7 Tips Gaya Hidup Minim Sampah Makanan Dalam Skala Rumah Tangga



"Kalau udah kenyang, tinggalin aja."

Suka gemas enggak sih ketika melihat orang lain yang dengan mudahnya membiarkan sisa makanan di piring tanpa rasa bersalah? Kadang hanya dimakan beberapa suap, selebihnya berakhir di tong sampah. 


Meski tergolong sampah organik yang menurut anggapan kita dapat terurai dengan mudah di tanah, nyatanya sampah makanan ini tidaklah seramah itu. Gas metana dan karbondioksida (CO2) yang dihasilkan dalam jumlah besar di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) akibat banyaknya sampah makanan, dapat menjadi sumber bencana baru. Masih ingat tragedi di kampung Cireundeu, Leuwigajah, Cimahi? Tahun 2005 silam, ledakan gas metana membuat gunungan sampah di TPA Leuwigajah longsor dan menewaskan 150 jiwa. 


Ketidakpahaman akan bahaya yang diakibatkan sampah makanan, membuat Indonesia menjadi negara nomor dua di dunia dalam hal buang-buang makanan. 13 juta ton sisa makanan per tahun dihasilkan. Jika dirata-ratakan, setiap orang membuang 300 kg sampah makanan setiap tahunnya. Bayangkan, semubazir itu!



Satya Hangga Yudha Widya Putra, B.A. (Hons), MSc selaku Co-Founder dan Penasihat Indonesian Energy and Environmental Institute (IE2I) menjelaskan bahwa metana merupakan gas rumah kaca yang lebih kuat dari pada CO2, yang dapat memperburuk konsekuensi negatif pada pemanasan global, yaitu perubahan iklim. Dari 30 kg sampah makanan yang dihasilkan setiap harinya, mengeluarkan zat metana yang punya kekuatan 100 kali lebih kuat pengaruhi perubahan iklim dan lingkungan.




Selamatkan Bumi Mulai Dari Rumah, Terapkan 7 Gaya Hidup Minim Sampah Makanan Skala Rumah Tangga

Sampah buah dan sayur bisa dijadikan pupuk kompos

Sebagai ibu rumah tangga, bisa dibilang akulah yang mengurusi hampir seluruh pintu keluar masuknya bahan makanan di rumah. Aku selalu berupaya agar tempat sampah di dapur tidak penuh dengan makanan sisa yang diakibatnya oleh kurang bijaknya kami sekeluarga dalam mengelola makanan. Orang di luar sana masih banyak yang harus mengumpulkan butiran beras demi sesuap nasi, rasanya kufur nikmat sekali jika kita yang masih diberi rezeki ini malah membuang makanan hanya karena alasan kenyang, tidak sempat masak, lupa atau tidak suka.


Sebenarnya banyak kok cara kreatif dan sederhana untuk mengurangi sampah makanan yang berasal dari rumah tangga. Beberapa cara yang aku praktikkan dan terbukti bisa meminimalisir sampah makanan ini adalah sebagai berikut.


1 Makan Setelah Menyuapi Anak

Sisa makanan anak merupakan problematika harian ibu-ibu. Porsi makan anak yang masih sedikit sering bertimbal balik dengan keinginan orang tua untuk memberi makan anak sebanyak-banyaknya. Unjungnya malah terbuang begitu saja. Masalah ini bisa diatasi dengan menunda sebentar waktu makan ibu. Jadi dahulukan menyuapi anak, 30 menit kemudian baru ibu makan (karena waktu makan anak yang direkomendasikan adalah maksimal 30 menit). Jadi, jika ada sisa makanan anak, bisa dihabiskan ibu bersama porsi makan sendiri. 


2 Lebih Baik Nambah Dari Pada Berlebih

Memulai dari piring sendiri adalah cara bijak memulai gaya hidup minim sampah makanan. Ambillah makanan sesuai kebutuhan. Secukupnya saja, jangan tunduk dengan "lapar mata" yang sering membuat buta ketika menyendokkan makanan ke piring. Jika nanti ingin menambah lagi, baru diambil kembali. Toh makannya di rumah sendiri, pasti enggak masalah jika sering-sering nambah. Biarlah sedikit-sedikit, tapi habis.


3 Masak Bijak dan Cerdas

Setiap hari memasak makanan untuk keluarga, tentu membuat ibu bisa menakar sebanyak apa makanan yang bisa dihabiskan dalam sehari, sesuai dengan jumlah anggota keluarga. Andai masih berlebih, ibu juga bisa mengolah kembali menjadi makanan lain yang lebih menarik. Misalnya ada ayam goreng sisa kemarin, bisa disuwir-suwir sebagai campuran nasi goreng saat sarapan. Atau kebanyakan masak? Berbagi dengan tetangga, satpam komplek atau kerabat juga bisa menghindari buang-buang makanan. 


4 Susun dan Simpan Makanan dengan Baik

Belanja dalam jumlah besar pasti membutuhkan usaha lebih untuk menyusunnya di tempat penyimpanan. Sehingga menumpuknya begitu saja menjadi cara praktis agar cepat selesai. Padahal dengan menumpuk sembarangan, makanan yang satu dapat menutupi makanan lain. Akhirnya lupa dan kedaluwarsa tanpa sempat dimakan atau diolah. Sebaiknya susunlah makanan sesuai masa ketahanannya. Jadi bisa diambil berurut. Selain itu pelajari pula makanan mana saja yang sebaiknya disimpan di suhu ruang dan suhu kulkas/freezer. Makanan yang disimpan dalam kulkas sebaiknya dipisahkan per jenisnya dan tertutup rapat. 


