Pernikahan Beda Budaya, Nyata Rasakan Indahnya Keanekaragaman Di Indonesia


Siapa sangka aku yang berdarah Minang tulen dan sejak lahir tinggal di Sumatera Barat, akan berjodoh dengan lelaki dari pulau seberang? Jodoh memang rahasia Tuhan. Suamiku bersuku Jawa. Sama saja, sejak lahir juga dibesarkan di Pulau Jawa. Bahkan pertama kali ke Sumatera saat melamarku. Tentu dari adat budaya dan gaya hidup, kami jauh berbeda. Perbedaan inilah yang memancing banyak kontra ketika kami memutuskan hendak menikah, baik dari orang-orang di sekelilingku maupun pihak suami. 



Komentar dari pihakku

“Suaminya orang mana, Bu?” tanya tetangga ketika resepsi kami digelar.

“Orang Jawa”, jawab ibuku.

“Ih, kok dibiarin saja sama orang Jawa? Nanti suaminya bakal dikuasai ibunya, lo. Nurut seumur hidup.” 


Komentar dari pihak suami

“Coba deh dipikirin lagi nikah sama orang Padang. Cowok di sana kalau mau nikah, dibeli sama si cewek. Mau enggak mau harus patuh sama istri. Nanti jadi suami takut istri.”



Berbagai mitos dipercaya oleh sebagian masyarakat Indonesia karena menikah beda budaya masih dianggap tabu. Sayangnya mitos ini tersebar di luar daerah asal yang tidak melihat langsung keadaan sebenarnya. Misalnya orang Jawa yang dibilang manut kepada ibu meski telah menikah. Lah, memangnya anak tidak boleh patuh kepada orang tua? Bukannya itu memang kewajiban anak? Mungkin karena menganut patrilineal, anak laki-laki sangat diemaskan. Jadi prasangka ibu yang terlalu mengekang anak laki-laki disimpulkan begitu saja.


Sama dengan adat Minang yang menganut matrilineal, perempuan juga dianggap lebih istimewa. Memang ada tradisi untuk memberi uang kepada pihak calon suami, yang dikenal dengan istilah “membeli”. Namun itu dulu, sekarang sudah tidak lagi sesaklek itu. Walaupun ada, dilaksanakan hanya sebagai formalitas yang bisa disepakati kedua belah pihak. Suami akan tetap menjadi pemimpin keluarga sebagaimana kehidupan rumah tangga pada umumnya.


Kini usia pernikahanku dan suami sudah melebihi lima tahun. Budaya kami yang berbeda sedikit-banyaknya memberi tantangan lebih untuk beradaptasi. Namun bukti keanekaragaman Indonesia ini jauh lebih indah bila benar-benar dijalani. Kami disatukan oleh Indonesia. Bhineka Tunggal Ika bukan lagi sekadar semboyan bagiku, namun aku membuktikan bahwa perbedaan dan keberagaman di Indonesia ini memang bikin bangga!





Tantangan Pernikahan Jawa-Minang

Keanekaragaman Budaya Indonesia
Pakaian adat Minang untuk resepsi pernikahan | Foto: Dok.pribadi

Namanya saja pengantin baru, menyatukan dua kepala tentu membutuhkan usaha luar biasa. Khususnya bagi aku dan suami yang telah menjalani nyaris seluruh hidupnya di daerah yang jauh berbeda, baik dari budaya, kebiasaan, tata krama dan hal kecil lain seperti selera, intonasi suara atau cara beraktifitas.


Berbicara mengenai budaya, akan berhubungan juga dengan adat dan tradisi. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, budaya diartikan sebagai pikiran, akal budi, adat istiadat, sesuatu mengenai kebudayaan yang sudah berkembang (beradab, maju), sesuatu yang menjadi kebiasaan dan sukar diubah. Sedangkan adat adalah aturan yang lazim diturut atau dilakukan sejak dulu kala. Serta tradisi merupakan adat kebiasaan turun-temurun yang masih dijalankan dalam masyarakat. 


Dapat disimpulkan bahwa adat lebih kepada aturan yang ada sejak dulu dalam masyarakat tertentu, namun tidak berkekuatan hukum. Sedangkan tradisi adalah warisan kebiasaan yang dilakukan secara turun temurun. Nah, Budaya memiliki cakupan yang lebih luas yaitu pikiran, akal budi, adat dan tradisi. 


Budaya yang berbeda menjadikan aku dan suami memiliki aturan, tradisi, kebiasaan, sikap serta perilaku yang berbeda pula. Bahkan ada beberapa di antaranya yang berkebalikan. 


Contoh kecilnya, aku biasa berbicara dengan nada dan intonasi yang lebih keras dan tegas bila dibandingkan suami yang jauh lebih lembut dan pelan. Sepertinya mayoritas orang Sumatera memang begitu. Padahal aku yang tidak berniat marah sama sekali, malah dianggap selalu emosi. Akibatnya muncul kesalahpahaman yang membuat suami akhirnya buka suara. Aku yang juga tidak menyadari, segera mengoreksi bahwa cara normalku berbicara memang seperti itu. Kejadian ini menjadikan aku dan suami sadar bahwa perbedaan budaya di antara kami perlu dikomunikasikan agar dapat saling menyesuaikan. 


Pengalamanku mengajarkan bahwa secara garis besar, menikah dengan pasangan beda budaya memiliki tantangan dalam beberapa hal berikut ini. 


1. Bahasa

Aku dan suami bertemu di Jakarta, dengan mayoritas warganya menggunakan Bahasa Indonesia. Tidak ada masalah berarti dari kami pribadi. Namun menikah bukan hanya menyatukan dua manusia, tetapi dua keluarga. Kebingungan muncul ketika aku ngobrol dengan mertua, begitu pula suami yang bercakap-cakap dengan keluargaku. Aku tidak mengerti sama sekali bahasa Jawa, dan suami juga tidak pernah sekalipun berbicara bahasa Minang. Jadi, setiap kali mudik, kami akan menjadi alih bahasa di kampung sendiri. Agar pasangan tidak bengong saja dan bisa masuk dalam topik pembicaraan.


