Header Ads

Mau resign tapi...


Tulisan ini aku dedikasikan penuh untuk ibu-ibu diluar sana yang lagi galau kepengen resign kerja tapi banyak kendala yang menjadi alasan kenapa belum berani juga mengambil keputusan. 

Tulisan ini aku khususkan untuk emak-emak yang merasa terbebani dan tersiksa setiap harinya saat berangkat ke kantor dengan mengiklaskan si kecil tinggal bersama pengasuh di rumah. Serasa teriris-iris hati ini melihat buah hati tercinta menangis-nangis berlari ke arah pintu berharap sang ibu berhenti melangkahkan kakinya semakin jauh dan berbalik pulang memeluknya. Belum lagi sesampainya dikantor, pengennya bisa menyelesaikan pekerjaan dengan baik eh malah nggak bisa konsentrasi karena memikirkan anak apakah baik-baik saja di rumah. Apalagi kalau si kecil sakit, duuuuh nggak bisa diceritain deh rasa bersalah, merana, galau, sedih, kalut bercampur jadi satu. Ingin rasanya memeluk anak di tempat tidur dan menjaganya, tapi apa dikata perintah bos harus dijalankan dulu demi sebuah tanggung jawab.

Apakah ini salah? Tidak ada yang salah. Pilihan untuk bekerja atau menjadi ibu rumah tangga adalah hak setiap wanita. Selama anak, rumah dan pekerjaan kantor masih terkontrol dengan baik, nggak ada salahnya seorang ibu bekerja. Tapi bagaimana jika sebaliknya? Semua berasa hancur karena memaksakan diri untuk bertahan menjadi wanita karir. Kita tersiksa, anak terbengkalai, urusan rumah makin terabaikan, apalagi kerjaan kantor yang semakin hari semakin nggak ada yang beres. Jika permasalahannya seperti ini mending resign aja deh bu, hati tenang dan yang pasti akan banyak hal baik terjadi.

Eits tapi harus dipertimbangkan baik buruknya dulu ya buibu. Banyak hal yang akan berubah nantinya setelah memutuskan untuk berhenti bekerja. Semua akan berubah total. Semuanya tidak akan sama lagi.

Jadi apa saja yang harus dipikirkan matang-matang sebelum memilih resign dari pekerjaan? Berikut kita bahas satu per satu. (Tapi kok rasanya aku pernah membahas ini ya? Cuma dicari-cari nggak nemu nulis dijudul yang mana. Diulang lagi sedikit nggak apa-apa ya.)

Kesiapan Mental

Harus yakin dulu dengan kemampuan diri sendiri apakah nanti akan sanggup menjalani hidup hampir 24 jam di rumah tanpa haha hihi bersama teman atau berinteraksi dengan orang lain? Semua kesibukan rumah tangga akan menghiasi hari-hari mulai dari buka mata sampai merem lagi. Kerjaan rumah tangga ini segudang lho, apalagi ditambah ngasuh anak. Syukur ada yang bantu-bantu, kalau nggak? Percayalah ini bisa bikin pusing kepala. 

Biasanya dikantor menghabiskan waktu didepan komputer dibalik tumpukan berkas, dari pagi sampai pulang kantor masih bersih dan wangi, kalau capek bisa istirahat makan siang dulu atau sekedar ngopi-ngopi bareng teman. Tapi kalau dirumah beda lagi ceritanya. Boro-boro bisa wangi dari pagi sampai sore, 5 menit setelah mandi aja udah keringetan lagi, udah kena muntahan baby, udah kena coklat si kakak yang belepotan kemana-mana. Kalau capek mana bisa istirahat, apalagi tidur. Anak-anak siapa yang jagain? Makanannya siapa yang masakin? Apalagi buat ngopi-ngopi cantik sama teman, hhh cuma halusinasi. 

Biasanya bisa belanja sesuka hati karena punya penghasilan sendiri, sekarang apa-apa harus izin suami. Mau ini itu harus ngajuin proposal dulu, kalau disetujui baru deh dana bisa dicairkan. Konsultasikan terlebih dahulu mengenai masalah ini dengam suami ya, jangan sampai nanti menjadi bahan  pemicu cek cok. 

