Showing posts with label Pengalaman. Show all posts

Cita-cita Anak Anti Mainstream? Begini Cara Saya Menyikapinya

2 comments
"Dek, cita-citanya apa?"
"Cita-cita itu apa, Bun?"
"Nanti, kalau sudah besar, pengennya jadi apa?"
"Jadi truk sampah!"

Jiaaah. Sungguh cita-cita yang tidak biasa. Kalau seperti ini, apa yang mesti kita lakukan sebagai orang tua?

Cita-cita anak

Pengalaman Pertama Photo Facial Glow Treatment di ZAP, Efektif Bikin Wajah Cerah!

6 comments
Sudah lumayan lama penasaran sama ZAP karena dengar cerita teman yang kebetulan sudah duluan mencoba. Cocok untuk mengatasi masalah wajahnya yang berjerawat. Masalah yang persis sama dengan saya, yaitu jerawat beserta kawan-kawannya, seperti bekas kehitaman, scar, pori-pori besar, kulit kering tapi banjir minyak dan lain sebagainya.

Pejuang jerawat pasti tau deh rentetan masalah jerawat ini. 

Pengalaman Photo Facial Glow Treatment di ZAP

IIDN: Wujudkan Cita Ibu Berdaya

2 comments

Berkomitmen untuk terus berdaya, tak semudah kelihatannya. Sebagai ibu, ada saja tantangan di depan mata. Mengaduk emosi dan banyak titik di mana ingin berhenti.


Di sinilah komunitas berperan. Energi luar biasanya tak pernah gagal merangkul saya untuk melangkah bersama. Salah satu yang paling berjasa, Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN), komunitas penulis khusus perempuan yang membekali, mendampingi dan menyemangati. Bahkan hingga detik ini. 


IIDN

Takdir Tuhan memang penuh kejutan. Saya malah memiliki sejuta cita setelah berstatus sebagai ibu. Masih jelas dalam ingatan, ketika teman sebaya lantang mengucapkan impian dan berjuang mati-matian, saya justru berkebalikan. Pasrah, yang penting bisa kerja, menikah dan membangun keluarga. Sudah, cuma itu.

Ramadan Hingga Lebaran Padat Agenda? Jaga Kesehatan Keluarga dengan Antangin JRG dan Antangin Habbatussauda

4 comments

Pernah sakit pas puasa Ramadan? Selain enggak enak, pasti  mengganggu ibadah.

Atau pernah tiba-tiba tumbang pas Lebaran? Padahal jadwal sudah padat, mau silaturahmi ke rumah saudara, eh, malah terpaksa ditinggal. 


Antangin JRG dan Antangin Habbatussauda

Saya pernah merasakan dua-duanya!

Beberapa kali meriang, mual dan sakit kepala di pertengahan Ramadan. Memang bukan penyakit berat dan tidak sampai batal puasa. Namun demi memaksa puasa, saya harus berjuang lebih kuat untuk menahan ketidaknyamanan hingga berbuka. Minum paracetamol pun tak bisa. Salat jadi tidak khusyuk, target baca Alquran pun tak tercapai.

Perdana Cobain Treatment CRT (Collagen Rejuvenation Therapy) untuk Atasi Scar di ERHA Ultimate Acne Cure

4 comments

Treatment CRT (Collagen Rejuvenation Therapy)

Memiliki masalah scar alias bopeng di wajah, membuat saya pusing mencari produk untuk mengatasinya. Sudah mencoba berbagai merek, tetap saja tidak ada perubahan apa-apa. Yang ada malah timbul banyak masalah baru bila ternyata pilihan saya salah. Lelah coba-coba produk yang tidak jelas cocok atau enggaknya, saya memutuskan konsultasi ke ahlinya saja. Hasilnya pasti karena akan ditangani dengan tepat sesuai kebutuhan kulit.


Sebagai pelanggan ERHA sejak zaman kuliah, walau sempat terputus-putus konsultasi, jelas ERHA yang saya ingat saat mencari klinik perawatan kulit. Setelah kepoin akun sosial media dan website-nya, ternyata ada program ERHA Ultimate Acne Cure yang memang khusus diperuntukkan bagi penderita wajah berjerawat seperti saya, baik itu jerawat aktif hingga menangani bekas-bekasnya. Program ini dijamin aman, efektif dan personalised.


Erha Ultimate Acne Cure.jpg


  • Permasalahan jerawat yang kita alami akan ditangani langsung oleh Skin Expert yang sudah pasti profesional.
  • ERHA juga menggunakan teknologi modern dan terkini, termasuk dalam solusi kulit berjerawat. Jadi penanganan dan tindakan yang diberikan tepat sasaran dan teruji secara klinis.
  • Paling penting dari semuanya adalah personalised, yaitu sesuai dengan permasalahan dan kondisi kulit masing-masing. 


Tersedia tiga plan yang juga bisa disesuaikan, yaitu Advance Plan, Basic Plan dan Product Plan. Saya lebih sesuai dengan Basic Plan, yaitu 1 kali konsultasi, 1 kali treatment dan 1 personalised product


Erha Ultimate Acne Cure


Flashback ke November lalu, sebenarnya saya sudah konsultasi ke klinik ERHA. Lima tahun tidak perawatan apa-apa dikarenakan hamil dan menyusui kedua anak saya yang kebetulan jarak kelahirannya berdekatan, membuat wajah saya sangat kusam, banyak jerawat aktif dan tentunya bejibun bekas jerawat, baik itu yang kehitaman atau pun scar. Jadi saat itu dokter fokus dulu mengatasi kusam dan jerawat aktifnya. Setelah membaik, baru lanjut ke perawatan bekasnya. 


Baca cerita konsultasi saya sebelumnya di sini 👇🏻

Pengalaman Mengatasi Jerawat dan Scars dengan ERHA Ultimate Acne Cure, 2 Minggu Sudah Terlihat Hasilnya!


Kini masalah jerawat dan kekusaman nyaris teratasi sempurna. Tinggal scarnya yang butuh perhatian. Saya ingin merealisasikan rencana untuk menjalani program Acne Finale Acne Scar Program yang memang fokus memberi solusi pada acne scar. Pilihan plan-nya tetap sesuai dengan kebutuhan saya seperti sebelumnya, yaitu Basic Plan, dengan 1 kali konsultasi, 1 jenis acne treatrment dan 1 set personalized acne products.


Nah, Kamis lalu tanggal 24 Maret 2022, saya konsultasi di ARHA Apothecary Gandaria City. Sekalian biar suami dan anak-anak bisa main di mall sembari menunggu saya treatment, hehe. Akhirnya treatment perdana saya untuk mengatasi scar dilakukan juga, yaitu dengan CRT (Collagen Rejuvenation Therapy) for minimizing pore and scar


Bagaimana pengalaman saya selama treatment?

Sakit enggak sih?

Lalu perubahan apa yang saya dapatkan setelahnya? 



Treatment CRT Pertama di ERHA Apothecary Gandaria City

ERHA Apothecary Gandaria City
ERHA Apothecary Gandaria City

Sebelumnya saya hanya membeli produk saja di sini. Tapi kali ini mendaftar untuk konsultasi. Dari sisi penerapan protokol kesehatan, Gandaria City memang sudah oke banget. Di pintu paling depan jelas harus scan Peduli Lindungi, cek suhu dan sterilkan tangan dengan hand-sanitizer yang sudah disediakan. 


Saya langsung menuju ke ERHA Apothecary di lantai LG. Pas masuk, sudah ada petugas yang siap melayani di meja depan. Lengkap dengan masker, face shiled dan sarung tangan. Saya bilang saja mau konsultasi. Karena sudah terdaftar sebagai pelanggan ERHA, jadi tidak banyak prosedur lagi yang harus dilakukan. Hanya daftar dan disuruh tunggu untuk dipanggil.


