Header Ads

Tips Mengelola Emosi saat Menghadapi Anak yang Mulai Bertingkah

Halo semuaaaaa...dua minggu lebih aku nggak buka blog gegara sibuk haha (sok banget). Nggak sih, sebenarnya akhir tahun kemaren kita liburan ke rumah uti sama eyang di Ungaran, terus pas balik pada kena batuk pilek berjamaah serumah. Makanya nggak sempat nulis. Gimana mau mikir, buat beberes rumah aja rasanya berat banget. Tapi alhamdulillah sekarang semuanya telah kembali fit dan beraktifitas seperti biasa. Horeeee.


Selama aku sakit kemaren itu rasanya ampun-ampunan deh suer. Kerjaan rumah tangga sudah pasti nggak bakalan berkurang kan? Ngasuh Byan juga harus tetap lanjut kan? Nah kekacauan ini sering membuat aku marah-marah nggak jelas. Siapa lagi yang paling sering dimarahin kalau nggak si kunyil Byan yang makin banyak tingkah. Ini kepala rasanya berasap-asap kalau nahan emosi. Mau dimarahin kok kasian masih kecil belum tau apa-apa, walaupun terkadang keceplosan juga hehe. Emosinya makin ditahan makin bikin sakit kepala, sakit pinggang, sakit perut, pokoknya sakit semua deh. Belum lagi kerjaan yang menumpuk jadi terbengkalai karena keburu bad mood. Suami pulang kerja malah jadi kena imbasnya. Boro-boro dibikinin kopi, narok kaos kaki sembarangan aja udah diceramahin, diteriakin, plus dihubung-hubungin sama kesalahan lain yang telah dilakukan berbulan-bulan lalu. Miris, hahaha.

Nah dari pada menyiksa diri dengan kejadian seperti ini, aku punya beberapa tips yang lumayan ampuh untuk mengurangi emosi ketika menghadapi si krucil yang mulai banyak maunya.

Tarik nafas 

Sederhana memang, tapi cara ini lumayan ampuh untuk mengendorkan kembali saraf-saraf yang mulai tegang. Biasanya sih aku melakukan ini pada level-level awal si emosi ini bergejolak. Palingan dalam lima kali hembusan nafas aku sudah bisa senyum lagi main sama Byan. Caranya begini, ambil posisi bersila dan letakkan tangan diatas paha. Pejamkan mata dan mulai menarik nafas yang dalam, kemudian hembuskan. Cobain deh, mudah-mudahan respon tubuh kita sama ya :)

Menjauh dari si kecil

Jika tarikan nafas udah nggak mempan, berarti level emosi sudah naik ke tahap selanjutnya. Ambil jarak agak menjauh dari si kecil dan cobalah menenangkan diri. Atau bisa juga dengan melihat suasana diluar rumah dan menyapa tetangga yang lewat. Dari pada memaksakan diri untuk tetap meladeni ulah si kecil, bisa-bisa amarah kita jadi terluapkan dengan cara yang tidak-tidak seperti berteriak atau memukul. Serem kan. Nah cobalah berpaling sejenak sambil main hape atau memikirkan hal lain yang dirasa menyenangkan.

Masuk kamar dan tutup pintu

Jangan khawatir, nggak membutuhkan waktu lama kok buat ninggalin si kecil bermain sendirian. Palingan semenit atau dua menit sudah cukup. Jika cara yang kedua ternyata nggak manjur, bisa dengan mencoba cara ini. Dengan mengasingkan diri sendiri di ruangan tertutup kita akan mendapatkan ketenangan tersendiri dan bisa melupakan sejenak hiruk pikuk yang sedang terjadi diluar. Duduklah dengan posisi yang nyaman dan tarik nafas yang dalam. Percaya deh, pasti langsung kangen buat ketemu si kecil lagi. Apalagi selama berada di kamar pintunya digedor-gedor terus karena doi kesepian main sendiri nggak ada temen.

