Ayo, Gunakan BBM Ramah Lingkungan! Wujudkan Program Langit Biru Butuh Sinergitas dan Konsistensi Semua Pihak

No comments

Penasaran enggak kenapa langit di negara lain, seperti di negara-negara Eropa atau Australia, bisa sangat biru dan jernih? Contoh lain yang paling dekat juga bisa disaksikan di Indonesia bagian timur, bukankah langitnya jauh lebih biru jika dibandingkan dengan kota-kota besar bagian barat?

Perbandingan pencemaran udara sebelum dan ketika pandemi Covid-19 | Grafik: materi webinar oleh Dasrul Chaniago
Awal pendemi, fenomena langit yang terlihat lebih biru sempat dinikmati oleh warga Jakarta. Pembatasan aktifitas di luar rumah dan menurunnya mobilitas ternyata berdampak nyata pada berkurangnya polusi udara secara signifikan. Bukti bahwa asap kendaraan bermotor begitu mencemari lingkungan, khususnya udara.


Kemajuan pesat dalam sektor apapun sudah menjadi peradaban manusia masa kini. Penemuan baru, teknologi termutakhir atau tren-tren masyarakat menjadikan seluruh pemangku kepentingan berlomba berinovasi guna memenuhi kebutuhan dunia. Sayangnya kemajuan ini memiliki dampak buruk. Salah satu yang paling fenomenal dan masih menjadi masalah berkelanjutan adalah polusi udara, baik dari barang tidak bergerak dan barang bergerak.





Sektor Transportasi Darat, Penyumbang Terbesar Polusi Udara

Foto: freepik.com

World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa 7 juta kematian per tahunnya disebabkan karena polusi udara. DKI Jakarta sebagai ibukota negara, tercatat level pulusi udaranya sudah membahayakan serta mereduksi aspek kesehatan dan kemanusiaan. Polusi udara di Jabodetabek bahkan dianggap sebagai the real pandemy, yang mengharuskan mengenakan masker meski tidak ada Covid-19 sekalipun. Sektor transportasi darat atau kendaraan motor pribadi adalah penyumbang dominannya, yaitu mencapai 75%. Bagaimana tidak, di Indonesia, kendaraan bermotor terjual 1 - 1,2 juta setiap tahun. Tidak heran jika polusi terus menjadi masalah pelik yang tidak kunjung selesai. 


Namun titik permasalahan utamanya bukan terletak pada kendaraan, namun bahan bakar apa yang digunakan.


Dunia sudah bergerak untuk melakukan berbagai upaya agar bumi terselamatkan dengan mengurangi pemicu parahnya polusi ini. Bahkan negara maju menerapkan pajak khusus untuk BBM (Bahan Bakar Minyak) dan energi fosil lain karena dinilai berperan dalam pencemaran lingkungan dan merupakan energi yang tak terbarukan. Bagaimana dengan Indonesia? Faktanya, BBM dengan nilai oktan rendah dan residu tinggi masih diperjualbelikan. Hanya tujuh negara di dunia yang masih menggunakan gasolin dengan RON di bawah 90, dan mirisnya Indonesia menjadi negara yang paling konsumtif. 


BBM RON 88 dan 90 memiliki kandungan Sulfur di atas 500 ppm. Bukan hanya mengandung SO2, tetapi juga hidrokarbon yang berdampak buruk untuk kesehatan. Sebaliknya, BBM RON tinggi yang terbakar sempurna akan menghasilkan sisa pembuangan yang sangat minim, sehingga kualitas udara terjaga.




Pentingnya Perbaikan Kualitas Udara Di Indonesia

Foto: freepik.com

Berbicara tentang lingkungan, tentu tidak hanya membahas kesejahteraan dan keberlangsungan hidup di saat sekarang saja, tapi berkelanjutan hingga generasi selanjutnya. Baik buruknya perlakuan terhadap bumi, hasilnya akan dinikmati oleh anak-cucu nanti. Apakah tega mewarisi lingkungan yang tercemar untuk mereka?   


"Mendapatkan lingkungan hidup sehat dan bersih adalah hak asasi warga negara yang dijamin konstitusi dan Undang-Undang (UU)," ucap Tulus Abadi, Ketua Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) dalam Diskusi Publik "Penggunaan BBM Ramah Lingkungan Guna Mewujudkan Program Langit Biru", Kamis (11/2/2021). 


