Featured Slider

Pengalaman Pakai ANESSA Mineral UV Sunscreen Mild Gel, Ramah Banget di Kulit Berjerawat!

No comments

Teman-teman yang gampang jerawatan, pernah enggak sih takut pakai sunscreen karena khawatir bakal memperparah kondisi kulit wajah? Kalau pernah, berarti kita sama. Saya tahu betul memakai sunscreen itu penting demi menjaga kulit dari paparan sinar UV, polusi, atau radikal bebas yang berbahaya di luar sana. Tapi, susah mencari sunscreen kulit sensitif yang ramah di wajah berjerawat. Dan nggak jarang bikin trauma. 


Pengalaman Pakai ANESSA Mineral UV Sunscreen Mild Gel, Ramah Banget di Kulit Berjerawat!

Soalnya kalau enggak cocok, susah dan lama mengembalikan kulit wajah saya ke kondisi normal. Bayangkan, normalnya saja masih berjerawat dan muncul agak banyak ketika datang bulan. Saat tidak cocok dengan satu produk, wah, jerawatnya bisa berkali lipat lebih banyak, merah, gatal, perih, cuci muka saja sambil meringis. Separah itu. Wajar kan kalau saya trauma coba-coba?


Baca juga: Make Up Daily Simple Cocok untuk Ibu-Ibu Anti Ribet


Makanya, sudah lama saya tidak pakai sunscreen. Saya kira dengan aktivitas yang kebanyakan di rumah, tak akan jadi masalah. Paling hanya motoran ke pasar dan antar-jemput anak sekolah. Saya baru tertampar saat flek hitam mulai muncul di sekitar tulang pipi. Kata adik saya yang kebetulan seorang dokter, itu karena saya tidak pernah pakai tabir surya. Ditambah faktor usia, bisa-bisa akan makin banyak fleknya kalau masih keras kepala tidak pakai sunscreen.


Sampai akhirnya, saya memutuskan untuk memakai ANESSA Mineral UV Sunscreen Mild Gel. Setelah beberapa tahun lalu pernah memakai sunscreen varian lain dari ANESSA juga dan lumayan cocok. Karena harganya agak berat di kantong saya, jadi tidak lanjut beli lagi. Jangan ditiru, ya. Sekarang, karena sudah tahu jenis kulit wajah saya yang cenderung kering walau ada minyaknya, saya putuskan memilih yang Mild Gel saja. Eh, ternyata memang jauh lebih cocok! Kali ini sunscreen ANESSA akan saya anggap sebagai investasi untuk kesehatan kulit wajah alih-alih fokus pada harga. Toh mencari sunscreen yang cocok susah kan? 


Ini Kondisi Wajah Saya di Usia 36 Tahun

Ini Kondisi Wajah Saya di Usia 36 Tahun

Sebelumnya, saya mau menjelaskan hal yang tidak kalah penting saat membahas produk skincare, yaitu kondisi terkini kulit wajah saya. Kalau teman-teman mengira di usia yang tidak muda lagi ini tak akan berjerawat, itu salah besar. Justru jerawat masih betah. Meski saya memakai serum khusus kulit berjerawat di malam harinya, tetap saja jerawat muncul. Memang tidak sebanyak saat remaja dulu, tapi intinya kulit saya masih berjerawat aktif.


Selain itu, kulit saya juga kering, tapi berminyak juga. Kombinasi sepertinya. Sensitif luar biasa, sampai saya pusing mencari skincare yang aman dan cocok. Bahkan sudah ke klinik kecantikan, sudah ditangani dokter, produknya pun ditentukan dokter, ada juga yang enggak cocok. Kalau ada yang pernah bertemu langsung dengan saya, pasti langsung melihat banyak bekas jerawat dan bopeng di mana-mana. 


Nah, yang paling baru, flek hitam mulai muncul. 

Kesalahan saya juga karena tidak memakai sunscreen. Walau keluar motoran hanya sebentar, tapi kan tetap juga ketemu matahari, ketemu polusi. Dari yang saya baca, memang banyak masalah yang akan muncul kemudian ketika kita meremehkan fungsi sunscreen. Apalagi bagi teman-teman yang kerjanya setiap hari di outdoor


Ditambah juga faktor usia yang membuat kondisi kulit tak seprima saat muda dulu. Setelah ini akan dibahas juga tentang pentingnya pakai sunscreen secara lebih detail, biar kita semua teringat dan tersadar lagi. Yang jelas, begitulah kondisi kulit wajah saya. Bila ada yang punya masalah sama, semoga cocok juga dengan ANESSA Mineral UV Sunscreen Mild Gel ini, ya.


Pentingnya Sunscreen untuk Usia 30+ dan Berjerawat

Pentingnya Sunscreen untuk Usia 30+ dan Berjerawat

Di usia 30+, sunscreen bukan lagi pilihan. Ini pondisi utama anti-aging. Mau pakai serum atau skincare mahal sekalipun, kalau keluar rumah tidak pakai sunscreen, hasilnya tidak akan maksimal. Bahkan dokter kulit di mana saya pernah berkonsultasi, tetap menyuruh memakai sunscreen meskipun hanya di dalam rumah.


