Featured Slider

Ramadan Hingga Lebaran Padat Agenda? Jaga Kesehatan Keluarga dengan Antangin JRG dan Antangin Habbatussauda

No comments

Pernah sakit pas puasa Ramadan? Selain enggak enak, pasti  mengganggu ibadah.

Atau pernah tiba-tiba tumbang pas Lebaran? Padahal jadwal sudah padat, mau silaturahmi ke rumah saudara, eh, malah terpaksa ditinggal. 


Antangin JRG dan Antangin Habbatussauda

Saya pernah merasakan dua-duanya!

Beberapa kali meriang, mual dan sakit kepala di pertengahan Ramadan. Memang bukan penyakit berat dan tidak sampai batal puasa. Namun demi memaksa puasa, saya harus berjuang lebih kuat untuk menahan ketidaknyamanan hingga berbuka. Minum paracetamol pun tak bisa. Salat jadi tidak khusyuk, target baca Alquran pun tak tercapai.


Pernah pula saat lebaran, anak saya yang sakit. Walau tak merasakan secara langsung, sebagai ibu, mau tak mau, saya harus menjaga anak di rumah. Bahkan bukan hanya saya, orang tua saya juga terpaksa membatalkan agenda demi ikut menjaga cucu pertama mereka saat itu. Lebaran yang harusnya penuh suka cita, malah berubah suram. Setelah capek berjaga, anak sembuh, gantian saya yang sakit karena terlalu lelah.


Kesimpulannya jelas, kondisi tubuh prima harus diupayakan selama Ramadan dan Lebaran. Agar ibadah tetap maksimal serta momen Idul Fitri tak perlu jadi tumbal. 


Meski saat ini sudah kembali ke aktivitas normal, setidaknya cerita yang saya tulis bisa menjadi referensi untuk menjaga kesehatan keluarga di Ramadan dan Lebaran tahun-tahun berikutnya.



Ramadan Hingga Lebaran, Punya Jadwal Berbeda dengan Hari Biasa

Waspada masuk angin

Buat saya, mulai dari awal Ramadan, "hawa"-nya sudah tak lagi sama dengan hari biasa. Yang paling berpengaruh adalah adanya sahur. Bagi ibu-ibu seperti saya, jadwal memasak tentu harus menyesuaikan. Sedangkan bagi suami yang bekerja di jam normal, akan lebih sulit mengatur jam tidur, apalagi bila malamnya lembur.


Bicara Ramadan, seperti sudah setali dengan perayaan kemenangan setelahnya, yaitu Idul Fitri. Mendekati Lebaran, aktivitas mudik pun mulai ramai. Hectic-nya memantau harga tiket manjadi tradisi yang tak kalah memacu adrenalin bagi kami para perantau. Tak jarang sampai rela begadang menunggu jam sepi, berharap harganya tak terlalu tinggi. 


Belum habis sampai di situ. Setelah tiket berhasil didapat, fisik dan mental harus siap untuk mudik ke kampung halaman. Sama saja hebohnya. Mulai dari packing, sibuk cari oleh-oleh hingga nanti bawa koper segede gaban ke bandara, plus dua bocah. Apalagi kemarin, saya dan anak-anak terpaksa mudik duluan karena suami masih ada pekerjaan yang belum bisa ditinggal. Wah, masih terasa deg-degannya saat pertama kali naik pesawat tanpa didampingi suami.


Mudik hanya sama anak

Sesampainya di kampung, menjelang Lebaran, saat lebaran dan beberapa hari setelah Lebaran, sudah berjejer daftar lokasi yang akan dikunjungi. Mulai dari rumah saudara, objek wisata, bahkan tempat makan hits yang tak mungkin dilewatkan. Tidak selalu santai dan mulus, ada kemacetan dan keramaian yang sudah pasti terjadi. Wajar, ada jutaan keluarga lain yang juga ingin menjamu anak atau saudaranya dari rantau.


Itu pun masih berlanjut hingga mudik balik ke realita. Koper yang awalnya satu, bisa berlipat menjadi dua. Belum lagi kardus-kardus makanan dan berbagai bekal. Saya yakin, ini pun juga sudah menjadi tradisi bagi anak-anak rantau. Barang bawaan dijamin beranak-pinak ketika kembali ke tanah peratauan. Jangan ditanya proses packing-nya, semuanya ikut menata agar koper dan kardus-kardus itu tak lagi bersisa sela kosong. Bagaimanapun caranya, semua harus terbawa.


Coba bayangkan, dengan jadwal segitu padatnya, yang satu bulannya harus berpuasa, bukankah berisiko menurunkan daya tahan tubuh?


Jangan salah tanggap. Saya bukan menyalahkan puasanya, jelas sangat menyehatkan tubuh. Tapi yang menyebabkan turunnya kesehatan adalah kurangnya kemampuan kita mengatur jadwal dan aktivitas yang sesuai dengan spesialnya waktu Ramadan dan Lebaran, sehingga tubuh rentan dengan efek kelelahan.


Misalnya saja jam istirahat. Inginnya tidak tidur lagi setelah sahur, namun mata mengantuk karena malamnya terpaksa menyelesaikan sisa kerjaan. Mau membayarnya dengan ikutan tidur siang bersama anak, tapi anaknya menolak tidur. Begitu terus sampai Lebaran usai. 


Memang bukan sebuah kesengajaan, namun tetap saja ada risiko yang mengancam. Ketika jadwal berubah, sedangkan pekerjaan atau aktivitas tak bisa menyesuaikan, di saat itulah kita harus berpandai-pandai menjaga kesehatan. Apalagi untuk saya sebagai ibu, pengatur lalu lintas konsumsi keluarga, tentu saja harus cekatan memikirkan cara agar suami dan anak-anak tetap fit di tengah kesibukan Ramadan dan Lebaran.


Salah satunya dengan Antangin JRG dan Antangin Habbatussaudah.

Eh, memangnya bisa menjaga kesehatan sekeluarga? Bisa, dong!



Antangin JRG dan Antangin Habbatussauda, Kandungannya Tepat Bermanfaat untuk Kesehatan Sekeluarga

Manfaat Antangin JRG dan Antangin Habbatussauda

Dimulai dari kebiasaan yang ibu saya contohkan, saya sering merebus dan meminum air rebusan jahe. Lagi pula, khasiat jahe sudah diakui baik untuk memelihara kesehatan tubuh. Apalagi di masa awal pandemi Covid-19 lalu, setiap minggunya, segelas air rebusan jahe hangat dicampur gula merah cair, rutin saya berikan kepada suami dan beberapa sendoknya untuk anak-anak.


Ini juga saya lakukan sebagai salah satu ikhtiar untuk menghindari gejala-gejala masuk angin. Penyakit yang bisa dibilang "penyakit tradisi" Indonesia karena faktanya dalam medis tidak ada yang namanya masuk angin. Tetapi nyatanya, masuk angin sangat sering terjadi dalam kehidupan kita, kehidupan saya. 


Meski masuk angin dianggap biasa, namun dampaknya cukup memberatkan dan mengganggu aktivitas harian.


Gejala masuk angin sama persis dengan apa yang saya alami, yaitu mual, sakit kepala serta meriang yang kadang disertai demam. Anak saya pun juga memperlihatkan gejala yang sama saat tubuh mereka kelelahan, walau yang kentara hanya mual yang disertai muntah dan demam berdasarkan hasil cek suhu dengan termometer. 


Sayangnya, belakangan ini saya keteteran karena padatnya urusan rumah tangga dan menulis. Sehingga rutinitas merebus jahe tak lagi diprioritaskan. Sebagai ibu milenial, saya langsung mencari alternatif produk dengan manfaat serupa. Saya tahu manfaat jahe dan sayang sekali bila membiarkan keluarga saya tidak lagi mendapatkannya. Bila ada produk jadinya saja, kenapa tidak?


Antangin JRG dan Antangin Habbatusauda, itulah produk yang memberi solusi. 

Merek sudah tidak asing, bukan? Merupakan sirup herbal masuk angin persembahan dari Deltomed, produsen obat herbal terkemuka di Indonesia yang sudah berpengalaman lebih dari 40 tahun. 


