9 Makanan Khas Minang yang Jarang Dijual Di Daerah Lain


Seenak apa pun makanan di perantauan, entah itu western, japanesse atau hidangan nusantara daerah lain, tetap saja ada masanya lidah akan rindu dengan rasa masakan kampung halaman. Namun terkadang untuk menemukannya tidak semudah membayangkan. Apalagi makanan tersebut belum dikenal luas.

Sebagai orang minang tulen, yang dari lahir tinggal di Sumatera Barat, pernah ketika hamil dulu, aku mengidamkan karupuak leak. Sayangnya tidak ada yang menjual di dekat rumah. Untuk membuat sendiri juga tidak bisa. Jadi, terpaksa ditahan saja sampai jadwal mudik tiba. Mungkin tidak masalah bila yang dirindukan itu makanan minang yang sudah familiar, seperti nasi padang, sate padang atau soto padang. Hanya melangkah beberapa meter dari rumah, sudah tampak jejeran para pedagangnya. Tetapi kalau yang tidak banyak dijual selain di Sumatera Barat, dengan terpaksa keinginan memakannya hanya dipendam saja.


Nah, bagi orang minang, beberapa makanan khas berikut ini pasti sering bikin kangen. Tidak mudah menemukannya di daerah rantau. Meski ada, pasti rasanya berbeda. Kecuali yang masak memang berdarah minang asli dan mempertahankan cita rasa aslinya juga, mungkin rasanya bisa sesuai lidah. 


Baca juga: SUKIYA - AEON MALL BSD, TANGERANG SELATAN



1 Bika/Singgang


Bagi yang pernah ke daerah Padang Panjang, pernahkah mendengar tentang Bika Si Mariana yang fenomenal? Bahkan di hari-hari tertentu harus mengantre panjang dengan nomor antrian untuk membelinya. Terlambat sedikit, bika sudah ludes terjual. Bika ini terbuat dari tepung beras, santan, kelapa dan gula aren, lalu dialasi dengan daun jati dan dimasak dengan menggunakan bara api. Nikmat sekali disantap selagi masih hangat. Ketika digigit, bagian dalamnya terasa sangat lembut dengan rasa kelapa yang menonjol dan manis dari gula. Aroma pembakaran menambah kenikmatannya dengan beberapa bagian yang agak gosong. Makanya rasa bika tidak berubah dari dulu hingga sekarang. 

Sebenarnya selain bika Si Mariana, masih banyak penjual bika lain yang tidak kalah enak. Meski dari tekstur dan ukuran agak sedikit berbeda, bika yang dijual dengan ukuran lebih kecil ini disebut juga dengan singgang. Dari segi rasa hampir mirip, hanya sedikit lebih kering. Tapi dijamin bika dan singgang sama-sama enak dan bikin kangen.



2 Lompong Sagu


Saking langkanya makanan yang satu ini, bahkan di Sumatera Barat sendiri, aku baru mengenalnya setelah berusia lebih dari 20 tahun. Itu pun karena kebetulan ada yang menjual di dekat rumah. Berbahan dasar tepung sagu yang dicampur dengan pisang dan gula aren, lompong memiliki cita rasa yang manis dan legit. Dibungkus dengan daun pisang lalu dibakar dengan bara api. Mempertahankan cara masak yang tradisional membuat lompong sagu selalu laris manis. Sedap untuk dijadikan cemilan sore atau disantap ketika berbuka puasa. Nikmati selagi hangat agar mendapatkan tekstur yang kenyal dan lembut dengan gula aren yang masih meleleh.



3 Karupuak Leak


Aku adalah pencinta karupuak leak sejak kecil. Setelah melahirkan dua anak, aku masih menjadikan makanan khas yang satu ini sebagai daftar wajib yang harus dibeli ketika pulang kampung. Bila dulu karupuak leak hanya aku jumpai di kantin SD atau dijajakan di depan MDA/TPA, kini karupuak leak banyak tersedia di sepanjang Pantai Padang. Ada dua jenis kerupuk yang biasa digunakan, yaitu kerupuk singkong atau ketupuk kuning. Kerupuk singkong cenderung lebih keras dan tidak mudah lunak ketika tersiram kuah, sedangkan kerupuk kuning lebih rapuh. Karupuak leak tersusun dari beberapa lapisan, yaitu kerupuk pada bagian bawah, lumuran kuah sate kuning pada lapisan kedua, bihun atau mie kuning pada lapisan ketiga dan ditutup dengan siraman kuah cabai merah yang lebih encer dan pedas pada bagian teratas. Jadi dalam sekali gigit, garing dari kerupuk, gurihnya kuah sate, tekstur dari mie dan rasa pedas dari kuah merah,   menjadi satu menciptakan kombinasi sempurna. Ah, membayangkannya saja bikin ngiler!



4 Sala Lauak


Makanan bulat berwarna kuning ini adalah makanan khas Pariaman yang sangat digemari di Sumatera Barat. Terbuat dari tepung beras dicampur dengan ikan yang dihaluskan, lalu ditambah dengan berbagai bumbu dan diulen menjadi adonan yang dicetak bulat. Setelah itu digoreng hingga matang hingga mendapatkan tektur yang garing di bagian liar dan lembut di bagian dalam. Tetap lebih enak dimakan dalam keadaan hangat, maka tidak jarang pembeli meminta sala lauak yang baru keluar dari minyak panas.

Bila pernah berjalan-jalan ke Pariaman, sala yang dijual bukan hanya berbentuk bulat, namun ada pula yang digoreng seperti peyek dengan topping udang besar. Warnanya sama, kuning cerah dengan potongan daun-daun penambah rasa berwarna hijau yang semakin menonjolkan kenikmatannya. 



