Pentingnya Merencanakan Waktu Kehamilan dan Jumlah Anak Setelah Menikah, Pertimbangkan 7 Hal Ini!


Banyak anak banyak rezeki.
Ungkapan ini jangan disalahartikan bahwa dengan memiliki banyak anak, maka rezeki akan mengalir deras dengan sendirinya. Kehadiran anak memanglah sebuah pemberian besar dari Tuhan yang harus disyukuri, tapi jangan lupa bahwa anak juga perlu dicukupkan kebutuhan hidupnya dan dijamin masa depannya. Kehidupan anak sangat tergantung dengan orang tua, mulai dari lahir hingga dewasa nanti. Bukan hanya kebutuhan dalam bentuk fisik, namun kebutuhan batin seperti kasih sayang, waktu bersama dan perhatian juga wajib diberikan secara continue

Menurut Aditya A. Putra, GM Family Planning & Reproductive Health DKT Indonesia, "Kehidupan masa kini yang kompleks dan penuh tantangan membuat perencanaan keluarga menjadi poin penting saat Anda akan berumah tangga. Hal ini penting agar Anda bisa mencapai potret keluarga yang ideal".
- dikutip dari womantalk.com -

Maka dari itu, orang tua wajib merencanakan jumlah anak dan mengatur jarak kehamilan setelah menikah agar tidak menimbulkan percikan masalah, baik bagi ayah, ibu, maupun anak. Adanya perencanaan yang matang, secara tidak langsung akan menjauhkan keluarga dari permasalahan terkait parenting, ekonomi, fisik, psikologis atau cek-cok dengan pasangan. 

Jika memang belum siap memiliki anak atau menambah anak, maka jangan memaksakan diri melakukannya. Meskipun banyak tuntutan dari orang sekitar untuk segera memiliki momongan setelah menikah dan akan menganggap permasalahan serius jika sampai hal tersebut tidak terjadi, faktanya hanya pasangan suami-istrilah yang paling mengetahui apa yang terbaik untuk keluarga mereka. Setiap orang atau keluarga berhak memilih prioritas hidup masing-masing sesuai pertimbangan dan kebutuhan masing-masing pula.



***


Hal Positif yang Didapat Bila Merencanakan Waktu Kehamilan dan Jumlah Anak Pasca Menikah

Foto : freepik.com

Sebelumnya sudah disinggung secara garis beras alasan pentingnya merencanakan waktu kehamilan dan jumlah anak setelah menikah. Bukan hanya tentang kehidupan orang tua, namun kesejahteraan anak dan kondisi keluarga juga turut merasakan pengaruhnya. Berikut dijelaskan secara rinci hal positif apa saja yang akan dirasakan jika melakukan perencanaan yang matang terkait jumlah anak dan kehamilan.


Tidak Menjadi Beban

Kehadiran buah hati adalah momen yang paling membahagiakan bagi orang tua. Namun beberapa kejadian membuktikan bahwa ada beberapa orang tua yang ternyata tidak menginginkan anak yang baru saja dilahirkan atau dikandungnya. Contohnya masih marak praktek aborsi dimana-mana, bayi dibuang atau penyiksaan dan penelantaran anak yang dilakukan oleh orang tua kandungnya. Banyak faktor yang melatarbelakangi, bisa karena waktu kehamilan yang tidak tepat, kesulitan ekonomi, belum matangnya fisik dan psikis orang tua atau keadaan lingkungan. Dengan adanya perencanaan, tekanan dan beban yang ditanggung orang tua dalam menjalani masa kehamilan hingga nanti setelah anak dilahirkan dapat dihindari atau diminimalisir. Jika telah terencana, tentu saja semua persiapan terkait hadirnya anggota baru dalam keluarga sudah dipikirkan dengan matang, sehingga dapat memberikan yang terbaik untuk menunjang kehidupan anak.


Terjaganya Kesehatan Fisik dan Mental Orang Tua

Menjadi orang tua tidaklah mudah. Banyak tanggung jawab baru yang harus dipikul terkait pengasuhan anak. Apalagi bagi orang tua baru yang belum berpengalaman. Merencanakan waktu kehamilan dan jumlah anak akan memberi waktu lebih untuk mempelajari banyak hal sehingga mental calon ayah dan ibu akan jauh lebih siap. Selain itu, kondisi fisik yang dijadikan poin pertimbangkan akan membuat orang tua peduli atas besarnya keterkaitan antara kesehatan tubuh dengan keadaan bayi serta dampaknya bagi ibu itu sendiri. Berkonsultasi dengan dokter saat memulai program hamil dapat memberikan gambaran pasti mengenai kesiapan fisik ibu, supaya permasalahan kehamilan, kelahiran dan pasca melahirkan yang membahayakan ibu dan bayi bisa dihindari. 