Bagian Pendaftaran
Pendaftaran sebelum konsultasi

Berhubung banyak sekali produk ERHA yang terpajang, dari pada duduk diam menunggu di sofa nyamannya, mending lihat-lihat sekeliling saja. Lengkap sekali, mulai dari produk perawatan wajah, rambut hingga bibir ada.


Variasi produk ERHA
Melihat produk ERHA sambil menunggu

Eh, tak lama berselang, nama saya dipanggil untuk masuk ke ruang konsultasi dengan Dr. Sara Vigorousty Loppies. Semua petugasnya ramah, diantar sampai ke depan pintu ruangan yang memang agak masuk ke bagian dalam apothecary.


Konsultasi yang Hangat, Jelas dan Lugas

Konsultasi dengan Dr. Sara Vigorousty Loppies
Konsultasi hangat dengan Dr. Sara Vigorousty Loppies

Sapaan lembut dari Dr. Sara yang ber-APD lengkap membuka sesi konsultasi. Menanyakan apa saja masalah kulit wajah yang saya alami. Tidak ada yang terlewat, saya sampaikan semuanya. Mulai dari konsultasi di ERHA Klinik Pondok Indah beberapa bulan lalu dan penanganan scar yang ingin saya dapatkan. Setiap cerita saya didengarkan dengan serius dan ditanggapi dengan begitu hangat. Seperti curhat dengan teman sendiri. 


Tidak hanya bermodal cerita saja, Dr. Sara memeriksa wajah saya lebih dekat dan teliti di bawah cahaya lampu khusus. Lampu tersebut diarahkan ke wajah, sambil diraba-raba dengan tangan beliau. Jadi bisa kelihatan dan terasa apa saja yang menjadi masalah.


Pemeriksaan wajah dengan lampu
Pemeriksaan wajah dengan lampu khusus

Berdasarkan pemeriksaan ini, Dr. Sara memberi penjelasan detail mengenai kondisi wajah saya dan treatment apa yang cocok. Benar seperti analisa awam saya, jerawat aktif sudah teratasi dengan baik dan kekusaman pun sudah pergi. Hanya saja kebetulan beberapa hari sebelumnya saya panas-panasan di pantai, jadi agak belang di perbatasan hijab. But, it's oke.


Jadi, masalah besarnya saat ini hanyalah si scar yang membuat wajah saya tidak enak dilihat dan dipegang. Wong nggak rata begitu. Berbeda dengan bekas jerawat kehitaman yang mungkin bisa teratasi hanya dengan mengandalkan krim pencerah, scar ini justru harus diatasi dengan treatment. Dijamin tidak akan pernah hilang walau memakai krim seumur hidup. Jalan satu-satunya ya harus treatment.


Dr. Sara merekomendasikan CRT sebagai treatment yang paling cocok. CRT ini merupakan singkatan dari Collagen Rejuvenation Therapy yang dikhususkan untuk memperkecil pori dan memperbaiki struktur kulit yang tidak rata akibat scar. Saat treatment, wajah saya akan dilukai dulu dengan jarum-jarum kecil, lalu dimasukkan serum collagen yang berfungsi untuk membuat jaringan kulit baru sehingga dapat mengisi cekungan scar. 


Waduh, seketika rasa takut saya muncul. Ditusuk jarum? Bakal berdarah dong?


Dr. Sara menenangkan. Sebelumnya wajah saya akan dibius lokal dulu dengan cara mengolesnya, baru setelah itu treatment dilakukan. Memang akan muncul luka, namun jangan dibayangkan sampai berdarah-darah. Paling hanya memerah saja. Karena jarum yang digunakan sangat halus. 


Namun CRT tidak menjamin untuk mengembalikan kulit scar menjadi rata 100%. Apalagi untuk scar yang sangat dalam. Mungkin tetap ada sisa cekungan. Tapi yang jelas, dengan CTR, akan ada pengangkatan cekungan yang terjadi. Jadi scar bisa disamarkan dan yang dangkal bisa rata. Ini pun butuh sekitar 4-5 kali treatment agar hasil maksimal dapat tercapai.


Dijelaskan juga sabun cuci muka dan krim-krim apa saja yang harus saya gunakan 3 hari setelah treatment, serta krim-krim selepas 3 hari itu. Yang jelas tidak boleh menggunakan sabun cuci muka ber-scrub dulu. Selain itu, saya lega karena tidak ada pantangan apa-apa. Saya tetap bisa beraktifitas seperti biasa, seperti jalan-jalan keluar rumah atau naik ojek sekali pun. 


Foto sebelum treatment
Foto dulu sebelum treatment

Tepat sebelum memulai treatment, wajah saya difoto dulu untuk dokumentasi ERHA. Bagian depan, kanan dan kiri. Jadi jelas hasil dari setiap perawatan yang dilakukan. 


Proses Treatment CRT

Masuk ke ruang tindakan, saya diminta untuk menandatangani surat persetujuan terlebih dahulu. Ditanya apakah saya punya alergi atau tidak, karena mungkin berpengaruh terhadap obat atau produk yang digunakan selama treatment. Kemudian diminta melepas hijab dan memakai APD berupa baju khusus dan penutup kepala. Berhubung petugas dan dokternya perempuan semua, jadi aman tanpa khawatir untuk lepas hijab.


Tahap pertama, wajah saya dibersihkan dengan sabun dan spon basah. Sudah tahu lah ya kalau setiap melakukukan perawatan, wajah harus bebas dulu dari segala kotoran dan make up.


Tahap kedua, pengolesan obat bius. Cairan kental obat bius dioleskan secara merata ke seluruh wajah, lalu ditutupi dengan plastik wrap. Saya diminta untuk menunggu selama lebih kurang 30-40 menit sampai obat bius tersebut benar-benar bekerja maksimal. Kan ngeri juga kalau sampai nanti kesakitan pas ditusuk-tusuk jarum. Yowis, harus sabar. Bobok cantik dulu saja.


Pemberian obat bius
Wajah diolesi obat bius

Karena pernah merasakan efek obat bius saat melahirkan sesar, saya tidak asing dengan sensasinya. Awalnya akan mulai terasa kesemutan dan makin lama makin kebas. Ini pertanda bahwa obat bius telah bekerja. 


Tahap ketiga, sterilisasi wajah. Karena ada proses luka, maka wajah saya disterilkan dulu agar tidak terjadi infeksi. Setelahnya, saya dilarang keras memegang wajah lagi sampai treatment selesai.


Tahap keempat, treatment CTR dimulai. Ada alat berupa stik yang disalah satu ujungnya terdapat jarum-jarum kecil yang nantinya akan bergerak secara otomatis. Dibagian yang akan ditusuki jarum, diteteskan dulu dengan serum kolagen. Jadi saat jarum merusak jaringan kulit, serum bisa masuk. 


Proses Treatment CRT
Treatment CRT ditangani langsung oleh dokter

Ada beberapa tingkatan panjang jarum yang menusuk wajah saya. Pertama, level jarumnya pendek, hanya menusuk secuil saja di permukaan kulit. Jadi tidak sakit, hanya kurang nyaman saja. Lanjut ke level dua untuk mencapai lubang scar yang agak dalam. Sensasi sakitnya mulai membuat jari-jemari saya meremas seprei. Sakit, euy. Dan ternyata itu masih separuhnya! Level ketiga lebih menyakitkan lagi. Ini dikarenakan juga banyak scar dalam yang harus dimasuki serum. Jarumnya pun lebih panjang lagi. Mau enggak mau, harus kuat. 


Tahap keempat, dikompres dengan NaCL dan pemberian antibiotik. Setelah perih-perihan, treatment ini ditutup dengan yang adem-adem. Tisu tebal yang dibasahi larutan NaCL dikompreskan ke wajah saya selama beberapa menit. Kemudian dilanjutkan dengan pengolesan antibiotik untuk mencegah infeksi.


