Tak Hanya Aman Rawat Diri, Cara Cantikku Juga Harus Ramah Lingkungan dan Ramah Sosial


"Wah, sekarang mukamu bersihan, ya. Pakai apa?"

"Itu, lo, A Skincare. Ternyata memang bagus. Pantas banyak yang pakai." 

"Mahal enggak?"

"Enggak, kok. Enggak sampai 50 ribu."

"Nanti aku juga beli, ah."


Itulah aku yang dulu. Mematok kualitas produk kecantikan hanya dari ulasan teman yang kebetulan cocok. Harga miring juga merupakan poin utama yang harus aku pertimbangkan. Pokoknya ada bukti nyata yang terlihat dan harganya terjangkau, aku pasti akan membeli dan menggunakannya tanpa pikir panjang. Mana pernah membaca label pada kemasan. Wajar saja keadaan kulit wajahku sangat buruk kala itu. Jerawatan, berminyak dan kusam. 


Kebiasaan itu berubah drastis ketika aku hamil anak pertama. Semua produk kecantikan berbahan kimia mulai aku tinggalkan. Jika keluar rumah, cukup memakai bedak bayi. Jika terpaksa menggunakan kosmetik tertentu, harus dibaca dulu label kemasannya dengan seksama. Apakah mengandung zat berbahaya yang bisa mempengaruhi kondisi janin dan risiko lainnya.


Dari sinilah aku mulai rajin mencari informasi dari setiap kandungan yang tercantum. Banyak istilah yang tidak familiar, dan setelah dicari tahu, ternyata dapat merusak kesehatan. Mungkin selama ini bahan kosmetik berbahaya yang kita ketahui hanyalah seputar merkuri, hidrokinon atau timbal. Ternyata masih banyak bahan lain yang sangat mengancam.


Pernahkah berpikir bahwa kosmetik kimia pasti berpengawet?  Dan pengawet tersebut tidak hanya berbahaya bagi pemakainya, tapi juga dapat meracuni tumbuhan dan biota laut.


Faktanya, ada salah satu pengawet bernama BHT (butylated hydroxytoluene) yang umum digunakan dalam produk kosmetik, seperti sampo, body lotion, atau deodoran, ternyata dapat membuat sakit perut, pusing, mual, dan muntah. Bahkan jika mencemari sungai atau sumber air, dapat meracuni tumbuhan, ikan-ikan dan organisme hidup lainnya. 





Mulai dari Label

Cermat memilih produk kecantikan dimulai dari kesadaran membaca label

Penggunaan produk kecantikan sudah menjadi sebuah kebutuhan. Siapa yang tidak ingin tampil cantik dan menarik? Apalagi bagi mereka yang aktif dalam dunia hiburan atau yang sering tampil di depan umum. Bahkan untuk sekadar bertemu teman saja pasti butuh polesan muka agar tidak terlihat kusam.


Andai saat ini ada yang bertanya tentang kandungan produk kecantikan harian kita, apakah bisa menjawab? Kalau jawabanya tidak, berarti kita masih belum peduli dengan diri sendiri dan lingkungan dalam jangkauan lebih luasnya. Harusnya sesuatu yang digunakan secara terus-menerus dan bersentuhan langsung dengan tubuh, mesti diperhatikan betul-betul bahan pembuatnya.


Sama seperti membiarkan orang asing menggandeng tangan kita, apakah akan dibiarkan saja? Pasti akan timbul perasaan takut, risih dan memancing berbagai gerakan reflek untuk menghindar. Bisa saja orang tersebut akan melukai dan mencelakai. Begitu pula dengan produk kosmetik, bagaimana bisa kita percaya begitu saja padahal tidak tahu apa kandungan di dalamnya? Apakah hanya karena dijual dipasaran sudah dipastikan aman? Tentu saja tidak!


Dengan membaca dan memahami label produk kecantikan sebelum membeli, kita sudah berjasa besar untuk selamatkan diri sendiri, manusia lain, hewan dan juga bumi.


