Showing posts with label General. Show all posts

Manfaat Hand Sanitizer sebagai Pilihan Praktis Saat Tidak Ada Air dan Sabun

No comments

Seperti yang sama-sama kita tahu, menjaga kebersihan tangan merupakan langkah utama yang sangat krusial dalam melindungi tubuh dari penularan kuman penyakit. Tapi, bagaimana jika ketika sedang beraktivitas di luar rumah, malah sulit menemukan sarana cuci tangan? Kalau sudah begini, mengandalkan cairan pembersih instan adalah solusi paling praktis. Maka dari itu, yuk, ketahui manfaat hand sanitizer secara tepat untuk membantu kita tetap merasa aman, nyaman, dan bersih saat menjalani rutinitas harian.


Manfaat Hand Sanitizer sebagai Pilihan Praktis Saat Tidak Ada Air dan Sabun

Memilih Gym di Surabaya Dekat Tempat Tinggal agar Rutinitas Olahraga Lebih Konsisten

No comments

Menentukan tempat olahraga yang dekat dengan tempat tinggal, secara langsung akan membantu kita lebih konsisten dan teratur menjalankan aktivitas fisik ini. Betul, kan? Terutama bagi teman-teman yang memiliki kesibukan kerja, kuliah, atau aktivitas padat harian lainnya, jarak tentu menjadi salah satu hal yang perlu dipertimbangkan. Nah, memilih gym di Surabaya yang mudah dijangkau dapat mempersingkat waktu perjalanan sehingga memiliki lebih banyak kesempatan untuk berlatih tanpa mengganggu kegiatan lain.


Memilih Gym di Surabaya Dekat Tempat Tinggal agar Rutinitas Olahraga Lebih Konsisten

Pertimbangkan Jarak dari Tempat Tinggal

Lokasi adalah faktor penting ketika kita ingin membangun kebiasaan berolahraga. Karena tempat latihan yang terlalu jauh kerap membuat perjalanan terasa melelahkan, terutama jika jadwal gym dipilih setelah menjalani berbagai kegiatan sepanjang hari. Sebaliknya, lokasi yang mudah dijangkau justru dapat membantu kita mengatur waktu dengan lebih baik.


Baca juga: Mengenal Olahraga Gym Ball Workout Dengan Segudang Manfaatnya


Sebelum menentukan tempat latihan, sebaiknya kita memperhatikan beberapa hal berikut.

  • Perkirakan waktu yang dibutuhkan dari rumah menuju tempat latihan.
  • Pilih lokasi yang mudah dijangkau dengan kendaraan yang biasa digunakan.
  • Perhatikan kondisi perjalanan di jadwal yang kita pilih untuk nge-gym atau berolahraga.
  • Hitung jarak tempuh dengan rutinitas harian agar tidak terasa merepotkan.

Dengan pertimbangan tersebut, kita dapat menentukan lokasi yang lebih tepat dan sesuai dengan pola aktivitas sehari-hari.


Sesuaikan dengan Jadwal Harian

Lokasi yang dekat memang pertimbangan utama, namun dekat saja belum cukup jika waktu latihan tidak sesuai dengan kegiatan harian kita. Karena itu, coba lihat kembali rutinitas sehari-hari sebelum membuat jadwal olahraga. Kita dapat menentukan apakah latihan lebih nyaman dilakukan pada pagi hari, setelah bekerja, setelah kuliah, atau pada waktu lain yang tersedia.


Jadwal yang realistis biasanya lebih mudah dipertahankan. Tidak perlu memaksakan frekuensi latihan yang terlalu padat apabila hal tersebut justru membuat kegiatan olahraga sulit dilakukan secara konsisten. Sisihkan waktu yang cukup dan pertimbangkan pula kebutuhan untuk beristirahat setelah menjalani aktivitas lainnya.


Fasilitas yang Tersedia sesuai dengan Kebutuhan

Selain lokasi, fasilitas juga berperan dalam menciptakan pengalaman latihan yang nyaman. Kita tidak harus memilih tempat berdasarkan jumlah fasilitas semata. Hal yang lebih penting adalah memastikan fasilitas yang tersedia dapat mendukung jenis latihan yang ingin dilakukan.


FIT HUB menyediakan berbagai fasilitas yang bisa digunakan untuk menunjang kebutuhan latihan. Kita dapat menyesuaikannya dengan tujuan olahraga dan kemampuan yang hendak dikembangkan secara bertahap. Dengan fasilitas sesuai, waktu latihan dapat dimanfaatkan dengan lebih terarah tanpa harus membuat pola olahraga terasa rumit.


Beberapa fasilitas yang dapat dipertimbangkan meliputi:

  • Area latihan untuk aktivitas kekuatan;
  • Peralatan yang mendukung latihan kebugaran;
  • Ruang nyaman untuk menjalankan aktivitas fisik;
  • Pilihan fasilitas lain yang bisa digunakan sesuai kebutuhan latihan.

Ketersediaan fasilitas yang sesuai dapat membantu kita menjalankan berbagai jenis latihan dengan lebih leluasa. Selain mendukung variasi aktivitas, fasilitas yang tertata juga membuat proses berolahraga terasa lebih nyaman dan terorganisir.


Hitung Waktu Perjalanan dengan Realistis

Sering kali waktu perjalanan menjadi alasan seseorang menunda atau bahkan membatalkan niat untuk pergi berolahraga. Karena itu, jangan hanya melihat jarak berdasarkan peta atau perkiraan singkat. Pertimbangkan kondisi perjalanan yang sebenarnya, termasuk kepadatan lalu lintas pada jam tertentu.


Jika kita memilih gym di Surabaya yang lokasinya dekat dengan tempat tinggal, waktu yang biasanya digunakan untuk perjalanan akan menjadi lebih singkat. Sehingga sisa waktunya kemudian bisa dialihkan untuk persiapan latihan, pendinginan setelah berolahraga, atau kegiatan lain dalam rutinitas harian.