Kenapa saya memilih kedua produk ini? Bukannya asal, tetapi karena saya memiliki alasan sendiri sebagai hasil dari searching sana-sini dan dilengkapi dengan pertimbangan sendiri. Sudah naluri untuk kepo dulu sebelum memilih produk. Terutama yang masuk ke tubuh dan diberikan untuk keluarga.


1. Kandungannya Tepat untuk Menggantikan Rebusan Jahe, Malah Lebih Lengkap

Antangin JRG mengandung jahe, royal jelly dan gingseng sebagai kepanjangan dari JRG-nya. Jahe berada di posisi pertama sebagai kandungan yang paling tinggi di setiap kemasannya. Selain itu, ada daun mint, biji pala, akar manis, kunyit, daun sembung dan madu. Lengkap sekali, bukan?


Bukan hanya jahe saja seperti air rebusan yang sering saya minum dulu. Semua kandungan dalam Antangin JRG punya khasiat yang sangat bermanfaat untuk meredakan gejala masuk angin seperti meriang, mual, kembung dan sakit kepala, serta membantu melegakan tenggorokan.



Jahe
Mengobati mual, muntah, perut bergas atau kembung, hingga kehilangan nafsu makan, antioksidan, menghangatkan tubuh dan dapat membantu merangsang aliran darah ke seluruh tubuh.

Royal Jelly
Mengobati demam, meningkatkan sistem kekebalan tubuh

Gingseng
Meningkatkan stamina fisik, mengatasi kelelahan, demam, mual, muntah, kehilangan nafsu makan, masalah tidur, nyeri saraf dan sendi, pusing, dan pilek.

Madu
Mengandung antioksidan dan membantu meningkatkan sistem kekebalan tubuh.

Daun Sembung
Mengatasi masalah pencernaan seperti mual, kembung dan diare. Mengobati flu dan batuk serta radang sendi

Akar Manis
Meredakan batuk dan sakit tenggorokan, serta mengatasi gangguan saluran pencernaan. 

Daun Mint
Mengobati pilek, batuk, radang mulut dan tenggorokan, infeksi sinus, dan infeksi saluran pernapasan sebagai gejala masuk angin. Mengatasi heartburn (sensasi terbakar di dada), mual, muntah, diare dan perut bergas, serta juga mengandung antioksidan.

Pala
Mengobati diare, mual, kejang perut, dan usus bergas. 

Kunyit
Mengobati nyeri perut, diare, usus bergas, perut kembung, tidak nafsu makan, nyeri sendi, pilek, demam, dan kelelahan. 
Sumber: hallosehat.com, popmama.com, alodokter.com


Antangin Habbatussauda juga tak kalah kandungannya. Sesuai nama, habbatussauda menjadi pendamping jahe sebagai komposisi tertinggi. Jintan hitam dari Timur Tengah ini sudah menjadi herbal yang semakin difavoritkan sejak pandemi Covid-19, karena fungsinya yang dapat memperkuat daya tahan tubuh. 


Selain itu, dilengkapi juga dengan daun sembung, daun mint, biji pala, akar manis, kunyit, meniran dan madu. Dengan kandungan jahe dan daun mint yang lebih rendah, sensasi hangat Antangin Habbatussauda lebih soft. Namun tetap, manfaat utama Antangin Habbatussauda serupa, yaitu memelihara daya tahan tubuh dan meredakan gejala masuk angin.



Habbatussauda
Mengobati sakit kepala, flu, diare, perut kembung, kolik, reaksi alergi serta menjaga daya tahan tubuh. 

Meniran
Menjaga daya tahan tubuh, mengandung antisoksidan dan antiperadangan.
Sumber: hallosehat.com, merdeka.com

Manfaat kandungan lainnya seperti  jahe, daun sembung, daun mint, biji pala, akar manis, kunyit dan madu, bisa dibaca pada keterangan Antangin JRG.


Meski kedua produk ini banyak diulas dapat memberi manfaat yang sama, yaitu mengatasi masuk angin dan memelihara kesehatan tubuh, keluarga saya punya aturan minum sendiri. Kami memilih Antangin JRG ketika bergejala masuk angin saja. Karena Antangin JRG lebih hangat dan sangat bikin plong, serta sesuai juga dengan fungsi utamnya. Barulah ketika tubuh masih terasa baik-baik saja dan hanya ingin memelihara kesehatan saja, kami meminum Antangin Habbatussauda dengan kehangatan yang lebih ringan.


Kecuali untuk anak sulung saya, maunya cuma yang Antangin Habbatussauda saja. Ya sudah, tidak masalah. 


2. Aman

Antangin JRG dan Antangin Habbatussauda aman

Waspada soal keamanan produk yang diberikan kepada keluarga itu penting, apalagi untuk anak-anak.  Alasan selanjutnya yang membuat saya percaya dengan Antangin JRG dan Antangin Habbatussauda adalah keamanan produknya yang sudah terjamin.


Saya hobi sekali menyorot setiap logo dan angka yang ada pada label produk. Karena biasanya keamanan produk sering kali dilambangkan dari logo dan angka, seperti yang terpenting adalah logo halal MUI dan BPOM. 


Untuk urusan kehalalan, Antangin JRG dan Antangin Habbatussauda sudah mengantongi sertifikat halal dari MUI. Tentu ini syarat penting bagi saya yang beragama Islam. Begitu pula dengan urusan sertifikasi BPOM, tertera pula dalam kemasan kode HT112600041 untuk Antangin JRG dan kode TR202601241 untuk Antangin Habbatussauda. Saya pun sudah mengecek di situs BPOM bahwa kedua produk ini memang sudah benar-benar terdaftar.


Aman selanjutnya yang saya senangi adalah penyematan gelar "herbal"-nya. Saya masih percaya bahwa produk herbal terbuat dari bahan-bahan alami yang secara efek samping akan lebih ringan bila dibandingkan dengan produk non-herbal. Sangat menenangkan bila produk yang akan dikonsumsi rutin bergelar produk herbal, apalagi anak juga turut mengonsumsinya.


Pada bagian pojok kiri atas kemasan, ada logo berbeda pada Antangin JRG dan Antangin Habbatussauda.

  • Antangin JRG, dinyatakan sebagai Obat Herbal Terstandar (OHT) yang berarti terbuat dari ekstrak bahan alam, di mana khasiat dan kemananannya sudah teruji secara klinis, serta bahan bakunya sudah terstandarisasi. Proses produksinya sudah menggunakan teknologi maju.
  • Antangin Habbatussauda dinyatakan sebagai Jamu yang berarti obat tradisional dari tanaman tradisional serta disajikan pula secara tradisional. Sama seperti jamu, cuma ini yang kemasan siap minumnya. 

Sumber: itjen.kemdikbud.go.id


3. Praktis, Mudah Didapat, Harga Oke

Kemasan Antangin praktis

Saya salah satu fans dari segala sesuatu yang praktis. Kemasan sachet sekali minum Antangin JRG dan Antangin Habbatussauda jelasa sangat praktis untuk di bawa ke mana saja. Karena tidak semua aktivitas dilakukan di rumah. Saya saja yang ibu rumah tangga, pasti ada saatnya ke luar rumah, seperti mudik kemarin. Beberapa sachet Antangin JRG dan Antangin Habbatussauda dengan mudahnya saya selipkan di sela tas. 


Selain kemasan, tekstur sirup yang tak terlalu kental dan tidak lengket, sangat membantu untuk diminum di segala situasi. Berbeda dengan tablet atau bila teksturnya sirunya lebih kental, pasti saya membutuhkan air putih agar tertelan sempurna. 


Terus, Antangin JRG dan Antangin Habbatussauda juga mudah didapat. Di Jakarta, selalu saya lihat di seluruh apotik yang pernah saya kunjungi, serta nyaris di semua mini market atau super market yang saya masuki. Ketika saya mudik ke Padang lebaran lalu, di apotik kecil dekat rumah pun tetap ada, di mini market juga tersedia. 


Harganya menurut saya lumayan stabil. Baik di Jakarta maupun di Padang, harganya masih sekitar 3000-an. Sangat oke bila dibandingkan dengan manfaat yang didapat. Apalagi bila disandingkan dengan aktivitas saya merebus jahe, mulai dari beli jahenya, membersihkannya, merebusnya dan menambahkan gula merahnya.