Terjaminnya Masa Depan Anak

Tugas orang tua tidak terhenti begitu saja saat anak dilahirkan, namun mengasuh dan membesarkan anak hingga dewasa nanti juga merupakan kewajiban dan tanggung jawab selanjutnya yang wajib dilakukan. Apa yang diberikan orang tua, itu pula yang menentukan kehidupan anak. Perencanaan untuk mempersiapkan keadaan fisik dan mental orang tua, biaya hidup anak, biaya pendidikan anak, bekal ilmu parenting dan segala bentuk persiapan terkait tumbuh kembang anak menjadi kunci terjaminnya masa depan anak yang cerah. Semakin baik generasi yang terbentuk karena keberhasilan pengasuhan orang tua yang terencana, maka akan semakin bermanfaat pula kehidupan anak bagi dirinya sendiri, keluarga, lingkungan dan negara.


Menentukan Kesejahteraan Keluarga dan Kualitas Hidup

Bukan hanya memberikan manfaat jangka pendek, namun perencanaan waktu kehamilan dan jumlah anak juga menentukan kesejahteraan dan kualitas hidup keluarga. Kesejahteraan dapat diartikan dengan minimnya masalah yang terjadi karena kehadiran anak, sehingga ketentraman dan ketenangan akan selalu memberi kebahagiaan dalam keluarga. Kehidupan yang berkualitas maksudnya adalah baiknya kondisi menyeluruh keluarga dari segi fisik, emosi dan sosial sehingga baik orang tua maupun anak dapat menjadi pribadi yang bermutu. 


Wanda K. Nicholoson, MD, salah seorang anggota ACOG, mengatakan bahwa kesejahteraan keluarga bahkan dapat dicapai dengan merencanakan jumlah anak. “Jika sudah ada rencana yang jelas, anak tidak lagi jadi beban ekonomi. Orangtua akan jauh lebih sejahtera sehingga anak bisa jauh lebih sehat,” ujarnya. 

 - dikutip dari nakita.grid.id -


Orang Tua Memiliki Waktu untuk Mengembangkan Diri dan Mewujudkan Mimpi

Meskipun mengasuh anak adalah tanggung jawab orang tua, namun sebagai manusia biasa orang tua juga memiliki kehidupan pribadi yang tidak boleh dikesampingkan. Anak yang bergantung pada orang tua pasti sedikit banyaknya membuat orang tua berpikir berulang kali untuk melakukan sesuatu yang diinginkan. Maka dari itu, penting untuk menyesuaikan waktu hamil dan jumlah anak agar impian orang tua tidak pupus begitu saja. Jika orang tua memiliki waktu untuk mengembangkan diri, baik itu sebelum memutuskan untuk hamil atau disaat anak sudah mulai besar, pasti kepercayaan diri akan meningkat dan prestasi yang dulu diidamkan bisa diraih. Anak juga akan merasakan kebanggaan tersendiri karena memiliki orang tua hebat. Besar pula kemungkinan anak untuk menjadikan kesuksesan orang tuanya sebagai contoh saat dewasa nanti.


Baca juga : Ingin Tetap Kreatif Selama Dikarantina? Yuk, Belajar Step By Step Desain Produk Sendiri Biar Jadi Cuan


***


7 Pertimbangan Dalam Merencanakan Jumlah Anak dan Waktu Kehamilan 


Merencanakan waktu kehamilan dan jumlah anak bisa dilakukan sebelum menikah dan setelah menikah. Misalnya menunda beberapa bulan untuk hamil anak pertama banyak dipilih pasangan pengantin baru yang ingin menikmati quality time berdua. Jika sudah memiliki anak, maka orang tua bisa kembali merencanakan kapan waktu yang tepat menambah momongan dan menetapkan jumlah anak. Terkadang sebelum benar-benar merasakan menjadi orang tua, banyak pasangan yang menginginkan memiliki banyak anak. Ternyata setelah dijalani, bisa saja rencana awal tersebut akan berubah karena berbagai alasan yang didasari oleh pengalaman. Lalu apa saja poin yang harus dipertimbangkan dalam merencanakan waktu kehamilan dan jumlah anak? 
Foto : freepik.com