1. Produksi Kolagen Mulai Menurun

Sebenarnya, sejak dari usia 25 tahun, produksi kolagen alami tubuh sudah mulai menurun sekitar 1% setiap tahunnya. Kalau usia saya 36 tahun, sudah kebayang kan berapa persen turunnya? Melansir dari Alodokter, sinar UV dapat memecah kolagen dan merusak serat elastin di lapisan dermis, yaitu lapisan kulit terdalam yang berfungsi sebagai penopang utama kulit. Dampaknya, kulit tampak kendur dan keriput sebelum waktunya.


2. Risiko Hiperpegmentasi Meningkat

Inilah yang saya alami, flek hitam. Ternyata, semakin bertambah usia, kulit kita kehilangan kemampuan untuk beregenerasi dengan optimal. Sehingga melanin lebih mudah menumpuk dan memunculkan flek hitam. Ini dapat diperparah oleh paparan sinar matahari tanpa perlindungan. Makanya jadi tanda penuaan dini yang harus diwaspadai. Begitu pula dengan bekas jerawat yang menghitam. Paparan sinar UV akan membuatnya bertahan lama dan susah hilang.


3. Bisa Bikin Jerawat Makin Meradang

Tahu enggak, sinar UV itu bisa menjadi penyebab iritasi, lo. Makanya, dengan melindungi wajah dengan sunscreen, jerawat seperti dipayungi agar tidak semakin parah. Dengan adanya sunscreen yang cocok untuk kulit sensitif dan kandungannya tak memicu alergi, malah dapat membantu jerawat mereda.


Bagi kita yang tinggal di daerah tropis, disarankan memakai sunscreen dengan SPF di atas 30. Manfaat pemakaian sunscreen bukan jangka pendek, tapi jangka panjang ke depan untuk mencegah penuaan dini. Bukan soal tampil cantik, tapi demi kulit yang sehat. Selama memilih produk sunscreen yang tepat, harusnya tak ada masalah dan tak akan menambah masalah di kulit.


Cocok! Ini Pengalaman Saya Pakai ANESSA Mineral UV Sunscreen Mild Gel untuk Keseharian

Cocok! Ini Pengalaman Saya Pakai ANESSA Mineral UV Sunscreen Mild Gel untuk Keseharian

Bahkan lebih cocok dari varian sunscreen ANESSA yang saya pakai sebelumnya. Bukan berarti nggak bagus, tapi inilah yang paling sesuai dengan kondisi kulit wajah saya. Soalnya ANESSA memang mengeluarkan beberapa pilihan produk yang formulasinya dikhususkan untuk berbagai jenis kulit. Alhamdulillah ya akhirnya ketemu yang "klik".


Mari kita bahas dulu kandungan dan keunggulannya. Alasan pertama yang membuat saya merekomendasikan sunscreen ini untuk teman-teman dengan masalah kulit yang sama, yaitu berjerawat. 



Kandungan dan keunggulan ANESSA Mineral UV Sunscreen Mild Gel

  • Dengan SPF 35 PA+++ yang dimiliki ANESSA Mineral UV Sunscreen Mild Gel, sangat cukup untuk melindungi kulit di daerah tropis. Mampu juga melindungi kulit dari partikel mikro di udara atau debu-debu kecil yang beterbangan. Ini penting ya, guys.
  • Dapat memberikan kelembapan yang dibutuhkan oleh kulit kering dan mencerahkan. Dengan kandungan-kandungan alami berikut.

    - Sakura extract: membantu mencerahkan kulit.

    - Ashitaba extract: meningkatkan kelembapan kulit secara alami.

    - Peony root extract: menjaga tekstur kulit tetap lembut, anti inflamasi, dan anti bakteri.    

    - Super hyaluronic acid: menjaga kelembapan kulit lebih lama.

  • Tekstur gelnya ringan dan mudah diratakan karena Smooth Protect Technology yang dimilikinya. Smooth Protect Technology ini memberi perlindungan kuat tanpa menggunakan formula yang berat atau kental. Makanya terasa lembut dan nyaman saat diaplikasikan ke kulit sensitif. Selain itu, Smooth Protect Technology juga menyebarkan agen perlindungan UV hingga tingkat nano dan mampu memantulkan sinar UV tanpa efek menggumpal.
  • ANESSA Mineral UV Sunscreen Mild Gel merupakan non chemical sunscreen, yaitu sunscreen yang berbahan dasar mineral yang ramah di kulit normal hingga sensitif. Mengandung mineral zinc oxide dan titanium dioxide yang lembut, bebas pewangi dan pewarna tambahan sehingga berklaim hypoallergenic. Makanya, ANESSA Mineral UV Sunscreen Mild Gel bisa digunakan mulai dari bayi di atas 6 bulan, anak-anak, hingga dewasa.