Sebenarnya bukan karena masing-masing keluarga kami tidak pandai ber-Bahasa Indonesia. Namun kenyamanan menggunakan bahasa daerah yang sejak lahir dipakai, tentu tanpa sadar membuat mulut otomatis mengucapkannya. Apalagi ketika membahas topik-topik seru, pasti bahasa daerah menguasai percakapan. 


2. Watak 

Watak adalah hal yang paling banyak aku dan suami pelajari. Terutama saat kami mengunjungi kampung pasangan dengan adat yang lebih kental, watak ini wajib dipelajari agar tidak meninggalkan kesan negatif. Misalnya seperti gaya berbicara tadi, aku akan berusaha lebih kalem bila sedang berada di kampung suami. Berupaya menurunkan nada suara agar tidak menimbulkan salah paham seperti yang pernah dirasakan suami dulu. Atau aku yang lebih tergesa-gesa dalam bertindak karena ingin segalanya selesai dengan cepat, sangat berbeda dengan suami yang lebih memilih bekerja lebih pelan dan hati-hati. 


Lagi-lagi watak ini menjadi salah satu mitos yang sering diangkat. Orang Minang dibilang pelit dan cerewet, sedangkan orang Jawa dikenal lebih sungkan, pemalu dan sabar. Walau mungkin watak ini banyak ditemukan dan watak manusia memang ditentukan oleh lingkungan, namun perlu digaris bawahi juga bahwa sifat dasar manusia tetap ditentukan oleh individunya masing-masing. Ada juga kok orang Minang yang kalem dan banyak juga orang Jawa yang cerewet. 


3. Tradisi

Bila lebaran tiba, sudah menjadi tradisi di ranah Minang untuk membuat ketupat gulai cubadak (nangka) atau rendang. Berbeda dengan Jawa, ketupat ini akan disajikan bersama opor ayam dan sambal goreng hati ayam. Sunatan pada anak laki-laki juga dirayakan besar-besaran di kampung suami, sedangkan di Padang, tidak ada perayaan apa-apa. Perbedaan tradisi ini akan membuat rumah tangga dengan suami-istri beda budaya bergiliran untuk melaksanakannya. Bukan hanya itu, tradisi lain seperti Tujuh Bulanan bagi masyarakat Jawa dan Turun Mandi bagi mayarakat Minang menjadikan keluarga lebih sibuk dengan padatnya tradisi yang hendak dilakukan. 


4. Selera 

Berbicara masalah selera, pasti identik dengan makanan. Ya, lidahku dan suami sangat berbeda. Bila suami menyukai cita rasa makanan berbumbu sederhana, aku malah mencintai makanan kaya rempah. Jujur, menyamakan selera makanan ini sangat menantang bagiku yang merupakan koki keluarga. Masih ingat ketika pertama kali aku memasak sup. Mengikuti resep yang diberikan ibu, aku memasukkan banyak rempah agar rasanya sama dengan sup yang aku nikmati di rumah orang tua. Namun ternyata sup selera suami tidak seperti itu, cukup diberi bawang dan daun sup saja. Jadinya hingga sekarang suami sedikit trauma setiap kali aku memasak sup karena yang diingatnya adalah sup dengan rasa rempah kuat. 


Mungkin selera ini juga berlaku pada hal yang lain, seperti warna, gaya berpakaian atau kegemaran. Misalnya aku yang lebih berapi-berapi menyukai warna yang lebih berani dan mencolok. Suami yang pembawaannya lebih kalem cenderung menyukai warna lembut dan netral. 


5. Menentukan Domisili

Semakin jauh perbedaan budayanya, maka semakin jauh pula asal daerah pasangan. Aku tidak tahu apakah pasangan lain juga merasakan, namun aku dan suami sering galau ketika menentukan jadwal pulang kampung, terutama di hari besar. Inginnya adil, satu kali ke Padang, setelah itu satu kali pula ke Semarang. Nah, untuk mengantisipasi ini, daerah domisili adalah kunci. Aku dan suami memilih tinggal di tengah, antara Padang dan Semarang. Selain untuk hidup mandiri, kami juga bisa mudik dengan jarak yang hampir sama dan tidak lebih berat ke salah satunya. 


Memiliki tantangan bukan berarti tidak bahagia. Berkat tantangan ini aku dan suami menjadi lebih kompak untuk saling mengerti. Menikah dengan pasangan yang berbeda budaya memang membutuhkan penyesuaian ekstra. Namun inilah bukti keanekaragaman Indonesia. Ribuan suku di Indonesia saja bisa menjalani kehidupan harmonis hingga sekarang, apalagi hanya dua suku? Tentu ini menjadi penyemangat agar kami tetap bertoleransi dalam keluarga.




Perbedaan yang Menyatukan

Tidak perlu jauh-jauh, perbedaan indah Indonesia aku rasakan dalam kehidupan paling intim, yaitu rumah tangga. Melalui budaya pasangan, aku dan suami menyadari bahwa Indonesia memang hebat. Toleransinya pantas diacungi dua jempol. Bagaimana tidak, kami saja yang hanya punya dua budaya butuh waktu lama agar bisa saling terbuka dan mengerti satu sama lain. Sedangkan Indonesia, masyarakatnya bisa bersatu dan hidup berdampingan dengan tetap mempertahankan budayanya masing-masing.