1 Psikologis

Kesiapan psikologi orang tua harus menjadi poin pertama yang penting untuk dipertimbangkan. Keberhasilan dan kenyamanan dalam menjalani masa kehamilan dan masa yang panjang sebagai orang tua sangat ditentukan oleh keadaan psikologi orang tua tersebut. Orang tua yang berencana pasti jauh lebih siap menghadapi berbagai kemungkinan yang terjadi. Mencari ilmu sebanyak-banyaknya akan sangat membantu untuk memberikan bayangan keadaan saat hamil dan saat mengemban peran sebagai orang tua sehingga membuat lebih tenang dan dapat menemukan solusi tepat jika terjadi masalah. Jangan terlalu menggantungkan urusan keturunan dengan pendapat orang, kemauan mertua, gunjingan tetangga, dan sebagainya. Tetap utamakan keadaan diri, pasangan dan keadaan rumah tangga dalam memutuskan kapan waktu yang paling tepat untuk melakukan program hamil dan menentukan jumlah anak kedepannya. 


Fisik

The American Colllege of Obsetricians (ACOG) menyarankan para ibu hamil untuk melakukan perencanaan kehamilan pada dokter kandungan. Selain menghindari kehamilan yang tidak diinginkan, merencanakan jumlah anak juga membantu sistem reproduksi Mama agar selalu sehat. Sebelum hamil, kondisi badan Mama harus dipastikan siap.

- dikutip dari nakita.grid.id -

Keadaan fisik ibu atau calon ibu harus benar-benar dipastikan kesehatannya demi keselamatan ibu itu sendiri serta bayi yang dilahirkan. Sekarang ini banyak dokter yang bisa memberikan diagnosa pasti akan kondisi fisik pasien. Jauh lebih baik berkonsultasi terlebih dengan dokter jika merasakan ada sesuatu yang salah dengan tubuh. Apakah nanti ada yang perlu ditindak, membutuhkan waktu pengobatan atau belum/tidak disarankan untuk hamil. Bisa saja kondisi tubuh yang dirasa tidak sehat namun tidak berkonsultasi dengan dokter saat memutuskan untuk hamil, dapat mempengaruhi kondisi bayi dan ibu. Jika ada cara untuk meminimalisir risiko, akan jauh lebih baik jika melakukannya.


Finansial

Mulai saat hamil, melahirkan, hingga setelah anak lahir, orang tua akan mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Ketika hamil, kandungan perlu dikonsultasikan secara berkala dengan dokter atau bidan agar dapat mengetahui kondisi janin. Lanjut lagi ketika waktu melahirkan tiba, banyak kebutuhan bayi yang harus dibeli serta biaya lahiran yang ditanggung. Setelah itu, bayi yang lahir harus dihidupi, disekolahkan, dicukupkan kebutuhannya agar tumbuh dan berkembang menjadi generasi yang sehat dan membanggakan. Semua ini butuh kesiapan finansial yang matang. Tetapkan pula berapa batasan jumlah anak yang diinginkan dan sesuaikan dengan kondisi ekonomi keluarga agar tidak berujung masalah nantinya, serta semua anak bisa mendapatkan yang terbaik dari orang tuanya.


Karier atau Pekerjaan

Tidak ada yang salah jika pasangan suami istri mempertimbangkan keadaan karier dalam merencanakan waktu memiliki anak dan jumlah anak. Jika memang kondisi pekerjaan sedang membutuhkan kontribusi ekstra yang membuat sibuk dan melelahkan, maka menunda sementara untuk hamil dan memiliki/menambah anak bisa menjadi pilihan bijak. Kasus lain yang sering terjadi adalah suami dan istri yang harus terpisah karena pekerjaan, sehingga harus menunggu salah satu bisa mutasi agar kelak anak dapat merasakan kehadiran kedua orang tuanya setiap waktu. Atau bisa juga terjadi pada pegawai dan karyawan yang sedang menjalankan tugas belajar ke luar negeri, kontrak kerja yang tidak memperbolehkan hamil dalam jangka waktu tertentu, serta alasan lainnya. 


