World Immunization Week 2021 Webinar Bersama Kenapa Harus Vaksin #LindungikuLindungimu : Kupas Tuntas Vaksinasi Anak


Hai Parents, pada minggu keempat bulan April kemarin diperingati sebagai World Immunization Week 2021, lo. Jadi peringatan ini bertujuan untuk mengampanyekan betapa pentingnya vaksinasi untuk melindungi manusia dari berbagai penyakit mematikan. World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa vaksinasi telah berhasil menyelamatkan jutaan nyawa setiap tahunnya dan diakui sebagai salah satu intervensi kesehatan paling sukses di dunia. 


Vaksinasi tidak hanya memberikan perlindungan bagi mereka yang divaksin, tetapi juga dapat memberikan perlindungan kepada orang lain disekitarnya.

Vaksinasi #LindungikuLindungimu


Meski penggunaan vaksin ini telah dimulai semenjak lebih dari 200 tahun silam, nyatanya masih ada beberapa orang tua yang ragu atau tidak memberikan vaksin sama sekali kepada anaknya. Alasannya klasik, "Dulu anak-anak enggak ada yang di vaksin, tapi masih sehat-sehat saja tuh!" Bukan hanya itu, penyebaran berita bohong juga tidak kalah hebat mempengaruhi banyak pemikiran masyarakat, menyatakan bahwa vaksinasi akan membahayakan anak dan dapat menyebabkan penyakit baru. Miris sekali bukan? 


Makanya hingga sekarang pemerintah dan berbagai pihak yang peduli akan pentingnya vaksinasi bagi anak maupun orang dewasa terus menggalakkan pemberian vaksin ini. Pemahaman yang keliru bisa dipatahkan jika masyarakat memiliki edukasi yang cukup mengenai luar biasanya manfaat vaksin. Nah, Jumat lalu pada tanggal 30 April 2021, Kenapa Harus Vaksin dan theAsianparents Indonesia mengadakan webinar seru untuk memperingati World Immunization Week 2021 dengan tema "101 Vaksinasi : Kupas Tuntas Vaksinasi Anak" bersama dr. Attila Dewanti Sp.A(K) yang merupakan Dokter Spesialis Anak dan Mom Celeb Sissy Prescilia selaku moderator. Sesuai temanya, semua seluk beluk vaksin untuk balita dibahas di sini. Padat ilmu banget!



Sebagai tambahan informasi dan agar tidak bingung dengan istilah vaksinasi dan imunisasi yang banyak disebutkan dalam artikel ini, maka perlu kita ketahui dulu perbedaan antara keduanya. Sebagaimana yang ditulis pada kompas.com, dilansir dari Health Direct, vaksinasi adalah kondisi tubuh mendapatkan suntikan vaksin atau obat vaksin oral dengan tujuan meningkatkan imun tubuh dalam menangkal sebuah penyakit. Sedangkan imunisasi adalah proses panjang tubuh dalam membentuk antibodi agar bisa kebal terhadap suatu penyakit.





Kenapa Harus Vaksin? 

Faktanya, vaksin aman diberikan mulai dari bayi baru lahir hingga dewasa. Apabila anak tidak mendapatkan vaksin sama sekali, maka lebih dari 26 penyakit berbahaya akan selalu mengancam tubuhnya. Jika sampai sekarang anak yang tidak divaksin masih aman-aman saja, bisa jadi mereka beruntung karena berada dalam lingkaran herd immunity atau kekebalan kelompok. Herd immunity merupakan suatu kondisi di mana kelompok yang sudah divaksin akan melindungi kelompok lainnya yang rentan tertular Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunusasi (PD3I). Herd immunity ini akan menurunkan risiko cepatnya penyebaran penyakit dan Kejadian Luar Biasa (KLB) atau mencegah wabah.


Penelitian di berbagai negara membuktikan bahwa bayi dan balita yang tidak diimunisasi lengkap tidak mempunyai kekebalan tubuh. Mereka mudah tertular penyakit, menderita sakit berat, menularkan ke anak lain, terjadi wabah, serta menyebabkan cacat dan kematian.


