Header Ads

Bedah Sesar Anak Kedua


Terlepas dari semua alasan kenapa memilih melahirkan secara sesar dari pada secara normal, percayalah perjuangan seorang ibu tetaplah sama, sama-sama bertaruh nyawa antara hidup dan mati demi menghadirkan kehidupan baru di dunia ini. Sepedih apapun komentar miring netizen, jauh lebih perih luka sayatan diperut setelah pengaruh obat bius sudah mulai hilang, jauh lebih menyakitkan saat memaksakan diri untuk miring kanan kiri, duduk dan berjalan 24 jam setelah bedah sesar selesai dilakukan. Bahkan cenat cenut luka sayatan ini masih bisa dirasakan bertahun-tahun mendatang saat tubuh mulai merasa lelah ataupun melakukan pekerjaan berat. 

Sebelum semua ingatanku mengenai operasi sesar ini menghilang dimakan usia dan waktu, lebih baik di-share sekarang saja. Hitung-hitung bisa menjadi tambahan ilmu bagi ibu-ibu yang sedang hamil dan sebentar lagi akan melahirkan. Ingatlah, sebesar apapun keinginan kita untuk melahirkan secara normal, takdir Allah tidak bisa dielakkan. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Jadi tidak ada salahnya mempersiapkan diri untuk segala kemungkinan yang akan terjadi - Pengennya Lahiran Normal, Eh Ujung-ujungnya Caesar juga.

Karena saat lahiran pertama belum ada rencana untuk operasi dan masih berusaha untuk diinduksi agar bisa melahirkan secara normal, prosedur yang aku jalankan pastinya akan sedikit berbeda. Nah karena lahiran anak kedua ini murni benar-benar sesar yang direncanakan makanya aku bisa menceritakan prosesnya mulai dari awal sampai akhirnya bisa dinyatakan aman oleh dokter. Kalau ingin membaca versi ringkasnya bisa pindah halaman ke Prosedur Operasi Caesar / Bedah Sesar.

Aku berencana untuk melakukan sesar pada hari Jumat tanggal 22 Februari 2019. Sebelumnya aku harus menjadwalkan waktu operasinya dengan dokter kandungan supaya persiapan bisa dilakukan dengan tepat. Setelah menunggu keputusan dokter, akhirnya disepakatilah operasi sesar akan dilakukan pada jam satu siang. 

Dua hari sebelum hari H, aku harus melakukan cek lab untuk memastikan bahwa kondisi tubuh ini aman untuk melakukan operasi. Hari Rabu sore aku melakukan pengambilan darah untuk di cek berdasarkan surat oengantar dokter. Besoknya hasil sudah bisa diambil. Selanjutnya aku diharuskan untuk melakukan rekam jantung ibu dan bayi di ruang bersalin. Semua perhiasan, jam tangan dan segala sesuatu yang bersifat logam harus dilepaskan karena bisa mengganggu kinerja alat yang akan digunakan nanti. Dengan tempelan dibeberapa titik tubuh, aku diminta untuk berbaring sekitar 30 menit. Selagi alat rekam jantung bekerja, suster menanyakan berbagai riwayat kesehatanku. Mungkin informasi ini sangat dibutuhkan oleh dokter nantinya. Rambut kemaluan juga dicukur agar tidak mengganggu proses operasi nantinya. Setelah semuanya selesai, aku langsung ke bagian rawat inap untuk memesan kamar karena sorenya harus bermalam di rumah sakit.
Jika memang berencana untuk melahirkan secara sesar, lakukanlah pembookingan kamar yang diinginkan jauh hari sebelumnya. Ditakutkan kamar penuh saat kita akan dirawat inap dan malah mengganggu jadwal yang sudah ditetapkan. Atau bisa juga kamar yang ada pada saat itu bukan merupakan kamar yang diinginkan sehingga mengurangi kenyamanan kita dan keluarga yang menemani. 

