Cara Mengajarkan Anak Balita Mengaji di Rumah, Orang Tua Juga Bisa!

Foto: freepik.com

"Anaknya disuruh hafalin ayat-ayat pendek. Mumpung masih kecil, jadi cepat nangkapnya. Lihat tuh, anak umur 2 tahun saja sudah ada yang hafal Al-quran."

Apakah benar harus begitu?


Sebagai seorang muslim, sudah menjadi kewajiban untuk mampu membaca kitab suci Al-Qur'an dengan baik dan benar. Dulu ketika masih kecil, aku ingat betul saat pertama kali duduk di kelas TPA (Taman Pendidikan Al-quran), yaitu sama dengan usia masuk SD (Sekolah Dasar) sekitar umur 6 tahun. Begitu pula dengan teman-temanku. Belajar mengaji saja baru dimulai, mana mungkin diusia segitu aku dan anak-anak lain disekitarku bisa menghafal Al-Qur'an


Luar biasanya, sekarang ini sudah banyak hafiz Al-Qur'an yang berusia sangat muda. Perlombaannya ditayangkan pula di stasiun televisi nasional. Sehingga tidak jarang orang tua berlomba-lomba mengajari anak mengaji sedini mungkin. 


Pertanyaannya, apakah semua anak memiliki kesiapan yang sama? Anugerah Allah Subhanahu wata'ala jika memang anak kita tertarik dan berbakat menjadi penghafal Al-Qur'an sejak usia 1 tahun atau 2 tahun. Tapi jika belum siap? Tujuan baik yang seharusnya menjadi ladang pengumpul pahala, malah menjadi beban bagi sang anak. Orang tualah yang paling mengerti kapan waktu yang tepat bagi anak usia dini untuk mulai diajari mengaji. Biasanya, anak yang siap akan menunjukkan ketertarikannya ketika mendengar atau melihat suara dan tulisan Arab. Tidak perlu disertai tangisan dan lari-larian dalam proses belajarnya.


Banyak pendapat mengenai acuan usia untuk mengajari anak membaca Al-Qur'an. Namun aku pribadi lebih memilih menyamakannya dengan usia wajib melaksanakan salat, yaitu 7 tahun. 
_________
Saat anak sudah berusia 7 tahun, mau ataupun tidak, tetap aku haruskan belajar mengaji. Karena bagaimanapun, membaca Al-quran merupakan perintah Allah Subhanahu wata’ala
_________
Tapi tidak menutup kemungkinkan juga memulainya lebih cepat, jika anaknya sendiri yang meminta diajarkan. 


Sekadar berbagi pengalaman, aku sudah mulai memperkenalkan huruf hijaiyah kepada anak sejak usianya 1 tahun. Ternyata dia tidak berminat sedikitpun, malah disingkirkan lalu berusaha mencari mainan lain. Aku tidak memaksa lagi, meski masih meletakkan mainan huruf hijaiyah tersebut bersama tumpukan mainan lain agar tetap terlihat. Barulah saat usianya memasuki 3,5 tahun, tanpa diminta ingin diajarkan mengaji. Selalu diingatnya setiap hari dengan menyodorkan buku Iqra' selepas aku menunaikan salat. Sekarang ia hampir menamatlan Iqra' 3 diusianya yang baru memasuki 4 tahun. Proses belajar sangat lancar dan anak cepat bisa, karena didasari atas kemauannya sendiri. Orang tua pun nyaman tanpa perlu marah-marah memaksa anak untuk fokus.

Awalnya aku ingin memasukkan anak les mengaji di mushala, ternyata terhalangnya niat itu karena pandemi membuktikan bahwa orang tua dapat melakukannya sendiri di rumah. Malah lebih fleksibel menentukan waktu dan metode ajar paling tepat.

Mengajari anak membaca Al-Qur'an yang dimulai dengan buku Iqra', harus melalui tahap perkenalan terlebih dahulu. Setelah orang tua berhasil melihat minat anak, maka proses belajar baru bisa dilakukan. Berikut beberapa cara yang aku lakukan untuk memperkenalkan dan memancing ketertarikan anak mengaji. Prosesnya butuh waktu lama karena ini lebih kepada penanaman pembiasaan dalam aktifitas sehari-hari. Harus telaten dan sabar.





Tahap Pengenalan

Tahap pengenalan dimaksudkan agar anak sadar bahwa mengaji adalah perintah agama. Pengenalan ini membutuhkan waktu yang bervariasi. Tidak tahu pasti kapan ketertarikan balita akan terlihat. Berbeda dengan anak berusia lebih tua, mungkin memberikan beberapa penjelasan sudah bisa dipahami. Balita butuh cara yang lebih lembut dan perlahan, namun tetap mengena, agar dapat memancing perhatiannya.