Buat Target Latihan yang Masuk Akal

Perlu dicatat, konsistensi tidak hanya dipengaruhi oleh lokasi. Target latihan juga perlu dibuat sesuai dengan kondisi dan jadwal kita. Target yang terlalu berat sejak awal dapat membuat olahraga terasa sebagai kewajiban yang sulit dijalankan.


Cobalah membuat target sederhana, misalnya menentukan jumlah hari latihan dalam satu minggu dan durasi yang sesuai dengan waktu luang. Misal cuma satu atau dua kali saja dalam seminggu dengan durasi 1 jam, tidak masalah. Setelah terbiasa, kita pasti dapat menyesuaikan pola tersebut berdasarkan perkembangan dan kebutuhan.


Sebaiknya catat jadwal latihan agar lebih mudah melihat dan mengevaluasi kebiasaan yang sudah terbentuk. Catatan sederhana sudah cukup untuk membantu kita mengetahui kapan waktu tepat berolahraga dan kapan perlu memberikan tubuh waktu istirahat.


Ciptakan Rutinitas yang Bisa Dipertahankan

Sebenarnya, rutinitas olahraga yang baik bukan hanya tentang seberapa sering kita datang ke tempat latihan, tetapi juga bagaimana kegiatan tersebut dapat menyatu dengan kehidupan sehari-hari. Pilih waktu yang memungkinkan, gunakan fasilitas sesuai kebutuhan, dan berikan ruang untuk istirahat agar pola latihan tetap terasa nyaman.


Baca juga: Gym Tutorial Jadi Solusi Latihan Mandiri di Rumah


Ketika tempat olahraga berada dalam jangkauan yang mudah, kita dapat mengurangi salah satu hambatan yang sering muncul sebelum latihan dimulai, yaitu malas diperjalanannya. Dari sini, kebiasaan dapat dibangun secara perlahan melalui jadwal sederhana dan realistis.


Kesimpulannya, tempat latihan yang dekat bisa menjadi awal yang praktis untuk menjaga keteraturan olahraga. Dengan memilih gym di Surabaya yang tidak jauh dari lokasi tempat tinggal, jadwal, serta kebutuhan fasilitas, kita dapat memanfaatkan FIT HUB sebagai bagian dari aktivitas kebugaran sehari-hari. Bukan sekadar menentukan tempat untuk berolahraga, langkah tersebut juga membantu menciptakan pola yang lebih mudah dijalani dari waktu ke waktu.


Semoga bermanfaat.

Aplikasi Perbankan BCA untuk Transfer Antarbank melalui BI-FAST

No comments

Kebutuhan mengirim uang ke rekening tujuan, kini dapat dilakukan dengan lebih praktis melalui layanan digital. Nah, bagi teman-teman yang memiliki rekening BCA, aplikasi perbankan dapat mendukung aktivitas transfer tanpa harus selalu mendatangi kantor cabang. Salah satu pilihan yang tersedia untuk transfer antarbank adalah BI-FAST. Dengan memahami cara memilih layanan transfer sesuai kebutuhan, kita dapat menyelesaikan transaksi dengan lebih nyaman dan praktis hanya melalui smartphone.


Aplikasi Perbankan BCA untuk Transfer Antarbank melalui BI-FAST

Peran Agen Asuransi dalam Menjelaskan Perbedaan Manfaat Setiap Produk Chubb

No comments

Memilih perlindungan yang sesuai, tidak cukup hanya dengan melihat nama produk atau besarnya premi. Setiap perlindungan memiliki manfaat, cakupan, batasan, dan ketentuan yang perlu dipahami sebelum dipilih. Dalam kondisi seperti ini, agen asuransi dapat membantu kita melihat perbedaan setiap produk Chubb secara lebih jelas, sehingga keputusan yang diambil dapat disesuaikan dengan kebutuhan perlindungan.


Peran Agen Asuransi dalam Menjelaskan Perbedaan Manfaat Setiap Produk Chubb

Bagaimana TBS Mendukung Pertumbuhan Ekosistem Baterai Kendaraan Listrik Nasional?

No comments

Perkembangan transportasi listrik di Indonesia membuka peluang bagi hadirnya sistem mobilitas yang lebih terhubung. Kendaraan listrik membutuhkan dukungan energi, teknologi, dan layanan yang mampu menjawab kebutuhan perjalanan sehari-hari. Dalam kondisi tersebut, ekosistem baterai kendaraan listrik memiliki peran penting karena mencakup berbagai kegiatan yang berkaitan dengan penyediaan, penggunaan, serta pengelolaan sumber tenaga kendaraan. TBS melalui pengembangan bisnis energi bersih dan mobilitas listrik dapat mengambil bagian dalam pertumbuhan ekosistem tersebut.


Bagaimana TBS Mendukung Pertumbuhan Ekosistem Baterai Kendaraan Listrik Nasional

Suara Seorang Ibu untuk Program MBG

No comments

Mengutip artikel Kompas tanggal 4 September 2026, keracunan MBG terus berulang dan sudah lebih dari 50.000 orang terdampak keracunan. Sedihnya, mereka-mereka yang tidak punya hati berkata, "Kalau sudah tau bau, kenapa dimakan?" Dulu juga pernah, pas siswa mengeluh ada belatung pada menu MBG, dibilang tidak bersyukur. Hei, mereka anak-anak yang dibesarkan dengan darah dan air mata oleh orang tuanya! Saya jengkel setengah mati mendengar itu semua. 


Suara Seorang Ibu untuk Program MBG

Kalau teman-teman seorang ibu seperti saya, dengan 2 anak yang masih SD dan setiap hari diberikan MBG, kira-kira apa yang dipikirkan? Di mata saya, MBG bukan lagi makanan bergizi yang dibutuhkan anak-anak, melainkan sesuatu yang berisiko membuat mereka keracunan. Salahkah saya berpikiran seperti itu bila terus diperlihatkan berita kasus keracunan MBG?


