Header Ads

Bersyukur itu Menentramkan


Seperti dejavu. Aku pernah merasakan perasaan seperti ini sebelumnya saat Byan masih bayi. Sekarang terulang lagi sesaat setelah aku melahirkan anak kedua. Perasaan seperti apa? Semacam pemberontakan untuk tidak ikhlas menerima semua yang terjadi. Semua terasa tidak adil, begitu banyak keluhan yang terucap dari mulut ini entah berapa kali dalam sehari. Semakin sering aku mengeluh, marah dan bertanya "kenapa harus aku", bukannya semakin membaik, aku semakin sakit. Bukan sakit fisik, tapi sakit hati dan pikiran yang ternyata jauh lebih menyiksa. Semua masalah diselesaikan dengan emosi, pekerjaan tidak ada yang beres, rasanya aku tidak ingin membuka mata. 

Jika dulu aku tidak menemukan solusi, berbeda dengan sekarang, aku mulai bisa bersahabat dengan keadaan. Bersyukur. Yap, hanya satu kata itu yang aku praktekkan. Walaupun tidak gampang, tapi it's work. Dengan mensyukuri segala hal sekecil apapun itu, hatiku mukai tentram. Benar kata orang-orang tua dulu, janganlah melihat ke atas tapi lihatlah ke bawah. Ingatlah selalu hal itu agar kita terhindar dari depresi akut akibat cobaan hidup. Sebaliknya, lihatlah ke atas dan jangan lihat ke bawah jika kita ingin bangkit merubah hidup menjadi lebih baik.

Berbaik sangkalah kepada Allah, karena apa yang kita alami sampai detik ini tidak ada yang sia-sia. Bisa jadi sebagai cobaan agar kita menjadi lebih kuat dan tangguh, bisa jadi untuk menghindarkan kita dari sesuatu yang lebih buruk atau bisa jadi sebagai teguran akan kesalahan yang dilakukan agar bisa sadar dan secepat mungkin meninggalkannya. Semua misteri itu akan terkuak pada akhirnya, jadi bersabarlah hingga akhir. 

Ketika aku mengeluh akan hidupku yang membosankan dan hanya seputaran dapur, sumur dan kasur, harusnya aku bersyukur karena banyak orang diluaran sana yang belum bertemu jodohnya sehingga tidak merasakan bagaimana rasanya kehidupan berumah tangga, orang-orang yang harus berjuang mati-matian bekerja karena ditinggal suami atau orang-orang yang masih luntang lantung di jalanan karena belum memilki rumah. Jadi kenapa aku harus mengeluh? Harusnya aku terus selalu bersyukur karena masih memiliki rumah yang bisa dibersihkan, bahan makanan yang bisa dimasak dan keluarga yang sempurna untuk diurus dengan penuh keikhlasan. Bukankah memang ini kodratnya seorang wanita? Bukankah ini yang dinamakan kesempurnaan seorang wanita? 

Ketika aku mengeluh akan tingkah laku anak-anakku yang sering membuat pusing, tidak mau makan, sering berteriak, menangis keras, dan berbagai kelakuan lainnya yang selalu memancing emosi, harusnya aku bersyukur karena masih diberi kepercayaan untuk memiliki anak sedangkan masih banyak pasangan lain yang bertahun-tahun menantikan kehadiran sang buah hati. Anakku sehat, anakku aktif, anakku pintar, anakku luar biasa. Masih banyak anak-anak lain yang tidak seberuntung anak-anakku yang harus melawan penyakit, membantu orang tuanya mencari nafkah bahkan ada yang sampai kelaparan, menderita dan terancam jiwanya. Pantaskah aku untuk mengeluh? 