Mungkin selama ini yang menjadi fokus utama adalah manfaat atau kegunaan dari suatu produk. Apakah dapat mencerahkan kulit, menghilangkan jerawat, melembabkan atau mengatasi permasalahan lain yang sedang dialami. Padahal mengetahui bahan yang terkandung di dalamnya adalah yang paling penting. Bisa saja manfaat yang didapatkan memang sesuai harapan, namun beberapa tahun kemudian belum tentu kepuasan itu tetap bertahan. Nyatanya, dampak dari beberapa bahan berbahaya dalam kosmetik memang akan terasa setelah penggunaan jangka panjang.


Sekarang bukan zamannya lagi untuk buta atau sengaja menutup mata dengan kandungan dari produk buatan pabrik, termasuk produk kecantikan yang mungkin bisa digunakan berkali-kali dalam sehari. Konsumen harus cerdas dan jangan malas mencari informasi detail dari setiap kandungan yang tertera. Membeli produk kecantikan bukan hanya sebatas membuat penampilan paripurna, namun juga harus ditelisik apakah ada risiko yang mengancam dibaliknya. 


Konsumen perlu cermat membaca bahan-bahan yang tercantum pada label produk, tidak bisa asal saja. Aku pernah membaca disalah satu artikel, Jenny Frankel, seorang ahli kimia dan pendiri perusahaan kosmetik Nudestix, pernah berbagi tips terkait hal penting yang harus dicermati ketika membaca label kosmetik. Hal ini juga yang menjadi acuanku dalam membaca label pada produk kecantikan yang hendak dibeli.


Komposisi Bahan Diurutkan Sesuai Persentase Jumlahnya

Komposisi bahan yang digunakan dalam sebuah produk akan dicantumkan berdasar persentase jumlahnya. Bahan yang paling banyak digunakan akan berada di urutan pertama. Bahan-bahan aktif akan ditampilkan pada daftar terpisah. Sementara bahan-bahan dengan kandungan di bawah 1 persen bisa saja terdaftar dalam urutan apapun. Biasanya bahan-bahan non-warna ditampilkan terlebih dahulu, setelah itu baru bahan-bahan yang mengandung warna.


Jangan Mudah Percaya dengan Klaim Produsen

Suatu produk yang menggunakan bahan-bahan yang diakui cruelty free sekalipun, masih ada kemungkinan bahan-bahan tersebut diuji pada hewan dimasa lalu. Intinya, jangan terlalu mudah percaya dengan klaim yang diberikan produsen.


'Teruji Secara Klinis" Tidak Selalu Berarti Bebas Risiko

Kata "teruji secara klinis" atau "dermatologically tested" juga tidak memberikan jaminan terhadap konsumen. Ada banyak faktor yang bisa mempengaruhi hasil pengujian suatu produk. Antara lain jumlah partisipan yang mengikuti uji coba dan berapa lama rentang waktu uji coba tersebut.


Waspadai Keberadaan Bahan-bahan Berbahaya

Pada dasarnya, peraturan bahan-bahan yang diperbolehkan untuk perusahaan kosmetik cenderung lebih longgar dari pada perusahaan farmasi. Karena itu, kadang masih terdapat bahan-bahan yang diklaim berbahaya dalam daftar komposisi suatu produk. Selain itu, setiap negara memiliki kebijakan yang berbeda-beda mengenai bahan-bahan kimia berbahaya. Jadi mungkin saja bahan yang sudah dilarang di luar negeri masih digunakan oleh perusahaan-perusahaan kosmetik di Indonesia.


Tanggal Kedaluwarsa

Setiap kemasan produk kosmetik seharusnya mencantumkan tanggal produksi dan tanggal kedaluwarsa. Pastikan untuk memastikan masa pakai produk melalui informasi ini.


"Tapi aku cuma pakai bedak dan parfum saja, kok. Enggak pernah pakai yang aneh-aneh. Lagi pula mana mengerti sama yang beginian. Aku bukan beauty vlogger."