Bagus banget kan kandungannya? Makanya pas saya pakai, tidak ada aroma berlebihan yang menusuk atau warna-warna mentereng yang bikin was-was. Pro banget ke kulit seperti saya yang cepat sekali terdampak dengan bahan tambahan berlebihan. 


Oiya, ANESSA Mineral UV Sunscreen Mild Gel juga sudah mengantongi sertifikasi BPOM. Jadi terjamin aman dan tidak mengandung zat berbahaya. Soalnya sekarang kita mesti hati-hati pilih produk. 


Sudah panjang lebar membahas kandungan dan keunggulan, sekarang saatnya pembuktian. Pasti teman-teman tidak akan percaya begitu saja kalau belum ada buktinya kan? Setelah rutin memakai beberapa hari, berikut pengalaman saya menggunakan ANESSA Mineral UV Sunscreen Mild Gel. Agar lebih jelas dan detail, lebih enak juga dibaca, saya akan menuliskannya dalam beberapa poin. Semoga bisa menjadi referensi teman-teman yang sedang mencari sunscreen harian.


🌸 Ringan Banget!

Tekstur ANESSA Mineral UV Sunscreen Mild Gel

Pernah enggak, pas pakai sunscreen tapi rasanya kayak pakai topeng? Ini yang paling saya hindari saat memilih skincare apa pun. Karena tandanya produk itu terlalu berat dan menyumbat pori-pori. Ujungnya bakal muncul jerawat baru. Nah, ANESSA Mineral UV Sunscreen Mild Gel sama sekali tidak membuat wajah terasa tertutupi atau terlapisi. 


Ketika awal menggunakan, saya agak deg-degan karena teksturnya tidak secair sunscreen ANESSA yang pernah saya pakai sebelumnya. Tapi, pas diaplikasikan ke kulit, tetap terasa sangat ringan, halus, dan mudah meresap. Saya sampai mikir, apa saya terlalu sedikit mengoleskannya ya? Lalu saya tambah lagi, dan ternyata memang ringan dan mudah meresap. Akhirnya lega karena biasanya saya cocok dengan skincare yang ringan-ringan seperti ini. Suka!


🌸 Tidak Bikin Jerawat Makin Parah

Kebetulan di pemakaian pertama, sedang ada jerawat di wajah saya karena sedang datang bulan. Beberapa hari memakai sunscreen ini, jerawat tidak makin meradang dan tidak pula muncul jerawat baru. Fix, ini banget yang saya butuhkan. Karena kalau saya memakai produk yang tidak cocok, pasti jerawat yang sudah ada akan semakin parah dan muncul juga jerawat baru setelah pemakaian pertama. Seringnya begitu. Ini alasan selanjutnya yang membuat saya jatuh cinta dengan ANESSA Mineral UV Sunscreen Mild Gel. Pasti karena bahannya yang memang diformulasikan khusus untuk kulit sensitif dan berklaim hypoallergenic.


🌸 Tidak Membuat Kulit Berminyak atau Kering

Bingung ya, wajah saya ini kering, tapi berminyak juga. Ajaibnya, walau sudah berjam-jam menggunakan ANESSA Mineral UV Sunscreen Mild Gel, produksi minyak di wajah saya masih normal. Tidak yang berlebihan sampai membuat mengkilat. Pernah sekali saya kebanyakan mengoleskan, sampai agak lama meratakannya, tetap saja tak membuat wajah berminyak berlebihan. Tahu sendiri kan kalau minyak ini musuh jerawat? Makanya, jerawat saya tidak semakin parah dan segera kempes/kering.


🌸 Menghilangkan Kusam dan Tidak Ada White Cast Sama Sekali

Menghilangkan Kusam dan Tidak Ada Whitecast Sama Sekali
Foto di tempat dan pencahayaan yang sama, tanpa filter dan editing

Kalau diperhatikan, wajah saya agak cerah setelah memakai ANESSA Mineral UV Sunscreen Mild Gel. Bukan cerah yang putih aneh atau white cast, tapi lebih kepada mengurangi kusam. Sepertinya kandungan sakura extract yang dapat membantu mencerahkan kulit itu bekerja dengan baik.


Kalau soal white cast, dampak paling mengganggu saat menggunakan sunscreen, tak saya lihat setelah pakai sunscreen ini. Ketika belum terlalu meresap, memang ada kesan seperti white cast. Tapi, setelah diratakan terus sampai meresap sempurna, warna kulit wajah tetap rata tanpa gumpalan "putih-putih" yang merusak penampilan. Tidak bikin wajah mengkilat juga. 


