pisang karamel (diaduk ke gula cair) lalu ditusuk seperti sate agar mudah dimakan. Buah ini sangat bisa dikreasikan oleh ibu.


Roti

Ide bekal anak

Ini juga menjadi bekal yang sangat disukai anak saya. Sementara ini, saya hanya menggunakan selai, meses atau keju sebagai isian. Belum berani membuatkan sandwich atau yang lebih kompleks karena selain alasan kepraktisan makan, masaknya juga pasti butuh waktu. Saya pun menghindari roti yang dibakar karena tidak enak dimakan dan keras ketika suhunya tak lagi hangat. Untuk lebih mempermudah, roti saya potong menjadi kotak kecil dan tetap menyelipkan tusuk gigi di dalam tempat bekalnya. 


Biskuit atau Cookies

Ide bekal anak

Bukan dimasak sendiri ya, Bun. Sudah pasti saya tidak akan bisa membuatnya. Biskuit dan cookies kemasan yang banyak dijual di pasaran adalah bekal yang beberapa kali pernah saya pilih. Misalnya cookies cokelat atau biskuit susu. Mungkin bagi kita orang dewasa, jenis cemilan ini tidak mengenyangkan, Namun tidak begitu bagi anak-anak, setidaknya bagi anak saya. Dia mengaku tetap kenyang saat dibekalkan biskuit. Cuma porsinya mungkin sedikit lebih banyak.

***


Baca juga: Perhatikan 4 Hal Ini dalam Memilih Sekolah Anak Usia Dini


Itulah beberapa ide bekal anak yang bisa dijadikan referensi bagi ibu-ibu penyuka kepraktisan seperti saya. Bisa juga ditambah satu kotak susu UHT kesukaan anak agar lebih mengenyangkan lagi.


Satu hal yang mesti diperhatikan saat membeli makanan yang sudah dalam bentuk kemasan, terutama frozeen food, biskuit atau cookies yang dibahas sebelumnya, pastikan tercantum tabel nutrisi, komposisi, izin BPOM dan sertifikat halal MUI bagi umat Islam. Saya pun juga lebih memilih merek-merek yang sudah tepercaya karena dipastikan terjamin kualitasnya. Walau memang harganya sedikit lebih mahal. 


Bila nanti kondisi lebih kondusif dan pandemi berakhir, mungkin saran ahli kesehatan untuk menyediakan bekal yang bergizi lengkap bisa kembali diterapkan. Tapi untuk saat sekarang ini, saya lebih menganggap bekal sekolah anak sebagai cemilan, makanya cukup dengan satu jenis menu saja atau maksimal sekali dua jenis.


Bagaimana dengan ibu-ibu yang lain? Adakah ide bekal anak TK yang cocok untuk masa-masa awal sekolah tatap muka ini? Yuk, sharing di kolom komentar. Nanti kalau ada update ide terbaru, akan saya share juga di artikel terbaru dengan link yang ditambahkan dalam artikel ini.


Semoga bermanfaat dan selamat mendampingi anak-anak kita untuk sekolah tatap muka kembali.

5 Kebiasaan Sederhana Bersama Anak dengan Segudang Manfaat

12 comments

Kebiasaan Sederhana Bersama Anak

Kalau ditanya kebiasaan sederhana bersama anak yang bermanfaat, jawaban paling umum pasti membaca buku. Ya, karena memang membaca buku ini sangat disarankan oleh semua pakar anak, bahkan sejak dari dalam kandungan. Namun, setelah anak-anak semakin besar, ternyata banyak banget lo kebiasaan sederhana yang tak kalah bermanfaat. Bukan hanya bagi anak itu sendiri, tetapi juga bagi kita sebagai orang tuanya.


Terkadang, saya pun yang sudah lebih dari lima tahun menjadi orang tua, masih menganggap bahwa perhatian dan upaya mengoptimalkan tumbuh kembang anak itu harus dengan cara-cara yang mesti dipelajari secara mendalam. Padahal, banyak hal reflek yang saya lakukan sehari-hari, ternyata banyak memberi manfaat positif. Bukan hanya meningkatkan ikatan, informasi mengenai lingkungan dan cara bergaul anak selama tidak bersama saya juga bisa digali. Tentu ini sangat penting bagi orang tua.


Baca juga: 9 Perlakuan Orang Tua yang Dibenci Anak


Apa saja kebiasaan yang selalu saya terapkan secara konsisten setiap hari bersama anak? Dan sejauh apa manfaatnya bagi kamk? Inilah lima kebiasaan sederhana tersebut, yang pastinya tidak butuh waktu lama dan tidak perlu usaha yang gimana-gimana.


1. Ditanya Sepulang Sekolah

Anak pertama saya telah melaksanakan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) semester ini. Saya pun sudah tidak bisa lagi melihat langsung sejauh mana kemampuannya menyelesaikan tugas atau bagaimana ia berinteraksi dengan teman-teman sekelasnya yang baru saja bertemu. Terlaksananya PTM 100%, bukan berarti saya lepas tangan begitu saja. Bagaimanapun, saya harus tetap mengawasi dan mengetahui apa yang terjadi dengan anak selama di sekolah.


Bila mengandalkan laporan guru, tentu tidak menjamin akan sepenuhnya sesuai dengan apa yang dialami dan dirasakan anak. Nah, dengan bertanya apa yang dialaminya, apa saja tugasnya, apa ada masalah atau tadi main apa saja ketika sudah tiba di rumah kembali, secara tidak langsung akan menggali informasi detail tentang pengalaman anak selama bersekolah. 


Anak juga akan merasa diperhatikan dan terbiasa menceritakan atau mengungkapkan apa yang dirasakannya. Ini sangat bermanfaat untuk mengembangkan kemampuan bicara anak. Selain itu, bila kebiasaan ini terlaksana hingga dia besar nanti, anak pasti merasa memiliki tempat curhat yang paling aman, yaitu orang tuanya. Jadi saat ia mengalami masalah, yang pertama kali diingat adalah orang tua. Begitu pula dengan orang tua, akan lebih mudah mengawasi dan memberi nasihat. 


2. Bercerita Sebelum Tidur

Apa yang tidak terungkap saat ngobrol di siang hari, di sinilah akan tersingkap. Mungkin karena sibuk dengan aktivitasnya yang lain, anak menjadi tidak total menjawab pertanyaan kita. Anak saya sih begitu, setiap ditanya ngapain saja di sekolah atau lebih suka main sama teman yang mana, kadang dia jawab "rahasia". Gemesin, 'kan?


Dari pada memaksa, mending ajak saja bercerita sesaat sebelum tidur. Berhubung saat ini anak-anak masih tidur satu kamar dengan saya, jadi ketika sesi bercerita akan dimulai, kami sudah berada di posisi tidur masing masing, saya di tengah dan anak-anak di sampaing. Lampu juga dimatikan dan jangan lupa membaca doa dulu agar tidak apa semisal nanti tertidur saat bercerita (biasanya anak saya yang kecil). 


Saya akan lebih fokus menanyakan kejadian apa yang luput dari pandangan saya, termasuk ketika sekolah, bermain sama ayahnya di luar rumah ketika tidak ada saya dan sebagainya, alih-alih apa yang ia lakukan sepemantauan saya. Sering anak saya mencurahkan isi hatinya, perasaannya atau sebuah pengalaman yang jauh lebih detail do waktu ini. Misalnya saat ia protes bahwa saya sibuk menulis. Padahal ia inginnya main bersama saya. Wah, tidak pernah sekali pun saat siang hari, ia keberatan ketika saya meminta izin menulis, malah terlihat asyik bermain dengan adiknya. Ini tentu mengagetkan dan menjadi cambukan bagi saya agar memanajemen waktu lebih baik lagi.


3. Makan Bersama

Walau agak ribet, menyuapi anak dan menyuapi diri sendiri dalam waktu bersamaan, saya tetap tidak keberatan karena makan bersama anak-anak ini juga tak kalah bermanfaat. Pertama, mengajari cara makan, agar tanpa dipaksa, anak meminta makan sendiri. Meski anak-anak saya masih belum sepenuhnya makan sendiri, namun beberapa kali pernah dengan sukarela menawarkan diri. Kedua, anak lebih bersemangat makan karena bundanya makan selalu lahap, hahaha. Ketiga, kami juga akan saling bercerita singkat di sini. Apalagi kalau bersama ayahnya juga, tentu suasana semakin ramai. Inginnya, aku selalu membawa kebiasaan makan bersama ini hingga nanti anak-anak dewasa, minimal saat sarapan atau makan malam.