Kualitas udara yang sudah terlanjur memburuk ini harus segera ditangani dengam serius. Bukan hanya berbicara masalah pencemaran lingkungan dan perubahan iklim global, namun juga masalah kesehatan yang mengancam nyawa dan produktifitas, hingga berpotensi merugikan negara. Kok bisa? 


Fabby Tumiwa, Institute for Essential Service Reform (IESR), dalam diskusi publik yang sama menyatakan bahwa perbaikan kualitas udara akan berpengaruh kepada perbaikan kesehatan masyarakat sehingga pengeluaran negara untuk asuransi kesehatan masyarakat bisa ditekan, karena pengeluaran negara untuk penyakit pernafasan lumaya  besar. Selain itu, peningkatan produktifitas juga akan terjadi dikarenakan penyakit yang dipicu oleh polusi bisa diminimalisir.


"Menghitung kerugian itu harus multiple, apa dampaknya kepada kinerja dan kendaraan," tambah Dasrul Chaniago, Direktur Pengendalian Pencemaran Udara, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Sebenarnya penggunaan BBM RON rendah, dalam hal ini yang masih banyak digunakan adalah premium dan solar, tidaklah benar-benar murah seperti anggapan yang tertanam di masyarakat. Harga belinya memang di bawah BBM RON 90 ke atas, namun harga yang harus dikeluarkan untuk menangani dampak buruknya sangatlah besar. 


Contohnya sepeda motor. Mayoritas masyarakat saat ini menggunakan kendaraan modern keluaran terbaru yang harus menggunakan BBM dengan RON di atas 91. BBM yang sesuai adalah pertamax. Jika memaksa menggunakan premium dengan RON 88, pasti membuat mesin cepat rusak karena pembakaran tidak sempurna yang meninggalkan kerak pada mesin tersebut. Ujungnya harus mengeluarkan biaya perawatan yang tidak sedikit. Ditambah lagi penyakit pernafasan akibat gas buangannya yang mengganggu kesehatan, aktifitas keseharian akan terganggu dan tidak bisa bekerja lagi seperti biasa. Ini akan menguras tabungan tanpa mampu mengisinya kembali diakibatkan kondisi fisik yang tidak memungkinkan. 


Fakta mengejutkan lainnya yang harus diketahui adalah bahwa pertamax ternyata lebih irit dari premium. Banyak yang sudah membuktikan keunggulan pertamax dari segi jarak tempuh dan performa. Meski harganya lebih mahal, tapi tetap saja akan lebih hemat jika dirasakan langsung saat berkendara. Kesesuaian dengan spesifikasi mesin membuat tarikannya lebih baik dan membuat mesin juga lebih terawat. 


Nah, masih yakin untuk bertahan menggunakan BBM RON rendah?




Program Langit Biru, Antisipasi Krisis Lingkungan Akibat Polusi Udara

Foto: freepik.com


Kekhawatiran akan penceraman lingkungan akibat polusi ini sudah dirasakan sejak 25 tahun silam. Program Langit Biru yang digaungkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup melalui Peraturan Pemerintah Lingkungan Hidup Nomor 15 Tahun 1966 bertujuan untuk mengantisipasi krisis disebabkan oleh polusi, khususnya udara, yang dicetuskan oleh barang tidak bergerak dan barang bergerak.


Muhammad Nafi, Redaktur Eksekutif Katadata.co.id menjelaskan tiga poin utama program Langit Biru, yaitu:

1. Kualitas Emisi

Meningkatkan kualitas emisi gas buang kendaraan bermotor, inspection and maintenance kendaraan bermotor, penetapan standar emisi gas buang untuk kendaraan yang sudah berjalan. 

2. Teknologi Otomotif

Teknologi otomotif akan diubah atau ditingkatkan lebih ramah lingkungan melalui penyempurnaan desain maupun perlengkapan treatment emisi gas buang. Pengembangan teknologi hibrida bensin-listrik atau eco car dan fuel cell, teknologi yang tidak akan menghasilkan gas beracun.

3. Manajemen Lalu Lintas

Menata manajemen lalu lintas yang baik untuk menghindari kemacetan yang berandil signifikan terhadap meningkatnya emisi gas buang kendaraan bermotor.

Penyempurnaan motor bensin maupun diesel yang dijelaskan pada ketiga poin tersebut akan diimbangi pemanfaatan bahan bakar yamg lebih ramah lingkungan.