Jadi saat kehabisan Antangin JRG dan Antangin Habbatussauda, tidak perlu khawatir. Masih bisa lanjut mengonsumsi produk Antangin ini meski kita tengah bepergian.


4. Bisa Dikonsumsi Sekeluarga

Antangin JRG dan Antangin Habbatussauda bisa diminum sekeluarga

Saya dan suami bisa minum, orang tua saya yang berusia 60-an juga bisa minum dan anak di atas usia 6 tahun juga bisa minum. Antangin JRG dan Antangin Habbatussauda bisa dikonsumsi dalam rentang usia yang jauh, sehingga seluruh anggota bisa menikmati manfaatnya. 


Sebenarnya masih sepaket dengan kepraktisan tadi, saya tidak perlu ribet lagi mencari produk lain untuk orang tua dan anak saya. Dengan produk yang sama, bisa memelihara kesehatan sekeluarga. 



Cara minum Antangin JRG dan Antangin Habbatussauda yang dianjurkan adalah setelah makan dengan dosis 3 kali 1 sachet per hari untuk dewasa dan setengah sachet untuk anak usia 6-12 tahun. Bila ingin merasakan kehangatannnya dengan perlahan, boleh dicampur dengan setengah gelas teh tawar hangat setiap kali minum. Nah, kalau untuk mencegah mabuk kendaraan, minum 1 sachet dan setengah sachet untuk anak sebelum melakukan perjalanan. 


Berhubung saat berpuasa jadwal makan kita berubah, yang awalnya tiga kali makan besar, menjadi dua kali saja, penerapan aturan minum 3 kali sehari tentu sukit dilakukan. Tinggal sesuaikan, cukup meminum satu atau dua kali saja sesuai jadwal makan berat, yaitu sahur dan berbuka. Dibawa santai, yang penting masih rutin diminum. Dan yang tak kalah penting, minum sebelum melakukan perjalanan mudik. Selama di jalan nyaman, sampai di kampung halaman kesehatan juga aman.


Antangin untuk kesehatam selama mudik

Saya suka dengan sensasi lega setelah meminum Antangin JRG. Menjalar dari hidung sampai perut. Bagi saya yang sudah tidak asing dengan sirup herbal masuk angin, sensasi ini menjadi hal biasa, malah yang saya nantikan. Kalau suami, lebih suka yang Antangin JRG, lebih "nendang" katanya.  Tapi kalau saya, dua-duanya mah sama-sama enak. Hanya beda di "nendang"nya saja.


Bagi yang belum pernah mencoba, rasanya hampir sama dengan obat batuk hitamr rasa mint. Namun ini versi manis dan enaknya. Lebih kurang sensasi leganya hampir sama. Hanya saja Antangin mencapai hidung hingga perut, sedangkan obat batuk hanya tenggorokan saja, atau paling kuat hanya sampai hidung. 


Anak sulung saya beda lagi, Antangin Habbatussauda menjadi yang lebih favorit. Maklum, maksimal masih merasakaan kehangatan air rebusan jahe ala saya, jadi batas hangat jahe yang nyaman di tenggorokannya belum seperti saya dan suami. Tak masalah, toh manfaatnya juga sama.


Bersama Antangin JRG dan Antangin Habbatussauda, tubuh jadi lebih siap dengan aktifitas padat saat Ramadan dan menyambut Lebaran. 


Setidaknya, tubuh suami punya pertahanan lebih ketika bekerja saat harus berpuasa. Saya pun tetap fit meski bangun lebih cepat untuk menyiapkan sahur setiap hari. Anak saya juga tetap aktif bersekolah dengan kesehatan yang tetap terjaga. Ini akan berkesinambungan hingga mudik Lebaran, hari H Lebaran, mudik balik dan kembali lagi ke aktivitas normal usai berhari raya.


Biar semua lancar!



Tips Menjaga Daya Tahan Tubuh Selama Puasa Ramadan hingga Idul Fitri

Gorengan dan minuman manis
Gorengan dan minuman manis favorit untuk berbuka, tapi riskan untuk kesehatan

Untuk sehat, tak cukup hanya dengan satu upaya, namun berhubungan dengan semua hal terkait pola hidup. Saya tidak muluk-muluk, memperbaiki pola hidup secara keseluruhan dalam waktu singkat, jujur saya tak sanggup. Cukup yang sederhana dan mendasar saja, namun konsisten. Ternyata cukup ampuh juga menjaga kesehatan keluarga saya selama satu setengah bulan, mulai dari awal Ramadan, hingga mudik balik dari kampung halaman.


Bermodal coba-coba, Alhamdulillah ketemu juga cara yang paling cocok. Berikut lima tips yang saya terapkan pada keluarga untuk memaksimalkan pertahanan tubuh mereka.


1. Cukupkan Istirahat

Beribadah ekstra saat Ramadan, bekerja di siang harinya dan bercengkrama dengan keluarga besar di Hari Raya sering kali berimbas pada tersitanya jam istirahat. Namun harus tetap diupayakan untuk beristirahat saat senggang, atau menyenggangkan waktu untuk beristirahat. Kurangi aktivitas yang tidak terlalu urgent. Kalau memang tidak bisa mengurangi aktivitas dan gagal terus mengganti jam tidur malam yang kurang, manfaatkan waktu istirahat yang sedikit itu dengan langsung tidur sesampainya di kasur. Tidak usah nonton K-Drama dulu, scroll smartphone atau gadget lain berlayar biru. Karena menurut penelitian, ini akan membuat kantuk hilang dan semakin susah tidur. Oiya, jangan minum kopi juga saat mendekati jam tidur. Soalnya saya suka menyesal karena ini. Kuat melek sampai pagi, tapi besoknya tumbang. 


2. Perhatikan Kandungan Makanan Konsumsi

Perut lapar saat berbuka puasa, acap kali membuat kita lupa diri. Semuanya dilahap. Apalagi gorengan dan minuman manis, mana bisa terlepas dari godaannya. Lanjut Ramadan usai, opor dan kuah santan ketupat pun sudah menanti. Ditambah lagi dengan kue-kue lebaran yang sekarang makin memanjakan lidah. Tanpa sadar, lemak menumpuk dan dampak lainnya bisa mengganggu kesehatan. Alasannya mainstream-nya sih, cuma sekali setahun, hajar aja


Lalu sebaiknya gimana? Kembali ke ajaran dasar yang sering kita dengar, segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Kontrol selera kita dan ingatkan juga keluarga untuk makan secukupnya. Kalau merasa sudah banyak makan yang bersantan-santan, ya sudah istirahat dulu. Setidaknya kasih jeda. Diganti dengan buah atau sayuran. Nastar setoples jangan dihabiskan sendiri, bagi-bagi sama yang lain. 


3. Beri Ruang Bila Tak Nyaman Di Keramaian

Ini khusus saat Lebaran. Sudah menjadi tradisi untuk berkumpul bersama sanak keluarga. Yang awalnya di rumah terbiasa hanya bertiga, tiba-tiba menjadi lebih dari 20 orang. Memang asyik sih, ramai dan hangat sekali bisa berbagi cerita, tertawa bersama.


Namun, bila rasanya sudah terlalu lelah mengurusi orang segitu banyak, terutama bagi ibu-ibu yang siap siaga soal urusan sajian, mending masuk dulu ke kamar sebentar atau sudut yang lebih sepi, agar tubuh bisa rileks sejenak.


Ini pun juga berlaku untuk anak-anak. Malah kalau terlalu berisik dan ramai, anak-anak bisa saja demam ringan tanpa sebab, terutama bayi. Saya pun juga tidak terlalu paham kenapa bisa begitu, tapi anak saya pernah mengalami ini. Setelah mencoba memberi sekali atau dua kali ruang untuk anak saya yang saat itu belum genap berusia satu tahun, di kamar hanya berdua, tidak ada lagi drama demam selama Lebaran.


4. Sisakan Satu Hari Kosong

Kalau yang satu ini tips jitu dari suami. Jauh lebih aman untuk kesehatan bila memberi jarak satu hari kosong, dalam artian kita tidak ke mana-mana, sebelum mudik dan mudik balik. Soalnya jadwal mudik tidak mungkin digeser, apalagi yang menggunakan transportasi umum yang tiketnya sudah dibeli jauh-jauh hari. Dari pada memaksa berkegiatan full sebelum melakukan perjalanan jauh, tubuh berisiko mengalami kelelahan. Kalau tiba-tiba drop pas mau berangkat, kan jadi masalah baru. 