Malamnya tidak dilakukan tindakan apa-apa, bisa dikatakan hanya pindah lokasi tidur saja ke rumah sakit. Palingan cuma dicek tekanan darah dan suhu tubuh saja, itupun hanya satu kali. Aku juga tidak tahu pasti alasan apa yang mewajibkan pasien bedah sesar harus dirawat inap satu hari sebelum tindakan padahal hanya "dianggurin" saja. Mungkin untuk memantau kondisi pasien dan memastikan selalu dalam kondisi baik. Suster jaga juga menyarankan agar keesokan harinya aku harus sudah selesai mandi setelah azan subuh dan sarapan sedikit lebih cepat karena jam 6 pagi akan dipasang selang infus serta persiapan lainnya untuk operasi. Jam 07.00 aku harus menyudahi semua kegiatan makan dan minum karena harus berpuasa sampai nanti setelah operasi selesai.

Semalaman aku tidak bisa tidur karena merasa kurang nyaman dengan ukuran kamar yang kecil dan harus berbagi tempat tidur dengan Byan anak pertamaku. Memang kebetulan saat itu aku tidak mendapatkan kamar yang diincar dikarenakan membludaknya pasien demam berdarah. Tidak ada pilihan lain selain menerima saja keadaannya dari pada harus mengganti jadwal operasi. Tepat saat azan subuh berkumandang, aku langsung mandi dan melaksanakan sholat subuh untuk meminta diberikan kelancaran segala sesuatunya. Jam 05.30 pagi sarapan sudah diantarkan ke kamar dan siap untuk disantap. Sebenarnya aku tidak suka dengan makanan rumah sakit, tapi mengingat harus berpuasa beberapa jam kedepan, mau tidak mau aku harus manghabiskan semua makanan yang terhidang tanpa sisa. Tidak beberapa lama setelah makan, suster datang untuk memeriksa tekanan darah dan suhu tubuh. Diberikan juga sedikit informasi mengenai operasi sesar nanti yang akan aku jalani, rasanya akan berbeda dari yang pertama. Luka lama yang dibuka kembali dan ukurannya yang bertambah lebar akan memberikan rasa sakit yang lebih. Sebenarnya informasi ini hanya akan menambah tingkat kecemasanku, tapi mungkin suster memiliki maksud lain, berharap dengan memberikan wanti-wanti terlebih dahulu akan menambah kesiapan mental yang lebih buat pasien. Padahal mah bikin anjlok, huhuhu. Makin degdegan rasanya, ingin sekali operasi itu dilakukan sekarang agar cepat selesai.

Walaupun agak terlambat dari informasi yang dikatakan sebelumnya, selang infus dipasang hampir jam delapan pagi. Alhamdulillah selang infus bisa dipasang di tangan kiri dengan sekali tusukan. Tetesan cairan infus mulai memasuki tubuh, aku tidak terlalu paham dengan jenis cairan infus yang menggantung tersebut. Beberapa jam setelah itu tekanan darah dan suhu tubuhku kembali dicek dan dilanjutkan dengan tes alergi antibiotik yang akan diberikan sesaat lagi. Jarumnya sih kecil, hanya sebesar suntikan bayi untuk imunisasi, tapi sakitnya melebihi suntikan jarum infus yang panjangnya berkali lipat. Kata adikku rasa sakit itu diakibatkan oleh jarum suntik yang hanya menembus jaringan dibawah kulit dan itu akan menimbulkan rasa sakit yang lumayan bikin meringis. Alhamdulillah lagi aku tidak mengalami alergi dengan jenis antibiotik ini dan bisa langsung memasukkan cairan antobiotiknya melalui cairan infus. Setelah habis, diganti kembali dengan cairan infus sebelumnya.

