Header Ads

Teruntuk Suamiku


Tulisan ini khusus aku persembahkan untuk suamiku..

Lelaki yang telah menemaniku selama 3 tahun ini dan akan selalu begitu seterusnya, selamanya.
Si kalem yang tak banyak menuntut, yang selalu menerima apapun keadaan istrinya, yang selalu memakan apapun yang dimasak istrinya, tanpa ada amarah, tanpa ada rasa kesal.
Si pekerja keras yang rela begadang hanya demi memperjuangkan kebahagiaan keluarga kecilnya, yang rela bangun disepertiga malam hanya untuk menengadahkan tangan memohon kepada yang maha kuasa agar selalu dilimpahkan rezeki demi kehidupan yang layak untuk anak istrinya dan selalu menyempatkan diri bersujud ditengah kesibukan kantornya hanya untuk mendoakan orang-orang yang dicintainya.
Sempurna bukan? Ya memang sangat sempurna dimataku, istrimu.

Tapi tetap saja aku banyak mengeluh, banyak meminta, banyak menuntut.
Yah mungkin bisa dibilang istri yang tidak bersyukur. Serasa selalu berdosa disaat semua kesalahan berkecamuk dipikiran ini, seperti sekarang.
Masih banyak keinginannya yang belum bisa aku penuhi, harusnya itu yang paling aku utamakan. Ini malah memilih mengerjakan yang lain.
Tidak jarang perkataannya aku abaikan, bahkan dibantah. Ah entah sudah berapa kali aku mengulang dosa besar yang sama.
Seharusnya aku menjadikannya manusia paling terhormat di dunia ini, karena setelah terikatnya janji pernikahan maka surgaku berada dikaki suamiku.
Hidupku sepenuhnya untuk melayanimu dan membesarkan anak-anakmu. Memang begitulah kodrat seorang wanita.
Dan lagi-lagi aku belum bisa menjalankannya dengan baik.
Maafkanlah istrimu ini suamiku..

Genggamlah tangan ini selalu, bimbinglah istrimu yang masih banyak kekurangan ini agar menjadi perhiasan dunia yang paling indah untukmu, bahkan sampai kita bersama-sama ke surga nanti.
Istrimu sangat teramat membutuhkan tanganmu untuk digenggam, pundakmu untuk bersandar, tubuhmu untuk dipeluk, nasehatmu untuk berbenah diri, tauladanmu untuk menjadi panutan, kasih sayang dan cintamu untuk kenyamanan hidupku.
Selalulah seperti ini suamiku, selalulah menjadi suami yang baik, yang terbaik untukku.
Sabarkanlah selalu dirimu sampai nanti aku bisa menjadi yang terbaik juga untukmu.

Huaaaaaa mewek...terharu nulis beginian. Tapi karena udah lama berniat untuk mempersembahkan satu tulisan untuk si Ayah diantara ratusan tulisan di blog ini, akhirnya kesampaian juga Alhamdulillah.
Ini buat kamu suamiku...khusus buatmu.

Jadi pengen nostalgia kisah pertemuan kita. Mana tau ada orang lain yang baca bisa mendapatkan inspirasi (kayak bagus banget aja perjalanan kisah cinta kita, haha). Tak apa-apa lah, kan blog pribadi. Bebas dong mau nulis apa, mau cerita apa.

Tau nggak apa yang membuat aku tertarik dengan si ayah? Karena dulu waktu masa OJT CPNS di Kementerian PU, dia sering sholat dhuha di mesjid. Kebetulan kita seangkatan. Walaupun sebelumnya sudah kenal, tapi memang hal sederhana inilah yang membuatku tertarik. Walaupun sederhana, tapi tidak semua orang bisa melakukannya. Termasuk aku.
Nah setelah itu baru deh kita pedekate ala-ala abegeh. Biasalah ngajak jalan, ngajak makan, minta info ini itu, minta ajarin sesuatu, dan kebanyakan memang aku yang memulai. Hahaha kegatelan sih emang. Tapi singkat cerita, si ayah juga ngerespon dong. Dengan senang hati menerima ajakan macem-macem, malah juga ngajakin ketemuan dan minta di temenin. Hmmm indahnya masa-masa itu, sering malu-malu sendiri, ketawa-ketawa sendiri. Telponan bisa berjam-jam, selalu berkabar, ngambek-ngambekan bahkan pernah hampir putus. Tapi ya jodoh nggak akan kemana, buktinya masih tetap aja lengket sampai sekarang.

Setelah sekian lama kita menjalin kasih (ceileh bahasanya), akhirnya kita sepakat untuk melanjutkan hubungan ini ketahap yang lebih serius. Kalau diceritain detail mah kepanjangan, pokoknya lumayan butuh perjuangan deh. Awalnya yang tidak disetujui karena kita berasal dari pulau yang berbeda dan masing-masing orang tua kita takut anaknya bakalan jarang pulang nantinya, akhirnya dengan perjuangan yang lumayan bikin jantung hampir copot, kami pun direstui. Aiiiiihh bahagianya. Bisa juga kita merasakan sibuknya mempersiapkan acara pernikahan seperti yang teman-teman seumuran kita rasakan. Tak begitu banyak kendala yang berarti selama persiapan ini, begitupun juga di hari H. Semuanya berjalan sesuai rencana, Alhamdulillah.

Memulai kehidupan baru dengan seseorang yang pasti ada kekurangan dan kelebihannya ternyata membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri. Jujur awalnya aku merasa berat, banyak rasanya sifat kita yang tidak sesuai, sering perdebatan kita memancing amarah masing-masing dan berujung tidak saling menyapa satu sama lain. Kita masih belum bisa mengontrol ego, masih sering keras kepala, merasa diri paling benar. Tapi seiring berjalannya waktu, pertengkaran-pertengkaran itulah yang makin membuat kita bisa saling mengerti, berusaha menerima kekurangan masing-masing, bahkan menambah rasa cinta diantara kita. Memang menyebalkan dan bikin bete kalau udah diem-dieman dirumah. Padahal cuma berdua doang, yang harusnya bisa ngobrol-ngobrol eh malah bikin risih. Maklumlah pasangan baru, hehe.

Sampai sekarang kita sudah memiliki seorang anak tampan, dan insyaAllah akan nambah satu krucil lucu lagi. Suamiku yang tercinta ini sudah menjadi semakin dewasa, semakin sabar, selalu mau mengalah dan selalu menjadikan keluarga kecil ini tujuan hidupnya. Apapun yang dia lakukan adalah untuk kami istri dan anak-anaknya.

Begitupun dengan aku sendiri. Walaupun belum bisa mengimbangi sang suami, tapi aku selalu berusaha dan terus berusaha menjadi istri dan ibu yang baik dalam keluarga ini. Tugasku hanyalah itu. Memang tidak segampang yang dipikirkan, tapi inilah ladang pahalaku, kodratku.

Semoga semakin bertambah usia pernikahan kita, semakin harmonis juga hubungan kita ya suamiku tersayang. Iiih jadi kangen deh. Cepet pulang ya, nggak usah lembur, hehe.

Udah dulu ya, nanti yang baca pada mual. Kepanjangan dikit lagi mungkin udah pada oek oek mau muntah *maap maap.

Yang sudah terlanjur membaca sampai habis semoga bisa mengambil yang baik-baiknya dari curhatan ini ya :)


No comments