Produktif dari Rumah dengan Menjadi Blogger dan Writer

Konferensi Ibu Pembaharu Komunitas Ibu Profesional

"Kalau berhenti kerja, kamu di rumah mau apa? "


Kira-kira itulah kalimat yang paling sering saya dengar saat memutuskan resign. Melepas status sebagai PNS di salah satu instansi pemerintah pusat dan mengabdi penuh untuk keluarga tentu tidak mudah. Banyak yang menyangsikan dan menilai saya terlalu naif. Sudah enak-enak kerja yang menjamin hingga hari tua, malah ditinggalkan begitu saja. Tidak sedikit pula yang menyayangkan jenjang pendidikan yang telah saya lalui, ijazahnya mau di bawa ke mana?


Stigma yang menganggap ibu rumah tangga tidak bisa apa-apa, saya anggap sebagai cambukan keras. Ini kekeliruan yang sayangnya tidak mungkin saya bantah ketika stigma itu saya terima. Percuma membalas kalau hanya dengan kata-kata. Meski butuh waktu, saya pasti akan membuktikan bahwa berdaya dan berkarya bisa dari mana saja, termasuk dari rumah. 


Sebagai manusia yang terkadang masih luput dari kedewasaan, ada masa saya ditimpa dengan ujian yang sangat memberatkan selama berproses. Sempat menyerah dengan keadaan, mengerdilkan diri hanya karena gagal berulang kali. Insecure melihat kesuksesan orang lain yang seharusnya menjadi penyemangat agat lebih cepat melesat. Namun akhirnya sadar bahwa menguapkan mimpi bukanlah hal yang saya ingini. Percuma saja mengambil langkah awal bila akhirnya berhenti di tengah jalan. 


Hanya karena prosesmu lebih lama dari yang lain, bukan berarti kamu gagal. 

- Harland Sanders, Pendiri KFC -


Tidak ada yang tahu pasti di percobaan ke berapa atau di tahun ke berapa usaha akan terbayar tuntas. Selama ada juang, pasti membuka peluang. Ibu bebas memilih hal produktif apa saja yang sesuai dengan keinginan dan kondisi kehidupan. Sekecil apa pun produktifitas ibu, pasti membawa kebaikan yang nantinya akan berpengaruh positif pula pada diri ibu. Tidak perlu ragu, apalagi malu. 





Kenapa Memilih Blogger dan Writer?

Alasan menjadi blogger dan writer
Blogger dan writer adalah tujuan yang tepat bagi saya

Sebenarnya ini bukanlah tujuan pertama saya setelah resign. Dulu yang saya pikirkan tidak terlepas dari berjualan online yang marak dilakukan oleh banyak ibu rumah tangga. Namun ternyata realisasinya tidak semudah rencana. Memang sudah mendapatkan sedikit untung, namun saya kewalahan sendiri karena harus mengejar pekerjaan sana-sini. Mulai dari belanja produk, foto-foto, posting di e-commerce dan sosial media, update status setiap hari hingga promosi yang tidak mungkin dilewati barang sehari. Apa kabar dengan tugas rumah tangga dan bayi yang juga harus saya urus? Hingga akhirnya usaha ini terbengkalai dan tidak dilanjutkan lagi.


Tidak ingin berhenti, saya mencari hal lain yang harus membuat saya tetap produktif. Berawal dari saran suami, blog novarty.com lahir dengan artikel yang hanya berisi pengalaman ibu-ibu baru beranak satu. Menulisnya pun masih suka-suka, memakai bahasa gaul yang menurut saya akan lebih santai saat dibaca. Saya cukup puas karena masih bisa menghasilkan karya meski hanya dikunjungi oleh beberapa pasang mata. 


Blog itu ternyata mulai menunjukkan potensi. Saya banyak sekali belajar menulis dari sini. Memberanikan diri mengikuti berbagai komunitas yang membuka jalan untuk menjadikan blogging sebagai salah satu media pengembangan diri. Berkat blog pula lah saya akhirnya jatuh cinta sekali dengan dunia kepenulisan dan mulai belajar menulis naskah buku.