Kompres NaCL
Kompres wajah dengan NaCL, dilanjutkan pengolesan antibiotik

Selesai, deh. Berhubung obat bius masih bekerja, jadi wajah saya tidak terlalu sakit. Cuma merahnya saja yang terlihat seram.


Oiya, sebelum meninggalkan ruang treatment, Dr. Sara berpesan bila nanti ada semacam luka yang mengering seperti bintik-bintik kecil, biarkan saja. Pasti akan hilang dengan sendirinya. Malah takutnya meninggalkan bekas bila dikelupas sendiri.



Pembayaran dan Pengambilan Krim

Krim pagi-malam
Krim pagi-malam untuk dipakai di rumah

Siap-siap menuju ke kasir. Kira-kira berapa yang harus saya bayar untuk treatment CRT, krim, konsultasi dan biaya lainnya? 


Masih di bagian yang sama dengan pendaftaran tadi, petugas memperlihatkan faktur yang panjang banget. Wajar sih, total ada 5 krim untuk pagi dan malam serta 2 sabun cuci muka untuk di bawa pulang. Totalnya adalah 2,8 jutaan. Yang paling mahal jelas untuk treatment-nya, sudah 2 juta sendiri. 


Tapi kalau dibaca-baca di Internet, memang segini sih harga normal treatment CRT. Karena fungsinya untuk mengatasi scar yang tidak bisa diatasi oleh pemakaian krim. 


Krim resep dokter
Krim diberikan sesuai resep dokter

Setelah bayar, saya diminta menunggu sebentar untuk pengambilan krimnya. Tidak lama, nama saya dipanggil dan krim diberikan. Lengkap dengan penjelasan ulang sesuai dengan catatan yang diberikan dokter. Ada dua pelembab untuk pagi dan malam, satu krim tabir surya, satu krim pencerah, satu sabun tanpa scrub dan krim khusus yang digunakan tepat setelah treatment serta satu sabun acne scrub untuk pemakaian normal.



Hasil Setelah Treatment CRT di ERHA

Tepat setelah treatment, wajah saya sangat merah dan terasa agak panas. Rasa ini masih sama sampai beberapa jam kemudian. Terkena air pas wudhu sih tak masalah. Saya pun masih nyaman jalan-jalam mengelilingi mall


Wajah merah setelah treatment
Wajah merah tepat setelah treatment CRT

Perihnya dimulai saat mencuci wajah pertama kali dengan sabun. Tapi bukan perih berlebihan, masih bisa ditahan. Dan setelah dikeringkan dengan handuk, perihnya sedikit mereda. 


Saya mengikuti perintah dokter untuk menggunakan sabun pencuci wajah tanpa scrub dan krim malam khusus selama tiga hari. Mengolesnya harus pelan sekali, karena kalau terkena gesekan jari lumayan perih.


Hari kedua, wajah masih perih dan merah. Ada sedikit bekas luka bintik-bintik kecil di bagian batang hidung. Tapi saya biarkan saja sesuai pesan Dr. Sara. Yang paling mengganggu itu, muncul rasa gatal. Walau hanya gatal ringan dan tidak selalu terasa, sering kali saya lupa dan menggaruknya. Ternyata malah membuat semakin perih. Jadi harus bisa menahan hasrat untuk menggaruk biar aman.


Hari ketiga, wajah sudah jauh membaik. Perih dan merahnya tinggal sedikit. Ini hari terakhir saya diminta untuk menggunakan sabun cuci muka dan krim khusus pasca perawatan. Besok kembali lagi seperti biasa.


Setelah satu minggu, waktunya penilaian. Berhubung sudah menggunakan krim normal kembali, wajah juga sudah nyaris pulih sepenuhnya, saya sudah bisa meneliti sejauh mana treatment ini memberi perubahan. Kalau dilihat sekilas, kulit di wajah saya terlihat kencang dan licin. Sebenarnya ini juga saya rasakan, yaitu seperti ada kesan ditarik. Wah, kayaknya serum kolagen bekerja nih.


Scarnya gimana? Karena ini baru treatment pertama, enggak mungkin kan scar-nya hilang total seketika. Tapi kalau diperhatikan, ada bagian-bagian cekungan dalam yang mulai terangkat. Seperti di dahi dan pipi. Saya bahagia dong! Tidak sia-sia menahan perih kemarin. Bagi saya, satu minggu mendapatkan hasil seperti ini, sudah merupakan keajaiban besar. Kalau tau hasilnya bagus, mending dari dulu saya coba.


Before After treatment CRT
Seminggu setelah treatment, lubang scar yang dalam tampak mulai melandai

Walau baru seminggu pasca treatment, saya sudah melihat perubahan. Dr. Sara mewanti-wanti agar jangan lupa menggunakan krim secara rutin, terutama krim malam. Karena ini akan membantu perawatan pada scar di wajah saya. Jadi nanti scarnya bisa lebih membaik. 

Oke, Dok. Siap!


***


Saya tidak pernah kecewa setiap kali melakukan perawatan di ERHA. Masalah jerawat yang ditangani oleh ahlinya akan memberikan rekomendsi treatment dan krim yang sesuai dengan kondisi wajah. Dr. Sara meminta saya untuk kembali melakukan treatment satu bulan lagi. Jeda waktu ini sudah cukup untuk memberi ruang pada kulit untuk membuat jaringan baru dari CRT sebelumnya. Setelah 4 atau 5 kali, akan dievaluasi kembali apakah perlu dilakukan CRT lagi atau tidak.


Yuk, yuk semangat nabung! Pastinya saya mau banget melakuakan treatment CRT selanjutnya sampai scar di wajah ini naik hingga batas maksimal. #HappyAcneEnding bareng ERHA.


Kalau teman-teman punya masalah scar dan tertarik mencoba treatment CRR di ERHA, bisa langsung mengunjungi ERHA Klinik atau ERHA Aphotecary terdekat. Jika mau tau info lebih lanjut terkait ERHA Ultimate Acne Cure, bisa cek Instagram dan TikToknya di @erha_ultimateacnecure atau kunjungi website-nya di ultimateacnecure.erha.co.id.


Selamat mencoba dan semoga bermanfaat.

Bukan Cuma Buat Searching, Inilah Manfaat Internet untuk Parenting

2 comments

"Hah, aku nggak boleh minum? Nanti kalau haus gimana? Nggak mau puasa, ah!"

Respon polos ini memancing keraguan saya untuk mengajarkan anak berpuasa di usianya yang baru 5 tahun. Walau dari tahun lalu saya sudah mulai menjelaskan syarat sah puasa yang harus menahan lapar dan haus, tetap saja ia belum benar-benar paham.


Saya memiliki harapan anak-anak bisa berpuasa tanpa tertekan saat baligh nanti. Bila saya suruh puasa sekarang, bisa jadi berpuasa akan menjadi momok ke depannya.


Orang tua dan anak belajar dengan bantuan internet
Bukan hanya orang tua, anak juga banyak belajar berkat jaringan internet

Tapi, anak-anak lain sudah banyak kok yang puasa. Bahkan di usia yang baru 4 tahun, bisa full seharian. Apa saya yang terlambat? Apa fisik mereka baik-baik saja saat berpuasa? Bila melihat apa yang saya alami saat masih kecil, kelas 1 SD malah baru puasa setengah hari. Teman-teman saya pun begitu.


Berhubung tidak ada ustaz/ustazah dan Dokter Spesialis Anak (DSA) yang bisa saya hubungi, akhirnya internet menjadi tujuan pertama saya untuk menggali informasi. Hanya dengan mengetik kata kunci, semua artikel terkait usia ideal anak berpuasa, langsung muncul di depan mata. Dengan mudahnya saya mendapat jawaban.