Mendekati jam satu siang, tekanan darah dan suhu tubuhku diperiksa kembali. Aku dipindahkan ke ruang operasi, mengganti baju dan menunggu dokter kandungan, dokter anastesi serta dua orang asisten untuk melakukan bedah sesar. Dokter anastesi sempat menawarkan untuk pemasangan KB Spiral saat operasi nanti, tapi aku dan suami menolak karena takut menimbulkan efek yang tidak diinginkan. Sebenarnya memang inilah alasanku tidak ingin menggunakan KB sejak kelahiran anak pertama, takut terjadi sesuatu yang mengerikan seperti yang orang-orang ceritakan. Aku kembali menunggu dalam keheningan, sesekali suami mengajak bercerita dan berdoa bersama demi kelancaran operasi ini. Walaupun hanya menunggu beberapa menit, tapi rasanya begitu lama karena rasa cemas yang tiada terkira. Sampai akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu datang juga, aku dibawa masuk ke ruang operasi, sekali lagi merasakan betapa dinginnya ruangan itu.

Semuanya sibuk mempersiapkan peralatan dan obat-obatan yang dibutuhkan selama operasi berlangsung. Beradunya alat-alat kedokteran itu menghasilkan suara yang tidak kalah menyeramkannya dari film horor. Tidak lama berselang, dokter anastesi memintaku untuk duduk membungkuk sambil memeluk sebuah bantal. Yap, pembiusan akan dilakukan. Saking takutnya, tubuhku gemetar dan aku sama sekali tidak bisa mengontrolnya. Padahal ini adalah operasi kedua yang aku jalani, entah kenapa terasa lebih menegangkan dari yang pertama. Jarum suntik telah menembus masuk ke sela--sela tulang belakang dan siap untuk memasukkan obat anastesinya. Tidak sampai satu menit, pembiusan ini telah selesai dilakukan. Sebenarnya rasa sakit yang aku rasakan tidak melebihi rasa sakit disuntik biasa pada lengan, jauh lebih sakit suntikan uji coba alergi antibiotik tadi. Sugesti kecemasan yang berlebihanlah yang membuat aku merasa begitu takut dengan prosedur anastesi ini. Kesemutan disetengah tubuh bagian bawah mulai aku rasakan sampai pada akhirnya aku tidak bisa mengangkat kaki sama sekali. Ini menandakan obat anastesi yang disuntikkan telah bekerja dengan baik.

Beberapa menit kemudian, dokter kandungan masuk ke dalam ruang operasi dan menyapa dengan ramah seolah tidak akan ada peristiwa besar yang terjadi. Dimulai dengan membaca doa, operasi pun dimulai. Walaupun pembiusan berhasil, tapi aku masih bisa merasakan olesan obat merah di area perut, goncangan dan tarikan serta dorongan yang dilakukan dokter untuk mengeluarkan bayi. Tidak sakit sih, tapi cukup membuat bulu kuduk berdiri jika membayangkan apa yang sedang dilakukan oleh dokter dan tim. Sampai pada akhirnya suara tangisan bayi pun memecah keheningan. Tanpa disadari air mataku menetes, aku merasa berhasil menyelesaikan tugasku, aku telah melahirkan seorang anak manusia ke dunia ini. Tidak peduli lagi dengan apa yang dilakukan oleh petugas medis setelah itu, perasaan lega ini mulai membuatku mengantuk dan akhirnya tertidur. Bahkan saat bayi diletakkan didadaku, aku hanya melihatnya samar-samar dan sekali lagi sambil meneteskan air mata bahagia. Rasanya kesadaranku hanya tinggal setengah, rasa kantuk yang teramat sangat membuatku terlelap kembali.