Meski terkesan seperti air mengalir, kenyataannya menjadi blogger dan writer adalah pilihan tepat yang berhasil saya temukan. Beberapa alasan melatarbelakngi kenapa saya bertahan selama bertahun-tahun berkecimpung di bidang ini. 


1. Tidak Mengganggu Tugas Utama Saya sebagai Ibu Rumah Tangga

Tetap yang menjadi prioritas adalah tanggung jawab saya sebagai ibu dan istri. Tidak mungkin mendahulukan tujuan diri sendiri di atas keluarga yang menjadi alasan saya untuk resign. Mengelola blog dan menulis buku adalah dua hal yang bisa saya lakukan sembari mengurus keluarga. Fleksible, itulah istilahnya. Saya bebas menentukan waktu dan metode yang sesuai dengan aktivitas saya. Tidak perlu ke mana-mana, bahkan hanya duduk diam saja, saya sudah bisa berkarya. Anak-anak pun tidak masalah karena saya masih bisa membersamai mereka di rumah. Meski perlu dikomunikasikan terlebih dahulu bahwa saya memiliki rutinitas menulis di sela hari. 

2. Saya Bisa dan Saya Suka

Saya pernah mengikuti salah satu webinar bersama Sara Neyrhiza, seorang Dosen, Bloger dan Public Speaker, tentang Membangun Personal Branding Penulis. Dijelaskan bahwa tujuan sebaiknya merupakan hal yang kita sukai dan kita bisa melakukannya. Misalnya saya sangat tidak menyukai bercocok tanam dan sama sekali tidak memiliki ilmu tentang itu. Maka tidak mungkin saya memaksa produktif untuk berjualan tanaman hias yang sempat hits beberapa waktu lalu. Bukannya bahagia, saya malah menjalaninya dengan terpaksa. Sebaliknya dengan menulis, baik itu di blog maupun berupa naskah buku, saya suka dan saya bisa. Sehingga tahap demi tahap serta tantangan yang satu per satu muncul, bisa saya jalani dengan lebih positif.

3. Sarana Berbagi

Bukankah sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya? Inilah salah satu mood booster saya untuk tetap konsisten menulis bertahun-tahun. Saya menyadari bahwa keterbatasan mobilitas karena harus mnegurus dua anak di rumah akan mengurangi kesempatan saya untuk berbuat baik kepada sesama secara langsung. Ternyata Tuhan Maha Baik, saya ditakdirkan untuk menyukai aktivitas menulis untuk tetap bisa berbagi banyak hal mengenai pengalaman saya sebagai ibu yang selalu berproses untuk selalu menjadi lebih baik. 

4. Ada Peluang

Di dunia ini tidak ada kesuksesan yang instan, termasuk dalam dunia blogging dan writing. Peluang itu saya rasakan ketika menyadari kemampuan menulis saya yang semakin baik. 5 tahun bukanlah waktu yang sebentar, namun perubahan postif yang saya terima menandakan bahwa ada harapan dari menulis. Sampai kapan pun, sebuah karya tulis tetap akan dibutuhkan di segala aspek kehidupan. Entah itu berupa barang fisik atau digital. Sudah jelas, ini menjadi peluang menggiurkan bagi saya yang memang suka menulis, baik dari sisi pengembangan diri maupun ekonomi.


Saya hanyalah salah satu dari ibu yang sedang berjuang meraih impian. Menjadi blogger dan writer juga hanya dua contoh dari berjuta hal produktif yang bisa dilakukan ibu di rumah. Ibu bebas memilih apa pun, namun yang perlu diingat, sesuaikan dengan kemampuan dan kondisi masing-masing. Jangan sampai produktifitas kita mengenyampingkan sesuatu yang paling berharga, yaitu keluarga. Karena ibu adalah sumber kenyamana keluarga. Sebesar apa pun namanya terpampang di luar sana, tetap perannya tidak akan pernah tergantikan untuk keluarganya sendiri. 