Baca juga: 6 Bentuk Kekerasan dalam Pendidikan


Dulu, ketika program MBG masih jadi rencana, saya membayangkan makanan ini disajikan prasmanan di sekolah-sekolah seperti yang sering saya lihat di drama Korea. Dapurnya di sekolah, dimasak di sekolah, dan disantap juga di sekolah. Ternyata, pengaplikasiannya jauh dari itu. Makanan diproduksi di SPPG yang butuh waktu pengiriman ke sekolah, bahkan memasaknya sudah dimulai dari dini hari, baru dimakan anak-anak sekitar jam 9 atau 10 pagi. Malah anak saya yang sudah kelas 4, jadwal makan MBG-nya setelah salat zuhur. 


Tidak perlu sensor pendeteksi basi, dari waktu memasak sampai dimakan saja sudah terbayang bagaimana kualitas makanannya. Ditambah lagi makanan ini sudah berjalan-jalan untuk proses pengantaran, kontaminasi pasti rentan terjadi. Nyatanya juga, tidak semua SPPG amanah, mencuci ompreng dengan air keruh, ditemukan bahan-bahan berjamur, dan yang jorok. Menutup SPPG bermasalah memang gampang, tapi kalau anak-anak sudah terlanjur keracunan gimana? 


Saya menulis artikel ini karena sudah terlalu resah dengan program MBG yang terbukti "tidak matang". Korbannya bukan hanya 1 atau 2, melainkan sudah puluhan ribu. Dan MBG ini sama sekali TIDAK GRATIS, yang menurut saya sudah menjadi pembohongan publik sejak awal. MBG didanai dari pajak, dari keringat rakyat. Dibilang tidak bersyukur ketika dapat makanan berbelatung karena itu gratis, astaga sungguh keterlaluan. Jangankan makanannya, petugas BGN itu pun rakyat yang gaji. Maka dari itu, sebagai salah satu donatur, izinkan saya membahas MBG dari sudut pandang seorang ibu.


Apakah MBG Benar-benar untuk Anak?

Ketika anak-anak Kalimantan tetap disuruh sekolah saat karhutla, yang melihat video rekamannya saja sudah bikin sesak, alasannya demi MBG tetap jalan, semakin menguatkan kesimpulan saya bahwa MBG hadir bukan untuk anak, melainkan untuk orang-orang yang ada di balik pengelolaannya. Sekeras apa pun saya berusaha melihat dari berbagai sudut pandang, saya tetap tidak menemukan kebenaran logika di sini. Bukannya fokus pada kesehatan anak di tengah kabut asap, malah memikirkan MBG. Astaghfirullah. 


Kembali lagi ke bulan Ramadan kemarin. Anak-anak mendapat MBG berupa kue kering, produk kemasan lain yang banyak dijual di warung Madura atau grosiran. Ada pula yang membawa buah kelapa utuh, lele mentah, dan rupa makanan out of the box lain yang entah di mana letak gizinya. Lele iya bergizi, tapi kalau dibagikan mentah, berjam-jam di suhu ruang, dibawa putar-putar pula untuk pengiriman, jelas kualitasnya sudah rusak. Kalau memang tidak bisa menjalankan MBG sementara, kenapa harus dipaksakan? Atau memang ada pihak-pihak tertentu yang diuntungkan dari berjalannya MBG? Bisa saja, toh kemarin banyak pemilik SPPG yang demo karena khawatir tidak balik modal. 


Jadi, pertanyaannya di sini, sebenarnya siapa sih yang butuh MBG? Anak-anak atau pihak tertentu? 


Tapi kan di daerah 3T anak-anaknya butuh MBG dan senang dapat MBG. Ya, saya setuju. Tidak semua anak beruntung bisa menyantap makanan bergizi setiap hari. Saya sangat mengapresiasi bila pemerintah bisa mengevaluasi dan mematangkan program MBG ini agar lebih tepat sasaran, dengan syarat menjamin kualitas dan gizi dari setiap makanan yang didistribusikan. Saya yakin, sesusah apa pun keuangan keluarga, tidak ada satu pun ibu yang suka rela secara sadar memberikan makanan berbelatung, basi, atau beracun pada anak-anaknya. 


Respon Pemerintah dan "Orang-orang MBG" Terkesan Meremehkan Masalah di Lapangan

Tidak usah menyebutkan siapa-siapanya, kita sudah cukup tahu dari berita-berita viral yang bertebaran di media sosial. Apa yang saya kutip di awal tadi, hanya dua dari banyaknya respon pemerintah atas masalah MBG. Presiden kita, Bapak Prabowo pun hanya memandang korban keracunan MBG sebagai persentase angka, bukan anak manusia. Bapak dan Ibu yang terhormat, kami para ibu ini, ketika melihat anak-anak demam saja, sudah sedih dan tak jarang bikin panik. Andai Bapak dan Ibu juga punya anak, seharusnya juga merasakan hal yang sama. Tapi, kenapa responnya anak-anak kami seolah bukan apa-apa?


Melihat anak-anak yang terbaring lemas di rumah sakit setelah menyantap MBG, padahal bukan anak kandung saya, sungguh sedih rasanya. Apalagi orang tua mereka? 


Harusnya pemerintah cepat tanggap mencari solusi, harusnya pemerintah meminta maaf dan mengakui kesalahan, harusnya pemerintah menenangkan, bukan menyulut emosi. Tak terhitung respon yang semakin melunturkan kepercayaan masyarakat terhadap program ini. Mirisnya, ketika keracunan di Sidoarjo Kamis lalu korbannya mencapai 730 orang, di hari yang sama, Bapak Presiden kita memamerkan MBG dalam Eastern Economic Forum (EEF) ke-11 di Vladivostok, Rusia. Seolah itu sebuah program yang berhasil telak, padahal nyatanya?


Bukankah pemerintah yang baik adalah pemerintah yang berpihak pada rakyat? Ketika program pemerintah menimbulkan masalah dan korbannya adalah rakyat, lebih tepatnya anak-anak generasi penerus bangsa, masalahnya terus berulang pula, setidaknya perlihatkan dulu empati. Lakukan evaluasi, perbaiki. Kalau masih berulang juga, perlu dipertanyakan, apakah memang sudah dilakukan perbaikan atau cuma basa-basi saja? 