Kalau memungkinkan, ini juga bisa diterapkan di sela-sela agenda yang padat. Percaya deh, dengan satu hari hanya berada di rumah, tubuh sudah lebih siap untuk bepergian lagi esoknya.


5. Protokol Kesehatan Jangan Kendor!

Pandemi belum usai ya, guys. Saya termasuk orang yang sangat percaya akan kekuatan protokol kesehatan. Ini seperti tameng kita saat berada di luar rumah, di mana pun itu. Jadi, jangan sampai kendor maskernya dan cuci tangannya. Minimal dua ini saja, karena menjaga jarak susah diterapkan, apalagi saat mudik dan Lebaran. 


Satu lagi yang penting. Di kampung saya dan kampung suami, sudah banyak yang tidak peduli dengan penerapan protokol kesehatan. Malah lebih banyak yang tidak pakai masker dari pada yang pakai saat salat Tarawih dan salat Ied. Nah, jangan sampai tergoda melepas masker juga. Tetap pakai untuk melindungi diri dan syukur-syukur bisa menjadi contoh. 


***


Tips terakhir mengingatkan saya akan penyebaran virus baru yang menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) berpotensi menjadi pandemi, yaitu Hepatitis Akut Misterius. Padahal baru saja merasa lega karena Covid sebentar lagi akan jadi endemi.


Mengerikannya bagi saya yang memiliki dua anak, virus ini tercatat menyerang anak mulai dari usia 1 bulan hingga 16 tahun. Bahkan bahanya tak kalah luar biasa, bisa sampai cangkok hati dan menghilangkan nyawa. Sudah ada anak yang meninggal, dan itu di Jakarta, domisili saya.


Sejatinya, bukan hanya saat Ramadan dan Lebaran, kapan pun harus tetap mengutamakan kesehatan. Ini bukan lagi hal yang bersifat himbauan, namun kebutuhan. Hanya imunitas prima yang mampu melindungi kita, keluarga kita dan anak-anak kita dari penyakit. Entah itu ringan atau berat, tidak ada sakit yang enak. Tetap harus dilakukan upaya pencegahan maksimal.


Begitu pula pengajaran konsep hidup sehat pada anak. Sebagai orang tua, saya paham betul bahwa apa yang akan menjadi kebiasaan anak-anak, bermula dari kebiasaan yang saya contohkan. Tidak mungkin tiba-tiba anak menjadi peduli kesehatan, bila di lingkungan terdekatnya, yaitu keluarga, penerapan hidup sehat tak ada. 


Pandemi mengajarkan satu hal penting, "Kesehatan kita menjadi penentu kesehatan orang lain"
.


Sehat kini tidak lagi berbicara tentang diri sendiri, namun melibatkan semua orang yang ditemui. Bahkan memungkinkan pula berdampak pada orang-orang yang kebetulan menyentuh barang yang pernah kita sentuh atau tak sengaja mengunjungi tempat yang sebelumnya kita kunjungi.


Terus langitkan doa agar kita semua selalu dilindungi.

Tingkatkan kewaspadaan, bukan ketakutan.

Jangan hanya sebatas kata, imbangi juga dengan praktiknya. 


Semoga bermanfaat. 

Minal aidin wal faizin. Mohon maaf lahir dan batin :)

Perdana Cobain Treatment CRT (Collagen Rejuvenation Therapy) untuk Atasi Scar di ERHA Ultimate Acne Cure

No comments

Treatment CRT (Collagen Rejuvenation Therapy)

Memiliki masalah scar alias bopeng di wajah, membuat saya pusing mencari produk untuk mengatasinya. Sudah mencoba berbagai merek, tetap saja tidak ada perubahan apa-apa. Yang ada malah timbul banyak masalah baru bila ternyata pilihan saya salah. Lelah coba-coba produk yang tidak jelas cocok atau enggaknya, saya memutuskan konsultasi ke ahlinya saja. Hasilnya pasti karena akan ditangani dengan tepat sesuai kebutuhan kulit.


Sebagai pelanggan ERHA sejak zaman kuliah, walau sempat terputus-putus konsultasi, jelas ERHA yang saya ingat saat mencari klinik perawatan kulit. Setelah kepoin akun sosial media dan website-nya, ternyata ada program ERHA Ultimate Acne Cure yang memang khusus diperuntukkan bagi penderita wajah berjerawat seperti saya, baik itu jerawat aktif hingga menangani bekas-bekasnya. Program ini dijamin aman, efektif dan personalised.


Erha Ultimate Acne Cure.jpg


  • Permasalahan jerawat yang kita alami akan ditangani langsung oleh Skin Expert yang sudah pasti profesional.
  • ERHA juga menggunakan teknologi modern dan terkini, termasuk dalam solusi kulit berjerawat. Jadi penanganan dan tindakan yang diberikan tepat sasaran dan teruji secara klinis.
  • Paling penting dari semuanya adalah personalised, yaitu sesuai dengan permasalahan dan kondisi kulit masing-masing. 


Tersedia tiga plan yang juga bisa disesuaikan, yaitu Advance Plan, Basic Plan dan Product Plan. Saya lebih sesuai dengan Basic Plan, yaitu 1 kali konsultasi, 1 kali treatment dan 1 personalised product


Erha Ultimate Acne Cure


Flashback ke November lalu, sebenarnya saya sudah konsultasi ke klinik ERHA. Lima tahun tidak perawatan apa-apa dikarenakan hamil dan menyusui kedua anak saya yang kebetulan jarak kelahirannya berdekatan, membuat wajah saya sangat kusam, banyak jerawat aktif dan tentunya bejibun bekas jerawat, baik itu yang kehitaman atau pun scar. Jadi saat itu dokter fokus dulu mengatasi kusam dan jerawat aktifnya. Setelah membaik, baru lanjut ke perawatan bekasnya. 


Baca cerita konsultasi saya sebelumnya di sini 👇🏻

Pengalaman Mengatasi Jerawat dan Scars dengan ERHA Ultimate Acne Cure, 2 Minggu Sudah Terlihat Hasilnya!


Kini masalah jerawat dan kekusaman nyaris teratasi sempurna. Tinggal scarnya yang butuh perhatian. Saya ingin merealisasikan rencana untuk menjalani program Acne Finale Acne Scar Program yang memang fokus memberi solusi pada acne scar. Pilihan plan-nya tetap sesuai dengan kebutuhan saya seperti sebelumnya, yaitu Basic Plan, dengan 1 kali konsultasi, 1 jenis acne treatrment dan 1 set personalized acne products.


Nah, Kamis lalu tanggal 24 Maret 2022, saya konsultasi di ARHA Apothecary Gandaria City. Sekalian biar suami dan anak-anak bisa main di mall sembari menunggu saya treatment, hehe. Akhirnya treatment perdana saya untuk mengatasi scar dilakukan juga, yaitu dengan CRT (Collagen Rejuvenation Therapy) for minimizing pore and scar


Bagaimana pengalaman saya selama treatment?

Sakit enggak sih?

Lalu perubahan apa yang saya dapatkan setelahnya? 



Treatment CRT Pertama di ERHA Apothecary Gandaria City

ERHA Apothecary Gandaria City
ERHA Apothecary Gandaria City

Sebelumnya saya hanya membeli produk saja di sini. Tapi kali ini mendaftar untuk konsultasi. Dari sisi penerapan protokol kesehatan, Gandaria City memang sudah oke banget. Di pintu paling depan jelas harus scan Peduli Lindungi, cek suhu dan sterilkan tangan dengan hand-sanitizer yang sudah disediakan. 


Saya langsung menuju ke ERHA Apothecary di lantai LG. Pas masuk, sudah ada petugas yang siap melayani di meja depan. Lengkap dengan masker, face shiled dan sarung tangan. Saya bilang saja mau konsultasi. Karena sudah terdaftar sebagai pelanggan ERHA, jadi tidak banyak prosedur lagi yang harus dilakukan. Hanya daftar dan disuruh tunggu untuk dipanggil.