Tantangan Harus Ditaklukkan

Tantangan menjadi blogger dan writer dari rumah
Tantangan menjadi ibu blogger dan writer membuat saya lebih tangguh

Berbicara tentang kesuksesan, tentu tidak terlepas dari tantangan. Begitu pula dalam proses yang selama ini saya lalui untuk menjadi blogger dan writer profesional. Meski masih setengah jalan, namun beberapa tantangan itu sudah hadir membawa tembok-tembok besarnya yang kalau dibiarkan akan dengan mudah membuat saya menyerah.


Sedikit gambaran, saya di rumah hanya dengan suami dan anak-anak. Tidak ada saudara atau asisten rumah tangga. Bisa dibayangkan betapa sibuknya saya setiap hari mengurus semuanya. Syukur bila suami sedikit senggang, bisa berbagi beban. Namun bila pekerjaan kantor suami menumpuk, tetap semuanya kembali kepada saya. Sehingga menyisakan waktu untuk diri sendiri menjadi masalah yang paling sulit saya carikan solusi. 


🌸 Manajemen Waktu

Menulis ketika siang, ada anak-anak dan tumpukan cucian yang harus diselesaikan. Sedangkan menunggu malam, saya sudah kelelahan dan akhirnya ketiduran. Inilah tantangan paling serius yang sangat berpengaruh terhadap produktifiitas saya. Terkadang idenya sudah berputar-putar di kepala, namun kesempatan untuk menuangkannya tak kunjung ada. Lama-lama semangat yang menggebu-gebu itu semakin tergerus dan hilanh.


Lalu bagaimana saya mengatasinya? Saya wajib punya jadwal yang harus saya jalankan dengan disiplin. Setiap bulan harus ada minimal empat artikel yang saya tulis di blog, satu bab naskah buku dan satu ilustrasi sebagai bidang baru yang saya tekuni karena dapat menunjang tulisan yang saya hasilkan. Bisa saja lebih, namun dilarang keras untuk kurang dari yang ditargetkan. Terkesan sangat sedikit bukan? Sayangnya inilah yang paling pas bagi saya. Tidak memberatkan dan tidak pula terlalu ringan. Tidak terlalu longgar dan tidak pula terlalu menekan. Berkat jadwal yang tepat inilah saya bisa terus konsisten menulis hingga sekarang. Walau kadang harus begadang dan sedikit keteteran, namun itulah pengorbanan.  


🌸 Pengendalian Emosi

Kesulitan memanajemen waktu untuk diri sendiri berimbas kepada pengendalian emosi yang buruk. Saya bisa saja marah-marah tak terkendali kepada anak-anak dan suami bila target menulis saya belum tercapai ketika akhir bulan tinggal hitungan hari. Saya juga bisa terpuruk hebat ketika gagal memenangkan lomba blog yang sudah mati-matian saya tulis hingga rela begadang bermalam-malam. Namun saya sadar bahwa itu manusiawi. Ketika tekanan yang datang tidak bisa diimbangi dengan kesiapan, maka itu bisa menghancurkan.


Solusinya, tentu saja harus siap. Ketika saya memilih jalan untuk menjadai blogger dan writer dengan kondisi yang mungkin tidak sebebas orang lain, saya juga harus mampu menerima konsekuensinya. Selalu saya ingat tujuan utama ketika pertama kali menulis blog, yaitu untuk produktif dan berbagi. Mengejar mimpi boleh, namun jangan sampai terlalu berambisi. Menemukan titik keikhlasan pasti tidak sebentar. Bahkan sampai detik ini saya masih merasakan gejolak yang sama, hanya saja tidak separah dulu. Mungkin semakin sering ditempa, saya bisa jauh lebih baik lagi dalam mengendalikan emosi. Kegagalan itu mungkin saja menginstruksikan saya untuk lebih giat lagi berusaha.


Komitmen dan konsisten adalah kunci.