Ketika aku mengeluh dengan kehidupanku yang dirasa tidak seindah teman-teman yang bisa sesuka hati berlibur ke luar negeri, berbelanja barang-barang bermerek sepuasnya atau makan direstoran mahal setiap akhir minggu, harusnya aku bersyukur karena masih diberi rezeki untuk memenuhi segala kebutuhan hidup tanpa kekurangan sedikitpun. Aku juga masih bisa liburan walaupun tidak sejauh mereka, aku masih bisa membeli barang-barang bermerek walaupun tidak sebanyak mereka bahkan aku juga masih bisa menikmati makanan-makanan lezat di restoran yang lumayan bergengsi. Masih banyak orang-orang diluaran sana yang bahkan untuk mengisi perutnya saja tidak bisa, untuk tidur saja susah, atau di daerah kering dan gersang dibelahan bumi sana masih ada orang-orang yang tidak bisa merasakan kesegaran seteguk air. Sungguh tidak tahu diri sekali jika aku masih mengeluh.

Ketika aku mengeluh dengan satu saja kekurangan suami yang membuat jengkel, harusnya aku bersyukur karena begitu banyak kelebihan yang dia miliki. Tidak dewasa rasanya jika aku hanya mengingat satu kekurangannya tapi melupakan beribu-ribu kebaikannya. Aku memilki suami yang bertanggung jawab, sayang keluarga, penyabar, lebut dalam bertutur kata, pekerja keras, rajin beribadah, mendukung keinginan istri dan kelebihan lain yang seharusnya selalu aku ingat. Banyak wanita lain diluar sana yang mendapat cobaan menikah dengan lelaki yang kasar, tidak bertanggung jawab, bahkan untuk mencari kerja saja mereka malas. Terlalu kufur nikmat jika aku masih mengeluh.

Ketika aku mengeluh akan diri sendiri yang tidak bisa melakukan apa-apa, tidak memilki kemampuan apa-apa dan tidak pernah menghasilkan apa-apa, harusnya aku bersyukur sekaligus malu karena dengan tubuh yang sehat dan lengkap serta pikiran dan perasaan yang normal seperti ini masih saja menyalahkan keadaan, sedangkan banyak manusia hebat di luar sana yang meski dengan keadaan yang serba kekurangan, ada yang tidak bisa melihat, tidak bisa mendengar, tidak bisa berbicara atau yang hanya memilki waktu hidup singkat disebabkan oleh penyakit yang dideritanya masih bisa menghasilkan hal-hal besar dan bermanfaat bagi sekitarnya. Bukankah yang salah diriku sendiri karena belum berusaha maksimal? Pantaskah masih mengeluhkan apa yang terjadi? 

Masih banyak keluhan-keluhan lain yang sering terucap yang seharusnya tidak pantas aku ucapkan. Tapi dengan bersyukur dan berprasangka baik kepada Allah semuanya akan terasa baik dan menjadikan hidup lebih bahagia karena selalu merasa lebih beruntung.

Sedangkan untuk meningkatkan semangatku agar selalu berjuang merubah diri menjadi manusia yang lebih bermanfaat lagi, aku selalu melihat sisi positif dari segala hal yang aku keluhkan. Misalnya jika aku mengeluh dengan hidupku yang masih belum memiliki cukup uang untuk membeli barang bermerek sesukanya atau berlibur ke luar negeri, berarti aku harus mencari celah untuk menjemput rezeki itu, aku harus berusaha lebih keras lagi dan jangan bermalas-malasan. Jika aku merasa belum memiliki kemampuan apa-apa dan belum menghasilkan apa-apa, berarti aku harus memperbaiki diri dan meningkatkan ilmu yang dimilki agar bakat yang selama ini terpendam bisa dikembangkan. Bukankah Allah menciptakan semuanya berpasang-pasangan? Jika ada masalah, pasti ada solusinya. Tergantung kita saja mau mencarinya atau tidak. 

Bersyukur, berdoa dan berusaha. Itulah kunci hidupku sekarang agar segalanya seimbang. 

Semoga bermanfaat dan berhentilah mengeluh.



No comments