Bahasa persatuan adalah Bahasa Indonesia. Aku tidak bisa membayangkan bila Bahasa Indonesia tidak ada di negara ini. Mungkin aku dan suami tidak akan bisa bersama. Berkomunikasi saja susah, bagaimana mau menikah? Pasti tidak ada pula yang berani merantau ke daerah lain karena terhambat dengan bahasa. Tidak mungkin ratusan bahasa yang ada harus dipelajari semua agar bisa saling mengunjungi. Presiden berpidato, harus ada puluhan pengalih bahasa agar pesannya dimengerti dari Sabang sampai Merauke. Syukur sekali rasanya, berkat Bahasa Indonesia inilah kita semua bisa menyatu dan mudah berkomunikasi. 


Keanekaragaman budaya di Indonesia adalah perbedaan yang menyatukan.


Banyaknya perbedaan antara aku dan suami menjadikan kami saling mengerti dan lancar berkomunikasi. Tidak ingin kesalahpahaman karena kebiasaan, watak atau selera merusak hubungan. Kami sebisa mungkin saling berlaku adil, peduli, tolerasi, menghormati dan selalu berdiskusi. Mungkin hal serupa inilah yang membuat orang Indonesia terkenal ramah dan murah senyum di mata dunia. Aku menganggapnya sebagai hal positif yang diberi oleh keanekaragaman Indonesia. Sama seperti yang aku terapkan bersama suami, kepedulian dan toleransi menjadikan kita lebih ramah, peka dan dengan mudah membuka komunikasi.


Kalau dipikir-pikir, bila perbedaan diterima dengan positif, maka banyak sekali hikmah yang bisa diambil. Perbedaan hadir bukan untuk dihindari, namun memperlihatkan bahwa keanekaragaman itu ada dan mengajarkan kita bagaimana hidup bersosial yang baik. Sejatinya manusia adalah makhluk sosial, tidak mungkin hidup sendiri. Andai aku dan suami tidak menerima perbedaan di antara kami, atau malah menjadikan perbedaan itu sebagai celah masalah, mungkin kejadian buruk bisa saja menimpa rumah tangga kami. 




Nyata Perlihatkan Keanekaragaman Indonesia, Bikin Takjub!

Keanekaragaman Budaya Indonesia
Mengenalkan Istana Pagaruyuang kepada suami | Foto: Dok.pribadi

Tantanggannya ada, keuntungannya juga ada, dong! Mempelajari budaya pasangan bukan hanya dalam hal teori saja. Lebih dari puluhan keanekaragaman Indonesia bisa aku nikmati. Momennya sudah pasti ketika aku mengunjungi kampung suami di Semarang dan suami yang mengunjungi kampung halamannku di Padang. Mungkin aku tidak akan sesering ini dan sebanyak ini menikmati langsung tempat wisata, kuliner atau kebudayaan yang sangat jauh dari tempat kelahiran bila tidak menikah dengan suami bersuku Jawa.


1. Mudik Sekaligus Travelling

Tahu landmark-nya Semarang? Aku yang masih gadis pasti menjawab mentok di Lawang Sewu. Hanya itu yang aku tahu dan itu pun karena banyak diliput oleh channel televisi swasta. Tapi coba tanya sekarang, bukan hanya Lawang Sewu, banyak lagi tempat wisata lain di Jawa Tengah yang sudah aku kunjungi. Meski belum semua, aku sudah sangat bahagia. Untungnya masih banyak waktu untuk menjejak semua daftar objek wisata yang belum sempat dimasuki.

Umbul Sidomukti

Tempat wisata yang terletak di atas bukit ini menyuguhkan pemandangan indah dari ketinggian. Udaranya yang dingin membuat tubuh dan pikiran lebih segar. Aku masih ingat ketika berboncengan dengan motor bersama suami ketika kami baru saja menggelar resepsi. Akses jalannya memang sedikit terjal, namun semuanya terbayar ketika kami sampai di lokasi.


Terdapat kolam renang alami berdasar dan berdinding batu. Sepertinya inilah primadona di Umbul Sidomukti. Estetik sekali untuk berenang dengan nuansa alam dan sangat menarik untuk dijadikan tempat berswafoto. Di sekitarnya terdapat gazebo untuk bersantai dan dekorasi taman yang rindang. 


Kota Lama Semarang

Berisi bangunan tua Belanda yang masih terjaga dan terawat. Layaknya kota tua di provinsi lain, Kota Lama Semarang juga menyajikan nuansa klasihk dengan bangunan kokoh berdinding tebal, berpintu dan berjendela besar. Setiap sudutnya bagus sekali untuk dijadikan spot foto. Tidak ada harga tiket masuk yang mesti dibayar pengunjung, alias gratis. Di area ini, banyak restoran atau cafe yang nyaman. Ada juga Museum 3D dan taman yang tidak kalah menarik. Wajar saja bila Kota Lama Semarang menjadi tempat wisata favorit.


Pondok Kopi

Masih di lingkungan Umbul Sidomukti, tempat ngopi-ngopi tongkrongan segala usia ini juga sangat pantas disebut tempat wisata. Rerumputan hijau yang luas dan lingkungan asri tentu menjadi sesuatu pemandangan mahal. Keasrian dan kesegaran udara tak berpolusi membuat pengunjung betah berlama-lama di sini sambil menyeruput kopi hangat dan bercengkrama bersama keluarga atau sahabat. 


Itu hanya beberapa wisata Semarang, masih ada Dataran Tinggi Dieng yang menjadi targetku selanjutnya. Membaca dan melihat fotonya saja begitu memikat. Jadi tidak sabar mengatur jadwal untuk segera ke sana. Sekarang masih terhambat karena pandemi, namun setelah pandemi berakhir dan bumi kembali sehat, keluarga kecilku dijamin akan menapak tilas semua wisata yang ada di Jawa Tengah. Mumpung suami orang sana, harus dimaksimalkan.


