Pentingnya Support System untuk Jaga Kesehatan Mental Ibu

"Seorang ibu tega menyiksa darah dagingnya sendiri akibat dendam dengan mantan suami yang kabur dan hilang tanpa jejak. Sang ibu stres lantaran harus bekerja banting tulang untuk memenuhi kebutuhan keluarga seorang diri. Sekarang wanita berusia 30 tahunan ini sudah diamankan pihak kepolosian untuk diperika lebih lanjut," suara pembaca berita terdengar lantang di tengah ruang keluarga kami siang itu. 


"Ih, kok tega amat! Marah sama suami, malah anak yang disiksa," ucap adikku yang juga ikut menyaksikan. Kentara sekali rasa kesal bercampur miris dari ekspresi wajahnya..

Aku mungkin akan mengeluarkan kalimat yang sama jika belum merasakan bagaimana kehidupan nyata seorang ibu. Tapi kini, setiap kali mendengar berita serupa, bukannya marah, aku malah berpikir bahwa ibu-ibu tersebut sebenarnya sedang tidak baik-baik saja. Kesehatan mentalnya terabaikan dan orang-orang hanya melihat sebelah mata serta menghakimi tanpa peduli apa yang terjadi dibaliknya.


Beberapa hari setelah kelahiran anak pertama, aku mengalami apa yang dinamakan Baby Blues Syndrome. Perubahan drastis yang terjadi membuatku gagal beradaptasi di tahap awal. Tertekan, marah, kesal, sedih, kecewa dan perasaan tidak enak lainnya menggerogoti hati dan pikiran. Dampaknya apa? Tanpa banyak pertimbangan, aku membenci anak yang telah aku tunggu-tunggu kelahirannya. Bahkan aku memilih mengurung diri di kamar mandi ketika ia menangis, bukan menggendong dan menyusuinya. Apakah ini kesengajaan? Tidak sama sekali. Aku tidak bisa berpikir apa-apa waktu itu, hanya merasa terbebani dengan bayiku dan tidak ingin mendekatinya. 


Untungnya, suami mengerti. Perlahan dan sabar ia berusaha keras memperbaiki keadaan. Bila aku tidak ingin mendekati anak kami, suami dengan sigap turun tangan menggantikan tugas menggendong dan memberikan ASI dengan dot. Aku dibiarkan beristirahat dan menenangkan diri agar tidak lagi merasa sendiri menjalani kehidupan yang serba baru ini. Hingga akhirnya Baby Blues Syndrome itu hilang menyisakan banyak pelajaran.


Aku adalah salah satu yang beruntung, mendapat dukungan ketika dibutuhkan. Jika tidak, bukannya tidak mungkin hal yang dianggap tega dan gila untuk dilakukan seorang ibu, juga aku lakukan tanpa mampu      berpikir jernih.


Ini hanyalah secuil dari kisah pilu kehidupan ibu. Berita miring yang seolah-seolah hanya ibulah yang bersalah masih saja tersiar. Ingin sekali rasanya merangkul dan membantu sebagai sesama ibu, karena aku hafal sekali bagaimana rasanya dihadapkan dengan permasalahan yang mengganggu kesehatan mental. Pengasuhan dengan segala lika-likunya bukanlah hal mudah, apalagi ditambah dengan masalah lain yang turut menambah pikiran ibu. Bagaimana semuanya bisa berjalan baik? Padahal ibu adalah orang yang paling berperan dalam mengurusi keluarga dan rumah tangga.





Kesehatan Mental Ibu, Hal Penting yang Sering Terabai


Foto: freepik.com oleh justinboat29
Selebriti yang sedang hangat diperbincangkan belakangan ini datang dari Shandy Aulia. Shandy menuntut secara hukum seorang pengguna sosial media karena komentar viralnya. Berdalih sebagai tenaga kesehatan yang mengerti masalah tumbuh kembang anak, netizen tersebut yang juga merupakan seorang wanita, tega menggunakan kata-kata tidak beretika terkait sang anak, Claire. Padahal tidak pernahkah terpikirkan jika mental ibu dipertaruhkan di sini? Terlepas dengan apa tujuan si pelaku, menghakimi seorang ibu bukanlah hal yang bisa dibenarkan, apalagi sudah disertai dengan pelanggaran etika dan kesopanan.
Semenjak hamil, melahirkan, pasca-melahirkan, hingga anak dewasa, ibu mengalami perjalanan panjang pengasuhan yang tidak lepas dari pengaruh faktor hormonal dan faktor eksternal. Mommy burnout adalah istilah bila ibu memiliki dampak mental dari permasalahan pengasuhan yang pasti tidak akan selalu berjalan mulus. Rasa lelah, stres, hingga menyalahkan diri sendiri terkadang terjadi dan sulit sekali dihindari.


Belum lagi ditambah dengan tanggung jawab mengurus rumah yang hampir semuanya seakan menjadi tugas abadi ibu. Karena memang paradigma di masyarakat sudah terpaku dengan ibu yang bertugas mengurus seluruh urusan rumah tangga. Suami hanya berkewajiban mencari nafkah, sedangkan ibu, sudah pasti harus membereskan urusan anak dan rumah. Mulai dari tugas dapur, belanja, mengasuh, serta tidak jarang ibu yang ikut pula bekerja menambah tabungan keluarga. 


Aktifitas yang padat dan tanggung jawab berat yang seolah dipikul sendiri, sering mengancam kesehatan mental ibu. Banyak suami mengeluh bahwa istrinya berubah menjadi pemarah setelah memiliki anak. Padahal jawabannya bisa saja tersedia pada diri suami, apakah selama ini pernah membantu atau membagi beban kerja dengan adil? Tertekan dengan banyaknya urusan pasti membuat siapa saja merasa tidak nyaman yang ujungnya akan berpengaruh buruk pada pengendalian emosi.


Paradigma yang menganggap ibu mampu mengerjakan semuanya, seolah menyenyampingkan kondisi mental ibu. Jangankan untuk mendapat kepedulian dari orang lain, saking sibuknya, ibu sendiri juga bisa melupakan apa yang menjadi kebutuhan dasarnya. 


Tuntutan dan harapan tinggi dari banyak pihak menjadi penyebab terbesar ibu mengalami stres. Ibu acap kali dituntut untuk memberikan seluruh dirinya, baik waktu, tenaga dan pengabdian, untuk keluarga tanpa peduli bahwa ibu sebenarnya juga butuh ruang untuk dirinya sendiri. Mengharapkan segalanya dapat selesai dengan sempurna, membuat ibu kelelahan dalam menjalani perannya. Tidak jarang kelelahan ini berdampak buruk pada anak, keluarga dan diri ibu sendiri tentunya. 