Islam mewajibkan puasa bagi muslim yang telah baligh. Ada ulama yang menganjurkan usia 7 tahun adalah waktu yang tepat untuk mengajarkan anak berpuasa, ada juga yang 10 tahun dan sebagian lagi 12 tahun. Sedangkan dari sisi kesehatan, dokter menganjurkan usia 7 tahun karena kondisi tubuh anak sudah lebih aman akan ancaman risiko hipoglikemia.


Masalah yang menurut saya tidak bisa diputuskan dengan hanya mengira-ngira, akhirnya tuntas. Berkat informasi parenting di internet. Alhamdulillah lagi, saya bisa share juga di blog pribadi dan media sosial. Sehingga bisa bermanfaat pula bagi orang tua yang sedang mengalami keraguan terkait puasa pada anak ini.


Siapa nih yang juga sering mengandalkan internet untuk mencari info soal parenting?

Kalau ada, tos kita sama!



Internet dan Parenting

Polling tentang internet dan parenting
Polling tentang internet dan parenting di Instagram Story

Saya sempat membuat polling kecil-kecilan di Instagram Story tentang penggunaan internet sebagai sumber informasi pertama saat ada masalah dalam pengasuhan. Hasilnya, 74% responden menjawab "sering", serta sisanya menjawab sesekali dan tidak pernah. Angka yang menurut saya cukup tinggi ini, membuktikan bahwa dalam circle saya saja, banyak sekali yang sering mengandalkan internet untuk menyelesaikan masalah terkait parenting


Ya, mungkin saya dan teman-teman termasuk dalam orang tua milenial yang sudah menjadikan aktivitas berinternet sebagai gaya hidup. Jadi tidak heran bila kebutuhan ini juga disambut baik oleh hadirnya berbagai website, blog bahkan akun media sosial ber-niche parenting. Sehingga informasi itu semakin berlimpah dengan pengemasan yang juga semakin menarik.


Bila ditanya, apa sih alasan saya pribadi menjadikan internet sebagai "guru" dalam hal parenting? Setidaknya inilah empat alasan terbesarnya.


Praktis

Bagi saya yang mengasuh dua anak dengan jarak usia dekat tanpa bantuan pengasuh atau keluarga, kepraktisan menjadi suatu hal yang selalu saya kejar. Semakin praktis, semakin cocok untuk saya. Wong ngurus rumah dan anak sehari-hari saja rasanya waktu 24 masih kurang, apalagi ditambah dengan hal lain. Makanya saya terbantu sekali dengan internet. Selama ada koneksi dan gawai, urusan parenting bisa dipelajari dengan mudah dan menyenangkan. Tidak perlu ke mana-mana, kapan pun bisa.


Cepat

Selagi koneksinya lancar dan stabil, dalam hitungan detik, saya bisa menemukan apa yang dicari. Bahkan bisa terhubung dengan DSA atau banyak orang tua dalam sebuah grup dan komunitas. Intinya, internet bisa memangkas jarak dan waktu. Pokoknya mampu menyelesaikan banyak hal lebih cepat. Makanya saya ketergantungan dengan IndiHome selama ada di rumah. Mau itu tengah malam, siang, atau hujan badai kayak gimanapun, koneksi tetap prima untuk berselancar dengan cepat. 


Lengkap

Mau yang berupa pengalaman pribadi? Ada. Atau pernyataan para ahli? Tentu ada. Internet menyediakan informasi lengkap yang tak terbatas. Jadi kita pun bisa menyaring atau mengambil rangkuman yang paling pas dari informasi-informasi tersebut. 


Hemat

Internet membuat saya bisa menghemat uang dan waktu dalam kondisi tertentu. Sederhananya saja, penyakit-penyakit ringan yang terjadi pada anak-anak, penanganan dan obat-obatannya bisa dengan mudah saya dapatkan dari internet. Kalau tidak, mungkin saya harus ke dokter yang tentu butuh waktu dan biaya. Padahal, sakit ringan seperti demam, batuk atau pilek, bisa sembuh dengan obat yang dapat dibeli bebas di pasaran. Atau malah bisa tanpa obat sama sekali. 


Jadi wajar dong kalau sampai detik ini saya masih mengandalkan internet dalam pengasuhan. Saya menjadi lebih mudah belajar dan dapat menetapkan keputusan yang tidak asal-asalan. Karena sejak melahirkan, saya sudah menanamkan dalam diri bahwa saya tidak boleh ikut-ikutan atau mudah percaya dengan pola pengasuhan orang lain. Harus saya cari dulu landasan ilmiahnya atau pernyataan dari ahli agar lebih pasti.


Karena kondisi anak itu unik. Begitu pula dengan kondisi orang tuanya.  Sehingga menjadi orang tua adalah proses belajar yang panjang.


Internetlah salah satu support system saya selama jadi orang tua. Bermanfaat banget lah pokoknya. Bukan lagi sekadar gaya hidup milenial, namun sebuah kebutuhan.



Manfaat Apa Saja yang Sudah Saya Dapatkan?

Internet IndiHome lancarkan komunikasi
Internet IndiHome lancarkan komunikasi untuk kebutuhan parenting

Sampai segitu butuhnya akan koneksi internet, memang manfaatnya luar biasa banget ya? Jelas! Internet ini bisa dianalogikan bagai serabut saraf otak. Tanpa mengubah posisi, saya bisa terhubung dengan jutaan titik. Titik-titik ini dapat berupa website, blog, DSA, ahli parenting, psikolog, orang tua di seluruh dunia, hingga abang ojek yang membantu membelikan kebutuhan anak-anak. 


Seluas itu dunia virtual yang berhasil tercipta selama smartphone atau laptop saya terhubung dengan koneksi IndiHome. Mungkin untuk menceritakan satu per satu manfaat yang sudah saya dapatkan, teman-teman bakal siwer baca tulisan yang enggak ada ujungnya. Jadi saya akan mengelompokkannya dalam empat poin agar lebih tertata.


1. Learning

"ASI pertama itu basi. Lihat aja warnanya, kental dan kuning. Buang dulu, setelah encer dan lebih bersih, baru bayinya disusui."

Bayangkan betapa ruginya bayi saya bila kolostrum terbaik itu benar-benar saya buang. Begitu bersyukur rasanya selama hamil, saya sudah mulai belajar tentang parenting. Memang ASI yang keluar pertama kali itu sangat kental dan kuning. Kalau tidak membaca artikel yang menginformasikan terkait kolostrum, mitos itu akan dengan mudah saya percayai. Apalagi yang ngomong sudah menjadi ibu berpengalaman selama bertahun-tahun.


Pengetahuan saya soal parenting bagai buku kosong saat hamil anak pertama. Setelah melahirkan, saya semakin cemas melihat bayi yang begitu kecil. Bagaimana memandikannya, membedongnya dan memastikan tumbuh kembangnya normal? Kondisi saya yang jauh dari keluarga dan kesepakatan dengan suami untuk tidak memakai jasa pengasuh, mau tidak mau, menuntut saya untuk ekstra belajar. Paling banyak ya dari internet. 


Eits, bukan hanya saya saja lo yang belajar. Anak-anak juga lebih cepat memahami sesuatu saat melihat video bergambar. Sebagai ibu milenial, mana mungkin melewatkan kemudahan ini? Dengan memberi waktu khusus dan terbatas dalam penggunaan gadget untuk melihat video di YouTube Kids, anak saya berhasil mempelajari banyak hal. Di usia 4 tahun, sudah bisa membaca. Di usia 5 tahun, sudah hafal negara-negara dunia beserta benderanya. Dan yang paling bikin speechless, mereka bahkan hafal berbagai hal tentang alam semesta! 


2. Sharing

Siapa yang suka baca-baca atau dengar pengalaman orang tua lain? Kalau saya sih suka banget! Lebih real dan memang benar-benar terjadi. Berbeda dengan informasi berupa teori, meski dikatakan oleh ahli sekalipun, tetap saja "curhatan" terasa lebih nyata dan kadang bisa berkebalikan dari teorinya. Teori bisa saja menjadi dasar pengasuhan, namun belum tentu bisa dipraktikkan secara keseluruhan. 