Bagian Pendaftaran
Pendaftaran sebelum konsultasi

Berhubung banyak sekali produk ERHA yang terpajang, dari pada duduk diam menunggu di sofa nyamannya, mending lihat-lihat sekeliling saja. Lengkap sekali, mulai dari produk perawatan wajah, rambut hingga bibir ada.


Variasi produk ERHA
Melihat produk ERHA sambil menunggu

Eh, tak lama berselang, nama saya dipanggil untuk masuk ke ruang konsultasi dengan Dr. Sara Vigorousty Loppies. Semua petugasnya ramah, diantar sampai ke depan pintu ruangan yang memang agak masuk ke bagian dalam apothecary.


Konsultasi yang Hangat, Jelas dan Lugas

Konsultasi dengan Dr. Sara Vigorousty Loppies
Konsultasi hangat dengan Dr. Sara Vigorousty Loppies

Sapaan lembut dari Dr. Sara yang ber-APD lengkap membuka sesi konsultasi. Menanyakan apa saja masalah kulit wajah yang saya alami. Tidak ada yang terlewat, saya sampaikan semuanya. Mulai dari konsultasi di ERHA Klinik Pondok Indah beberapa bulan lalu dan penanganan scar yang ingin saya dapatkan. Setiap cerita saya didengarkan dengan serius dan ditanggapi dengan begitu hangat. Seperti curhat dengan teman sendiri. 


Tidak hanya bermodal cerita saja, Dr. Sara memeriksa wajah saya lebih dekat dan teliti di bawah cahaya lampu khusus. Lampu tersebut diarahkan ke wajah, sambil diraba-raba dengan tangan beliau. Jadi bisa kelihatan dan terasa apa saja yang menjadi masalah.


Pemeriksaan wajah dengan lampu
Pemeriksaan wajah dengan lampu khusus

Berdasarkan pemeriksaan ini, Dr. Sara memberi penjelasan detail mengenai kondisi wajah saya dan treatment apa yang cocok. Benar seperti analisa awam saya, jerawat aktif sudah teratasi dengan baik dan kekusaman pun sudah pergi. Hanya saja kebetulan beberapa hari sebelumnya saya panas-panasan di pantai, jadi agak belang di perbatasan hijab. But, it's oke.


Jadi, masalah besarnya saat ini hanyalah si scar yang membuat wajah saya tidak enak dilihat dan dipegang. Wong nggak rata begitu. Berbeda dengan bekas jerawat kehitaman yang mungkin bisa teratasi hanya dengan mengandalkan krim pencerah, scar ini justru harus diatasi dengan treatment. Dijamin tidak akan pernah hilang walau memakai krim seumur hidup. Jalan satu-satunya ya harus treatment.


Dr. Sara merekomendasikan CRT sebagai treatment yang paling cocok. CRT ini merupakan singkatan dari Collagen Rejuvenation Therapy yang dikhususkan untuk memperkecil pori dan memperbaiki struktur kulit yang tidak rata akibat scar. Saat treatment, wajah saya akan dilukai dulu dengan jarum-jarum kecil, lalu dimasukkan serum collagen yang berfungsi untuk membuat jaringan kulit baru sehingga dapat mengisi cekungan scar. 


Waduh, seketika rasa takut saya muncul. Ditusuk jarum? Bakal berdarah dong?


Dr. Sara menenangkan. Sebelumnya wajah saya akan dibius lokal dulu dengan cara mengolesnya, baru setelah itu treatment dilakukan. Memang akan muncul luka, namun jangan dibayangkan sampai berdarah-darah. Paling hanya memerah saja. Karena jarum yang digunakan sangat halus. 


Namun CRT tidak menjamin untuk mengembalikan kulit scar menjadi rata 100%. Apalagi untuk scar yang sangat dalam. Mungkin tetap ada sisa cekungan. Tapi yang jelas, dengan CTR, akan ada pengangkatan cekungan yang terjadi. Jadi scar bisa disamarkan dan yang dangkal bisa rata. Ini pun butuh sekitar 4-5 kali treatment agar hasil maksimal dapat tercapai.


Dijelaskan juga sabun cuci muka dan krim-krim apa saja yang harus saya gunakan 3 hari setelah treatment, serta krim-krim selepas 3 hari itu. Yang jelas tidak boleh menggunakan sabun cuci muka ber-scrub dulu. Selain itu, saya lega karena tidak ada pantangan apa-apa. Saya tetap bisa beraktifitas seperti biasa, seperti jalan-jalan keluar rumah atau naik ojek sekali pun. 


Foto sebelum treatment
Foto dulu sebelum treatment

Tepat sebelum memulai treatment, wajah saya difoto dulu untuk dokumentasi ERHA. Bagian depan, kanan dan kiri. Jadi jelas hasil dari setiap perawatan yang dilakukan. 


Proses Treatment CRT

Masuk ke ruang tindakan, saya diminta untuk menandatangani surat persetujuan terlebih dahulu. Ditanya apakah saya punya alergi atau tidak, karena mungkin berpengaruh terhadap obat atau produk yang digunakan selama treatment. Kemudian diminta melepas hijab dan memakai APD berupa baju khusus dan penutup kepala. Berhubung petugas dan dokternya perempuan semua, jadi aman tanpa khawatir untuk lepas hijab.


Tahap pertama, wajah saya dibersihkan dengan sabun dan spon basah. Sudah tahu lah ya kalau setiap melakukukan perawatan, wajah harus bebas dulu dari segala kotoran dan make up.


Tahap kedua, pengolesan obat bius. Cairan kental obat bius dioleskan secara merata ke seluruh wajah, lalu ditutupi dengan plastik wrap. Saya diminta untuk menunggu selama lebih kurang 30-40 menit sampai obat bius tersebut benar-benar bekerja maksimal. Kan ngeri juga kalau sampai nanti kesakitan pas ditusuk-tusuk jarum. Yowis, harus sabar. Bobok cantik dulu saja.


Pemberian obat bius
Wajah diolesi obat bius

Karena pernah merasakan efek obat bius saat melahirkan sesar, saya tidak asing dengan sensasinya. Awalnya akan mulai terasa kesemutan dan makin lama makin kebas. Ini pertanda bahwa obat bius telah bekerja. 


Tahap ketiga, sterilisasi wajah. Karena ada proses luka, maka wajah saya disterilkan dulu agar tidak terjadi infeksi. Setelahnya, saya dilarang keras memegang wajah lagi sampai treatment selesai.


Tahap keempat, treatment CTR dimulai. Ada alat berupa stik yang disalah satu ujungnya terdapat jarum-jarum kecil yang nantinya akan bergerak secara otomatis. Dibagian yang akan ditusuki jarum, diteteskan dulu dengan serum kolagen. Jadi saat jarum merusak jaringan kulit, serum bisa masuk. 


Proses Treatment CRT
Treatment CRT ditangani langsung oleh dokter

Ada beberapa tingkatan panjang jarum yang menusuk wajah saya. Pertama, level jarumnya pendek, hanya menusuk secuil saja di permukaan kulit. Jadi tidak sakit, hanya kurang nyaman saja. Lanjut ke level dua untuk mencapai lubang scar yang agak dalam. Sensasi sakitnya mulai membuat jari-jemari saya meremas seprei. Sakit, euy. Dan ternyata itu masih separuhnya! Level ketiga lebih menyakitkan lagi. Ini dikarenakan juga banyak scar dalam yang harus dimasuki serum. Jarumnya pun lebih panjang lagi. Mau enggak mau, harus kuat. 


Tahap keempat, dikompres dengan NaCL dan pemberian antibiotik. Setelah perih-perihan, treatment ini ditutup dengan yang adem-adem. Tisu tebal yang dibasahi larutan NaCL dikompreskan ke wajah saya selama beberapa menit. Kemudian dilanjutkan dengan pengolesan antibiotik untuk mencegah infeksi.


Kompres NaCL
Kompres wajah dengan NaCL, dilanjutkan pengolesan antibiotik

Selesai, deh. Berhubung obat bius masih bekerja, jadi wajah saya tidak terlalu sakit. Cuma merahnya saja yang terlihat seram.


Oiya, sebelum meninggalkan ruang treatment, Dr. Sara berpesan bila nanti ada semacam luka yang mengering seperti bintik-bintik kecil, biarkan saja. Pasti akan hilang dengan sendirinya. Malah takutnya meninggalkan bekas bila dikelupas sendiri.