Terganggunya kesehatan mental ibu bukan lagi masalah iman dan kurangnya rasa syukur. "Harusnya kamu bersyukur dikasih anak. Orang saja banyak yang susah dapat anak. Ini malah stres ngasuh anak," atau "Kurang iman sih. Dikit-dikit stres, dikit-dikit ngeluh. Coba perbanyak ibadah biar bisa bersyukur." Familiar sekali rasanya dengan kalimat seperti ini. Aku yang merupakan seorang ibu, dan sudah 5 tahun menyandang status ibu, juga pernah mendapatkan komentar serupa. Sakit? Tentu! Tapi dibalas juga percuma, tetap saja kesalahan ditimpakan kepada ibu. 


Aku yakin, dalam kondisi normal, tidak seorang pun ibu ingin dengan sengaja mengabaikan tugasnya. Bahkan untuk membiarkan rumah berantakan, makanan tidak tersedia di meja atau anak-anak yang belum mandi sore, ibu pasti merasa ada hal yang bertentangan terjadi dalam dirinya. Begitu pentingnya menjaga kesehatan mental ibu. Berikut beberapa dampak negatif yang bisa terjadi bila kondisi mental ibu terabaikan. 

1 Merusak Diri Ibu

Terabaikannya kesehatan mental ibu berpotensi untuk merusak diri ibu secara perlahan. Stres yang dialami ibu semakin memburuk bila tidak ditangani dengan tepat. Ibu bisa menyalahkan diri sendiri, menganggap gagal menjadi seorang ibu, merasa tidak mampu, rendah diri dan sebagainya sehingga ibu bisa berubah menjadi orang yang berbeda dari sebelumnya. Apalagi bila ibu tidak memiliki waktu untuk dirinya sendiri, waktu makan terlewatkan dan jam istirahat tidak lagi mencukupi kebutuhan. Bukan hanya mental saja yang akan terganggu, namun kesehatan fisik juga turut bermasalah. Padahal inilah modal utama ibu agar dapat menjalani tanggung jawabnya dengan baik. 


Kehidupan Sosial Terganggu

Tidak ada manusia yang hidup sendiri. Ibu pasti memiliki orang-orang di sekelilingnya. Pertama adalah keluarga. Bila ibu stres, maka hubungan dengan suami dan anggota keluarga lain mungkin saja akan terganggu. Komunikasi yang tidak baik, kesalahpahaman, atau pikiran negatif akan mempengaruhi hubungan sosial ibu. Apalagi orang-orang disekitar juga tidak mengerti apa yang tengah terjadi dengan ibu, pasti pertengkaran dan permasalahan baru akan bermunculan sehingga memperburuk keadaan.


3 Kesehatan dan Kesejahteraan Anak Terancam

Kembali ke masa aku mengalami baby blues syndrome, keinginan untuk menjauhi anak yang sedang membutuhkan ibunya tentu meninggalkan dampak buruk bagi kesehatan anak dan hubungan antara ibu dan bayi. Dikutip dari medcom.id, Erika Kamaria Yamin, M.Psi., Psikolog., CHt, CPS selaku Psikolog dari @ideplus.id menyatakan bahwa kondisi mental seorang ibu berpengaruh besar terhadap kesehatan dan kesejahteraan anak jangka panjang.


Mulai dari masa kehamilan, stres pada ibu bisa berpengaruh buruk pada janin dan kehidupannya setelah lahir. Dilansir dari alodokter.com, ibu yang mengalami stres dan terlalu emosi selama masa kehamilan dapat menghambat pertumbuhan janin, meningkatkan risiko persalinan prematur, meningkatkan risiko bayi terlahir dengan berat badan lahir rendah, mempengaruhi temperamen bayi, meningkatkan risiko gangguan tidur pada bayi dan meningkatkan risiko bayi rentan terhadap berbagai penyakit.


Pasca melahirkan, kondisi ibu yang tidak stabil akan membuat ibu lebih mudah marah meskipun anak hanya melakukan kesalahan kecil. Ditakutkan amarah ini juga disertai dengan kekerasan fisik yang bisa menggores trauma. Belum lagi urusan kecukupan nutrisi anak, ibu yang seharusnya belajar dan berupaya memberikan menu sehat, malah tidak melakukannya. Jika ini terus menerus terjadi tanpa penyelesaian, pasti akan berpengaruh buruk terhadap tumbuh kembang anak dan dampaknya bisa saja bersifat jangka panjang hingga anak dewasa nanti.


4 Tidak Ada yang Terselesaikan dengan Baik

Semua orang, termasuk ibu, tidak ada satupun yang mampu menyelesaikan tugas dan tanggung jawabnya jika keadaan diri sendiri saja tidak terperhatikan. Keseharian menjadi tidak normal. Anak yang hanya merengek karena terinjak mainan, atau suami yang terlambat sampai di rumah karena macet, bisa menjadi masalah besar yang merusak segalanya. Semua terlihat salah. Ibu tidak bisa lagi berpikir rasional untuk memutuskan berbagai hal. Inilah yang menjadikan tidak satupun pekerjaan rumah dan pengasuhan yang akan berjalan baik bila kesehatan mental ibu terganggu. 




Ibu Bukan Manusia Super

Foto: freepik.com oleh ArthurHidden

Sebelum menikah, aku punya bayangan akan menjadi ibu seperti apa nantinya. Mengasuh anak tanpa marah, memberi makanan sehat yang semuanya homemade, serta menjadi ibu yang menyelesaikan segala pekerjaan rumah dengan sempurna. Ya, aku memang berencana untuk menjadi ibu rumah tangga saja waktu itu. Keluarga dengan anak-anak yang tumbuh bahagia adalah impian yang aku pikir hanya bisa terwujud bila fokus menjadi full time mom.


Setelah hamil anak pertama, target kesempurnaan itu semakin menjadi-jadi. Aku membuat target-target baru yang lebih ekstrim, seperti mengharuskan tubuh anak gemuk, lucu, bersih, serta rutinitas seperti menyiapkan bekal suami dan mengerjakan seluruh pekerjaan rumah sendiri. Penampilan juga tetap terjaga agar tidak ada celaan yang diterima. Perawatan kulit dan diet ketat pasti bisa dilakukan nanti selama ada niat. Aku merasa sanggup menyelesaikannya dengan baik. Sepanjang hari di rumah, tentu sudah lebih dari cukup untuk memberikan yang terbaik Toh, ibu-ibu zaman dulu punya anak sepuluh masih enjoy. Apalagi aku yang baru punya anak satu? 


