Blogger Gathering #LestarikanCantikmu : Peduli Sustainable Beauty and Wellness dengan Bijak Pilih Produk


"Sabar, ya, Mbak. Hidup dan mati adalah urusan Tuhan. Semoga Mbak dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan dan keikhlasan," ucap tetangga yang takziah diiringi pelukan sendu.


Pak Denu, suami Sali, baru saja berpulang karena penyakit asmanya semakin memburuk. Kabut asaplah penyebabnya. Kali ini keparahan asma Pak Denu tidak bisa lagi diselamatkan dokter. 


Sebenarnya pembakaran lahan yang akan ditanami sawit hampir setiap tahun terjadi. Namun sekarang adalah yang terparah, jarak pandang sudah sangat dekat. Bernafas saja enggan sekali rasanya.


Bagaimana dengan Sali? Ia hanya bisa meratapi kepergian suaminya sambil menyumpahi setiap pembakar lahan yang tidak bertanggung jawab. Mereka mungkin sedang tertawa membayangkan keuntungan yang diraup dari sawit tanaman mereka, sedangkan Sali harus berjuang sendirian menghidupi kedua anaknya yang sudah menjadi yatim.


Tahukah teman-teman bahwa sawit merupakan bahan baku utama dari banyak produk, termasuk produk kecantikan? Sawitnya sih tidak masalah, malah terbukti memiliki beragam manfaat bagi tubuh. Namun sayangnya, manfaat sawit ini tidak diimbangi dengan proses penanamannya yang ramah lingkungan dan ramah sosial, atau yang sering dikenal dengan sustainable beauty.


Fiksi singkat di atas menggambarkan bahwa tanpa kita sadari, pembakaran hutan yang dilakukan oleh orang tak bertanggung jawab untuk membuka lahan penanaman kelapa sawit, bisa saja memberikan dampak mengerikan kepada orang lain, bahkan bisa mengancam nyawa. Bagi penderita penyakit bawaan seperti asma, rusaknya kualitas udara bisa menjadi salah satu musuh utama.


Penggunaan produk kosmetik dan kecantikan yang tidak bisa lepas dari penggunaan kelapa sawit tentu menjadi salah satu aspek terkait masalah pembakaran lahan dan kabut asap ini. Tidak semua produk dapat menjamin bahwa bahan-bahan yang digunakannya sudah mendukung sustainable beauty, atau lebih spesifiknya adalah sawit berkelanjutan yang tersertifikasi Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO) atau Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO). Sedangkan memboikot penggunaan kelapa sawit juga tidak bisa dilakukan begitu saja, karena di 6 juta hektar lahan Indonesia yang  ditanami sawit, terdapat ribuan petani yang bergantung hidup. Jadi, tidak bisa melakukan transisi ke bahan lain secara tiba-tiba.


Sebenarnya, kita sebagai konsumen memiliki kesempatan untuk memilih produk kecantikan yang tidak asal-asalan. Intinya adalah, mau atau tidak, peduli atau tidak.


Sekarang bukan zamannya lagi untuk hanya mementingkan diri sendiri, apakah produk ini bisa bikin kulit putih, apakah produk itu bisa bikin glowing. Namun harus lebih bijak juga memastikan setiap produk yang dipakai tidak berbahaya bagi lingkungan dan sosial. Produk kecantikan dan kesehatan yang mendukung sustainable beauty sudah mulai bersaing dengan produk-produk konvensional di pasaran. Bahkan produk asli Indonesia yang memanfaatkan komoditas lokal juga mulai berkembang pesat. Bukankah kita sebagai konsumen sudah bisa memilih produk dengan begitu banyaknya pilihan yang tersedia?




LTKL x Madani x BPN Blogger Gathering #LestarikanCantikmu : Sharing Seru Seputar Sustainable Beauty dan Pemanfaatan Komoditas Lokal


Foto: instagram @bloggerperempuan


Jumat, 9 April 2021 lalu, Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL)Yayasan Madani Berkelanjutan dan Komunitas Blogger Perempuan (BPN), mengadakan Blogger Gathering #LestarikanCantikmu yang membahas mengenai sustainable beauty and wellness. Tiga narasumber sebagai pembicaranya adalah:

1 Danang Wisnu Wardhana, seorang Skincare Content Creator;

2 Christine Pan, Founder of Segara Naturals, dan;

3 Gita Syaharani, Kepala Sekretariat LTKL.


Sebagai informasi, LTKL sendiri merupakan forum kolaborasi yang dibentuk dan dikelola oleh pemerintah kabupaten untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan. LTKL mendukung arah pembangunan kabupaten agar mampu menyeimbangkan aspek ekonimi, sosial dan lingkungan, serta berupaya menjembatani kabupaten untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan dari jejaring mitra pembangunan nasional dan global. Sedangkan Yayasan Madani Berkelanjutan adalah lembaga nirlaba yang menjembatani hubungan antar pemangku kepentingan (pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat sipil) untuk mencapai solusi inovatif terkait tata kelola hutan dan lahan. 