Internet mempermudah para orang tua untuk saling sharing pengalaman. Saya pernah menjadi pembaca dan tak jarang pula sebagai pembagi cerita. Blog saya berisi banyak sekali artikel parenting. Bisa dibilang seluruhnya menceritakan pengalaman pengasuhan saya. Sesering saya bangkit dari masalah pengasuhan berkat tulisan orang lain, sesering itu pula komentar positif datang di kolom komentar artikel saya. Ah, kalau bukan dihubungkan oleh internet, mungkin cerita orang tua hanya stuck di lingkungan masing-masing saja.


3. Caring

Terhubung dengan orang-orang yang kehidupannya nyaris sama, menumbuhkan rasa kepedulian untuk turut membantu bila salah satu terkena masalah.


Pernah dalam sebuah forum yang kebetulan saya ikuti, seorang ibu menuliskan sedang membutuhkan donor ASI. Keadaanya tidak memungkinkan untuk menyusui karena sebuah penyakit. Kebetulan sekali, stok ASI saya penuh di kulkas. Setelah saling mempelajari latar belakang masing-masing, ASI saya pun ternyata sangat memungkinkan untuk didonorkan. Akhirnya kami bertemu dan ASI tersebut berhasil menjadi penyelamat.


Saya percaya, banyak kepedulian lain yang juga terjadi di dunia internet. Meski mungkin secara fisik belum saling bertemu, tidak saling kenal, para orang tua bisa saling membantu dan meringankan. Sekecil apa pun bentuk kepedulian yang kita beri, bisa berarti sangat besar bagi orang tua lainnya. 


4. Communicating

Pasti setuju dong kalau internet memudahkan penggunanya untuk berkomunikasi. Bahkan saya sendiri hampir tak pernah menelepon dengan jaringan telepon seslular biasa, apalagi SMS-an. 


Siapa sangka, berkat internet, saya bisa chattingan dengan dokter melalui aplikasi kesehatan. Setelah adik saya lulus kuliah kedokteran, konsultasi kesehatan beralih ke video call. Saya perlihatkan dan ceritakan masalahnya apa, lalu beberapa menit kemudian, resep dikirim via WhatsApp. Sering pula saya curhat dalam komunitas parenting, lalu mendapat balasan melegakan dari sesama anggota. Selancar itu lo komunikasi saya dengan pihak-pihak yang saya butuhkan untuk mendapatkan solusi terkait anak-anak.


Dan yang paling berkesan adalah ketika saya dan suami harus berpisah sementara karena sebuah keperluan penting. Saya dan anak-anak di Padang dan suami di Ungaran. Bersyukur sekali rasanya saat anak-anak tetap bebas bercerita dan bercanda dengan ayah mereka walau berbatas layar. Kebetulan IndiHome terpasang di rumah orang tua saya dan rumah orang tua suami. Makanya setiap kali video call, betah sekali sampai tak sadar sudah berdurasi 2 jam. Karena tidak ada delay atau ngelag sama sekali. Mau kapan saja pun aman.


Tidak berlebihan bila saya mengatakan bahwa internet menyatukan Indonesia. Buktinya komunikasi berbeda pulau antara anak-anak dengan suami ketika berjauhan atau saya dengan adik di Padang saat berkonsultasi masalah kesehatan anak, terjalin sangat aman dan lancar bebas hambatan kayak jalan tol tanpa kemacetan. Thanks a lot  IndiHome.


Keempat hal tersebut adalah manfaat internet yang sudah saya rasakan sampai sekarang, setelah lebih dari 5 tahun menjadi orang tua. Pasti akan terus bertambah seiring dengan peningkatan kebutuhan saya akan ilmu parenting. Masalah pengasuhan pasti selalu ada. Belum lagi nanti ketika anak-anak sudah remaja atau bahkan menginjak dewasa, tentu berbeda pula cara yang akan saya terapkan.



IndiHome Recommended Banget untuk Internet Stabil

Modem IndiHome
Internet stabil IndiHome jadi kebutuhan penting setiap hari

Saya percaya bahwa manfaat besar internet dalam peran saya sebagai ibu, tidak lepas dari pemilihan provider yang tepat. Bila ada yang bertanya tentang provider internet rumah, saya jelas merekomendasikan IndiHome. Sejak namanya masih Speedy, saya sudah menjadi pelanggan setia. Bahkan sampai sekarang, setelah saya punya anak dua, masih puas dengan internet stabil dari IndiHome.


Di rumah, modem IndiHome wajib menyala 24/7. Tidak pernah mati, kecuali saat mati listrik. Basic rumah saya yang berupa gedung (rusunawa), terkadang membuat sinyal dari luar suka terhalang tembok. Ada spot yang sinyalnya kuat, ada juga sudut yang susah banget menangkap sinyal. Makanya saya lebih memilih IndiHome untuk akses internet sehari-hari. Soalnya IndiHome kan menggunakan modem Wi-Fi sendiri di dalam rumah, sedangkan untuk jaringan ke luarnya menggunakan kabel. Jadi internet yang ditangkap gawai kami sekeluarga selalu stabil tanpa khawatir terganggu oleh gedung tinggi atau cuaca.


Kalau dihubungkan dengan parenting, tentu hal ini menjadi penting. Saya tidak bisa memilih waktu untuk datangnya masalah pengasuhan. Bisa saja tiba-tiba tengah malam anak rewel, atau seperti pengalaman saya tadi yang mesti tiba-tiba LDR-an dengan suami. Pastinya akan berpengaruh juga pada kedekatan anak-anak dengan ayahnya. 


Makanya kualitas jaringan internet yang saya gunakan harus mendukung itu semua. Bisa diandalkan kapan pun. Paling tidak selama di rumah, karena saya memang lebih banyak di rumah mengurus anak-anak.


Berdasarkan hasil survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2020, dari 14,8 persen pengguna internet tetap di rumah, IndiHome memegang posisi pertama sebagai provider yang paling banyak digunakan, yaitu mencapai 9,8 persennya.


Data tak mungkin berbohong, 'kan? Kontribusi IndiHome bagi teknologi digital Indonesia, salah satunya terwujud dengan pemerataan jaringan internet hingga ke pelosok negeri. Misalnya di bagian Timur Indonesia saja, Telkom sudah memiliki lebih dari 520 ribu sambungan. Apa lagi di bagian Barat atau Tengah Indonesia? Itu angka yang saya baca dalam artikel yang terbit tahun 2019 lalu di website Telkom. Sekarang tentunya sudah melebihi itu.


Benar adanya, internet menyatukan Indonesia.

Intinya sih, IndiHome tak pernah membuat saya kecewa. 


***


Selagi pilihan provider internet yang dipilih tepat, dalam artian stabil dan lancar, banyak hal yang bisa dimanfaatkan orang tua untuk mendukung perannya. Apa yang selama ini saya dapatkan dari internet tentang dunia parenting, mungkin saja juga dirasakan oleh banyak orang tua. Kalau tidak, mungkin hasil survei kecil-kecilan saya di Instagram Story kemarin tidak ada yang menjawab "sering". Ya, itu karena mereka merasa terbantu atau pernah terselesaikan masalahnya karena searching di internet.


Sebagai penutup, saya akan berbagi sedikit tips untuk menyaring informasi parenting yang tersebar di dunia maya agar tak salah mengambil referensi. 


Pertama, website atau media digital harus dikelola oleh pihak profesional. Biasanya ditandai dengan keterlibatan ahli pada bagian yang bersifat teori atau teruji secara ilmiah. Jelas penulisnya siapa dan ada kontak yang bisa dihubungi. Pesan yang disampaikan objektif, tidak berat pada satu pihak saja atau seolah menyalahkan pihak lainnya. Dan yang paling penting, tidak ada iklan "aneh-aneh".