Jika ada yang merasa seperti ini, berarti kita sama. Sama-sama hanya membeli bedak dan parfum untuk tampil lebih menarik saat keluar rumah. Tapi bukan berarti mengeyampingkan kandungannya, karena bagaimanapun bedak dan parfum itu tetaplah buatan pabrik. Lagi pula kenapa harus jadi beauty vlogger untuk mengerti kandungan sebuah produk kecantikan. Tinggal buka situs pencari dan ketik nama bahannya, maka informasi terkait langsung tampil di depan mata. Menanyakan langsung kepada dokter yang kompeten juga sangat mudah melalui chatting online


Jadi, masih yakin untuk terus cuek pada label produk kecantikan kita?

Ayo, buruan dicek!




Memilih Produk Kecantikan Tak Hanya untuk Diri Sendiri, Tapi Juga Harus Ramah Lingkungan dan Ramah Sosial


Pernah dengar sustainable beauty? Isu sustainable mulai marak belakangan ini. Konsumen dan masyarakat mulai sadar bahwa kosmetik atau produk kecantikan telah berkontribusi cukup besar pada rusaknya lingkungan. Mulai dari bahan-bahan berbahaya yang dapat meracuni ekosistem bumi, sampah kemasan yang sangat banyak menumpuk dan tidak bisa bisa didaur ulang, hingga mengancam kesejahteraan masyarakat dalam proses mendapatkan bahan bakunya.


Sustainable beauty berarti produk-produk yang dihasilkan aman untuk manusia maupun bumi dengan menggunakan bahan dasar yang tidak berbahaya dan dapat diperbaharui. Perhatian utamanya mencakup cara pengadaan bahan dasar/mentah, proses produksi, pengemasan, pengiriman sampai dengan pengelolaan sampah


Misalnya kemasan sekali pakai yang tidak seluruhnya dapat didaur ulang. Kontribusi industri kecantikan terhadap pencemaran lingkungan dapat dilihat dari fakta bahwa setiap tahunnya industri ini menghasilkan 120 miliar kemasan, di mana sekitar 40% kemasan tersebut tidak dapat didaur ulang.


Bahan mentah yang banyak digunakan dalam produk kecantikan juga memberikan dampak negatif terhadap lingkungan, salah satunya minyak kelapa sawit yang merupakan bahan utama dalam banyak produk makanan maupun kecantikan. Sebanyak 2% dari penggunaan minyak kelapa sawit digunakan dalam industri kecantikan. Sebenarnya minyak kelapa sawitnya sendiri bukanlah merupakan kandungan berbahaya, karena kandungan alami dalam minyak kelapa sawit diperlukan untuk memperpanjang umur penyimpanan produk serta efek melembabkan, justru proses yang ada di dalamnya yang secara fakta telah merusak lingkungan. 


Meski sawit merupakan komoditas yang mendatangkan keuntungan ekonomi yang besar, namun bukan berarti sawit tidak lepas dari beragam permasalahan, misal menyebabkan deforestasi, mengancam wilayah adat, memantik konflik agraria, menjadi dalang dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla), dan tentunya membahayakan ekosistem.


Konsumen sebaiknya meningkatkan kewaspadaan dengan kenali bahan-bahan berbahaya pada kosmetik yang biasanya tercantum di kemasannya. Selain BHT yang telah disinggung sebelumnya, berikut daftar beberapa bahan lainnya yang tidak hanya membahayakan konsumen, tapi juga lingkungan.


Butil Asetat

Merupakan zat kimia yang biasanya dipakai di dalam industri plastik, zat ini digunakan pada cat kutek sebagai pencegah hasil polesan yang pecah-pecah. Bahaya zat ini mudah terbakar.


Microbeads

Partikel microbeads sendiri seringnya ada dalam produk exfoliator atau scrub. Namun zat ini sulit diuraikan ketika terbuang di lingkungan dan akhirnya mencemari lingkungan. Buruknya zat ini berpotensi termakan oleh biota laut dan akhirnya menjadi racun yang merusak lingkungan laut.