Setelah memutuskan untuk resign, akan banyak omongan pedas orang-orang yang terdengar di telinga. Bukan hanya dari teman-teman dan tetangga tapi dari kelurga terdekat juga. Pasti akan banyak hujatan yang dilontarkan. "Udah kerja enak-enak kok malah berhenti. Ijazahnya buat apa? Udah capek-capek kuliah sampai sarjana ujung-ujungnya malah dirumah juga ngurusin anak. Tamatan SD juga bisa. Kasian ya orang tuanya udah dikuliahin tapi malah kayak gini". Itu hanya secuil contoh kata-kata mutiara yang akan kita dengar. Masih banyaaaak lagi yang lebih menyakitkan. Tapi kalau sudah bertekad bulat untuk resign, abaikan saja semuanya. Responlah dengan bijak, jangan sampai malah menjadi ajang pertengkaran.

Siapkanlah mental dengan matang untuk merasakan perubahan drastis ini. Jangan sampai menyesal karena salah mengambil keputusan. Tidak semua orang akan betah dirumah dalam jangka waktu lama dengan kerjaan rumah tangga yang menumpuk dan perubahan besar lainnya yang terjadi. Jadi waspadalah! Waspadalah! Hehe

Kesiapan Ekonomi

Tidak bisa dipungkuri bahwa kesejahteraan ekonomi menjadi hal yang sangat penting dalam sebuah rumah tangga. Perkirakanlah apakah jika nanti kita resign dari pekerjaan keuangan masih dalam batas aman atau tidak. Jika tidak, apakah ada solusi lain? Jika jawabannya masih tidak, maka pikirkanlah kembali keputusan untuk resign. Tapi jika jawabannya kondisi keuangan masih aman atau bahkan ada solusi lain untuk mengantisipasi masalah ekonomi yang akan terjadi nanti, maka pilihan untuk berhenti kerja bisa dipertahankan. Diskusi dengan suami menjadi kunci utama untuk membahas masalah keuangan ini karena beliualah kepala keluarga. 

Tujuan Kedepannya

Setiap orang harus memiliki tujuan hidup bukan? Bukan berarti kita akan kehilangan tujuan hidup jika memilih untuk jadi ibu rumah tangga. Hanya saja tujuan hidup yang selama ini kita kejar bisa berganti dan tidak lagi sama. Kalau dulu saat masih kerja mungkin tujuan yang akan dicapai adalah naik jabatan, nah kalau nanti setelah jadi ibu rumah tangga mungkin bisa mencoba bisnis baru, mengembangkan hobi, jualan online, dan sebagainya. Pokoknya harus ada sesuatu yang harus dicapai nantinya walaupun entah kapan akan terwujud. Jadi kita masih akan terus semangat menjalankan hari-hari yang indah ini, hehe. Hidup cuma sekali gaeeess, jangan disia-siakan begitu saja. Banyak kan wanita sukses diluaran sana yang bukan berasal dari pekerja kantoran? Jika mereka bisa, kita pun juga harus bisa. Semangat!

Dukungan Orang Terdekat

Dalam sebuah keluarga, suamilah yang menjadi kepalanya. Jadi dukungan suamilah yang paling utama harus didapatkan sebelum mengajukan surat resign. Bagimana jika suami belum mengizinkan? Mungkin rencana resign harus ditunda dulu sembari menjelaskan secara perlahan apa alasan yang menjadi dasar untuk berhenti kerja. Apa tujuan kita kedepannya dan hal-hal lain yang dianggap perlu untuk dijelaskan. Jika sudah mendapat izin dari suami, barulah bercerita tentang rencana ini kepada keluarga terdekat atau saudara. Tapi ingat, hanya kita dan suamilah yang paling mengerti kondisi keluarga. Saran dan masukan dari keluarga atau orang lain bisa diterima atuaupun tidak. Selama menurut kita keputusan untuk resign yang terbaik maka memang itulah yang paling baik. 


