Header Ads

Ternyata Kecerewatan Ibu Berbanding Lurus dengan Kemampuan Bicara Anak


Baru kali ini aku merasa bersyukur menjadi seorang ibu yang cerewet setelah sekian lama menyesalinya dan selalu berusaha merubah diri menjadi ibu yang kalem dan lemah lembut. Saking cerewetnya, tidak satu hari pun yang terlewati tanpa membuat kehebohan di rumah. Kecuali kalo lagi ngambek, baru deh suasana horor akan menghantui seisi rumah, hahaha. 

Keinginan besarku untuk menjadi ibu baik yang tak banyak berkata-kata sudah hilang semenjak aku mendengarkan true story dari sepupuku sesama ibu beranak dua. Hanya saja jam terbangnya sudah lebih banyak karena usia anak pertamanya yang sudah memasuki 7 tahun. Lebih senior. Kejadian apa yang dialaminya sampai-sampai mampu merubah pola pikirku sebelumnya?

Jadi begini...

Anak pertamanya yang berjenis kelamin perempuan jauh lebih pendiam dan sangat sedikit berkomunikasi dengan kata-kata jika dibandingkan dengan anak keduanya berjenis kelamin laki-laki yang sudah mampu berbicara sejak usia 2 tahun. Sungguh perbedaan yang sangat signifikan. Si kakak lebih banyak menggunakan bahasa isyarat untuk menjelaskan dan meminta sesuatu. Sangat pendiam. Sampai ibunya kebingungan karena diusia yang sama, anak-anak lain sudah mampu menceritakan sebuah kejadian dengan baik. Barulah setelah memasuki bangku sekolah dan bertemu dengan orang banyak, kosa kata yang dia miliki mulai bertambah, satu per satu kata-kata baru terucap dari mulut mungilnya. Sampai akhirnya sekarang dia sudah bisa mengikuti ketertinggalannya selama ini dalam kemampuan berbicara. 

Bukannya bermasalah secara fisik, anak manis ini normal kok. Sehat-sehat saja tanpa kekurangan suatu apapun. Tapi kenapa dia mengalami keterlambatan dalam berucap? Ternyata penyebabnya adalah pola asuh yang diterapkan sang ibu. Berusaha untuk menjadi ibu yang sempurna dan tidak "bawel" menjadikan minimalnya komunikasi verbal antara anak dan ibu. Sang ibu tidak ingin menjadi sosok yang ditakuti dan selalu menekan anaknya dengan kecerewetan yang sudah menjadi sifat alamiah seorang wanita. Sebisa mungkin jangan sampai rentetan kata tanpa jeda keluar dari mulutnya. Pokoknya suasana rumah harus adem ayem tanpa keributan.

Ternyata niat baik ini malah berdampak kurang baik bagi perkembangan sang anak. Kosa kata yang dipelajarinya menjadi sangat sedikit karena orang terdekatnya jarang bicara. Si kakak lebih memilih untuk diam dari pada berkata-kata. Mungkin ada keinginan untuk menyampaikan sesuatu, tapi karena kurangnya koleksi kosa kata yang dimiliki makanya memilih untuk diam atau menggunakan bahasa isyarat yang dirasa bisa menyelesaikan masalah. 

Tersadar akan kurang tepatnya pola asuh yang diterapkan selama ini, sang ibu langsung merubahnya. Hal yang sama tidak boleh terjadi lagi kepada anak keduanya. Dan alhamdulillah berkat perubahan yang dilakukan, kedua anaknya sudah bisa berbicara secara lancar sesuai usianya. Malahan si adik lebih cerewet lagi karena begitu banyaknya kosa kata yang dipelajari dari kedua orang tua yang sudah memperbaiki kesalahan yang lalu dan telah berkomunikasi dengan normal serta dari si kakak yang juga mulai banyak bicara.

Terkadang tidak semua cara mengasuh yang kita anggap paling benar dan paling tepat untuk diterapkan kepada anak memberikan respon yang baik pula. Mungkin inilah salah satu alasan kenapa wanita diciptakan dengan bakat kecerewetan. Ya jalani saja dan nikmati saja kecerewetan itu tanpa harus merubah diri menjadi orang lain. Ternyata bermanfaat bukan? 

Kita sebagai orang tua sangat wajar jika melakukan kesalahan selama menjalani peran ini. Belajar dan terus belajar untuk menjadi lebih baik adalah kunci sukses untuk mendidik anak kita agar menjadi generasi terbaik. Kalau salah ya diperbaiki, jangan sampai menyalahkan diri sendiri dan menggangap tidak pantas menjadi seorang ibu. Ingatlah, setiap ibu pastilah sosok terbaik untuk anaknya. 

Semoga bermanfaat :)


No comments