Selaku pembicara pertama, Danang Wisnu Wardhana yang sering membahas bahan baku kosmetik ramah lingkungan ini, menjelaskan betapa pentingnya mengetahui ingredient dalam produk kosmetik yang dipakai. Sebelum membeli, konsumen harus memiliki tujuan yang jelas, apakah untuk mengatasi kulit berminyak, berjerawat atau kering. Jadi ketika membeli, pilihlah produk dengan kandungan yang bisa mengatasi masalah tersebut. Sehingga hasil yang dirasakan pun lebih efektif dan maksimal. 


Skincare harus bikin happy.

- Danang Wisnu Wardhana -


Konsumen jangan hanya fokus mengejar "cantik" dalam penggunaan skincare, namun juga harus "pintar" dalam memilah produk. Produsen pasti melakukan promosi gencar agar produk mereka laku di pasaran. Namun sebagai konsumen yang pintar, harus bisa membedakan mana perkataan sales yang hanya sekedar iming-iming, dan mana yang benar-benar sesuai dengan manfaat sebenarnya.  


Danang menekankan bahwa menggunakan bahan-bahan yang sesuai dengan standar kesehatan, hasilnya pasti terlihat lebih signifikan dan akan berbeda dengan bahan yang tidak sehat. Pilihlah produk yang sudah tersertifikasi BPOM, karena sudah pasti aman untuk digunakan. Namun harus digaris bawahi, banyaknya beredar produk skincare dari luar negeri di Indonesia, harus meningkatkan kewaspadaan konsumen. Harus hati-hati sekali memilih dan menelisik ingredient dari produk tersebut, takutnya ada bahan-bahan berbahaya yang bisa merugikan konsumen itu sendiri.  


Faktanya, alih-alih mengandalkan dan mendewakan produk luar negeri, sekarang sudah mulai terasa kehadiran produk dalam negeri sendiri yang tidak kalah berkualitas. Apalagi beberapa brand lokal ini sudah bekerja sama dengan petani setempat untuk mengandalkan komoditas lokal sebagai bahan baku produknya. Proses produksinya juga ramah lingkungan. Sustainable beauty banget 'kan? 


Bagi yang masih ragu mengenai konsep sustainable beauty, Gita Syaharani pun menjelaskannya dengan detail. Sebelumnya diperlihatkan hasil sebuah study mengenai tren kecantikan di 3 negara, yaitu Jepang, Korea dan China. Ternyata, pertimbangan pertama mereka dalam memilih produk kecantikan adalah bahan-bahan yang terdapat didalamnya. Setelah ditanya lebih lanjut, ternyata alasan terkait polusilah yang melatarbelakangi. Jangan sampai produk kecantikan yang digunakan semakin memperparah polusi udara, darat dan air, baik itu dari bahan bakunya, prosesnya, hingga sampah-sampah kemasannya. 


Berbicara mengenai sustainable beauty yang mengedepankan konsep produk ramah lingkungan dan ramah sosial, menurut Gita, terdapat 3 standar yang harus terpenuhi.


1 Menjaga Fungsi Alam Tanpa Bencana

Pada bagian awal proses pembuatan produk skincare, tentu harus tersedia dulu bahan bakunya. Dalam penanaman bahan baku ini tidak boleh ada upaya untuk merusak alam, seperti merusak kualitas udara, kualitas air, kualitas tanah dan apa pun yang terkait sistem alam. Jangan sampai pula cara memperoleh bahan baku produk secara langsung menimbulkan bencana, misalnya pembakaran hutan yang menyebabkan kabut asap. 


Gita menambahkan bahwa kayanya alam Indonesia dengan segala komoditas lokalnya yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku produk kecantikan dan kesehatan, ternyata tidak menjamin pula bahwa produk tersebut bisa langsung dikatakan sebagai produk ramah lingkungan dan sosial. Mesti dilihat dulu, komoditas itu penanamannya seperti apa. 


