IIDN: Wujudkan Cita Ibu Berdaya

No comments

Berkomitmen untuk terus berdaya, tak semudah kelihatannya. Sebagai ibu, ada saja tantangan di depan mata. Mengaduk emosi dan banyak titik di mana ingin berhenti.


Di sinilah komunitas berperan. Energi luar biasanya tak pernah gagal merangkul saya untuk melangkah bersama. Salah satu yang paling berjasa, Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN), komunitas penulis khusus perempuan yang membekali, mendampingi dan menyemangati. Bahkan hingga detik ini. 


IIDN

Takdir Tuhan memang penuh kejutan. Saya malah memiliki sejuta cita setelah berstatus sebagai ibu. Masih jelas dalam ingatan, ketika teman sebaya lantang mengucapkan impian dan berjuang mati-matian, saya justru berkebalikan. Pasrah, yang penting bisa kerja, menikah dan membangun keluarga. Sudah, cuma itu.


Namun, setelah melahirkan anak pertama, saya sangat ingin menjadi bloger.

Menjelang kelahiran anak kedua, saya berhasrat kuat untuk menjadi penulis buku.

Sekarang pun sama. Meraih pencapaian sebagai blogger profesional dan penulis hebat masih menjadi tujuan yang terus menggebu. 

Syukur-syukur bisa menebar inspirasi kepada sesama ibu, yang saya yakin, pasti juga memiliki mimpi. Ah, terlalu besar memang. Apalagi untuk saya yang bukan siapa-siapa. Tapi mana tahu, upaya saya berhasil mewujudkan itu suatu hari.


Tidak ada usaha yang membohongi hasil. Punya mimpi besar, usahanya juga pasti tak kalah besar. Klasik, tapi benar, 'kan?


Saya sadar, kondisinya tentu berbeda. Mengemban tanggung jawab sebagai ibu, ada keterbatasan yang menjadi tantangan. Mungkin inilah kelebihan kaum muda berusia belasan atau dua puluhan yang punya kebebasan dalam berkegiatan, baik dari segi waktu maupun energi. Paling tidak, belum ada tanggung jawab selain dirinya sendiri. Sedangkan setelah menjadi ibu, tentu beda lagi cerita. Mana bisa seleluasa itu?


Terlambat kah? Bagi saya, tidak ada batasan usia untuk mengembangkan diri dan bermimpi. Selama masih diberi kemampuan untuk berdaya, kenapa tidak?



Pemula dan Ketakutannya

Tantangan pemula
Tidak mudah konsisten berdaya di tengah mengurus dua balita

Baru kemarin, di kelas Nulis Buku Solo IIDN kedua yang saya ikuti, Cikgu Julie, selaku salah satu mentor, membagi pesan yang relate sekali dengan kehidupan pemula. Saya pernah menjadi pemula dan akan selalu menganggap diri saya sebagai pemula. 


____________

Ada sebuah ketakutan yang muncul ketika seseorang melakukan hal baru atau di luar kebiasaan. Ketakutan itu muncul dalam berbagai bentuk, misal stuck, macet atau ada saja masalah saat hendak melakukan aktivitas tersebut. 


Hal ini adalah respon alami yang berkaitan dengan zona. Otak merespon dalam bentuk kehati-hatian dan menganjurkan untuk tetap berada di zona lama. Ini bentuk proteksi yang berfungsi untuk menjamin kita bisa survive lebih lama.


Ketika hal ini terjadi, tetap beri tahu otak bahwa zona baru itu adalah yang benar-benar kita inginkan. Sehingga otak akan mencari pemecahan untuk mengatasi segala bentuk ketakutan tersebut.

____________


Yap, intinya pengendalian tetap ada pada diri sendiri. Sama ketika tantangan demi tantangan hadir di sepanjang proses saya menggapai mimpi menjadi blogger dan penulis, kalau bukan karena egois untuk berkomitmen kuat, mungkin kondisi serba tak tahu di masa-masa awal sudah menjatuhkan. 


Saya tidak pandai menulis dan tak pernah berprestasi apa pun dalam dunia kepenulisan. Sedangkan menjadi bloger dan penulis, tentu skill ini yang paling utama. Andai saya memilih kenyamanan dan tak berani mengambil risiko ketakutan untuk memulai hal baru, tak akan pernah lahir saya yang sekarang. Berkarya dan berpenghasilan dari blog, berkontribusi dalam buku-buku antologi, serta yang paling menembus batas, dua naskah buku solo saya sedang berjuang mencari jodohnya. Saya mampu menulis naskah hingga ratusan halaman!


