Header Ads

Bersyukurnya aku menjadi ibu rumah tangga

Kali ini sesi curcol ya moms..lagi kepengen berbagi aja.
Entah kenapa cerita mama tadi membayang-bayang terus dikepala sampai nggak bisa tidur. Sekitar 3 bulan yang lalu tetanggaku di Padang kehilangan anak perempuannya yang masih berusia 1,5 tahun. Ya Allah dengernya aja hati langsung perih. Ibu mana yang mau melihat jenazah anaknya? Nauzubillahiminzalik. Aku aja liat Byan nangis-nangis karena demam setelah imunisasi mewek apalagi ini, bisa gila mungkin. Cobaan orang lain jauh lebih berat, dan pantaskah aku masih tetap mengeluh? Harusnya aku bersyukur. Bersyukur dikasih kesempatan untuk merawat Byan full 24 jam, dijodohkan dengan lelaki yang mengizinkanku untuk meninggalkan pekerjaan kantor dan menjadi full mom, ditambah lagi dengan rasa bahagia yang ditanamkan dihati selama menjalaninya. Banyak juga kan ibu-ibu muda yang merasa jenuh di rumah setelah memutuskan berhenti bekerja dan malah menimbulkan penyesalan. Alhamdulillah aku masih dilindungi oleh Allah dari hal ssperti itu. Allah memang maha baik.


Balik lagi ke cerita awal. Jadi anak perempuan yang masih lucu-lucunya ini hanya terkena demam tanpa penyakit lain. Cuma itu cerita yang beredar mengenai penyebab meninggalnya. Aku jadi bertanya-tanya sendiri kok bisa ya demam bikin anak meninggal? Apa dokter nggak bisa mendeteksi penyakit lain? Apa waktu itu suhu tubuhnya sangat panas dan telat dibawa ke rumah sakit? Allahualam hanya Allah yang tau. 
Lanjut lagi lah obrolan kita yang membahas mengenai almarhumah yang dititipkan ibunya di tempat penitipan anak (TPA) selama bekerja. Jeng jeeeng!! Jangan-jangan ada kejadian lain yang menyebabkan si anak sampai meninggal tapi nggak dikasih tau. Bisa jatuh, kemakan benda asing atau hal lainnya. Bukannya menuduh dan berburuk sangka, tapi maafkanlah kekuranganku ini yang sangat sensitif dengan yang namanya TPA, baby sitter dan pengasuh (mungkin trauma masa kecil). Dalam hati masih bersyukur dikasih kesempatan untuk mengasuh Byan sendiri.

Jujur hal inilah yang membuat aku meninggalkan semuanya dan menjadi full mom. Nggak sedikit berita dan cerita yang beredar mengenai kelalaian bahkan penyiksaan anak yang dilakukan oleh pengasuhnya sendiri. Bahkan dari TPA yang terkenal dan mahal sekalipun. Itu baru kejadian yang terekspos, belum lagi yang hanya diketahui ibunya saja tanpa diketahui media, dan belum lagi yang masih dirahasiakan pengasuhnya tanpa sedikitpun dicurigai sang mama. Mending cuma menyebabkan luka atau trauma kecil, kalau menyebabkan cacat atau bahkan sampai meninggal gimana? Amit-amit ya Allah. 

Sekali lagi aku bersyukur bisa diizinkan menjadi ibu rumah tangga. Aku sudah kebal mendengar omongan miring orang-orang sekitar yang bilang aku bodoh meninggalkan pekerjaan yang jelas-jelas udah enak dengan gaji yang bakalan diterima seumur hidup, punya mental lemah karena baru punya anak satu udah nyerah dan malah menghindar bukan nyari solusi. Bodo amat orang mau bilang apa. Orang hanya bisa menilai tapi aku yang menjalani. Ya inilah solusi yang aku ambil. Aku lebih memilih memberikan seluruh waktu dan tenagaku untuk menjadi ibu rumah tangga tanpa menggantungkan hidupku dengan pengasuh. Nggak kebayang betapa menderitanya aku menjalani hidup yang serba terburu-buru mengurusi kantor, rumah dan anak. Belum lagi perasaan was-was ninggalin anak sama pengasuh. Alhamdulillah lagi Allah melindungiku dari hal seperti itu. Mungkin aku nggak sekuat dan sehebat ibu-ibu lain yang mampu membagi hidupnya untuk bekerja dan keluarga. Aku juga bersyukur memiliki suami dengan pekerjaan tetap yang gajinya masih cukup untuk memenuhi kebutuhan kita sekeluarga sampai saat ini. Mungkin kalau dihitung secara matematika dengan gaji segitu kita nggak akan sanggup memenuhi seluruh kebutuhan. Tapi dengan keajaiban Allah rumus matematika itu nggak berlaku. Selalu ada kebahagian luar biasa yang kurasakan disaat menyambut suami pulang kerja dengan segelas minuman hangat dan cemilan (kalau sempet masak), menyaksikan tumbuh kembang Byan setiap harinya, lelah karena kesibukanku yang tiada habisnya, ah entah kenapa itu semua sangat membahagiakan. Padahal kalau dipikir-pikir kerja kantoran nggak secapek ngurusin rumah. Jauuuuhhhh banget bedanya. Apa mungkin karena dulu emang akunya yang kerjanya nyantai, haha.

Bagi ibu-ibu pekerja yang memang harus bekerja karena alasan tertentu, semangat yaaa..betapa hebatnya kalian yang bisa membagi waktu dengan adil. Dan buat ibu-ibu rumah tangga yang super juga selalu semangat, sehat dan ikhlas yaa..rumah akan hancur berantakan kalau nggak ada kita, hee.

No comments