2 Petani/Pekebun dan Pekerja Sejahtera

Di bagian tengah, petani atau pekebun yang menanam bahan baku produk, harus diperhatikan juga kesejahteraannya. Pekerja yang juga turut andil dalam produksi sebuah produk juga tidak boleh terabaikan keadaannnya. Apakah jam kerja mereka sesuai ketentuan, apakah gaji sudah memenuhi standar upah minimum, hingga bagi mereka yang membeli produk setengah jadi, seperti UMKM, mendapatkan harga beli yang wajar. Pokoknya semua yang berada dalam rantai pasok produksi harus terjamin kesejahteraannya.


3 Energi dan Limbah Industri Terjaga

Pada bagian ujung, pastikan energi yang digunakan selama proses produksi efektif dan efisien, serta dapat dipertanggung jawabkan. Bahkan beberapa produk sudah ada yang menggunakan energi terbarukan dalam proses produksinya. Lalu limbah industri, baik dalam proses produksinya hingga ke limbah kemasan, seharusnya sudah bisa lebih ramah lingkungan.


Jika ditanya komoditas lokal mana yang lebih ramah lingkungan dan sosial, tentu jawabannya tidak bisa digeneralisis. Komoditas Indonesia sangat banyak, sehingga memiliki standarnya masing-masing agar dapat dikatakan berkelanjutan. Contohnya saja sawit dengam standar ISPO dan RSPO-nya sendiri. Semuanya tetap kembali kepada brand itu sendiri, apakah sudah benar-benar memakai konsep sustainable beauty yang ramah lingkungan dan ramah sosial dalam proses produksinya. 


Biasanya ketika kita memilih produk kecantikan, pasti hanya mementingkan diri sendiri. Sejauh mana produk tersebut bisa menjadikan kulit kita glowing, bersih dan putih. Namun tidak pernah membayangkan apakah produk pilihan itu bisa merusak lingkungan atau tidak, apakah dalam prosesnya ramah sosial atau tidak. Nah, coba tanya kepada diri sendiri, jika kita tidak peduli, alam rusak, air tercemar, polusi udara dimana-mana, apakah skincare yang digunakan bisa bekerja dengan baik? Percuma saja memakai skincare berlapis, jika ujung-ujungnya tetap cuci muka dengan air kotor atau hidup dalam kepulan asap.



Lalu, apa yang bisa dilakukan untuk menunjukkan kepedulian kita terhadap sustainable beauty?


Mulai sekarang, jangan lagi asal ambil produk! Ada 6 langkah yang bisa dilakukan untuk lebih bijak memilih produk kecantikan dan kesehatan yang aman bagi diri sendiri, lingkungan dan sosial. 


1 Baca Label

Pilihlah produk yang "bercerita", salah satu contohnya terlihat pada label kemasan produk Segara Naturals. Cerita ini bisa menggambarkan bagaimana pemilihan bahannya, proses produksinya, hingga pengelolaan limbahnya. Semua ini bisa memberikan bayangan singkat kepada konsumen seberapa aman dan ramahnya produk tersebut.


Namun terkadang produsen takut untuk mencantumkan cerita pada label kemasannya. Khawatir konsumen merasa terganggu dengan tulisan panjang yang harus dibaca demi mendapatkan informasi. Padahal sebenarnya, cerita inilah yang sangat dibutuhkan konsumen dalam memilih produk. Seperti apa bahan bakunya, prosesnya atau manfaat yang bisa didapat tanpa menimbulkan dampak buruk bagi yang lain. Seharusnya brand yang berani bercerita mengenai produknya ini mendapatkan apresiasi lebih di masyarakat. 


2 Kenali Bahan

Setelah membaca label, selanjutnya konsumen bisa mencari tahu informasi mengenai bahan-bahan apa saja yang tercantum pada label tersebut. Sekarang ini memanfaatkan media internet sebagai sumber informasi sudah cukup untuk mengetahui bahan-bahan sebuah produk kecantikan agar dapat ditelaah keamannnya.


3 Pahami Komoditas Asal

Jika konsumen sudah memiliki pengetahuan mengenai setiap bahan pada produk, dari turunan komoditas mana atau olahan komoditas apa, maka langkah berikutnya adalah mencari tahu asal dari komoditas tersebut. Apakah komoditas tersebut ditanam atau didistribusikan dengan cara yang mendukung sustainable beauty atau tidak.


