Header Ads

Kecemburuan Si Kakak setelah Mempunyai Adik


Biasanya jadi anak semata wayang, semua perhatian dicurahkan hanya kepada si kakak. Tapi segalanya berubah ketika sang adik lahir. Ditengah kebahagiaan yang dirasakan oleh orang tua, terselip kecemburuan dalam hati kakak yang belum siap untuk berbagi kasih dengan adiknya. Kecemburuan yang dirasakan oleh anak pertama kepada adik-adiknya ini bisa saja menjadi hal yang berbahaya. Bukankah sering kita dengar ada seorang kakak yang membeci bahkan sampai tega melukai adik kandungnya sendiri. Percakapan yang kita anggap sepele terkadang menyumbang peran akan kecemburuan ini, seperti "Sebentar lagi adiknya mau lahir lho, nanti bunda bakalan lebih sayang adik, ayo lhooo", atau membanding-bandingkan tingkah laku sang kakak dengan adiknya "Tuh adek aja pinter nggak rewel, nah ini kamu udah besar malah nangis-nangis". Duh jangan sampai kita salah berucap atau salah memberikan perlakuan ya. Namanya juga anak-anak pasti masih ingin dimanja.

Inilah yang sedang aku alami semenjak kelahiran anak keduaku, Alby. Byan mulai menunjukkan gelagat yang berbeda dari biasanya, bahkan semenjak aku hamil dan selalu mengatakan hal yang sama hampir setiap hari "Byan mau jadi abang ya, nanti ada adeknya. Adeknya selalu disayang ya, sama kayak bunda yang juga selalu sama Byan". Aku sengaja memberikan kesiapan mental kepada Byan melalui sounding yang dilakukan secara terus menerus dengan harapan ini akan berhasil. Tapi ternyata tidak sepenuhnya sesuai harapan. Kemanjaan Byan tiba-tiba saja meningkat drastis, dari yang biasanya cuek dan tidak masalah kalau ditinggal bermain sendiri disaat aku mengerjakan aktifitas lain, sekarang malah nempel senempel-nempelnya. Apa-apa harus ditemani, mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi. Saat bermain harus selalu ditemani, mulai banyak tingkah saat jam makan tiba, tidak mau mandi padahal sebelumnya paling senang kalau diajak mandi, serta sering berakting terjatuh, terjepit atau terbentur demi mencari perhatian. Jika diacuhkan dia bisa tantrum dan semakin membuat heboh. Tidak jarang hal ini membuatku tak sanggup menahan amarah sampai tidak sadar memarahinya. Bukannya membuat dia diam, semakin tinggi nada suara yang aku keluarkan malah membuat tangisannya semakin keras dan membabi buta. Sempat merasa bingung dengan perubahan ini, akhirnya aku sadar bahwa Byan sudah mulai cemburu dengan kehadiran adiknya dan takut akan kehilangan perhatian orang tuanya yang selama ini memberikan kenyamanan.

Setelah Alby lahir, kecemburuannya pun semakin terlihat jelas dan semakin menjadi-jadi. Aku harus selalu memeluknya saat tidur tidak peduli dengan tangisan adiknya yang kelaparan minta disusui, selalu ingin menjadi yang pertama dalam hal apapun seperti mandi atau bermain. Tidak boleh ada interupsi dari adiknya disaat aku menemani dia bermain. Frekuensi menangisnya juga semakin bertambah, entah berapa puluh kali dia menangis dalam sehari bahkan tanpa ada penyebab sekalipun.

Lelah begadang bermalam-malam semakin membuatku gampang marah. Byan selalu menjadi sasaran amarahku disaat kelakuannya mulai kumat. Responnya pun masih sama, semakin dimarahi maka semakin marah pula dia. Jujur, keadaan ini adalah keadaan yang sulit buat aku sendiri dan Byan. Tapi mau tidak mau, siap atau tidak, aku harus menghadapinya. Akhirnya apa yang aku lakukan? Inilah beberapa hal yang bisa aku usahakan untuk mengatasinya walaupun masih belum menyelesaikannya secara tuntas.

Mengerti Perasaannya
Bukan hanya anak kecil yang akan kecewa jika harus membagi perhatian dari orang yang paling dicintainya. Kita yang sudah dewasa saja tidak mau kan jika perhatian suami berkurang apalagi dibagi dengan orang lain? Betul apa betul? Nah pahamilah perasaan si sulung, dia harus beradaptasi dengan keadaan yang baru dan menuntut sifat kedewasaannya segera muncul diusia yang semuda ini. Tugas kita sebagai ibu adalah membantu dia agar tidak terluka semakin dalam.

Memberikan Pengertian
Jangan pernah berhenti untuk memberikan pengertian kepada si kakak bahwa memiliki adik tidak akan mengurangi rasa sayang dan perhatian bunda kepadanya. Gunakanlah kalimat yang mudah dipahami seperti "Kakak tau nggak, bunda itu punya rasa sayang sebesar gunung sama kakak. Nah sama adek juga sebesar gunung. Kakak sama adek kan sama-sama anak bunda, jadinya sama-sama bunda sayang". Atau bisa juga memberikan contoh dengan membacakan dongeng atau buku cerita yang berhubungan dengan kisah kakak beradik. Walaupun perkataan kita tidak langsung bisa diterima dengan baik, tapi lambat laun dengan pembuktian yang menyertainya, si kakak pasti akan mengerti.

