7 Manfaat Menulis Buku Antologi Bagi Penulis Pemula

Manfaat Menulis Buku Antologi

Meski sudah 5 tahun mengelola blog pribadi, secara ilmu kepenulisan, saya masih tergolong pemula. Kenapa? Karena di tahun-tahun awal, saya hanya menulis sesuka hati tanpa memperhatikan ketentuan menulis yang baik dan benar. Barulah setelah menyadari bahwa tulisan yang enak dibaca adalah tulisan yang sesuai kaidah, saya mulai mempelajarinya lebih dalam melalui berbagai kelas kepenulisan, baik untuk menulis blog, maupun menulis buku. 


Salah satu cara mengembangkan kemampuan menulis yang beberapa kali pernah saya ikuti adalah event penulisan buku antologi. Buku antologi ini berisi kumpulan naskah yang setiap babnya tidak saling berhubungan, namun masih tercakup dalam tema yang sama. Misalnya cerpen pengalaman penyintas Covid atau puisi bertema kemerdekaan. Biasanya ditulis oleh banyak penulis, namun ada juga antologi yang merupakan karya dari satu penulis. Tidak sulit menemukan penawaran event seperti ini. Biasanya diadakan oleh komunitas atau penerbit buku. 


Berkat kemauan membekali diri dan terus menggali potensi, saya akhirnya melahirkan dua buku antologi bersama penulis-penulis hebat lainnya. InsyaAllah masih ada dua buku antologi lagi yang masih dalam proses. 


Jangan ditanya betapa bahagianya saya ketika memeluk buku-buku tersebut dan melihat nama sendiri tertulis di sana. Sebuah apresiasi yang tak ternilai dari semua usaha yang saya lakukan selama ini. Tidak mudah menjaga konsistensi di tengah kesibukan mengurus dua anak yang masih kecil dan keluarga. Sehingga untuk menulis, saya harus berjibaku dengan rasa malas, lelah dan kesulitan memanajemen waktu. Makanya, menyaksikan diri mampu menghasilkan satu per satu buku antologi, saya menjadi semakin bersamangat dan percaya diri.


Baca juga: 5 Tahun Ngeblog, Dapat Apa?



Kenapa Penulis Pemula Sebaiknya Menulis Buku Antologi? 

Manfaat menulis buku antologi
Penulis pemula sangat diuntungkan bila berani menulis buku antologi

Menulis buku antologi ada prosesnya, tergantung mengikuti event yang mana. Ada yang melalui perlombaan dan 100 tulisan terbaik akan dibukukan. Ada juga yang harus melalui tahap seleksi hingga nanti tersisa beberapa tulisan yang masuk dalam buku. Serta ada pula yang hanya perlu mendaftar, menyerahkan naskah, lalu dipastikan nama kita akan menjadi salah penulis dalam buku antologi tersebut. Tentunya ada syarat dan ketentuan yang berlaku, ya.


Menurut saya, apa pun event yang dipilih, pasti memberi ilmu baru. Bila ingin santai dan segera memiliki buku, pilihlan event Nulis Bareng (Nubar) atau Nulis Keroyokan (Nuker) yang tidak membutuhkan proses seleksi. Nah, jika ingin menantang diri, ikutilah lomba atau audisi antologi. 


Penulis pemula yang memiliki buku antologi akan merasakan berbagai manfaat yang dapat mengembangkan diri dan kemampuan untuk berkarya lebih hebat lagi ke depannya. Mugkin bila dilihat dari jumlah halaman, tulisan kita hanya akan mengisi sepersepuluh atau bahkan seperduapuluh dari total halaman buku. Namun proses dan pelajarannya sangat berharga dan mahal. Berikut alasan kenapa penulis pemula sebaiknya mengikuti event-event penulisan buku antologi dan melahirkan karya.


1. Belajar Ilmu Kepenulisan

Saya masih ingat dengan jelas audisi antologi pertama yang saya ikuti. Berupa cerpen fiksi bergenre komedi yang diadakan oleh komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN) tahun 2020 lalu. Saat itu juga pertama kalinya saya mencoba menulis fiksi. Meski berdasarkan kisah nyata yang dialami bersama keluarga, mengungkapkan apa yang terjadi dalam sebuah cerita dengan sentuhan humor ternyata tidak semudah menceritakannya secara langsung. Naskahnya hanya 5 halaman, namun saya butuh waktu berhari-hari untuk percaya diri mengirimkannya. 