4 Apa Dampaknya?

Pastikan konsumen mengetahui dampak apa saja yang ditimbullan dari setiap bahan yang terdapat dalam produk. Misalnya mengandung mikroplastik yang tidak hanya bisa membahayakan tubuh konsumen, namun juga bisa hanyut dan tertelan hewan air. Atau sampah-sampah kemasan produk tidak bisa didaur ulang sehingga tertumpuk begitu saja atau melayang-layang di laut lepas.


5 Pilih yang Lestari!

Bahan yang tidak mendukung sustainable beauty pasti menimbulkan dampak nyata pada lingkungan dan kehidupan sosial. Maka dari itu, pertimbangkan, telaah dan bijak dalam membeli produk! Jangan sampai pilihan produk yang tidak lestari, tanpa disadari menjadikan konsumen berkontribusi terhadap rusaknya ekosistem.


6 Bagi Cerita Kamu!

Jika memiliki sesuatu yang bermanfaat, maka bagilah! Setelah berhasil menemukan cara bijak dan tepat dalam menentukan produk kecantikan dan kesehatan yang tidak hanya bermanfaat bagi diri sindiri, namun juga lingkungan dan sosial, maka hal ini layak dibagi. Semakin banyak yang melakukan hal serupa, hasilnya tentu jauh lebih maksimal. Berbagi cerita dan pengalaman bisa dilakukan secara langsung, atau memanfaatkan berbagai media online.


Christine Pan, sebagai founder Segara Naturals, berbagi cerita mengenai alasannya hingga berkeinginan kuat mendirikan sebuah perusahaan produsen natural skincare. Christine mengakui bahwa ia sebenarnya bukanlah wanita yang gemar ber-skincare, malah sebaliknya. Semuanya bermula dari keresahan terhadap sampah-sampah yang berserakan di darat dan di laut. Ketika aktif diving pada tahun 2015, bukannya biota laut indah yang telihat, namun sampah-sampah plastik yang mengambang tenang. Akhirnya Christine mencoba sabun alami dan membuatnya sendiri. 


120 Milyar pembungkus plastik dari industri kecantikan per tahun. 50% dibuang dalam 1 tahun, 91% tidak didaur ulang dan 79% berakhir di TPA.


Pada tahun 2018, Christine mendedikasikan penuh waktunya kepada produk kecantikan alami dan memulai memproduksi shampo batang. Hingga kini Segara Naturals sudah semakin bertumbuh sebagai merek dagang, berekspansi dan dalam proses sertifikasi BPOM. 


Indonesia sangat kaya akan bahan baku kecantikan dan kesehatan. Masih banyak diantara potensi ini yang belum tergali. Misalnya saja minyak tengkawang. Meski khasiatnya sangat banyak dan luar biasa, buktinya keberadaan minyak ini masih belum begitu familiar hingga ke seluruh pelosok Indonesia. Sayang sekali jika komoditas yang seharusnya bisa mendatangkan banyak keuntungan ini disia-siakan. Tidak sedikit biji atau bahan mentah dari komoditas lokal diekspor, tanpa diolah dulu di negeri sendiri. Makanya Christine sangat ingin memanfaatkan komoditas lokal ini dalam produk kecantikan yang berkualitas, salah satunya melalui produk Segara.


Sustainable beauty seperti apakah yang dipraktikkan Segara Naturals? Segara memegang prinsip berkesinambungan dari hulu ke hilir. Sebenarnya Segara tidak pernah mengklaim seluruh prosesnya zero waste. Namun Segara meminimalisir semaksimal mungkin limbah sampah yang dihasilkan. 99% sampah produksi akan dikirim ke central waste bank untuk di-recycle. Seluruh staf juga harus hidup minim sampah. 


Konsumen harus tahu bahwa produsen memiliki banyak pilihan bahan baku yang digunakan, tetapi tidak ada standar pasti harus berapa persen bahan alami yang digunakan sehingga bisa dikatakan sebagai produk natural atau organik. Bukan hanya produsennya saja yang harus diperhatikan, namun suplier-nya juga harus diperhatikan apakah sudah mendukung sustainabel beauty atau belum. 


Semakin jujur produsen, maka semakin baik, sehingga konsumen happy.