Delapan tahun setelahnya, dikeluarkan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 141 Tahun 2003 yang mengatur emisi gas buang pada kendaraan bermotor dengan standar BBM setara Euro 2. Terakhir dikuatkan dengan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 20 Tahun 2017 yang mewajibkan seluruh kendaraan bermotor menggunakan BBM berstandar Euro 4. Realisasinya, Indonesia mulai memasuki era Euro 4 pada Oktober 2018 untuk mesin bensin dan direncanakan April 2021 untuk mesin diesel. Namun berdasarkan informasi yang disampaikan Dasrul Chaniago, karena pandemi Covid-19, rencana penerapan Euro 4 untuk mesin diesel ditunda hingga April 2022.


Apa Itu Standar Emisi Euro?

Standar emisi Euro adalah standar yang digunakan negara Eropa untuk kualitas udara di negara Eropa. Semakin tinggi standar Euro yang ditetapkan maka semakin kecil batas kandungan gas karbon dioksida, nitrogen oksida, karbon monoksida, volatil hidrokarbon, dan partikel lain yang berdampak negatif pada manusia dan lingkungan.

Sumber: ADB (2003)

Untuk Euro 4, kandungan nitrogen oksida pada kendaraan berbahan bakar bensin tidak boleh lebih dari 80 miligram per kilometer, 250 miligram per kilometer untuk mesin diesel, dan 25 miligram per kilometer untuk diesel particulate matter

Dikutip dari gaikindo.or.id


Pada November 2015, Presiden Jiko Widodo menghadiri pertemuan Paris Protocol on Climate Change di Perancis dan dalam pertemuan itu Presiden berkomitmen untuk mengurangi emisi gas karbon antara 20-40 persen hingga tahun 2050. Komitmen ini tentu sangat sejalan dengan progam Langit Baru yang sudah ada puluhan tahun lalu.


Sayangnya implementasi program Langit Biru tidak mudah. Rencana programnya dan regulasinya mungkin sudah sangat lengkap, namun dalam pengimplentasiannya belum maksimal, sehingga Langit Biru seakan menjadi program abadi yang belum kunjung terealisasi. Ini terwakilkan melalui presentasi Muhammad Nafi yang diberi judul Jalan Panjang Langit Biru, Program Tua dari Presiden ke Presiden. Jelas sekali menyatakan bahwa program Langit Biru sudah melalui beberapa periode kepemimpinan. Dikutipnya pula ungkapan Presiden Joko Widodo, "Masalah di kita itu implementasinya. Regulasinya banyak, tapi implementasinya?"




Apa Saja Upaya yang Sudah Dilakukan untuk Dukung Program Langit Biru?

Foto: freepik.com

Belakangan ini pemerintah kembali fokus mengampanyekan program Langit Biru. Mengingat kualitas udara di Indonesia, khususnya di kota-kota besar, sudah cukup memprihatinkan. Bahkan Indonesia sudah ketinggalan dengan negara Asia lain seperti Singapura yang sudah menggunakan standar Euro 6 sejak 2017 dan Vietnam yang pada tahun ini sudah masuk Euro 5. Lalu apa saja yang sudah dilakukan Indonesia untuk mewujudkan program Langit Biru ini? 

1 Pemerintah Pusat 

Beberapa langkah konkret telah dilakukan oleh Kementerian Perhubungan dengan mendorong penggunaan kendaraan alternatif, mempercepat pengadaan kendaran listrik hingga penyediaan berbagai transportasi massal yang nyaman, seperti LRT, MRT dan KRL guna mengurangi penggunaan kendaraan pribadi. Pemantauan kualitas udara juga selalu dilakukan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dengan Air Quality Monitoring System (AQMS) untuk mengetahui tingkat pencemaran dan parameter meteorologi lainnya. 