Menaklukkan tantangan butuh komitmen dan terus konsisten. Sederhana bila diucapkan, namun sangat berat untuk dijalankan. Apalagi bagi pemula, yang baru melalui beberapa langkah pertama, godaan rasa malas dan ketidakpercayaan diri sangatlah  besar. Namun bila sedikit saja hasil yang diterima, maka kemauan untuk berusaha lebih keras lagi akan timbul dengan sendirinya. Terkadang kita hanya perlu bersabar sedikit lagi.


Sebagai sharing cerita, ada beberapa tahapan yang dilalui selama berjuang untuk berdaya dan berkarya berdasarkan pengalaman saya.

Tahap pertama, Menetapkan Tujuan

Ini adalah masa paling awal ketika memilih dan memilah fokus apa yang hendak dilakukan. Tidak selalu pilihan pertama lagsung tepat serta sesuai dengan keinginan dan kondisi kita. Bisa jadi akan beberapa kali ganti haluan hingga menemukan yang terbaik.

Tahap kedua, Memulai Langkah Awal

Tahap ini diisi oleh serba kebingungan dan ketidaktahuan. Mungkin saja teorinya sudah dipelajari maksimal, namun ketika mempraktikkannya tetap saja menemukan berbagai kendala karena minimnya pengalaman. Rawan sekali timbulnya rasa malas, bosan bahkan menyerah karena kesulitan yang belum kunjung menemukan solusi. Di sinilah ujian pertama terhadap komitmen dan konsisten dalam diri kita. Selama tidak goyah dan tetap berusaha, pasti akan terlalui dengan baik.

Tahap Ketiga, Mendapatkan Hasil

Usaha bertahan dari tantangan pertama mulai menunjukkan hasil. Prestasi dan apresiasi satu per satu di dapatkan. Lega sekali pasti. Namun tetap saja tahap ini kembali bertabur ujian. Bila segera merasa puas dan tidak mengembangkan diri, dalam hitungan sekejap, prestasi dan apresiasi itu tenggelam dan hilang begitu saja. Bagaimanapun teman-teman yang berjuang dalam dunia yang sama pasti juga semakin hebat. Maka jangan berhenti belajar dan mengembangkan diri meski sudah mencapai target. Buat kembali target-target selanjutnya yang lebih besar. Dijamin, prestasi dan apresiasi itu pasti sebanding dengan daya dan upaya yang dikerahkan.

Tahap Keempat, Keberhasilan Sejati

Jujur, saya belum sampai di titik ini. Tahap keempat adalah bagaimana berbagi ilmu dan pengalaman yang dimiliki selama menggapai prestasi agar dapat bermanfaat sebesar-besarnya bagi orang lain. Keberhasilan sejati ketika lahir generasi baru yang jauh lebih hebat berkat bimbingan yang kita diberikan. Tidak merasa tersaingi, malah menjadi orang yang paling berbangga hati.




Prestasi dan Apresiasi 

Setiap blogger dan writer pasti memiliki tujuan masing-masing yang ingin didapatkan dari karya yang dihasilkan. Ada blogger yang hanya fokus mengikuti lomba blog, jelas tujuannya adalah untuk menang. Ada pula blogger yang hanya mencurahkan isi hati, mungkin saja tujuannya untuk healing dan sharing. Apa pun itu, keberhasilan mencapai tujuan itu pasti diakui sebagai sebuah prestasi yang layak dibanggakan. 


Prestasi dan apresiasi sebagai blogger dan writer
Ungkapan terima kasih dari pembaca blog

Niat awal saya yang ingin berbagi hal bermanfaat melalui tulisan, meski hanya dari kejadian sehari-hari, akhirnya mencapai prestasi melalui apresiasi yang mulai berdatangan dari pembaca. Merinding rasanya, menyaksikan orang yang tidak saya kenal mengungkapkan rasa terima kasih ketika artikel saya mengenai kista tiroid dapat menyelamat mereka atau keluarganya dari operasi yang sebenarnya bisa dihindari. Bahagia pula rasanya saat cerita saya mengenai perkembangan bayi usia 0-4 bulan dapat menenangkan banyak ibu yang tidak kunjung mendapatkan jawaban pasti meski sudah berkonsultasi dengan dokter berulang kali. Bukankah itu luar biasa?


