Tidak Produktif Belum Tentu Minim Skill

Fokusnya pemerintah dalam pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) serta aktifnya Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia dalam mengkampanyekan "SDM Unggul, Indonesia Produktif" tentunya berdampak positif terhadap tenaga kerja dan enterpreneur di Nusantara. Hal ini dikarenakan begitu besarnya sokongan yang diberikan oleh berbagai pihak demi meningkatkan produktifitas masyarakat melalui sosialisasi, pelatihan khusus, hingga bantuan dana.

Tapi sudah pahamkah kamu apa yang dimaksud dengan "unggul"?

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mengartikan "unggul" sebagai lebih tinggi (pandai, baik, cakap, kuat, awet dan sebagainya) dari pada yang lain-lain; utama (terbaik, terutama). Jika dikaitkan dengan SDM, maka yang dikatakan unggul bukan hanya berbicara masalah skill atau keterampilan, namun masih banyak faktor lain yang tidak kalah penting seperti kekuatan mental, daya juang dan keadaan lingkungan.

Masih teringat jelas percakapan singkat saya dengan beberapa kenalan mengenai masalah ketidak produktifan mereka. Padahal kalau diperhatikan, mereka bukanlah orang-orang yang tidak memiliki keterampilan, bahkan bisa dibilang sangat terampil dalam satu bidang tertentu.

_________________________________________________________________________________

"Dek, kok nggak nyari kerja? Kan sudah lama wisuda".
Dia merupakan lulusan Diploma III Multimedia dari salah satu universitas negeri ternama.
"Malas ah, nanti aja nyari kerjanya. Mau istirahat dulu".
Padahal percakapan ini terjadi hampir satu tahun setelah kelulusannya. Hampir setiap hari warung di sebelah rumah saya tidak pernah absen dikunjunginya hanya untuk menghabiskan waktu tanpa hasil yang positif.

_________________________________________________________________________________

Meskipun terlihat biasa, namun percakapan ini sungguh sarat makna bagi saya. Kebetulan pemuda tersebut adalah anak tunggal dari keluarga konglomerat dengan usaha rumah makan yang dimiliki orang tuanya. Apapun yang diminta, pasti diberikan. Terlihat dari tampilannya yang memiliki sepeda motor matic, handphone keluaran terbaru dan sesekali hangout bersama teman-temannya mengendarai mobil. Toh tanpa bekerja pun, dia sudah mendapatkan semuanya. 

Ilustrasi pemuda nongkrong di warung
Source : www.google.com
Adakah yang salah? Ada. Didikan yang terlalu memanjakan dan menfasilitasi penuh tanpa adanya dorongan untuk mandiri sangat mempengaruhi produktifitas seseorang. Seharusnya diusia yang bisa dibilang bukan anak-anak lagi, kemauan untuk mandiri dan menghasilkan uang sendiri sudah terbentuk. Apalagi dia seorang laki-laki yang akan berkeluarga kelak, tanggung jawab akan berada dipundaknya. Analisa sederhana saya ini membuktikan bahwa MENTAL juga berpengaruh besar terhadap produktifitas seseorang.

Kasus kedua beda lagi ceritanya. Kala itu teman dekat saya dengan cantiknya mengenakan rompi kecil hasil rajutan tangan kreatif sang ibu. Saat saya bertanya, dia hanya menjawab dengan ekspresi datar seakan-akan rompi yang dikenakannya bukanlah sesuatu yang spesial. Kebetulan ibunya hanya mengisi hari dengan bantu-bantu di rumah keluarga besar dan membawa sebagian hasil masakan sebagai pengganti upah harian. Ayahnya sekarang lebih sering menganggur karena tidak ada lagi truk pasir yang bisa dibawa sebagai penghasil pundi-pundi uang.

_________________________________________________________________________________

Kebetulan saat saya berkunjung kerumahnya, obrolan seputar produk rajutan ini tidak bisa terelakan. Penasaran kenapa hasil rajutan yang terlihat sangat menarik dan rapi ini tidak dijual, jawaban beliau sangat klasik. "Mau dijual ke siapa?".

_________________________________________________________________________________

Saya tahu persis betapa mahalnya produk hasil rajutan yang terpajang di toko atau pusat perbelanjaan. Tas kecil saja yang kurang lebih hanya seukuran buku tulis, bisa dibandrol dengan harga Rp. 300.000,-. Memang wajar rasanya jika produk yang satu ini memiliki nilai jual tinggi, mengingat tidak semua orang memiliki kemampuan untuk merajut. Harusnya ibu teman saya bisa menghasilkan uang dari skill yang beliau miliki sehingga mampu membantu perekonomian keluarga. Terhambat dengan tidak adanya ilmu berdagang serta akses untuk menimba ilmu itu pun tidak tahu harus bagaimana, akhirnya keterampilan merajut itu hanya diasah saat waktu senggang saja. Di lingkungan sekitar tempat tinggal juga sama, kalau tidak kerja kantoran ya jadi ibu rumah tangga. Tidak ada contoh nyata yang bisa dijadikan pemacu semangat atau sumber belajar.