Pembayaran dan Pengambilan Krim

Krim pagi-malam
Krim pagi-malam untuk dipakai di rumah

Siap-siap menuju ke kasir. Kira-kira berapa yang harus saya bayar untuk treatment CRT, krim, konsultasi dan biaya lainnya? 


Masih di bagian yang sama dengan pendaftaran tadi, petugas memperlihatkan faktur yang panjang banget. Wajar sih, total ada 5 krim untuk pagi dan malam serta 2 sabun cuci muka untuk di bawa pulang. Totalnya adalah 2,8 jutaan. Yang paling mahal jelas untuk treatment-nya, sudah 2 juta sendiri. 


Tapi kalau dibaca-baca di Internet, memang segini sih harga normal treatment CRT. Karena fungsinya untuk mengatasi scar yang tidak bisa diatasi oleh pemakaian krim. 


Krim resep dokter
Krim diberikan sesuai resep dokter

Setelah bayar, saya diminta menunggu sebentar untuk pengambilan krimnya. Tidak lama, nama saya dipanggil dan krim diberikan. Lengkap dengan penjelasan ulang sesuai dengan catatan yang diberikan dokter. Ada dua pelembab untuk pagi dan malam, satu krim tabir surya, satu krim pencerah, satu sabun tanpa scrub dan krim khusus yang digunakan tepat setelah treatment serta satu sabun acne scrub untuk pemakaian normal.



Hasil Setelah Treatment CRT di ERHA

Tepat setelah treatment, wajah saya sangat merah dan terasa agak panas. Rasa ini masih sama sampai beberapa jam kemudian. Terkena air pas wudhu sih tak masalah. Saya pun masih nyaman jalan-jalam mengelilingi mall


Wajah merah setelah treatment
Wajah merah tepat setelah treatment CRT

Perihnya dimulai saat mencuci wajah pertama kali dengan sabun. Tapi bukan perih berlebihan, masih bisa ditahan. Dan setelah dikeringkan dengan handuk, perihnya sedikit mereda. 


Saya mengikuti perintah dokter untuk menggunakan sabun pencuci wajah tanpa scrub dan krim malam khusus selama tiga hari. Mengolesnya harus pelan sekali, karena kalau terkena gesekan jari lumayan perih.


Hari kedua, wajah masih perih dan merah. Ada sedikit bekas luka bintik-bintik kecil di bagian batang hidung. Tapi saya biarkan saja sesuai pesan Dr. Sara. Yang paling mengganggu itu, muncul rasa gatal. Walau hanya gatal ringan dan tidak selalu terasa, sering kali saya lupa dan menggaruknya. Ternyata malah membuat semakin perih. Jadi harus bisa menahan hasrat untuk menggaruk biar aman.


Hari ketiga, wajah sudah jauh membaik. Perih dan merahnya tinggal sedikit. Ini hari terakhir saya diminta untuk menggunakan sabun cuci muka dan krim khusus pasca perawatan. Besok kembali lagi seperti biasa.


Setelah satu minggu, waktunya penilaian. Berhubung sudah menggunakan krim normal kembali, wajah juga sudah nyaris pulih sepenuhnya, saya sudah bisa meneliti sejauh mana treatment ini memberi perubahan. Kalau dilihat sekilas, kulit di wajah saya terlihat kencang dan licin. Sebenarnya ini juga saya rasakan, yaitu seperti ada kesan ditarik. Wah, kayaknya serum kolagen bekerja nih.


Scarnya gimana? Karena ini baru treatment pertama, enggak mungkin kan scar-nya hilang total seketika. Tapi kalau diperhatikan, ada bagian-bagian cekungan dalam yang mulai terangkat. Seperti di dahi dan pipi. Saya bahagia dong! Tidak sia-sia menahan perih kemarin. Bagi saya, satu minggu mendapatkan hasil seperti ini, sudah merupakan keajaiban besar. Kalau tau hasilnya bagus, mending dari dulu saya coba.


Before After treatment CRT
Seminggu setelah treatment, lubang scar yang dalam tampak mulai melandai

Walau baru seminggu pasca treatment, saya sudah melihat perubahan. Dr. Sara mewanti-wanti agar jangan lupa menggunakan krim secara rutin, terutama krim malam. Karena ini akan membantu perawatan pada scar di wajah saya. Jadi nanti scarnya bisa lebih membaik. 

Oke, Dok. Siap!


***


Saya tidak pernah kecewa setiap kali melakukan perawatan di ERHA. Masalah jerawat yang ditangani oleh ahlinya akan memberikan rekomendsi treatment dan krim yang sesuai dengan kondisi wajah. Dr. Sara meminta saya untuk kembali melakukan treatment satu bulan lagi. Jeda waktu ini sudah cukup untuk memberi ruang pada kulit untuk membuat jaringan baru dari CRT sebelumnya. Setelah 4 atau 5 kali, akan dievaluasi kembali apakah perlu dilakukan CRT lagi atau tidak.


Yuk, yuk semangat nabung! Pastinya saya mau banget melakuakan treatment CRT selanjutnya sampai scar di wajah ini naik hingga batas maksimal. #HappyAcneEnding bareng ERHA.


Kalau teman-teman punya masalah scar dan tertarik mencoba treatment CRR di ERHA, bisa langsung mengunjungi ERHA Klinik atau ERHA Aphotecary terdekat. Jika mau tau info lebih lanjut terkait ERHA Ultimate Acne Cure, bisa cek Instagram dan TikToknya di @erha_ultimateacnecure atau kunjungi website-nya di ultimateacnecure.erha.co.id.


Selamat mencoba dan semoga bermanfaat.

Meningkatkan Pahala Ramadan dengan Upaya Menjaga Bumi

No comments

Selama ini, ibadah di bulan Ramadan sangat identik dengan puasa, tarawih serta memperbanyak membaca Al-quran. Semua umat muslim berlomba mengumpulkan pahala, karena memang bulan ini begitu diberkahi dengan rahmat yang berlimpah. Tentu sayang sekali untuk dilewatkan begitu saja.


Tapi, tahukah teman-teman, kalau ternyata ada amalan lain yang juga bernilai pahala dan Ramadan dapat menjadi momentum yang tepat untuk melakukannya? Yaitu menjaga bumi dan kelestarian lingkungan kita. 


Melakukan kebaikan untuk alam termasuk ibadah.


Di penghujung Ramadan ini, ngobrol bareng Ramadan Vibes Season 2 di Podcast KBR yang didukung oleh Greenpeace Indonesia, menyampaikan cara-cara yang bisa kita lakukan untuk menjaga kelestarian alam yang berkaitan dengan kebiasaan-kebiasaan selama Ramadan hingga nanti datangnya Hari Raya Idul Fitri.

\
Green Ramadan Greenpeace

Hadir tiga narasumber:

  1. Dr. Ir. H. Hayu S. Prabowo - Ketua Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam, Majelis Ulama Indonesia (MUI)
  2. Nifa Rahma - Director of Education and Advocacy Green Welfare Indonesia
  3. Eji Anugrah Romadhon - Project Leader Kampanye Ummah4Earth Greenpeace Indonesia


Pada tanggal 22 April 2022 lalu, diperingari Hari Bumi yang juga bertepatan dengan berlangsungnya bulan suci Ramadan 1443 H. Ramadan tentu dimanfaatkan untuk meningkatkan ketakwaan yang diharapkan bisa berlanjut hingga seterusnya. "Salah satu ketakwaan ini bisa diimplementasikan dalam upaya perbaikan terhadap bumi, sesuai dengan pesan-pesan dalam Islam. Lakukan amalan sederhana tapi ber-impact" ungkap Eji.


Sejalan pula dengan apa yang dinyatakan oleh Bapak Hayu, yaitu manusia merupakan wakil Allah SWT yang mendapat amanah untuk menjaga alam. Dimana Islam memberi rahmah untuk semua makhluk hidup. Menjaga bumi tidak hanya untuk kehidupan manusia di bumi, tetapi juga untuk kehidupan akhirat. "Kita harus memuliakan alam. Alam ini diciptakan untuk manusia dan manusia hidup dengan memanfaatkan seluruh yang ada di alam. Kalau kita tidak menjaga bumi, bisa-bisa bumi akan memkasa kita terus berpuasa."