Ternyata setelah dijalani, praktik sangat jauh dari teori. Nyaris semua hal yang aku bayangkan hanya menjadi angan-angan. Anak pertamaku tidak gemuk, walau berat badannya masih dalam batas normal. Jangan ditanya penghakiman yang aku terima, tidak pandai masak lah, tidak telaten lah, tidak sabaran lah, atau tidak bisa melakukan apa yang ibu lain lakukan. Semakin bertambah usia anak, rumah juga semakin berantakan. Jangankan menyiapkan bekal suami, menggoreng telur dadar saja sudah seperti berjihad di medan perang. Merawat diri pun sudah semakin terlupakan.



Akibat standar yang begitu tinggi, aku menjadi stres karena apa yang diinginkan tidak tercapai. Bahkan sepertiganya saja tidak. Aku merasa bodoh dan lemah. Kenapa aku tidak bisa dan kewalahan seperti ini? Ibu lain tidak begini. Mereka bisa menyelesaikan semua dengan baik, terlihat happy ketika bertemu dan unggahan mereka di media sosial juga sangat menggembirakan. Seperti tidak ada beban, berbeda dengan aku yang begitu sulit menghadapi. 


Namun trnyata aku tidak sendiri. Retno Hening Palupi, ibu dari selebgram anak lucu bernama Kirana, dalam bukunya Happy Little Soul, juga pernah berbagi cerita mengenai ketidaksempurnaan dalam dirinya terkait pengasuhan. Retno merasa kesulitan menjalankan pengasuhan anak yang sesuai aturan atau teori, apalagi ketika dihadapkan dengan permasalahan. Retno masih sering marah-marah, menangis, kesal dan stres dalam menghadapi Kirana. Kesalahan demi kesalahan itu membuatnya merasa sedih karena perasaan bersalah.Tak jarang ia merasa bahwa ia bukanlah seorang ibu yang baik. Retno pernah melewati masa-masa stres, ingin membentur-benturkan kepala, menjambak-jambak rambut sendiri, merasa tak berguna dan tidak bisa melakukan apa-apa untuk Kirana. Ya, ia mengaku bahwa pernah berpikiran setengah gila seperti itu.


Bukan hanya kisah Retno saja yang pernah aku baca, namun cerita terkait kegalauan ibu juga ada di beberapa buku yang aku beli. Apalagi mendengarkan cerita langsung dari teman sesama ibu, sering sekali masalah seperti ini membuat kami berubah. Tidak bisa bertindak secara normal karena sudah dipenuhi emosi yang tak terkendali. Alasannya sama, karena tidak bisa mencapai standar kesempurnaan yang ditetapkan sendiri.


Bukan kesalahan bila ibu mengeluh, lelah, tertekan dan meminta bantuan. Ibu bukan manusia super yang bisa bertahan di segala kondisi dan mengerjakan semuanya sendiri. It's oke to not be oke. Sayangnya tidak semua menyadari, bahkan mungkin sang ibu sendiri.


Dari sisi internal, berbagai target yang dibuat sendiri dan menganggap diri mampu melakukannya mandiri adalah hal yang dapat dengan mudah mengganggu kesehatan mental ibu. Sedangkan dari sisi eksternal, anggapan masyarakat yang sudah turun temurun mematenkan bahwa semua ibu pasti dan harus kuat menjalani tanggung jawabnya sebagai pengurus keluarga juga turut menyumbang terjadinya stres pada kaum ibu. Apalagi tidak ada keluarga yang mengerti dan turut membantu, besar kemungkinan psikis ibu semakin parah dan menambah masalah baru.




Ciri Kesehatan Mental Ibu Terganggu

Foto: freepik.com oleh peoplecreations

Meski dampaknya bisa fatal, terganggunya kesehatan mental ibu masih sering diabaikan dan diremehkan. Kelelahan ibu yang sering diiringi dengan keluhan, dianggap masalah biasa dan akan segera hilang dengan sendirinya. Mendapatkan perlakukan yang tidak sesuai harapan dari orang-orang sekitar secara tidak langsung juga akan membuat ibu berusaha melupakan apa yang tengah dirasakannya. Padahal ini layaknya bom waktu dan lingkaran setan yang tidak akan pernah selesai jika tidak diatasi.


Sebelumnya, ibu harus sadar dulu dengan kondisinya. Suami, keluarga dan orang-orang terdekat juga seharusnya sudah mulai peduli dengan keadaan mental ibu agar semuanya berjalan baik. Keluarga dan masa depan generasi manusia berada di tangan ibu, sudah sepantasnya semua terlibat untuk menjaga kondisi seorang ibu. Nah, berikut beberapa ciri ketika keadaan mental ibu sedang tidak baik-baik saja, yang tidak lepas dari beratnya masa kehamilan, pasca melahirkan dan pengasuhan.

Ketika Hamil

Meski hamil adalah masa-masa yang dinantikan pasangan suami-istri, namun nyatanya ibu juga bisa depresi ketika menjalani masa kehamilan yang penuh dengan ketidaknyamanan. Gejala depresi saat hamil yang dikutip dari artikel Kenali Tanda-tanda Depresi saat Hamil dalam situs ibupedia.com adalah sebagai berikut.

Kecemasan kronis

Wajar bila ibu merasa cemas tentang perubahan gaya hidup ketika hamil dan setelah melahirkan nantinya. Tapi bila kecemasan ini terjadi terus-menerus dan mengganggu kegiatan keseharian ibu, bisa jadi ini tanda depresi saat hamil.


Perubahan selera makan

Mual dan muntah ketika hamil memang menurunkan selera makan ibu. Namun bila ibu tidak ingin makan sama sekali atau makan sangat sedikit bukan disebabkan karena rasa mual dan muntah, ini patut dicurigai. Makan berlebihan meski kondisi sedang down juga bisa menjadi tanda depresi.


Kelelahan dan insomnia berat

Ibu hamil memang rentan merasa lelah dan mengalami insomnia. Tetapi bila kelelahan terasa berlebihan sehingga tidak bisa beraktivitas, bisa jadi ibu mengalami depresi terkait dengan kelelahan. Ibu yang tidak bisa beristirahat sama sekali karena pikiran cemas, meski tubuh merasa lelah, maka bisa pula menjadi tanda dePresi yang berkaitan dengan insomnia.


Sering menangis

Menjadi lebih emosional ketika hamil sangat wajar terjadi karena berbagai perubahan pada tubuh. Menangis sesekali masih tidak menjadi masalah. Tetapi bila ibu sangat sering menagis akibat rasa sedih dan putus asa berlebihan, ini bisa jadi bukanlah perubahan emosi masa kehamilan biasa.


Perubahan dalam interaksi sosial

Perubahan fisik selama hamil yang sering membuat lelah, menjadikan banyak ibu membatasi interaksi sosialnya. Ketidakwajaran terjadi bila ibu tidak ingin keluar rumah karena berinteraksi dengan orang lain malah membuat ibu semakin cemas. Mengisolasi diri adalah gejala depresi sekaligus dapat memperparah tingkat depresi.