Salah Urutan Prioritas

Berpikir cepat saja, ketika ingin mengerjakan sesuatu, pasti dimulai dari yang paling mendesak dulu kan? Misal, saya pasti mendaftarkan anak sekolah dulu, memastikan anak saya diterima dan bersekolah di sana, baru menyiapkan buku-bukunya, seragamnya, hingga bekalnya. Kalau tidak sekolah, untuk apa saya menyiapkan bekal? 


Bagi saya, konsep sederhana kehadiran MBG seperti itu. Saya pernah mewawancara dua aktivis di daerah 3T, yaitu di Pegunungan Molomamua dan Pulau Mansinam, nanti teman-teman bisa searching lokasinya di mana, di sana, sekolah masih menjadi kemewahan yang sulit diakses. Beberapa waktu lalu juga ada anak yang bunuh diri hanya karena tak sanggup membeli alat tulis. Apakah MBG bisa dinikmati ketika fasilitas pendidikan belum merata? Jelas bukan MBG yang paling dibutuhkan.


Mari bahas sisi sebaliknya. Di perkotaan, fasilitas pendidikan jauh lebih baik. Sekolah negeri lengkap, sekolah swasta banyak. MBG dengan segala masalahnya, beberapa kali pernah ditolak oleh sekolah karena merasa tidak butuh. MBG yang terbuang karena anak tidak mau memakannya dengan alasan tidak suka, bukan lagi menjadi hal asing. Apakah MBG perlu diberikan kepada sekolah-sekolah yang bahkan siswanya jelas-jelas tidak butuh?


Ketika Koperasi Desa Merah-Putih bisa dibangun begitu cepat di mana-mana, bahkan di pegunungan, di tengah area tambak, menghadap area pekuburan, di tepi tebing, atau titik lokasi viral lain yang bikin takjub, kenapa sekolah tidak bisa? Mungkin ada sekolah baru yang dibangun atau direvitalisasi, tapi nyatanya masih banyak daerah yang kesulitan mengaskses sekolah. Harusnya fasilitas pendidikannya dulu yang dibangun, dibenahi, dan diperbaiki, bukan fokus ke MBG yang justru anggarannya hanya sekian persen yang jadi "makanan". Sebagian besar habis untuk proses ini-itunya.  


Bukankah sudah jelas urutan urgensi atau prioritasnya? Pastikan dulu bangunan sekolah, fasilitas sekolahnya, serta sarana dan prasarana pendidikannya merata dan baik, baru dijalankan MBG. Kalau MBG ternyata tidak dibutuhkan oleh sekolah atau daerah tertentu, ya, jangan dijalankan di sana. Untuk apa? Lebih baik fokus ke sekolah yang membutuhkan saja. Tepat sasaran dan tidak mubazir. 


Sampah Makanan Jadi Masalah Baru

Melansir dari Tempo, Direktur Pengelolaan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup Novrizal Tahar mengatakan jika program MBG dijalankan secara nasional, jumlah penerima manfaat dapat mencapai 24 juta siswa SD menurut Kemendikbud pada tahun 2023/2024. Dengan asumsi setiap siswa menghasilkan sampah makanan sebesar 50-100 gram per hari, Kemenko Bidang Pangan menyatakan potensi timbulan dapat mencapai 2.400 ton/hari atau 624 ribu ton/tahun yang berpotensi menghasilkan emisi gas rumah kaca sebesar 200.760 ton CO2eq.


Itu baru SD, belum lagi SMP dan SMA, lanjut lagi ibu hamil dan balita. Kalau kualitasnya diragukan, rasanya tidak sesuai dengan selera siswa, sudah pasti banyak makanan akan terbuang. Bukan sekali atau dua kali saya mendengar guru yang cerita kalau sisa makanan MBG di sekolah bisa berkarung-karung plastik setiap hari. Mending bila ada yang mengambilnya untuk makanan ternak atau diolah menjadi hal lain yang lebih bermanfaat. Kalau tidak, ujungnya kembali ke gas metana yang semakin memperparah pemanasan global.


Sudahlah mubazir dana, mubazir tenaga, merusak lingkungan pula. Saya yang bersusah payah di rumah mengurangi sampah makanan, memastikan membeli bahan masak secukupnya dan tidak membuang seenaknya, melihat kenyataan bahwa MBG menghasilkan sampah ribuan ton setiap hari, tentu ada hasrat ingin protes. Memberi pembekalan kepada pengelola MBG untuk bijak mengurus sampah, menurut saya bukan solusi terbaik bila nyatanya MBG terus aktif menghasilkan banyak sampah.


Baca juga: Mempertanyakan Hak Pendidikan yang Diamanatkan Undang-Undang Dasar 1945


Sebenarnya, secara pribadi saya tidak menyalahkan program MBG sepenuhnya. Saya hanya kecewa pada proses implementasinya yang terbukti terburu-buru dan menimbulkan berbagai masalah yang mengorbankan keselamatan anak-anak. 


Saya juga kecewa ketika pemerintah tetap saja menyepelekan setiap keluhan masyarakat yang terkena dampak langsung dari program ini, terutama soal keracunan. Kalau tidak bisa berkata yang baik-baik, lebih baik diam daripada menyakiti. Saat mendengar, "Kalau sudah tau bau, kenapa dimakan?" kemarin, saya langsung melarang anak saya makan MBG di sekolahnya kecuali buah. Bukan berarti MBG di sekolah mereka pernah basi atau bermasalah, selama ini alhamdulillah masih aman dan SPPG-nya amanah. Tapi celoteh itu seolah menganggapnya lelocon. Salahkah bila sebagai ibu saya geram?


Sekarang yang saya usahakan hanya menghindar. Sebisa mungkin anak saya jauh dari permasalahan MBG. Simpel, tidak usah makan MBG.