Mengikutsertakannya dalam Mengasuh Si Adik
Jangan mengabaikan keberadaan si kakak disaat kita sibuk mengurus si adik. Ikutsertakan dia dalam berbagai aktifitas keseharian kita dalam merawat adiknya. Misalnya jika adik menangis saat menemani kakak bermain, ajaklah dia untuk mencari tahu kenapa adik menangis. "Eh itu adek nangis kenapa ya kak? Kita lihat yuk. Jangan-jangan sakit perut, sama kayak kakak kemaren waktu nangis-nangis. Oooo ternyata adek pup kak. Tolong bunda ambilin pampers adek dong. Itu disebelahnya pampers kakak". Jangan lupa memberikan pujian setelah si kakak melakukan apa yang kita minta. Dengan melibatkan dia dalam mengasuh si adik, secara tidak langsung menanamkan dalam dirinya bahwa adik juga membutuhkan kehadirannya.

Seringlah Memeluk dan Mengungkapkan Rasa Sayang
Sering-seringlah memeluk dan mengatakan berbagai ungkapan sayang kepada si kakak. Jangan sampai pelukan, ciuman dan kata-kata sayang yang selama ini selalu dia dapatkan malah menghilang sejak kehadiran sang adik. Kalau bisa lakukanlah sesering mungkin agar si kakak berpikiran masih mendapatkan perlakuan yang sama walaupun sudah memiliki adik.

Luangkan Waktu Khusus Bersama Si Kakak
Wajar saja jika kesibukan kita bertambah dua kali lipat setelah memiliki anak lebih dari satu. Apalagi semuanya diurus sendiri tanpa ada keluarga yang menemani atau menggunakan jasa baby sitter. Jangan sampai kesibukan kita  ini membuat lupa akan kebutuhan utama anak, yaitu quality time dengan ibunya. Luangkanlah waktu khusus untuk berduaan dengan si kakak. Tidak perlu lama-lama jika memang masih banyak yang harus dikerjakan. Bercerita beberapa menit sebelum tidur atau menemaninya bermain sebentar dikala si adik tidur sudah sangat cukup membuat dia bahagia.

Jangan Membandingkan
Siapa yang mau dirinya dibanding-bandingkan dengan orang lain? Apalagi anak kecil yang masih polos dan lugu. Ingatlah bahwa setiap anak itu unik. Tidak akan ada yang bertumbuh kembang dengam parameter yang sama. Anak kembar saja bisa berbeda, apalagi yang bukan kembar? Membandingkan anak yang satu dengan anak yang lain hanya akan membuat salah satu dari mereka terluka. Bayangkan saja dalam kondisi yang masih belum stabil karena baru saja memiliki adik, kita sebagai ibunya malah tega menjatuhkan dia dengan membanding-bandingnkan dengan sang adik. Contohnya "Kakak kok sekarang kerjaannya nangis mulu sih, lihat tuh adek anteng nggak rewel kayak kakak". Duh, jangan sampai terucap ya.

Adil
Adil adalah kata yang gampang untuk diucapkan tapi sangat sulit untuk dilakukan. Sesulit apapun itu, kita sebagai orang tua harus bisa melakukannya kepada anak-anak kita. Kalau si adik dibelikan baju, maka si kakak juga harus dibelikan baju. Jika si kakak dibelikan mainan maka si adik juga harus mendapatkan hal yang sama. Perlakuan kita juga harus adil, jika kita memeluk si adik, sebisa mungkin peluk juga kakaknya walaupun dia lagi asyik bermain. Tapi tidak melulu adil ini harus melakukan tindakan yang sama, bisa juga perlakuan adil ini berbeda sesuai kondisi dan kebutuhan anak. Misalnya saat si kakak sakit dan tidak berselera makan, jangan memberikan menu atau porsi makan yang sama dengan si adik yang lagi aktif-aktifnya bergerak sehingga sering merasa lapar. Jika si adik bisa melahap makanan yang disajikan tanpa sisa, si kakak bisa menelan dua atau tiga suap saja sudah penuh perjuangan. Berilah sup ayam hangat dengan porsi kecil kepada kakak dan makanan kaya protein dengan porsi normal kepada si adik. Ini baru adil namanya. Jangan malah tetap memaksa si kakak untuk menghabiskan makanan yang sama dengan adik.

Bersabar
Kunci dari semua keberhasilan untuk melalui semua ini adalah kesabaran yang luar biasa dari sang ibu. Permasalahan ini tidak akan terselesaikan secara instan, tapi butuh waktu dan ketelatenan. Jalanilah dengan ikhlas dan tawakal kepada Allah, maka setiap usaha yang kita lakukan akan berbuah manis pada akhirnya. Selama kita menyandang status "ibu" maka kesabaran ini harus selalu ada dan tak berbatas. "Kesabaran ada batasnya" tidak berlaku bagi manusia yang dijuluki "malaikat tidak bersayap".

Semoga bermanfaat :)


No comments