Lebih sensitif

Perubahan hormon yang pesat ketika hamil akan berpengaruh kepada pengontrolan emosi ibu sehingga akan lebih mudah tersinggung. Namun bila ibu hamil mengalami sensitifitas berlebihan, ini bisa berhubungan dengan depresi.

Gejala depresi pada ibu hamil lainnya dapat berupa kesulitan berkonsentrasi, merasa tidak ada hal yang mneyenangkan, merasa sedih dan hampa sepanjang waktu, merasa bersalah tanpa alasan, merasa tidak berdaya dan kesulitan tidur sepanjang waktu. Apabila ibu hamil mengalami tiga atau lebih gejala tersebut selama lebih dari 2 minggu, maka segeralah berkonsultasi dengan dokter.


Setengah dari wanita yang mengalami depresi selama kehamilan akan tetap berlanjut mengalaminya setelah bayi lahir. Namun ini bisa diantisipasi dengan perawatan dan pengobatan yang tepat di masa kehamilan. Jangan lakukan pengobatan sendiri dengan mengonsumsi obat tertentu, karena belum tentu aman.



Pasca Melahirkan

Menjadi ibu pasti tidak kalah membahagiakan dari masa kehamilan. Namun kembali kepada perubahan kehidupan ibu dan berbagai permasalahan dalam pengasuhan, sering kali membuat ibu stres, depresi hingga berdampak buruk bagi diri ibu sendiri, anak, keluarga dan lingkungan sekitar. 


Ibupedia.com dalam artikel 10 Cara Menjaga Kesehatan Mental Ibu menjelaskan masalah kesehatan mental pada ibu baru yang perlu diwaspadai.


Babyblues

Babyblues adalah kondisi di mana ibu merasa khawatir dan ragu atas kemampuan diri dalam merawat bayi yang baru dilahirkan. Sebenarnya ini wajar terjadi di masa awal pasca melahirkan karena tubuh dan mental mengalami perubahan besar yang serba mendadak. Ibu yang mengalami babyblues akan merasa gelisah, marah, menangis secara tiba-tiba, hingga kesulitan tidur. Sekitar 40-80% ibu yang baru melahirkan akan mengalami babyblues dan umumnya terjadi hingga dua minggu pertama dan  berangsur membaik setelah mampu beradaptasi dengan kehidupan baru.


Depresi pasca melahirkan

Gejala depresi pasca melahirkan atau postpartum depression (PPD) hampir sama dengan babyblues, namun gejolak emosinya lebih intens dan berat, serta berlangsung dalam waktu lebih dari dua minggu bahkan hingga berbulan-bulan. Ibu yang mengalami PPD akan mengganggu aktivitas sehari-harinya, sulit merawat diri, merasa putus asa, kehilangan kepercayaan diri, kepanikan dan kecemasan berlebih, mengganggu ikatan dengan anak, merespon kondisi anak dengan cara negatif, hingga kecenderungan untuk bunuh diri. Kondisi ibu kemungkinan besar akan memburuk apabila memiliki riwayat depresi sebelumnya yang tidak ditangani dengan tepat.


Psikosis pasca melahirkan

Psikosis pada ibu pasca melahirkan merupakan kondisi di mana ibu juga mengalami halusinasi dan gangguan persepsi. Ibu mengalami ketidakstabilan emosi, sulit tidur, hingga melihat atau mendengar sesuatu yang tidak nyata dan mempercayai hal di luar akal sehat. Gangguan kesehatan mental ini tergolong sangat berat dan harus segera mendapatkan pengobatan agar ibu tidak menyakiti diri, orang lain atau bayinya.


Setelah melewati masa-masa pasca melahirkan yang butuh penyesuaian ekstra, selanjutnya ibu mesti mengasuh buah hati hingga dewasa. Masa mengasuh ini jauh lebih lama dari masa kehamilan dan pasca melahirkan, sehingga masalah yang dihadapi juga lebih beragam dan kompleks. Kelelahan secara fisik dan mental, atau yang dikenal dengan parental burnout, akan mengancam ibu dan tentunya harus diwaspadai. Kembali dikutip dari ibupedia.com dalam artikel 11 Tanda Stres Saat Mengasuh Anak yang Harus Diwaspadai, Jesi Taylor Crus menulis untuk laman Romper tentang 11 tanda stres yang ditunjukkan orang tua berdasarkan ahli psikologi.


Parental burnout biasanya terjadi tanpa disadari akibat akumulasi emosi, kejenuhan, dan kecemasan yang terpendam. 

Merasa Sudah Sampai di Titik Puncak Kesabaran

Ibu menyadari bahwa rutinitasnya membosankan. Sudah dijalani dengan maksimal, tetapi masih saja merasa putus asa. Kepala rasanya mau pecah karena tidak ada pekerjaan yang selesai dan pikiran terasa jenuh.


Letih Berkepanjangan

Ibu memiliki banyak pekerjaan yang tiada habisnya. Apalagi ditambah dengan kecenderungan untuk menyelesaikannya dengan standar kesempurnaan tertentu, pasti akan terasa sangat melelahkan. Letih dan lemas yang tidak wajar dan seolah-olah energi langsung terkuras habis setelah melakukan suatu aktivitas, bisa jadi merupakan tanda parental burnout.


Melampiaskan Emosi Pada Anak 

Orang tua yang melakukan kekerasan pada anak tidak hanya menandakan adanya masalah kejiwaan, tetapi juga pertanda bahwa ia akan "meledak". Ini tentu membahayakan bagi anak yang sedang senang-senangnya berekplorasi. Bila kesalahan akibat ketidaktahuan anak selalu direspon dengan kekerasan, maka orang tua harus segera mencari bantuan untuk meredakan stres agar tidak mengorbankan anak.


Selalu Bertengkar dengan Pasangan

Saling menyalahkan antar pasangan merupakan tanda stres selanjutnya. Ibu menolak untuk disalahkan atas hal sepele dan sebenarnya bisa ditoleransi. Bila pasangan adalah sasaran kemarahan, berarti ada emosi yang sedang dipendam karena stres dan ibu sedang mencari tempat pelampiasan.


Mulai Mengabaikan Kebutuhan Emosional, Fisik, dan Edukasi Anak

Tanda stres berikutnya adalah ketika orangtua mulai abai dengan kebutuhan anak. Orangtua malas memandikan anak, memasak makanan untuk anak, bahkan malas mendampingi anak belajar hal baru. Ibu merasa tidak ada waktu untuk itu, atau bahkan tidak ingin lagi melakukannya karena merasa sangat jenuh.


Mulai Mengabaikan Kebutuhan Diri Sendiri

Bila ibu tidak lagi merawat dirinya sendiri, malas mandi atau lupa makan maka itu adalah tanda bahwa ibu sedang stres. Ibu tidak peduli dengan diri, mengabaikan kebutuhan fisik dan pikiran. Padahal melupakan "me time" akan memperparah keadaan ibu.