Dalam proses pembuatan naskah antologi, penulis akan mendapatkan banyak sekali ilmu. Mulai dari tata bahasa, kaidah kepenulisan, kata baku dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dan mengacu pada Panduan Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI). Mungkin saya tidak akan hafal bagaimana cara membuat kutipan langsung dan membuat kalimat efektif yang enak dibaca bila tidak mencoba menulis naskah antologi. Jumlah halaman maksimal yang dibatasi, akan membuat penulis lebih kreatif memilih kata agar cerita tetap tersampaikan dengan baik tanpa ada yang dipotong. Tulisan kontributor lain juga bisa dijadikan sarana belajar, mulai dari melihat teknik menulis, alur hingga menambah pembendaharaan kata. Makanya, mengikuti event menulis buku antologi bisa menjadi media belajar yang menyenangkan karena diapresiasi oleh buku fisik yang akan segera terbit.


2. Berpengalaman Menerbitkan Buku

Menerbitkan buku tentu menjadi impian banyak penulis. Namun kenyataannya, hingga sampai ke tahap penerbitan, panjang sekali jalan yang harus ditempuh. Belum lagi bersaing dengan para penulis senior yang sudah pasti lebih berpengalaman, persaingan menembus penerbit mayor menjadi semakin ketat. Nah, dengan mengikuti event menulis buku antologi, penulis bisa segera merasakan pengalaman menerbitkan buku. Mulai dari proses penulisan naskah, revisi naskah, desain layout, cover dan proses cetak hingga buku siap edar. Walau tidak turun tangan secara langsung di semua tahapan, paling tidak penulis sudah mempunyai gambaran bagaimana proses menerbitkan sebuah buku. Jadi bisa menambah pengetahuan bila nanti ingin menerbitkan buku solo sendiri.


3. Prosesnya Lebih Cepat

Berbeda dengan buku solo, penulisan buku antologi jauh lebih cepat karena memang naskahnya tidak panjang. Menulis ratusan halaman untuk buku solo tentu membutuhkan waktu yang lebih lama jika dibandingkan dengan naskah antologi yang hanya sepuluh halaman, bahkan lebih sedikit. Bila menulis naskah buku solo masih dirasa sulit, maka antologi bisa menjadi solusi untuk segera memiliki buku. 


4. Membantu Membangun Personal Branding

Penulis penting sekali melakukan personal branding untuk menunjukkan siapa dirinya. Membangun personal branding tidaklah sebentar, namun membutuhkan waktu hingga berbulan-bulan, bahkan tahunan. Namun keberhasilannya sangat berpengaruh positif terhadap karir penulis itu sendiri. Dengan memiliki buku antologi, maka akan ada topik/konten yang bisa menunjang personal branding-nya. Coba bandingkan, mana yang lebih dipandang profesional, penulis yang telah memiliki buku, atau penulis tanpa buku meski telah banyak berkarya di media lain? Tentu penulis yang memiliki buku, bukan?


5. Langsung Praktik Teknik Marketing

Tujuan melahirkan buku tidak akan sempurna bila belum laku di pasaran. Saya selalu mengingat pesan dari dua wanita hebat yang saya kenal, tentunya juga seorang penulis, yaitu Mbak Kirana Kejora dan Mbak Widyanti Yuliandari (Ketua IIDN). Penulis merupakan ibu dari buku yang dilahirnya. Sudah menjadi kewajiban ibu untuk membesarkan anak-anak mereka. Yang paling bertanggung jawab atas sebuah buku adalah penulisnya. Jadi tidak ada alasan malu untuk mempromosikan buku sendiri.


Dalam penulisan buku antologi, semua kontributor umumnya akan dilibatkan dalam proses marketing. Sebenarnya tanpa diwajibkan pun, sudah sepantasnyalah penulis menjadi pihak yang paling gencar mempromosikan karyanya. Berhubung buku antologi melibatkan banyak penulis, tentu yang akan memasarkannya juga banyak. Ini bisa dijadikan ajang saling belajar bagaimana cara mempromosikan buku yang baik. Semua penulis juga bisa ikut meramaikan promosi yang dilakukan oleh penulis lain. Hingga akhirnya dapat menarik pembeli dan menguntungkan semua pihak yang terlibat, terutama Si Penulis.


6. Menambah Relasi Di Bidang Kepenulisan

Menulis memang membutuhkan kerja keras dan latihan dari diri pribadi penulis. Namun tidak bisa disangkal pula bahwa keterlibatan orang-orang yang berada dalam lingkaran kepenulisan juga sangat dibutuhkan. Misalnya belajar dari pengalaman penulis senior, mendapat dukungan dari sesama penulis pemula, berhubungan dengan pihak penerbit atau bekerja sama dengan ilustrator untuk desain cover. Dengan mengikuti event menulis buku antologi, pintu relasi ini akan terbuka semakin lebar. Nama kita juga lebih dikenal luas dan tentunya memudahkan langkah untuk menuju ke tahap yang lebih hebat.