4. Biarkan Anak Memilih Kebutuhannya

Ini baru saya praktikkan satu tahun belakangan. Kenapa? Itu karena kekeliruan saya bahwa anak yang masih kecil tidak bisa memilih mana yang tepat. Jujur, saya awalnya ragu mengikuti apa mau anak saat berbelanja kebutuhannya, seperti baju, sendal, tas, mainan apalagi makanan. Ternyata, dengan memberi kesempatan memilih, anak-anak menjadi dianggap penting dan selalu antusias saat ditanya. Anak merasa dilibatkan dalam menentukan barang yang hendak ia gunakan, jadi dijamin berhasil menghilangkan mubazir.


Tapi, agar tak asal, saya sebelumnya menyeleksi dulu barang-barang mana yang kira-kira kualitasnya sama dengan standar pengasuhan saya. Barulah beberapa pilihan tersebut akan saya perlihat di depan anak-anak. Terutama sekali untuk makanan yang lebih rawan untuk kesehatannya. Walau kadang pilihannnya aneh menurut kita, tapi kesukaannya terhadap pilihan tersebut pasti akan memancing keinginannya untuk mengenakan atau memakan. Jadi tidak ada tuh buang-buang makanan atau mainan yang sekali pakai lalu bosan.


5. Mengaji Setelah Salat Magrib

Khusus bagi yang beragama Islam, membiasakan mengaji setelah salat Magrib bisa dijadikan salah satu rutinitas bermanfaat. Ini dimulai dari rasa khawatir saya soal TPA/MDA yang tidak terlihat di sekitar lokasi tempat tinggal. Kalau dulu di saat saya masih kecil, mesjid-mesjid selalu menyediakan TPA/MDA untuk anak-anak belajar ilmu agama, mulai dari salat, baca Al-quran, sejarah Islam dan sebagainya. Seolah dialihkan kepada saya sebagai orang tua, amannya, saya harus mengajarkan semua itu sendiri, minimal untuk baca Alquran dan salat.


Dari keempat kebiasaan sebelumnya, inilah yang paling menantang. Ternyata mengajarkan anak sesuatu itu tidak gampang. Pasti ia sering menolak, tidak fokus atau hal lain yang sering kali memancing emosi saya. Tetapi, dari pada meninggalkannya, saya selalu berupaya menawarkan setiap hari. Bila hari ini menolak, maka besoknya wajib baca Iqra' (anak saya masih belajar pakai Iqra'). Ternyata lama-lama, malah mereka yang minta sendiri. Wah, saya bahagia, dong! Saya memang ingin sekali menanamkan ilmu agama menjadi dasar kehidupan mereka.


Sekarang anak pertama saya sudah melewati usai lima. Saya mulai mengajarinya juga untuk praktik salat. Jadi sebelumnya yang setiap hari selalu membaca Iqra', kini untuk sementara diselang-selingi dulu dengan praktik salat. Nanti kalau sudah terbiasa, sebisa mungkin baca Iqra' dan salat tetap dilakukan setiap hari.


Baca juga: Cara Mengajarkan Anak Balita Mengaji di Rumah, Orang Tua Juga Bisa!


Secara umum, kelima kebiasaan tersebut pasti akan meningkatkan ikatan antara orang tua dan anak. Bukan hanya bermanfaat untuk tumbuh kembang anak saat masih kecil saja, tapi juga hingga ia dewasa nanti. Anak merasakan kehadiran orang tua di sisinya, orang tua pun bisa memaksimalkan perannya dalam kehidupan anak. Tidak perlu dengan cara memaksa atau menyediakan waktu khusus untuk quality time seharian, cukup dengan perbincangan sederhana dan cara yang tanpa memakan banyak waktu, itu sudah cukup memberi segudang manfaat dalam pengasuhan.


Sayangnya, di balik sederhanaan kebiasaan tersebut, ada tantangan besar yang paling sulit saya taklukkan di waktu-waktu awal penerapannya. Karena mudah dilakukan dan hanya sebentar, saya terkadang menyepelekan. Ah, besok saja atau nanti saja. Padahal, menuruti penundaan seperti ini pasti akan membuat saya lupa atau malah malas melakukannya hingga berhari-hari atau berminggu-minggu setelahnya. 


Untuk menjaga konsistensi dan akhirnnya menjadi habbit, saya sebisa mungkin tanpa putus melakukannya setiap hari. Sehingga tanpa disadari, saya otomatis bertanya tentang kegiatan sekolah saat anak pulang atau bercerita beberapa menit sebelum tidur. Benar-benar menjadi kebiasaan yang terjadi begitu saja.


Kalau ibu-ibu, bunda-bunda, mama-mama, apa kebiasaan sederhana penuh makna yang selalu rutin dilakukan bersama anak? Apakah sama dengan saya atau ada ide-ide luar biasa lain yang juga bisa saya coba? 


Share yuk di kolom komentar agar bisa menjadi referensi parenting baru bagi kita sesama orang tua.


Semoga bermanfaat dan happy parenting!

Traveloka PayLater, Tak Perlu Korbankan Prioritas

25 comments

Traveloka PayLater

"Saya mah mending pakai tabungan saja sampai habis. Apalagi cuma buat jalan-jalan."


Pernyataan tersebut merupakan salah satu tanggapan ganjil tentang hadirnya Traveloka PayLater menurut saya. Memang, Traveloka lebih lekat dengan liburan dan jalan-jalan, karena familiar di fitur pembelian tiket pesawat dan hotelnya. Tapi sadar enggak sih, tidak semua pembeli tiket pesawat atau penyewa hotel adalah mereka yang sedang bersenang-senang? Lagi pula, Traveloka tidak hanya memiliki dua fitur itu saja. Coba deh buka dulu aplikasinya alih-alih menyimpulkan sendiri.


Dan yang lebih penting lagi, berkat PayLater, ada pilihan lain untuk menyelamatkan tabungan dengan pengalihan risiko keuangan sementara yang aman dan ringan. Kadang ada kalanya kita perlu mempertahankan tabungan untuk sebuah prioritas. 


***



Yang sedang-sedang saja. Saya tidak berasal dari keluarga sultan, tapi juga tidak terlalu kesulitan. Makanya wajar bila saya memiliki prioritas dan rencana keuangan agar tidak keteteran. Suami sedang tugas belajar empat tahun ini, sehingga penghasilan tidak sebesar saat beliau aktif bekerja. Bagi yang pernah tugas belajar, pasti tahu dengan kondisi dan risikonya, terutama terkait gaji yang tidak lagi diterima 100%. Apalagi selama kuliah hanya ditanggung biaya semesternya saja, tanpa tambahan uang saku. Kami sadar sekali bahwa keadaan  ini butuh pengelolaan keuangan yang tepat.


Meski tidak berpikiran untuk berhutang, ada kalanya saya mengharapkan langit tiba-tiba berhujan uang. Ada satu takdir yang begitu berkesan bagi saya dan keluarga. Disaat suami berupaya keras menyisihkan gaji untuk pulang-pergi Jakarta-Semarang demi merawat mertua saya yang tiba-tiba jatuh sakit, lantai unit rusunawa di mana kami tinggal malah terpaksa di bongkar habis. 


Terbayang 'kan kalau rusunawa itu bertingkat. Unit di bawah kami mengeluh mengalami kebocoran di berbagai tempat. Ketika tukang datang melihat, ternyata bukan hanya lantai kamar mandi saja yang harus di bongkar, tapi seluruh lantai rumah kami yang memang sudah pecah-pecah. Ini sesuai dengan perintah pengelola untuk memperbaiki seluruh kerusakan yang ada demi kenyamanan bersama.


Padahal kalau kamar mandinya saja, kami tidak keberatan bila satu hari satu malam harus turun ke lantai dasar demi menuntaskan urusan toilet, mandi dan cuci-cuci. Tapi kalau semua lantai tidak boleh diinjak semalaman, mana mungkin kami bisa tetap di rumah?


Mau tidak mau, kami harus menginap di luar. Tidak ada rumah saudara yang bisa ditumpangi sementara. Sedangkan tabungan sudah diprioritaskan untuk pulang mengurus mertua. Tidak mungkin mengorbankannya di saat beliau membutuhkan kehadiran anak-anaknya segera. 


