Header Ads

Jagalah Lisanmu, Ibu.


Hampir satu minggu berlalu sejak kata-kata menusuk hati terucap dari mulut mungil anak pertamaku, Byan. Walaupun kejadiannya sudah terlewati beberapa hari yang lalu, tapi patah hatinya masih membekas sampai detik ini dan mungkin tidak akan pernah bisa hilang.

Jadi begini kejadiannya.

Seperti biasa siang itu Byan lagi asiknya menikmati segelas susu hangat sambil nonton YouTube. Memang aktifitas ini sanagt dinantikan oleh Byan karena dia diberi kebebasan selama lebih kurang 30 menit untuk menonton channel kesukaannya, dan aku pun juga bisa scroll-scroll media sosial sejenak sebagai "me time" sehari-hari.

Dan tiba-tiba saja..

"Bunda benci kan kalau Byan lagi makan nasi", ucapnya santai.

Jleb!

Tiba-tiba air mataku jatuh. Begitu sakit rasanya. Reflek aku memeluk Byan dan bilang "Bunda nggak pernah benci Byan, nak. Bunda selalu sayang Byan. Maafin bunda ya nak, bunda salah. Maafin bunda. Bunda nggak akan pernah bilang itu lagi sama Byan. Maafin bunda ya nak. Byan mau kan maafin bunda?". Dengan polosnya dia mengangguk dan melanjutkan aktifitasnya. Wajahnya masih biasa, tapi tidak biasa buatku. Wajahnya masìh ceria, tapi entah bagaimana dengan hati dan perasaannya, entah berapa goresan yang telah aku buat dalam hatinya. 

Aku teringat kata-kata yang terucap saat Byan mulai susah makan. "Byan denger ya, bunda benci kalau Byan makannya diemut. Bunda juga benci kalau Byan muntah karena makannya diemut". Beberapa kali aku pernah melontarkan kalimat itu. Tidak ada maksud lain, aku hanya ingin menekankan bahwa hal yang dilakukannya itu salah dan tidak baik. Kalimat yang aku kira bisa merubah Byan menjadi lebih baik, ternyata malah menjadi bumerang yang siap melukai diriku sendiri maupun Byan.

Bukan hanya itu, beberapa kali juga Byan mempraktekkan kalimat yang sama dengan yang aku ucapkan saat adiknya yang baru berusia 3 bulan muntah atau gumoh setelah kenyang menyusui. "Iih Byan benci kalau adek muntah!". 

Jleb!

Sekali lagi hatiku hancur. Masih dengan alasan yang sama.

Aku salah, aku benar-benar salah. Sempat menyalahkan diri sendiri dan merasa gagal menjadi ibu untuk beberapa saat, tapi akhirnya aku bisa memulihkan diri dan menganggap inilah salah satu proses belajar yang harus aku lalui untuk menjadi seorang ibu yang lebih baik dari sebelumnya.

Menjadi orang tua adalah sebuah proses, 
dimana pasti ada trial-error
 yang terjadi di dalamnya. 
Bukan dimaknai sebagai ajang coba-coba, 
tapi sering kali 
cara mendidik yang kita anggap terbaik 
ternyata masih banyak membutuhkan koreksi.

Padahal beberapa kali suamiku mengingatkan untuk menyaring kata-kata yang keluar di depan anak walaupun dalam keadaan emosi sekalipun, tapi malah aku bantah dengan ketus.  Yakin bahwa Byan akan baik-baik saja dan melupakan semua kejadian dan ucapan kurang baik yang secara tidak sadar keluar dari mulut ini karena terlalu dikuasai emosi. Toh selama ini aman-aman saja, Byan tidak pernah meniru kata "benci" itu. Malah dengan kata itu lah dia bisa mengerti bahwa bundanya tidak suka dengan hal yang dia lakukan.

Tapi itu SALAH.

Ternyata aku sudah menanamkan sesuatu yang tidak baik dalam dirinya. Aku menyepelekan berbagai tulisan tumbuh kembang anak yang selama ini selalu aku baca mengenai seberapa hebatnya kemampuan meniru Byan diusianya yang sudah melewati tahun kedua. Ah, betapa tidak dewasanya aku selama ini karena masih kurang bijak dalam mengendalikan emosi dan menyaring kata-kata.

Sama sekali tidak terbayangkan peristiwa semacam ini akan terjadi. Memang benar, guru terbaik adalah pengalaman. Walaupun menyakitkan dan susah dilupakan, tapi akhirnya aku sadar bahwa nasehat suami yang selalu aku abaikan itu ternyata benar. Mulai sekarang aku benar-benar harus selalu mengucapkan kata-kata yang baik agar tidak terkena bumerang-bumerang lainnya dikemudian hari.

Ini hanyalah contoh kecil betapa luar biasanya peran ibu dalam mendidik anak. Memang benar kalimat yang selama ini sering kita dengar bahwa "Ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya". Jika buruk contoh yang ibu berikan, maka buruk pula prilaku anaknya. Tapi jika baik contoh yang diberikan ibu, maka berhasillah madrasah itu mencetak generasi emas pembangun agama dan bangsa.

Ini hanyalah sharing pengalaman yang aku harap bisa menjadi bahan pelajaran bagi kita semua. Semoga bisa menjadi bahan renungan dan jangan sampai hal yang sama terjadi lagi dikemudian hari (pesan yang sama untuk diriku sendiri).

Semoga bermanfaat :)


2 comments:

  1. Yah, ini juga cermin bagi saya karena kerap khilaf melontarkan kata-kata negatif pada anak dan akibatnya anak menyerap energi negatif itu dalam perilaku.
    Sangat tidak mudah menjadi ibu. Kita sebagaimana anak sana berproses agar bisa mengarungi hidup lebih baik.
    Saya juga berupaya keras agar bisa menyaring, tetapi pada praktiknya itu bukan hal yang mudah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba, harus berusaha keras supaya tidak keceplosan lagi mengeluarkan kata-kata yang kurang pantas untuk didengar anak yang masih polos. Semoga kita bisa ya. Semangat 💪

      Delete