1 Menjelaskan Agama, Tuhan serta Rukunnya

Pertama kali yang harus diajarkan kepada anak adalah alasan dasar kenapa mengaji perlu ia lakukan. Jujur, aku kewalahan memperkenalkan Islam, Allah Subhanahu wata'ala, Nabi Muhammad Salallahu 'alaihi wassalam, Rukun Iman dan Rukun Islam. Banyaknya istilah baru, selalu saja memancing banyak pertanyaan out of the box dari mulutnya. Siapa Allah, dimana rumah-Nya, kenapa harus salat, kok Al-quran hurufnya bukan A,B,C, dan sebagainya. Meski membingungkan, orang tua harus mengerti bahwa keingintahuan dan imajinasi anak sangatlah besar, serta selalu butuh alasan dalam setiap pernyataan. Jadi berpandai-pandailah mencari jawaban yang mudah dipahami anak sehingga pesan untuk menanamkan keimanan dapat tersampaikan dengan baik. 


2 Beri Contoh

Anak adalah peniru ulung. Bagaimana ia akan tertarik membaca Al-Qur'an jika tidak ada contoh yang dilihat. Orang tua sebagai pihak terdekat anak, bisa menjadi madrasah pertama yang mencontohkan rutinitas mengaji. Mulai dari pakaian yang menutup aurat, posisi yang baik, fokus dan tentunya terjadwal. Contohnya selepas salat Magrib mengajak anak duduk diatas sajadah dan mengaji bersama. Jangan lupa menggunakan alat penunjuk agar saat anak melihat ke arah Al-Qur'an, sedikit banyaknya tampak beberapa huruf hijaiyah. Meski tidak langsung berjalan mulus, lama-lama anak pasti menangkap pesan bahwa membaca Al-Qur'an merupakan sebuah kebiasaan, sama seperti halnya tidur, makan atau mandi.


3 Mainan dan Poster Huruf Hijaiyah

Sekarang mainan dan media pembelajaran khusus anak sangat bervariasi. Orang tua bebas memilih, sesuai dengan poin apa yang akan diajarkan kepada anak. Misalnya dalam memperkenalkan Al-Qur'an bisa dengan membeli puzzle huruf hijaiyah dan poster berwarna-warni yang ditempel rendah di dinding. Meski awalnya diabaikan karena dirasa tidak semenarik mainan mobil-mobilannya, dengan terbiasa melihat, maka perhatiannya bisa juga terarahkan. Ini dialami persis oleh anakku. Satu tahun tidak pernah menjamah puzzel hijaiyah, akhirnya dengan keinginan sendiri ia menanyakan pelafalan setiap hurufnya. Kenapa? Sepengamatanku, alasannya adalah karena semua mainan sudah terlalu sering dimainkan sehingga anak akan mencari mainan yang tidak pernah dimainkan sebelumnya. Jadi, meski mainan atau poster hijaiyah yang dibeli saat ini belum digubris anak, biarkan saja, sambil sekali-sekali dipancing dengan percakapan kecil, "Ini Alif, Ba, Ta." Suatu saat pasti akan sangat berguna dalam mempercepat kepandaiannya mengaji.


4 Membacakan Surat Pendek dan Doa-doa

Membacakan surat pendek dan doa harian termasuk salah satu cara termudah untuk memperkenalkan Al-quran. Kapan saja orang tua bisa membacakan satu atau dua surat disela aktifitas anak dan minimal membaca doa mau makan bersama. Semakin terbiasa anak mendengar bahasa Arab, maka akan memancing ketertarikannya. Aku memilih waktu sebelum tidur malam untuk membaca beberapa surat pendek seperti Al-Ikhlas, An-Nas, Al-Falaq, Al-Asr dan yang sedikit panjang adalah Al-Fatihah. Kemudian diikuti dengan membaca doa sebelum tidur. Jangan membayangkan bahwa anak akan duduk dan mengikuti apa yang kita baca, anakku malah terlihat cuek dan tidak peduli. Tapi ternyata, otaknya berhasil merekam semua ayat-ayat tersebut dan sering dibacakannya tanpa aku minta disiang hari. Jadi orang tua jangan menyimpulkan dulu bahwa anak tidak suka atau tidak mau dibacakan surat pendek. Selama dilakukan rutin, lambat laun pasti akan diterima sempurna dipikiran anak.


Baca juga: Masalah Speech Delay pada Anak, Kenali dan Deteksi Sedini Mungkin demi Masa Depannya!




Tahap Belajar

Ingat! Sebelum memulai tahap belajar yang lebih menekankan pada praktik, orang tua harus benar-benar yakin bahwa anak mau melakukannya tanpa terpaksa. Anak usia balita masih memiliki kecenderungan untuk bermain, karena dengan cara inilah ia bereksplorasi. Memastikannya bisa dengan cara melakukan pengamatan atau mengajukan pertanyaan. Jika anak sudah mantap untuk belajar membaca Al-Qur'an, biasanya dia akan terlihat antusias saat pertama kali memulainya. Saat inilah orang tua bisa menerapkan beberapa tips berikut agar anak dapat fokus dan cepat membaca Al-Qur'an yang dimulai dari Iqra'.


