Orang Tua WAJIB Terlibat Aktif dan Tepat dalam Pendidikan Anak Usia Dini

No comments
"Alby anaknya pendiam ya, Bun?" tanya guru wali kelas saat pengambilan rapor.
"Enggak kok, Bu. Di rumah malah berisik terus."

Sekilas, mungkin tak ada yang menganggapnya istimewa. Percakapan biasa dan sangat umum. Tapi, bagi saya, percakapan singkat yang tak dibahas panjang saat kami bertemu itu, menjadi pengalaman yang semakin menguatkan keyakinan saya bahwa pendidikan dini butuh peran serta orang tua. Wali kelas hanya menyampaikan apa yang terjadi di sekolah. Sedangkan watak, tingkah laku, kemampuan, bahkan bakat anak yang sebenarnya, normalnya justru diketahui dengan lebih baik oleh orang tua. Ada yang berpikiran sama?

Orang Tua WAJIB Terlibat Aktif dan Tepat dalam Pendidikan Anak Usia Dini

Ini tentang anak kedua saya. Waktu itu ia masih di TK A, baru setengah tahun sekolah. Saya lihat, dia bermain seperti biasa dengan teman-temannya saat saya antar dan jemput. Berkomunikasi layaknya anak-anak pada umumnya. Tapi, di kelas, ia jauh lebih pasif dan jarang bicara. Padahal sepengamatan saya, dia sudah lancar membaca, sudah bisa berhitung. Bisa dikatakan cukup pintar soal pelajaran. Makanya, kalau tidak disampaikan oleh wali kelas, mungkin saya pikir dia aktif-aktif saja.

Sejak saat itu, saya mulai fokus memancing keberaniannya untuk "bersuara" dalam proses belajar mengajar. Saya bilang, kalau ada yang tidak dimengerti, boleh kok bertanya ke guru. Kan Bu Guru pengganti Bunda di kelas. Kalau ada teman yang jahat atau suka ganggu Alby pas belajar, boleh kok marah. Kalau disuruh Bu Guru maju ke depan kelas, ngomongnya yang keras biar semua orang dengar. Dan berbagai cara lain sebaik yang saya bisa.

Butuh waktu hampir 6 bulan sampai guru wali kelas bicara lagi pada saya.
"Ternyata Alby bisa teriak juga ya, Bun. Tadi dia marah karena diganggu temannya. Biasanya, suaranya enggak pernah keluar. Sekarang sudah mulai berani ngomong."

Di balik teriakan itu, ada usaha saya dan guru wali kelas yang tak pernah putus. Saya pun baru tahu belakangan bahwa sejak pengambilan rapor kala itu, Alby lebih sering disuruh maju ke depan kelas dan bicara dengan lebih keras. Lebih sering ditanya pendapatnya agar keberanian berbicaranya berkembang. Serta lebih sering pula diminta bersikap tegas bila ada teman yang iseng menggangunya. Dari yang biasanya hanya mengadu kepada saya di rumah, sekarang ia sudah berani meluapkan emosinya dengan suara.

Berteriak bisa jadi hal yang lumrah bagi anak-anak. Namun, bagi anak saya, ini pencapaian yang luar biasa. Tentunya berteriak dengan alasan, ya.

Ini menjadi bukti bahwa usaha guru di sekolah tak akan maksimal bila tidak ada dukungan orang tua. Dan satu lagi, komunikasi antara guru dan anak juga menjadi jembatan utama untuk keberhasilan pendidikan. Berkat inilah, anak saya menemukan keberaniannya.


Masih Kecil, Masih Main-Main, Apa Perlu Segitunya?

Masih Kecil, Masih Main-Main, Apa Perlu Segitunya

Justru karena masih kecil, pendidikan harus dioptimalkan sebagai dasar hidup anak-anak kita. Jangan pernah berpikir bahwa Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dianggap hanya sekadar bermain-main. Berbagai dasar kehidupan dibangun di tahap ini. Tidak melulu soal calistung, nyatanya PAUD hadir untuk membangun kemampuan bersosial, berpendapat, berlaku kreatif, berani, beretika, dan lainnya. Sekali lagi, PAUD bukan sebatas untuk belajar calistung.