Saya berharap pemerintah bisa mengevaluasi program-programnya secara menyeluruh dan Indonesia segera membaik. Saya bersuara karena saya merasa memang ada yang salah, ada yang tidak beres. Salah satu ketidakberesan yang berdampak langsung pada peran saya sebagai ibu, sudah saya tuliskan di artikel ini. Malah ini belum membahas soal harga bahan-bahan masak yang juga terpengaruh oleh MBG.


Menurut teman-teman yang juga sesama ibu, apa pendapatnya tentang MBG?


Referensi

https://www.kompas.id/artikel/keracunan-makanan-mbg-terus-berulang-lebih-dari-50000-orang-terdampak-keracunan

https://news.detik.com/berita/d-8648383/bertambah-korban-keracunan-mbg-di-sidoarjo-jadi-730-orang

https://www.tempo.co/lingkungan/potensi-sampah-makanan-program-makan-bergizi-gratis-624-ribu-ton-per-tahun-1194306

Rekomendasi Jasa LCL Container untuk Pengiriman Internasional yang Lebih Efisien

1 comment

Persaingan bisnis yang semakin luas membuat banyak pelaku usaha mulai rutin mengirim barang ke luar negeri. Namun, tidak semua pengiriman membutuhkan satu kontainer penuh. Pada kondisi seperti ini, layanan LCL container menjadi solusi yang lebih fleksibel karena memungkinkan beberapa pengirim berbagi ruang dalam satu kontainer.


Rekomendasi Jasa LCL Container untuk Pengiriman Internasional yang Lebih Efisien

Ruang Setrika Bisa Menjadi Area Rawan Rayap Jika Banyak Tumpukan Barang

1 comment

Ruang setrika sering menjadi area untuk apa saja, alias ruangan dengan banyak fungsi. Selain untuk menyetrika pakaian, ruangan ini kerap sering dipakai untuk menyimpan keranjang baju, meja setrika, kardus, plastik laundry, gantungan, sampai perlengkapan rumah tangga lain. Karena bukan area utama rumah, ruang setrika jadi jarang diperiksa secara detail.


Ruang Setrika Bisa Menjadi Area Rawan Rayap Jika Banyak Tumpukan Barang

2 Cara Mengecek Keaslian Meterai Elektronik (e-Meterai)

2 comments

Berhubung kemarin saya menulis tentang cara membeli meterai elektronik dan membubuhkannya di dokumen, jadi penasaran, apakah e-meterai bisa dicek asli atau palsunya? Ternyata bisa. Ada website dan aplikasi khusus untuk mengeceknya. Makanya, kita memang betul-betul perlu membeli di distributor resmi agar tidak terlanjur memakai e-meterai palsu atau e-meterai yang sudah pernah digunakan sebelumnya.


2 Cara Mengecek Keaslian Meterai Elektronik (e-Meterai)

Cara Membeli Meterai Elektronik (e-Meterai) dan Membubuhkannya di Dokumen

2 comments
Kemarin untuk pertama kalinya saya membeli meterai elektronik (e-Meterai) dan membubuhkannya di dokumen. Ternyata memang jauh lebih praktis bila dibandingkan dengan meterai fisik. Terlebih yang dibutuhkan atau dikirimkan adalah dokumen softcopy, bukan hardcopy. Jadi tidak perlu tempel dan tanda tangan manual, lalu di-scan lagi. Tinggal bubuhkan meterai pada dokumen yang telah ditandatangani, selesai.

Cara Membeli Meterai Elektronik dan Membubuhkannya di Dokumen

2 Cara Cepat Mengecek Sertifikat Tanah Asli atau Palsu

No comments

Masalah sertifikat tanah memang sangat krusial dan wajib dicek keasliannya saat akan membeli rumah atau tanahnya saja. Karena banyak sertifikat tanah yang tampak seperti asli, tapi setelah dicek, tidak terdaftar di Badan Pertanahan Nasional (BPN). Untungnya, sekarang kita tidak perlu jauh-jauh mengecek keaslian sertifikat dengan datang langsung ke kantor BPN. Bisa dari rumah saja dan GRATIS.


2 Cara Cepat Mengecek Sertifikat Tanah Asli atau Palsu secara Online

Trik Bersihkan Dapur Cepat Sebelum Tamu Datang

No comments

Mengadakan acara kumpul keluarga atau arisan kecil di rumah menjadi momen yang menyenangkan di akhir pekan. Namun, bagi pasangan muda yang tidak memiliki asisten rumah tangga (ART) tetap, persiapan memasak menu sajian sering kali menguras waktu dan tenaga. Akibatnya, area memasak menjadi sangat berantakan, padahal sebentar lagi tamu akan datang.


Trik Bersihkan Dapur Cepat Sebelum Tamu Datang

Ide Upgrade Kost yang Lebih Disukai Gen Z Dibanding Sekadar Interior Estetik

No comments

Generasi Z dikenal sebagai generasi yang sangat dekat dengan media sosial dan tren visual. Tidak heran jika banyak pemilik kost berlomba-lomba membuat kamar dengan desain estetik agar menarik perhatian calon penghuni. Namun, saat ini Gen Z mulai melihat kost bukan hanya dari tampilan interior semata. Mereka lebih menyukai hunian yang nyaman, praktis, mendukung produktivitas, dan sesuai dengan gaya hidup modern.


Ide Upgrade Kost yang Lebih Disukai Gen Z Dibanding Sekadar Interior Estetik

9 Kesalahan Pasangan Muda Saat Menentukan Hunian Pertama di Kota Metropolitan

No comments

Memiliki hunian pertama menjadi impian banyak pasangan muda, terutama yang bekerja dan membangun karier di kota metropolitan. Namun, tingginya harga properti serta gaya hidup perkotaan sering membuat keputusan membeli rumah dilakukan secara terburu-buru. Akibatnya, hunian yang seharusnya menjadi tempat nyaman justru berubah menjadi sumber tekanan finansial.


