Header Ads

Mempersiapkan Mental Anak agar Terhindar dari Depresi


Tidak selamanya orang tua bisa mendampingi anak. Ada saatnya anak diharuskan melakukan aktifitas sendiri dan dihadapkan dengan berbagai permasalahan. Penting untuk mempersiapkan mental anak agar memiliki tameng kuat dalam menghadapi realita hidup. Riskan sekali rasanya jika orang tua tidak memberikan didikan terkait hal ini karena bisa saja ketidaksiapan mental anak dapat membuatnya terjerumus dalam bahaya depresi.


Rasa sedih, kecewa, marah, kesal atau perasaan tidak nyaman lainnya sangat wajar terjadi. Tapi bagaimana jika mental seseorang tidak sanggup mengelola emosi dan malah terjerumus semakin dalam dengan perasaan tersebut? Apalagi anak dibawah umur yang masih labil, belum berpikir secara matang atau masih tergantung dengan orang tua. Besar kemungkinannya depresi akan datang dan membuat anak melakukan hal-hal yang tidak wajar atau diluar kontrol.

Baca juga

Tips Menghadapi Depresi agar Tidak Mencelakai Diri
Hal Kecil Berdampak Besar yang Sering Merubah Mood Ibu
Anak Tidak Butuh Ibu yang Sempurna, Tapi Dia Butuh Ibu yang Bahagia
5 Hal yang Bisa Dilakukan Ayah agar Bunda Bahagia
Tips Mengelola Emosi saat Menghadapi Anak yang Mulai Bertingkah


Orang tua adalah pihak terdekat dan terpenting dalam mendampjngi kehidupan anak. Siapkanlah mental anak sedini mungkin agar lebih bijak dan mampu bertahan dalam menghadapi permasalahan. Bukankah diberbagai media elektronik atau media cetak pernah kita saksikan bahwa adanya anak-anak korban perundungan, perceraian orang tua atau mendapatkan nilai buruk dalam pelajaran, tanpa ragu mencelakai dirinya sendiri, melukai orang lain bahkan sampai mengakhiri hidupnya sebagai bentuk pelampiasan emosi?

Beberapa usaha berikut ini bisa dilakukan orang tua untuk mempersiapkan mental anak agar terhindar dari depresi dan tidak salah dalam mencari solusi saat dihadapkan pada sebuah permasalahan.

Selalu Berikan Perhatian
Perhatian orang tua merupakan kebutuhan terbesar anak dalam tumbuh kembangnya. Perhatian tidak cukup hanya dengan menghidangkan makan 3 kali sehari, memberikan kebutuhan finansial yang lebih atau memenuhi segala keinginan anak. Perhatian yang dimaksudkan disini lebih kepada perhatian secara emosional seperti empati dan simpati orang tua terhadap ketidaknyamanan anak, memberikan dekapan, pelukan, kasih sayang dan sebagainya. Jika seorang anak tidak mendapat perhatian yang cukup dari orang tuanya, bisa jadi suatu saat nanti sang anak akan mencari perhatian tersebut dari orang lain yang membuatnya nyaman. Terlihat sepele tapi hal ini bisa saja membahayakan anak. Orang yang berniat jahat akan mudah memanfaatkan momen ini untuk melakukan hal buruk. Selain itu anak yang kurang perhatian selalu ingin menjadi pusat perhatian, menonjol dan dianggap lebih dari anak lainnya. Anak haus akan pujian dan mudah down jika keadaan disekitar tidak berpihak padanya. 


"Hadir" dalam Kesehariannya

Ada belum tentu hadir. Duduk disamping anak menemaninya bermain belum tentu diaanggap hadir jika masih disibukkan dengan kegiatan lain seperti bermain gadget, membaca buku atau menonton drama korea. Fokuslah dan berikan perhatian penuh terhadap aktifitas anak. Beri respon disetiap pertanyaan dan pernyataannya. Hal seperti ini akan mendekatkan orang tua dan anak bukn hanya secara fisik tapi juga secara emosional. Dengan hadir dalam setiap momen yang anak lakukan, perhatian yang diberikan bisa tersampaikan dengan maksimal. Usahakanlah menjadi orang pertama yang dicari anak dalam menceritakan segala permasalahannya agar anak tidak salah dalam mencari tempat bergantung.

"Kepo" dengan Aktifitas Anak

Orang tua wajib tahu apa yang dilakukan sang anak mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi. Baik itu diketahui anak, maupun tidak. Biasanya semakin besar anak, maka dia akan semakin risih untuk diawasi. Biasakan menanyakan hal sederhana seperti aktifitasnya di sekolah, kegiatan ektrakurikulernya atau permasalahannya jika wajah anak terlihat murung. Dengan begini, anak akan terbiasa menceritakan pengalaman kesehariannya. Orang tua juga harus menyimpan nomor kontak orang-orang terdekat anak dalam melakukan aktifitas di luar rumah seperti guru atau teman dekat untuk berjaga-jaga. Selain itu, dizaman yang serba canggih ini, orang tua tidak boleh lengah dengan aktifitas dunia maya anak. Bukan hanya memberikan dampak positif, tapi jika kurang pengawasan, teknologi juga bisa membawa pengaruh buruk bagi anak. Dengan mengetahui seluruh kegiatan anak, orang tua bisa sigap dalam mengambil langkah apabila anak menunjukkan gejala yang mengarah kepada depresi.