Tahukan bahwa 90% perkembangan sel-sel syaraf otak (penglihatan, bahasa, kognitif) dimulai sejak dini dan justru mulai menurun pada usia 6 tahun? Pada usia di bawah 6 tahun lah terjadi pertumbuhan otak yang sangat pesat, atau dikenal juga dengan golden age. Stimulasi menjadi kunci agar fase golden age ini bisa dimaksimalkan demi masa depan anak.

Loh, masa depan itu kan masih panjang. Memang ada kaitannya dengan masa kecil? Kadang kita saja lupa apa yang dialami saat masih kecil.

Ya, pasti ada memori yang tergerogoti waktu. Tapi, bukan berarti pendidikan usia dini tidak berdampak pada masa depan anak. Eksperimen Marshmallow Test yang bertujuan untuk mengukur kemampuan anak dalam menunda kepuasan (delayed gratification) menunjukkan bahwa anak yang mendapatkan pendidikan karakter sejak usia dini, akan lebih siap menghadapi masa depan mereka (self-regulated learner). Perri Preschool Project di Amerika Serikat juga membuktikan bahwa anak-anak yang mengikuti program pendidikan usia dini, memiliki tingkat pendapatan yang lebih tinggi dan tingkat kriminalitas yang lebih rendah saat dewasa.

Selengkapnya mengenai pentingnya pendidikan anak usia dini, bisa di baca melalui tautan di bawah, ya.

Gimana, masih meragukan kalau PAUD itu cuma main-main? Kita melihatnya memang main-main, seru-seruan, dengan pelajaran ringan yang menurut kita gampang. Tapi, ingatlah bahwa bekal masa depan bukan hanya ilmu tertulis, tapi banyak ilmu lain yang tak kalah penting. Dan itu semua sangat bisa didapatkan anak di pendidikan dini.


Orang Tua Perlu Sadar bahwa Ia Masuk dalam Lingkaran Catur Pusat Pendidikan

Orang Tua Perlu Sadar bahwa Ia Masuk dalam Lingkaran Catur Pusat Pendidikan

Sebagus apa pun sekolah yang dipilihkan untuk anak, semahal apa pun SPP-nya, proses pendidikan tak akan berjalan maksimal bila orang tua lepas tangan. Karena yang terlibat dalam keberhasilan sebuah pendidikan bukan hanya sekolah, bukan hanya guru yang mengajar, tapi juga ada keluarga/orang tua, media, dan masyarakat. Inilah yang dinamakan dengan Catur Pusat Pendidikan. 

Seperti kata pepatah, "It takes a village to raise a child". Dibutuhkan satu desa, seluruh kampung, dan seluruh yang didalamnya untuk membesarkan seorang anak. Ya, itulah pendidikan. Kalau hanya menyerahkan pada satu bidak catur saja, tak akan berhasil. Keempatnya harus bersinergi untuk mewujudkan keberhasilan pendidikan. Dan tentu saja, orang tua harus menyadari bahwa ia memiliki peran besar di sana.

Sejatinya, tempat utama dan pertama dalam pendidikan anak adalah keluarga. Tanpa kesadaran itu, anak-anak akan kekurangan satu poin penting dalam pendidikannya. Dan bisa saja akan berdampak besar pada proses belajar dan masa depan mereka. Sudah banyak kita lihat buktinya, kan?

Apalagi anak-anak yang masih belajar di PAUD, yang masih belum bisa mandiri dan bergantung penuh pada orang tuanya. Kalau menurut pribadi saya, justru ini masa-masa terbaik untuk mendidik mereka di rumah. Kalau anak sudah semakin besar, sudah memiliki dunianya sendiri, akan lebih sulit lagi memberitahu dan mengajarinya sesuatu. Coba deh tanya ke para orang tua yang memiliki anak remaja. Makin sulit dan butuh banyak trik. Karena hal luar yang memegaruhi sudah lebih bervariasi.


Apa yang Bisa Dilakukan Orang Tua untuk Terlibat dalam Pendidikan Usia Dini?

Apa yang Bisa Dilakukan Orang Tua untuk Terlibat dalam Pendidikan Usia Dini

Ini ala saya. Beberapa hal yang konsisten saya lakukan agar dapat terus memantau dan terlibat dalam pendidikan anak. Dimulai sejak mereka TK dan alhamdulillah masih berlanjut hingga anak pertama saya sudah kelas 3 SD sekarang. Melalui cara-cara ini jugalah akhirnya saya bisa mendorong keberanian Alby, anak kedua saya, untuk lebih bersuara di sekolah, di lingkungan sosialnya.