Keanekaragaman wisata Indonesia
Kota Lama Semarang (kiri), Lembah Harau Payakumbuh (Tengah) dan Jam Gadang Bukittinggi (kanan) | Foto: Dok.pribadi


Nah, suami juga tidak kalah antusias ketika mengunjungi tempat wisata di Sumatera Barat. Tidak sebatas hanya di kota Padang saja, aku juga mengajaknya jalan-jalan ke Bukittinggi, Payakumbuh dan Batusangkar. Sama keadaannya, aku juga belum sempat mengajak suami ke seluruh tempat wisata yang ada. Jadi setiap kali mau pulang ke Padang, kami sudah menyusun list.

Jam Gadang

Belum sah ke Sumatera Barat kalau belum ke Jam Gadang Bukittinggi. Ikon ini sudah ada dari zaman dulu dan keadaannya masih sangat baik hingga sekarang. Malah terakhir kali aku mengajak suami ke sini pada bulan Juni lalu, Jam Gadang semakin cantik dengan renovasi ciamik. Uniknya, Jam Gadang memiliki angka empat romawi yang berbeda. Bila normalnya ditulis IV, maka di Jam Gadang ditulis IIII. Menikmati sore di tengah ramainya pengunjung lain dan anak-anak yang berlari riang menjadi kenikmatan tersendiri yang sulit dilupakan.


Istana Pagaruyuang

Terletak di Batusangkar. Istana Pagaruyuang ini sebenarnya adalah replika dari Istano Basa. Meski sempat mengalami kebakaran hebat, namun Istana Pagaruyuang dibangun kembali dan menjadi sangat megah. Berupa Rumah Gadang nan megah dengan tiga lantai. Seperti museum, di sini terpajang pakaian adat, senjata tradisional dan perhiasan antik khas Minangkabau. Di sini juga bisa menyewa baju pernikahan Minang yang familiar sekali dengan suntiang pada mempelai wanitanya. Banyak pula fotografer lepas yang siap mengabadikan momen berharga wisatawan. 


Lembah Harau

Lembah yang dikelilingi perbukitan menjulang tinggi ini berlokasi di Payakumbuh. ─Âini sudah semakin dikelola dengan membuka beberapa spot wisata kekinian. Kawasan yang hijau dan menurutku pribadi tidak akan mudah menemukan pemandangan seindah ini, juga menjadi destinasi terkenal di Sumatera Barat. Beruntungnya, suami sudah sempat aku ajak ke Lembah Harau ini. Tidak perlu memakai handphone mahal dengan perangkat kamera super bagus, dengan kamera biasa saja sudah cukup untuk mendokumentasikan gambar menawan. 


Bonus pertama yang aku dan suami rasakan adalah leluasa menikmati objek wisata di kampung halaman pasangan. Pulang kampung tidak mungkin hanya sekali, pasti berulang terus hingga nanti. Jadi banyak waktu tersedia bagi kami untuk menjajal seluruh wisata di Padang dan Semarang yang terus berkembang. Perbedaan daerah asal yang menyenangkan bukan? 



2. Icip-icip Kuliner Khas Daerah

Berbicara tentang kuliner Indonesia tidak akan ada habisnya. Beda daerah, beda pula makanannya. Apalagi untuk aku dan suami, dari bumbunya saja sudah bagai kutub magnet yang bertolak belakang. Aku sebagai orang Minang, kurang mantap kalau tidak ada olahan santan-santanan kental atau sambalado pedas pendongkrak selera makan. Sedangkan suami, lebih nyaman bila bumbunya sederhana saja. Makan pakai tempe goreng dan sayur bayam bening saja sudah sangat nikmat. Beberapa makanan khas Jawa Tengah berikut ini sudah aku coba. Pastinya belum pernah sekalipun menyicipinya selama tinggal di Padang, karena memang tidak ada yang jual.

Petis

Pertama kali menyicipi petis saat mertua membelikan gorengan tahu yang di dalamnya diisi selai kental hitam ini. Namanya juga pengalaman pertama, aku bersemangat sekali mencobanya. Ternyata lidahku butuh waktu untuk beradaptasi dengan petis ini. Bahan pembuatnya berasal dari udang atau ebi yang dimasak hingga kuahnya mengental. Bagi penikmatnya, menambahkan petis pada makanan akan terasa lebih nikmat. 


Lumpia dan Bandeng Presto

Di sepanjang jalan kota Semarang, banyak penjual oleh-oleh lumpia dan bandeng presto ini. Ketika keluargaku mengunjungi Semarang, mertua mengajak kami menikmati lumpia khas dengan isian rebung. Rasanya memang unik denagn isian cincangan rebung yang dimasak dengan bumbu. Dari segi ukuran juga tergolong besar. Jadi satu makan lumpia saja sudah sangat mengenyangkan. Kalau bandeng presto, ikan yang sangat jarang ada di Padang, juga menjadi makanan nikmat bagi aku dan keluarga. Apalagi durinya sudah disingkirkan, makan bandeng sudah lebih mudah tanpa khawatir tersedak duri kecilnya.


Tahu Gimbal

Dilihat sekilas mirip pecel atau gado-gado, karena sama-sama memakai kuah kacang. Setelah dimakan ternyata rasanya tidak sama. Tahu gimbal berisikan tahu goreng, telur dadar, bakwan udang, kol dan lontong yang dipotong-potong kecil. Kombinasi semua kondimennya menciptakan rasa yang nikmat. Setiap kali pulang ke kampung suami, tahu gimbal ini selalu menjadi makanan wajib yang dibeli. Soalnya tahu gimbal tidak ada di Jakarta, daerah domisili kami.


Tahu Bakso

Tahu bakso juga merupakan oleh-oleh wajib ketika mengunjungi Semarang, khususnya daerah Ungaran. Ketika aku masih bekerja, setiap kali ada rekan kerja yang dinas ke Semarang, pasti membawakan tahu bakso ini. Terdengar sederhana, hanya tahu yang diisi adonan bakso, namun rasanya dijamin nikmat. Aku saja tidak pernah memakan tahu bakso ketika masih tinggal di Padang. Begitu pula dengan keluargaku, setiap mau pulang ke sana, pasti minta dibawakan tahu bakso bila kebetulan sebelumnya baru kembali dari Semarang.