Aku terbangun saat tempat tidur didorong keluar ruang operasi. Disana sudah menunggu suamiku dan semua keluarga. Aku diantar menuju ruang pemulihan untuk dipantau keadaannya sampai benar-benar stabil. Dua jam lebih aku berbaring dengan ditemani keluarga secara bergantian. Entah kenapa diruang pemulihan ini aku tidak bisa tidur sama sekali. Aku selalu dan terus memikirkan Byan yang saat itu entah dimana dan sama siapa. Aku ingin segera menemuinya, memeluknya dan merasa rindu sekali untuk melihat senyumnya. Selama dua jam itu berbagai cairan dimasukkan melalui selang infus, yang aku tahu berbagai obat anti nyeri diberikan. Semakin hilang pengaruh obat bius, semakin sakit rasanya bekas sayatan diperut ini. Aku mulai panik, karena saat operasi sesar yang pertama aku tidak merasakan sakit seperti ini. Aku bertanya kepada petugas yang berlalu lalang disana, dia hanya menjawab itu hanyalah masa transisi dari obat bius kepada obat anti nyeri yang sedang bekerja. Aku hanya bisa menggangguk dan menerima keadaannya. Semakin sakit rasanya, apakah benar apa yang disampaikan suster tadi pagi itu benar-benar terjadi. Operasi yang kedua ini akan berbeda dari yang pertama. Memang rasa sakitnya lah yang membedakan, kali ini jauh lebih sakit. Jarum jam terus berputar, sampai akhirnya kondisiku dinyatakan stabil dan siap dipindahkan ke ruang perawatan.

Aku dipindahkan ke tempat tidur lain menggunakan besi panjang yang menyangga tubuh, dengan paksa tubuhku dimiringkan kekanan dan kekiri. Jangan ditanya lagi sakitnya seperti apa. Walaupun masih bisa ditahan, tapi lumayan bikin keringat bercucuran. Betapa leganya setelah proses pindah memindah ini selesai, aku bisa berbaring dengan nyaman dikasur empuk. Aku pun didorong menuju ke ruang perawatan kembali.

Selama 24 jam aku tidak diperbolehkan bergerak dan beranjak dari tempat tidur, tidak boleh memiringkan kepala karena ditakutkan akan menimbulkan sakit kepala dan pusing. Tidak usah dipikirkan bagaimana caranya ke toilet jika kebelet pipis atau buang air besar nantinya karena sudah dipasang kateter untuk menyalurkan air pipis dan dijamin tidak akan kebelet pup sampai nanti diperbolehkan bergerak. Aku diizinkan untuk langsung minum air putih pasca operasi tanpa menunggu kentut terlebih dahulu, kata suster sih aman. Dengan senang hati aku meminta suami untuk mengambilkan segelas air putih. Tapi ternyata ini lumayan sulit dilakukan dengan kondisi berbaring. Air yang disedot serasa naik sebagian ke hidung karena posisi yang datar. Tapi rasa haus begitu memaksaku untuk tetap melakukannya dan berhasil menghabiskan setengah gelas air, lumayan untuk mengobati rasa haus yang membara ini. Sore harinya aku diberikan segelas susu bernutrisi untuk memulihkan tenaga, dan malam harinya sudah diperbolehkan memakan bubur beserta lauk pauk.

Sekitar jam 8 malam, bayi kecilku diantar ke kamar dan siap untuk disusui. Suster menjelaskan bagaimana cara untuk menyusui yang benar disaat aku tidak bisa turun dari tempat tidur. Ternyata sebelum 24 jam aku harus dipaksa untuk miring kanan dan kiri agar bisa menyusui bayi. Rasa sakit yang sedari tadi mengganggu semakin menusuk ketika aku memaksakan diri untuk memiringkan badan. Semua demi anakku. Kalau tidak dipaksakan, anakku tidak akan bisa menyusu dan tidak mendapatkan nutrisi apa-apa. Dengan merintih dan berusaha sekuat tenaga, akhirnya aku bisa menemukan posisi yang nyaman untuk menyusui walaupun pada saat itu belum ada ASI yang keluar.

Jam tidur malam tiba, Byan yang biasanya tidur disampingku menginginkan posisi itu. Aku bingung, tidak tahu harus berbuat apa, bergerak saja susah, apalagi berbagi tempat tidur sekecil ini dengan Byan? Belum lagi nanti jika akan menyusui adiknya, mau diletakkan dimana dia? Sedemikian rupa aku mengatur posisi tapi tetap juga tidak menemukan solusinya. Alhasil semalaman aku tidak bisa menyusui bayi, Byan juga tidak bisa tidur dan selalu menangis, begitupun adiknya. Ujungnya apa? Si ayah bingung, aku panik dan akhirnya ikut menangis. Sungguh berat rasanya melalui malam itu. Aku berharap bisa pindah ke kamar yang lebih besar agar Byan bisa tidur nyaman bersama ayahnya diatas matras yang telah kami beli sebelumnya.