Tanamkan Nilai Agama
Agama apapun pasti mengajarkan bahwa manusia di muka bumi ini memiliki Tuhan sebagai tempat mengadu dan berkeluh kesah serta meminta pertolongan. Tidak ada satu hal pun yang terjadi diluar kehendak-Nya. Ritual keagamaan mampu memberikan ketenangan dan kenyamanan batin bagi umatnya. Ajarkanlah nilai agama dan aktifitas keagamaaan kepada anak sedini mungkin agar kelak dia memiliki pegangan yang kuat dalam menjalani hidup. Seseorang yang memegang kuat prinsip keagamaan memiliki ketenangan dalam menghadapi masalah sehingga kecil kemungkinan untuk mengalami depresi.

Jangan Terlalu Memanjakan
Orang tua mana sih yang tidak ingin memberikan yang terbaik kepada anak? Jangan salah, memberikan yang terbaik bukan berarti memberikan apa yang diminta serta membiarkan begitu saja jika anak melakukan hal buruk. Orang tua bisa menentukan peraturan untuk dipatuhi anak lengkap dengan reward dan punishment. Selain itu jangan ragu untuk bersikap tegas. Menurutku pribadi, memarahi anak sah-sah saja jika itu sudah menjadi cara terakhir untuk mengajari anak. Namun tetap dengan cara yang bijak tanpa kekerasan fisik dan tidak mengeluarkan kata kasar. Terkadang direntang usia tertentu, anak lebih suka membantah dan menolak untuk diajari.  Jangan sampai hal ini membuat si kecil leluasa berbuat sesukanya tanpa kontrol. Anak harus paham bahwa tidak semua yang diinginkan bisa didapatkan dan tidak semua yang terjadi selalu sesuai dengan kehendaknya. Perlu juga memberikan ruang kepada anak dalam menyelesaikan masalah sendiri untuk beberapa saat agar lebih mandiri. Jadi jika anak sedang mengalami permasalahan, awasi saja terlebih dahulu sebelum sang anak benar-benar membutuhkan bantuan. Jangan menjadikan alasan "kasihan" untuk membenarkan diri saat memberikan bantuan kepada anak padahal belum saatnya anak dibantu. Ini hanya akan memanjakan anak dan be

Hargai Setiap Usahanya

Sekecil apapun usaha anak untuk meraih sesuatu, hargailah dengan memberikan penghargaan, tidak peduli apapun hasilnya. Bisa berupa pujian, pelukan, atau hadiah. Hal ini menanamkan kepada anak bahwa sekeras apapun persaingan diluar nanti, seberapa sering dia mengalami kekalahan, masih ada orang tua yang selalu menghargai setiap langkah usahanya. Sangat banyak orang yang hanya melihat segala sesuatunya dari hasil, bukan dari usaha. Jangan sampai hal ini membuat anak down karena tidak ada satu pun yang menghargai usahanya. Tugas orang tua lah untuk selalu mendukung dan menyemangati anak.

Stop Membandingkan!


Setiap anak memiliki kemampuan dan bakatnya masing-masing. Tidak akan sama dan jangan pernah menyamakan. Jika anak tetangga berprestasi dalam bidang sains, bukan berarti anak kita juga harus berprestasi dalam bidang yang sama. Orang tua juga harus sadar sudah sejauh mana usahanya untuk mengembangkan dan mengasah bakat anak. Bisa jadi anak lain yang berprestasi sudah diasah mati-matian oleh orang tuanya sejak kecil. Anak hebat pasti memiliki orang tua hebat. Jadi jika anak masih belum bisa melakukan hal yang besar, jangan pernah sekali pun menyalahkannya, tapi cobalah introspeksi diri sudah berapa besar usaha orang tua untuk mengasah bakat anak. Membandingkan anak dengan orang lain hanya akan menghancurkan kepercayaan dirinya dan merasa rendah diri.

Perlihatkan Hubungan yang Harmonis

Rumahku, istanaku. Ciptakanlah suasana rumah yang seperti ini demi kebaikan anak. Walaupun ada kalanya orang tua cekcok, jangan pernah sekalipun memperlihatkan pertengkaran di depan anak. Hubungan keluarga yang tidak harmonis akan membentuk karakter anak yang mudah emosi dan terbiasa dengan kekerasan. Apalagi anak akan menganggap bahwa rumah bukanlah tempat ternyaman baginya untuk berkeluh kesah. Hasilnya apa? Anak akan sulit mengontrol emosi dalam menghadapi masalah dan mencari tempat pelampiasan lain sehingga orang tua bisa saja lepas kontrol. Kondisi ini tentunya sangat berbahaya bagi anak yang masih belum mampu berpikir dengan matang. 

Orang tua menjadi pemeran utama dalam membangun mental anak agar siap dalam menerima berbagai hantaman, karena orang tua lah manusia pertama yang dikenal anak dalam hidupnya dan menjadi madrasah pertama dalam tumbuh kembangnya.



Semoga bermanfaat :)

No comments