Kedua, aktif diperbarui. Dunia ini terus berkembang, termasuk juga soal parenting. Belum tentu informasi yang eksis di 10 tahun lalu, bisa memberi manfaat yang sama di masa sekarang. Jadi pastikan informasi yang disajikan dalam media tersebut selalu up to date.


Kebijakan orang tua dalam memilih dan memilah informasi menjadi kunci penting dari hadirnya internet di tengah kemajuan teknologi. Bukan hanya untuk menggali informasi dan mencari solusi, orang tua bisa saling berbagi, saling peduli dan saling berkomunikasi demi menciptakan generasi penerus yang terbaik. 


Internet menyatukan Indonesia, menyatukan orang tua.

Happy parenting!

Anak Sering Muntah, Kapan Normalnya?

6 comments

Sejak bayi, anak pertama saya sering sekali muntah. Puncaknya setelah memasuki masa MPASI. Bila kebanyakan anak bisa makan dengan lahap, lain halnya dengan anak saya. Nyaris setiap kali berusaha menelan makanan, walau sudah saya bikin sehalus mungkin, tetap saja keluar lagi.


Anak sering muntah


Saya tahu sekali bahwa ini bukan GTM. Tidak mungkin GTM berlangsung sampai bertahun-tahun tanpa henti. Feeling saya kuat sekali bahwa ada hal lain yang menyebabkan anak saya muntah. 


Sudah beberapa dokter saya kunjungi. Tetap saja hasilnya nihil. Tes alergi pun menunjukkan bahwa tidak ada alergi apa-apa. Lalu kenapa? Kenapa anak saya tidak bisa makan dengan normal? Mengunyah dan menelan tanpa harus muntah. Jawaban yang tidak pernah saya temukan sampai detik ini, di usianya yang sudah melebihi 5 tahun. Jadi bila ada yang bertanya penyebabnya, saya pun tidak tahu.


Baca juga: Saya Belajar Dari Anak tentang Hal Penting Ini


Bila diingat ke belakang, itulah masa-masa berat saya sebagai orang tua. Saya nyaris gila menghadapi hari. Bingung hendak memasak apa. Saya bisa memasak 5 sampai 6 menu makan berbeda dalam sehari demi bisa masuk ke perut anak. Belum lagi menerima komentar negatif dari sekitar. Dibilang tidak kreatif lah, tidak telaten lah, dan tak jarang membandingkan dengan anak mereka yang bertubuh gempal. 


Sedih lah pokoknya.



Akhirnya Muntah Itu Hilang

Bagi teman-teman yang mengikuti tulisan di blog saya, beberapa tahun lalu, lumayan banyak artikel yang membahas tentang makan anak, GTM, vitamin anak, nutrisi anak hingga mommy shaming. Semuanya saling terkait. Dan memang selebar itu dampaknya saat anak saya masih sering muntah. Tulisan-tulisan curhat ini juga menandakan bahwa begitu lama saya menghadapinya.


Bayangkan saja, ibu baru dan mengasuh anak pertama sendiri tanpa bantuan siapa-siapa, lalu dihadapkan dengan masalah muntah berkepanjangan, wajar bila saya stres dan sering menangis. Setiap kali mendekati jam makan, perasaan saya mulai tidak enak. Emosi pun kerap kehilangan kendali dan ujungnya memarahi anak. 


Tapi alhamdulillah itu sudah berlalu. Sekarang anak saya sudah bisa makan dengan lahap dan tidak muntah lagi. Berat badannya naik dengan cepat. Bak pelangi setelah badai, serasa beban di pundak saya hilang seketika.


Lalu kapan anak saya benar-benar berhenti muntah?


Ini bukan seperti membalikkan telapak tangan. Tiba-tiba dalam satu hari semuanya berubah. Tidak. Tapi ada prosesnya. 


Usia 3 tahun

Bagai keajaiban. Entah kebetulan atau tidak, masalah muntah mulai ada pengurangan ketika anak saya berkunjung ke dokter gigi. Saat konsultasi, dokter memberi penjelasan bahwa salah satu penyebab anak sulit makan adalah pemberian makanan/minuman yang manis. 

Penjelasan detailnya sudah pernah saya tulis di sini ya 3 Tahun Anakku Susah Makan, Ternyata Inilah Penyebabnya


Akhirnya saya coba stop susu bubuk dan beralih ke UHT saja. Saya juga bertahan tidak memberi cemilan manis dulu. Eh, ternyata benar, nafsu makan membaik dan lebih jarang muntah. 


Walau hanya ada sedikit peningkatan, tapi di usia inilah frekuensi muntah mulai berkurang. Memang masih muntah, tapi makanan yang bisa ditelan sudah mulai banyak. Bahkan kalau makanannya enak sekali, bisa menghabiskan satu porsi.  


Usia 4 tahun

Semakin membaik dong tentunya. Frekuensi muntah lebih berkurang lagi. Meski ingin muntah, bisa ia tahan. Makanan berserat masih saya potong kecil-kecil agar lebih mudah ditelan.


Saya begitu yakin salah satu akar masalah muntah ini adalah kemampuan menelan yang masih belum sempurna. Terlihat dari sulitnya anak saya menelan makanan dan selalu muntah saat berusaha menelan. Bukan memuntahkan apa yang sudah masuk ke lambungnya. 


Pokonya, di usia 4 tahun, saya sudah mulai santai menyuapi makan. Dalam sebulan, paling hanya muntah satu atau dua kali saja. Bahkan ada yang tidak muntah sama sekali. Kemajuan pesat banget, 'kan? 


Usia 5 Tahun

Melewati 5 tahun, anak saya tidak pernah muntah lagi saat makan. Yey! Kemampuan menelannya sudah normal. Walau ada potongan ayam atau daging yang agak besar, sudah bisa dikunyah dan ditelan dengan baik. Semua tekstur makanan bisa ditelannya dengan baik. 


Kini ia makan sangat lahap. Sudah saya beri kembali susu bubuk rasa cokelat untuk melengkapi kebutuhan nutrisinya. Alhamdulillah tidak memengaruhi nafsu makannya dan berat badannya pun naik signifikan. 


Kesimpulannya, anak saya benar-benar bisa makan dengam normal ketika usianya 5 tahun


***


Pengalaman saya menghadapi anak pertama yang sering muntah menemukan ujungnya setelah 5 tahun. Betapa bahagia dan bangganya saya bisa bertahan selama itu di masa sulit. Memang poinnya hanya susah makan, tapi sebagai ibu, melihat anak sendiri tidak makan adalah cobaan besar. Tiga hari anak GTM saja bikin stres, apalagi saya yang menghadapinya selama bertahun-tahun?


Baca juga: Menghitung Tinggi Badan, Berat Badan dan Lingkar Kepala Normal Anak dalam Masa Pertumbuhan


Next, akan saya share tips bagaimana menghadapi anak yang sering muntah dan menjaga pemenuhan nutrisinya. Karena alhamdulillah, walau lebih banyak yang keluar dari yang masuk, grafik pertumbuhan anak saya masih normal. Dan ini juga disimpulkan oleh setiap dokter yang saya kunjungi


Ditunggu ya curhatan bermanfaat selanjutnya.


Boleh sekali bila ingin bertanya atau berbagi pengalaman di kolom komentar agar kita bisa saling menguatkan dan menemukan solusi. 

Pentingnya Rayakan Ulang Tahun Anak, Lakukan Tips Ini Agar Parayaan Tidak Menjadi Beban

2 comments

Ulang tahun anak

Orang tua pasti memiliki cara pengasuhan masing-masing yang dirasa paling tepat. Bukan hanya tumbuh kembang saja yang bersifat unik, namun pola asuh ini juga berbeda antara satu dengan yang lainnya. Termasuk dalam urusan merayalan ulang tahun anak. Ada yang menganggap tidak masalah bila tidak dirayakan, namun banyak pula yang ingin mengadakan momen spesial demi membahagiakan sang anak. Apa pun itu, tentu orang tua memiliki pertimbangan masing-masing.