5 Langkitang Cucuik dan Pensi


Sebenarnya langkitang dan pensi adalah dua makanan dengan bahan baku berbeda. Langkitang adalah keong kecil berwarna hitam dengan cangkang yang panjang dan ramping, sedangkan pensi adalah kerang berukuran kecil. Keduanya sama-sama dimasak bersama kuah gurih yang pedas. Meski kuahnya agak berbeda, tapi rasanya nyaris sama. Menurutku, kuah langkitang sedikit lebih kental dari pada kuah pensi

Dinamakan langkitang cucuik karena cara makannya yang unik, yaitu disedot atau dicucuik dalam bahasa minang. Tidak semua orang bisa memakan langkitang ini, meski hanya sesederhana disedot dengan mulut. Kuahnya yang gurih dan pedas menjadi candu ketika ikut masuk ke mulut bersama daging langkitang. Aku saja butuh beberapa kali latihan untuk berhasil memakannya. Tapi jangan khawatir, bagi yang tidak bisa menyedot langkitang, pensi bisa menjadi pilihan yang tak kalah nikmat tanpa perlu teknik makan khusus. 


Sama dengan karupuak leak, bila mengunjungi kota Padang, langkitang cucuik dan pensi banyak sekali dijual di pinggir Pantai Padang. Biasanya pedangang yang menjual karupuak leak, pasti juga menjual langkitang dan pensi. Menikmatinya sambil bersantai di sore hari menunggu matahari terbenam adalah momen yang pasti menenangkan dan bikin rindu.



6 Palai Bada


Jika pepes dikukus, maka palai dibakar. Sama-sama berbalut daun pisang seperti pepes, palai berisi ikan teri yang disebut bada dalam bahasa minang dan kelapa parut yang dicampur dengan berbagai rempah dengan warna kuning dominan. Ada pula yang menambahkan beberapa helai daun kemangi. Aroma dari proses pembakaran yang masih menggunakan arang membuat palai semakin nikmat disantap bersama nasi putih hangat. Aku bisa makan nasi hanya dengan palai bada tanpa tambahan apa-apa karena sudah kaya rempah dan ada proteinnya juga dari bada



7 Tahu Berontak 


Mungkin tahu berontak tidak hanya ditemukan di Sumatera Barat saja, namun tahu berontak khas Padang memiliki rasa yang berbeda. Isinya hanya tahu biasa yang dibalut dengan adonan tepung tebal seperti bakwan. Tetapi tektur dan rasanya berbeda dari bakwan, yaitu lebih lembut dan tidak sepadat bakwan. Sekarang tahu berontak tidak hanya berisi tahu saja, namun sudah diinovasi dengan isian bakso, potongan telur dan sosis. Spesialnya lagi, ada saus sambal merah yang pedas dan gurih sebagai cocolan. Sangat cocok menemani santai sore sembari menyeruput kopi hangat.



8 Lamang Tapai


Aku pernah melihat seorang penjual lamang tapai beberapa waktu lalu di daerah Bintaro, Jakarta Selatan. Tapi sebelumnya belum pernah sama sekali. Namun di Sumatera Barat, sangat banyak penjual lamang tapai yang mudah dijumpai, mulai dari pasar tradisional hingga pinggir jalan. Lamang tapai ini adalah kombinasi lamang dan kuah tapai. Lamang atau lemang terbuat dari beras ketan dan santan yang dimasak dalam bambu muda yang dilapisi daun pisang pada bagian dalam, lalu dibakar. Sedangkan tapai berupa kuah berwarna hitam kemerahan yang terbuat dari ketan hitam yang difermentasi dengan ragi, sehingga rasanya sedikit asam dan manis. Biasanya lamang tapai dibuat ketika memperingati hari besar seperti hari raya. Tetapi karena sudah banyak yang menjual, maka lamang tapai bisa dinikmati kapan saja. 



9 Es Durian


Yang jual es durian kan banyak? Memang banyak, namun es durian yang biasa aku nikmati di kampung rasanya jauh lebih nendang dan duriannya terasa asli tanpa campuran. Bagi yang pernah berjalan-jalan di kota Padang, mungkin ada yang menyarankan untuk menikmati es durian ini sebelum kembali. Daerah Pondok adalah tempat yang dituju para pendatang karena memang di sinilah tempat penjual es durian yang paling terkenal. Sebenarnya dari isian, tidak berbeda jauh dari es campur pada umumnya. Namun yang membedakan adalah siraman saus duriannya yang kental dan manis di bagian atas. Seperti menikmati durian utuh yang dihaluskan, nikmat sekali. Terdapat pula varian lain, seperti es krim yang disiram saus durian, atau es alpukat durian. Semuanya enak!


Baca juga: PANCIOUS - PONDOK INDAH MALL, JAKARTA SELATAN


Itulah sembilan makanan khas minang yang sulit dicari di daerah rantau. Aku yang merupakan perantau dan hanya bisa pulang kampung satu atau beberapa tahun sekali, makanan ini tentu menjadi idaman yang sulit ditemukan. Apalagi aku bukan tipe yang rajin dan suka masak, jadi membuat sendiri makanan khas minang yang banyak sekali bunbu rempahnya itu adalah sesuatu yang nyaris mustahil dilakukan. Makanya ketika pulang kampung, seluruh daftar makanan yang tidak bisa aku dapatkan di rantau harus dibeli dan dinikmati sebelum balik ke Jakarta. 


Kalau kamu perantau minang, makanan apa lagi nih yang susah ditemukan di daerah lain? Share, yuk, di kolom komentar!


Semoga bermanfaat.



2 comments:

Sebelum komentar, login ke akun Google dulu ya teman-teman. Jangan ada "unknown" diantara kita. Pastikan ada namanya, biar bisa saling kenal :)