Ada Perasaan Disconnected dengan Anak

Anak yang seharusnya terlihat menggemaskan dan menyenangkan, sekarang tampak sangat menyebalkan. Bukannya ibu tidak sayang lagi, namun ada momen di mana ibu kehilangan "jiwa peduli" pada anaknya.


Mulai Menarik Diri dari Lingkungan Sosial

Ibu cenderung ingin menyendiri, lari dari semua kewajiban dan menutup diri dari teman, keluarga dan pasangan. Ibu hanya memikirkan bagaimana bisa sendiri dan melepas segala kepenatan tanpa anak-anak dengan segudang pekerjaan yang harus diselesaikan setiap hari.


Mengalami Masalah Tidur dan Perubahan Nafsu Makan

Bila ibu mengalami kesulitan tidur dan sering terjaga pada waktu yang seharusnya ibu sudah tertidur lelap, maka ibu sudah menunjukkan tanda-tanda stres. Gangguan makan juga sering terjadi ketika mengalami parental burnout, bisa tidak mau makan sama sekali, atau malah makan berlebihan tanpa bisa dikontrol (emotional eating).


Jadi lebih Emosional dan Mudah Tersinggung

Ketika stres, perasaan akan lebih sensitif dan mudah sekali tersinggung, bahkan untuk hal kecil. Emosi tidak stabil dan sangat mudah terpancing. Bila ibu menunjukkan tanda seperti ini, maka ibu butuh rehat sejenak agar stres tidak semakin parah.


Merasa Terpuruk dan Ingin Menyakiti Diri

Stres yang sudah terpendam lama dan semakin parah karena tidak ditangani, akan membuat seseorang terpuruk. Stres akan diikuti dengan perasaaan bersalah dan keinginan untuk mengakhiri hidup. Bahkan yang lebih parah lagi, ada hasrat untuk menyakiti dan membunuh anaknya sendiri. 

Seram sekali, ya? Tidak terbayangkan betapa tidak nyaman dan tersiksanya bila ibu mengalami tanda-tanda stres tersebut. Jika kesehatan mental ibu selalu diabaikan karena dianggap tidak terlalu penting untuk menjadi perhatian, maka jangan heran jika dampak negatif dari terganggunya mental ibu ini masih sering terjadi. Baik ibu, suami, keluarga atau lingkungan mesti peduli, menyadari tanda-tanda terganggunya kesehatan mental ibu agar dapat menghindari penyebabnya dan tahu bagaimana mengatasinya jika sudah terlanjur terjadi.




Kenapa Sih Ibu Bisa Stres?

Foto: freepik.com oleh prostock-studio

Mungkin dari topik sebelumnya sudah tergambar bahwa salah satu penyebab stres pada ibu adalah ketidaksesuaikan antara ekspektasi dan realita. Ibu berusaha memenuhi semua tuntutan sehingga merasa sangat kesulitan, dan akhirnya menyerah karena merealisasikannya tidak semudah ucapan. Ternyata bukan hanya itu saja lo penyebab stres pada ibu. 


Faktor Hormonal

Dikutip dari alodokter.com, perubahan hormon pada wanita merupakan kondisi yang normal terjadi, terutama sebelum dan selama menstruasi, saat hamil, setelah melahirkan dan menjelang menopause. Perubahan hormon ini sering menyebabkan wanita mengalami mood swing, sehingga menjadi mudah marah, sedih, tersinggung atau depresi. Esterogen, hormon yang berperan dalam proses reproduksi dan mengembangkan karakteristik seksual wanita, adalah hormon yang sangat berkaitan dengan perubahan sausana hati ini, karena esterogen juga ikut mempengaruhi fungsi otak yang mengontrol emosi dan suasana hati.


Perubahan Mendadak

Menjalani kehidupan yang serba baru, baik ketika hamil atau pasca melahirkan, dapat membuat ibu stres dan depresi karena bingung bagaimana cara yang tepat untuk segera menyesuaikan diri. Selama masa penyesuaian ini, ibu rawan sekali mengalami apa yang dinamakan guncangan mental. Bukan hanya itu, perubahan mendadak dalam hal lainnya, seperti ibu yang memilih resign, pindah rumah, kehadiran mertua di rumah dalam waktu lama tanpa rencana, atau sebagainya, juga bisa menyebabkan terganggunya kesehatan mental ibu.


Masalah Keluarga 

Tidak ada yang pasti dalam hidup. Apa pun bisa terjadi menimpa keluarga, seperti kesulitan finansial, anggota keluarga yang jatuh sakit dan butuh pengobatan lama, atau suami mengalami kemalangan yang menyebabkannya tidak bisa bekerja. Permasalahan keluarga ini tentu melibatkan ibu di dalamnya, sehingga riskan pula menyebabkan ibu mengalami stres atau depresi.


Beban Kerja yang Melebihi Kemampuan

Bila diibaratkan waktu, rasanya 24 jam dalam sehari tidak cukup untuk menyelesaikan pekerjaan seorang ibu dengan tuntas. Seakan sambung menyambung, pekerjaan rumah tangga saling bersambut. Tugas yang satu selesai, tugas berikutnya sudah menanti. Sayangnya kemampuan ibu terbatas, sehingga rasa lelah, bosan dan jenuh bisa datang menghampiri kapan saja. Apabila kelelahan ini tidak kunjung diimbangi dengan istirahat dan rehat dari padatnya rutinitas, bukannya tidak mungkin ibu akan mengalami stres.


Paradigma Masyarakat yang Tidak Realistis

Aku pernah beberapa kali mendengar kalimat-kalimat tidak masuk akal yang ditujukan kepada ibu, seperti ibu tidak boleh mengeluh, ibu tidak boleh marah, atau menyamakan perkembangan anak yang pada kenyataannya tidak akan mungkin sama. Ibu seolah dipaksa mengikuti paradigma ini agar tidak mendapat komentar miring atau disalahkan. Mau atau tidak mau, secara tidak langsung ibu akan mengikuti apa yang diperbolehkan dan apa yang tidak dibolehkan menurut anggapan masyarakat yang belum tentu kebenarannya.


Tuntutan Kesempurnaan

Tidak berbeda jauh dengan paradigma masyarakat mengenai ibu yang keliru, tuntutan untuk menjadi sempurna juga selalu memaksa ibu untuk melakukan hal yang mungkin sangat sulit untuk dikerjakan. Misalnya ketika rumah berantakan, ibu dibayangkan hanya bermalas-malasan. Sering pula ketika anak sakit, ibu disangka tidak telaten mengurus anak. Ada saja satu kekurangan yang terlihat, sudah pasti ibu yang disalahkan. Padahal ibu hanyalah manusia biasa yang tidak mampu mengendalikan semuanya sekehendak hati. Ada batasan sampai di mana usaha dapat dilakukan dan tidak ada satu manusia pun yang mampu mengerjakan segala hal dengan sempurna.