Keuntungan dan Tantangan Memiliki Anak dengan Jarak Usia Dekat

4 comments

Jarak usia anak dekat
Keseruan mengasuh balita dan bayi sekaligus memberi banyak keuntungan dan tantangan

Beberapa waktu lalu netizen dihebohkan dengan keputusan seorang public figure wanita tanah air yang menyatakan bahwa ia dan suami sepakat menganut child free, yang artinya tidak memiliki anak dalam pernikahan. Berbagai pertimbangan matang tentu sudah mereka pikirkan. Memang menjadi orang tua tidak sesederhana melahirkan dan memberi makan, namun perjuangannya begitu besar dengan tanggung jawab yang luar biasa. 


Berbeda sekali kondisinya dengan mereka yang ingin child free, saya memiliki dua anak dengan jarak kelahiran yang cukup dekat, yaitu 2 tahun 4 bulan. Bukannya tanpa pertimbangan, saya dan suami merencanakan banyak hal atas kelahiran anak kami. Sadar akan tantangannnya, begitu pula keuntungannya. 


Saya sempat membuat survey kecil-kecilan melalui beberapa pertanyaan di akun instagram pribadi. 55% dari kontributor lebih memilih memberi jarak yang cukup jauh antar anak karena merasa tidak kuat bila harus merawat lebih dari satu balita sekaligus. 45%-nya lagi menjawab tidak masalah bila mereka memiliki anak dengan jarak usia dekat dengan alasan biar "sekalian capek". Ternyata bukan cuma saya lo, masih banyak orang tua yang menginginkan punya anak dengan jarak lahir berdekatan!


Baca juga: Pentingnya Merencanakan Waktu Kehamilan dan Jumlah Anak Setelah Menikah, Pertimbangkan 7 Hal Ini!




Keuntungan Punya Anak dengan Jarak Usia Dekat

Nah, sebagai bahan pertimbangan bagi kamu yang berencana memiliki anak kembali dan Si Kakak masih berusia kurang dari dua tahun, berikut beberapa keuntungan punya anak dengan jarak usia dekat berdasarkan apa yang saya alami.


Sekalian Capek

Inilah alasan utama kenapa orang tua memilih untuk segera memiliki anak meski anak sebelumnya masih batita. Mengurus anak yang belum mampu mandiri pasti menguras tenaga orang tua. Biarlah sekarang mencurahkan semua waktu untuk anak, agar nanti bila anak sudah mulai sekolah dan punya kehidupan sendiri, orang tua bisa lebih bebas melakukan apa yang sebelumnya tidak bisa dilakukan.


Seperti saya dan suami yang memiliki banyak mimpi, sedangkan melakukannya sembari mengasuh balita tidak mungkin dilakukan. Saya ingin sekali fokus menulis dan bercita-cita melanjutkan S-2. Suami pun juga bermimpi untuk mengembangkan toko online action figure-nya menjadi semakin besar. Setelah dijalani, ternyata upaya mewujudkannya tidak dapat dilakukan maksimal karena kami harus memprioritaskan waktu untuk anak-anak. Karena alasan inilah kami sepakat untuk memiliki anak kedua meski anak pertama masih berusia 1,5 tahun. Biar mimpi-mimpi itu dapat segera dikejar kembali.


Masih Terbiasa 

"Mumpung belum lupa cara memandikan anak, belum lupa rasanya begadang setiap malam menyusui anak dan belum lupa resep-resep bubur bayi". Kebiasaan orang tua ketika memiliki bayi ini pasti membutuhkan perjuangan ektra untuk beradaptasi. Apalagi masalah-masalah pengasuhan balita yang pasti selalu ada, tentu perlu kemampuan dari orang tua dalam menanganinya. Maka dari itu, sebelum rasa dan ilmu dari anak sebelumnya belum hilang, lebih baik memiliki anak lagi. Jadi tidak perlu mengulang proses adaptasi dengan kehidupan baby kembali.


Baby Blues Syndrome yang sempat saya alami saat kelahiran anak pertama seakan menjadi bayangan buruk. Takut terjadi lagi ketika melahirkan anak selanjutnya, saya akhirnya mantap memilih segera punya anak lagi agar tidak perlu mengalami perubahan hidup yang drastis kembali. Bayangkan bila anak pertama sudah berusia 5 tahun atau lebih, pasti tidur malamnya sudah nyenyak, makannya sudah enak dan tidak masalah ditinggal bermain sendiri selagi saya mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Kenyamanan ini tentu akan berubah ketika memiliki anak kedua, sehingga saya harus berusaha kembali untuk menyesuaikan diri dengan kehadiran baby newborn.


Tidak Perlu Membeli Kebutuhan Bayi Lagi

Kalau hanya berjarak di bawah 3 tahun, Si Adik bisa memakai baju-baju lungsuran Si Kakak yang masih bagus. Apalagi baju bayi baru lahir yang hanya dipakai sebentar saja, sudah dapat dipastikan bisa dipakai kembali. Bukan hanya baju, berbagai perlengkapan mandi bayi, mainan bayi, keperluan menyusui untuk ibu, botol-botol susu dan alat makan masih lengkap tertata di tempat yang mudah dijangkau. Sangat membantu menghemat keuangan keluarga hingga berjuta-juta. 


Kebetulan anak pertama dan kedua saya laki-laki. Saya tidak membeli perlengkapan baru apa pun ketika Si Adik lahir. Semuanya masih sangat bagus dan sangat layak untuk digunakan kembali. Tubuh bayi tumbuh dengan cepat sekali, sehingga baju-baju yang ia kenakan hanya terpakai sebentar saja. Makanya semua pakaian tersebut masih berkondisi baik. Bahkan sampai sekarang, saya lebih banyak membeli baju hanya untuk Si Kakak. Adiknya pun tidak keberatan, malah bangga ketika mengenakan baju lungsuran karena menganggap ia sudah lebih besar seperti kakaknya.


Anak Punya Teman Main

Anak dengan usia dekat akan memiliki kebiasaan dan selera yang sama. Mereka lebih nyambung dalam berkomunkasi dan bermain karena memiliki ketertarikan yang sama tersebut. Ini akan terlihat jelas ketika adik sudah berusia lebih dari 2 tahun, anak-anak menjadi lebih riang bermain karena merasa memiliki teman. Apalagi di tengah kondisi pandemi yang mengikat langkah kita untuk melakukan banyak aktifitas di luar rumah, anak-anak berpotensi mengalami kebosanan karena tidak bisa bereksplorasi dengan bebas. Disinilah keuntungan ini benar-benar bermanfaat, anak-anak masih bisa bermain riang karena ada teman yang dianggap sebaya untuk diajak bermain sepanjang hari. 


Adik Punya Contoh

Anak pertama bisa diandalkan untuk membantu orang tua dalam mendidik adik-adiknya. Saya tidak perlu mengajari anak kedua saya memegang sendok, minum dengan gelas, mengenal huruf dan angka atau beberapa etika yang baik karena semuanya dipelajari dari sang kakak. Malah lebih cepat menangkap dari pada ketika diajarkan oleh saya atau suami. Saran bagi seluruh orang tua, didiklah anak pertama dengan sungguh-sungguh karena mereka bisa menjadi penolong kita untuk menghendel adik-adiknya ketika kita tidak mampu melakukannya. Bukan berarti lepas tangan kepada anak kedua, ketiga atau keempat, namun ada masa di mana kita sebagai manusia luput mengawasi, menuntun atau melakukan kekhilafan lain, yang akhirnya dapat ditangani oleh Si Sulung. 