Program Pengurangan Emisi Dari Kendaraan Bermotor | Grafik: materi webinar oleh Dasrul Chaniago

Kebijakan uji emisi kendaraan bermotor rutin dilakukan. Di Jakarta sendiri, sesuai Peraturan Gubernur Nomor 66 Tahun 2020, kendaraan bermotor berusia 3 tahun ke atas per 24 Januari wajib melakukan uji emisi. Jika dinyatakan tidak lulus, maka akan dikenakan denda dengan kisaran Rp 250.000,- hingga Rp 500.000,-. Dalam uji emisi terdapat dua kandungan yang dijadikan parameter, yaitu kandungan Co (karbon monoksida) dan HC (hidrokarbon). Kendaraan bermotor berbahan bakar premium atau solar dan yang sudah tua, tentu berpotensi besar tidak lulus uji emisi. Dasrul menambahkan bahwa KLHK akan mewajibkan uji emisi kendaraan saat melakukan perpanjangan Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) untuk mengurangi tingkat polusi udara. 



2 Pemerintah Daerah

Dinas Kesehatan, Dinas Perhubungan dan Bappeda dari beberapa kota di Indonesia, seperti DKI Jakarta, Bandung, Depok, Cirebon dan Bekasi, menjelaskan dengan rinci dukungan yang telah dilakukan untuk mendukung program Langit Biru. Sejalan dengan upaya pemerintah pusat, hampir seluruh pemerintah daerah juga turut mengeluarkan kebijakan untuk melakukan uji emisi kendaraan secara rutin, bahkan DKI Jakarta juga mendorong bengkel-bengkel untuk bekerja sama dalam uji emisi ini. "Selain itu, DKI Jakarta akan menerapkan lebih banyak bis listrik pada tahun ini," ucap Cipta dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) DKI Jakarta.


Pemerintah daerah mulai intens mengedukasi masyarakat agar lebih peduli lagi terhadap pencemaran lingkungan, menambah ruang terbuka hijau, pembuatan jalur khusus sepeda dan pejalan kaki, pengelolaan sampah hingga pengawasan ketat terhadap industri penghasil emisi. 


Sektor pariwisata pun tidak kalah berperan. Salah satunya adalah Dinas Pariwisata dan Kebudayaan dari Kabupaten Bekasi dan Bandung yang telah melakukan berbagai langkah nyata dalam mewujudkan program Langit Biru. Angkutan pariwisata harus menggunakan BBM ramah lingkungan, menetapkan persyaratan destinasi wisata yang harus concern dengan lingkungan dan memasukkannya dalam standar destinasi yang tersertifikasi. Selain itu diberikan juga insentif berupa penghargaan bagi destinasi yang ramah lingkungan. Intinya, bukan hanya bekerja sama dengan pengelola pasriwisata saja, namun seluruh industri pariwisata, seperti hotel dan transportasi juga penting dilakukan.



3 PT Pertamina dan PT Telkom

PT Pertamina menjalankan program Langit biru pada tanggal 7 November 2020 mulai dari wilayah Denpasar (seiring dengan Peraturan Gubernur Nomor 45 Tahun 2019 terkait Bali Energi Bersih), lalu dilanjutkan ke Tangerang Selatan, Gianyar, Palembang dan wilayah lainnya. Dalam program ini, dilakukan edukasi market, yaitu memberi pengalaman pada pengguna premium untuk mengggunakan pertalite kepada segmen konsumen tertentu. Pertamina memberikam Diskon Harga Pertalite khusus konsumen kendaraan bermotor roda dua, roda tiga, angkot plat kuning dan taksi plat kuning. Pemberian diskon ini dilakukan secara bertahap:

a. Diskon Rp 1.200,- per liter dimana harga pertalite sama dengan harga premium dan dilakukan selama 2 bulan.

b. Diskon Rp 800,- per liter dan dilakukan selama 2 bulan.

c. Diskon Rp 400,- per liter dan dilakukan selama 2 bulan.

d. Tanpa diskon (harga pertalite kembali normal).

Program ini diharapkan memberikan experience untuk mengkonsumsi BBM dengan kualitas lebih baik dan ramah lingkungan. Setelah dilaksanakan di lima kota, ternyata mendapatkan respon yang sangat positif dari masyarakat sekitar.


Pertamina telah merampungkan Proyek Langit Baru Cilacap yang sudah penuh beroperasi. Dengan selesainya proyek ini, maka jumlah produksi Kilang Cilacap bertambah dan kualitasnya sesuai dengan standar EURO 4. Sebelumnya, Kilang Balongan telah lebih dulu berhasil memproduksi BBM dengan standar EURO 4. 