🌸 Mudah Dibersihkan

Sebenarnya ANESSA Mineral UV Sunscreen Mild Gel ini anti air. Namun, ketika dibersihkan, tidak susah. Saya tidak punya micellar water di rumah karena memang tidak pernah memakai fondation atau make up. Jadi membersihkan wajah hanya dengan sabun cuci muka. Ternyata, sunscreen ini bisa bersih hanya pakai sabun biasa. Walau memang perlu sabun yang agak banyak, karena kalau sedikit, jadi tidak berbusa. Pengalaman saya begitu. Cukup memudahkan bagi emak-emak yang waktunya terbatas untuk merawat diri seperti saya.


ANESSA Mineral UV Sunscreen Mild Gel juga aman dipakai anak saya
ANESSA Mineral UV Sunscreen Mild Gel juga aman dipakai anak saya

Bonusnya, karena ANESSA Mineral UV Sunscreen Mild Gel aman untuk anak-anak, bahkan bagi bayi di atas usia 6 bulan, saya juga bisa memakaikannya ke anak saya. Kebetulan, kemarin ini kami liburan ke pantai dan dia main ombak di siang bolong. Panasnya luar biasa. Efeknya, beberapa hari setelahnya, saya menyadari ada bercak putih di wajahnya. Padahal selama kulitnya baik-baik saja. Makanya, biar aman, kalau mau panas-panasan, apalagi ke pantai seperti kemarin, saya wajib mengoleskan sunscreen dulu.


Jadi, satu produk bisa dipakai sekeluarga deh. Kalau bisa bawa satu sunscreen saja, kenapa harus bawa lebih? Iya kan?


Pantas saja ANESSA menjadi sunscreen nomor 1 di Asia dan di Jepang selama 22 tahun berturut-turut. Memang berkualitas dan senyaman itu dipakai sehari-hari. Apalagi kandungannya aman untuk kulit sensitif, termasuk yang berjerawat. Kalau teman-teman sedang mencari sunscreen yang ringan, aman, dan nyaman untuk kulit kering/kombinasi dan berjerawat, saya sangat merekomendasikan ANESSA Mineral UV Sunscreen Mild Gel ini. Semoga juga cocok, ya.


Cara Pakai dan Pembelian ANESSA Mineral UV Sunscreen Mild Gel

Cara Pemakaian dan Pembelian ANESSA Mineral UV Sunscreen Mild Gel

Meski terlihat cuma oles-oles, sunscreen juga ada cara pakainya lo. Jangan sampai salah supaya perlindungan yang kita inginkan dapat dirasakan maksimal. Berikut cara pakai sunscreen yang benar.


  1. Pastikan memilih sunscreen dengan minimal SPF 30 yang bisa menghalangi 97% paparan sinar UV. Seperti  ANESSA Mineral UV Sunscreen Mild Gel dengan SPF 35 ini. Kalau memilih tingkat SPF yang lebih rendah, SPF 15 misalnya, hanya bisa melindungi kulit dari sunburn, bukan penuaan diri atau kanker kulit. Pastikan juga sudah memilih jenis sunscreen yang sesuai dengan kondisi kulit kita. 
  2. Kocok dulu sunscreen sebelum digunakan. Ini dimaksudkan agar semua bahan tercampur dengan baik. Mana tahu ada yang mengendap atau menggumpal. 
  3. Ingat, sunscreen diaplikasikan paling akhir dalam rutinitas perawatan kulit. Agar menjadi tameng pertama untuk melindungi kulit. Tapi kalau make-up, seperti bedak, digunakan setelah sunscreen dengan syarat memberikan jeda beberapa menit dulu.
  4. Untuk pemakaian di wajah dan leher, gunakan sebanyak dua ruas jari. Jangan kebanyakan atau terlalu sedikit. Pastikan meratakannya dengan tangan sampai meresap sempurna. 
  5. Gunakan suncreen setidaknya 15-30 menit sebelum beraktivitas di luar ruangan.
  6. Meski cuaca mendung atau hujan, hanya di rumah saja, sunscreen juga harus tetap dipakai sebelum beraktivitas di pagi/ siang hari.
  7. Re-apply setiap 2 jam sekali, terutama saat berpanas-panasan di luar.  Ini sudah saran dari dermatologis, supaya kulit kita selalu terlindungi dengan prima. 
  8. Hindari penggunaan layer skincare yang terlalu banyak dan wajib memberi jeda dengan pemakaian skincare selanjutnya untuk menghindari sunscreen pilling. Pastikan juga tidak menggunakan skincare di atas sunscreen yang dapat mengurangi lapisan proteksi UV.


Cukup banyak ya aturan pakainya? Walau terkesan ribet, praktiknya tidak seribet itu kok. Jangan sampai kita sudah capek-capek pakai sunscreen, tapi perlindungannya tidak seperti yang diharapkan. Mending lakukan sesuai aturan pakainya biar tenang dan aman.