Bagaimana, menarik bukan? Kesimpulannya, dari sisi psikologis, memiliki anak dengan jarak usia dekat tidak sepenuhnya menimbulkan akibat yang buruk. Kebiasaan dan pengalaman memiliki bayi dan balita yang masih "segar" membuat orang tua lebih cekatan dan santai dalam pengasuhan. Begitu pula bagi anak-anak, ada kesenangan yang mereka dapatkan karena memiliki saudara sekaligus teman.


Baca juga: Pentingnya Support System untuk Jaga Kesehatan Mental Ibu




Tantangan Punya Anak dengan Jarak Usia Dekat

Ada keuntungan, tentu ada pula tantangannya. Memiliki anak dengan jarak usia dekat dengan kebiasaan dan kebutuhan yang nyaris sama, pastinya menimbulkan kesulitan tersendiri karena usaha yang diperlukan untuk mengasuh mereka menjadi berlipat ganda. Betikut beberapa tantangan tersebut.


Capek!

Sudah jelas, orang tua akan lebih capek mengurus bayi dan balita secara bersamaan dibandingkan dengan satu anak saja. Kakaknya nangis minta cemilan, adiknya nangis minta susu. Kakaknya ingin pup, adiknya malah enggak mau ditaruh di kasur. Kejadian seperti ini sudah menjadi makanan saya sehari-hari. Saya tidak menggunakan ART atau pengasuh, jadi semua saya mengurus. Belum lagi ditambah dengan urusan rumah tangga, rasanya waktu 24 jam dalam sehari tidak cukup untuk menyelesaikan semua tugas. Saya seperti diburu waktu dengan tugas yang saling bersambung. Bahkan saat jam tidur malam pun, saya harus bangun menyusui dan terkadang juga harus memijiti kaki Si Kakak yang pegal karena terlalu aktif bermain di siang hari. Bertahun-tahun saya lupa rasanya tidur lelap semalaman.


Takut Tidak Adil

Hal yang paling saya takutkan semenjak hamil anak kedua adalah tidak mampu berlaku adil kepada anak-anak. Ketidakadilan ini sangat besar dampaknya bagi mereka, bahkan bisa berujung saling menyakiti. Meski sudah berupaya semaksimal yang saya bisa, terkadang mereka menganggap bahwa saya membela salah satu di antara mereka. Yang paling riskan adalah ketika saya menganggap Si Kakak sudah bisa berpikir dewasa hanya karena ia memiliki adik, padahal sebenarnya ia masih anak-anak yang tidak jauh berbeda dengan adiknya. Ini menjadi tantangan yang paling sulit saya atasi. Saya membaca berbagai artikel parenting agar tidak salah cara.


Pernah sekali anak pertama saya berkata bahwa ia sangat membenci adiknya yang baru berusia satu bulan. Menganggap saya tidak lagi sayang dan hanya memperhatikan adiknya yang lebih sering saya gendong. Saya kaget bulan kepalang. Perasaan cemas langsung menggerogoti sambil mengingat kesalahan apa yang telah saya lakukan. Ternyata penyebabnya adalah karena saya tidak lagi memeluknya ketika akan tidur karena harus menyusui. Dia belum bisa menerima kebiasaan baru dengan kahadiran bayi yang butuh ASI. Akhirnya saya berusaha melibatkan dia lebih banyak lagi untuk mengurus sang adik, mulai dari memilih baju yang akan dikenakan, meminta tolong mengambil popok, ikut memandikan, serta tidak lupa meminta izin setiap kali saya hendak menyusui. Alhamdulillah, perlahan ia mulai memahami dan menerima kehadiran anggota baru dalam keluarga kami.


Rentan stres

Akibat terlalu sibuk dan cepek mengurus dua anak, menikmati waktu untuk diri sendiri menjadi sesuatu yang langka didapat. Untuk tidur saja susah, apalagi me time? Kesulitan menyisakan waktu untuk melakukan apa yang disukai orang tua, rawan sekali menimbulkan stres. Ditambah lagi kondisi anak yang dalam waktu singkat bisa berubah-ubah, misalnya sekarang anteng, satu menit kemudian malah tantrum hanya karena dilarang memakan coklat terlalu banyak. Terkadang berharap bisa tidur siang bareng anak, eh, Si Kakak malah melek minta ditemani main. Khusus untuk kaum ibu yang lebih banyak di rumah bersama anak dikala ayah bekerja, berkurangnya interaksi dengan orang lain selain anak dan pekerjaan rumah tangga akan menambah besar peluang terjadinya stres ini.


Pengeluaran Doubel

Meski orang tua tidak perlu lagi membeli perlengkapan bayi atau kebutuhan ibu pasca melahirkan karena masih ada lungsuran dari anak pertama, kenyataannya pengeluaran ganda tetap harus dibayarkan orang tua. Misalnya membeli popok sekali pakai dengan jumlah dua kali lipat lebih banyak, baju bepergian yang inginnya samaan atau dua mainan sewarna yang kalau berbeda sedikit saja bisa memancing keributan. Belum lagi ketika anak sudah mulai sekolah, orang tua juga harus mengeluarkan dana dua kali lipat hampir di sepanjang masa pendidikan anak. Pengeluaran yang serba doubel ini tentu menjadi beban tersendiri yang mesti dipertimbangkan.


Kehidupan Suami-Istri Terabaikan

Meaki sudah memiliki anak, kehidupan suami-istri sebagai pasangan tetap harus dijaga. Bukan hanya untuk menciptakan kenyamanan dan kelancaran komunikasi bagi keduanya, namun juga berdampak langsung pada pengasuhan anak. Kesibukan memiliki balita dan bayi yang membuat tenaga dan waktu terkuras habis, pasti mengancam waktu orang tua untuk sekadar bercerita atau berdiskusi tentang kehidupan sehari-hari. Mungkin saja ini akan berlanjut pada kesalahpahaman yang akhirnya berujung pertengkaran. Saya pun pernah mengalami hal seperti ini, tidak lagi sempat memikirkan suami karena tidak mampu lagi membagi waktu. Untung suami mengerti dengan keadaan dan bersabar meski harus masak lauk sendiri, setrika baju kerja sendiri atau turut membantu mengurusi rumah. Makanya penting sekali bagi orang tua untuk membicarakan perihal ini ketika berencana memiliki anak dengan jarak usia yang dekat. 


Lumayan menantang juga 'kan? Tapi orang tua jangan terlalu panik dulu, pasti ada solusi di setiap tantangan. Saya yang awalnya menyangsikan kemapuan saya untuk mengurus dua anak sekaligus, ternyata hingga sekarang fine-fine saja. Mau anak satu, dua, berjarak usia 2 tahun atau 10 tahun, semuanya tetap memiliki tantangan masing-masing. Selama masih ada kerja sama yang baik dari ayah dan ibu, semuanya pasti bisa dilalui. 


Baca juga: Tips Mengatasi Kecemburuan Si Kakak setelah Mempunyai Adik


__________


Rencana memiliki anak, baik jarak usianya dekat atau jauh, tetaplah menjadi keputusan masing-masing keluarga. Tidak ada yang salah dengan keduanya, karena apa pun pilihan yang diambil pasti sesuai dengan kondisi dan kebutuhan. Namun perlu dicatat, sebaiknya konsultasikan dulu dengan dokter apabila jarak kehamilan terlalu dekat. Karena berdasarkan beberapa penelitian, dari segi kesehatan sebaiknya ibu memberi jeda 18 - 23 bulan untuk hamil kembali setelah kelahiran anak sebelumnya (menurut Warren, Direktur Eksekutif Parenting Research Center yang dikutip dari id.theasianpatents.com).


Semoga bermanfaat :)


Referensi:

Sebaiknya Berapa Jarak Usia yang Ideal Antara Kakak dan Adik?. Tautan: https://id.theasianparent.com/jarak-usia-yang-ideal-antar-anak