Chemical Sunscreen

Chemical sunscreen seringnya menjadi pilihan untuk melakukan aktivitas di luar ruangan. lebih mudah meresap di kulit dan tidak meninggalkan whitecast. Namun chemical sunscreen dengan bahan aktif seperti oxybenzone bisa mengganggu kelenjar endokrin dan bahaya lainnya zat ini bisa membuat biota laut menjadi rusak karena sifatnya yang beracun.


Siloksan

Siloksan sendiri ada pada produk-produk yang bentuknya lotion, cream dan produk-produk perawatan rambut. Siloksan nyatanya bersifat racun bahkan karsinogen, serta jika terbuang ke lingkungan sulit terurai oleh mikroorganisme. 


Triklosan

Dipakai sebagai pencegah kontaminasi kuman pada kosmetik, bahayanya bersifat karsinogenik. Partikel triklosan tidak mampu terurai di lingkungan, akhirnya menumpuk dan mencemari lingkungan. Bukan hanya berbahaya bagi lingkungan, zat ini sendiri bisa bereaksi dengan senyawa kimia lainnya dan menghasilkan senyawa baru yang lebih toksik.


Glitter

Banyak dijadikan campuran makeup yang membuat kesan fun dan meriah. Namun kebanyakan glitter terbuat dari alumunium dan plastik yang jika pecah dan terurai akan terserap kulit dan mengganggu hormon dalam tubuh. Jika mencemari lingkungan akan sangat mengancam hewan-hewan air.


Selain memperhatikan kesehatan diri, lingkungan, hewan dan kelestarian bumi, sustainable beauty juga mesti ramah sosial. Ramah sosial ini lebih mengacu kepada kehidupan masyarakat atau kepentingan umum. Siklus hidup produk kecantikan tidak boleh mengganggu, merusak atau bahkan memusnahkan kehidupan sosial. Misalnya saja penggunaan minyak kelapa sawit tadi, pembukaan lahan yang menggunduli hutan mungkin saja menghilangkan sumber kehidupan masyarakat sekitar yang sangat bergantung pada hasil hutan tersebut.



Masalah keekonomisan dari produk kecantikan juga termasuk dalam sustainable. Bagaimana memanfaatkan sumber daya seefektif mungkin agar dapat menghasilkan produk yang berkualitas, tepat guna dan mendukung aspek sustainable yang lainnya. Jadi ekonomis ini bukan berarti produk tersebut murahan. Namun bagaimana merancang strategi agar keefektifan dan keefisienan dapat diterapkan dalam sebuah produk kecantikan. Diharapkan dengan bertindak ekonomis, pemborosan tidak terjadi.


Sustainable beauty mungkin terkesan identik dengan tugas produsen, karena mulai dari pemilihan bahan, produksi hingga pendistribusiannya memang dilakukan oleh produsen. Namun bukan berarti peran konsumen tidak kalah besar dalam keberhasilan sustainable ini. Kebutuhan konsumen tetaplah menjadi acuan bagi para produsen, maka jika konsumen peduli akan isu keberlanjutan, tentu produsen akan mengikuti.




Tidak Sulit! 7 Hal Ini Bisa Kita Lakukan untuk Mendukung Sustainable Beauty

Dukung sustainable beauty dimulai dari diri sendiri | Foto: freepik.com


Sebenarnya mendukung sustainable beauty bisa dilakukan mulai dari lingkup terkecil, yaitu diri sendiri. Kebiasaan yang baik, pasti berbuah baik. Diawal memang hanya dilakukan oleh satu atau beberapa orang saja, namun lama-lama orang-orang disekitar akan mulai memperhatikan, sehingga semakin banyak yang peduli. Inilah beberapa langkah awal yang aku lakukan dan juga bisa kita semua lakukan untuk mewujudkan sustainable beauty.


1 Ubah Pola Pikir

"Yang penting cocok, mukaku bersih, ya sudah!"