Masalahnya lagi, anak kedua saya masih berusia 2 bulan saat itu. Tidak sembarang penginapan bisa kami tempati. Paling tidak harus ada air panasnya untuk mandi. Penginapan seperti ini tentu harganya lebih tinggi. 


Di sinilah Traveloka PayLater bisa diandalkan. 


Andai saat kejadian bertahun-tahun itu saya sudah tahu Traveloka PayLater, mungkin saya dan keluarga tidak perlu menunda keberangkatan bertemu ibu kami yang begitu menanti kepulangan anaknya sampai waktu gajian tiba.  Mengingat beliau selalu menangis setiap kami menelepon, duh, rasanya begitu bersalah. Padahal kami sudah berusaha mekasimal menabung, tapi takdir menggeser realisasinya.


Andai saat itu sudah ada Traveloka PayLater yang bisa menalangi pengeluaran untuk hotel yang harus dipesan saat itu juga, mungkin di bulan berikutnya kami tidak perlu mengetatkan dan menghapus beberapa kebutuhan karena gaji suami sudah terpakai untuk pulang ke Semarang. Kami bisa memesan hotel sekarang dan di bayar belakangan saat gaji suami turun bulan depan. Malah bisa dicicil. Prosesnya pun cepat, mulai dari pendaftaran hingga berhasil memesan kamar. Masalah selesai, prioritas tak perlu dikorbankan.


Toh, saya melakukan reservasi hotelnya juga di Traveloka, tempat di mana saya sudah mempercayakan urusan transportasi dan akomodasi sejak tahun 2013, di awal perantauan ke Jakarta.


Ah, andai saja waktu itu sudah ada Traveloka PayLater.



Rencana Keuangan dan Prioritas

Traveloka PayLater

Saya bukan ahli keuangan. Namun pengalaman mengajarkan sedikit-banyaknya tentang masalah keuangan keluarga. Dulu, setelah menikah, kami memiliki rencana keuangan yang sebenarnya sangat sederhana. Hanya sepakat menyisihkan gaji untuk membeli rumah sebagai rencana jangka panjang dan liburan sebagai rencana jangka pendek. Biasalah, kehidupan menyenangkan ala pengantin baru. 


Setelah punya anak, rencana itu langsung berubah karena ada kehidupan baru yang harus kami tanggung. Akhirnya kami lebih mengutamakan lebih banyak simpanan untuk biaya anak ke depannya. Lagi pula untuk urusan rumah, masih ada rusunawa yang disediakan kantor untuk kami tempati dengan biaya sewa yang sangat terjangkau dan lingkungan yang super nyaman setara apartemen.


Hingga saat ini, setidaknya ada beberapa penyebab kenapa prioritas keuangan saya berubah. 


Tanggungan Baru

Bukan hanya anak, kadang tanggungan baru juga bisa tiba-tiba ada. Misalnya ketika saya memilih resign dari PNS yang katanya menjamin aman hingga tua. Tanggungan suami tentu otomatis bertambah. Biasanya saya membantu menambah tabungan, kini sudah full sebagai pengguna tabungan. Kejadian lainnya seperti orang tua yang awalnya tinggal di kampung, kini tinggal bersama kita di perantauan. Tanggungan baru ini pasti akan memancing kebutuhan-kebutuhan baru dan menggeser prioritas sebelumnya.

Takdir Di Luar Prediksi

Saat lagi gencar-gencarnya berhemat, tiba-tiba dapat kabar bahwa adik semata wayang akan menikah dalam waktu dekat. Atau seperti mertua saya yang sakit, ini juga termasuk ke dalam takdir di luar prediksi yang membuka pintu pengeluran baru. Rencana keuangan yang sudah tersusun rapi, dengan prioritas yang telah dipikirkan matang-matang, pasti rentan dikorbankan, meski ada waktu singkat untuk menabung. 

Pengeluaran Cepat

Sama seperti kejadian saya dan keluarga yang terpaksa mengungsi karena seluruh lantai rumah mesti diperbaiki detik itu juga, kejadian serupa yang butuh penyelesaian segera pasti kerap kita rasakan. Penyelesaian yang dimaksud di sini adalah yang butuh pengeluaran mendesak. Tidak ada waktu untuk menabung, mau tidak mau, pasti akan memakai tabungan yang sudah ada, tidak peduli prioritas sebelumnya hampir terwujud.

Momen Tak Terulang

Kalau poin yang satu ini lebih sering saya rasakan saat memiliki keinginan membeli barang tertentu. Tentu barang yang sangat dibutuhkan. Misalnya saat butuh kasur baru karena yang lama sudah tidak layak pakai. Harga normalnya dua juta rupiah dan saya butuh menabung beberapa bulan ke depan. Tapi tiba-tiba ada diskon besar-besaran sehingga harga kasur turun drastis hampir setengahnya. Karena merasa lebih hemat, saya pasti memakai tabungan dulu, meski anggaran itu untuk membelikan anak kami sepeda baru. Ujungnya, prioritas membeli sepeda terpaksa ditunda entah sampai kapan. 


Risiko-risiko inilah yang akhirnya mengubah prioritas. Bukan hanya sekali, prioritas bisa berubah berkali-kali. Semakin banyak risiko tak terduga itu datang, semakin sering pula prioritas bergeser.


Masalahnya, bila tidak diantisipasi dengan baik, bisa-bisa tidak ada lagi yang tersisa. Mungkin saja semua prioritas terlanjur berganti sebelum terwujud. Sebaiknya kita punya pegangan atau cara pasti sebagai penyelesaian masalah. Safir Senduk, seorang Perencana Keuangan Independen pertama di Indonesia juga membahas ini dalam buku Mengelola Keuangan Keluarga yang kebetulan pernah saya baca, saking inginnya mahir mengelola keuangan keluarga. Saya ingat, beliau menjelaskan setidaknya ada tiga alasan kenapa penting sekali melakukan antisipasi risiko keuangan ini. Kira-kira begini penjelasan yang sangat sinkron dengan risiko-risiko yang pernah saya alami.

1. Akibat dari risiko bisa berpengaruh pada keuangan

Jelas, inilah yang menyebabkan kita perlu mengantisipasi risiko. Kalimat mainstream-nya Takdir tidak bisa diprediksi. Walau terdengar membosankan, kenyataannya memang demikian. Takdir buruk yang mengancam keuangan, kalau tidak diantisipasi, sudah pasti berbahaya. Walau uang bukan segalanya, hidup tetap butuh uang, 

2. Beberapa risiko bisa terjadi sekaligus secara bersamaan

Kadang risiko juga bisa terjadi bertubi-tubi. Satu saja sudah bikin pusing, apalagi lebih? Sebenarnya, jauh sebelum mertua saya sakit, kami sekeluarga sudah berencana liburan ke sebuah tempat impian. Namun ketika risiko sakitnya mertua datang, hadir pula masalah renovasi rumah yang mendesak untuk reservasi hotel. Inilah yang dimaksud risiko yang terjadi secara bersamaan. 

3. Beberapa risiko pasti terjadi

Ada beberapa risiko yang pasti terjadi pada manusia. Seperti kematian atau sakit. Mungkin kematian tidak saya bahas lebih dalam, namun yang pasti, datangnya penyakit sudah beberapa kali membuat pengeluaran dadakan. Bagaiamanapun, tidak ada manusia yang selalu sehat di sepanjang hidupnya. Ketika sakit, tentu butuh penanganan segera, jadi besar kemungkinan mengorbankan prioritas sebelumnya demi kesembuhan. 


Makanya kita butuh sebuah solusi yang bisa diandalkan agar semua prioritas yang tersusun tidak selalu dikorbankan untuk sebuah prioritas baru, apalagi yang sifatnya cepat dan sesaat, tapi biayanya bisa menghabiskan rupiah di tabungan dengan nominal yang cukup besar. Ujung-ujungnya keuangan keluarga menjadi tumbal. 


Bagi saya yang sudah berkeluarga, ini tentu bukan masalah sepele. Ya, seserius itu! Kami berdikari dan tidak bergantung dengan siapa pun. Wajar sebelumnya bila saya pernah mengidamkan hujan uang, alih-alih berhutang yang dalam bayangan saya ya meminjam ke pihak tertentu dengan bunga tinggi. Kalau enggak ke orang, koperasi, ya ke bank. Padahal kini ada Paylater yang bisa diandalkan untuk mempertahankan prioritas ketika risiko keuangan terjadi. 



