Header Ads

Pentingnya Menyesuaikan Diri dengan Pekerjaan Suami


Pekerjaan aku dan suami yang sama-sama PNS dan di satu instansi yang sama, membuat aku sangat paham dan mengerti dengan kondisinya. Gimana nggak ngerti, wong kerjanya ditempat yang sama cuma beda bagian doang. Ya secara garis besar aku tau apa pekerjaan suami dan suami pun juga me apa yang aku kerjakan. Jadi sebenarnya nggak ada masalah yang berarti untuk kita akan hal ini. Serasa semuanya akan berjalan baik-baik saja.

Tapi walaupun begitu, tetap saja ada perasaan sedih dan kesepian jika suami dinas keluar kota untuk beberapa hari. Pengennya dia dirumah aja nggak usah dinas. Nah begitu juga saat aku yang ditugaskan utuk dinas luar kota, pasti ada perasaan berat hati untuk meninggalkan suami dirumah sendirian. Apalagi kalau salah satu dari kita ada yang lembur, kadang saling tunggu-tungguan atau kadang ada yang pulang duluan karena lemburnya kemaleman. Padahal profesi kita sama lho, tapi tetap juga kan butuh penyesuaian.

Keadaan makin berbeda lagi setelah aku memutuskan untuk resign dan menjadi full mom demi mengasuh anak dirumah. Walaupun aku sudah paham betul dengan pekerjaan suami, tetap saja aku merasa kesal tiap kali suami lembur apalagi dinas luar kota. Bawaannya pengen ngamuk-ngamuk berasa sengsara ngurus anak sendirian sendangkan dalam bayangan dikepala si suami enak-enakan menikmati wisata alam di kota tempat dinasnya setelah tugas selesai. Ya karena aku tau dan juga sudah merasakan kalau setelah tugas selesai, pasti selalu disempatkan untuk jalan-jalan ke objek wisata dikota tujuan dinas tersebut, semepet-mepetnya pasti dipaksain buat ke sentra oleh-oleh. Sedih dong ya? Karena aku nggak bisa merasakan kenikmatan yang sama dan malah stres dirumah hanya berdua doang dengan anak tanpa ada orang lain. 

Padahal baru segitu doang ya? Dasar emak-emak baperan, haha. Apa ceritanya dengan ibu-ibu lain yang mengalami hal lebih ekstrim? Ada yang suaminya angkatan laut, bisa ditugaskan berlayar sampai 2 tahun. Ada juga polisi yang harus berjaga saat liburan yang harusnya bisa dinikmati bersama keluarga, atau tentara yang istrinya harus rela ditinggal berperang ke daerah konflik. Aiiiihhh ngebayanginnya aja serem ya cyiiiin. Suamiku cuma pergi buat dinas beberpa hari aja udah bikin bete, apalagi sampai bertahun-tahun? Apalagi yang pekerjaannya harus mempertaruhkan nyawa? Acungkan jempol buat istrinya *top.

Nah disinilah kita sebagai istri kudu strong menghadapi fenomena yang tak bisa dielakkan ini. Harusnya sebelum menikah kita sudah tau kan konsekuensi yang harus dihadapi berhubungan dengan pekerjaan suami? Walaupun berat, kita harus kuat mak. Suami berjuang mati-matian diluar sana juga untuk keluarganya kan? 

Berikut beberapa hal yang harus kita camkan dalam diri agar bisa menerima pekerjaan suami dengan ikhlas. 

Bersyukurlah karena suami masih memiliki pekerjaan

Alhamdulillah suami masih dibukakan pintu rejekinya, masih diberikan jalan untuk menafkahi keluarganya. Mau suaminya pengangguran? Nggak kan? Ingatlah perjuangan suami untuk mendapatkan pekerjaan tersebut mungkin tidak mudah. Yakali suami harus berhenti kerja dan mencari pekerjaan lain yang lebih santai hanya untuk menyenangkan hati kita. Resikonya besar bu. Emang nyari pekerjaan gampang? Makanya syukurilah apapun pekerjaan suami kita. Apalagi pekerjaan tersebut adalah cita-cita sedari kecil, waaah harusnya kita sebagai istri mendukung karena kehebatan suami meraih cita-citanya.