Berkaca

Berdirilah di depan kaca dan pandangi muka kucel kita. Bilang pada diri sendiri bahwa kita adalah seorang ibu yang seharusnya bisa mengatur emosi untuk menghadapi anak yang masih dalam proses tumbuh dan belajar. Dia berbuat sesuatu yang membuat kita marah bukannya sengaja, tapi memang belum tau apa-apa. Tugas kita lah untuk membuat dia tau mana yang benar dan mana yang salah. Allah sudah menitipkannya kepada kita dan sudah pasti kita mampu untuk melakukannya. Tidak ada yang salah, baik kita sebagai ibu atau si kecil sebagai anak. Kita sama-sama belajar dan akan terus belajar. Bukankan dulu kita sangat menginginkan anak yang lucu ini? Bukankan kita begitu menyayanginya? Sudah berapa kali kita menyesal karena membentak atau tak sengaja memukulnya? Baiklah, you can do it mom. Semuanya akan kembali baik-baik saja. Ini tak akan lama, nanti saat dia sudah tumbuh besar mungkin saat-saat seperti inilah yang membuat kita rindu.

Pasrah 

Pasrah bukan berarti kita lemah ya moms. Terkadang ada hal-hal yang memang diluar kendali kita. Sudah berbagai cara dilakukan tapi ternyata masalah tidak juga menemukan penyelesaian. Misalnya saat anak GTM (masalah yang paling ssring aku hadapi mulai dari usia Byan 6 bulan). Sudah dicoba masak ini itu, naik turun tekstur, nekat ngasih garem padahal usia Byan belum satu tahun, coba nyuapin sambil digendong, sambil main, sambil naik sepeda, sambil lari-lari, sampai diajak makan ke emol, masih juga gagal total. Terus apa lagi yang bisa aku lakukan? Satu-satunya ya pasrah. Dari pada marah-marah dan stres sampai nyaris gila, mendingan masalah ini diserahkan kepada yang Maha Kuasa. Bukankan tugas kita hanya berusaha? Dan selanjutnya Allah lah yang akan menentukan hasilnya seperti apa.

Berpikir positif

Semua yang terjadi sama kita dan anak kicik ini pasti ada hikmahnya, ada pembelajaran yang bisa dipetik untuk berbuat yang lebih baik lagi kedepannya. Selalu lah berpikir yang baik dan mengambil yang baik juga. Walaupun ini memang sulit (sulit banget malah, huhu), tapi harus bisa dilakukan. Jika anak lagi suka berteriak dan melempar barang jangan buru-buru ngecap dia sebagai anak yang nakal. Mungkin dia menganggap hal itu adalah permainan yang menyenangkan untuk dilakukan dan tidak memgetahui kalau melempar dan berteriak bisa mengganggu orang lain. Berarti kita harus memberi tahu kalau itu salah. Ya kali anak bayi yang baru brojol bisa langsung ngerti tata krama. Kita sebagai orang tua lah yang harus mengajarinya.

Itulah beberapa hal yang biasa aku lakukan jika emosi sudah meledak-meladak (sering banget soalnya). Sebenarnya sih ada beberapa penyebab lain yang membuat seorang ibu gampang emosi. Seperti kurang piknik, laper, pengen belanja, butuh tempat curhat atau sekedar ketawa haha hihi, bosan, dan masih banyak lagi. Nggak semua penyebabnya adalah tingkah laku si kecil. Kadang itu hanya sebagai pemicu saja. Nggak usah ragu dan sungkan mendiskusikan masalah ini dengan suami ya, karena memang peran suamilah yang paling dibutuhkan jika hal seperti ini terjadi.

Semangat maaakkk...kita adalah wanita tangguh!

Semoga bermanfaat :)


2 comments:

  1. aku juga kdg g sabar ngadepin anak2 he he salam kenal mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya namanya manusia pasti ada khilafnya ya mba hehe
      Salam kenal juga :)

      Delete