Baca juga: Fashion bagi Si Tubuh Gemuk agar Terlihat Langsing


Selanjutnya, di mana sih kita bisa membeli ANESSA Mineral UV Sunscreen Mild Gel? Mudah, online bisa, offline bisa. Kalau kebetulan lagi jalan-jalan atau nge-mall, atau ada tokonya di dekat rumah, bisa langsung menuju Guardian, Watsons, Sociolla, dan Sephora. Tapi, kalau ingin yang praktis-praktis saja kayak saya, produk ANESSA bisa dibeli secara online di Shopee, Tokopedia, atau Blibli. Pastikan membeli di official store supaya kualitas dan keaslian produk terjamin. Kalau saya belinya di Anessa Official Store. Klik aja ya, sudah langsung saya arahkan ke produknya biar gampang.


Pembelian ANESSA di Shopee Anessa Official Store
Pembelian ANESSA di Shopee Anessa Official Store

Ada satu lagi yang menarik. Saat produk sampai, ternyata ada barcode untuk mendapatkan voucher berlangganan VIU selama 3 bulan. Lumayan banget kan? Yang hobi nonton, yang suka drakoran, wajib klaim! Tinggal scan barcode-nya, nanti akan diarahkan ke WhatsApp CS ANESSA untuk klaim voucher dengan mengirimkan struk pembelian. Jangan kelamaan, karena hanya berlaku bila mengajukan klaim maksimal satu minggu dari tanggal pembelian. 


Klaim voucher langganan VIU 3 bulan

Sejauh ini, ANESSA Mineral UV Sunscreen Mild Gel menjadi sunscreen dengan SPF 35 yang paling cocok di wajah saja. Semoga pengalaman saya ini bisa membantu teman-teman dengan kondisi kulit yang sama dalam mencari suncreeen.


Ingat, jangan sepelekan sunscreen karena ini adalah salah satu investasi terbaik dan penting untuk kesehatan kulit kita.

Mempertanyakan HAK PENDIDIKAN yang Diamanatkan Undang-Undang Dasar 1945

No comments

Kenapa, kenapa, kenapa. Kata itu yang terus berputar di kepala saya ketika melihat berita tentang seorang anak di NTT yang mengakhiri hidup karena tidak mampu membeli buku dan pena. Andai bisa, ingin sekali memutarbalikkan waktu dan berteleportasi untuk mengajaknya membeli keperluan sekolah. Bukan karena saya merasa banyak uang atau sok kaya, tapi lebih kepada naluri seorang ibu. Yang mana ketika duka menyelimuti satu anak, seperti duka yang dialami anak sendiri. Jujur, saya tak kuat membendung air mata.


Mempertanyakan HAK PENDIDIKAN yang Diamanatkan Undang-Undang Dasar 1945

Tapi, di waktu bersamaan, saya pun mempertanyakan, kenapa anak yang seharusnya memiliki hak atas pendidikan, mengalami hal menyedihkan yang malah disebabkan oleh pendidikan? Ketika program pemerintah terus menggalakkan pendidikan yang aman dan nyaman, nyatanya menjadi pemicu kenekatan. Kehilangan nyawa, yang tak bisa dikembalikan dengan apa pun. Siapa yang bertanggung jawab? 


Baca juga: Orang Tua WAJIB Terlibat Aktif dan Tepat dalam Pendidikan Anak Usia Dini


Di dalam Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 31 Ayat (1), dasar hukum tertinggi di negara ini, jelas menyebutkan bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan. Diperjelas juga di website resmi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, pasal ini mengamanatkan bahwa semua warga negara, termasuk anak-anak yang memiliki keterbatasan atau yang berada dalam kondisi kurang beruntung, berhak mendapatkan pendidikan, terutama pendidikan Sekolah Dasar.


Lalu, apa yang terjadi? Pendidikan itu tidak kunjung rata menyentuh seluruh anak di negeri ini. Bukan kali pertama persoalan pendidikan di Indonesia bagian timur mencuat, tapi sudah sejak lama. Kemiskinan ekstrem yang menjadi permasalahan yang kerap dikaitkan, tentu tak bisa dijadikan alasan. Sudah jelas-jelas hak pendidikan itu bersifat menyeluruh, tanpa terkecuali. Betul, kan? 


Kembalikan Pendidikan sebagai Prioritas Utama

Kembalikan Pendidikan sebagai Prioritas Utama

Mengacu pada Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pendidikan diartikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.


Saya menggarisbwahi pada bagian suasana belajar dan proses belajar. Ini yang saya ketahui dan alami selama menempuh pendidikan dari TK sampai S1, pendidikan pasti tak lepas dari proses belajar-mengajar. Tidak ada satupun instansi pendidikan yang tidak melaksanakannya. Justru ini yang menjadi inti. Sehingga pendidikan tanpa fasilitas yang memadai, tak akan mencapai tujuannya. 


Apakah Indonesia tidak mampu memenuhi keterbutuhan fasilitas pendidikan itu? Rata mulai dari Sabang sampai Merauke, yang tidak terpusat di pulau-pulau tertentu saja.

Di mata saya, secara anggaran, Indonesia mampu. 