Langkah pertama dan yang paling penting adalah mengubah pola pikir. Jika selama ini nyaman-nyaman saja menggunakan produk kecantikan yang diproduksi secara konvensional, maka segeralah ganti haluan. Mencari tahu segala sesuatunya mengenai sustainable beauty adalah cara terbaik untuk memperbaiki pola pikir. Semakin banyak yang dipahami, maka semakin kuat pula komitmen yang terbangun. Sebagai generasi masa kini, ketidakpedualian bukan lagi hal yang bebas dilakukan. Semakin peduli dengan kesehatan, lingkungan, sosial dan keberlangsungan hidup makhluk hidup lain, tentu semakin dilihat positif oleh orang lain. Sampai kapan keegoisan yang hanya mementingkan kebutuhan pribadi dipertahankan? Jika bumi dan segala ekosistem di dalamnya rusak, dari mana lagi sumber kehidupan ini didapat?


2 Baca Label Kemasan!

Wajib untuk membaca label kemasan ketika membeli produk kecantikan. Kenali setiap bahannya melalui sumber informasi yang relevan dan terpercaya. Teknologi sudah menjadi solusi dalam kemudahan pengaksesan informasi, jadi mengandalkan mesin pencari sudah cukup untuk mendapatkan keterangan dari semua bahan yang tertulis di label. Jangan termakan dengan janji manis iklan atau review teman, tapi utamakan keamanan produk tersebut. Apa gunanya terlihat cantik, tapi kesehatan terancam, lingkungan tercemari, hewan tersakiti, bahkan berdampak buruk bagi kehidupan sosial.


3 Gunakan Produk yang Mendukung Sustainable Beauty

Sudah banyak produk kecantikan yang sadar akan pentingnya keberlanjutan. Gunakanlah produk yang sudah menerapkan sustainable beauty. Tidak cukup hanya mengandalkan natural atau organik saja, seperti yang marak belakangan ini. Namun juga sudah harus memikirkan bumi dan sosial. Brand yang benar-benar sustainable seringkali menargetkan 4 label ramah lingkungan, yaitu dapat didaur ulang, cruelty free, sertifikasi untuk praktik bisnis yang baik, dan bahan-bahan organik.


4 Utamakan Produk Dalam Negeri

Produk kecantikan lokal Indonesia juga sudah maju dan sangat berkembang. Mineral Botanica ternyata bukan satu-satunya brand yang menggunakan bahan alami, melainkan brand-brand yang menerapkan sustainability dengan menggunakan bahan alami pun banyak bermunculan, yaitu antara lain the Bath Box, Blue Stone Botanicals, Utama Spice Bali, Sensatia Botanicals dan Skin Dewi yang keberadaannya dapat dijumpai di berbagai offline maupun online store. Blue Stone Botanicals bahkan dalam situs webnya menyebutkan bahwa bahan bakunya bersumber dari pemasok di daerah-daerah terpencil.


5 Hindari Kemasan dan Produk Sekali Pakai

Aku biasanya lebih memilih kemasan produk yang bisa di isi ulang. Mulai dari bedak, sabun mandi dan apapun selama kemasan ini tersedia. Selain lebih ekonomis, sampah sisa kemasan juga bisa dikurangi. Kapas pembersih sisa makeup aku ganti dengan reusable cotton pad. Bahkan reusable breast pad yang kini sudah tidak aku butuhkan sesuai fungsinya lagi, juga aku jadikan sebagai pengganti kapas. Jadi sebisa mungkin gantilah segala sesuatu yang sekali pakai dengan produk lain berfungsi sama dan bisa digunakan berulang. 


6 Mendaur Ulang

Mendaur ulang tidak hanya dilakukan oleh pabrik, tapi kita juga bisa, kok. Misalnya botol-botol kaca yang tidak tersedia kemasan isi ulangnya, bisa digunakan kembali untuk keperluan sehari-hari atau sekadar mendekorasi ruangan. Membuat vas bunga adalah yang paling sering aku lakukan, karena ini yang paling mudah. Ada pula yang menjadikan karton pembungkus luar dari produk untuk dihancurkan sebagai pupuk. Beberapa brand dan komunitas lokal juga telah menyediakan fasilitas daur ulang dengan menerima botol kosong habia pakai dari konsumen. Ini juga kerap aku lakukan karena kebetulan berlangganan dengan salah satu brand yang menerapkannya. Jika bingung hendak melakukan apa untuk mendaur ulang kemasan bekas pakai produk kecantikan, maka inspirasinya bisa dicari di artikel online dan media sosial seperti Pinterest.


