Header Ads

Stop Mommy Shaming!


Apa itu Mommy Shaming? 

"Mandiin bayi baru lahir kok gitu sih?"
"Anaknya nggak pernah dipijit ya? Kasian tau badannya itu pada sakit semua"
"Anakmu nggak dikasih ASI? Ih sayang banget masih bayi dikasih sufor"
"Kok gendong anaknya gitu sih? Nggak bisa apa gimana?"
"Iiihh anakmu makin lama makin kurus ya? Emang nggak mau makan? Jadi ibu itu harus kreatif, masaknya harus bervariasi, harus pandai-pandai nyuapinnya"
"Anaknya umur berapa? Kok belum bisa ini? Anakku aja baru 1,5 tahun udah bisa"
"Anakmu nakal banget sih, nggak pernah diajarin ya?"

Pasti kita sangat familiar atau bahkan menganggap kalimat-kalimat di atas adalah hal yang lumrah. Yap, itulah secuil contoh dari mommy shaming. Perkataan yang dilontarkan orang lain untuk mengkritik cara pengasuhan seorang ibu yang dirasa tidak sesuai dengan cara pengasuhan dia sendiri. Terkesan menyudutkan, menyalahkan dan terkesan membanggakan diri sendiri bahwa dialah yang paling benar. Tahukah moms? Tidak sedikit korban dari mommy shaming ini yang merasa depresi, cemas berlebih, tidak becus menjadi seorang ibu dan merasa bersalah. Sangat besar dampaknya bagi psikologis seorang ibu. Apalagi yang sangat disayangkan, kebanyakan pelaku mommy shaming ini adalah keluarga terdekat atau sesama ibu.

Penyebab seseorang melakukan Mommy Shaming

Ternyata ada beberapa penyebab seseorang melalakukan mommy shaming. Berikut penjelannya.
  1. Bosan. Pekerjaan rumah yang nggak ada habisnya bisa membuat jenuh. Apalagi kita merasa terkurung di dalam ruangan dengan suasana dan rutinitas yang sama dalam waktu yang cukup lama akan membuat rasa bosan tidak terelakkan. Nah rasa bosan inilah yang memancing seseorang untuk mencari jalan pintas untuk mencari kesenangan dengan cara mengkritik kehidupan orang lain. Apalagi penggunaan media sosial yang menjadi hal pertama yang dilakukan saat merasa bosan juga akan meningkatkan perilaku mommy shamming.
  2. Marah. Marah akan sesuatu hal juga bisa menyebabkan perilaku mommy shamimg. Misalnya lagi enak-enak makan malam direstoran mewah, tiba-tiba ada anak kecil yang nangis dan nggak berhenti. Atau ada juga anak yang lari-larian sambil teriak-teriak. Nah muncullah emosi yang berujung pada perkataan yang tidak mengenakkan tentang si anak atau cara pengasuhan ibunya. Dibilang ibunya nggak becus lah, nggak bisa mendidik dan sebagainya.
  3. Iri. Yap merasa iri dengan anak orang lain atau iri dengan ibunya. Contohnya ada anak kecil yang dilarang sang ibu untuk makan permen cokelat dan si anak mengangguk dengan patuh. Nah tiba-tiba aja tuh mulut berkomentar "Anaknya kasian ya, masak makan permen cokelat aja nggak boleh. Terlalu dikekang". Nah lho, padahal belum tau kan kalau kemaren-kemaren anaknya sudah menghabiskan banyak permen cokelat dan sekarang lagi batuk? Kenapa kalimat yang menjurus kepada mommy shaming ini terlontarkan? Bisa saja karena si ibu iri dengan anak orang lain yang patuh sedangkan anaknya sendiri tidak mau dilarang makan permen cokelat atau makanan manis lainnya. 
  4. Tidak yakin dengan identitas diri. Tidak yakin dengan identitas sendiri membuat seorang ibu merasa lebih aman berada di sekelompok orang yang punya pemikiran sama. Karena itu ketika merasa ada ibu yang menganut pola asuh yang sama, ada yang cenderung merasa sangat terikat dengan kelompok tersebut, dan sebaliknya menjadi sangat galak dan mudah mengkritik yang tidak sejalan dengan pemikirannya. Hmm, terkadang 'musuh bersama' membuat sekelompok orang merasa menjadi lebih kuat dan solid.
  5. Ingin diakui. Haus akan pujian orang lain. Ingin mendapatkan pengakuan kalau dia adalah ibu yang pandai dalam mengasuh anak jika ada perkembangan anak yang membanggakan. Akibatnya anak orang lain atau ibunya lah yang menjadi korban. Mengatakan sesuatu yang mengungkapkan sisi negatif anak/ibu lain hanya untuk memperlihatkan keunggulan anaknya, kesuksesan dirinya. Bahkan sering memberi nasehat ini itu yang sebenarnya ibu lain tidak membutuhkan.