Tanggung Jawab Double

Menjadi ibu yang bertanggung jawab terhadap urusan domestik keluarga plus mengurus anak dan suami, pasti sudah menguras segala daya dan upaya. Namun ternyata tidak sedikit pula ibu yang harus menerima tanggung jawab dua kali lipat yang berarti beban, aktivitas, usaha dan lelahnya juga meningkat pesat. Misalnya ketika ibu menjadi orang tua tunggal yang harus mengurus rumah, mengasuh dan bekerja memenuhi kebutuhan keluarga. Atau ada juga ibu yang merawat lansia atau anggota keluarga lain yang tengah sakit. Kondisi ini membuat ibu lebih rentan mengalami stres.


Tidak Mendapat Dukungan

Ibu adalah manusia kuat sekaligus rapuh. Kuat bila selalu mendapat dukungan dan apresiasi atas usahanya, dan bisa rapuh tak berdaya bila diabaikan, diremehkan, direndahkan atau diperlakukan dengan tidak baik. Ibu lelah, dibilang manja. Mengurus rumah dan anak dianggap sebagai kodrat yang dianggap bisa dilakukan ibu tanpa bantuan. Bila ibu dengan segala tumpukan tugasnya tidak mendapat dukungan dari orang-orang sekitarnya, tentu akan membuat mental ibu terganggu. Bagaimanapun ibu juga punya perasaan yang layak diperhatikan, serta kemampuan terbatas yang butuh berbagi beban.


Sebagian besar penyebab ibu stres dan depresi adalah seputar lingkaran kehidupan ibu. Dimulai dari ibu sendiri, suami, keluarga, teman dan tetangga. Merekalah yang paling sering berinterasksi dengan ibu dan mereka jugalah yang paling bisa mempengaruhi ibu. Bila lingkaran interaksi ini bersifat positif, maka ibu juga mendapatkan sugesti positif. Namun sebaliknya, bila ibu malah mendapat perlakuan negatif, maka dampaknya juga bersifat negatif yang membahayakan.




Ibu Butuh Support System!

Foto: freepik.com oleh krisikorn

Untuk menghindari dampak buruk dari terganggunya kesehatan mental ibu, ibu harus menyadari keterbatasan yang dimilikinya. Tidak ada seorang ibu yang mampu menyelesaikan semua tugas seorang diri, tidak aku dan tidak juga ibu-ibu lainnya. Sekuat dan seperkasa apa pun ibu, tetap saja membutuhkan bantuan yang disebut dengan support system. Support system ini tidak hanya manusia, namun bisa juga berupa teknologi, manajemen yang baik, atau apa saja yang dirasa ibu dapat dimanfaatkan dalam menyelesaikan tugas-tugasnya. Berikut support system yang sebaiknya dibangun dan dimiliki ibu.


1 Suami

Suami adalah pendamping hidup ibu sekaligus ayah dari anak-anak. Hidup dalam satu rumah tentu menjadikan suami sebagai orang paling tepat untuk berbagi tugas dan cerita. Suami memang berkewajiban bekerja mencari nafkah, namun bukan berarti bisa lepas tangan begitu saja dengan pekerjaan rumah tangga dan menyerahkan sepenuhnya kepada ibu. Ada masanya peran suami sangat diperlukan. 


Cobalah berdiskusi mengenai pembagian tugas rumah tangga bersama suami. Ibu sah-sah saja untuk mengeluarkan segala isi hatinya terkait hal-hal mana yang menjadi beban selama di rumah. Suami yang pengertian dan bertanggung jawab pasti tidak akan pernah membiarkan ibu menanggung semua sendiri. Suami juga tidak ingin jika keadaan ibu terganggu dan berimbas kepada kenyamanan keluarga. Ibu bebas memilih cara apa saja dalam membangun support system dari suami ini. Poin pentingnya adalah bahwa suami siap membantu ibu ketika dibutuhkan. Ini sangat menjaga suasana hati ibu selama menjalani perannya. Ibu tidak akan merasa sendiri mengurus rumah tangga selama ada suami yang telah sepakat untuk berbagi tugas.



2 Anak

Memangnya anak bisa bantu apa? Ketika masih kecil, anak mungkin belum bisa membantu ibu dalam menyelesaikan pekerjaan rumah tangga. Namun jangan disepelekan, kehadiran anak sebenarnya sangat penting bagi ibu sebagai pengatur suasana hati. Bagi aku pribadi, anak adalah pengobat hati yang paling manjur di dunia. Ikatan antara ibu dan anak tidak bisa dibohongi. Ada komunikasi tanpa kata yang hanya dimengerti oleh ibu dan anak. Aku juga tidak tahu pasti apakah ibu lain juga merasakan hal yang sama, namun yang pasti, bagi semua ibu, kehadiran anak pasti sangat berarti. Maka penting sekali untuk menjadikan anak sebagai salah satu support system dalam hidup ibu.


Jika anak sudah mulai besar, maka membantu pekerjaan ringan bisa diajarkan perlahan. Bukan semata-mata untuk memperingan tugas ibu saja, namun juga akan berguna dalam melatih kemandirian, tanggung jawab dan rasa peduli anak. Misalnya saja dimulai dengan membersihkan kamarnya sendiri, mencuci piring bekas makannya sendiri atau mencuci sepedanya yang sudah kotor terkena lumpur. 



3 Orang Tua atau Mertua

Sebagai perantau, kehadiran orang tua atau mertua dalam membantu menyelesaikan tugas rumah tangga tidak terlalu banyak aku rasakan. Namun tetap saja terkadang aku bertanya mengenai resep, penanganan penyakit pada anak atau beberapa hal lain, karena orang tua memiliki pengalaman yang jauh lebih banyak. 


Tetapi tidak jarang ibu yang merasakan betul dukungan dari orang tua atau mertuanya. Biasanya mereka tinggal dalam satu rumah sehingga dapat berbagi tugas dan menjadikan pekerjaan ibu lebih ringan. Rumah akan terasa ramai dan sedikit-banyaknya pasti dapat menurunkan tingkat kebosanan ibu. Ibu juga bisa bergantian mengasuh anak bila ada keperluan yang mengharuskan ke luar rumah. Namun perlu diingat, kondisi fisik orang tua atau mertua yang dipengaruhi faktor usia, tentu tidak sekuat dan seenergik kita yang masih muda. Jadi pertimbangkan dulu sebelum meminta bantuan.