Nggak kerja, ya nggak makan

Kalau suami nggak kerja, kita mau makan apa? Kalau suami nggak dinas luar kota, beli baju sama bedak pake uang siapa? Kalau suami menolak untuk ditugaskan piket malam terus dipecat, bayar cicilan yang segudang mau pake apa? Pake daun rambutan? Yah begitulah kenyataannya. Kalau cuma tiduran dan meleha-leha doang dirumah, emang duitnya bisa datang begitu saja? Makanya kita harus bersabar jika ditinggal suami bekerja dan menanti kepulangannya dirumah. Doakan selalu agar rejeki suami dipermudah dan diperbanyak.

Suami diluar sana bekerja, bukan main-main

Hilangkanlah pikiran negatif saat keberangkatan suami ke tempat kerjanya. Jangan pernah berpikir kalau suami hanya bersenang-senang dengan teman dan hanya melakukam pekerjaan kantor yang gampang. Yang namanya kerja itu pasti membutuhkan tenaga dan pikiran. Tukang parkir aja rela panas-panasan sampai gosong demi menafkahi anak istri. Suami pasti sangat sibuk dan pusing dengan kerjaannya, emang kita doang yang capek ngurus anak dirumah? Jadi jangan sampai berpikiran macam-macam ya para istri.

Pengorbanan harus dilakukan

Bukan hanya kita yang ingin suami punya banyak waktu bersama keluarga, mungkin suami juga menginginkannya. Tapi apa mau dikata, ada tanggung jawab yang harus ditunaikan demi menghidupi keluarganya. Pengorbanan dengan meninggalkan keluarga inilah yang akan membawakan hasil nantinya. Kita berkorban perasaan karena ditinggalkan suami bekerja, dan suami juga mengorbankan keinginannya untuk bersama keluarga. 

Penting untuk berdiskusi dengan suami jika merasa ada yang mengganjal

Berdiskusilah dengan suami jika memang ada hal-hal yang dirasa tidak mengenakkan menyangkut pekerjaannya. Jangan sampai dipendam sendiri dan berlarut-larut, nanti malah menjadi bom waktu yang bisa meledak kapan saja. Misalnya jika suami sudah benar-benar sibuk sehingga tidak ada waktu sedikitpun dengan keluarga dalam waktu yang cukup lama dan anak-anak sudah sering menanyakan ayahnya, sedangkan si ibu nggak tau harus menjawab apa selain "ayah kerja nak". Ingatkan suami bahwa anak-anak juga membutuhkan kehadiran ayahnya. Kalau kita sih mungkin bisa mengerti ya walaupun dipaksa-paksain, tapi kalau anak-anak pasti belum paham kan? Bisa merencanakan liburan singkat jika nanti sudah tidak sibuk lagi atau pulang agak cepat beberapa hari dalam sebulan agar bisa bermain dengan anak dan ngobrol-ngobrol dengam istri. Pekerjaan dan keluarga harus berjalan seimbang, jangan sampai sibuknya bekerja menghancurkan keluarga.

Semoga bermanfaat :)


2 comments:

  1. Akupun bersyukur kerja di bidang yg sama dgn suami. Kita sama2 banker dan kerja di bank asing yg sama :p. Cm beda departmen. Makanya aku ngerti bangeeet kerjaan dia, serumit apa, tekanannya seperti apa, krn aku ngalamin yg sama. Makanya kita jrg ribut soal kerjaan :p. Suami jg ga ngomel kalo tau aku pulang malam, lwt dr jam 10, krn dia jg tau banget load kerjaan ku seperti apa, dan resikonya kalo sampe aku nunda2 kerjaan. Dia tau.

    Itu makanya kita ga mau ribut soal kerja. Aku tau suami capek, makanya hiburan utk dia hanya main pingpong stiap hr jumat dr aelesai kantor sampe jam 12 malam. Aku izinin, krn aku tau dia jd bisa lbh rileks.

    Suami juga tau kalo obat stressku ya traveling. Makanya kalo aku tiba2 pesen tiket utk jalan saat weekend bareng dia ato temen2, dia udh ga kaget, dan ngizinin. Drpd istrinya stress dan marah2 :p

    ReplyDelete
  2. Emang enak kalau bidang pekerjaan kita sama dengan suami, jadinya nggak bakalan ada protes ini itu deh. Bisa saling mengerti juga hiburan buat diri masing-masing itu apa. Nggak ribet mah kalo udah kayak gini. Jempol deh buat mba dan suami 👍

    ReplyDelete