7. Semangat Menulis Semakin Terpacu

Selain merasakan euforia, memegang langsung buku antologi pertama saya, langsung mengalirkan sugesti positif yang meyakinkan bahwa ternyata saya mampu. Sebelumnya, saya sempat mengerdilkan diri sendiri, menyangsikan kemampuan menulis yang dianggap masih jauh dari standar sebuah buku terbit. Namun pikiran yang menghambat itu seketika menguap ketika melihat nama sendiri tertulis dalam sebuah buku antologi yang telah melalui dua kali tahap seleksi. Sejak saat itu, saya jauh lebih bersemangat untuk mengejar impian yang besar. Tidak perlu ragu, takut atau insecure. Toh, buktinya ada buku yang berhasil diterbitkan.


Semangat dan kepercayaan diri inilah yang sangat dibutuhkan oleh penulis pemula. Jangan terlalu takut untuk mencoba, ikutilah event menulis buku antologi yang dirasa sesuai. Kalau kita sendiri sudah yakin bahwa kita mampu, pasti segala upaya akan dilakukan agar cita-cita menjadi penulis hebat segera terwujud. Sebaliknya, sebaik apa pun skill menulis yang dimiliki atau sebanyak apa pun kelas menulis yang diikuti, kalau diri sendiri saja tidak percaya, apa gunanya?


Baca juga: Buku BIKIN KETAWA - Antologi Pertama yang Lahir Berkat Keberanian


Itulah beberapa manfaat yang akan dirasakan penulis pemula bila mengikuti proyek buku antologi. Sedikit tips, pilihlah tema event yang dekat dengan kehidupan sehari-hari agar lebih mudah menuangkannya dalam naskah. Bila event pertama yang diikuti memiliki tema yang berat, bisa saja kita yang masih pemula ini semakin terbebani, bukan hanya untuk merangkai kata, namun juga harus riset ke mana-mana. Ujung-ujungnya malah tidak dapat menulis naskah dengan maksimal.


Intinya, buku antologi sangat tepat untuk dijadikan batu loncatan bagi penulis pemula agar segera menghasilkan karya, sekaligus mempelajari banyak ilmu dan semakin dikenal dalam dunia kepenulisan. 


Semangat menulis! Menulis itu bukan hanya soal bakat, tapi butuh latihan dan semangat.


Semoga bermanfaat.



6 comments:

  1. Mbaaa, saya banget nih, maksudnya saya banget yang masih di fase nulis dengan gaya sendiri haha

    Kebetulan saya juga mau cari event antologi mba, seperti yang mbak bilang, supaya lebih mengasah skill menulis

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebenarnya pakai gaya sendiri memang direkomendasikan, Mbak. kayak ciri khas gitu. Cuma ya kadang kita lupa kalau ada kaidah yang harus jadi acuan. Biar nyaman juga di mata pembaca.

      Semangat, Mbak! Semoga segera ketemu sama event antologi yang sesuai, ya.

      Delete
  2. alhamdulilah ya mbak nov
    aku dulu ikutan lomba menulis dan finally dibukukan juga. Sampe sekarnag sebenernya masih menyimpan keinginan untuk nerbitin buku solo. kadang semangat menulis di blog sama draft buku beda, kalau buku agak susah kalau ga nemu mood nya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, selamat ya, Mbak. Pasti jadi mood booster banget itu.

      Aku pun sama, Mbak. Sudah nyoba nulis naskah buku solo. Memang butuh perjuangan luar biasa melawan rasa malas. Kadang sudah tahu apa yang mau di tulis, tapi karena bosan, jadinya nggak dituangkan, ujungnya keterusan malas, naskah nggak selesai.

      Semangat, Mbak!

      Delete
  3. Aku dulu ikut lomba menulis yang kebetulan temanya ttg hotel atau hostel saat traveling. Sesuai passionku :D. Walopun yang mereka minta cerita2 horor yg pernah kita alami saat jalan. Aku kirim 2 cerita, Alhamdulillah 2-2 nya diambil , dan dibukukan di buku HO[S]TEL 2. Penulis utamanya mas Ariy. Seneng sih memang, tapi itu yg pertama dan trakhir, hahahaha. Aku kok blm mulai2 lagi setelah itu. Antara mood ga ada, ATO sekedar males -_-.

    Jadinya aktif cuma di blog Mulu :D. Tapi jadi semangat sih, untuk mulai lagi abis baca ini :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo, nulis naskah lagi, Mbak. Pasti tulisannya udah oke tuh, sekali kirim berhasil jadi buku :)

      Tapi aktif di blog juga sudah melatih kemampuan nulis sih ya. Yang penting nulis terus tanpa putuuuusss 💪🏼

      Delete

Sebelum komentar, login ke akun Google dulu ya teman-teman. Jangan ada "unknown" diantara kita. Pastikan ada namanya, biar bisa saling kenal :)