Nah, hal sederhana atau langkah kecil apa yang bisa kita lakukan sebagai upaya menjaga bumi, sekaligus meningkatkan pahala di bulan Ramadan hingga nanti bisa menjadi sebuah kebiasaan?


1. Jalan Kaki Ke Masjid

Pernah mendengar tiap langkah kita ke masjid dihitung sebagai pahala? Ini memang benar adanya dan sesuai dengan anjuran Nabi Muhammad SAW. Bila jarak antara rumah dan masjid tidak terlalu jauh, alangkah baiknya bila kita lebih bijak untuk memilih berjalan kaki sembari mengurangi emisi dari kendaraan.


2. Pilih Panganan Lokal

Panganan import membutuhkan perjalanan panjang hingga sampai ke negeri ini. Proses perjalanan ini sangat terkait dengan kendaraan yang digunakan, bahan bakarnya atau hal lain yang berkontribusi terhadap perubahan iklim. Kita bisa menyiasatinya dengan mengonsumsi panganan lokal yang bahan-bahannya di tanam di lingkungan sekitar. Alam terjaga, petani lokal pun sejahtera.


3. Tetap Hindari Plastik saat Berbuka Puasa

Ketika berbuka puasa, baik di rumah sendiri atau bukber (buka bareng) di rumah salah satu kerabat dan teman dekat, sering kali kita mempraktiskan soal makanan. Inginnya beli saja. Apalagi sudah ada aplikasi ojek online yang siap mengantarkan makanan sesuai permintaan. Namun, pernahkah terpikirkan berapa banyak sampah plastik yang dihasilkan dari pembungkus-pembungkusnya? 


Lebih baik bila memasak makanan sendiri di rumah dan gunakan tempat makan yang bisa dipakai berulang kali. Atau kalau memang ingin membeli makanan di luar, tetap hindari kemasan sekali pakai. Ini jauh lebih ramah lingkungan.


4. Jangan Belanja Berlebihan

Saat puasa, semua makanan tampak menggugah selera. Banyak sekali yang dibeli, tanpa sadar meja sudah penuh dengan makanan. Padahal, minum dan makan sedikit saat berbuka saja sudah terasa mengenyangkan. Akhirnya, banyak makanan yang terbuang. Ini tentu menjadi sebuah kemubaziran yang jelas-jelas dilarang dalam Islam, serta menambah timbunan sampah. Logikanya, selama Ramadan, sampah akan berkurang karena frekuensi makan kita juga berkurang. Tapi yang terjadi malah sebaliknya, sampah menjadi lebih banyak.


Nifa berpesan bahwa intinya adalah self control. Misalnya untuk menghindari mubazir saat membeli makanan untuk buka puasa, kurang-kurangi porsi yang terlalu banyak.


5. Manfaatkan Program Sedekah Sampah dari MUI

Sejak tahun lalu, MUI telah menjalankan Gerakan Sedekah Sampah Indonesia (Gradasi) di masjid-masjid untuk menerima sampah pilahan yang masih bernilai guna. Ini bisa dijadikan salah satu cara untuk melestarikan alam sekaligus meraup pahala. Memungkinkan pula dengan menyalurkan barang-barang tak terpakai di rumah, agar lebih bermanfaat untuk orang lain.


Sejauh ini MUI juga telah menggalakkan Ecomasjid sebagai salah satu cara untuk sosialisasi sekaligus mengimplementasikan fatwa-fatwa MUI. Jadi masjid tidak hanya menyiarkan full tentang ibadah saja, namun juga yang terkait dengan sosial dan alam. Seperti #SimpanAir, #HematAir dan #JagaAir yang fokus pada konservasi air di masjid-masjid.


Eji mengajak umat muslim untuk menjadikan Ramadan ini sebagai momentum untuk berubah. Diawali dengan semangat dan kesadaran, lalu dipraktikkan mulai dari diri sendiri. Kemudian ditularkan kepada teman-teman komunitas. Tingkatkan kepedulian kepada lingkungan sekitar serta berpartisipasi aktif dalam upaya menjaga bumi.


Sebagai bagian dari rangkaian kampanye Green Ramadan, Greenpeace meluncurkan game Truth or Dare yang dapat diakses melalui website https://tord.ummah4earth.org/. Truth  tentang informasi terkait lingkungan yang ingin diketahui dan Dare untuk tantangan yang bisa dilakukan. 


"Ingat, hal kecil yang dilakukan sesering mungkin dan menular ke banyak orang, bisa menjadi 1000 lebih kebaikan untuk bumi," tutup Reski Messanto sebagai host di akhir acara.


Semoga bermanfaat.

Tips Mudik Lebaran Hanya Bersama Anak Kecil dengan Pesawat

2 comments

Ini pertama kalinya saya mencoba mudik lebaran ke Padang hanya bersama anak-anak. Berhubung suami masih ada keperluan di Jakarta dan belum bisa dipastikan sampai tanggal berapa selesainya, makanya saya memilih duluan saja. Takutnya pesan tiket mendekati lebaran berisiko mendapat harga yang terlalu tinggi atau malah kehabisan. 

Tips mudik lebaran

Apa yang terbayang pertama kali dalam benak saya? Bukan di pesawatnya, tetapi proses menuju pesawatnya. Karena ada prosedur yang harus saya lakukan dulu, yaitu angkat-angkat koper dan check-in. Belum lagi kalau dapat Terminal 3 di Soetta dan gate ujung-ujung, pasti jalannya jauh banget.

Apa kabar sama anak-anak? Sedangkan menggendong Si Bungsu sejauh itu tentu saya tak sanggup. Si Sulung juga pasti bakal kelelahan. Mau naik troli dorongan, paling yang bisa duduk cuma satu. Kalau mau pakai dua, saya dorongnya gimana? Ah, yowis lah. Lihat nanti.


Tapi Alhamdulillah, semua diperlancar. Akhirnya kami sampai di Padang dengan selamat tanpa kejadian yang bikin trauma. Anak-anak pun anteng dan menurut saja, tidak minta macam-macam.



"Kehebohan" Apa saja yang Mungkin Terjadi?

Sebelum saya memberikan tips mudik lebaran bersama anak kecil, ada baiknya ibu atau ayah mengetahui kondisi yang mungkin saja terjadi selama perjalanan. Bukan menakut-nakuti, tapi lebih kepada memberikan gambaran dan memancing kesiapan.

Beberapa waktu lalu, saya membuat polling sederhana di akun instagran pribadi tentang mudik bersama anak, hanya bersama anak dan tidak ada pendamping dewasa lain. Lebih dari 50 persen menjawab belum berani dan 46 persennya menjawab pernah. Bahkan ada pula yang berbagi pengalamannya. 

Polling mudik lebaran

Saya paham  kenapa masih banyak yang belum berani. Karena tantangannya tentu lebih berat. Kira-kira inilah kemungkinan "kehebohan" yang saya maksud saat mudik bersama anak atau hanya bersama anak tanpa orang dewasa lain.
  1. Lari-lari menuju gate karena sudah dipanggil-panggil untuk naik pesawat. Ini kejadian saya kemarin, karena membawa serta anak yang langkahnya masih kecil, sangat memengaruhi kecekatan kita bergerak.
  2. Bawa koper-koper besar dan barang bawaan banyak, plus dorong stoller anak dan dan yang bayi di gendong ala kangguru. Ternyata begitu menguras energi.
  3. Kalau saya lebih mengkhawatirkan proses menuju pesawatnya, ternyata banyak juga ibu-ibu lain yang hectic justru setelah masuk dalam pesawat. Bayi menangis terus dan kakaknya tidak bisa duduk diam. Anak-anak lapar tapi tidak suka makan menu di pesawat. Ketika peawat landing, anak masih tidur dan dibangunkan, bisa ngamuk-ngamuk sampai ke luar pesawat.
  4. Kalau nanti mau sambung lagi naik bus, pengulangan kejadian ini sangat memungkinkan. Angkat-angkat barang, gendong-gendong anak naik-turun bus dan mengontrol anak agar tetap tenang dalam bus. 