Pagi harinya aku masih dimandikan oleh suster karena belum boleh bergerak. Baju diganti dan seprei pun diganti. Walaupun tidak terkena air dan hanya dilap saja, lumayan membuat badan ini segar. Sarapannya juga sudah normal kembali yaitu nasi biasa dengan lauk pauk ala rumah sakit. Dengan lahap aku menghabiskan semuanya karena rasa mual yang aku rasakan selama hamil sudah hilang tak bersisa. Siangnya, kateter dibuka dan aku disuruh untuk mulai duduk dan berjalan. Semuanya harus dilakukan bertahap. Duduk dulu beberapa saat dan jika tidak pusing baru mencoba turun dari tempat tidur dan berdiri. Jika masih aman dan tidak merasa pusing, baru boleh mencoba untuk berjalan dengan berpegangam kepada seseorang. Tidak membutuhkan waktu lama sampai aku bisa berjalan berkeliling bangsal. Tekadku yang kuat untuk bisa aktif bergerak kembali membuat semua ini bisa dilalui dengan begitu mudah. Tidak aku pikirkan lagi rasa sakit yang mencuat dari bekas operasi, yang aku pikirkan hanyalah berjuang demi Byan agar nanti malam dia bisa tidur dipelukanku dan aku bisa turun dari tempat tidur untuk menyusui adiknya dikursi. Ternyata kekuatan ajaib itu memang ada, entah datang dari mana.

Allah memang maha baik, sorenya aku diberitahu suster bahwa ada satu kamar VIP A yang luasnya berkali lipat dari kamar sekarang ini sudah kosong karena pasien sebelumnya sudah diperbolehkan pulang. Alhamdulillah betapa bahagianya aku saat itu, Byan bisa tidur nyenyak malam ini. Aku juga sudah mulai leluasa bergerak, semuanya akan kembali normal dan baik-baik saja mulai malam ini. Aku bisa mandi dengan nyaman, bisa ke toilet dengan aman dan serta tidak akan bosn lagi dengan kamar yang kecil seperti kemaren. Dan benar saja, semuanya berjalan seperti apa yang aku pikirkan.

Selama 3 hari dua malam aku berada dirumah sakit untuk pemulihan. Obat yang diberikan ada tiga jenis yaitu melalui cairan infus, suntikan, melalui (maaf) anus dan obat minum. Obatnya pun beragam, ada obat anti nyeri, vitamin, pelancar asi dan sebagainya yang aku tidak begitu hafal. Hari Seninnya, infus yang melekat ditangan akhirnya dicabut. Tinggal menunggu dokter anak dan dokter kandungan saja untuk berkunjung dan memeriksa apakah aku dan bayiku sudah boleh pulang. Sorenya semua pengecekan yang dilakukan oleh dokter menghasilkan sebuah pernyataan yang oke dan aku pun akhirnya pulang ke rumah setelah proses bayar membayar selesai.

Satu minggu kemudian aku dijadwalkan untuk kontrol memeriksa kembali bekas operasi sesar ini, apakah baik-baik saja dan mengering dengan sempurna atau malah ada masalah. Perban pun dibuka dan perutku di-USG untuk memantau kondisi rahimku. Alhamdulillah semuanya terlihat baik dan aku kembali diminta untuk datang minggu berikutnya untuk pengecekan kembali. Jika semuanya aman terkendali maka sesi operasi sesar kali ini telah selesai. Alhamdulillah lukaku mengering dan ukuran rahimku sudah normal kembali. Sampai jumpa pada kelahiran anak ketiga nanti, ups.

Sedikit kepanjangan ya untuk dibaca, semoga bermanfaat :)


No comments