9 Kesalahan Pasangan Muda Saat Menentukan Hunian Pertama di Kota Metropolitan

7 Kesalahan Pemasangan Kanstin yang Sering Dilakukan Pemula

No comments

Kanstin merupakan elemen penting dalam penataan taman, trotoar, area parkir, hingga jalur pedestrian. Fungsi utamanya bukan hanya sebagai pembatas area, tetapi juga membantu menjaga kestabilan struktur perkerasan dan mempercantik tampilan lingkungan. Sayangnya, masih banyak pemula yang melakukan kesalahan saat memasang kanstin sehingga hasil akhirnya kurang rapi, tidak awet, bahkan mudah rusak dalam waktu singkat.


7 Kesalahan Pemasangan Kanstin yang Sering Dilakukan Pemula

Ini Cara Lengkap Daftar Haji Online di Aplikasi Satu Haji

No comments
Alhamdulillah Allah menitipkan rezeki yang luar biasa pada saya dan suami untuk daftar haji tahun ini. Baru daftar, ya. Dan kami daftarnya haji reguler dengan masa tunggu lebih dari 20 tahun. Ternyata, daftar haji sekarang jauh lebih praktis melalui aplikasi Satu Haji, kita tidak perlu datang ke Kementerian Agama. Selain itu, buka tabungan haji pun juga bisa online melalui aplikasi banknya. Jadi, prosesnya bisa online dari awal sampai akhir pendaftaran hingga dapat nomor porsi.

Ini Cara Lengkap Daftar Haji Online di Aplikasi Satu Haji

7 Kebiasaan Finansial yang Bikin Sulit Kaya Meski Gaji Naik

1 comment

Banyak orang berpikir bahwa kenaikan gaji otomatis akan membuat kondisi finansial membaik dan mempercepat jalan menuju kaya. Namun kenyataannya, tidak sedikit orang yang sudah mengalami kenaikan penghasilan berkali-kali, tetapi tetap merasa “jalan di tempat” secara finansial. Bahkan, ada yang justru lebih cepat habis uangnya setiap kali gaji naik.


7 Kebiasaan Finansial yang Bikin Sulit Kaya Meski Gaji Naik

Harus Daftar Antrean, Begini Cara Beli Emas di Butik Emas ANTAM

2 comments

Sudah lama tidak membeli emas, Alhamdulillah hari ini bisa berinvestasi emas lagi. Sebagiannya adalah uang THR anak-anak lebaran kemarin. Untung ada Butik Emas ANTAM Bintaro yang tak terlalu jauh dari rumah. Kami pikir bisa langsung beli saja seperti di toko emas. Ternyata, ini pun baru saya tahu, kita harus daftar antrean dulu untuk membeli emas, terutama emas ukuran kecil.


Harus Daftar Antrean, Begini Cara Beli Emas di Butik Emas ANTAM

Detox Tubuh dan Ringankan Kerja Ginjal dengan Air Demineral Alexa Water

2 comments

Sejak jadi orang tua, saya semakin peduli dengan kesehatan. Bukan hanya kesehatan anak dan keluarga, tapi juga kesehatan saya sendiri. Saya ingin hadir untuk mereka selama mungkin. Dan kesehatan adalah investasi jangka panjang yang harus diupayakan tanpa nanti-nanti. Siapa sangka, pilihan air minum dapat sangat menentukan. Karena tidak semua air itu sama.


Detoks Tubuh dan Ringankan Kerja Ginjal dengan Air Demineral Alexa Water

Mempertanyakan HAK PENDIDIKAN yang Diamanatkan Undang-Undang Dasar 1945

No comments

Kenapa, kenapa, kenapa. Kata itu yang terus berputar di kepala saya ketika melihat berita tentang seorang anak di NTT yang mengakhiri hidup karena tidak mampu membeli buku dan pena. Andai bisa, ingin sekali memutarbalikkan waktu dan berteleportasi untuk mengajaknya membeli keperluan sekolah. Bukan karena saya merasa banyak uang atau sok kaya, tapi lebih kepada naluri seorang ibu. Yang mana ketika duka menyelimuti satu anak, seperti duka yang dialami anak sendiri. Jujur, saya tak kuat membendung air mata.


Mempertanyakan HAK PENDIDIKAN yang Diamanatkan Undang-Undang Dasar 1945

Tapi, di waktu bersamaan, saya pun mempertanyakan, kenapa anak yang seharusnya memiliki hak atas pendidikan, mengalami hal menyedihkan yang malah disebabkan oleh pendidikan? Ketika program pemerintah terus menggalakkan pendidikan yang aman dan nyaman, nyatanya menjadi pemicu kenekatan. Kehilangan nyawa, yang tak bisa dikembalikan dengan apa pun. Siapa yang bertanggung jawab? 


Baca juga: Orang Tua WAJIB Terlibat Aktif dan Tepat dalam Pendidikan Anak Usia Dini


Di dalam Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 31 Ayat (1), dasar hukum tertinggi di negara ini, jelas menyebutkan bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan. Diperjelas juga di website resmi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, pasal ini mengamanatkan bahwa semua warga negara, termasuk anak-anak yang memiliki keterbatasan atau yang berada dalam kondisi kurang beruntung, berhak mendapatkan pendidikan, terutama pendidikan Sekolah Dasar.


Lalu, apa yang terjadi? Pendidikan itu tidak kunjung rata menyentuh seluruh anak di negeri ini. Bukan kali pertama persoalan pendidikan di Indonesia bagian timur mencuat, tapi sudah sejak lama. Kemiskinan ekstrem yang menjadi permasalahan yang kerap dikaitkan, tentu tak bisa dijadikan alasan. Sudah jelas-jelas hak pendidikan itu bersifat menyeluruh, tanpa terkecuali. Betul, kan? 


Kembalikan Pendidikan sebagai Prioritas Utama

Kembalikan Pendidikan sebagai Prioritas Utama

Mengacu pada Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pendidikan diartikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.


Saya menggarisbwahi pada bagian suasana belajar dan proses belajar. Ini yang saya ketahui dan alami selama menempuh pendidikan dari TK sampai S1, pendidikan pasti tak lepas dari proses belajar-mengajar. Tidak ada satupun instansi pendidikan yang tidak melaksanakannya. Justru ini yang menjadi inti. Sehingga pendidikan tanpa fasilitas yang memadai, tak akan mencapai tujuannya. 