Kampung Laut

Kampung Laut sebenarnya bukan nama makanan, melainkan tempat makan pinggir laut. Menu utamanya adalah berbagai olahan seafood segar yang rasanya sudah dijamin enak. Paling menarik dari Kampung Laut ini adalah tempat makannya yang dikelilingi kolam besar dan meja makan outdoor. Meski ada yang beratap, namun tetap saja tidak ada sekat dinding yang mengahalangi angin sepoi menyapu seluruh pelanggan yang asyik menikmati olahan makanan laut segar. Tidak heran bila Kampung Laut menjadi tujuan wajib wisatawan ketika berkunjung ke Semarang, termasuk aku.

Sebenarnya masing banyak makanan khas Jawa Tengah yang tidak mungkin aku jelaskan semua, padahal ingin sekali menuliskannya. Seperti gendar, wingko babat, garang asem, kopi jos dan sebagainya. Pokoknya semua rasa makanan ini sangat berbeda dengan makanan keseharianku di Padang. 


Keanekaragaman Kuliner Indonesia
Bika Si Mariana (kiri), Tahu Gimbal (tengah) dan Karupuak Leak (kanan) | Foto: Dok.pribadi


Lanjut lagi ke pengalaman suami yang menyicipi makanan khas Sumatera Barat yang rasanya tidak akan sama meski juga dijual di daerah lain. Faktanya memang begitu, makanan Padang banyak sekali dijual hampir di seluruh wilayah Indonesia, bahkan hingga Papua. Entah karena orang Minang yang perantau atau karena masakan Minang sangat enak hingga disukai seluruh negeru. Apa pun alasannya, yang jelas racikan bumbu asli dari tangan orang Minang pasti memberi rasa khas. Berikut beberapa makanan atau tempat makan iconic di Sumatera Barat yang sudah dicoba suami.

Nasi Kapau Bukittinggi

Nasi kapau mah banyak dijual di Jakarta! Jangan salah, nasi kapau yang dijual di pasar Bukittinggi adalah salah satu tujuan wisatawan. Rasanya sudah pasti enak, dengan sayur kapau yang wajib mengisi piring. Kemudian dilengkapi pilihan aneka lauk yang menggugah selera, seperti rendang, ayam gulai, dendeng lambok atau ikan gulai. Uniknya, panci aneka lauk yang mengelilingi penjual diambil dengan sendok bertangkai panjang. Jadi sangat menarik untuk dilihat sembari menunggu pesanan tersaji di meja.


Gulai Kapalo Ikan

Aku biasa mengajak suami makan gulai kapalo ikan ke daerah Bunguih. meski lumayan jauh dari kota Padang, namun rasanya mengalahkan jarak tersebut. Kuah santannya kental berwarna kuning agak kemerahan dengan rasa gurih dan tentunya kaya rempah. Kelembutan daging ikannya membuktikan bahwa ikan tersebut sangat segar ketika diolah. Tidak ada rasa amis sama sekali. Ditemani sepiring nasi hangat menjadikan sesi makan siang terasa semakin nikmat.


Sate Padang Panjang

Terdapat satu tempat makan sate padang yang fenomenal di daerah Padang Panjang. Ketika musim liburan tiba, pengunjung pasti membludak. Saking terkenalnya, teman-teman di Jakarta juga mengetahui. Sate kuah kuning ini sangat nikmat disantap selagi hangat bersama kerupuk kulit berukuran besar yang juga tersaji di meja. Dagingnya empuk dan sudah berbumbu. Tidak ketinggalan, segelas teh talua menjadi pesanan wajib sebagai penutup sesi makan.


Bika Si Mariana

Bika Si Mariana ini adalah tempat menjual bika paling terkenal seantero ranah Minang. Alhamdulillah aku sudah mengajak suami membeli dan menyipinya. Bika ini terbuat dari tepung beras, santan, kelapa dan gula aren, lalu dialasi dengan daun jati dan dimasak dengan menggunakan bara api. Nikmat sekali disantap selagi masih hangat. 


Karupak Leak

Berhubung penjual karupuak leak sangat banyak di sepanjang Pantai Padang, aku, suami dan anak-anak menikmatinya sembari menikmati matahari terbenam. Ada dua jenis kerupuk yang biasa digunakan, yaitu kerupuk singkong atau kerupuk kuning. Karupuak leak tersusun dari beberapa lapisan, yaitu kerupuk pada bagian bawah, lumuran kuah sate kuning pada lapisan kedua, bihun atau mie kuning pada lapisan ketiga dan ditutup dengan siraman kuah cabai merah yang lebih encer dan pedas pada bagian teratas. Jadi dalam sekali gigit, garing dari kerupuk, gurihnya kuah sate, tekstur lembut dari mie dan rasa pedas dari kuah merah, bercampur menjadi satu menciptakan kombinasi sempurna.

Makanan khas Minang lain yang pernah dicoba suami adalah soto padang, lompong sagu, sala lauak, palai, tahu brontak, langkitang dan pensi. Tentunya ada yang disuka dan ada pula yang tidak cocok di lidah suami. Masih banyak daftar kuliner khas Sumatera Barat yang belum sempat aku kenalkan selama lima tahun ini, seperti itiak lado mudo atau kopi kawa. Tapi nanti pasti akan aku ajak untuk menikmatinya bersama pada jadwal pulang kampung selanjutnya.