Anak yang mendapatkan vaksinasi lengkap, akan memiliki kekebalan tubuh yang jauh lebih kuat dari anak yang tidak divaksin. Mari kita perjelas dengan satu contoh kasus. Andai kabar buruknya suatu saat nanti ada tetangga yang mengindap penyakit TBC (Tuberkulosis), anak yang telah mendapat vaksin BCG akan memiliki kekebalan yang dapat menolak bakteri, atau meski terkena juga, maka gejala yang ditimbulkan jauh lebih ringan. Bagaimana dengan anak yang tidak divaksin BCG? Tingkat risiko penularannya jauh lebih besar dan gejala yang akan diderita jauh lebih parah. 


Jika disimpulkan, terdapat 4 alasan kenapa anak harus divaksin.

1 Mencegah Penyakit dan Kematian.

Lebih dari 26 penyakit dan 2-3 juta kematian akibatnya dapat dicegah dengan imunisasi. Sistem imun anak yang belum sempurna sangat membutuhkan vaksinasi untuk memperkuat sistem tersebut sehingga dapat melawan penyakit yang akan masuk ke tubuhnya. Anak akan terhindar dari penularan penyakit berbahaya.

2 Mengurangi Resistency Antibiotic.

Membantu membatasi/mengurangi terjadinya resistensi antibiotik karena vaksin dapat mencegah penyakit pada tahap awal.

3 Menyelamatkan Orang.

Meningkatkan cakupan imunisasi secara global dapat menyelamatkan lebih dari 1,5 juta orang setiap tahunnya.

4 Menghemat Waktu dan Biaya.

Imunisasi adalah investasi. Melengkapi imunisasi anak akan menguntungkan orang tua di masa depan secara waktu dan finansial. Kenapa? Andai saja anak menderita penyakit yang seharusnya bisa dicegah dengan imunisasi, bukankah itu akan menguras uang, tenaga dan waktu untuk merawat dan membawa anak ke rumah sakit? 


Setelah mengetahui betapa besar manfaat vaksin bagi anak, apakah orang tua masih ragu atau mengabaikan jadwal vaksin anak? Enggak ada ruginya, malah sangat menguntungkan dan bermanfaat bagi anak maupun orang tua.




Yuk, Kupas Tuntas Vaksinasi Anak!

Tak kenal maka tak sayang. Mungkin peribahasa ini juga bisa diterapkan pada vaksinasi. Edukasi adalah kunci. Orang tua akan lebih peduli dengan vaksinasi anak jika sudah mengenal lebih dalam. Mari kita kupas tuntas vaksinasi anak berdasarkan penjelasan dari dr. Atitila Dewanti Sp.A(K) yang dijelaskan dengan lugas ketika webinar berlangsung.


Pahami jadwal imunisasi anak

Biasanya setelah lahir, anak mendapatkan buku kesehatan yang di dalamnya juga disertakan dengan jadwal vaksin. Jika ingin lebih update, jadwal terbaru bisa didapatkan di website resmi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Beberapa tambahan mungkin terjadi pada jadwal vaksinasi yang baru. Misalnya pada jadwal terbaru yang dikeluarkan pada tahun 2020 lalu, vaksin JE (Japanese Enchepalitis) sudah masuk ke dalamnya sebagai vaksin tambahan yang perlu diberikan kepada anak. Selain itu vakain BCG dan Hepatitis B sudah bisa diberikan sejak anak lahir, serta Hepatitis A yang dulunya diberikan ketika anak berusia 2 tahun, sekarang sudah bisa diberikan saat usia anak 1 tahun.

Sumber: website IDAI

Pada tabel jadwal terdapat beberapa jenis warna yang memiliki arti berbeda. Berikut penjelasan detailnya.

Biru. Menunjukkan vaksinasi primer yang harus diberikan pada usia tertentu.

Merah. Menunjukkan vaksin booster atau penguat yang harus diberikan ulang pada jangka waktu tertentu yang dikarenakan kekebalan vaksin tersebut sudah berkurang. Ini bertujuan agar kekebalan tetap berlanjut agar vaksinasi sebelumnya tidak percuma dilakukan. Misalnya vaksin influenza yang sebaiknya diberikan setiap 1 tahun sekali agar kekebalan tubuh terhadap penyakit flu tetap optimal.

Kuning. Menunjukkan bahwa vaksinasi bisa dikejar jika terlambat.

Jingga. Menunjukkan vakainasi yang diberikan karena daerah/wilayah yang sedang banyak kasus penyakit tersebut.