Menyaksikan anggaran fantastis digelontorkan untuk berbagai kebijakan yang membuat rakyat bertanya-tanya, mulai dari megaproyek Koperasi Merak Putih, gentengisasi demi estetika, 17 Triliun untuk keanggotaan Board of Piece yang katanya bertujuan untuk perdamaian Palestina tapi tidak ada Palestina di antara anggotanya (malah Israel), hingga program Makan Bergizi Gratis (MBG), rasanya sudah cukup menggambarkan betapa kayanya Indonesia. 


Tahun ini, anggaran MBG meroket menjadi 335 Triliun! Anggaran pendidikan 2026 yang digadang-gadang terbesar sepanjang sejarah, terkesan menjadi kamuflase saja. Toh sekitar Rp223 Triliun dialihkan ke MBG. Itupun tak semuanya fokus pada pemenuhan gizi, contohnya untuk seragam SPPG-SPPI sudah menghabiskan Rp423 Milyar sendiri (sumber: Suara Merdeka). 


Bayangkan bila dana sebanyak itu digunakan untuk membangun sekolah, penyediaan buku, dan fasilitas belajar-mengajar lainnya. Katakanlah 5 Milyar untuk membangun 1 sekolah. Dari anggaran seragam SPPG-SPPI saja, 84 sekolah baru sudah berdiri megah di tanah Papua atau NTT. Andai pemerintah tak menutup mata, sudah banyak kok media yang juga membahas alokasi ini dengan berbagai sudut pandang profesional. 


Pertama, ini soal PRIORITAS.  

Sejak awal sudah bikin heran, ketika pendidikan tak lagi masuk sebagai prioritas utama, malah turun menjadi prioritas pendukung. Seolah apa yang dikatakan Tan Malaka benar, "Mereka ingin kita patuh, bukan cerdas. Karena yang cerdas sulit diatur". Amit-amit semoga hanya sekedar cocokologi belaka, ya.


Soal Koperasi Merah Putih, gentengisasi, Board of Piece, biarlah mereka yang lebih berkompeten membahasnya. Walau dalam hati saya berharap pemerintah dapat memikirkannya dengan lebih matang. Kali ini saya akan menyoroti MBG karena lebih lekat dengan kehidupan saya sebagai ibu yang anak-anaknya juga bersekolah. Saya bukannya tidak setuju dengan adanya MBG. Masih banyak kebaikan di dalamnya, terutama bagi anak-anak yang memang memiliki keterbatasan soal akses makanan sehat. Tapi, yang saya sayangkan adalah kenapa memaksa melaksanakan MBG ketika fasilitas dasar pendidikan belum terpenuhi secara merata?  


Analogi sederhanya begini. Saya memberikan tas mahal, bekal steik, hingga sepatu bermerek kepada anak saya, tapi sekolah yang akan ia tuju tidak memiliki fasilitas layak. Mejanya rusak, gurunya sering tidak datang karena akses yang sulit, saat hujan atapnya bocor, hingga ketiadaan buku-buku pelajaran. Apakah anak saya bisa pintar hanya dengan kemewahan yang saya beri? Tentu tidak. Sama seperti MBG, di sekolah diberi makan bergizi, tapi untuk belajar malah kesulitan. Pendidikan sesuai amanat UUD 45 itu jelas tidak terlaksana. 


Kedua, MBG tampak seperti program terburu-buru, hanya sebagai pemenuhan janji kampanye. 

Bukan rahasia lagi bahwa banyak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang berkoalisi dengan partai politik atau milik pejabat. Melansir dari IDN Times, Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Nanik S. Deyang, malah secara blak-blakan mengakui kalau semua partai politik memiliki SPPG atau dapur yang mengelola MBG. Bahkan Polri dan TNI pun turut mengelola dapur MBG.


Selain itu, MBG nyatanya tak selalu diterima antusias oleh semua pelajar. Penyajiannya pun tak sedikit yang melenceng dari apa yang dikatakan makanan begizi, baik dari pemilihan jenis makanan maupun kualitasnya. Keracunan akibat MBG yang masih terjadi sampai sekarang, tak bisa melulu dinilai hanya dalam persenan angka. Ingat, setiap pelajar, setiap siswa adalah anak dari seorang ibu. Disuruh bersyukur saat mendapat makanan berbelatung, menganggap kasus keracunan wajar karena persentasenya kecil, sungguh tidak manusiawi. Saya tidak bisa menyembunyikan kemarahan saya atas pernyataan-pernyataan itu. Tidak bisa disalahkan bila ada sekolah yang akhirnya memilih menolak MBG atau orang tua yang mengkritik.


Melihat lebih panjang lagi, apakah pengelolaan sampah sisa MBG sudah masuk dalam perencanaan dan pelaksanaan program? Atau tidak pernahkah ditelaah bahwa jutaan lapangan kerja yang dibanggakan berhasil diciptakan dari MBG itu, malah mengorbankan hal yang lebih besar?