Tapi, kami semua (saya dan teman-teman sesama ibu yang sudah pernah mudik hanya bersama anak) sepakat kalau semua itu terbayar lunas ketika bisa berkumpul dengan keluarga tercinta di kampung halaman.

Beban yang dipikul sebelumnya hilang seketika setelah melihat wajah orang tua yang bahagia menyambut. Tidak heran bila banyak ibu-ibu, yang menurut saya, begitu tangguh melakukan perjalanan mudik lebaran hanya bersama anak. Apalagi kalau anaknya masih kecil dan lebih dari satu. 

Apalagi terkadang ada orang-orang baik yang tiba-tiba saja menolong saat kita terlalu kesusahan dengan barang bawaan atau anak yang rewel. Dan yang tidak boleh dilewatkan, bagi yang membawa anak, mendapat fasilitas priority chek-in ♥️



Tips Mudik Lebaran Hanya Bersama Anak yang Masih Kecil dengan Pesawat

Upaya antisipasi untuk meminimalisir "kehebohan" selama perjalanan mudik tentu harus dilakukan. Baik itu beberapa hari sebelum berangkat, hingga nanti tiba di tujuan. 

Saya sangat bersyukur bisa mudik bersama anak-anak tanpa kendala berarti. Alhamdulillah sekali bisa lebih lancar dari apa yang saya pikirkan sebelumnya. Ini tentu tidak lepas dari persiapan mendadak yang dipikirkan, karena memang beli tiketnya juga mendadak. Seketika pikiran saya langsung bekerja ekstra keras untuk menemukan bagaimana cara mengkondisikan anak-anak dan juga saya tentunya, selama perjalanan. Untungnya, sebagian besar cara tersebut memberikan hasil positif.

Oiya, sebelumnya, anak kecil yang saya bahas dalam tulisan ini adalah anak-anak yang belum bisa mendiri dan belum mampu banyak membantu. Seperti usia anak-anak saya yang masih 5 tahun dan 3 tahun.

Jadi tips yang saya berikan bisa dipraktikkan untuk anak-anak usia di bawah 6 tahun. 


Berikut beberapa tips yang bisa dilakukan ibu bila hendak mudik atau bepergian hanya bersama anak yang masih kecil dengan pesawat. 

1. Sounding Sebelumnya

Saya termasuk orang tua yang percaya dengan keajaiban sounding. Sejak tiket dibeli, saya sudah memberi tahu anak-anak rencana mudik serta bagaimana kondisi selama perjalanan. Saya meminta anak pertama saya untuk kuat berjalan selama di bandara serta menggandeng adiknya saat saya kerepotan membawa koper dan proses chek in. Ini sangat membantu pas hari H. Anak sulung saya, walau masih berusia 5 tahun, sudah bisa membantu saya menjaga adiknya dan selalu menyusul di belakang ke mana pun saya berjalan. 

2. Perhatikan Waktu Keberangkatan

Kalau memungkinkan, pilih tanggal keberangkatan yang tidak terlalu mepet dengan hari lebaran. Jadi tidak ramai dan mengantri lama di bandara. Lalu jam keberangkatan juga penting. Bila bisa memilih dan tidak masalah dengan harga, saya merekomendasikan jam aman setelah urusan pagi selesai, seperti sarapan dan mandi. Selain tidak mengurangi jam tidur anak, ibu masih punya waktu untuk menyelesaikan packing paginya. Selama di perjalanan pun, mood anak-anak akan lebih terkontrol.

Namun, terkadang kita tidak selalu bisa memilih jam keberangkatan. Seperti saya kemarin yang terpaksa memilih jam 06.30 WIB. Ada kendala dan keuntungan. Kendalanya, pergerakan anak lambat saat di bandara karena mereka mengantuk. Untung saja ada kereta dorong yang disediakan pihak bandara, makanya bisa lebih cepat berjalan. Lalu pikirkan pula jam berangkat dari rumahnya, takutmya nanti terlambat dan semakin sulit karena kita bersama anak-anak. Keuntungannya, anak-anak di pesawat langsung tidur. 

Intinya, orang tua menjadi pemegang kendali penuh saat memutuskan memilih jam keberangkatan. Perlu dipersiapkan dan dipikirkan matang-matang. Menurut saya pribadi, jam berapa pun yang dipilih, pasti ada plus-minus-nya. Tinggal sesuaikan saja mana yang paling sedikit risiko "kehebohannya".

3. Perhatikan Usia Anak

Bila anaknya masih satu, mungkin hanya perlu memikirkan dari sisi keamanan dan aturan dari maskapai saja, seperti usia minimal anak untuk naik pesawat. Namun bila anak lebih dari satu, sedangkan kita hanya sendiri tanpa pendamping dewasa lainnya, tentu jarak usia anak menjadi hal penting.

Mungkin saya tidak setangguh ibu-ibu lain yang berani membawa anak-anak dengan kondisi masih terlalu kecil atau belum ada yang bisa berjalan jauh sendiri. Soalnya saya sangat menghindari membawa stroller di setiap perjalanan karena dikhawatirkan menambah beban. Jadi, kalau mudik membawa anak lebih dari satu, maksimal hanya satu yang mampu saya gendong. Jadi kakanya harus dipastikan sudah bisa berjalan sendiri, termasuk untuk naik turun tangga dan eskalator.

4. Ringkaskan Jumlah Barang Bawaan

Kalau saya, tidak masalah kopernya besar, tapi jumlahnya tidak banyak, alias hanya satu. Dari pada banyak pritilan. Tas yang dibawa ke kabin pesawat wajib tas ransel dengan kapasitas yang mencukupi semua keperluan di perjalanan. Saya selalu memastikam kedua tangan saya bebas setelah koper masuk ke bagasi. Pokoknya, berapa pun barang bawaanya, semua harus bisa dikoordinir dengan baik walau kita sendiri pun harus memegangi anak-anak.

5. Perlengkapan Anak dan Orang Tua Selama Perjalanan

Untuk anak, bawaan wajib yang masuk ke tas ransel adalah jaket, makanan dan minum air putih, susu kalau anak sangat menyukai atau masih ketergantungan minum susu, baju ganti, diapers untuk Si Bungsu, mainan atau buku paling favorit, minyak kayu putih, paracetamol atau obat-obatan urgent lainnya. 

Untuk saya pun perlengkapannya juga harus ada, karena bagaimana pun kenyamanan saya menentukan bagaimana saya menangani anak-anak. Jaket ikatkan saja ke pinggang bila belum dipakai sebelum di pesawat. Berhubung masih puasa, jadi makanan dan minuman untuk saya tidak diperlukan. Dompet, handphone dan powerbank wajib diletakkan pada bagian depan tas agar tidak susah diambil. Sebisa mungkin pakai baju atau celana dengan banyak kantong, dijamin lebih memudahkan untuk menyelip-nyelipkan kebutuhan berukuran kecil. 

6. Jaga Mood Anak

Ternyata, menjaga mood anak di perjalanan tidak cukup hanya mengandalkan mainan atau buku favoritnya saja, serta jaket yang menghangatkan atau perut yang terisi makanan. Namun juga perlu memperhatikan perlakuan yang diterima anak dan suasana selama perjalanan. 

Ibu yang biasa marah, harus bisa lebih sabar. Kalau ada keinginan anak, mending ikuti saja dari pada tantrum. Bila terlalu ramai membuat anak tak nyaman, cari tempat yang lebih renggang dari kerumunan orang. Bila anak lelah berjalan, istirahat dulu bila memungkinkan. Pokoknya, buat anak senyaman mungkin. Ini hanya sementara, demi terjaminnya suasana yang kondusif.


Itulah cerita saya dan juga beberapa ibu lain yang telah berbagi pengalamannya melalui DM di Instagram. Dari setiap kata yang saya tulis, semakin meyakinkan saya bahwa ternyata ibu memiliki kekuatan yang begitu besar dan bisa diandalkan dalam berbagai situasi.

Saya saja bangga dengan diri saya sendiri yang berani dan berhasil mudik lebaran tahun ini hanya dengan anak-anak. Saya harap, tulisan ini bisa jadi referensi bagi ibu-ibu yang juga berencana mudik bersama anak tanpa ada pendamping dewasa lain. 

Selamat mudik dan semoga bermanfaat.