7 Manfaatkan Komoditas Lokal

Memanfaatkan komoditas lokal yang biasa dijadikan bahan baku utama pembuatan produk kosmetik sudah menjadi kebiasaanku sejak kuliah. Terlebih lagi sekarang, setelah pernah hamil dan menyusui, memakai sembarang produk sudah total ditinggalkan. Sering kita tidak sadar bahwa banyak sekali komoditas lokal yang bisa dijadikan sebagai perawatan kulit, rambut, tubuh, hingga kesehatan. Padahal di depan rumah saja ada, 100% asli, tanpa sampah yang sulit diurai dan tidak perlu dikhawatirkan dengan dampak buruk bahan kimia.


Salah satunya adalah minyak kelapa, yang didapatkan dari santan yang dimasak lama, aku jadikan sebagai makeup remover. Kadang minyak kelapa dicampur garam juga aku jadikan scrub pembersih muka. Bonusnya, sekalian digunakan untuk mengatasi ruam popok pada anak. Bayangkan sudah berapa produk pabrikan yang sudah aku hindari? Banyak bukan? Inilah keunggulan memanfaatkan komoditas lokal.




Yuk, Bikin Sendiri Saja! Manfaatkan Komoditas Lokal Indonesia yang 100% Alami

Teh hijau, lidah buaya, madu dan susu sering digunakan sebagai bahan dasar produk kecantikan | Foto: freepik.com


Aku masih ingat fenomena yang pernah aku saksikan beberapa waktu lalu di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta. Sebuah brand produk kecantikan luar negeri baru saja membuka kembali cabang pertamanya di Indonesia setelah sempat tutup. Antriannya luar biasa panjang, produk yang bisa dibeli per orangnya juga dibatasi. Begitu luar biasanya antusias warga lokal dengan brand kecantikan luar.


Coba deh lihat lingkungan sekitar kita. Banyak dari bahan dasar produk kecantikan impor yang laris manis ini malah tumbuh subur di tanah Indonesia.


Tidak heran jika brand dalam negeri juga memiliki banyak bahan unggulan yang sama dengan brand luar negeri, karena bahan-bahan ini juga merupakan komoditas lokal Indonesia, seperti teh atau madu. Namun sayangnya produk pabrikan hanya memiliki kandungan beberapa persen saja, karena butuh campuran bahan lain sebagai pengawet, pengharum, pengental dan sebagainya. Padahal dengan membuatnya sendiri bisa memberikan manfaat kemurnian dan kealamian hingga 100%! Berikut beberapa bahan utama dari produk kecantikan pabrik yang aku gunakan untuk rutinitas perawatan diri. Bahannya mudah didapat, gampang untuk diolah mandiri, tidak ada tambahan bahan kimia, sangat hemat, dan tentunya mendukung penuh sustainable beauty.



🌱 Teh Hijau

Produk kecantikan teh hijau atau green tea dalam bahasa Inggrisnya ini sangat laris karena khasiatnya yang ampuh untuk mengobati masalah jerawat di wajah. Tahukah kamu bahwa Indonesia sudah mengekspor teh hijau? Bahkan baru-baru ini Maroko telah menyatakan keinginannya menjajaki pasokan teh hijau dari Indonesia. Kenapa tidak kita manfaatkan saja komoditas lokal ini sebagai masker wajah alami? Tinggal beli saja teh hijau kemasan lokal yang banyak dijual di supermarket, lalu ikuti langkah-langkah berikut.

🌸 Buka kemasan teh hijau celup dan ambil bubuknya saja. Jika membeli teh biasa dengan potongan yang lebih besar, bisa diblender hingga halus.