PT Pertamina bekerja sama dengan PT Telkom berhasil melakukan digitalisasi terhadap 5.500-an Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) yang menjamin keamanan pasokan sehingga tidak terjadi lagi kelangkaan BBM, menjamin efisiensi dan akuntabilitas BBM serta menjamin peningkatan pelayanan kepada konsumen. Volume BBM di tangki timbun dan segala gangguan SPBU termonitor real time dari command center nasional.



4 Organisasi dan Media

YLKI sebagai organisasi perlindungan konsumen sudah aktif mengkampanyekan  pentingnya penggunaan BBM ramah lingkungan karena menyangkut dengan kesehatan publik. Program Langit Biru juga sejalan dengan concern YLKI untuk mewujudkan kultur konsumsi yang berkelanjutkan.


YLKI menggandeng KBR sebagai penyedia konten berita berbasis jurnalisme independen untuk mengadakan Diskusi Publik "Penggunaan BBM Ramah Lingkungan Guna Mewujudkan Program Langit Biru", pada Kamis, 11 Februari 2020 lalu. Diskusi publik ini diartikan sebagai bentuk kritik dan keprihatinan atas lambatnya dan inkonsistensi pemerintah dalam mewujudkan program Langit Biru dan BBM ramah lingkungan. Diharapkan juga dapat menjadi wahana edukasi dan dorongan kepada regulator, operator dan masyarakat untuk konsisten mewujudkan dan menggunakan BBM ramah lingkungan.



Media merupakan pemegang pilar edukasi masyarakat. Maka sangat diharapkan sekali lebih banyak organisasi, komunitas dan media (termasuk media sosial) untuk lebih aktif berperan dalam memberikan informasi, himbauan atau hal positif lainnya yang dapat mendukung perwujudan program Langit Biru dan penggunaan BBM ramah lingkungan. 



5 Influencer 

Peran influencer adalah sebagai pemberi pengaruh di masyarakat. Mereka bisa merupakan selebritis, blogger, youtuber, atau seorang public figure yang dianggap penting dalam komunitas tertentu. Umumnya, seorang influencer memiliki jutaan pengikut (follower) di media sosial. 


Salah satu influencer yang turut aktif mengkampanyekan kelestarian lingkungan adalah Nadine Candrawinata, Putri Indonesia tahun 2005. Menurutnya, sosialisasi terkait perubahan iklim dan pemanasan global sangat penting. Mengurangi emisi karbon dari segala sektor harus segera dilakukan, termasuk BBM tidak ramah lingkungan, karena bukan hanya menyebabkan pencemaran tapi juga membahayakan kesehatan. 


Nadine menyarankan untuk lebih mengaktifkan dunia digital untuk mengedukasi masyarakat dengan memberi contoh realistis, menyuguhkan informasi yang ringan dan jangan terlalu banyak dalam satu waktu agar dapat dicerna satu per satu, melakukan demonstrasi, dan yang paling penting adalah semuanya harus terlibat.



Kendala Program Langit Biru

Foto: freepik.com

Belum kunjung terwujudnya tujuan program Langit Biru tentu dipengaruhi oleh beberapa kendala yang masih terjadi hingga saat ini. Apa saja kendala tersebut? 

1 BBM RON Rendah Masih Dijual 

Meski sejak tahun 2017 sudah diberlakukan standar Euro 4, nyatanya premium dan solar yang dianggap BBM kotor atau di bawah standar karena nilai RON-nya yang rendah, masih dijual di banyak SPBU, termasuk Jakarta yang seharusnya menjadi contoh. 



2 Harga BBM Ramah Lingkungan Dinilai Masih Mahal

Kalau ada yang murah, kenapa harus beli yang mahal? Toh, motor atau mobilnya juga bisa jalan. Faktanya memang BBM RON rendah jauh lebih murah jika dibandingkan dengan BBM RON tinggi. Contohnya adalah pertamax dan premium bersubsidi dengan selisih harga melebihi dua ribu rupiah. Perbedaannya akan sangat terasa jika membeli dalam jumlah liter yang lumayan banyak. Wajar jika masyarakat masih bertahan dengan premium. Muhammad Nahfi pun menyinggung masalah ini, "Seharusnya bukan premiumnya yang disubsidi, namun orangnya." Sehingga masyarakat bisa memilih BBM dengan RON lebih tinggi.



3 Kurangnya Pemahaman Masyarakat

Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, BBM RON rendah sebenarnya tidak benar-benar murah. Kerugian dari dampak yang ditimbulkan bukan hanya dirasakan oleh pemilik kendaraan saja, namun bisa meluas hingga merusak lingkungan dan mengancam kesehatan publik. 