Benar kata Pepih Nugraha dalam bukunya Tulislah! Mengembangkan Proses Kreatif Menulis: Berita, Feature, Fiksi, keras kepala dan egois itu penting dalam menulis. Ada saatnya menomorduakan yang lain sampai tulisan selesai. Bukan dalam konotasi negatif, tapi maksudnya lebih kepada tekad yang kuat untuk menyelesaikan target tulisan tanpa peduli akan gangguan. Tentu tak lama, satu atau dua jam saja, sudah cukup untuk menulis ratusan kata setiap hari. 


Saya lah Si Pemegang Kendali. Keegoisan saya kontiniu mengirim sinyal bertahan ketika ada tantangan.


Ketika saya kehabisan waktu untuk menulis karena kesibukan mengurus anak dan rumah tangga, saya keras kepala untuk mendelegasikan beberapa tugas pada orang lain. Urusan mencuci pada penatu misalnya. Atau saat saya stuck, mampet, macet, tiba-tiba sulit merangkai kata, saya terus keras kepala memaksa menulis seburuk apa hasilnya. Biasanya hanya sulit beberapa menit. Pernah pula saat insecure mulai merasuki diri karena apa yang saya upayakan belum jua membuahkan hasil, saya keras kepala mencari celah di komunitas yang paling besar perannya dalam memberi semangat, ilmu atau peluang.



Di IIDN, Cita Ibu Berdaya Tak Lagi Sekadar Cerita

Komunitas penulis

Tujuan berdaya adalah untuk menghasilkan karya. Setidaknya itu menurut saya. Kurang etis rasanya berkoar-koar dan mengajak ibu lain untuk turut berdaya, bila tidak ada bukti berupa karya yang nyata. Karena memang realitanya, orang lebih percaya dengan apa yang mereka lihat, dari pada apa yang hanya mereka dengar. 


Namun, saya bukanlah orang yang mampu berjalan sendiri. Belum sehebat itu. Seluar biasa apa pun saya berdaya, tetap butuh bimbingan dan arahan untuk melahirkan karya. Apa lagi di tengah perjuangan saya membagi waktu dan energi antara prioritas mengurus keluarga dan mewujudkan cita-cita, rasanya untuk sok tangguh menjadi mandiri dalam setiap urusan bukanlah hal yang tepat. 


Tak terhitung lagi kelas-kelas di IIDN yang saya ikuti. Saking seringnya, saya sampai hafal nyaris semua pengurus komunitas perempuan ini. Mulai dari Buketu, Mbak Widyanti Yuliandari, Mbak Fuatuttaqwiyah, Mbak Mugniar, Mbak Nunu, Mbak Lita, Mbak Alfa, Mbak Fitria, Mbak Holy, Mbak Julia, Mbak Novi, Mbak Rahmah serta Mbak-Mbak pengurus lainnya yang mungkin juga pernah satu WhatsApp Group dengan saya.  


Kelas Nulis Dari Nol

Nulis dari Nol

Yang awal tentu yang paling membekas. Di mana inilah yang membuat saya ketagihan dengan kelas dan event yang diadakan IIDN. Buketu, juga akrab dipanggil Mbak Wid, membuka kelas gratis Nulis Dari Nol waktu itu. Bagitu takjubnya saya saat diberi materi tentang bagaimana menceritakan aroma, rasa, rupa dan suasana. Tidak cukup melabeli sesuatu dengan wangi, enak, bagus atau tentram saja. Namun sejatinya, penulis mesti mampu menjabarkan lebih detail. Wanginya itu bagaimana? Enaknya itu seperti apa? Karena pembaca belum tentu satu selera dengan kita. 


Belum puas hanya sekali, saya kembali belajar di kelas Nulis Dari Nol selanjutnya. Kali ini lebih matang dan lengkap. Bukan hanya menuangkan apa yang ditangkap indera saja, namun juga bagaimana mengulas, membuat tutorial, menulis resep, liputan serta editing, seperti penggunaan kalimat efektif dan pemakaian tanda baca. Dilengkapi pula dengan tugas-tugas menulis artikel bertema hingga cerita pendek. Plus, tugas ini diunggah di media sosial masing-masing. Cukup ampuh untuk mulai menaikkan branding. Paling tidak, teman-teman dekat mulai ngeh kalau saya sedang menekuni dunia kepenulisan.


Buku Antologi

Buku Bikin Ketawa

"Kapan ya saya punya buku? Minimal antologi saja seperti kebanyakan teman-teman bloger lakukan."