1. Tanyakan Apa yang Terjadi Di Sekolah

Memang terkesan cerewet dan terlalu ingin tahu. Tapi saya tekankan dalam diri bahwa saya berhak tahu apa yang terjadi pada anak-anak selama di sekolah. Saya tanya dengan berbagai variasi pertanyaan supaya mereka tidak bosan menjawab. Misal tadi paling seru belajar apa, pelajaran yang paling membosankan, teman yang suka usil, teman yang suka bantuin, Bu Guru ngajarin yang susah atau yang gampang, dan lainnya sesuai kreativitas saya. 

Ini menjadi gerbang informasi harian. Karena sudah terbiasa bercerita, kini anak-anak sudah curhat dengan sendirinya tentang kejadian menyenangakan atau menyedihkan di sekolah. Jadinya saya bisa langsung memberi nasihat, memberi pujian, atau menghubungi wali kelas bila diperlukan.

2. Sesi Belajar di Rumah

Karena masih TK, saya belum menerapkan sesi belajar yang terjadwal. Random saja sesuai dengan mood anak atau bisa juga sambil mereka bermain. Contohnya membuat tes kecil-kecilan untuk kemampuan berhitungnya, mengenal huruf, dan membaca. Kalau ada yang rasanya butuh perhatian lebih, akan saya komunikasikan dengan wali kelas, ditambah juga dengan upaya saya di rumah. 

3. Jalin Komunikasi yang Baik dengan Wali Kelas

Sepertinya berkomunikasi dengan wali kelas saat ambil rapor saja masih kurang. Maka dari itu, sesekali tidak apa menanyakan perkembangan anak kepada wali kelasnya. Tidak perlu sampai pertemuan serius. Misalnya dengan bertanya saat menjemput pulang sekolah, "Tadi setoran hafalan ayat pendek Alby aman nggak, Bu?" Biasanya kalau ada yang kurang, pasti diberi tahu dengan santai juga. Nah, saya akhirnya tahu apa yang harus dilakukan di rumah nanti.

4. Mengusahakan Hadir Setiap Ada Undangan dari Sekolah

Kebetulan saya ibu rumah tangga, jadi sangat memungkinkan untuk menghadiri pertemuan sekolah. Sebisa mungkin, saya selalu datang. Selain demi menggembirakan hati anak, di mana dia akan tersenyum lebar dan berlari memeluk kalau saya datang ke sekolah, saya juga bisa sekalian melihat proses belajar, kondisi sekolah, berbicara dengan guru, atau mengamati tingkah laku anak-anak lain yang bisa menjadi bahan obrolan saya dengan anak-anak biar lebih akrab. Mereka pasti senang kalau saya tahu nama temannya, hehe

Jadi, sekali datang, saya bisa tahu banyak hal tentang sekolah anak. Kalau rasanya ada masukan, saya akan dengan sopan menyampaikan kepada wali kelas. Atau ada yang perlu diberi tahu ke anak, contohnya sesederhana jika air minum di botol habis, bisa diisi di galon sekolah di sebelah ruang guru. Bagi saya, ini juga bagian penting.


Itulah sedikit hal yang selalu saya lakukan agar tetap hadir dalam perjalanan pendidikan anak-anak. Tidak harus sama bila tidak sesuai atau tidak memungkinkan. Tapi, setidaknya ini bisa menjadi gambaran tentang keterlibatan orang tua akan pendidikan anak. Tidak melulu harus yang berat-berat dan serius. Bahkan sambil ngobrol saja, kita bisa tahu apa yang mereka alami di sekolah. Jelas ini bisa menjadi pegangan kita untuk menentukan langkah apa yang sebaiknya dilakukan.


Program "Kelas Orang Tua", Ajak Orang Tua Ambil Peran dengan Lebih Tepat dan Terarah

Program Kelas Orang Tua, Libatkan Orang Tua dalam Pendidikan dengan Lebih Tepat dan Terarah

Kabar baiknya, pemerintah mencanangkan program yang merangkul orang tua agar tak hanya menjadi donatur, tapi juga hadir dalam pendidikan anak. Kehadiran yang aktif dan tepat sesuai dengan kebutuhan anak. Jadi, orang tua bisa melengkapi proses belajar di rumah dengan lebih terarah. 