Nah itulah beberapa hal yang harus dipertimbangkan sebelum resign dari pekerjaan. Selanjutnya apa saja sih kendala yang sering dihadapi seorang ibu untuk memutuskan berhenti bekerja dan menjadi ibu rimah tangga seutuhnya? Berikut beberapa alasan tersebut dan apa saja yang bisa dilakukan untuk menghadapinya.

Tidak Diizinkan Orang Tua

Ini adalah alasan terbanyak yang menjadi kendala. Malah ada yang baru cerita rencana mau resign aja, bapaknya udah marah-marah nggak ketulungan dan ibunya nangis-nangis sesegukan. Memang bikin dilema sih kalau udah begini. Nggak mungkin rasanya menyakiti hati orang tua yang sudah melahirkan dan membesarkan kita dengan penuh kasih sayang dan perjuangan. Mereka akan merasa kecewa jika anak yang selalu mereka banggakan selama ini dan bekerja di perusahaan ternama tiba-tiba memilih untuk mengasuh anak saja dirumah. Hancur sudah harapan yang selama ini mereka bangun dengan susah payah. 

Tapi...kita sudah berkeluarga. Kita memiliki tugas baru menjadi seorang ibu. Surga kita sudah berpindah kepada suami, maka perintah suamilah yang harus diikuti terlebih dahulu. Bukannya kita menjadi anak durhaka, tapi memang begitulah adanya. Dengan dinyatakannya "sah" pada saat pernikahan berlangsung, maka beralih pula tanggung jawab kedua orang tua kita kepada suami.  Jadi tugas utama kita sekarang adalah mengabdi kepada suami dan mengurus keluarga dengan sebaik-baiknya.

Bicaralah perlahan kepada kedua orang tua apa alasan kita untuk resign. Apa saja masalah yang kita alami selama memaksakan diri untuk tetap bekerja. Walaupun diawal pasti akan ditentang dengan keras, tapi jika tekad kita sudah bulat maka lama-kelamaan orang tua pasti akan mengerti dengan kondisi ini. Jelaskan juga rencana kedepannya kita akan melakukan apa agar tidak mengecewakan hati orang tua terlalu dalam. Berikan juga gambaran kalau suksesnya seseorang bisa datang dari mana saja, bukan hanya dari kerja kantoran. Buktikan suatu saat kita bisa membanggakan mereka dengan hal yang lain agar perjuangan kedua orang tua untuk menyekolahkan kita terbayarkan.

Tidak Diizinkan Suami

Nah kalau yang satu ini memang rada berat permasalahannya. Mau nggak mau kita sebagai istri memang harus nurut dengan kata-kata suami. Kalau suami pengennya kita tetap bekerja, ya harus dituruti dulu. Mungkin suami masih ingin melihat istrinya menjadi wanita karir dan dirasa itu merupakan suatu hal yang membanggakan. Atau bisa juga suami masih takut akan berkurangnya pemasukan dan berakibat fatal bagi perekonomian keluarga. Lakukanlah pendekatan secara perlahan. Ceritakan keluh kesah yang kita rasakan selama ini. Bagaimana tidak nyamannya meninggalkan anak dirumah dengan pengasuh yang belum tentu mendapatkan perlakuan terbaik. Atau hal lain yang dianggap menjadi beban selama menjalani peran sebagai wanita karir dan ibu sekaligus. Selain itu juga beri masukan kepada suami hal apa saja yang bisa dilakukan untuk menjaga perekonomian keluarga agar tetap stabil. Kita sebagai wanita juga dituntut untuk lebih kreatif dan pandai mencari celah untuk menyelesaikan masalah. Jadi berpandai-pandailan menenangkan hati suami atas apa yang ia khawatirkan.

Suami mana sih yang tega melihat istrinya menderita terus-terusan? Pasti lambat laun hatinya akan luluh. Rasa tanggung jawab seorang suami nggak akan bisa disembunyikan. Percayalah untuk masalah yang satu ini hanya butuh waktu. Sabarkanlah diri sembari menunggu perubahan keputusan suami. Perbanyak doa agar segalanya dipermudah dan diberikan yang terbaik oleh Allah SWT.