Prestasi dan apresiasi sebagai blogger dan writer
Beberapa lomba blog yang saya menangkan dan tawaran kerja sama 

Kebaikan ini tidak berhenti sampai di situ. Menjadi blogger yang tidak pernah saya kira akan membuka pintu rezeki, akhirnya memampukan saya untuk memenuhi kebutuhan pribadi, membeli perabot rumah dan sedikit mengisi tabungan. Tawaran kerja sama berdatangan dan beberapa lomba blog berhasil saya menangkan. Memang belum sebesar gaji saya ketika masih bekerja, namun kebanggannya tidak kalah hebat, malah jauh lebih hebat. Kemampuan menulis yang saya latih dari nol, diapresiasi dengan hal-hal yang menguntungkan.


Prestasi dan apresiasi sebagai blogger dan writer
Dua buku antologi pertama yang memacu semangat menulis

Buku antologi saya pun mulai lahir. Ketertarikan menjadi penulis buku membawa saya bertemu dengan berbagai event-event kepenulisan. Respon keluarga dan teman-teman pun luar biasa, sehingga ketika pre-order yang kedua, masih ada pemesanan. Masih ada dua buku antologi saya yang masih dalam proses dan satu naskah buku solo yang sedang mencari penerbit tepat. Inilah penyemangat saya untuk tetap mempelajari ilmu menulis buku, karena ternyata, perlahan tapi pasti, saya mampu menerbitkan buku.


Seolah pembuktian kekeliruan stigma yang saya terima di masa awal berhenti kerja dulu semakin dekat dengan keberhasilan. Prestasi yang saya dapatkan menjadi gambaran nyata bahwa berdaya dan berkarya bukan hanya bisa dilakukan oleh mereka yang bekerja di kantor, ibu rumah tangga yang sehari-hari di rumah pun bisa berbuat lebih dengan caranya sendiri.




Temukan Lingkungan Positif

Komunitas Ibu Profesional
Komunitas Ibu Profesional, The Most Influence Community 2017 versi Koran Jawa Pos | Foto: ibupembaharu.com
Lingkungan positif tidak akan datang sendiri, namun harus dicari. Positif yang dimaksud di sini adalah lingkungan yang mampu menularkan semangat, menyalurkan energi dan membagikan ilmu terkait bidang yang sedang ditekuni. Seperti cerita saya di awal, terkadang stigma masih saja melekat dengan kaum ibu. Padahal tidak ada satu pun alasan yang membuat ibu tidak mampu untuk sukses tanpa meninggalkan tugas utamanya.


"Ah, nanti kalau sibuk berkarya, sibuk cari duit, pasti keluarganya terbengkalai. Nah, kalau sudah fokus keluarga, mana ada waktu untuk mengerjakan hal lain?" Plis, Bu, jangan sekali-kali berpikiran seperti ini! 


Andai saya yang berhenti bekerja demi membersamai anak termakan dengan stigma tersebut, sudah pasti tidak akan mampu berdaya dan berkarya dari rumah. Cara yang paling tepat adalah menemukan lingkungan yang dapat membuat ibu bangkit tanpa peduli dengan stigma. Buktikan bahwa kita bisa!


Saya bersyukur sekali hidup di dunia berteknologi, sehingga besar manfaatnya bagi saya yang merupakan ibu rumah tangga dengan kebebasan terbatas. Tidak ada hambatan lagi yang membuat kita malas belajar dan mengembangkan diri, tanpa berpindah lokasi, sudah bisa berkelana ke ujung negeri. Mobilisasi dan jarak sudah tidak lagi berarti, apalagi sejak pandemi, semua aktifitas bisa berjalan hanya dengan bermodal wi-fi.