🌸 Tambahkan sedikit air hangat sampai bertekstur kental.

🌸 Oleskan ke seluruh wajah seperti memakai masker. 

🌸 Diamkan selama 20-30 menit.

🌸 Cuci bersih muka dan keringkan.



🌵 Lidah Buaya

Lidah buaya atau aloe vera ini adalah rahasia turun temurun untuk kecantikan. Mulai dari menghilangkan jerawat dan bekasnya, melembabkan kulit, hingga menyuburkan rambut. Beberapa produk kecantikan sudah banyak menjual produk berbahan dasar lidah buaya, bahkan ada yang mengklaim produknya memiliki kandungan lidah buaya hingga 99%. Namun ternyata membuat perawatan sendiri dari lidah buaya sangat gampang, kok. Berikut cara membuat masker dari lidah buaya ala aku.

🌸 Kerok daging lidah buaya dari kulitnya dengan sendok.

🌸 Jika ingin menggunakan masker lidah buaya murni, bisa langsung dioles ke wajah.

🌸 Menambahkan bahan alami lain juga bisa, seperti perasan lemon, bubuk kunyit atau bubuk teh hijau. Aduk rata sampai tercampur sempurna dan oleskan ke wajah.

🌸 Diamkan selama 30 menit.

🌸 Cuci bersih muka dan keringkan.

🌸 Lidah buaya atau campuran masker yang belum terpakai bisa disimpan dikulkas menggunakan wadah bekas pakai kosmetik.



🍯 Madu

Segudang manfaat madu sudah terbukti sejak dulu. Bukan hanya bagi kesehatan tubuh, namun juga untuk kecantikan. Penggunaan madu sebagai bahan dasar produk kosmetik telah aku kenali sejak masih di bangku sekolah menengah, seperti krim, lotion, shampo dan sabun. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa Indonesia juga aktif sebagai pengekspor madu, yang berarti bahwa Indonesia memiliki madu-madu yang berkualitas. Aku juga sering melihat penjaja madu hutan keliling yang berjualan menggunakan ember, malah masih ada sarang lebahnya. Bukti kalau madu memang sangat banyak tersedia di sekeliling kita. Nah, berikut cara membuat masker madu sesuai kebutuhan kulit berjerawat yang bisa dilakukan di rumah.

🌸 1 sendok makan madu asli, 1 sendok teh lemon dan 1 sendok teh bubuk kayu manis diaduk rata hingga menjadi adonan masker.

🌸 Oleskan pada wajah secara merata. Jangan sampai kena mata, ya.

🌸 Diamkan selama 20-30 menit.

🌸 Cuci muka sampai bersih dan keringkan.

🌸 Jika ada sisa masker yang belum terpakai, bisa disimpan di kulkas. Gunakan kemasan produk kosmetik yang sudah habis pakai sebagai wadah penyimpanannya.



🍵 Susu

Susu bukan hanya baik untuk nutrisi tubuh, tapi juga telah teruji dapat membuat kulit makin bersinar. Dulu sekali ketika aku baru mengenal produk kecantikan, susu sudah menjadi bahan dasar yang hits dan masih bertahan hingga sekarang. Menurut data BPS lagi, ternyata Indonesia juga mengekspor susu, lo. Komoditas lokal dengan manfaat yang luar biasa ini bisa kita manfaatkan untuk mempercantik diri. Caranya mudah sekali! (Jangan lakukan jika kamu alergi susu).

🌸 Siapkan susu murni atau susu UHT plain dalam mangkuk

🌸 Basahkan reusable cotton pad/kapas dengan susu, lalu sapukan ke seluruh wajah dengan merata.

🌸 Diamkan selama 20-30 menit.

🌸 Bilas muka dengan air bersih dan keringkan.