Apakah Indonesia tidak mampu memenuhi keterbutuhan fasilitas pendidikan itu? Rata mulai dari Sabang sampai Merauke, yang tidak terpusat di pulau-pulau tertentu saja.

Di mata saya, secara anggaran, Indonesia mampu. 


Menyaksikan anggaran fantastis digelontorkan untuk berbagai kebijakan yang membuat rakyat bertanya-tanya, mulai dari megaproyek Koperasi Merak Putih, gentengisasi demi estetika, 17 Triliun untuk keanggotaan Board of Piece yang katanya bertujuan untuk perdamaian Palestina tapi tidak ada Palestina di antara anggotanya (malah Israel), hingga program Makan Bergizi Gratis (MBG), rasanya sudah cukup menggambarkan betapa kayanya Indonesia. 


Tahun ini, anggaran MBG meroket menjadi 335 Triliun! Anggaran pendidikan 2026 yang digadang-gadang terbesar sepanjang sejarah, terkesan menjadi kamuflase saja. Toh sekitar Rp223 Triliun dialihkan ke MBG. Itupun tak semuanya fokus pada pemenuhan gizi, contohnya untuk seragam SPPG-SPPI sudah menghabiskan Rp423 Milyar sendiri (sumber: Suara Merdeka). 


Bayangkan bila dana sebanyak itu digunakan untuk membangun sekolah, penyediaan buku, dan fasilitas belajar-mengajar lainnya. Katakanlah 5 Milyar untuk membangun 1 sekolah. Dari anggaran seragam SPPG-SPPI saja, 84 sekolah baru sudah berdiri megah di tanah Papua atau NTT. Andai pemerintah tak menutup mata, sudah banyak kok media yang juga membahas alokasi ini dengan berbagai sudut pandang profesional. 


Pertama, ini soal PRIORITAS.  

Sejak awal sudah bikin heran, ketika pendidikan tak lagi masuk sebagai prioritas utama, malah turun menjadi prioritas pendukung. Seolah apa yang dikatakan Tan Malaka benar, "Mereka ingin kita patuh, bukan cerdas. Karena yang cerdas sulit diatur". Amit-amit semoga hanya sekedar cocokologi belaka, ya.


Soal Koperasi Merah Putih, gentengisasi, Board of Piece, biarlah mereka yang lebih berkompeten membahasnya. Walau dalam hati saya berharap pemerintah dapat memikirkannya dengan lebih matang. Kali ini saya akan menyoroti MBG karena lebih lekat dengan kehidupan saya sebagai ibu yang anak-anaknya juga bersekolah. Saya bukannya tidak setuju dengan adanya MBG. Masih banyak kebaikan di dalamnya, terutama bagi anak-anak yang memang memiliki keterbatasan soal akses makanan sehat. Tapi, yang saya sayangkan adalah kenapa memaksa melaksanakan MBG ketika fasilitas dasar pendidikan belum terpenuhi secara merata?  


Analogi sederhanya begini. Saya memberikan tas mahal, bekal steik, hingga sepatu bermerek kepada anak saya, tapi sekolah yang akan ia tuju tidak memiliki fasilitas layak. Mejanya rusak, gurunya sering tidak datang karena akses yang sulit, saat hujan atapnya bocor, hingga ketiadaan buku-buku pelajaran. Apakah anak saya bisa pintar hanya dengan kemewahan yang saya beri? Tentu tidak. Sama seperti MBG, di sekolah diberi makan bergizi, tapi untuk belajar malah kesulitan. Pendidikan sesuai amanat UUD 45 itu jelas tidak terlaksana. 


Kedua, MBG tampak seperti program terburu-buru, hanya sebagai pemenuhan janji kampanye. 

Bukan rahasia lagi bahwa banyak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang berkoalisi dengan partai politik atau milik pejabat. Melansir dari IDN Times, Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Nanik S. Deyang, malah secara blak-blakan mengakui kalau semua partai politik memiliki SPPG atau dapur yang mengelola MBG. Bahkan Polri dan TNI pun turut mengelola dapur MBG.


Selain itu, MBG nyatanya tak selalu diterima antusias oleh semua pelajar. Penyajiannya pun tak sedikit yang melenceng dari apa yang dikatakan makanan begizi, baik dari pemilihan jenis makanan maupun kualitasnya. Keracunan akibat MBG yang masih terjadi sampai sekarang, tak bisa melulu dinilai hanya dalam persenan angka. Ingat, setiap pelajar, setiap siswa adalah anak dari seorang ibu. Disuruh bersyukur saat mendapat makanan berbelatung, menganggap kasus keracunan wajar karena persentasenya kecil, sungguh tidak manusiawi. Saya tidak bisa menyembunyikan kemarahan saya atas pernyataan-pernyataan itu. Tidak bisa disalahkan bila ada sekolah yang akhirnya memilih menolak MBG atau orang tua yang mengkritik.


Melihat lebih panjang lagi, apakah pengelolaan sampah sisa MBG sudah masuk dalam perencanaan dan pelaksanaan program? Atau tidak pernahkah ditelaah bahwa jutaan lapangan kerja yang dibanggakan berhasil diciptakan dari MBG itu, malah mengorbankan hal yang lebih besar?


MBG memang memiliki nilai positif demi tumbuh kembang anak bila diaplikasikan dengan benar. Namun, melihat kondisi saat ini, alangkah baiknya bila MBG dievaluasi secara menyeluruh agar tak mubazir anggaran dan tepat sasar. Lalu kembalikan dana yang seharusnya memang diprioritaskan untuk kebutuhan fasilitas sekolah dan belajar mengajar yang jauh lebih urgent.


Saran untuk Pemerintah

Saran untuk Pemerintah

Saya memang bukan ahli gizi, keuangan, atau politik. Tapi, saya mengikuti kabar seputar dunia pendidikan karena tergabung dalam komunitas yang fokus di bidang ini serta memang memiliki ketertarikan di sini. Entah sampai di mana tulisan ini akan bergulir, setidaknya biarkan saya sebagai ibu menyampaikan beberapa saran kepada pemerintah demi pemenuhan hak pendidikan yang lebih merata ke depannya. 