Suara hati saya beberapa tahun lalu yang masih buta soal dunia perbukuan. Yang saya tahu saat itu hanya sebatas menulis blog saja. Sedangkan buku, belum pernah sama sekali. Sempat memendam angan, berpikir bahwa saya yang belum lama menulis ini, terlalu muluk-muluk untuk bermimpi menerbitkan buku. 


Entah kenapa, tak lama IIDN membuka audisi buku antologi bergenre komedi. Di grup Facebook informasi ini saya lihat. Sempat tidak percaya diri, tapi rasanya rugi kalau tidak berani. Kalau ada kesempatannya kenapa tidak? Bermalam-malam menulis lima halaman, naskah saya lolos di dua kali penyaringan. Tak menyangka, begitu bangganya melihat nama sendiri tertulis di kover sebuah buku. Bikin Ketawa, buku antologi pertama saya yang lahir berkat kesempatan yang diberi IIDN.


Teman-teman dan saudara pun tak kalah antusias mengapresiasi, yang membuat branding saya semakin melejit. Yes, wujud karya saya sudah tampak. Ada fisiknya dan bisa menjadi bukti bahwa berdayanya saya tak hanya sekadar cerita. 


Sejak saat itu, saya berulang kali ikut proyek antologi. Tentu saja sudah jauh lebih percaya diri. Berkat Bikin Ketawa, saya mengerti bagaimana proses penulisan naskah buku hingga ke penerbitan. Sampai saat ini, total 8 buku antologi. Terakhir, kembali bersama IIDN, antologi cerpen roman budaya Beri Aku Cerita yang Tak Biasa akan segera launching. Bukan sebatas launching di flyer open PO, tapi akan diluncurkan pada 21 Agustus 2022 nanti di Perpustakaan Nasional RI! Keren, kan?


Lomba, Event dan Job Bloger

Lomba, event dan job blogger
Sumber: Instagram @ibuibudoyannulis

IIDN itu paket komplit buat saya. Selain menggali ilmu menulis, kemampuan blogging saya pun terasah di sini. Tentu karena tidak terlepas dari aspek utama blogging, yaitu menulis. Makanya turut masuk dalam program utama IIDN. Apa lagi mayoritas pengurusnya pun para blogger aktif. Jadi makin klop. Mengerti akan dunia blogging, yang menjadikan kelas atau event-nya sesuai dengan kebutuhan bloger. 


Berkat terus belajar, berlatih dan pastinya lagi-lagi berani mencoba, prestasi baru satu per satu saya mulai raih dari ngeblog. Beberapa lomba blog yang diadakan IIDN seolah menjadi bukti keberhasilan bahwa keras kepala saya untuk konsisten tidak sia-sia. Terpilih dalam job bloger pun saya anggap sebagai penghargaan sekaligus sarana berlatih agar dapat mendapat job-job selanjutnya. Fee-nya cepat cair dan enggak neko-neko. Makanya, saya pasti selalu ikut kegiatan bloger di IIDN selagi bisa. Waktunya cocok, brief-nya sesuai, gaskeun!


Apresiasi terbesar yang pernah saya dapatkan selama menjadi bloger, justru juga datang dari IIDN. Kembali untuk pertama kalinya, saya diberi kesempatan mengisi salah satu kelas. Mungkin bisa dibilang lebay, jantung saya berdebar begitu cepat dan tangan saya gemetar saat Mbak Wid menawarkannya pesan di aplikasi chatting. Jelas langsung saya iya-kan, karena bisa jadi ini pembuka jalan baru untuk mencapai impian saya. 


Kelas Nulis Buku Solo

Kelas Nulis Buku Solo

Izinkan sedikit congkak di bagian ini. Saya sudah menulis dua naskah buku solo, lo! Berhasil menulis naskah lengkap ratusan halaman saja sudah menjadi sebuah prestasi bagi saya yang baru 5 tahun aktif menulis, itu pun kebanyakan menulis blog. Jujur, kelas Nulis Buku Solo adalah yang paling berat dari segala kelas dan program yang pernah saya ikuti di IIDN. Tapi meski berat, malah menjadi yang paling menarik. Dua kali diadakan, dua-duanya saya mendaftar. Hasilnya, ya dua naskah tadi. 


Manusia memang tidak pernah puas. Setelah melahirkan buku antologi, saya berambisi untuk berkarya dengan buku solo. Naskah pertama berjudul Ketika Ibu Resign, sedang diajukan ke penerbit mayor. Menguji peruntungan mana tau diterima. Naskah kedua berjudul Blogging for Moms, baru selesai minggu lalu. Tepat sesuai target. 