Sebagai tips tambahan, teh hijau, lidah buaya, madu dan susu, bisa saling dicampur satu sama lain. Menambahkan rempah-rempah asli Indonesia juga tidak kalah bagus khasiatnya, seperti kunyit, kayu manis, pala dan sebagainya. Sesuaikan saja dengan kebutuhan kulit kita. Informasi terkait cara membuat masker dari bahan-bahan alami yang mudah didapat ini sangat banyak tersedia di dunia maya. Tapi ingat, tetap harus dari sumber terpercaya, ya.


Selamat mencoba!




Kesimpulan

Manusia adalah makhluk sosial yang hidup bergantung dengan alam, sudah saatnya peduli akan isu keberlanjutan. Produk kecantikan adalah sektor yang lumayan banyak memberi efek negatif, mulai dari penggunaan bahan berbahaya, uji coba pada hewan, sampah dari kemasan bekas pakainya, hingga mengganggu kehidupan masyarakat. Sudah saatnya untuk mendukung sustainable beauty yang peduli akan kelestarian lingkungan dan kesejahteraan sosial. Tidak perlu menjadi ahli untuk mengambil langkah cermat dalam memilih cara untuk cantik. Mulailah dari diri sendiri, ubah pola pikir dan mulai bertindak. Jangan malas mencari tahu, apalagi untuk produk yang digunakan secara rutin. 


Cantik bukan sebatas enak dipandang, tapi juga bagaimana keramahan produk yang digunakan untuk menghasilkan kecantikan tersebut.



__________



Tulisan ini diikutsertakan dalam Kompetisi Blog #LestarikanCantikmu : Share Your Sustainable Beauty and Wellness Story!


Referensi

Jerry Shalmont. 2020. SUSTAINABLE BEAUTY: KESIAPAN KONSUMEN DI INDONESIA DALAM MENGINTEGRASIKAN KONSEP KEBERLANJUTAN DALAM PENGELOLAAN SAMPAH KEMASAN PLASTIK PRODUK INDUSTRI KECANTIKAN. Law Review Volume XX, No. 2. Tautan: https://www.google.com/url?sa=t&source=web&rct=j&url=https://ojs.uph.edu/index.php/LR/article/view/2591&ved=2ahUKEwjh2unxwJTvAhV79nMBHeoQCiEQFjAAegQIARAC&usg=AOvVaw2z5tdCx4S9yCJ4a1tiW4EX

Data Eksport dan Import Badan Pusat Statistik. Tautan: https://www.bps.go.id/exim/

"Bahan Kosmetik ini Ternyata Berbahaya Bagi Lingkungan". Tautan: https://ketik.unpad.ac.id/posts/876/bahan-kosmetik-ini-ternyata-berbahaya-bagi-lingkungan-2

"Dilema Komoditi Sawit". Tautan: https://madaniberkelanjutan.id/2020/01/20/dilema-komoditi-sawit

"Kenali Bahan-bahan Berbahaya pada Kosmetik". Tautan: https://doktersehat.com/kenali-bahan-bahan-berbahaya-pada-kosmetik/

"Rebut Pasar Teh Hijau Maroko Melalui Indonesian Green Tea Incorporated". Tautan: http://ditjenbun.pertanian.go.id/rebut-pasar-teh-hijau-maroko-melalui-indonesian-green-tea-incorporated/

"5 Hal penting yang perlu dicermati saat membaca label kosmetik". Tautan: https://m.merdeka.com/gaya/5-hal-penting-yang-perlu-dicermati-saat-membaca-label-kosmetik.html

"Tanpa Disadari, 5 Kandungan Kosmetik Ini Dapat Merusak Lingkungan Lho!". Tautan: https://www.idntimes.com/life/women/indah-shaliha/kandungan-kosmetik-ini-dapat-merusak-lingkungan-c1c2/5



2 comments:

  1. Keren artikelnya, bikin kita lebih peduli terhadap produk kecantikan yang ramah lingkungan..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah. Terima kasih, Mbak Dedew 😘
      Ramah di tubuh, ramah juga buat lingkungan.

      Delete

Sebelum komentar, login ke akun Google dulu ya teman-teman. Jangan ada "unknown" diantara kita. Pastikan ada namanya, biar bisa saling kenal :)