1. Jadikan Pendidikan sebagai Prioritas Utama Kembali

Kemajuan bangsa sangat ditentukan oleh SDM-nya. Sia-sia menyorakkan dan memamerkan negara kita bergelimang potensi sumber daya alam, kalau tidak ada pengelolaan yang cerdas dari masyarakatnya. Bila pendidikan yang menjadi upaya terbaik untuk meningkatkan kualitas SDM tidak menjadi prioritas utama, apa tidak berbahaya? Bagi saya yang memiliki 2 anak, masa depan mereka adalah tujuan hidup saya saat ini. Ketika saya berusaha matian-matian menyekolahkan mereka demi pendidikan berkualitas, tapi ternyata negara tidak melakukan yang terbaik untuk menyokong pendidikan, pasti akan berpengaruh pada kualitas SDM ke depannya. Suatu negara tanpa SDM berkualitas, perlu dipertanyakan apa yang akan terjadi di masa mendatang. Harapan kemajuan seakan hilang. 


Maaf, Bapak/Ibu, saking khawatirnya saya, saya sudah membicarakan dan mempersilakan anak-anak untuk ke luar negeri saat dewasa nanti. Salahkah saya bila pesimis pada negara ini? Jangan salahkan kalau ada rakyat yang menganggap bahwa negara memang ingin warganya pintar agar bisa dikendalikan. Sedangkan sudah menjadi prioritas utama saja, masih banyak yang harus dikejar. Apalagi posisinya turun sebagai prioritas pendukung?


2. Penuhi Kebutuhan Fasilitas Pendidikan Dulu

Sebanyak itu anggaran negara, sebanyak itu anggaran untuk MBG, kenapa tidak didahulukan untuk fasilitas pendidikan? Setahun ini saya memikirkan, mencari referensi, tak kunjung menemukan logika tentang urutan prioritasnya. Bukankah sebaiknya ada dulu fasilitas pendidikan yang layak dan merata, baru menjalankan program MBG? Itu yang baru masuk di logika saya. Sekolah gratis 100% pun masih menjadi PR. Adakah sekolah gratis itu? Iuran ini dan itu, beli ini beli itu, nyatanya masih membenani banyak orang tua yang anaknya sekolah di instansi pendidikan yang justru sudah diklaim gratis.


Makanan bergizi tapi sekolah ala kadarnya atau orang tua masih kesulitan memenuhi biaya pendidikan anaknya, bahkan membeli buku dan pena saja kesulitan, apa pendidikan akan berjalan baik, bisa sukses? Bangun dulu sekolahnya, lengkapi fasilitas belajarnya, baru sediakan MBG. Karena anak ke sekolah bukan buat makan, tapi untuk belajar. 


3. Bila MBG Harus Tetap Berjalan, Tolong Evaluasi dan Perbaiki

Oke, bila memang MBG tidak bisa dihentikan karena satu dan lain hal yang saya tidak tahu urusan urgensi apa yang mengharuskan ini tetap berjalan, ketika fasilitas pendidikan masih butuh perhatian ekstra, bijaknya lakukan evaluasi menyeluruh dan terjun dulu ke lapangan melihat apa kebutuhannya. Bukan hanya melihat keberhasilannya saja, kegagalan tetap harus diperbaiki. Memberi MBG ke semua pelajar, boros anggaran karena tak semua butuh. Makanya penting menyasar pelajar yang tepat, seperti di daerah 3T atau sekolah yang mayoritas peserta didiknya berasal dari keluarga kurang mampu.


Selanjutnya, jalankan apa yang banyak disarankan, termasuk oleh Mendikdasmen, yaitu dapur MBG berada di sekolah dan sekolah mengelola MBG secara mandiri. Pasti akan butuh waktu, pembinaan, pendampingan, dan pengawasan ketat, namun ini jauh lebih efektif dan dapat menekan anggaran. Makanan pun dapat disajikan dalam kondisi baik karena tidak proses pengiriman. Petugas atau penjual kantin dan warga sekitar bisa diajak bekerja sama, sehingga tak ada ibu kantin yang mengalami penuruan pemasukan drastis. Terakhir yang saya tahu, BGN bilang, "Kalau sekolah mampu, silakan." Padahal kalau diinstruksikan dan diberi dana, pasti akan mampu. Kalau "yang di atas" sudah ketok palu, ada yang berani bilang tidak?


Baca juga: Cara Menghadapi Perundungan Di Sekolah, Anak dan Orang Tua Wajib Tahu!


Saya berharap betul kejadian anak di NTT yang mengakhiri perjalanannya karena buku dan pena tak lagi terjadi. Cukup, sudah cukup. Jangan lagi pula terjadi fenomena: baru dievaluasi sana-sini setelah ada yang kehilangan nyawa dan viral. Karena tak ada yang lebih berharga bagi orang tua selain kehadiran anaknya. Coba bayangkan bila itu terjadi di anak kita. Kalau saya, mungkin sudah gila. 


Sekali lagi, ini hanyalah keresahan seorang ibu yang berharap ada secercah harapan bagi anak-anak di masa depan. Yang bisa saya lakukan adalah menjalankan peran sebagai orang tua sebaik mungkin. Dan inilah salah satu peran itu, menyuarakan apa yang bisa disuarakan. 


Referensi:

https://ditsd.kemendikdasmen.go.id/artikel/detail/penuhi-hak-pendidikan-anak-melalui-pendidikan-inklusif

Intagram @suaramerdekacom, URL konten: https://www.instagram.com/p/DTnGPtcEhZd/

https://www.idntimes.com/news/indonesia/akui-semua-parpol-punya-dapur-mbg-bgn-asal-dikelola-dengan-benar

https://nasional.kompas.com/read/2025/10/23/17363991/soal-usulan-school-kitchen-waka-bgn-boleh-saja-kalau-sekolahnya-mampu