Selanjutnya, orang tua juga penting membaca keterangan yang ada pada bagian bawah jadwal. Beberapa informasi yang hanya dapat diketahui lebih lanjut dengan membaca keterangan adalah jarak antar dosis (interval dosis), batas usia pemberian dan rekomendasi lain yang tidak tertuang dalam tabel. 


Selain ìtu orang tua sebaiknya lebih aktif bertanya kepada dokter mengenai jadwal imunisasi anak. Takutnya vaksin yang diberikan kepada anak tidak lengkap sehingga kekebalan tidak optimal. Cek jadwal imunisasi, lihat jadwal imunisasi, dan konsultasikan ke dokter anak. Setiap kali ada keluhan atau apa saja yang ingin diketahui orang tua, tanyakanlah kepada dokter agar mendapat penjelasan yang sudah pasti kebenarannya. 



Bagaimana bila imunisasi anak terlambat atau tidak teratur?

Terkadang beberapa kejadian tidak terduga bisa berdampak pada jadwal imunisasi anak. Misalnya ketika awal pandemi dulu, ketakutan akan tertular Covid-19 menjadikan orang tua memilih menunda imunisasi anak. Lalu bagaimana jika penundaan ini terjadi? Apa yang harus dilakukan?

1. Segera lanjutkan imunisasi yang tertunda sesuai jadwal. 

2. Bila orang tua ragu atau lupa apakah anak sudah mendapatkan jenis vaksin tertentu, maka anggap saja anak belum mendapatkannya, lalu tetap berikan vaksin tersebut.

3. Interval vaksin akan tetap sama atau tidak berubah sama sekali.

4. Orang tua perlu tahu bahwa tidak ada bukti bahwa pemberian vaksin akan merugikan penerima yang sudah pernah mendapatkannya.


Jadi, orang tua tidak perlu panik berlebih ketika jadwal imunisasi anak berantakan atau terlambat dari yang seharusnya. Tetap segara lanjutkan imunisasi ketika situasi sudah kondusif kembali.



Adakah kondisi yang tidak memperbolehkan anak divaksin?

Ada. Meski vaksin aman, namun ada beberapa kondisi yang tidak memperbolehkan anak divaksinasi. Berikut beberapa kondisi tersebut.

1. Anak dengan keganasan kanker atau sedang menjalani kemoterapi.

2. Anak yang sedang mengkonsumsi obat-obatan immunosupresi.

3. Anak dengan riwayat alergi berat pada pemberian vaksinasi yang sama pada dosis sebelumnya.



Bila anak sakit selain dari kondisi di atas, apakah tetap diperbolehkan mendapat vaksinasi?

Anak yang sakit dengan gejala ringan tetap dapat diberikan vaksinasi walaupun sedang menderita demam sub febris, gejala salesma atau batuk pilek dan diare. Anak yang sedang mengkonsumsi antibiotik juga masih diperbolehkan melakukan vaksinasi. Orang tua tidak perlu khawatir, karena vaksinasi tidak akan membuat penyakit anak bertambah parah.



Apakah boleh memberikan lebih dari satu jenis vaksin pada waktu bersamaan?

Boleh. Semua jenis vaksin dapat diberikan berbarengan. Biasanya imunisasi dilakukan pada bagian tubuh yang berbeda, misalnya lengan kiri dan kanan, kaki kanan dan kiri atau di lengan dan kaki. Jarum suntik yang digunakan juga akan berbeda. Bila vaksin tidak diberikan pada waktu bersamaan, maka perlu diperhatikan bahwa jarak di antara dua injeksi vaksin hidup yang dilemahkan adalah 28 hari dan tidak ada jarak khusus untuk vaksin mati.



Bagaimana dengan pemberian vaksin pada bayi prematur? 

Bayi prematur lahir dengan berat badan di bawah normal. Vaksinasi pada bayi prematur sebaiknya dilakukan setelah bayi berumur 2 bulan atau berat badan  bayi sudah di atas 2 kg. Ini dimaksudkan agar vaksin dapat bekerja secara optimal pada tubuh bayi. Jadwal vaksinasi selanjutnya akan disesuaikan dengan jadwal yang ditetapkan oleh IDAI.



Apa yang dimaksud dengan imunisasi kejar, imunisasi ganda dan imunisasi kombinasi? Amankah?