Berbeda dengan anak muda sekarang yang begitu mudahnya mendapatkan informasi dari kecanggihan teknologi, orang tua hanya mendengar informasi dari mulut ke mulut dan sesekali dari televisi jika kebetulan ada waktu untuk menonton. Kalau tidak ada tetangga yang berbincang tentang program pemerintah mengenai pengembangan SDM, barang tentu ibu-ibu ini tidak akan tahu. Jadi bisa ditarik kesimpulan bahwa KETIDAKTAHUAN menghambat langkah beliau untuk memberdayakan diri.

Harga produk hasil rajutan setelah memasuki pusat perbelanjaan
Selama ini banyak pihak yang berpikiran bahwa keterampilan adalah modal  utama untuk mampu terjun ke dalam dunia kerja atau usaha. Kenyataannya, tidak produktif belum tentu tidak terampil. Contoh di atas hanyalah dua kasus kecil ditengah jutaan kasus serupa yang butuh perhatian khusus. Sayang sekali rasanya jika SDM terampil yang seharusnya bisa berkontribusi positif dalam dunia usaha dan ekonomi, malah tersia-siakan hanya karena hal-hal yang kurang mendapat perhatian, padahal bisa diselesaikan.

Disamping pemerintah, Kadin yang merupakan wadah para pengusaha untuk berkonsultasi dan berkomunikasi mengenai hal yang berkaitan dengan perdagangan, perindustrian dan jasa, telah berusaha optimal dalam memberikan pelatihan dan sosialisasi terkait pengembangan keterampilan SDM hingga kepada bantuan dana usaha. Namun jika diperhatikan kepada hal yang paling sederhana dan mendasar, ada hal lain yang dibutuhkan seluruh masyarakat Indonesia aktif sebagai SDM yang dimiliki bangsa ini agar dapat menjadi SDM unggul yang berdaya saing.

Pentingnya Membangun Kesiapan Mental untuk Berlaku Produktif

Membentuk kesiapan mental tidak bisa hanya dalam hitungan hari, namun butuh waktu yang lebih panjang. Semakin dini mempersiapkan mental untuk menjadi SDM unggul yang mampu berlaku produktif, maka akan semakin baik pula hasilnya. Jika selama ini pemerintah hanya fokus terhadap SDM yang siap kerja, namun kali ini kasusnya sedikit berbeda.

Program sosialisasi terkait membangun kesiapan mental dapat diberikan kepada anak-anak, para orang tua dan tenaga pendidik agar mereka paham akan pentingnya membentuk kepribadian yang bukan hanya terampil namun juga produktif,  berdaya saing, dan mampu menghadapi tantangan global yang penuh resiko sehingga dapat mempraktekkannnya dalam kehidupan sehari-hari menyertai tumbuh kembang anak.

Orang tua dan tenaga pendidik memegang peranan penting dalam mempersiapkan mental anak agar dapat menjadi SDM unggul nantinya. Membentuk generasi bangsa yang berpotensi untuk membangun negara memerlukan dukungan berbagai pihak, bukan hanya keluarga, namun seluruh lapisan masyrakat, lembaga hingga pemerintah.

Perdalam Target Program

Selama ini program sosialisasi dan pelatihan yang diadakan masih terfokus kepada pengusaha atau kaum muda yang memiliki minat terhadap bidang tertentu. Padahal SDM yang dimiliki bangsa ini tidak terbatas hanya kepada kaum muda saja.

Ibu-ibu rumah tangga dengan kemampuan masaknya, atau bapak-bapak paruh baya dengan kemampuan menjahitnya pun masih layak untuk mendapatkan pembinaan dan arahan dari pemerintah agar mampu mengembangkan dirinya lebih jauh lagi sehingga skill yang dimiliki tidak tenggelam begitu saja termakan usia. 

Beberapa kali saya membaca dan menonton berita atau talkshow yang membahas mengenai orang-orang luar biasa nan terampil tanpa ragu membagi ilmunya kepada warga di daerah terpencil yang masih sangat awam dengan dunia usaha. Merubah perekonomian bangsa tidak harus terfokus pada hal besar saja, dan malah mengenyampingkan hal kecil yang dianggap tidak mampu berperan besar. Seharusnya pemerintah bisa melakukan hal serupa atau bekerja sama dengan pahlawan milenial ini untuk membantu SDM di Indonesia membuka jalan terang demi kehidupan lebih baik dengan memiliki keterampilan yang mampu merubah perekonomian keluarga dalam skala kecil dan berpengaruh kepada perkembangan perekonomian negara dalam skala besar. Bayangkan saja jika jutaan SDM di pelosok negeri yang selama ini tidak terjangkau program pemerintah, dibekali berbagai keterampilan yang mampu bersaing di pasaran sehingga mereka berhasil diberdayakan demi pembangunan negeri. Pasti dampak besarnya akan dirasakan dalam perkembangan di berbagai sektor, terutama ekonomi.