Saya suka sekali dengan kelas Nulis Buku Solo.

Pertama, waktuya pas untuk menulis sebuah buku solo, yaitu 3 bulan.

Kedua, dibekali dan dimentori. Peserta diberikan ilmu terkait kepenulisan buku solo dari ahlinya di minggu awal, sebagai bekal agar proses menulisnya semakin lancar. Tidak terlalu meraba-raba bagi yang baru pertama.

Ketiga, dikawal sampai selesai. Naskah dilaporkan secara berkala untuk dibaca oleh mentor. Tentu ini sangat berguna dalam menghasilkan naskah yang berkualitas. Seperti saya yang masih belum berpengalaman dalam menulis buku solo ini misalnya. Terkadang sudah menganggap naskah paripurna, ternyata masih banyak kurangnya. Pokoknya saran dan masukan dari mentor penting sekali.

Belum cukup hanya sampai naskah selesai, tapi sampai penerbitan dan nanti promosi, juga tetap didampingi. Bahkan di kelas yang masih berjalan ini, ada bocoran kalau IIDN tengah bekerja sama dengan salah satu penerbit mayor dan naskah peserta akan dibantu ajukan ke sana. Daebak

Keempat, dipaksa nulis. Ini murni motivasi pribadi saya mengikuti kelas Nulis Buku Solo. Saya sudah pernah mencoba membuat target menulis buku solo sendiri, malah lebih santai, yaitu 1 sub bab per bulan. Tapi bertahun-tahun gagal terlaksana. Nah, berkat kelas inilah saya bisa menyelesaikan target tersebut. Lebih cepat pula. Pecutan-pecutan cintanya itu yang bikin terus semangat. 


Sebenarnya bukan hanya keempat program ini yang diadakan IIDN, ada juga yang terkait penulisan dan penerbitan buku pelajaran, menemani anak menulis cerita, kelas editor, penjualan buku, hingga kesehatan mental para perempuan.


Tagline IIDN "Aktif, Kreatif dan Produktif" itu jelas terwujud. 21 ribu anggotanya difasilitasi untuk terus aktif berlaku kreatif dan produktif.

Bangkit dan berkarya bersama IIDN!


Sekadar informasi, kalau kepo, boleh diintip keseruan IIDN di beberapa kanal berikut.

Website: ibuibudoyannulis.com

Instagram: @ibuibudoyannulis

Facebook: Ibu-ibu Doyan Nulis - Interaktif


____________


Bercerita tentang program-program IIDN, mengingatkan saya akan sebuah fenomena riil. Sebenarnya banyak ibu yang menggenggam harapan. Bermimpi suatu saat hendak menjadi seperti apa, mewujudkan mimpi yang sempat tertunda atau hanya sekadar melakukan kegiatan produktif yang sesuai passion mereka. Saya tahu, karena saya salah satunya. Siapa yang tak ingin terus berdaya? Siapa yang tak ingin punya karya?


Namun setelah menjadi ibu, tidak mudah untuk menyisakan waktu. Banyak ibu yang akhirnya mengorbankan cita, demi anak dan keluarga. Takut tidak bisa menyeimbangkan atau tidak percaya diri akan kemampuan. Akhirnya cita itu berhenti sebelum ada upaya, atau mungkin sudah ada upaya, tetapi tantangannya yang membuat langkah terhenti. 


Padahal, tantangan itu semestinya diselesaikan, bukan ditinggalkan. Ibu boleh egois untuk mengejar mimpi, keras kepala untuk terus memberdayakan diri. Tak masalah bila nanti waktunya akan lebih lama dan lelahnya membuat energi tak bersisa. Asalkan mampu mengoordinasi kemampuan dengan impian, pasti akan baik-baik saja. 


Jangan lupa, temukan support system tepat yang membuat tetap kuat dan semangat. Berkumpul bersama orang-orang dengan ketertarikan yang sama, masalah yang sama atau mungkin tujuan yang sama, akan menyalurkan energi besar melebihi apa yang dikira.


Seperti IIDN bagi saya dan seluruh anggota yang berjalan beriringan bersama.

Terima kasih. Terima kasih, IIDN. Selamat berulang tahun yang ke-12.

Teruslah mewujudkan cita para perempuan berdaya, ibu berdaya! 

No comments

Sebelum komentar, login ke akun Google dulu ya teman-teman. Jangan ada "unknown" diantara kita. Pastikan ada namanya, biar bisa saling kenal :)