Catch-up immunization atau imunisasi kejar merupakan salah satu strategi yang dianjurkan untuk meningkatkan cakupan vaksinasi. Imunisasi kejar ini adalah upaya untuk melanjutkan vaksinasi yang tertunda pada seseorang yang memenuhi syarat sesuai dengan anjuran usia pada jadwal imunisasi. WHO sangat merekomendasikan untuk merencanakan imunisasi kejar ini sesegera mungkin. Melaksanakan imunisasi kejar bersamaan dengan pelayanan kesehatan rutin sangat penting untuk kelanjutan program imunisasi. Pelaksanaan imuniasi kejar sebaiknya lebih mengutamakan untuk penyakit PD3I yang rentan wabah, seperti campak, polio dan lainnya.


Sedangkan multiple injection atau imunisasi ganda adalah pemberian lebih dari satu jenis imunisasi dalam satu kali kunjungan. Ini sangat bermanfaat untuk mempercepat perlindungan kepada anak, meningkatkan efisiensi pelayanan, serta orang tua tidak perlu datang ke fasilitas kesehatan berulang kali. Makanya Kementerian Kesehatan merekomendasikan imuniasi ganda ini untuk dilakukan dalam pelayanan imunisasi.


Pemberian imunisai ganda sudah terbukti aman, efektif dan tidak meningkatkan risiko efek samping vaksin pada anak. Meski ketika penyuntikan anak merasakan ketidaknyamanan karena dilakukan pada dua titik sekaligus di tubuhnya, namun rasa nyeri ini hanya akan dirasakan dalam waktu singkat dan akan segera hilang.


Kemudian ada lagi yang dinamakan dengan imuniasi kombinasi. Imunisai kombinasi merupakan gabungan beberapa komponen vaksin ke dalam satu vaksin untuk mencegah lebih dari satu jenis penyakit. Keunggulan vaksin kombinasi ini sangat banyak, yaitu dapat meningkatkam cakupan imunisasi, membantu anak-anak yang tertinggal jadwal imunisasi, mengurangi biaya pengiriman dan penyimpanan vaksin, mengurangi biaya kunjungan si penerima vaksin, serta menyederhanakan jadwal imunisasi untuk program pengenalan vaksin-vaksin baru. 


Vaksin kombinasi sangat berperan dalam keadaan pandemi seperti ini, karena dapat mengurangi jumlah suntikan dan jumlah kunjungan orang tua ke fasilitas kesehatan yang dapat mengurangi risiko penyebaran virus Covid-19.



Kenapa anak demam setelah imunisasi?

Orang tua tidak perlu panik berlebih ketika mendapati anak demam setelah imunisasi, karena demam ini adalah reaksi normal. Gejala demam menunjukkan bahwa vaksin sedang bekerja di dalam tubuh untuk membentuk antibodi. Biasanya demam ini akan hilang dalam kurun waktu 24-36 jam. Tidak semua jenis vaksin akan menimbulkan gejala demam, hanya DTwP dan Campak saja yang merupakan vaksin dengan risiko demam tinggi. Pemberian ASI atau minum yang banyak dapat menurunkan kajadian demam setelah imunisasi.


Jika demam anak tinggi dan membuatnya tidak nyaman, orang tua bisa memberikan paracetamol sesuai dosis. Bila setelah 36 jam demam anak masih bertahan, maka bawalah ke rumah sakit karena dikhawatirkan ada penyakit lain yang menjadi penyebab  demam tersebut.




Tips Sebelum Membawa Anak Imunisasi

Waktu imunisasi sebaiknya dimanfaatkan orang tua semaksimal mungkin untuk mendapatkan segala informasi yang dibutuhkan. Maka dari itu sebaiknya orang tua perlu melakukan beberapa hal berikut sebelum membawa anak imunisasi.

🌸 Bacalah informasi mengenai vaksin yang diberikan dokter. Apa manfaat vaksinnya, apakah memicu gelaja demam atau tidak, atau apapun yang dirasa perlu.

🌸 Catat pertanyaan atau keluhan yang akan disampaikan ke dokter agar tidak ada yang terlewat. 

🌸 Orang tua jangan sampai lupa membawa buku vaksinasi anak agar dapat melihat riwayat imunisasi anak.

🌸 Bawa mainan atau mainan kesukaan anak untuk menemaninya selama proses imunisasi.