1 Suasana yang Mendukung

Sama halnya dengan pelaksanan kegiatan belajar mengajar ilmu lainnya, mengaji juga membutuhkan suasana yang nyaman, tidak berisik dan bebas gangguan, seperti suara televisi, mainan atau adiknya yang suka ikut-ikutan membalik halaman Iqra'. Gunakan meja kayu rendah untuk meletakkan Iqra' agar tidak bungkuk saat membaca. Jangan lupa pula alat penunjuk berupa pensil, sumpit atau benda apapun yang berbentuk sama. Ini berguna agar anak tidak bingung membaca huruf secara urut.  Jika ingin membuat anak lebih bersemangat lagi, bisa kenakan sarung, peci atau mukena agar nuansa religinya semakin terasa.


2 Terjadwal

Sama seperti mencontohkan membaca Al-Qur'an dengan rutin, belajar mengaji pun juga harus dilakukan rutin agar semangat anak tetap terjaga dan pelajaran yang sudah dikuasai tidak lupa begitu saja. Tentukan waktu yang paling tepat untuk belajar, misal setelah sarapan di pagi hari saat pikiran anak masih segar, atau boleh juga setelah salat Magrib. Usahakan agar tetap melaksanakannya diwaktu yang sama setiap hari. Meski hanya membaca satu atau dua baris saja tidak masalah, yang penting konsisten. Wajar jika terkadang anak merasa bosan, maka penting bagi orang tua untuk mendahulukan perasaan anak dan tidak memaksa supaya tidak berbekas trauma. Bisa mengulang mengajaknya setiap berselang 30 menit sebanyak tiga kali. Tidak apa jika sesekali memberikan hadiah untuk memancing minatnya belajar, seperti cemilan kesukaan anak. Bila masih tidak mau, bisa melanjutkan mencobanya esok hari.


3 Beri Penghargaan Setiap Kali Tingkatan Iqra' Selesai

Penting! Siapapun pasti senang saat usahanya dihargai. Apalagi balita dengan perasaannya yang masih halus. Masing-masing orang tua memiliki cara tersendiri untuk mengapresiasi kepandaian anaknya. Memberikan pujian sudah pasti menjadi hal pertama yang terucap. Selanjutnya bisa dengan memberi kado kecil berisi mainan, mengizinkan menonton video kesukaan selama 15 menit atau jalan-jalan ke tempat yang anak pilih. Aku pun sama, memiliki cara sendiri untuk memberikan penghargaan kepada anak, yaitu dengan papan bintang. Setiap kali menamatkan tingkatan Iqra', maka satu bintang warna-warni boleh ditempel di papan. Jadi setiap hari anak bisa melihatnya dengan bangga, bukti keberhasilan kerja kerasnya belajar mengaji. Selanjutnya pasti lebih bersemangat lagi agar lebih banyak bintang yang tertempel.

Papan Bintang, penghargaan sederhana setiap kali anak menamatkan satu tingkatam Iqra'



Baca juga: Kapan Sebaiknya Anak Mulai Sekolah?


Itulah beberapa hal yang aku terapkan kepada anak untuk mengajarinya mengaji. Sebagai seorang muslim, menanamkan nilai-nilai agama sejak dini tidak ada salahnya, malah sangat baik. Minat anak untuk mengaji yang mungkin diperlihatkannya dengan banyak bertanya tentang huruf hijaiyah atau bahķan memintanya sendiri untuk diajari membaca Al-Qur'an, harus ditanggapi sebaik mungkin oleh orang tua. Bagiku sendiri, sebuah karunia dari Allah Subhanahu wata'ala jika diusia balita, anak-anak kita berkeinginan untuk mempelajari Al-Qur'an atas kehendak sendiri.


Semoga bermanfaat.



6 comments:

  1. wah keren bgt mbak 4 th udh iqra 3.. mmg minatnya udh keliatan ya jd enak biat ngajarin..anakku msih mood2an buat baca.. br iqra 1..hiks.. rasanya gemes2 gmna gitu..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah. Mungkin karena anaknya yang mau sendiri, jadi dia lebih fokus.
      Sabar, Mbak. Aku juga kadang suka geregetan pas dianya baca Iqra' sambil main-main 😅

      Delete
  2. jaman anak2ku kecil belajar iqro sama aku setelah mereka benar2 lancar sekali jaarng salah, baru aku panggil guru ngaji untuk mengajarkan baca yang baik dengan syarat2nya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, mantap sekali Mbak. Semoga aku juga bisa.
      Apalagi pandemi seperti ini, lebih aman di rumah dan mengajarkannya sendiri.

      Delete

Sebelum komentar, login ke akun Google dulu ya teman-teman. Jangan ada "unknown" diantara kita. Pastikan ada namanya, biar bisa saling kenal :)