4 Tetangga dan Teman

Jangan sepelekan peran tetangga dan teman, mereka bisa saja menjadi sangat berjasa dalam hidup ibu. Tetanggalah yang pertama kali tahu jika ibu mengalami bahaya di rumah. Tetangga jugalah yang paling memungkinkan untuk membantu dengan cepat. Jadi ibu bisa sekali mengandalkan tetangga ketika ada kejadian mendesak saat ditinggal suami bekerja dan ibu tidak bisa menyelesaikannya sendiri. Berbaik-baiklah dengan tetangga demi kebaikan ibu. 


Selanjutnya adalah teman. Teman tidak perlu banyak, hanya satu atau dua yang setia saja sudah cukup untuk menjadi support system yang kuat. Jika dengan tetangga ada perasaan tidak enak karena belum terlalu dekat, maka lain ceritanya dengan teman atau sahabat yang sudah tahu luar-dalamnya ibu. Ibu akan lebih nyaman dan tidak perlu berpikir tentang rasa tidak enak, hubungan sosial dan lain sebagainya ketika meminta bantuan. 


Sebenarnya baik tetangga maupun teman, keduanya memiliki plus-minus yang saling melengkapi. Tetangga sangat dekat secara posisi dengan ibu, sehingga cepat datang bila dimintai bantuan. Sedangkan teman belum tentu posisinya atau tempat tinggalnya berdekatan dengan rumah ibu, meski bisa meminta tolong tanpa segan. Sebisa mungkin jagalah hubungan baik dengan keduanya agar dapat menjadi salah satu pendukung ibu. 



5 Komunitas

Komunitas apa pun, selagi memiliki visi dan misi yang positif, pasti banyak mendatangkan manfaat pada aggotanya. Tidak terkecuali bagi ibu, komunitas tentu dapat membantu masalah ibu. Misalnya saja komunitas parenting yang berkonsentrasi pada ASI dan Makanan Pendamping ASI (MPASI). Bergabung dengan komunitas ini akan memberi banyak ilmu dan inspirasi terkait dengan pemberian ASI pada anak, serta memperoleh berbagai resep MPASI yang kreatif ketika anak sedang malas-malasnya makan.


“Tapi aku introvert. Enggak nyaman bergabung dengan komunitas seperti itu.” Mungkin ada yang merasa bahwa dirinya adalah seseorang yang senang kesendirian dan tidak cocok bergabung dengan sebuah komunitas. Padahal bergabung dengan komunitas tidak selalu harus tampil aktif di depan orang banyak. Namun hanya dengan menjadi silent reader saja, sudah cukup untuk meraup ilmu yang dapat membantu mengurai masalah.



6 Teknologi

Perkembangan teknologi dalam kehidupan rumah tangga sudah semakin berkembang. Banyak peralatan modern yang diciptakan untuk meringankan pekerjaan rumah tangga, seperti mesin cuci, vacuum cleaner, rice cooker atau alat masak otomatis. Kehadiran berbagai teknologi hasil perkembangan zaman ini dapat dipilih ibu sebagai support system yang meringankan tugas-tugas berat rumah tangga. Sesuaikan dana dan kebutuhan untuk membeli alat apa saja yang diangap paling penting bagi ibu.


Selain peralatan, teknologi berupa kemudahan informasi, komunikasi dan mobilisasi juga bisa dimanfaatkan. Ibu dapat memanfaatkan mesin pencari di internet untuk mencari informasi apa pun dengan mudah. Misalnya website parenting, kesehatan dan keluarga ibupedia.com dengan url https://www.ibupedia.com/ yang menyediakan berbagai artikel seputar kehidupan ibu. Ada juga aplikasi kesehatan dengan kemudahan berkomunikasi dengan tenaga kesehatannya dan ojek online dengan berbagai fiturnya. Semuanya bisa diakses dengan mudah kapanpun tanpa harus memaksa ibu meninggalkan rumah.



7 Jasa Pihak Ketiga

Jika ibu terlalu lelah untuk mencuci, gunakan saja jasa laundry. Jika ibu malas memasak, beli saja makanan siap saji. Jika ibu tidak sempat setrika baju, upahkan saja satu atau dua kali seminggu kepada Asisten Rumah Tangga (ART) harian. Ibu boleh menyatakan keberatan untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga tertentu. Apalagi sifatnya hanya sementara, hanya hari ini saja atau dalam hitungan jam saja. 


Dalam beberapa kondisi, ibu memang sebaiknya menyerahkan tugas rumah tangga kepada pihak ketiga. Misalnya ketika ibu sakit atau kondisi psikologis ibu memburuk akibat beban tugas yang sangat sulit diselesaikan. Bila kondisi keuangan tidak memungkinkan untuk menyerahkan seluruh pekerjaan rumah tangga kepada pihak ketiga, maka ibu bisa memilih apa saja yang paling memungkinkan untuk dikerjakan orang lain dan mana yang sebaiknya tetep dikerjakan ibu.



8 Sistem Manajemen 

Jika diaplikasikan dalam rumah tangga, sistem manajeman yang dimaksud adalah bagaimana menentukan proses dan prosedur yang paling tepat untuk mencapai tujuan ibu dengan memanfaatkan secara efektif sumber daya yang dimiliki agar hasilnya maksimal. Meski ibu terkadang kesulitan mengatur waktu, apalagi ibu dengan balita, namun ibu sebaiknya tetap memiliki rencana dan jadwal untuk aktivitas hariannya.


Mungkin terkesan berlebihan dan merepotkan. Kenapa harus bersusah payah mengatur jadwal jika ibu memiliki kebebasan untuk melakukan apa saja sesuai dengan suasana hati dan keinginannya? Nah, karena kebebasan inilah ibu sering lupa untuk menentukan prioritas dan mengerjakan sesuatu secara acak tanpa arah. Memang semuanya bisa selesai, namun perlu diperhatikan juga apakah selesainya tugas itu sudah benar-benar memuaskan ibu. Mungkin saja rumah bersih dan anak-anak terurus dengan baik, namun ibu tidak lagi memiliki waktu untuk diri sendiri sehingga tidak bahagia.


Jadwal harian masing-masing ibu pasti berbeda. Jam biologis, prioritas serta kondisi tubuh dan keluarga sangat menentukan perencanaan jadwal ternyaman bagi ibu. Ibu harus menyesuaikan kemampuan yang dimiliki agar jadwal tidak terasa sebagai sebuah beban, melainkan support system yang bisa melancarkan segala upaya ibu dalam tercapainya target dan tujuan. 