Oktober tahun lalu, YLKI pernah mengadakan survey mengenai persepsi BBM di lima kota di Indonesia. Ternyata mayoritas masyarakat sebenarnya sudah mengerti kehandalan BBM RON tinggi terhadap mesin kendaraan mereka. Namun yang masih kurang dipahami adalah dampak terhadap lingkungan dan kesehatan dari penggunaan BBM kualitas rendah. Makanya kendala ini menjadi tugas urgent pemerintah untuk memberi awareness kepada masyarakat.


Masalah lain terkait kurangnya paham masyarakat ini adalah, berdasarkan data tahun 2015 hingga 2019, ketaatan pengguna  untuk pelaksanaan uji emisi kendaraan pribadi berbahan bakar bensin sangatlah rendah, tidak sampai 5%. Malah kendaraan berbahan bakar solar jauh lebih kooperatif. Padahal uji emisi sangat penting untuk mewujudkan program Langit Biru.



4 Kebijakan yang Plinplan

Pada tahun 2015 lalu, Presiden Joko Widodo pernah membentuk Tim Reformasi Mafia Migas yang diketuai oleh Faisal Basri. Salah satu rekomendasi yang diminta adalah penghapusan BBM premium. PT Pertamina selaku operator saat itu menyanggupi dengan memberi jeda waktu 2 tahun, yang berarti penghapusan premium ini bisa direalisasikan pada tahun 2017. Akhirnya gebrakan ini terjadi juga sesuai rencana pada tahun 2017 dengan mengendalikan premium secara ketat di area Jawa, Madura dan Bali. Ironisnya, pada pertengahan 2018, kebijakan tersebut dibatalkan dengan dugaan kepentingan politik dan pemilu. 


Selama kebijakan plinplan dan ego sektoral yang menguntungkan pihak tertentu masih terjadi, tujuan program Langit Biru tentu tidak akan pernah terwujud. Masyarakat pun akan kebingungan, bisa saja sebagian besarnya sudah mulai menyesuaikan diri dengan menggunakan BBM RON lebih tinggi, tiba-tiba ditawarkan kembali dengan BBM RON rendah yang harganya pasti lebih murah. Peraturan yang sudah ada seakan sia-sia jika kebijakan pemerintah tidak tegas untuk mendukungnya.



5 Tidak Sinergi

Tranformasi penggunaan BBM ini tidak akan berjalan lancar jika seluruh pihak tidak terlibat. Muhammad Nahfi menekankan bahwa harus dibenahi dari hulu ke hilir. Bagaimana infrastukturnya dan supply-nya dipasar, apakah sudah memenuhi kebutuhan masyarakat atau belum? Bisa saja masyarakatnya sudah beralih ke BBM ramah lingkungan, ternyata SPBU-nya sendiri tidak menyediakan.


Kejadian serupa juga diungakapkan oleh Hendri dari Dinas Perdagangan Kalimantan Barat. Pemakaian BBM beremisi tinggi di Kalimantan Barat justru banyak dijual di wilayah kota. Penikmatnya adalah orang-orang kaya yang sebenarnya sangat mampu membeli BBM ramah lingkungan dengan harga yang sedikit lebih mahal. 


Seharusnya kebijakan penggunakan BBM ramah lingkungan ini dipersiapkan dari ketersediannya hingga berakhir ke konsumennya. Semuanya terntu harus andil, tidak bisa hanya pemerintah pusat saja yang berusaha, namun juga pemerintah daerah dengan memasukkan program Langit Biru dalam RPJMD agar lebih fokus, hingga masyarakat sebagai konsumennya. Target yang telah disusun juga harus dikerjakan sesuai timeline agar tidak mangkrak hingga berpuluh-puluh tahun lagi.



6 Penyebaran Berita Bohong

Dadang Wihana, Ketua Dinas Perhubungan Kota Depok menceritakan sebuah isu yang menyebar di tengah masyarakat bahwa ada ketakutan terhadap kecurangan yang dilakukan oknum SPBU. Disaat BBM ramah lingkungan diberi harga khusus sesuai program dari PT Pertamina, jumlah liter BBM yang dimasukkan dalam tangki kendaraan juga turut dikurangi karena SPBU yang tidak mau merugi. "Harga turun, jumlah dikurangi," ucap Dadang. Jadi masyarakat bisa saja tetap bertahan dengan premium meski harga pertalite sudah dikurangi, karena takut dicurangi. 