Bonus kedua yang kami dapatkan karena perbedaan budaya adalah menikmati kuliner yang belum tentu akan sebanyak ini bisa kami makan bila tidak menikah. Hanya di dua daerah saja, yaitu Sumatera Barat dan Jawa Tengah, sudah terbukti kekayaan kuliner yag dimiliki Indonesia. Itu pun masih banyak yang belum sempat suami atau aku kenalkan. Sungguh merupakan anugerah yang patut kami syukuri berkat keanekaragaman yang ada di Indonesia.



3. Saling Mempelajari Budaya

Inilah bonus ketiga. Masih membahas mengenai budaya, bukan hanya sekadar bahasa atau tata krama saja yang saling kami kenalkan. Suami pernah mengajarkan menulis dan membaca aksara jawa. Aku juga pernah menceritakan beberapa materi mata pelajaran Budaya Alam Minangkabau ketika sekolah dulu, seperti nama-nama rangkiang, nama-nama sumando, sejarang Minangkabau yang berasal dari cerita anak kerbau bertanduk besi, hingga semboyan-semboyan minang yang familiar. Bagi kami yang baru mengetahui keunikan budaya satu sama lain, topik ini selalu berhasil menciptakan percakapan menyenangkan. Aku sendiri jadi mempelajari kembali budaya Minang agar bisa dibagi kepada suami. Menyaksikan wajah takjub suami membuatku semakin ingin menceritakan lebih banyak lagi informasi budaya yang aku punya.




Keanekaragaman Budaya Terpelihara Bila Lingkungan Hidup Terjaga

Lestarikan keanekaragaman Indonesia
Pemandangan alam menyejukkan di Pondok Kopi, Kawasan Umbul Sidomukti | Foto: Dok.pribadi

Keindahan Lembah Anai, segarnya udara Umbul Sidomukti, keunikan Lawang Sewu dengan pintunya serta kuatnya nuansa Minang di Instana Pagaruyuang mungkin tidak akan bisa aku dan suami nikmati bila lingkungannya tidak terjaga. Alam, bangunan, cagar budaya, hingga fasilitas pelengkap lainnya mesti dilestarikan dengan baik agar daya tarik tempat-tempat luar biasa ini tidak terkikis. Terutama wisata cagar budaya, bukan hanya bangunan atau tempatnya saja yang bernilai, namun banyak cerita dan sejarah tersimpan di dalamnya. Bila sudah tahu pentingnya keberadaan budaya, maka kecintaan itu akan muncul diikuti keinginan untuk mempertahankan. Upaya melestarikan budaya artinya ikut menjaga lingkungan. Jadi budaya dan lingkungan ini berhubungan timbal balik yang saling terkait.


Budaya bercerita sangat baik untuk menyampaikan nilai-nilai luhur pada generasi berikutnya.

- Donna Widjadjanto - editor, translator, writer -


Ya, kalimat singkat ini benar adanya. Budayaku yang suami pelajari ada yang disiratkan oleh cagar budaya yang masih bertahan. Oh, ternyata atap Rumah Gadang yang bergonjong itu menyerupai tanduk kerbau! 


Sadar atau tidak, makanan yang sering kita nikmati juga tidak akan pernah terhidang bila alam yang notabenenya adalah sumber segala bahan dirusak oleh tangan tidak bertanggung jawab. Bisa jadi gulai kapalo ikan yang disukai suami akan punah bila laut sekitar yang menjadi tempat hidup ikan karang tidak lagi nyaman ditinggali. Atau mungkin saja petis tidak bisa lagi diproduksi karena udang yang menjadi bahan bakunya semakin sudah didapat karena ekosistem penunjang hidupnya dihancurkan. Perbedaan budaya antara aku dan suami mungkin hanya menjadi label tanpa isi. Lingkup lebih luasnya, keanekaragaman budaya di Indonesia tidak akan maksimal menunjukkan citranya. Apa tidak sayang, bila kebanggaan ini dibiarkan lenyap?


Sejatinya, lingkungan hidup yang merupakan penyedia dan sumber segala kehidupan, harus benar-benar dijaga maksimal agar apa yang kita nikmati sekarang bisa diwariskan ke generasi selanjutnya. Bila kini aku masih leluasa menikmati budaya suami dan sebaliknya, melalui wisata bersejarah, kekayaan kuliner Jawa tengah atau tradisi yang masih ada, jangan sampai anak-anak kami nantinya tidak tahu dengan keanekargaman membanggakan ini akibat kegagalan generasi orang tua mereka yang tidak bersungguh-sunguh melestarikan alam.


Aku dan suami sadar sekali bahwa di mana pun kami berpijak, akan ada jejak yang tertinggal. Tidak ingin jejak ini merusak dan memberi dampak negatif, kami menerapkan hal berikut ini setiap kali bepergian. Tidak peduli itu tempat wisata, cagar budaya, hutan belantara, penginapan atau di pinggir jalan sekali pun, semua tempat di setiap belahan bumi ini harus dilindungi dari etiket buruk.


1. Minimalkan Sampah dan Wajib Buang Pada Tempatnya

Mencoba kuliner baru tentu tidak semua yang disuka. Agar tidak ada makanan yang berakhir di tempat sampah, aku dan suami sepakat untuk membeli dengan porsi terkecil terlebih dahulu. Enak atau tidak, semuanya wajib dihabiskan berdua. Untungnya kami termasuk yang orang anti buang-buang makanan, jadi tidak masalah menghabiskan makanan yang tidak sesuai selera dari pada melihatnya terbuang. 


Membuang sampah pada tempatnya juga harus dijadikan gaya hidup. Tidak ada tempat khusus yang membolehkan membuang sampah sembarangan, meski di pinggir jalan sepi yang tidak dilihat siapa pun. Bila tidak ada tempat sampah, simpan saja dulu sampai ada tempat membuang yang pantas. Pengecualian hanya untuk sampah plastik saja tidak cukup, kami juga tidak akan membuang sampah makanan atau organik lain sembarangan. Apa pun sampahnya, semuanya sama-sama tidak boleh dibuang seenaknya. Bikin kotor dan jelas-jelas merusak lingkungan.