Banyak cara yang bisa dilakukan ibu demi mengurangi tingkat stres yang dirasa, seperti yang paling penting dan familiar adalah menyediakan "me time" untuk mengisi ulang daya tubuh yang sudah nyaris habis. Ada pula yang menyarankan untuk ikhlas menerima segala perubahan dan jangan terlalu mempedulikan omongan negatif orang lain, agar hati ibu tetap terhindar dari hal menyesakkan yang sebenarnya tidak semua perlu didengar. Namun tetap saja melakukan segala macam upaya menjaga kesehatan mental tersebut tidak akan berjalan maksimal bila tidak disokong oleh support system. Adanya support system yang tepat akan membuat ibu senantiasa mampu menjalani perannya dengan baik, dan tentunya selalu merasa bahagia.




Raih Kebahagiaan, Bukan Kesempurnaan

Foto: freepik.com oleh prostooleh

Ibu perlu menyadari bahwa dirinya adalah makhluk sosial yang butuh orang lain dalam hidup. Wajar melakukan kesalahan, karena salah adalah hal yang tidak luput dari kehidupan manusia. Memiliki target yang begitu banyak dan sempurna boleh-boleh saja, namun jadikan itu sebagai pemicu semangat, bukan sebagai tekanan. Tidak ada yang mampu melakukan segalanya sendiri dan sempurna.


Pernahkah ibu sadar bahwa anak-anak tidak akan protes ketika ibu belum sempat mandi sampai sore? Pasti tanpa ragu tubuh mungilnya tetap memeluk erat ibu ketika ia rindu dekapan hangat. Ini salah satu bukti bahwa ternyata anak yang paling dekat dengan ibu, tidak membutuhkan kesempurnaan. Anak hanya ingin ibu bahagia agar tidak memarahinya ketika membuat rumah berantakan, tetap sabar menyuapi ketika nafsu makan mereka sedang tidak baik, serta tetap ceria ketika menemaninya belajar dan mencari tahu banyak hal baru. Bukankah itu hanya bisa terjadi bila keadaan mental ibu dalam keadaan baik?


Pernahkah kejadian berbahaya menimpa ketika rumah dibiarkan berantakan satu hari saja? Atau mungkinkah segalanya berakhir ketika ibu menunda mencuci tumpukan pakaian kotor? Tentu tidak bukan? Maka sah-sah saja bila ibu mengambil waktu untuk diri sendiri ketika tidak mampu lagi menyelesaikan beban tugas tersebut. Manusia wajar merasa lelah, jenuh, bosan, atau timbul keinginan untuk menghentikan segalanya sejenak. Manfaatkanlah support system yang dimiliki agar segalanya dapat teratasi tanpa mengorbankan kondisi mental ibu. 


Anak dan keluarga butuh ibu yang bahagia, bukan ibu yang sempurna.


Terkadang ibu menuntut diri terlalu besar, entah itu karena kemauan sendiri atau karena tekanan dari luar. Sehingga ibu melupakan kebahagian demi memenuhi berbagai macam keinginan yang sebenarnya membuat ibu tersiksa. Ada masanya ibu fokus dengan keadaan diri, karena ibulah yang paling mengerti apa yang dibutuhkan agar tetap sehat secara fisik dan mental. Bersikap masa bodoh terhadap hal-hal tanpa manfaat perlu dilakukan, karena ibu hanya bisa menutup kedua telinga, dan tidak akan pernah mampu menutup mulut semua orang yang hendak mengomentari dan menghakimi. 

Bila ibu bahagia, terbebas dari permasalahan mental, maka dampak buruk yang tidak diharapkan dapat dihindari. Ini butuh kerjasama, bukan hanya urusan ibu sendiri. Percayalah, kebahagiaan ibu yang diupayakan bersama itu juga akan kembali untuk kebaikan bersama. Suasana rumah nyaman, anak terurus dengan baik dan tumbuh kembangnya sesuai usia, hubungan sosial semakin hangat, serta suami yang terhindar dari amarah tak beralasan. 




Kesimpulan

Ibu memiliki peran penting dalam keluarga. Tidak hanya mengurus rumah tangga, kehidupan generasi manusia juga terlahir dari rahimnya. Kesehatan mental ibu yang sejatinya sangat penting untuk menjalani tanggung jawab, masih sering terabaikan. Padatnya tugas yang mesti diselesaikan serta berbagai tuntutan tidak realistis dengan standar kesempurnaan yang menekan adalah penyebab tersering terjadinya stres atau depresi pada ibu. Padahal tanpa ditambah dengan faktor ekternal tersebut, tugas segudang dan tubuh ibu dengan hormon yang sering berubah-ubah sudah cukup membuat emosinya tidak stabil.


Terganggunya kesehatan mental ibu tidak hanya berdampak pada ibu pribadi, namun juga kepada anak, pasangan dan keluarga. Ibu bukanlah manusia super yang bisa menyelesaikan semuanya tanpa cacat. Ibu juga butuh dukungan dan bantuan ketika dirinya tidak mampu. Ini tentu butuh kepedulian dari orang terdekat agar ibu tidak lagi merasa sendiri. Support system, itulah jawabannya. Ibu butuh membangun support system agar dapat menjaga keseimbangan antara tanggung jawab dan kebutuhan pribadi. Sehingga ibu dapat berpikir dengan baik dan mengambil keputusan dengan tepat, yang pada akhirnya tugas dapat terselesaikan sesuai harapan. Akhirnya kebahagiaan yang diraih ibu dengan segala manfaat positifnya dapat menghangatkan keluarga.



__________



Artikel ini diikutsertakan dalam Blog Competition Share Your Parenting Story! yang diselenggarakan oleh Ibupedia.


Referensi:

Buku Happy Little Soul tulisan Retno Hening Palupi. 

10 Cara Menjaga Kesehatan Mental Ibu. Tautan: https://www.ibupedia.com/artikel/keluarga/10-cara-menjaga-kesehatan-mental-ibu

11 Tanda Stres Saat Mengasuh Anak yang Harus Diwaspadai. Tautan: https://www.ibupedia.com/artikel/keluarga/11-tanda-stres-saat-mengasuh-anak-yang-harus-diwaspadai

Dampak Meledaknya Emosi Saat Hamil pada Bayi. Tautan: https://www.alodokter.com/ibu-hamil-jangan-stres-efeknya-bisa-buruk-untuk-janin

Kenali Tanda-tanda Depresei saat Hamil. Tautan: https://www.ibupedia.com/artikel/kehamilan/kenali-tandatanda-depresi-saat-hamil

Mengapa Kesehatan Mental Ibu Penting?. Tautan: https://www.medcom.id/gaya/family/9K55Q6PK-mengapa-kesehatan-mental-ibu-penting

Perubahan Hormon pada Wanita Bisa Memengaruhi Suasana Hati. Tautan: https://www.alodokter.com/mengatasi-emosi-akibat-perubahan-hormon-pada-wanita


No comments:

Post a Comment

Sebelum komentar, login ke akun Google dulu ya teman-teman. Jangan ada "unknown" diantara kita. Pastikan ada namanya, biar bisa saling kenal :)