Usia

Secara fisik, tubuh ibu memiliki batas usia terbaik untuk hamil. Semakin bertambah usia wanita, maka semakin menurun pula tingkat kesuburannya, bahkan bisa berisiko mengalami komplikasi dalam menjalani kehamilan.


Hamil Diusia 20-an

Usia produktif yang dimaksud di sini yaitu usia 20-an tahun. Dari segi biologis, usia ini adalah waktu yang tepat untuk hamil karena tingkat kesuburanmu sangat tinggi dan sel telur yang diproduksi pun sangat melimpah. Risiko memiliki bayi lahir cacat juga lebih sedikit karena kualitas sel telur yang diproduksi pada usia ini umumnya masih sangat baik.

_____________

Hamil Diusia 30-an

Saat memasuki usia 30 tahun, kamu harus segera merencanakan kehamilan karena kesuburanmu sudah mulai menurun. Penurunan drastis terjadi setelah kamu menginjak usia 35 tahun. Oleh karena itu, jangan menunda untuk memiliki momongan, terutama jika kamu berencana memiliki lebih dari satu anak.

_____________

Hamil Diusia 40-an

Kemampuanmu untuk hamil secara alami menurun tajam pada usia 40-an tahun. Kesempatan yang kamu miliki tiap bulannya untuk hamil hanya sekitar 5%. Hal ini ini terjadi karena pasokan sel telur di dalam tubuhnya berkurang secara siginifikan. Kualitas yang dimiliki sel telur juga tidak sebaik ketika kamu masih muda.

- Dikutip dari alodokter.com


Hal lain yang juga terkait dengan usia adalah rencana ke depan yang ingin dilakukan orang tua demi mengembangkan diri, menaikkan karier, atau hal lain yang menunjang kesejahteraan keluarga. Misalnya orang tua yang ingin melanjutkan pendidikan, membuka usaha atau mengembangkan kemampuan yang tidak bisa dilakukan dengan bebas dan fokus karena harus berbagi waktu saat mengasuh anak. Jika anak sudah mulai besar dan memiliki kehidupan sendiri, orang tua akan memiliki banyak waktu dan tenaga untuk melakukan segala sesuatu dalam usia belum terlalu senja. Tidak ada salahnya untuk menyesuaikan waktu kehamilan dan jumlah anak dengan rencana masa depan atau keinginan dan cita-cita yang belum tercapai.


Jarak Usia Anak

Jarak usia anak sangat berpengaruh kepada orang tua maupun anak itu sendiri. Ada yang memakai paham "biar capeknya sekalian" dan memilih memiliki anak dengan jarak usia yang dekat, namun ada pula yang ingin memberikan jarak usia yang cukup jauh antar anak karena ingin lebih santai dikarenakan Si Kakak yang sudah bisa lebih mandiri. Selain itu perhatikan pula apakah secara psikologis apakah anak siap memiliki adik. Jika terlihat belum siap, maka orang tua bisa memberikan sedikit waktu untuk menjelaskan mengenai kehadiran adik agar anak mengerti. Alsan lainnya adalah fisik ibu yang perlu waktu pemulihan pasca melahirkan untuk siap hamil kembali. Contohya para ibu yang melahirkan secara sesar yang disarankan untuk menunda kehamilan minimal selama 2 tahun. Seluruh anggota keluarga sebaiknya saling berdiskusi untuk menentukan waktu kehamilan yang tepat agar jarak kelahiran antara kakak dan adik tidak memicu masalah kedepannya.


Kondisi Lingkungan

Keadaan lingkungan yang selalu berubah dengan segala macam fenomena yang terjadi patut dijadikan pertimbangan juga disaat merencanakan waktu kehamilan dan jumlah anak. Contoh nyatanya bisa dirasakan saat pandemi seperti ini. Mengunjungi rumah sakit untuk kontrol bulanan dan melahirkan yang mengharuskan ibu beserta suami atau keluarga besar mengunjungi dan menginap di rumah sakit dalam beberapa hari, bisa saja menimbulkan kekhawatiran tersendiri akan tertularnya Covid-19. Orang tua atau calon orang tua paling mengetahui keadaan lingkungan hidupnya, sehingga dapat mempertimbangkan baik-buruknya untuk memiliki anak direntang waktu tertentu. Bagaimanapun, lingkungan akan menentukan keamanan, kenyamanan, kemudahan dan kelancaran dalam menjalani masa hamil hingga membesarkan anak nantinya.