 

Tulus Abadi menanggapi ini dengan menyampaikan hasil survey dilapangan yang pernah dilakukan YLKI dengan Dinas terkait tentang meteran BBM yang tidak fair. Faktanya, hampir tidak ditemukan kecurangan dalam pengisian BBM, meski dalam program harga khusus. 


Ini hanya salah contoh hoax atau berita bohong yang sering meresahkan masyarakat dan menghambat terwujudnya program Langit Biru. Mungkin jauh lebih banyak lagi yang tersebar setiap harinya. Berita bohong ini terkait juga dengan edukasi masyarakat. Jika edukasi lebih ditingkatkan dan dilakukan secara menyeluruh, pasti pengaruh buruk dari berita bohong bisa dihindari. 




Jika Tidak Sekarang, Kapan Lagi?

Foto: freepik.com
Apa harus tunggu bumi hancur dulu, baru mulai bergerak memperbaiki? Tentu sudah terlambat, karena jika sudah terlanjur hancur, akan sangat sulit dikembalikan. Menunda terlalu lama tanpa bergegas membenahi pencemaran yang merusak lingkungan dan mengancam kesehatan akan menambah peliknya permasalahan yang sudah ada. Penyakit pernapasan semakin banyak menelan korban, hingga kerugian negara yang semakin bertambah.


Indonesia harus kejar Euro 6 agar tidak tertinggal.


Indonesia sudah cukup tertinggal dari negara lain dalam urusan standar Euro. Bahkan beberapa pendapat menyebutkan bahwa transisi ke Euro 4 belum cukup, harus berani secepat mungkin meloncat ke Euro 6 agar kualitas udara terjaga. Implementasinya pasti tidak mudah, banyak hal yang harus dibenahi. Waktunya juga pasti lama, tidak cukup hanya hitungan bulan. Maka dari itu, mewujudkan program Langit Biru dengan beralih kepada BBM ramah lingkungan harus dimulai dari sekarang dan berani membuat kebijakan yang tegas. 


"Bumi mengikuti apa yang dilakukan manusia. Semesta pasti akan bergejolak. Setiap perubahan, awalnya memang susah, tapi lama-lama pasti nyaman," ungkap Nadine dalam webinar. Mungkin akan banyak cobaan, gangguan, kendala, bahkan cemoohan yang diterima dalam masa transisi tersebut. Namun itulah perubahan, mengubah sesuatu yang sudah terlanjur melekat dalam kehidupan tentu sangat menantang. Disinilah peran semua pihak dibutuhkan. Efektif atau tidaknya upaya yang dilakukan tergantung bagaimana keterlibatan pihak terkait didalamnya.




Kesimpulan

Sudah banyak bukti ilmiah yang membahas mengenai dampak dari rusaknya iklim global, salah satunya adalah pandemi Covid-19 ini. Perubahan ekstrim yang terjadi pada alam menyebabkan virus bermutasi dan menciptakan jenis baru yang membahayakan manusia. 


Program Langit Biru yang bertujuan untuk mengantisipasi pencemaran udara harus mulai kembali digalakkan dengan serius melalui peralihan kepada BBM ramah lingkungan. Mewujudkannya tentu tidak mudah, butuh proses dan waktu yang tidak sebentar. Harus dibenahi dari hulu ke hilir. Seluruh pihak juga harus bersinergi dan konsisten dalam mengimplementasikannya. Sudah cukup 25 tahun program Langit Biru terbengkalai. Sekaranglah waktunya untuk berjuang bersama mengembalikan kualitas udara yang sehat. Ayo, gunakan BBM ramah lingkungan demi kita semua!


__________


Referensi:

Diskusi Publik "Penggunaan BBM Ramah Lingkungan Guna Mewujudkan Program Langit Biru", Kamis (11/02/2020)

"Mengenal Standar Emisi Euro". Tautan: https://www.gaikindo.or.id/mengenal-standar-emisi-euro-bag-1/



No comments

Sebelum komentar, login ke akun Google dulu ya teman-teman. Jangan ada "unknown" diantara kita. Pastikan ada namanya, biar bisa saling kenal :)