Paylater, Solusi Praktis Bantu Pertahankan Prioritas

Traveloka PayLater

"Saya sih tahu paylater. Tapi apa bisa seserius itu manfaatnya sampai dikaitkan dengan keuangan kelurga, risiko dan prioritas segala?"

Yuk, baca dulu kelanjutannya.


Hadirlah paylater sebagai sistem kredit online di tengah-tengah kita. Beban keuangan baru bisa dialihkan sementara dan dicicil kemudian tanpa harus mengorbankan prioritas sebelumnya. Seperti satu dayung, dua pulau terlewati. Berkat paylater, dua prioritas atau lebih bisa terpenuhi dalam satu waktu. Meski identik dengan jajan dan belanja, nyatanya paylater bisa sangat berguna untuk menjaga keuangan keluarga.


Saya menceritakan contoh lain dari penggalan kehidupan keluarga saya. Kali ini tentang liburan. Bagi sebagian orang, liburan bukanlah sebuah kebutuhan. Tapi tidak bagi saya dan keluarga. Liburan selalu menjadi wacana yang sangat bermanfaat untuk lebih dekat, sekaligus relaksasi. Jadi kami sudah sepakat, sebelum suami kembali bekerja setelah lulus tugas belajar dan bertepatan juga dengan anak pertama saya yang masuk SD, harus ada trip liburan paling tidak 3 hari. Kami sadar momen ini tidak akan mudah tercipta di kemudian hari. 


Berhubung liburannya berhari-hari, kami menabung sejak dari suami mulai kuliah. Bayangkan, nyaris 4 tahun dan mengumpulkannya bukan perkara mudah karena gaji suami yang hanya diterima 80%. Ternyata, risiko demi risiko datang tiada henti. Tidak mungkin dalam 4 tahun itu kami selalu sehat. Untuk sakit gigi saja, minimal butuh ratusan ribu. Lalu biaya pulang ke Padang dengan usia anak kami yang dua-duanya sudah melewati 2 tahun, harus di bayar full. Sekali pulang bisa habis 10 juta untuk berempat. Belum lagi ke kampung suami yang juga butuh jutaan rupiah sekali pulang. 


Kalau tidak ada solusi, rencana kami dapat dipastikan gagal total. Dan terang saja saya tidak mau. Bertahun-tahun mengidamkan trip ini, yang kesempatannya hanya sekali ini, tidak ada yang lebih baik selain mengalihkan biaya trip kami ke sistem paylater. Jadi bisa dicicil di kemudian hari dan tentu sangat meringankan bagi kami! Prioritas dengan pos-pos pengeluaran yang besar sebelumnya tidak mengganggu prioritas awal kami.


Kenapa tidak pakai kartu kredit saja? Kan sama?

Menurut saya, kepraktisan paylater adalah poin yang paling top. Kalau kartu kredit, lama sekali mengurusnya. Syaratnya banyak dan proses administrasinya panjang. 


Sebagai generasi milenial, kepraktisan tentu sudah masuk ke dalam persyaratan utama dalam bertransaksi apa pun. Segalanya mulai beralih ke digital dan pastinya memangkas banyak metode konvensional. Apalagi sejak pandemi, transaksi langsung semakin dijauhi. Lagi-lagi paylater menjawab kebutuhan ini. Kalau biasanya pengajuan kredit, termasuk kartu kredit, butuh proses administrasi yang lumayan panjang, paylater memberikan kemudahan dengan administraai yang sangat simpel. Bahkan tidak perlu bertemu, online saja langsung beres. 


Oiya, pernah mendengar berita tentang maraknya pinjaman online, 'kan? Saking dibutuhkannya, yang tertipu pun banyak. Ini membuktikan bahwa terjadi peningkatan kebutuhan untuk bertransaksi secara lebih praktis. Kalau dihubungkan dengan paylater yang dasarnya tetap pinjam-meminjam, saya bisa membayangkan paylater ini sebagai salah satu penolong agar terhindar dari praktik pinjaman ilegal. Misalnya yang sebelumnya mengandalkan pinjaman online untuk membeli seragam anak-anaknya yang tidak mungkin ditunda karena tahun ajaran baru sudah di depan mata, berkat hadirnya paylater bisa memenuhi kebutuhan tersebut dengan jaminan keamanan yang lebih baik.


Bukan hanya saya yang terbantu dengan keberadaan paylater. Buktinya, pengguna paylater selalu meningkat, seiring dengan bertambah pula penyedia layanannya. Tidak hanya sekadar coba-coba, dilansir dari bisnis.com, sebuah survey yang dilakukan oleh Research Institude of Socio-Economic Development (RISED) menyimpulkan bahwa layanan paylater telah dianggap positif karena bermanfaat untuk mengelola pengeluaran dan arus kas. Lebih dari 80 responden mengatakan alasan mereka menggunakan paylater adalah untuk membeli kebutuhan mendadak saat keuangan terbatas. Ya, sama dengan pengalaman saya, risiko keuangan sering kali memunculkan prioritas baru secara mendadak.


"Ini mengindikasikan bahwa motif penggunaan paylater bukan lagi karena belanja impulsif dan konsumtif, melainkan untuk membeli kebutuhan penting yang diperlukan tetapi tidak dapat dicapai dengan keuangan pada saat tersebut." 

- Rumayya Batubara, Ketua Tim Peneliti RISED dan Ekonom Universitas Airlangga



Asal Tepat, Paylater Pasti Bermanfaat

Traveloka PayLater

Perlu diingat, memilih penyedia paylater tidak boleh sembarangan. Harus dijamin aman dan nyaman. Keamanan bisa dilihat dari legalitasnya, apakah PayLater tersebut sudah terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) atau belum. Bila sudah terdaftar, jelas seluruh aktivitasnya terawasi dan terjamin jauh dari penipuan.  Tapi kalau belum, mending dihindari. Dari segi kenyamanan, pastikan penyedia yang dipilih tidak menyulitkan, mulai dari proses registrasi hingga pembayaran. Jelas prosedurnya dan aturannya. Jangan sampai ada biaya-biaya terselubung yang malah membengkakkan cicilan. 

 

Sayangnya, sama seperti kemunculan teknologi baru lainnya, paylater pun sering dinilai berbahaya karena memancing perilaku konsumtif akibat pengeluaran yang tak disadari. Saya pun membaca ini di banyak sekali artikel online. Sempat juga merasa khawatir, tapi akhirnya saya simpulkan bahwa selama bisa menggunakannya dengan bijak, malah bisa membuat lebih hemat. Lah, kok bisa? Begini tipsnya!

1. Pakai Satu Saja

Banyak sekali penyedia layanan pay.ater. Aplikasi belanja online yang sudah sudah terinstal di smartphone saja juga menyediakan paylater. Tapi, menggunakan paylater di banyak pintu bukanlah sebuah hal bijak. Lebih baik buka di satu platform saja, dan pastikan fiturnya lengkap untuk memenuhi banyak kebutuhan. Ini bertujuan agar transaksi mudah dipantau.

2. Manfaatkan Limit

Paylater memiliki limit yang sangat bisa dimanfaatkan sebagai pagar pembatas. Tapi kalau limitnya terlalu tinggi, wajib juga punya limit sendiri. Ini dimaksudkan agar tidak kebablasan.

3. Hanya Gunakan untuk Sesuatu yang Mengancam Prioritas

Inilah yang paling penting. Pegang komitmen untuk menggunakan paylater hanya apabila risiko keuangan terjadi. Prioritas baru yang muncul dapat mengancam prioritas sebelumnya. Makanya sangat mungkin diatasi dengan paylater, lalu dibayar dengan cara yang ringan setelahnya. Sehingga prioritas sebelumnya dapat dipertahankan. 

4. Pastikan Platform Manampilkan Riwayat Transaksi

Selain limit, platform paylater yang baik harus menampilkan riwayat transakai penggunanya. Ini juga bisa menghambat sikap boros ketika menyadari penggunaan paylayer sudah terlalu banyak. Kalau bisa rinciannya jelas, lengkap dengan cicilan yang mesti dibayar.

