Header Ads

Perasaan Bayi yang Sensitif


Apakah benar bayi semungil itu bisa mengerti keadaan disekitarnya? Merasakan apa yang orang lain rasakan? Awalnya aku memang meragukan hal ini, hanya membaca artikel ataupun mendengar pengalaman-pengalaman teman, saudara dan orang terdekat. Tapi ternyata itu benar. Aku membuktikannya setelah menjadi seorang ibu.

Diawali saat aku mengalami baby blues syndrome (baca Baby Blues Syndrome) yang membuat perasaan selalu tidak nyaman. Kadang saat mencapai puncaknya dimana aku merasa kesal dan terbebani, Byan pun ikutan rewel. Begitupun disaat aku dan suami bertengkar, Byan juga ikut-ikutan nangis. Ketika aku sedih, Byan tidak mau menyusu. Saat aku sakit, Byan juga merasakannya yang kadang membuat dia lebih gelisah dari biasanya. Tapi waktu itu aku masih berpikiran ini hanya kebetulan. Nggak mungkin ah Byan seajaib itu.

Waktu terus berlalu dan Byan semakin bisa berinteraksi dengan lingkungannya. Saat usia 3 bulan dia sudah mulai sering memasukkan tangan ke dalam mulutnya. Bahkan ketika mandi juga sehingga sabun yang menempel di tangan sering tertelan. Aku selalu mengajak Byan ngobrol dan memberi tahu kalau itu tidak baik. "Nak, kalau lagi mandi jangan masukkan tangan ke mulut ya. Kan ada sabunnya. Nanti kalau sabunnya kemakan Byan bisa sakit perut lho. Lagian rasanya kan pahit. Sabun itu buat mandi, bukan untuk dimakan". Sebenarnya itu hanya iseng buat bahan obrolan dengan Byan. Tapi lama-lama kok Byan nggak pernah lagi ya masukin tangan ke mulut pas mandi. Padahal kalau udah handukan pasti langsung gigit tangan. Oke ini mungkin masih kurang untuk membuktikan. Aku coba lagi yang lain.

Disaat aku kesal karena Byan susah makan, sering kali aku marah nggak karuan. Dia selalu menutup mulut ataupun menyemburkan kembali makanannya. Saat nada bicaraku meninggi, dia tau kalau aku marah dan langsung diam menatapku. Padahal sebelumnya sibuk dengan mainannya. Saat aku meninggalkan dia sendiri dan memilih masuk ke kamar untuk menenangkan diri, selama itu juga dia duduk diam membatu sambil melihat pintu kamar. Aku tau karena aku mengintipnya dari celah pintu. Ah kasihan jika mengingat itu. Aku mulai mengoreksi diri apakah ada yang salah dengan cara memberi makannya, atau rasa makanannya nggak enak. Aku coba merubah menu setiap hari, mencoba lebih sabar dan tidak memaksa untuk menghabiskan makanan. Selalu tersenyum walaupun kesal. Dan tidak bosan aku menatap matanya sambil bilang "Nak, bunda nyuapin Byan makan buat kebaikan Byan, nggak buat bunda kok. Biar Byan cepet gede, sehat, kalau mau main enak karena ada tenaga, nggak lemes. Byan nggak mau sakit kan? Nanti bunda sedih lho kalau Byan sakit. Mulai sekarang makannya yang lahap ya. Biar kita bisa main-main terus. Bunda masakin yang enak ya buat Byan". Entah berapa kali dalam sehari aku memberikan sugesti itu. Alhamdulillah sekarang udah mau buka mulut terus kalau makan. Baru 2 hari sih. Kemaren aku pikir karena resep baru yang aku coba dia mau makan. Eh ternyata esok harinya masih mau buka mulut. Alhamdulillah ya Allah akhirnya Engkau kabulkan doa hamba. Makasi juga ya nak. O iya sedikit berbagi, ini lho resep yang bikin Byan mulai mau buka mulut. Resep menu 4 bintang : bubur labu, daging, tahu, wortel.

Nah sekarang mau nyoba yang selanjutnya nih. Berhubung Byan sudah memakai baby walker, jadi semua barang pasti mau diambil. Termasuk juga menggapai-gapai colokan listrik, nyeret plastik sampah, pipa kompor gas dan masih banyak lagi benda berbahaya lain. Aku selalu bilang "Nak, no. Itu bahaya lho. Nanti kalau Byan kesetrum gimana, gasnya bocor gimana? Kan bahaya nanti rumahnya meledak. Sampah itu kotor sayang, nggak buat mainan. Bunda bilang no karena itu nggak baik. Byan dengerin bunda ya". Belum terlalu berhasil sih. Kadang dilepas tapi kadang tetep juga dimainin. Mudah-mudahan lama-lama ngerti ya.

Itu sedikit pengalaman dengam anakku Byan yang masih bayi. Mungkin masih ada hal lain yang kalau diceritakan bakalan panjang banget dan bikin males baca. Ternyata memang benar bayi itu mengerti dan peka banget dengan keadaan sekitarnya apalagi keadaan ibunya. Buat pembelajaran ya moms kalau kita sebagai orang tua harus selalu terus berusaha menjadi yang terbaik di depan anak. Aku juga ibu baru yang banyak melakukan kesalahan dan masih panjang waktu untuk terus belajar memperbaiki kesalahan itu.

Semoga bermanfaat.



No comments