2. Jaga Ekosistem yang Ada

Ekosistem merupakan sebuah sistem yang terjadi karena hubungan timbal balik antara makhluk hidup dan lingkungannya. Semua yang ada dialam ini saling berhubungan. Contoh yang sering kita saksikan adalah hewan liar di hutan terpaksa mencari makan ke pemukiman penduduk sekitar karena tempat tinggalnya digunduli. Akibatnya tentu tidak kecil, keamanan masyarakat terancam dan pemukiman bisa dirusak seketika oleh hewan tersebut. Apalagi hewan karnivora atau berukuran besar, pasti lebih berbahaya lagi. 


Apa yang dilakukan manusia pada alam, pasti itu pula yang akan dilakukan alam kepada manusia. Semaksimal mungkin akan aku jaga alam berserta ekosistemnya agar keanekaragaman di Indonesia ini akan tetap ada selamanya. Misalnya yang paling sederhana adalah kalau tidak bisa mananam pohon kembali, paling tidak aku turut menjaga dan melindungi hutan yang sudah ada. Penting juga untuk menjaga dan melindungi fauna Indonesia, minimal jangan memberi makan yang aneh-aneh pada hewan yang sering ada di tempat wisata alam. Berwisata tanpa merusak alam bisa dilakukan bila kita mau dan peduli, bahkan hanya dengan langkah kecil.


3. Patuhi Aturan dan Dilarang Sok Tahu

Ke mana saja kita berada, pasti ada aturan yang mengikat. Wajib hukumnya mematuhi semua aturan di objek wisata, daerah lain, kota, bahkan di pulau tak berpenghuni. Peraturan ini dibuat pasti dengan tujuan baik. Apalagi yang berhubungan dengan alam, bila dilanggar, bukan hanya manusia lain saja yang akan menghukum, namun alam itu sendiri juga membalas suatu saat nanti. Demi menghindari terjadinya pelanggaran aturan tanpa sadar, aku biasanya mencari informasi dulu terkait tempat yang akan dituju. Karena aku sadar bahwa setiap tempat pasti memiliki aturan yang berbeda pula. Contoh aturan paling ringan dan masih banyak dilanggar adalah jangan makan di area ini atau jangan menginjak rumput. Bukankah itu sangat mudah untuk dihindari?


Satu lagi yang menjadi pantangan, jangan sampai bersikap sok tahu di daerah yang belum dikenal. Bila aku ke kampung suami, maka suami lah yang menjadi pemandu kami. Begitu pula sebaliknya, aku akan memandu suami ketika kami jalan-jalan mengililingi Sumatera Barat. Bila sama-sama belum tahu, maka kami lebih memilih banyak bertanya kepada warga lokal atau searching di internet. Terkadang di beberapa daerah ada aturan tidak tertulis yang hanya diketahui masyarakat asli. Jadi berlakulah sesopan mungkin dan jangan neko-neko, apalagi takabur dan terlalu berani untuk berbuat seenaknya.


4. Fasilitas Umum Tidak Boleh Dirusak

Salah satu yang paling aku benci adalah kegemaran manusia nakal yang suka merusak fasilitas. Padahal fasilitas ini dibuat untuk mempermudah dan memenuhi kebutuhan serta membantu menjaga lingkungan hidup manusia. Entah kenapa malah manusia itu sendiri yang merusaknya. Contohnya mencoret-coret dinding dan bangunan, mematahkan bangku yang terbuat dari kayu atau dengan sengaja menggunakan fasilitas tidak sesuai fungsinya. Malah tidak jarang pula ada yang tega mencuri besi penyangga tenda, rel kereta atau apa saja yang bisa dijual kembali demi keuntungan pribadi. Gemas sekali rasanya.


Makanya aku tidak ingin menambah parah hal yang tidak patut ditiru ini. Tidak ada alasan untuk kami sekeluarga merusak fasilitas umum apa pun. Bila tidak ada bangku, kami tidak bisa duduk beristirahat. Bila fasilitas penuh coretan, maka mata kami juga tidak nyaman melihatnya. Kami akan menggunakan semua fasilitas umum sesuai fungsinya dan bila ada petunjuk penggunaan, wajib dibaca dan dipraktikkan.


5. Beli Oleh-oleh

Aku dulu sempat pelit membeli oleh-oleh ketika berkujung ke daerah lain. Salah seorang rekan kerja memberi nasihat bahwa dengan kita membeli oleh-oleh yang dijual warga lokal, maka secara langsung sudah memutar roda perekonomian mereka. Kita tidak ke sana setiap hari, jadi tidak ada salahnya membeli. Aku akan memilih oleh-oleh yang bisa dikenakan dan menunjukkan kekhasan daerah tersebut agar bisa dilihat oleh semua orang ketika aku memakainya. Seperti baju, perhiasan, tas, sandal, aksesoris atau sepatu dan tas. Tidak ketinggalan pula oleh-oleh kuliner khas untuk dibagikan ke tetangga agar kayanya keanekaragaman Indonesia bisa dinikmati bersama. 




Keanekaragaman Indonesia Pantas Dibanggakan

Budaya Minang dan Jawa dalam keluarga, Indonesia bikin bangga! | Foto: Dok.pribadi

Sudah semenjak menjalani pendidikan dasar, keanekaragaman Indonesia sudah diajarkan. Mulai dari pakaian adat, rumah adat, lagu daerah, budaya dan tradisi seluruh provinsi. Meski dulu sedikit kesusahan menghafal seluruhnya, namun tidak bisa dipungkiri bahwa banyak dari keanekaragaman itu yang membuat takjub. Contohnya ketika aku melihat baju daerah asal sendiri, bahkan sampai sekarang aku masih bingung kok bisa suntiang segitu tingginya disusun dari lempengan logam dan terlihat begitu menawan. Bersyukur sekali akhirnya aku mencoba mengenakannya ketika baralek. Merasa paling cantik sejagad raya.