Beberapa alasan mendasari Kelas Orang Tua ini. Pertama, waktu anak berusia dini masih lebih banyak dihabiskan di rumah dibandingkan di sekolah. Kemudian, orang tua dan satuan PAUD perlu memahami bahwa pendidikan tidak bisa diserahkan sepenuhnya kepada pihak sekolah, serta dukungan ekosistem di sekitar anak juga menjadi salah satu keberhasilan pendidikan. Jadi, Kelas Orang Tua dapat mewujudkan keterbutuhan tersebut.

Di Kelas Orang Tua, komunikasi akan terjalin dengan lebih intens dan dua arah. Orang tua bisa berdiskusi dan mendapatkan ilmu parenting yang tepat. 

Sehingga hasil dari pertemuan di Kelas Orang Tua ini bisa menjadi bekal bagi satuan PAUD dan orang tua untuk menjalankan pendidikan yang lebih utuh. Seperti yang menjadi tujuan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemdikdasmen) akan kemitraan satuan PAUD dengan orang tua, yaitu:
  • Meningkatkan keterlibatan orang tua dalam mendukung pembelajaran anak di satuan PAUD dan di rumah untuk membentuk pribadi anak yang cerdas dan berkarakter;
  • Membangun kerja sama antara kepala satuan PAUD, pendidik, dan orang tua dalam mewujudkan lingkungan belajar yang berkualitas di satuan PAUD;
  • Mendorong dukungan orang tua dalam memantau pemenuhan layanan kesehatan gizi, perlindungan, pengasuhan, dan kesejahteraan anak; dan
  • Memperkuat peran orang tua dalam pendidikan dan pengasuhan yang berkualitas, agar anak dapat bertumbuh kembang secara optimal dan siap bersekolah.

Tahapan pelaksanaan Kelas Orang Tua dimulai dari persiapan. Jadi tidak asal mengadakan pertemuan saja, melainkan harus disesuaikan dengan karakteristik orang tua, potensi, dan kebutuhannya. Kemudian baru dikonsepkan bagaimana penyelenggaraannya serta menyiapkan fasilitas dan narasumber yang dibutuhkan. Dalam tahap pelaksanana, orang tua sebaiknya aktif terlibat dalam topik pembahasan agar di tahap selanjutnya, yaitu evaluasi, pihak satuan PAUD sebagai penyelenggara mendapatkan umpan balik agar dapat membantu orang tua mempraktikkan strategi parenting yang tepat di rumah.

Sebagai orang tua, tentu saya sangat mendukung program Kelas Orang Tua. Bila dulu komunikasi dengan pihak sekolah hanya saat menerima rapor saja, sekarang dengan program ini, apa yang terjadi dengan anak di sekolah, begitu pula dengan apa yang perlu dibantu orang tua di rumah, bisa menemukan titik tengah dalam pertemuan yang memang dibuat khusus untuk mewadahinya.


Ini bentuk keseriusan pemerintah dan satuan PAUD untuk mendongkrak keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak usia dini. Seperti yang sudah saya singgung sebelumnya, di usia dini anak-anak masih sangat lekat dengan orang tuanya. Manfaatkan waktu ini untuk membentuk anak-anak kita menjadi generasi emas yang sukses di masa depannya. Di mana bekal persiapan yang paling dasar adalah saat mereka menduduki jenjang PAUD.

Semangat untuk semua orang tua! Kalau ada informasi Kelas Orang Tua, hadir, ya. Atau kalau PAUD anaknya belum mengadakan Kelas Orang Tua, bisa mengomunikasikannya dengan guru atau kepala sekolah.

Oiya, bagi teman-teman sesama ibu yang ingin tahu lebih banyak tentang kebijakan dan informasi terkini seputar dunia pendidikan, serta mau terlibat aktif dalam pendidikan anak, silakan bergabung di Sidina Community. Saya salah satu anggota yang belajar banyak tentang pendidikan di komunitas ini. Langsung saja kepoin atau DM akun Instagram resminya di @sidina.community.


Semoga bermanfaat.


Referensi

Materi dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah untuk Fasilitator Ibu Penggerak Sidina

#FasilitatorSidinaCommunity

#IbuPenggerak

#SosialisasiFasilitatorSidina

#PendidikanBermutuUntukSemua

No comments

Sebelum komentar, login ke akun Google dulu ya teman-teman. Jangan ada "unknown" diantara kita. Pastikan ada namanya, biar bisa saling kenal :)