5. Manfaatkan Promo

Pembeda paylater sebagai sistem kredit digital dengan konvensional adalah banjirnya promo menarik. Promo ini berguna sekali untuk meringankan harga cicilan atau mugkin harga awal produk yang dibeli. Semakin menarik, 'kan?

6. Jangan Telat Bayar

Sama seperti sitem pinjaman lain, selain bunga, paylater juga menerapkan sistem denda apabila telat membayar. Jadi usahakan membayar cicilan tepat waktu agar denda plus bunga tidak merugikan. Kan sayang sekali jika paylater  yang awalnya dinilai mampu mempertahankan kestabilan keuangan, malah membuka peluang pengeluaran yang lebih besar hanya gara-gara lalai soal tenggat waktu.

Paylater bukan parasit yang bisa menghabiskan tabungan. Itu tergantung kita, bagaiamana menggunakannya. Apapun inovasi digital, bila tidak bijak, pasti akan dinilai merugikan. Tetapi coba lihat kepada pengguna yang berhasil menyelesaikan masalahnya berkat inovasi digital tersebut, tentu akan berterima kasih sekali. Karena memang dasarnya, digitalisasi dikembangkan untuk memudahkan.


So, mau jadi pengguna yang mana? 



Paket Lengkapnya Ada Di Traveloka PayLater, Jujur Guna Banget!

Traveloka PayLater

Sebelumnya sudah saya singgung tips agar tidak boros menggunakan paylater, salah satunya yaitu memilih platform atau jasa layanan yang lengkap. Dalam artian, satu untuk semua. Nah, bagi saya, Traveloka PayLater adalah jawabannya. Mau belanja di e-commerce, belanja offline, kesehatan, asuransi, rekreasi serta yang sudah jelas adalah tiket transportasi dan akomodasi, bisa di Traveloka PayLater. 


Traveloka tentu sudah sangat familiar di telinga kita. Tapi sudah tahu belum, kalau sekarang Traveloka sudah memberikan layanan PayLater? Kalau sudah tahu dan sering mendengar iklan yang ber-tagline #JujurGunaBanget, sudah paham kah manfaatnya apa? Sejauh mana Traveloka PayLater ini bisa membantu kita untuk mempertahankan prioritas keuangan meski risiko bisa datang sewaktu-waktu?


Jujur saja, saya memang pengguna baru Traveloka PayLater walau sudah lama menggunakan Traveloka. Saking tidak pernah ke mana-mana sejak punya anak, paling buka Traveloka cuma untuk kondisi penting, seperti tiket mudik atau urgent masalah mengungsi kemarin. Karena tahunya dari iklan televisi padahal sudah banyak yang berbagi pengalaman menggunakan Traveloka PayLater hingga tiga tahun, saya pun segera mencari tahu lebih banyak.


Sepengamatan saya, dari sudut pandang ibu yang sudah berkeluarga dengan dua anak, Traveloka PayLater ini tentu bukan lagi sekadar untuk jalan-jalan dan liburan tanpa beban, namun mesti disesuaikan dengan keuangan dan prioritas keluarga. Paylater banyak, banyak sekali malah. Tapi tetap saja Traveloka PayLater berbeda dan akan sangat berguna bagi saya untuk menjaga prioritas. Langsung terbayang tragedi-tragedi risiko yang telah lalu, harusnya dengan Traveloka PayLater, saya tidak akan lagi bingung dan banyak berkorban seperti dulu.


Mari kita bahas dulu dari apa itu Traveloka PayLater.


Jadi, Traveloka PayLater merupakan layanan keuangan dari Traveloka, bekerja sama dengan Caturnusa Sejahtera Mandiri, yang memungkinkan penggunanya untuk melakukan cicilan tanpa kartu kredit dan berlaku untuk semua produk Traveloka, termasuk untuk cicilan pesawat dan cicilan online lainnya, kecuali untuk beberapa produk Pembayaran Tagihan dan top-up pulsa. 


Ya, umumnya seperti sistem kredit online lainnya. Namun, sama nama, belum tentu sama persis isinya. Ada beberapa keunggulan dari Traveloka PayLater yang bisa menjadi alasan untuk memilihnya sebagai penyelamat keuangan keluarga yang tepat. 



Berlaku untuk Banyak Produk

Banyak sekali produk Traveloka yang bisa dibeli dengan PayLater, yaitu tiket pesawat, reservasi kamar hotel, tiket kereta api, tiket atraksi dan aktivitas, tiket bus dan shuttle, rental mobil, restoran, bioskop, transportasi bandara, kereta bandara, tagihan BPJS Kesehatan, tagihan listrik PLN, tagihan Telkom (Landline dan IndiHome), tagihan TV kabel (MNC Vision, Trans Vision, K-Vision dan Topaz TV), kartu pulsa pascabayar (Kartu Halo, XL Prioritas dan Indosat Pascabayar), serta bayar asuransi (ACA dan Tokio Marine). Pastikan minimal transaksinya 50 ribu rupiah agar bisa menggunakan PayLater.

Anti Ribet!

Semua prosesnya dijamin anti ribet tanpa banyak persyaratan. Untuk pendaftaran hanya membutuhkan dua syarat, yaitu berusia antara 21-70 tahun dan memiliki KTP yang sah. Setelah pendaftaran disetujui, Traveloka PayLater sudah bisa digunakan. Ibu-ibu yang sudah ribet duluan dengan urusan rumah dan anak, tentu sangat terbantu sekali dengan kelebihan ini.

Siap Digunakan Kapan Saja

Butuh dana cepat tapi terhalang administrasi yang lama? Ini tidak berlaku di Traveloka PayLater. Walau belum melakukan pendaftaran, mengingat persyaratannya sangat meringankan, dijamin juga proses verifikasinya hanya membutuhkan waktu paling lama 60 menit saja setelah pengajuan dikirimkan.  Ditinggal masak sebentar, done!

Opsi Cicilan Hingga 12 Bulan

Setelah menggunakan PayLater, transaksi bisa dipecah menjadi cicilan 1-12 bulan sehingga tidak membuat pengeluaran membengkak tiba-tiba. Namun setidaknya cician harus 100 ribu per bulannya. Cicilan ini hanya berlaku untuk transaksi minimal 500 ribu rupiah, ya.

Bunga Rendah

Sudah bisa dicicil hiingga 12 bulan, bunganya pun rendah. Tidak bisa dielakkan, sebagai penyedia pinjaman, cicilan PayLater juga dikenakan bunga. Namun Traveloka janji bahwa bunganya tidak akan membebani pengguna, yaitu 2.25%-4.80% per bulan dan berlaku flat atau rata untuk setiap bulannya. Ini juga bisa lebih ringan lagi berkat promo potongan bunga cicilan PayLater. Jadi, jangan sampai ketinggalan promo, ya!

Traveloka PayLater

Limit yang Membebaskan

Limit bikin bebas, kok bisa? Limit awalnya saja sampai dengan 10 juta rupiah! Ini bisa semakin meningkat hingga 50 juta rupiah bila skor dan level juga lebih tinggi. Setelah melakukan pembayaran tagihan, jumlah yang dibayar tersebut akan dikembalikan ke limit PayLater dan bisa digunakan kembali. Nanti informasi mengenai skor dan level ini akan dibahas selanjutnya pada sub bab terpisah. 

Pembayaran Mudah dan Bisa Disesuaikan

Pilihan pembayaran bisa melalui transfer bank dan BCA Virtual Account. Spesialnya lagi, pengguna bisa mengatur pengingat pembayaran agar tidak melewati jatuh tempo. Bisa melalui SMS atau email mulai dari 4 hari sebelumnya. Kalau rezeki sedang baik, bisa juga lo lunasi pembayaran lebih awal. Kalau rezeki lagi kurang memihak, bisa juga meminta tim PayLater untuk memberi keringanan pembayaran. Tapi pastikan dulu tim sudah menyetujui nominal yang baru sebelum melakukan pembayaran.

Traveloka PayLater
Pengaturan pengingat pembayaran di PayLater

Gratis Biaya-biaya yang Mengikat

Hanya ada dua tambahan biaya di Traveloka PayLater, yaitu biaya keterlambatan 5% dari total yang dibayarkan dan biaya cicilan. Kepastian harga ini sudah menjadi kelebihan Traveloka bagi saya sejak dulu. Jadi berapa yang tampil saat transaksi, ya segitu yang dibayarkan. Dan ini juga berlaku untuk PayLater. Tidak ada lagi namanya biaya admin, biaya tahunan, biaya langganan atau biaya terselubung lainnya, bahkan saat tak ada tagihan atau tidak dipakai sekalipun.