MBG memang memiliki nilai positif demi tumbuh kembang anak bila diaplikasikan dengan benar. Namun, melihat kondisi saat ini, alangkah baiknya bila MBG dievaluasi secara menyeluruh agar tak mubazir anggaran dan tepat sasar. Lalu kembalikan dana yang seharusnya memang diprioritaskan untuk kebutuhan fasilitas sekolah dan belajar mengajar yang jauh lebih urgent.


Saran untuk Pemerintah

Saran untuk Pemerintah

Saya memang bukan ahli gizi, keuangan, atau politik. Tapi, saya mengikuti kabar seputar dunia pendidikan karena tergabung dalam komunitas yang fokus di bidang ini serta memang memiliki ketertarikan di sini. Entah sampai di mana tulisan ini akan bergulir, setidaknya biarkan saya sebagai ibu menyampaikan beberapa saran kepada pemerintah demi pemenuhan hak pendidikan yang lebih merata ke depannya. 


1. Jadikan Pendidikan sebagai Prioritas Utama Kembali

Kemajuan bangsa sangat ditentukan oleh SDM-nya. Sia-sia menyorakkan dan memamerkan negara kita bergelimang potensi sumber daya alam, kalau tidak ada pengelolaan yang cerdas dari masyarakatnya. Bila pendidikan yang menjadi upaya terbaik untuk meningkatkan kualitas SDM tidak menjadi prioritas utama, apa tidak berbahaya? Bagi saya yang memiliki 2 anak, masa depan mereka adalah tujuan hidup saya saat ini. Ketika saya berusaha matian-matian menyekolahkan mereka demi pendidikan berkualitas, tapi ternyata negara tidak melakukan yang terbaik untuk menyokong pendidikan, pasti akan berpengaruh pada kualitas SDM ke depannya. Suatu negara tanpa SDM berkualitas, perlu dipertanyakan apa yang akan terjadi di masa mendatang. Harapan kemajuan seakan hilang. 


Maaf, Bapak/Ibu, saking khawatirnya saya, saya sudah membicarakan dan mempersilakan anak-anak untuk ke luar negeri saat dewasa nanti. Salahkah saya bila pesimis pada negara ini? Jangan salahkan kalau ada rakyat yang menganggap bahwa negara memang ingin warganya pintar agar bisa dikendalikan. Sedangkan sudah menjadi prioritas utama saja, masih banyak yang harus dikejar. Apalagi posisinya turun sebagai prioritas pendukung?


2. Penuhi Kebutuhan Fasilitas Pendidikan Dulu

Sebanyak itu anggaran negara, sebanyak itu anggaran untuk MBG, kenapa tidak didahulukan untuk fasilitas pendidikan? Setahun ini saya memikirkan, mencari referensi, tak kunjung menemukan logika tentang urutan prioritasnya. Bukankah sebaiknya ada dulu fasilitas pendidikan yang layak dan merata, baru menjalankan program MBG? Itu yang baru masuk di logika saya. Sekolah gratis 100% pun masih menjadi PR. Adakah sekolah gratis itu? Iuran ini dan itu, beli ini beli itu, nyatanya masih membenani banyak orang tua yang anaknya sekolah di instansi pendidikan yang justru sudah diklaim gratis.


Makanan bergizi tapi sekolah ala kadarnya atau orang tua masih kesulitan memenuhi biaya pendidikan anaknya, bahkan membeli buku dan pena saja kesulitan, apa pendidikan akan berjalan baik, bisa sukses? Bangun dulu sekolahnya, lengkapi fasilitas belajarnya, baru sediakan MBG. Karena anak ke sekolah bukan buat makan, tapi untuk belajar. 


3. Bila MBG Harus Tetap Berjalan, Tolong Evaluasi dan Perbaiki

Oke, bila memang MBG tidak bisa dihentikan karena satu dan lain hal yang saya tidak tahu urusan urgensi apa yang mengharuskan ini tetap berjalan, ketika fasilitas pendidikan masih butuh perhatian ekstra, bijaknya lakukan evaluasi menyeluruh dan terjun dulu ke lapangan melihat apa kebutuhannya. Bukan hanya melihat keberhasilannya saja, kegagalan tetap harus diperbaiki. Memberi MBG ke semua pelajar, boros anggaran karena tak semua butuh. Makanya penting menyasar pelajar yang tepat, seperti di daerah 3T atau sekolah yang mayoritas peserta didiknya berasal dari keluarga kurang mampu.


Selanjutnya, jalankan apa yang banyak disarankan, termasuk oleh Mendikdasmen, yaitu dapur MBG berada di sekolah dan sekolah mengelola MBG secara mandiri. Pasti akan butuh waktu, pembinaan, pendampingan, dan pengawasan ketat, namun ini jauh lebih efektif dan dapat menekan anggaran. Makanan pun dapat disajikan dalam kondisi baik karena tidak proses pengiriman. Petugas atau penjual kantin dan warga sekitar bisa diajak bekerja sama, sehingga tak ada ibu kantin yang mengalami penuruan pemasukan drastis. Terakhir yang saya tahu, BGN bilang, "Kalau sekolah mampu, silakan." Padahal kalau diinstruksikan dan diberi dana, pasti akan mampu. Kalau "yang di atas" sudah ketok palu, ada yang berani bilang tidak?