Perluas Penyebaran Informasi

Kemajuan teknologi yang semakin merasuki setiap lini kehidupan masyarakat memang memberi banyak kemudahan dalam penyebarluasan informasi. Begitu pula dengam program pemerintah, Kadin Indonesia, atau pihak lain yang berkaitan dengan perdagangan, usaha atau pelatihan tenaga kerja terampil. Hanya dalam satu langkah mudah, pengumuman pun bisa dibaca oleh seluruh pengguna jaringan internet. Namun bagaimana dengan penduduk yang tinggal di pelosok yang masih belum terjamah jaringan internet? Ibu-ibu atau bapak-bapak yang masih setia dengan handphone tombolnya yang hanya bisa digunakan untuk menelepon teman dan kerabat? Meskipun mereka mampu, mereka bersemangat, mereka sangat butuh akan arahan yang tepat, tapi jika pintu yang seharusnya menjadi gerbang kesuksesan ini malah tidak pernah mampu digapai.

Sebaiknya aparat daerah seperti Camat, Lurah atau Ketua RT secara berjenjang bisa dilibatkan dalam menyebarluaskan program-program pemerintah terkait pengembangan keterampilan dan usaha dengan cara terjun langsung di tengah masyarakat agar semua kalangan bisa turut aktif dan manfaaatnya pun bisa dirasakan secara maksimal dan menyeluruh.

Membangun Indonesia produktif melalui SDM yang unggul tidak hanya terhambat oleh masalah teknis, namun banyak masalah non teknis yang selama ini kurang mendapat perhatian.  Banyak ibu-ibu yang telah berhasil mempraktekkan bagaimana caranya membuat kue enak, namun mereka tidak tahu bagaimana memulai menjualnya. Banyak sarjana arsitektur yang sudah paham betul bagaimana caranya mendesain sebuah rumah, namun mereka tidak memiliki mental unggul sehingga tidak memiliki minat memanfaatkan ilmunya. Banyak bapak-bapak yang paham betul bagaimana caranya bercocok tanam cabe keriting yang bebas hama dengan hasil melimpah, namun kondisi tempat tinggalnya tidak mendukung untuk mengimplementasikannya dan tidak menemukan solusi akan hal itu.

Kadin Indonesia yang beranggotakan pengusaha nasional dari berbagai sektor diharapkan bisa menjadi penyambung tangan masyarakat kepada pemerintah dan sebaliknya dalam upaya pengembangan usaha dan keterampilan sehingga dapat menjadi SDM yang unggul dan produktif. Bukankah setiap orang memilki kemampuan unik masing-masing yang jika diarahkan dengan tepat dapat menghasilkan hal yang besar?


Semoga kedepannya dengan gebrakan-gebrakan baru, seluruh kalangan masyarakat, baik yang muda maupun yang tua, baik yang di kota maupun yang di desa, baik yang melek teknologi maupun yang masih awam teknologi, seluruhnya dapat merasakan program-program pengembangan SDM yang digalakkan pemerintah demi terwujudnya Indonesia produktif.

Inilah pandangan sederhana saya akan keadaan nyata dari SDM yang dimiliki Indonesia. Tidak produktif belum tentu tidak memilki skill. Karena unggul tidak hanya berpatok pada keterampilan yang dimilki, namun bagaimana caranya agar keterampilan itu dapat menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi diri sendiri, keluarga dan negara.


Tulisan ini dikutsertakan dalam blog competition yang diselenggarakan oleh Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia dengan tema "SDM Unggul, Indonesia Produktif" agar masyarakat dapat berpartisipasi menyampaikan aspirasi, saran dan harapannya kepada pemerintah untuk mendorong Indonesia lebih produktif, berdaya saing dan fleksibel dalam menghadapi tantangan global demi terwujudnya visi Indonesia "Pembangunan Sumber Daya Manusia".
Infografis diolah oleh penulis berdasarkan referensi.
Foto dan gambar yang dicantumkan bersumber dari dokumentasi pribadi, https://kadin.id/, www.google.com dan www.freepik.com.

Referensi :
  1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1987 Tentang Kamar Dagang dan Industri
  2. https://kadin.id/
  3. https://gresik.co/kadin-itu-mahkluk-apaan-sih-mengenal-kadin-sejarah-dan-tujuannya/



No comments:

Post a Comment

Sebelum komentar, login ke akun Google dulu ya teman-teman. Jangan ada "unknown" diantara kita. Pastikan ada namanya, biar bisa saling kenal :)