Bisa Juga Digunakan Di Luar Traveloka

Meski judulnya Traveloka PayLater, tapi PayLater ini juga bisa digunakan untuk berbelanja di luar Traveloka, lo! Seperti di situs belanja favorit, bahkan belanja offline. Namun ini juga ada limitnya dan tergantung dengan level pengguna. Senangnya, semua transaksi terpantau real-time di aplikasi dan bisa dicicil juga kalau diperlukan. Syarat dan ketentuan berlaku, ya.

Aman

Traveloka PayLater didukung oleh Pasar Dana Pinjaman (Danamas) dan Caturnusa Sejahtera Finance, yaitu perusahaan keuangan berbasis teknologi berizin resmi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Kepatuhan terhadap peraturan adalah prioritas utama yang memastikan proses dan perlindungan pelanggannya. Ada kontak tertera pada website Traveloka yang bisa dihubungi bila ada keluhan. Jadi, tidak perlu khawatir.


Selain itu, setiap kali bertransaksi di PayLater akan dimintai kode OTP yang hanya dikirim ke nomor handphone pengguna. Jadi bisa tahu apakah itu benar-benar transaksi yang kita lakukan sendiri, atau amit-amit dibajak orang lain. 

Traveloka PayLater
Permintaan konfirmasi pengiriman kode OTP


Menurut saya pribadi, Traveloka Paylater bisa berguna sekali untuk mengatur porsi belanja agar tidak hilang kendali. Malah limit yang diberikannya, jauh lebih aman bila dibandingkan dengan pembayaran melalui mobile banking. Terutama saat melihat persaingan harga di e-commerce, bawaannya pasti ingin belanja terus dan tidak sadar membeli banyak barang yang sebenarnya tidak urgent. Saya ibu-ibu dan wanita, jadi mengerti sekali bagaimana rasanya.


Sudah tertarik untuk mendaftar di Traveloka PayLater? Biar lebih jelas, berikut langkah-langkah mendaftar PayLater.


Traveloka PayLater

Setelah disetujui, jangan lupa aktifkan akun terlebih dahulu agar dapat digunakan, ya. Selamat berbelanja di Traveloka dengan limit hingga awal 10 juta rupiah! Berikut langkah-langkah bertransaksi dengan Traveloka PayLater. Bila pilihan cicilan tersedia lebih dari satu bulan, pastikan harga yang dibayar sesuai dengan kemampuan. Tidak perlu terlalu cepat kalau terasa masih berat dan tidak ada salahnya melunasi dengan cepat bila keuangan memungkinkan.

Traveloka PayLater

Untuk pembayarannya, saya akan jelaskan tanpa gambar step by step-nya, ya. Malu terlihat sisa cicilannya saya berapa. Biarlah menjadi rahasia saya dan Traveloka PayLater, haha.

Traveloka PayLater

Terbukti praktis dan anti ribet banget, 'kan! Dijamin cocok buat ibu-ibu seperti saya yang inginnya semua serba cepat dan masalah keuangan tidak lagi jadi ancaman. 



Skor dan Level Di Traveloka PayLater

Skor dan Level Traveloka PayLater merupakan sistem penilaian kredit yang digunakan untuk menentukan jumlah limit, biaya cicilan dan fitur ekslusif, melalui algoritma yang mengkalkulasi perilaku pembelian dan pembayaran pengguna. Terdiri dari tiga tingkatan level, yaitu Silver, Gold dan Platinum. Semakin tinggi skor PayLater, maka semakin besar peluang untuk mencapai level PayLater yang lebih tinggi dan semakin banyak pula manfaat yang akan didapatkan.

Traveloka PayLater

Waktu yang dibutuhkan untuk naik Level PayLater akan berbeda-beda karena bergantung kepada performa pengguna itu sendiri. Skor akan semakin naik apabila yang ditunjukkan juga baik. Dimulai dari Level Perkenalan, yaitu masa percobaan untuk pengguna baru. Agar bisa naik level, maka harus lolos dulu dari masa percobaan ini dengan memenuhi lima syarat berikut.

1. Akun aktif 30 hari atau lebih.

2. Limit yang terpakai lebih dari Rp400.000.

3. Bayar tepat waktu lebih dari sekali.

4. Total tagihan terbayar mininum Rp400.000.

5. Semua tagihan sudah dibayar.


Level Perkenalan

Keuntungan: limit hingga 10 juta rupiah, biaya cicilan 3,18% dan opsi cicilan hingga 6 bulan.

Level Silver

Keuntungan: limit permulaan 2 - 10 juta dengan biaya cicilan dasar 4,80% - 3,7% dan opsi cicilan maksimal hingga 6 bulan.

Level Gold

Keuntungan: limit lebih tinggi 15 - 20 juta dengan biaya cicilan lebih rendah dan opsi cicilan maksimal hingga 12 bulan.

Level Platinum

Keuntungan: limit maksimal 35 - 50 juta dengan biaya cicilan paling rendah, serta akses eksklusif untuk upgrade ke PayLater Card.


Pembaruan level PayLater dapat berupa penurunan atau kenaikan level. Hal ini berlangsung paling cepat 30 hari setelah pembaruan level sebelumnya. Kalau naik level, tentu tidak akan jadi masalah. Namun bila turun level, maka limit pasti berkurang dan manfaat yang bisa dirasakan juga pasti lebih terbatas. 


Sekali lagi, Traveloka PayLater sangat berguna untuk mengatur pola belanja yang sesuai dengan kondisi keuangan. Mitos yang menganggap kehadiran paylater akan memancing prilaku konsumtif berlebih tidak akan terjadi di sini. Traveloka PayLater juga peduli dengan keuangan penggunanya dan menghadirkan PayLater bukan sebagai pemancing masalah baru, namun sebagai solusi yang bisa diandalkan.



Traveloka PayLater Virtual Number

Traveloka PayLater
Sumber: traveloka.com
Traveloka PayLater Virtual Number mendukung banyak situs belanja, seperti Shopee, Lazada, Bukalapak, BliBli, JD.ID, Zalora, RUPARUPA, Uniqlo, Zara, Oriflame, Samsung, MapClub, Hartono Mall dan masih banyak lagi. Limit diambil dari 10-40% limit PayLater, tergantung dari level PayLater. Transaksi minimal yang bisa dilakukan adalah Rp 50.000,-. Cicilan tersedia untuk belanja minimal 500 ribu rupiah. Jangan lupa simpan kartunya di situs belanja untuk penggunaan selanjutnya. 

Virtual Number ditawarkan kepada pengguna di level PayLater yang lebih tinggi. Tidak sembarangan, ada beberapa kriteria untuk menentukan status pengajuan Virtual Number. Peninjauan ini dilakukan demi memberikan layanan PayLater yang aman dan diharapkan dapat membantu mempertahankan perencanaan keuangan yang sehat. Jadi harus dipastikan dulu bahwa pengguna terpilih dapat berlaku bijak menggunakan Virtual Number berdasarkan rekam jejak perilaku berbelanja dan performanya. Bila pengajuan belum disetujui, maka akan diundang kembali untuk mengajukan setelah 1 atau 6 bulan.


Traveloka PayLater
Sumber: traveloka.com

Perlu diingat, sebelum bertransaksi dengan Virtual Number, harus diaktifkan terlebih dahulu. Setiap kali diaktifkan, Virtual Number valid hanya untuk 1 transaksi selama 15 menit. Setelah lewat waktu ini, maka harus diaktifkan kembali. Agar lebih jelasnya, berikut cara bertransaksi dengan Virtual Number. 

Traveloka PayLater



Traveloka PayLater Card

PayLater Card merupakan kartu kredit yang diterbitkan oleh Bank BRI berkolaborasi dengan Traveloka dan Visa. Dengan PayLater Card, pengguna bisa melakukan pembelian tidak hanya di Traveloka, tapi juga di tempat-tempat berlogo Visa di seluruh dunia. PayLater Card tetap memberi kenyamanan kepada mengguna dengan proses verifikasi cepat (kesempatan kartu disetujui kurang dari seminggu), kebebasan biaya-biaya tersembunyi serta semua riwayat transaksi terekam secara real-time


Saat ini, pengajuan PayLater Card hanya bisa dilakukan bila menerima undangan saja. Undangan ini akan dikirimkan melalui email atau dimunculkan juga pada halaman awal akun PayLater pengguna. Limit PayLater Card dapat digunakan untuk transaksi di luar maupun di dalan Traveloka. Yang perlu diingat, sebelum mengajukan permintaan PayLater Card, pastikan telah melunasi semua pembayaran PayLater. 