Takut akan Permasalahan Ekonomi

Wajar memang jika kekhawatiran ini membayangi keluarga kita kalau satu pintu pemasukan ditutup dan hanya mengandalkan penghasilan suami. Biasanya semua keinginan bisa dipenuhi karena kondisi keuangan yang sangat baik, tiba-tiba nanti berubah karena sudah pasti uang di rekening tidak akan bertambah sebanyak sekarang lagi.

Wajib berdiskusi dengan suami untuk membahas mengenai masalah ini sebelum memutuskan untuk resign. Tanamkan dalam diri kalau rejeki sudah ada yang mengatur. Selagi kita berusaha semaksimal mungkin, pasti jalan akan selalu ada untuk membuka pintu-pintu rejeki yang lain. Memang tak disangkal kalau banyak yang bilang "Suami dan istri kerja = penghasilan 100%. Suami kerja dan istri off = penghasilan 100%". Ternyata teori ini bukan hanya sekedar omong kosong belaka. Sudah banyak yang membuktikan bahwa pernyataan ini nyata. Selama gaya hidup terkontrol, insyaAllah gaji suami akan cukup dan dicukupkan.

Logikanya saja ya, kalau istri kerja otomatis pengeluaran akan bertambah untuk membayar pengasuh atau jasa penitipan anak di daycare. Belum lagi ongkos ke kantor, pengeluaran untuk makan, penyesuaian gaya hidup dengan teman-teman kantor dan banyak lagi pengeluaran lainnya. Nah ujung-ujungnya apa? Gaji istri sudah habis kan untuk pengeluaran itu semua? Makanya jika istri off dan mengurus rumah serta mengasuh anak, penghasilan suami sudah pasti akan bisa memenuhi kebutuhan kan? Sama saja keadaannya jika istri bekerja ataupun dirumah, karena jika istri bekerja tetap juga yang tersisa hanya gaji suami karena gaji istri sudah habis untuk pengeluaran yang sudah dijelaskan diatas.

Syukur-syukur nanti ada jalan untuk buka usaha atau penghasilan lain yang bisa dilakukan istri dirumah selama mengurus rumah. Bisa makin bertambah kan? Percayalah Allah itu ada dan maha melihat usaha hambanya. Selagi niat kita baik, pasti hasilnya akan baik. Setiap anak yang dilahirkan ke dunia ini sudah ada rejekinya masing-masing. Allah sudah menjamin itu. Jadi sebagai hamba-Nya apa lagi yang harus kita takutkan? Walaupun serasa berjuang dari nol lagi, tapi yang terpenting adalah keinginan kita untuk menjaga anak-anak dirumah dan berjihad untuk total mengurus keluarga bisa terwujud. Hasilnya pasti akan jauh lebih indah.

Takut akan bosan dirumah

Lihatlah selalu sisi positif dari setiap pilihan yang kita ambil. Merasa bosan dirumah itu wajar, toh saat bekerja pun kita juga pernah merasa bosan bukan? Sebisa mungkin carilah cara-cara ampuh untuk menghadapi kebosanan itu agar tidak membuat stres yang ujung-ujungnya penyesalan akan timbul. Ingatlah bahwa banyak orang diluaran sana yang ingin bersama anak-anaknya dirumah tapi tidak bisa karena terpaksa untuk bekerja. Nah sedangkan kita sudah diberikan kesempatan berharga untuk mengurus keluarga malah tidak bersyukur. Selalu ingat alasan kita berhenti bekerja untuk apa? Untuk anak bukan? Jika kita selalu mensyukuri dan melihat sisi positifnya insyaAllah bosan yang dirasakan akan bisa diatasi. Kelolalah emosi dengan baik dan lihatlah ibu rumah tangga lain yang memiliki kesamaan dengan kita, mereka terlihat bahagia-bahagia saja bukan? Jadi apa yang harus ditakutkan? Mau jadi ibu rumah tangga ataupun bekerja kalau kita hanya melihat sisi negatifnya pasti akan merasa bosan juga. Ini ada beberapa tips untuk menghilangkan rasa bosan ala aku, mungkin bisa menginspirasi - "Me Time" tanpa harus meninggalkan mereka dirumah.