🌸 Jelaskan kepada anak bahwa vaksin akan membuatnya menjadi semakin sehat dan terhindar dari penyakit berbahaya. Meski ada rasa sakit sebentar ketika di suntik, namun manfaat yang didapat sangat luar biasa.




Tips Agar Anak Nyaman dan Tidak Trauma Saat Divaksin

Ketika anak divaksin, tidak jarang orang tua panik ketika anak menangis dengan kencang. Anak belum tahu dan mengerti akan vaksin yang disuntikkan ke tubuhnya, sehingga anak hanya bisa menangis atau takut karena nyeri yang dirasakannya setelah disuntik. Padahal rasa panik ini bisa saja membuat anak semakin tidak nyaman atau trauma. Sebaiknya orang tua yang mendampingi untuk vaksinasi dapat menciptakan rasa nyaman bagi anak agar prosesnya berjalan baik. Berikut beberapa tips yang bisa dilakukan.


1. Berikan pelukan dan sentuhan

Pelukan dan sentuhan orang terdekat sangat berarti bagi anak sehingga dapat membuatnya tenang dan nyaman. Ini juga dapat mencegah anak bergerak berlebihan. Jika anak tenang, maka dokter atau perawat akan terbantu untuk melakukan penyuntikan. Jika anak disuntik di area lengan, orang tua bisa memangku atau memposisikan anak berdiri di depan orang tua, lalu peluk anak dengan tangan melingkar di lengannya, dan tahan kaki anak di antara kaki orang tua. Jika anak disuntik di area paha, orang tua bisa memangku dan melingkarkan lengan mengitari badan anak, lalu pegang kedua lengan anak dengan lembut dan tahan kakinya di antara paha orang tua.


2. Susui anak

Kontak langsung dengan ibu dan rasa manis dari ASI akan membantu anak merasa nyaman sehingga dapat membuatnya melupakan rasa nyeri ketika disuntik.


3. Alihkan perhatian anak

Orang tua bisa mengajak anak bermain, bernyanyi dengan mainan favoritnya yang telah dibawa dari rumah selama proses vaksinasi dilakukan. Teralihkannya perhatian anak akan membuatnya tidak terlalu fokus dengan jarum suntik dan rasa nyeri setelahnya.


4. Mengambil nafas panjang

Mengambil nafas panjang juga dinilai dapat mengurangi rasa sakit ketika anak disuntik. Orang tua bisa membawakan mainan peluit, gelembung sabun atau baling-baling yang semuanya membutuhkan terikan nafas panjang saat memainkannya.




Tips Vaksinasi Anak Selama Pandemi

Terjadinya pandemi Covid-19 membuat kebiasaan baru terjadi dalam banyak aspek kehidupan, tidak terkecuali dengan vaksinasi anak. Terdapat beberapa peraturan yang wajib dipatuhi orang tua agar imunisasi anak dapat terus berjalan tanpa risiko penularan virus. Berikut beberapa tips aman yang bisa dilakukan orang tua ketika membawa anak melakukan vaksinasi di layanan kesehatan. 


Siapkan kunjungan vaksinasi ke fasilitas kesehatan dengan tetap menjaga protokol kesehatan.

1. Pastikan anak dalam kondisi sehat sebelum melakukan kunjungan vaksinasi.

2. Batasi jumlah pendamping saat kunjungan vaksinasi anak di fasilitas pelayanan kesehatan.

3. Selalu kenakan masker dan perhatikan etika batuk/bersin.

4. Utamakan kunjungan vaksinasi ke fasilitas pelayanan kesehatan yang memisahkan kunjungan untuk pasien sakit dan sehat.

Tetap jaga jarak dan higienitas selama berada di fasilitas kesehatan.

5. Saat menunggu giliran, jaga jarak aman di ruang tunggu. Jika ruang tunggu terlihat penuh, maka tunggu di mobil saja (bila menggunakan mobil) hingga giliran vaksinasi.

6. Selalu cuci tangan dengan benar selama dan setelah keperluan selesai di fasilitas kesehatan. 

7. Setelah vaksinasi, tunggu selama 30 menit untuk memantau reaksi yang mungkin terjadi.

Sesampai kembali ke rumah, tetap jaga kebersihan dengan tetap melakukan hal-hal berikut.

8. Setelah melakukan kunjungan ke fasilitas pelayanan kesehatan, ganti baju anak dan pendamping. Sebaiknya pendamping dewasa juga mandi dan mengganti pakaian.