Bonusnya, setiap melakukan transaksi menggunakan PayLater Card, untuk kelipatan Rp. 100.000 maka pengguna berhak mendapatkan 500 traveloka point yang akan didapatkan pada periode tagihan di bulan depan.

Traveloka PayLater
Bentuk fisik dari PayLater Card | Sumber: traveloka.com

Untuk cicilan, bunga dan pembayaran, PayLater Card agak berbeda, karena basisnya seperti kartu kredit. Tingkat bunga ritel kartu kredit adalah 2,25% per bulan. Bunga akan ditambahkan pada penagihan berikutnya apabila pengguna tidak membayar seluruh saldo terhitang pada tanggal jatuh tempo, dan bunga akan ditagih per bulan berdasarkan saldo harian sejak tanggal pembukuan dengan suku bunga seperti yang tercantum pada lembar penagihan dengan rumus sebagai berikut:

(Tanggal Cetak Tagihan - Tanggal Pembukuan + 1 hari) x Bunga x Jumlah Transaksi x 12 / 365 hari


PayLater Card masih memberikan kemudahan cicilan berdasarkan dua program, yaitu program kerja sama BRI dengan merchant rekanan dengan melakukan pendaftaran saat melaksanakan pembelian, atau program cicilan dengan melakukan pendaftaran melalui Call Center BRI (maksimal 7 hari setelah pembelian). Bunga program cicilan ini 0% - 0.99% dan tenor 3 bulan sampai dengan 24 bulan.


BRI Card Center akan menerbitkan dan mengirimkan lembar penagihan ke alamat e-mail pemegang kartu yang terdaftar. Pemegang kartu utama wajib melakukan pembayaran sebelum tanggal jatuh tempo dalam ketentuan sebagai berikut :

- Pembayaran minimum bulan tersebut (10% jumlah total), wajib dibayar penuh.

- Pembayaran penuh atas total tagihan diperkenankan, kecuali ditetapkan lain oleh BRI.

- Bila pembayaran dilakukan setelah lewat tanggal jatuh tempo, atau bila jumlah - pembayaran kurang dari pembayaran minimum, maka BRI akan mengenakan biaya keterlambatan (late fees).

- Apabila terdapat kelebihan pemakaian batas kredit, maka BRI akan mengenakan biaya over limit.


Traveloka PayLater
Sumber: traveloka.com


***


Traveloka PayLater lengkap sekali untuk dijadikan sahabat keuangan keluarga. Selain fungsi utama PayLater sebagai sistem kredit online yang memudahkan kita untuk berbelanja di awal dan bayar belakangan, secara tidak sadar, dapat membantu menyelamatkan prioritas keuangan kita yang mungkin sudah direncanakan sejak lama. Jadi risiko yang datang belakangan dan sukanya dadakan, bisa ditalangi dulu dengan PayLater. 


Pokoknya, PayLater #JujurGunaBanget!

Kalau ingin tahu lebih banyak mengenai Traveloka PayLater ini, informasi lengkapnya bisa dilihat di website resmi traveloka.com. Atau kalau sudah punya aplikasinya, bisa juga baca-baca di sana.


Ke depannya, saya sudah punya rencana prioritas untuk membahagiakan keluarga di kampung halaman. Sebenarnya simple dan sempat terealisasi beberapa tahun lalu saat keuangan keluarga saya masih stabil, yaitu membelikan kado di hari ulang tahun Ayah, Ibu dan adik bungsu saya. 


Kemudahan "Beli Dulu, Bayar Belakangan" dari Traveloka PayLater tentu menjadi solusi bagi saya untuk terus konsisten membahagiakan mereka dengan hadiah-hadiah kecil, apa pun gejolak keuangan nanti. Karena saya di Jakarta dan mereka di Padang, saya tentu memanfaatkan PayLater Virtual number untuk membeli produk di e-commerce langganan, lalu mengirimnya langsung ke sana. Praktis, lebih hemat dan bisa dicicil pula. Lebih-lebih kalau ada diskon di e-commerce, plus ada promo cicilan juga di Traveloka PayLater. Wah, iritnya dobel!


Kalau teman-teman, prioritas membahagiakan apa yang ingin dilakukan bersama Traveloka PayLater? 


***


Referensi

Buku Mengelola Keuangan Keluarga oleh Safir Senduk

traveloka.com

Paylater Kian Populer, 83 Persen Responden Sebut Penolong dari Kebutuhan Mendadak. Tautan: https://m.bisnis.com/finansial/read/20210211/89/1355178/paylater-kian-populer-83-persen-responden-sebut-penolong-dari-kebutuhan-mendadak



Kiat Membuat Resolusi Awal Tahun Agar Konsisten Dijalankan

No comments

Resolusi awal tahun
Selamat tahun baru 2022! 


Hampir dua tahun di tengah pandemi, yang awalnya waktu terasa lambat sekali berjalan karena di rumah saja, lama-lama jadi tak sadar terlalui dengan begitu cepat. Sudah seberapa banyak kegiatan produktif yang dilakukan selama di rumah? Makin mager, apa makin rajin?


Sudah menjadi fenomena mainstream setiap pergantian tahun banyak yang mengunggah apa pun terkait resolusi. Semua seolah berpacu membuat resolusi dan menyebarkannya di berbagai platform. Salah satunya ya tulisan ini, membahas hal yang mayoritas menjadi fokus. Tapi apa benar resolusi yang tersusun itu bekerja sesuai semestinya? Apa memble di tengah jalan atau tidak berjalan sama sekali?


Inilah sedikit sharing tentang resolusi awal tahun ala saya. Inginnya bisa memicu semangat kita semua, sekaligus pengingat juga bagi saya, untuk selalu berupaya meningkatkan produktivitas.


Baca juga: 5 Tahun Ngeblog, Dapat Apa?



Penting atau Hanya Ikut-ikutan?

Resolusi awal tahun
Dulu, saya tidak pernah sekalipun berniat untuk membuat resolusi. Entah awal tahun, tengah tahun atau di akhir tahun. Karena saya menganggap menjalani hidup seperti air adalah yang terbaik. Saya pikir resolusi itu hanya auforia sesaat menyambut awal tahun yang nantinya belum tentu dijalankan. 


Namun pada tahun 2020, saat Covid-19 membatasi mobilitas, saya mulai sering kebingungan hendak melakukan apa. Memang mengelola blog sudah saya jalankan sejak tahun 2016, tapi ya sekadarnya saja. Tidak ada target, hanya sebagai pengisi hari. Kalau tidak sempat atau malas, ya tidak nulis. Sampai akhirnya pandemi menjadikan frekuensi menulis saya otomatis meningkat sebagai peluruh kebosanan. Dan ternyata, itu membuahkan hasil hanya dalam waktu singkat. Puncaknya, saya menjuarai lomba blog untuk pertama kalinya!


Sadar betapa banyak pengaruh positif dari konsistensi menulis sejak pandemi, saya mulai menyusun resolusi. Apa yang saya inginkan, saya tulis di buku kecil lusuh favorit saya. Hasilnya tidak main-main, saya menjadi jauh berkembang dengan prestasi yang tidak pernah saya kira.


Berkat resolusi dadakan itu, blog saya mulai terisi dengan artikel-artikel yang lebih tertata, baik dari segi tulisan maupun tampilan. Banyak kelas blogging dan writing saya ikuti, yang bersyukurnya semua di-online-kan. Entah karena semesta sedang mendukung saya yang memang tidak bisa ke mana-mana karena harus mengasuh anak, atau memang resolusi saya yang membantu untuk tetap konsisten. Yang jelas, keduanya menjadikan saya banyak berubah ke arah positif dengan pencapaian impian yang selama ini hanya dalam khayalan. 


Jadi kalau ditanya pada saya, apakah resolusi itu penting atau hanya sekadar ikut-ikutan, saya menjawab PENTING!