Takut akan omongan negatif orang-orang

"Ya ampun sayang banget ninggalin kerjaan, orang aja pada berebut mau kerja disana. Kasian ijazahnya nggak kepake, ngapain kuliah tinggi-tinggi kalau bakalan dirumah juga. Anaknya kan bisa dititip di daycare, mentalnya kok lemah banget, padahal anak baru satu, aku aja udah punya anak tiga masih bisa kerja". Alaaaahhh ini mah hal yang paling nggak penting untuk dipikirkan. Mau kerja kek, mau jadi ibu rumah tangga kek, kita akan selalu tetap dikritik oleh orang-orang kok. Hempaskan saja orang-orang yang tidak tau apa-apa itu, yang tau kondisi keluarga kita ya kita sendiri. Emang mereka yang ngasih makan kita? Nggak kan? Ya udah kenapa harus digubris. Tanpa mereka kita masih bisa hidup kok. Iya iyain aja kalau mereka sudah mulai melontarkan kata-kata yang kurang enak. Atau balaslah dengan bijak jika memang diperlukan. Maklumlah namanya penonton pasti merasa diri mereka paling benar dari pada yang ditonton.

Hmmm sepertinya sudah kepanjangan ya. Ini mah kalau dibahas nggak kelar-kelar hehe. Yang jelas itulah inti dari permasalah yang dihadapi emak-emak yang lagi galau pengen berhenti kerja tapi adaaaaa aja yang menghalangi. Nikmatilah hidup ini selagi bisa mak, jangan menyiksa diri dengan hal yang dirasa menyakitkan dan terpaksa untuk dilakukan. Berikan kesempatan diri sendiri untuk  melakukan yang terbaik demi orang yang dicintai.

Maaf ya sekali lagi ini bukan untuk menghasut ibu-ibu pekerja agar resign dan jadi ibu rumah tangga. Jangan bernegatif-thingking ya. Tulisan ini aku persembahkan untuk para ibu yang berkeinginan kuat untuk resign tapi masih terkendala dengan suatu hal.

Mau ibu pekerja ataupun ibu rumah tangga, kita tetaplah ibu terbaik untuk anak-anak kita. Tidak ada yang salah dengan kedua pilihan tersebut. Niatnya pasti sama kan? Demi anak. Semangat!

Semoga bermanfaat ya. Maaf jika ada kata-kata dalam tulisan ini yang menyinggung ataupun tidak pada tempatnya :)



3 comments:

  1. Dulu aku sempet kepikiran, tp skr ini kayaknya udh firm utk ttp kerja mba :). Suami sih bebasib, mau kerja gpp, tapi kalo resign dia seneng. Setelah kita bicarain, kyknya aku ttp lbh seneng kerja sih. Apalagi aku hobi traveling, dan so far travelingku itu dibiayain dr gajiku 60% nya. So kalo ga kerja, artinya aku hrs siap utk jrg jalan2, yg mana aku ga bakal kuat. Drpd stress di rumah trus, aku lbh memilih traveling paling ptg. Jd ga mungkin utk resign :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Apapun pilihannya pasti itu yang terbaik mba. Kan kita sendiri yang tau kondisinya gimana. Mana yang nyaman, itu yang dijalani. Yakaaaannn???
      Semangaaattt 💪

      Delete
  2. Walaupun aku masih sendiri, resign juga jadi problema yang susah dipikir. Bakal cepet dapet kerja lagi nggak, aku makan ikut siapa, tinggal di mana, dsb. Yah walaupun orang tua gak maksa aku buat kerja, tapi aku juga gak punya alasan buat tetep nganggur.

    ReplyDelete