9. Rendam dan cuci pakaian pendamping dan anak yang digunakan saat kunjungan ke fasilitas pelayanan kesehatan. 




Bagaimana Cara Menghadapi Mereka yang Anti-vaksin?

Mungkin banyak dari orang tua pernah dihadapkan dengan situasi di mana ia bertemu dengan orang-orang yang menolak untuk divaksin. Bukan hanya dirinya saja, tetapi seluruh anggota keluarganya juga tidak diberikan vaksin. Banyak hal yang melatarbelakanginya, ada karena paham yang telah dianut turun temurun, menganggap vaksin tidak ada gunanya karena selama ini keluarganya aman-aman saja, atau termakan berita bohong karena minim edukasi.


Nah, bagaimana cara kita menghadapi kelompok masyarakat ìni? Beri tahu kebenarannya. Jelaskan dengan detail apa manfaat vaksin yang sudah teruji dengan pasti. Beri pula contoh melalui berbagai media, misalnya gadget, masalah yang telah terjadi akibat tidak diberikannya vaksin, serta tertanggulanginya masalah tersebut karena adanya vaksin. Misalnya dulu kasus TBC sangat banyak terjadi dan akhirnya jauh berkurang karena kehadiran vaksin.




Kesimpulan

Kesimpulan yang bisa diambil dari keseluruhan materi webinar ini ada beberapa hal. Pertama, sudah pasti bahwa vaksinasi sangat penting untuk anak karena dapat melindunginya dari lebih 26 penyakit berbahaya dan kematian yang diakibatkannya. Tidak ada kata terlambat untuk melakukan vaksinasi, jadi mulai anak hingga dewasa, semuanya bisa melajukan vakainasi. Terpenting dari semuanya adalah vaksinasi sangat aman bagi tubuh. 


Meski pandemi tengah melanda dunia, hak anak untuk melakukan vaksinasi harus tetap dijalankan dengan mematuhi protokol kesehatan. Jangan sampai beban pandemi ini ditambah lagi dengan wabah PD3I karena abai dengan jadwal vaksin anak. Selama kita mengikuti protokol kesehatan ketika mengunjungi fasilitas pelayanan kesehatan, maka kita akan aman. Pastikan vaksinasi anak lengkap hingga dosis booster agar kekebalannya optimal. 


Ada hal menarik yang disampaikan Sissy Prescilia di akhir acara. Vaksin diibaratkan sebagai "simbol sayang". Vaksin tidak hanya melindungi diri, namun juga dapat melindungi orang lain karena dapat membentuk herd immunity. Jadi dengan memastikan anak mendapatkan vaksin dengan lengkap, maka secara tidak langsung akan melindungi orang lain disekitarnya untuk terhindar dari penyakit berbahaya. 


__________


Vaksin #LindingikuLindungimu. Ayo, segera ke dokter untuk lengkapi vaksinasi anak. Ketahui lebih banyak mengenai vaksinasi di akun Instagram @kenapaharusvaksin atau langsung klik link https://www.instagram.com/kenapaharusvaksin/.


Semoga bermanfaat.


Referensi:

World Immunization Week 2021 Webinar dengan tema "101 Vaksinasi : Kupas Tuntas Vaksinasi Anak

Imunisasi dan Vaksinasi, Sama atau Beda?. Tautan: https://www.kompas.com/tren/read/2021/03/25/130000865/imunisasi-dan-vaksinasi-sama-atau-beda-?page=all#:~:text=Dilansir%20dari%20Health%20Direct%2C%20vaksinasi,bisa%20kebal%20terhadap%20suatu%20penyakit.

Jadwal Imunisasi IDAI 2020. Tautan: https://www.idai.or.id/tentang-idai/pernyataan-idai/jadwal-imunisasi-idai-2020



2 comments:

  1. Saya lagi cari informasi vaksin yang masih harus diulang untuk anak remaja ada ngga ya? Soalnya dulu seingatku ada beberapa vaksin yang kata dokternya lebih baik diulang terus sampai anak remaja

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bisa dilihat pada tabel imunisasi yang dikeluarkan IDAI. Ada sampai umur 18 tahun :)

      Delete

Sebelum komentar, login ke akun Google dulu ya teman-teman. Jangan ada "unknown" diantara kita. Pastikan ada namanya, biar bisa saling kenal :)