5 Jangan Asal Belanja!

Kadang saat belanja makanan, semua yang terpajang terasa dibutuhkan. Tidak masalah jika masa kedaluwarsanya masih lama, ada banyak waktu untuk menghabiskannya. Tetapi ini tidak berlaku pada jenis makanan yang cepat busuk seperti sayur atau buah. Sebelum berbelanja, pastikan dulu stok bahan yang tersisa di rumah. Catat mana yang benar-benar perlu, dan wajib ikuti catatan tersebut saat berbelanja. Membeli beberapa makanan beku juga bisa menjadi salah satu solusi, misalnya sayuran atau daging beku. Faktanya, mengawetkan dengan cara pembekuan tidak mengurangi nutrisi makanan.


6 Manfaatkan Hewan Peliharaan/Ternak

Punya hewan peliharaan atau hewan ternak di rumah? Jika punya, kehadiran hewan-hewan ini bisa dimanfaatkan untuk mengurangi sampah makanan rumah tangga. Misalnya ayam, kucing, atau ikan yang diberikan nasi atau lauk sisa. Hewannya kenyang, pemiliknya juga sukses meminimalkan sampah makanan.


7 Jadikan Kompos

Sampah makanan dari sayuran dan buah bisa dijadikan pupuk kompos, lo! Caranya mudah dan tidak butuh tenaga ekstra. Pertama, siapkan sampah sayuran dan buah yang telah dipilah dari sampah lain.  Kemudian buatlah lubang pada tanah dengan kedalaman yang disesuikan dengan banyaknya sampah makanan yang akan dimasukkan. Lalu masukkan sampah makanan dan timbun kembali dengan tanah. Satu kali seminggu, bolik-balik sampah makanan dengan sekop dan siram dengan air secukupnya. Kompos yang sudah matang ditandai dengan warnanya yang sudah cokelat kehitaman dan tidak berbau busuk atau sudah berbau seperti tanah. 


Tidak sulit bukan? Mungkin awalnya memang terasa menyusahkan dan seakan banyak aturan. Tetapi jika dilakukan terus menerus, maka akan menjadi sebuah kebiasaan. Sampah adalah tanggung jawab pribadi. Pengelolaan sampah yang baik dapat menjaga bumi dan kelestarian lingkungan. Dimulai dari diri sendiri adalah langkah terbaik dan tercepat yang bisa dilakukan untuk mendukung gaya hidup minim sampah makanan.




Masyarakat Butuh Edukasi

Food Racing, kampanye melalui games dari Bandung Food Smart City di SMA Trinitas Bandung | Foto: bandungfoodsmartcity.org

Gaya hidup zero waste sudah menjadi hal kekinian yang mulai marak dilakukan. Namun sayangnya masih banyak masyarakat yang belum paham betul dampak dari buang-buang makanan. Alasannya karena makanan adalah sampah organik yang dianggap tidak berdampak buruk bagi lingkungan. Padahal sampah makanan ini sama saja berbahayanya dengan sampah anorganik yang bisa merusak alam.


Bandung Food Smart City adalah salah satu contoh program kerjasama dari Rikolto veco, Fisip Unpar dan Pemerintah Kota Bandung yang kaya akan edukasi terkait sampah makanan. Program ini dimaksudkan untuk mengurangi terjadinya food waste dengan menyadarkan masyarakat akan bahaya yang ditimbulkannya. Beberapa program yang telah dan sedang dijalankan adalah Food Racing, Food Sharing dan Urban Farming. Semuanya sangat bermanfaat bagi seluruh lapisan masyarakat, mulai dari kaum muda, mereka yang ingin berdonasi, UMKM, hingga menyorot pertanian kota.


Program seperti ini penting untuk dilakukan dan dikembangkan di seluruh wilayah Indonesia, agar pengetahuan dan pemahaman masyarakat akan isu tentang sampah makanan bisa menumbuhkan kesadaran untuk mulai menghentikan kebiasaan membuang makanan. Semoga kedepannya program sejenis Bandung Food Smart City bisa dijadikan program nasional yang tentunya saat ini sangat dibutuhkan agat semakin banyak masyarakat yang teredukasi terkait sampah makanan.



Semoga bermanfaat.


Referensi:

Laman https://bandungfoodsmartcity.org

Mengenang Tragedi Longsor Sampah di TPA Leuwigajah. Tautan: https://news.detik.com/berita-jawa-barat/d-4906289/mengenang-tragedi-longsor-sampah-di-tpa-leuwigajah

Tinggi Gas Metana, Sampah Makanan Berisiko Picu Perubahan Iklim. Tautan: https://www.suara.com/health/2019/10/05/050000/tinggi-gas-metana-sampah-makanan-berisiko-picu-perubahan-iklim

Wow, 1 Orang Indonesia Hasilkan Sampah Makanan 300 Kg Per Tahun. Tautan: https://mediaindonesia.com/humaniora/282977/wow-1-orang-indonesia-hasilkan-sampah-makanan-300-kg-per-tahun.



No comments:

Post a Comment

Sebelum komentar, login ke akun Google dulu ya teman-teman. Jangan ada "unknown" diantara kita. Pastikan ada namanya, biar bisa saling kenal :)