Baca juga: Cara Menghadapi Perundungan Di Sekolah, Anak dan Orang Tua Wajib Tahu!


Saya berharap betul kejadian anak di NTT yang mengakhiri perjalanannya karena buku dan pena tak lagi terjadi. Cukup, sudah cukup. Jangan lagi pula terjadi fenomena: baru dievaluasi sana-sini setelah ada yang kehilangan nyawa dan viral. Karena tak ada yang lebih berharga bagi orang tua selain kehadiran anaknya. Coba bayangkan bila itu terjadi di anak kita. Kalau saya, mungkin sudah gila. 


Sekali lagi, ini hanyalah keresahan seorang ibu yang berharap ada secercah harapan bagi anak-anak di masa depan. Yang bisa saya lakukan adalah menjalankan peran sebagai orang tua sebaik mungkin. Dan inilah salah satu peran itu, menyuarakan apa yang bisa disuarakan. 


Referensi:

https://ditsd.kemendikdasmen.go.id/artikel/detail/penuhi-hak-pendidikan-anak-melalui-pendidikan-inklusif

Intagram @suaramerdekacom, URL konten: https://www.instagram.com/p/DTnGPtcEhZd/

https://www.idntimes.com/news/indonesia/akui-semua-parpol-punya-dapur-mbg-bgn-asal-dikelola-dengan-benar

https://nasional.kompas.com/read/2025/10/23/17363991/soal-usulan-school-kitchen-waka-bgn-boleh-saja-kalau-sekolahnya-mampu

Membawa Pulang Keyakinan akan Masa Depan Bloger

4 comments

Memangnya masih ada tulisan bloger yang dibayar? Bahkan keraguan itu tidak hanya datang dari mereka yang bukan bloger, melainkan juga dari bloger itu sendiri. Banyak yang merasa job untuk bloger kian menipis, sedangkan domain dan hosting harus terus dibayar. Akhirnya, tak sedikit yang banting setir menjadi konten kreator, YouTuber, atau lainnya yang dianggap lebih menjanjikan. 


Membawa Pulang Keyakinan akan Masa Depan Bloger

Ini 5 Pelajaran yang Saya Dapatkan dari Buku Broken Strings Aurelie Moeremans

2 comments

Jujur saja, saya tertarik membaca buku Broken Strings karya Aurelie Moeremans adalah karena keviralannya. Sebenarnya saat saya tahu bahwa pengalaman yang ia ceritakan tentang child grooming, ada perasaan maju-mundur untuk membaca. Soalnya saya tipikal yang mudah ke-trigger. Tapi, karena penasaran, akhirnya saya memutuskan membaca juga.


Ini 5 Pelajaran yang Saya Dapatkan dari Buku Broken Strings Aurelie Moeremans

Orang Tua WAJIB Terlibat Aktif dan Tepat dalam Pendidikan Anak Usia Dini

No comments
"Alby anaknya pendiam ya, Bun?" tanya guru wali kelas saat pengambilan rapor.
"Enggak kok, Bu. Di rumah malah berisik terus."

Sekilas, mungkin tak ada yang menganggapnya istimewa. Percakapan biasa dan sangat umum. Tapi, bagi saya, percakapan singkat yang tak dibahas panjang saat kami bertemu itu, menjadi pengalaman yang semakin menguatkan keyakinan saya bahwa pendidikan dini butuh peran serta orang tua. Wali kelas hanya menyampaikan apa yang terjadi di sekolah. Sedangkan watak, tingkah laku, kemampuan, bahkan bakat anak yang sebenarnya, normalnya justru diketahui dengan lebih baik oleh orang tua. Ada yang berpikiran sama?

Orang Tua WAJIB Terlibat Aktif dan Tepat dalam Pendidikan Anak Usia Dini

Seedbacklink Summit 2026 di Ritz-Carlton Jakarta, Masa Depan Blogger Masih Cemerlang

2 comments
Berkesempatan menghadiri acara yang tak lepas dari circle para bloger, selalu membuahkan pengalaman berharga. Ada ilmuya, ada serunya. Tentunya ini pula yang saya rasakan dan akan saya tuliskan, ketika saya menjadi salah satu peserta dalam acara Seedbacklink Summit 2026 di Ritz-Carlton Jakarta pada tanggal 20 Desember 2025 lalu. Acara tahunan offline pertama dari Seedbaklink yang diadakan sebesar ini.

Seedbacklink Summit 2026 di Ritz-Carlton Jakarta, Masa Depan Blogger Masih Cemerlang