Menikah dengan suami dengan kebudayaan berbeda telah membuktikan bahwa Indonesia memang sangat kaya. Jika dipetakan semua adat istiadat, tradisi, bahasa daerah, wisata daerah dan makanan daerah, tentu peta Indonesia menjadi sangat ramai dan sesak. Itu hanya dari yang terkenal saja, belum ditambah dengan potensi lain yang belum dikenal. Masih kurang bangga sama Indonesia?


Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2010, Indonesia memiliki 1331 kelompok suku. Badan Bahasa juga memetakan bahwa terdapat 652 bahasa daerah yang berbeda di negara ini.


Aku pernah chatting dengan teman online di salah satu platform media sosial. Dia tinggal di salah satu negara Eropa, yang secara geografis tentunya sangat jauh. Ketika aku bertanya mengenai Indonesia, dengan antusias ia menjawab, "Yes, I know Indonesia!" Namun ternyata yang ia tahu hanya sebatas Bali saja. Menurutnya Indonesia itu, ya, Bali. Hanya satu pulau saja. Tetapi bukan itu poin utama percakapan ini, aku begitu bangga ketika ia menceritakan bahwa Bali sangat terkenal dengan keindahan pantai dan budayanya. Banyak sekali yang berkeinginan liburan ke Bali, termasuk ia sendiri. 


Hanya satu pulau di Indonesia saja sudah begitu menariknya di mata dunia, apalagi semua potensi negeri ini terekspos? Saking luar biasanya Indonesia, banyak sekali gelar yang disandangnya, yaitu Seribu Pulau, Seribu Candi, Paru-paru Dunia karena hutan lebat yang terjaga di Kalimantan dan Macan Asia yang Tertidur sebagai simbol bahwa potensi Indonesia begitu luar biasa namun belum dimanfaatkan dengan maksimal. Paling spesial dari segala julukan adalah Heaven Earth. Banyak negara lain yang iri dengan kekayaan alam dan keberagaman budaya Indonesia sampai dijuluki sebagai surga di bumi.


Tahun ini sudah 76 tahun Indonesia merdeka. Banyak sekali harapan yang ingin diungkapkan. Sebagai salah satu warga negara yang menyaksikan nyata keanekaragaman di Indonesia, tentu aku sangat bangga dan cinta akan kekayaan bangsa ini. Aku tidak ingin kebanggaan ini hilang karena keegoisan sepihak. Keanekaragaman yang mempersatukan harus dilestarikan sebagai mana semboyan Bhineka Tunggal Ika. Bagaimana rakyat Indonesia sendiri tidak bangga, sedangkan Indonesia begitu dikenal sebagai negara yang luar biasa oleh dunia.




Kesimpulan

Pernikahan beda budaya memiliki tantangan dan proses beradaptasi. Pengalamanku bersama suami yang sebelumnya tinggal berpuluh tahun di pulau berbeda, tentu memiliki kebiasaan, adat, tradisi, watak, selera bahkan bahasa keseharian yang berbeda pula. Namun banyak pelajaran yang kami dapatkan selama proses penyesuaian ini. Mulai dari memahami pentingnya bertoleransi, menghargai dan berdiskusi. Bonusnya, kami berdua bisa menikmati banyak sekali kuliner khas dan objek wisata di daerah asal pasangan. Nyata sekali di depan mata bahwa Indonesia memang kaya akan keanekaragaman yang membuat siapa pun tidak pernah bosan bereksplorasi. 


Seperti menjadi Indonesia skala kecil, rumah tangga kami seolah menggambarkan bagaimana kehidupan masyarakat negeri ini yang berhasil membuat perbedaan sebagai satu kesatuan harmonis. Pancasila memang harus dijadikan dasar, sehingga setiap tindakan tidak memancing perpecahan. 


Keanekaragaman Indonesia yang sudah mendunia ini tentu harus dilestarikan bersama. Budaya kita, kekayaan alam kita, hutan-hutan kita, kuliner nusantara kita, hingga kemurahan senyum kita. Alam dan lingkungan hidup adalah sumber dari segala kehidupan, seyogianya menjadi fokus penting agar keberagaman ini tidak musnah. Banyak cara sederhana yang bisa dilakukan, diantaranya menjaga ekosistem yang ada, menjaga sikap, mengutamakan toleransi, tidak melakukan vandalisme di mana pun dan pastinya butuh kesadaran kita semua untuk saling mendukung dan mengingatkan. Bukankah sangat indah bila kebanggaan akan Indonesia yang kita rasakan saat ini juga tetap dirasakan oleh anak-cucu kita? 


Dirgahayu yang ke-76, Indonesiaku!

Terima kasih atas keanekaragaman yang engkau miliki. Terkhusus untukku dan suami belajar banyak nilai-nilai kehidupan dari kekayaan budaya negeri ini. 

#IndonesiaBikinBangga



Referensi:

Data dari Badan Pusat Statistik dalam artikel Mengulik Data Suku di Indonesia. Tautan: https://www.bps.go.id/news/2015/11/18/127/mengulik-data-suku-di-indonesia.html

Data dari Badan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam artikel Badan Bahasa Petakan 652 Bahasa Daerah di Indonesia. Tautan: https://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2018/07/badan-bahasa-petakan-652-bahasa-daerah-di-indonesia




2 comments:

  1. Seru banget ya Mbak nikah beda suku itu aku juga sama suami beda dan memang kudu beradaptasi lebih banyak ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, seru, Mbak. Meski butuh adaptasi yang lebih, tapi bonusnya juga lebih ❤

      Delete

Sebelum komentar, login ke akun Google dulu ya teman-teman. Jangan ada "unknown" diantara kita. Pastikan ada namanya, biar bisa saling kenal :)