Cobalah mengubah pola pikir dan mengontrol emosi

Banyak teman-temanku yang menjadi korban dan aku sendiri pun juga sempat mengalami dampak buruk dari mommy shaming ini. Pernyataan yang paling sering aku dengar dan sangat memuakkan adalah "Kok Byan kurusan sih? Makannya susah ya?". Dulu aku selalu menjawab dengan merendahkan diri, mengeluh ini itu, membandingkan dengan anak lain yang badannya terlihat semok, gemuk. Ibu mana sih yang nggak kepengen anakknya gemuk berisi? Aku sempat stres setiap kali menyuapi Byan makan jika makanannya tidak habis, bahkan jadi lebih sering memaksa. Aku sangat takut jika berat badannya turun atau tidak naik sama sekali dalam sebulan. Sampai berpikir macam-macam apakah Byan alergi, menderita suatu penyakit atau kelainan dengan cara mengunyah, menelan dan sebagainya. Tidak jarang aku membawa Byan ke dokter spesialis untuk menanyakan hal-hal yang sebenarnya nggak urgent. Dan akhirnya apa? Byan malah diambil darah untuk cek segala macam dan meminum obat-obatan sampai berbulan-bulan. Ah jika saja aku bisa mengontrol diri dan tidak termakan dengan omongan orang-orang, mungkin Byan tidak akan merasakan hal tersebut.  Sekarang jadi menyesal, sangat menyesal. Belum lagi suasana rumah yang menjadi tidak nyaman karena pertengkaran aku dan suami hanya karena perdebatan mengenai pola makan Byan yang selalu tidak sesaui dengan harapanku. Benar-benar menyiksa rasanya.


Sampai akhirnya aku sering mengalami flek pada kehamilan kedua karena keseringan mengalami stres hebat. Aku tidak bisa terus-terusan begini, ini hanya akan berakibat buruk buat Byan dan diriku sendiri. Aku harus merubah pola pikir dan mengontrol emosi dengan baik.

Byan tumbuh dan berkembang sesuai dengan anak seusianya. Kata dokter berat badannya juga normal. Walaupun Byan tidak gendut seperti anak yang lain, tapi dia katif, pintar, ceria, menyenangkan. Makannya pun sebenarnya oke-oke saja. Ya sama lah kayak kita, kadang ada waktu yang selera makannya memuncak, kadang juga selera makannya menurun. Apa yang harus aku takutkan? Harusnya aku membanggakan dia, bukan malah memperlihatkan sisi buruknya didepan orang-orang. Selama ini aku salah. Aku harus berubah dan mulai perlahan memperbaiki ini semua. Alhamdulillah dan sangat bersyukur, beban yang selama ini bergelantungan dipundak serasa hilang. Aku bisa enjoy menjalani hari-hari bersama Byan dirumah. Aku bisa fokus ke berbagai hal, tidak hanya melulu memikirkan makan Byan. Ah bahagianya.

Biarkan orang mau ngomong apa, masuk telinga kiri, keluar telinga kanan. Ambil baiknya, buang jeleknya. Lebih baik konsultasikan ke dokter anak jika memang dirasa sangat mengkhawatirkan.

Dan jangan sampai kita menjelek-jelekkan anak sendiri didepan orang lain. Itu hanya akan membuat keadaan semakin buruk.


Coba dari dulu aku begini, lebih tenang, lebih dewasa menyikapi omongan orang yang selalu menyalahkan dan menyudutkan.

Yah inilah proses belajar. Butuh waktu, menguras emosi dan tenaga.

Yuk sesama para ibu, janganlah kita saling menjatuhkan satu sama lain, janganlah sering membandingkan anak kita dengan anak orang lain, simpanlah kata-kata pedasmu. Lebih baik kita saling berbagi ilmu, berbagi pengalaman demi  memaksimalkan tumbuh kembang anak kita. 

Ingatlah, setiap anak itu unik. Dan anakku bukan anakmu, jadi stop berpikiran bahwa semua anak itu bertumbuh kembang dengan cara yang sama.

STOP MOMMY SHAMING!


Semoga bermanfaat ya :)

Sumber:
https://www.haibunda.com/mom-life/d-4082783/ini-berbagai-penyebab-seorang-ibu-lakukan-mom-shaming
Pengalaman pribadi


No comments