Header Ads

Kok anaknya makan sambil jalan-jalan sih?


Berhubung sering banget baca artikel dan postingan yang membahas mengenai tata cara makan yang baik untuk anak, aku jadi gatel pengen curhat masalah ini. Jadi intinya dalam tulisan-tulisan yang luar biasa tersebut menjelaskan kalau seharusnya anak itu makan dengan posisi duduk tegak dikursi makannya. Dan yang lebih luar biasa lagi, anak-anak di Indonesia ini dibilang manja karena makan disuapi terus dan nggak bisa makan sendiri. Padahal di negara-negara lain anak mulai diajarkan makan sendiri sejak pertama kali mengenal apa itu “makan”. Jadi ya emaknya tinggal bikin masakan doang terus ditarok deh didepan anaknya. Kalau bahasa kerennya sih BLW.

Yah memang begitulah teorinya. Kalau bisa terlaksana berarti itu suatu prestasi yang luar biasa. Tapi kenyataannya mempraktekkan apa yang tertulis tidaklah mudah. Awal-awal mulai makan sih memang Byan bisa duduk anteng di kursi makannya. Kalau disuapin ya buka mulut. Walaupun sering keselek dan muntah tapi masih wajar lah namanya juga belajar. Mau biarin makan sendiri kok rasanya nggak mungkin, soalnya waktu umur 6 bulan Byan belum bisa duduk tegak sendiri. Makan yang encer aja sering muntah apalagi ditumplekin makanan padat didepan dia. Kalau ditarok bubur gimana cara dia megang sendok coba? Dibiarin aja sampai dia ngerti dan bisa makan sendiri? Lah terus dia nggak makan sampai hal ajaib itu terwujud? Walaupun dibilang kuno aku mah bodo amat, yang penting Byan makan.

Sampai akhirnya Byan mulai sering bermasalah dalam makan. Awalnya masih kekeh makan harus duduk di kursi makan. Percaya dengan kata mutiara “bisa karena terbiasa”. Byan kurang terbiasa apa coba berbulan-bulan makan sambil duduk? Tapi saat itu kenyataannya dia beneran nggak mau makan. Mau disuapin kek, ditarok cemilan dimejanya kek, mau dikasih yang manis, yang gurih, yang lunak, yang keras, yang anget, yang dingin, semuanya nggak mempan. Dicobalah bawa jalan-jalan keluar rumah dengan sepeda. Eh malah mau mangap dan lumayan banyak makannya. Setelah beberapa lama dengan metode ini, GTMnya kumat lagi. Dicoba duduk dikursi nggak mau. Ya udah dibiarin aja dia jalan-jalan, main-main, lari-larian dirumah. Alhamdulillah makannya selalu habis, separah-parahnya habis lah setengah porsi. Nah kalau kayak gini kejadiannya piye? Mau maksa dia duduk dikursi tapi nggak makan, atau biarin dia jalan-jalan tapi nasinya habis?
Nah masalah mengajari Byan makan sendiri, aku udah kenyang banget deh soal ini. Mulai dari makanan ditarok dipiring, ditumplekin di meja, diajarin pake sendok, pake garpu, pake tangan, pokoknya udah maksimal banget. Alhamdulillah berhasil sih, hanya saja dia belum bisa mengontrol seberapa besar makanan yang bisa ditampung mulutnya. Jadi sering muntah gara-gara makan dengan cara BLW ini. Yap masih berpositif thinking kalau bisa karena terbiasa. Dan apa yang terjadi? Byan selalu muntah kalau dibiarin makan sendiri. Kasian kaaann. Akhirnya yang bisa dimakan Byan dengan tangannya sendiri sampai sekarang adalah biskuit yang dipotek-potekin kecil-kecil. Kalau selain itu mah cuma jadi mainan doang. Diremes-remes lah, dilempar-lempar lah, dibenyek-benyek, sampai semua makanan hilang dari meja. Kalau dikasih piring sama sendok lebih parah lagi, piringnya pasti langsung dibalik dan abis itu sendoknya doang yang digigitin.

Jujur setiap baca tulisan yang nge-judge kalau anak di Indonesia ini manja-manja, makan kok disuapin dan dibiarin makan sambil jalan-jalan. Hellowwww lo pikir gue nggak mau anak gue bisa makan anteng sambil duduk dan masukin makanannya sendiri ke mulut dengan riang gembira? Bodo amat dah sama orang yang bilang kalau anaknya nggak dididik untuk makan dengan baik. Milih mana anak nggak makan dan dipaksa duduk dikursi makan yang hasilnya dia bakalan nangis jejeritan dan gizi tidak tecukupi, atau ngebiarin dia jalan-jalan sambil main tapi makanannya habis ludes? Ya kalau ada ibu-ibu yang masih kekeh harus sesuai aturan yang dianjurkan sih monggo, itu hak masing-masing ibu. Tapi aku pribadi sih nggak bakalan mau saklek sama aturan-aturan yang bejibun kalau berdampak kurang baik buat anak. Menurut aku lho yaaaaa. 

Aku menulis ini tidak menyinggung siapa-siapa, hanya sekedar curhat saja.

Bagaimana dengan cerita ibu-ibu? 

No comments