Baca juga : 6 Masalah Orang Tua Baru Usai Kelahiran Anak Pertama dan SOLUSINYA


***


Itulah alasan kenapa pasangan suami istri penting untuk merencanakan waktu kehamilan dan jumlah anak, serta hal apa saja yang harus dijadikan poin pertimbangan dalam perencanaan tersebut. Manusia berhak dan disarankan untuk merencanakan apa yang terbaik dalam hidupnya, meskipun tidak dapat dipungkiri bahwa Tuhanlah pada akhirnya yang akan menentukan hasilnya. Sekarang ini sangat banyak fasilitas medis yang mendukung program anak dalam keluarga, seperti KB (Keluarga Berencana) yang digalakkan pemerintah, atau rekomendasi dokter ahli. Sejatinya anak adalah pembawa kebahagiaan dan kesejahteraan dalam keluarga, dan dengan merencanakan segala sesuatunya terkait kehadiran anak akan membantu mewujudkan hal tersebut.


Semoga bermanfaat.


Referensi:

alodokter.com

halodoc.com

merdeka.com

mommiesdaily.com

nakita.grid.id

womantalk.com



10 comments:

  1. Aku banget ini, setuju sekali dgn postingan inj

    ReplyDelete
  2. Setujuuuu sekali mba. Punya anak itu hrs direncanakan mateng2. Bukan masalah nolak rezeki, tp kalo tanpa perhitungan , efeknya juga bisa kemana2. Udh mba jelasin bgt di atas.

    Aku sendiri memang cuma rencanain 2 anak. Dan alhamdulillah jaraknya pas, 4 THN.jd setidaknya pas msuk sekolah ga barengan hahahahhaa.

    Tp aku akuin, selalu ada rezeki utk masing2 anak. Pas lahir anak pertama, suami diterima kerja di perusahaan yg LBH bgs, dan limit kelahiran yg ditanggung gede banget. Aku bisa ngerasain kelas tertinggi di RS. Trus anak kedua, dpt rezeki LG suami naik posisi yg artinya limit asuransi lahiran makin naik :). Aku anggab itu rezeki anak2. Tp buat kami udh cukuplah.

    Krn aku dan suami juga ada impian lain. Kami masih pengen traveling, dan berempat itu udh cukup. Biayanya udh lumayan tp msh mampu kami capai . Lebih dr itu, mungkin nabungnya jd LBH lama :D. Makanya ga pgn nambah lagi. Hidup juga hrs imbang kan. Kewajiban menjaga dan membiayai anak perlu, tp menyenangkan keluarga juga penting :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waah alhamdulillah ya, Mbak. Aku juga setuju banget kalau maaing-masing anak itu pasti bawa rezeki :)

      Tos! Aku juga merasa cukup lah ya senang-senang berempat sama dua anak.

      Delete
  3. program aku hanay anak dua dan jarak dua anakku agak jauh 4 tahun dg tujuan agar nanti kl masuk sekolah tdk bersamaan. kl beda ganjil , pastinay yg satu masuk sma yg satunya masuk smp, bakal biaya besar itu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mbak. Pertimbangan ini memang banyak dipakai orang tua buat ngatur jarak kelahiran anak :)

      Delete
  4. Setuju banget nih Mbak! Ini bakal berguna ketika aku sudah dewasa dan mau menikah. Semuanya harus di pikirkan xD makasih banget!! Jadi bnyk dapet pelajaran tulisan ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mbak. Sekarang ini kayaknya jauh lebih bijak kalau orang tua/calon orang tua merencanakan segala sesuatunya mengenai anak dengan matang. Kalau terencana, pasti masalah bisa diminimalisir. Soalnya jadi orang tua sungguh berat tanggung jawabnya :)

      Delete
  5. ah sependapat mba ^^ aku sempet maju-mundur untuk lepas iud Februari lalu, eh ga lama pandemi :( pandemi mulai reda, aku galau lagi lepas-tidak, eh ternyata masih berlangsung ini pandeminya ya xD hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau ragu, tunggu waktu yang pas aja dulu Mbak. Nanti kalau sudah yakin baru deh program. Dari pada dari pada kan mendingan mendingan :D

      Delete

Sebelum komentar, login ke akun Google dulu ya teman-teman. Jangan ada "unknown" diantara kita. Pastikan ada namanya, biar bisa saling kenal :)