- Christine Pan -


Konsumen banyak dibombardir dengan berbagai informasi. Namun sayangnya tidak semua informasi tersebut benar dan bisa dipertanggungjawabkan. Tidak ada jalan terbaik untuk mempertahankan diri dari informasi menyesatkan selain mengedukasi diri sendiri. Produk kecantikan dan kesehatan yang aman tidak hanya sekadar menggunakan bahan alami saja, namun harus menerapkan sustainable beauty. Mungkin tidak mudah untuk menularkan kebiasaan penggunaan produk yang ramah lingkungan dan ramah sosial, namun ada beberapa cara  yang tetap bisa diusahakan, yaitu:


1 Sharing pengalaman pribadi. Anggap saja sedang bercerita kepada teman sendiri, seperti Christine yang mulai sadar akan pentingnya penggunaan kosmetik ramah lingkungan ketika ia melihat sampah di mana-mana saat menyelam. Kejadian nyata yang dialami sendiri oleh seseorang akan lebih mengena.


2 Produsen produk yang menerapkan sustainable beauty harus mengutamakan kualitas produknya, sehingga tidak kalah saing dengan produk konvensional. Jika manfaat yang didapatkan konsumen sesuai dengan harapan, masalah yang dihadapi bisa terselesaikan dengan kosmetik "ramah" yang ia beli. 


3 Cari yang satu frekuensi. Mengajak orang lain yang berbeda paham tentu sangat sulit. Tetapi beda ceritanya dengan orang-orang yang berprinsip sama atau sepemikiran, pasti mengajak mereka akan lebih mudah. Misalnya dengan sharing pengalaman, review produk bagus yang mendukung sustainable beauty, atau apapun yang terkait lingkungan kepada orang-orang yang juga peduli dengan kelestarian alam. 



Ayo, Tunjukkan Kita Peduli!


Indonesia memiliki kesempatan emas untuk mengelola komoditas lokal sebagai bahan baku produk kosmetik dan kesehatan. Indonesia pun sebenarnya bisa membuat produk lokal sendiri yang mengusung sustainable beauty. Gita menyayangkan kenapa minyak-minyak sawit berstandar berkelanjutan yang ditanam di Indonesia, malah diekspor ke luar negeri. Seharusnya sawit yang sesuai standar ini digunakan oleh negara kita sendiri.


Sawit bagusnya dikirim ke luar, sawit tidak sesuai standarnya malah digunakan di dalam negeri.


Alasannya adalah kepedulian masyarakat Indonesia terhadap bahan baku yang ramah lingkungan dan ramah sosial ini masih kalah jika dibandingkan dengan negara-negara lain, misalnya Eropa. Di Eropa, sebelum menggunakan produk berbahan sawit, pasti ditanyakan dulu apakah sudah memenuhi standar berkelanjutan atau belum. Sedangkan di Indonesia, karena minimnya kepedulian akan hal seperti ini, wajar jika petani sawit lebih memilih mengekspor hasil taninya ke negara-negara yang lebih peduli.


Maka dari itu, ayo tunjukan bahwa kita peduli! Indonesia jangan mau kalah dengan produk luar negeri. Komoditas lokal kita begitu kaya dan beragam. Jika diproduksi dengan proses yang memperhatikan kelestarian lingkungan dan kesejahteraan sosial, tentu bukannya tidak mungkin perekonomian negeri ini meningkat berkat perkembangan sektor produk kecantikan dan kesehatan. Mari kita semua bergandengan tangan dan mulai peduli akan produk sustainable beauty and wellness. Mulailah dari diri sendiri, stop asal beli produk kecantikan dan kesehatan, perhatikan ingredient-nya, dan pilih yang lestari.


Karena untuk #LetarikanCantikmu, butuh produk yang Lestari. Indonesia memiliki komoditas lokal berlimpah yang berpotensi untuk membuat produk tersebut. Kitalah yang seharusnya menikmati.



Semoga bermanfaat.



2 comments:

  1. Artikelnya lengkap pisan jadi makin paham pentingnya cantik dan peduli pada lingkungan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah..makasih ya, Mbak Dedew 😘
      Semoga semakin banyak lagi wanita cantik negeri ini yang peduli pada sustainable beauty ❤

      Delete

Sebelum komentar, login ke akun Google dulu ya teman-teman. Jangan ada "unknown" diantara kita. Pastikan ada namanya, biar bisa saling kenal :)