Terserah bila orang lain ikut-ikutan atau serius, yang jelas bagi saya, resolusi seperti sebuah panduan, pengingat dan motivasi. Sudah capek-capek bikin resolusi, rasanya sia-sia saja kalau tidak direalisasikan. Membuat resolusi itu bukan hal sepele bagi saya, tidak sembarangan dan harus dipikirkan matang-matang agar bisa dijalankan dengan benar. 


Lalu bagaimana kiat membuat resolusi agar tidak menjadi ajang ikut-ikutan? Bagaimana membuat resolusi yang bisa mempertahankan konsistensi? Agar jangan sampai berhenti di tengah jalan, padahal sudah banyak berbuat di awal. Kan sayang.


Selanjutnya akan saya jelaskan kiat ala saya yang alhamdulillah berhasil mewujudkan hampir semua resolusi dalam setahun perjalanannya. 

 


Begini Kiat Membuat Resolusi Awal Tahun Ala Saya

Resolusi awal tahun
Resolusi yang saya buat tidak pernah semalam jadi. Saya bahkan harus mendiskusikan juga dengan suami untuk meminta saran dan masukan. Saya berharap, resolusi yang saya buat harus benar-benar saya lakukan, makanya tidak asal dan butuh pertimbangan. Berikut cara saya membuat resolusi dua tahun belakangan ini. 


1. Masuk Akal dan Spesifik

Boleh saja bermimpi besar, tapi tidak semua mimpi bisa dijadikan resolusi awal tahun. Resolusi ini terbatas hanya untuk satu tahun, jadi harus diukur juga batas kemampuan yang saat ini dimiliki dengan target yang hendak dicapai. Resolusi ini juga sebaiknya spesifik, tidak terlalu melebar. Misalnya ingin menerbitkan buku. Bukunya tentang apa? 


Contoh, saya ingin menerbitkan buku solo pada tahun 2020 tentang pengalaman resign dari pekerjaan. Ini target yang sempat saya pikirkan saat itu. Tapi setelah ditimbang, rasanya tidak mungkin saya lakukan karena belum punya kemampuan menulis yang begitu baik, terbatas dari segi waktu karena masih punya bayi yang masih ASI dan kakaknya yang masih berusia 3 tahun, serta perlu banyak belajar tentang kepenulisan dan penerbitan, terutama buku, yang belum tahu harus saya pelajari dari mana.


Akhirnya saya ringankan menjadi kontributor buku antologi. Ilmunya dapat, bukunya ada dan tentunya sangat memungkinkan saya lakukan. Alhamdulillah saya berhasil terpilih menjadi salah satu penulis dalam buku antologi bersama sebuah komunitas menulis di akhir tahun 2020, meski tahun terbitnya di awal 2021. 


Tidak masalah menurunkan target, yang penting tercapai. Dari pada terlalu tinggi, tapi tidak bisa terlaksana. Lagi pula, di tahun berikutnya, impian besar itu bisa dijadikan resolusi kembali, bukan? Yang pastinya dengan kemampuan yang sudah lebih mumpuni sehingga memungkinkan untuk dicapai.


2. Melebihi Pencapaian Sebelumnya

Bila tahun sebelumnya sudah berhasil melakukan sesuatu, minimal resolusi di tahun berikutnya harus melebihi pencapaian tersebut. Sifatnya lebih ke melakukan hal baru, bukan sekadar mempertahankan yang sudah ada. Kalau bagi saya sendiri ini menjadi penyemangat karena adanya kegiatan baru atau target baru. Pasti kita suka dan tertantang bukan kalau berhadapan dengan hal-hal baru yang belum dicoba? Jadi penasaran nanti hasilnya gimana. Dan itu menurut saya seru!


3. Wajib Memecahnya dalam Jadwal!

Nah, yang satu ini adalah poin penentu konsistensi. Resolusi yang sudah dibuat harus dipecah menjadi jadwal yang harus dipatuhi. Penting untuk menetapkan jadwal yang tidak terlalu memberatkan, namun juga tidak terlalu longgar. Ini berguna sekali agar kita tidak capek duluan atau berhenti di tengah jalan karena merasa tertekan dengan target yang dibuat sendiri. Kalau terlalu longgar juga nanti akan memancing rasa malas.


Misalnya resolusi saya tahun lalu adalah meningkatkan kecepatan menulis, paling tidak dua kali lebih cepat dari sebelumnya. Saya menjadikan lomba blog dan update artikel sebagai cara terbaik untuk mencapai itu. Jadi saya menargetkan untuk menulis minimal 4 artikel per bulan dengan 1 kali mengikuti lomba blog dalam bulan tersebut. Kalau lebih alhamdulillah, tapi tidak boleh kurang dari itu. 


Untuk satu bulan, jadwalkan mau melakukan apa untuk mewujudkan resolusi. Atau bebas tenggat waktunya berapa lama, yang penting sesuai dengan kemampuan. Resolusi itu ibarat visinya, jadwal ini misinya. Praktiknya apa dan bagaimana. Jadi jelas apa yang akan kita lakukan, jelas progresnya. Satu bulan saja mematuhi jadwal, maka bulan selanjutnya kita akan berupaya mempertahankan. Beberapa bulan bisa konsisten, maka habbit akan terbangun dengan sendirinya. Besar pula peluangnya resolusi itu akan tercapai tepat waktu.


4. Tulis

Kalau biasanya yang dilihat di media sosial adalah resolusi yang ditulis pada sebuah agenda dengan tinta warna warni dan tulisan indah luar biasa, bagi saya, menuliskan resolusi cukup di kertas biasa saja. Sebenarnya menulis ini hanya untuk memudahkan kita mengingat, merasa dan menetapkan apa saja yang hendak dijadikan resolusi agar tidak tumpang tindih dan lebih terarah. Kalau sudah tertulis, biasanya otomatis teringat tanpa harus bolak-balik buku catatan lagi. Akhirnya jadi dokumentasi saja.


Tapi kalau pun ingin dibuat menarik, juga tidak apa. Banyak juga yang suka membuat bujo alias bullet journal yang dirancang sedemikian manisnya. Berhubung saya tidak biasa membuat itu, makanya cukup dengan menulis biasa saja, yang penting jelas. Ada juga yang menyarankan untuk membagikannya di media sosial agar lebih terpacu lagi semangatnya karena banyak yang menyaksikan. Tapi tetap ini pilhan masing-masing individu, senyamannya saja. 


5. Jangan Lupa Apresiasi Diri

Setiap kali jadwal bulanan itu terlaksana secara keseluruhan, berilah penghargaan kepada diri sendiri yang sudah berupaya keras. Apalagi ketika satu per satu resolusi itu tercapai, wajib hukumnya menghadiahi diri sendiri yang berkat perjuangannya bisa mewujudkan apa yang diinginkan. Tidak perlu mewah, misalnya dengan ngopi enak di cafe kesukaan, nonton drama korea seharian atau membeli sesuatu yang diinginkan. Saya pernah menetapkan sebuah barang di awal bulan sebagai hadiah bila saya bethasil mengerjakan semua jadwal tepat waktu. Barulah akan saya beli bila benar-benar berhasil menyelesaikannya. Menyenagkan, bukan? 


Baca juga: Ingin Menulis, Tapi Bingung Harus Mulai Dari Mana? Yuk, Coba 7 Cara Ini!


Sebenarnya saat membuat resolusi kita tidak membutuhkan usaha ekstra, paling hanya menimbang dan mengukur kemampuan. Namun mewujudkannya yang butuh perjuangan hebat. Memang sulit menumbuhkan konsistensi saat menargetkan sesuatu yang sifatnya pribadi dan tidak terikat dengan peraturan atau hukum apa pun. Kalau dilanggar, tidak akan terjadi apa-apa. Makanya banyak yang akhirnya berhenti ketika kesulitan mulai datang. 


Namun, bila resolusi itu dipecah menjadi jadwal yang lebih jelas dan detail, maka kita akan lebih mudah pula bertindak. Tidak akan lama, sebulan saja bisa konsisten, pasti bulan-bulan berikutnya menyusul. Kalau sudah berhasil berbulan-bulan, yakin mau merusak pencapaian tersebut? Hingga akhirnya konsistensi terbangun dan resolusi tidak hanya menjadi wacana. 


Yuk, bikin resolusi 2022! Lengkap dengan jadwalnya juga, ya!