Mengikuti berbagai komunitas bermanfaat, khususnya yang membersamai para ibu adalah pilihan paling bijak demi mendapatkan lingkungan positif yang membangun.


Saya bergabung dengan banyak komunitas blogger dan komunitas menulis yang beberapa diantaranya memang beranggotakan perempuan. Kehidupan dan tujuan kami yang serupa sangat membantu untuk saling membagi ilmu. Sehingga kepercayaan diri, masalah atau apa pun hambatan yang tengah dirasakan, bisa diselesaikan dengan berbagai program atau kegiatan yang diadakan oleh komunitas. Saya bisa menyimpulkan bahwa sebagian besar pencapaian saya saat ini adalah berkat peran komunitas-komunitas yang saya ikuti.


Luar biasa senangnya saya ketika mengetahui, ternyata ada, lo, komunitas yang lengkap mendampingi kaum ibu untuk bisa menjadi produktif, mandiri dan berpenghasilan tentunya tanpa meninggalkan kewajiban utama sebagai seorang ibu. Dalam komunitas ini, semuanya harus sejalan dan berkesinambungan, tanpa ada yang boleh dikorbankan. 


Komunitas Ibu Profesional

Komunitas Ibu Profesional, khusus diperuntukkan bagi ibu dan calon ibu agar dapat meningkatkan kualitas diri sebagai seorang perempuan, istri dan ibu. Di tahun 2020-2021 ini komunitas Ibu Profesional mengambil tema Semesta Karya untuk Indonesia, dengan tagline Belajar, Berkembang, Berbagi, dan Berdampak. Tidak ada istilah menanggung sendiri, karena dalam komunitas ini semuanya akan bertumbuh bersama, belajar bersama hingga dapat saling menguatkan satu sama lain melalui forum belajar online dan diskusi offline yang diselenggarakan di 57 kota dan 10 negara. Bayangkan seberapa besar energi positif teralirkan dari Komunitas Ibu Profesional ini.


Menarik sekali, bukan? Jujur saya baru tahu tentang Komunitas Ibu Profesional melalui postingan salah satu teman sesama blogger. Penasaran, lalu buka media sosialnya. Ternyata pengikutnya sudah banyak sekali! Saya saja yang kurang update. Lanjut lagi membuka website-nya, saya semakin takjub dengan program-program yang begitu detail dan lengkap. Andai tahu dari dulu, mungkin saya bisa lebih mudah melalui tantangan yang pernah dialami.


Terdapat 6 jenjang program yang akan membimbing setiap langkah ibu dan calon ibu, mulai dari awal hingga mampu meraih keberhasilan sejati yang mampu membagi ilmu bermanfaat dan mencetak ibu-ibu lain yang lebih hebat. (Sumber: ibuprofesional.com)

1. Program Matrikulasi

Program matrikulasi adalah program persiapan untuk para ibu dan calon ibu yang ingin bergabung di komunitas Ibu Profesional. Program ini bertujuan untuk membuka wawasan, menyamakan frekuensi para ibu pembelajar, calon Ibu Profesional. Disampaikan selama 9 kali tatap muka dengan Nice Homework setiap pekan.

2. Program Bunda Sayang

Program Bunda Sayang adalah program pembelajaran yang  diikuti oleh para Ibu Profesional yang sudah lulus Matrikulasi. Kelas ini mengajak para ibu dan calon ibu untuk terus belajar bagaimana mendidik anak dengan mudah dan menyenangkan. Disampaikan dalam 12 kali tatap muka dengan berbagai tantangan setiap bulannya.

3. Program Bunda Cekatan

Program Bunda Cekatan adalah program belajar untuk para ibu dan calon ibu yang sudah lulus kelas Bunda Sayang. Di kelas ini para ibu dilatih untuk meningkatkan kapasitas diri mereka sebagai seorang manajer keluarga yang cekatan menjalankan peran. Disampaikan dalam 12 kali tatap muka dengan berbagai contoh praktek baik setiap bulannya.

4. Program Bunda Produktif

Program Bunda Produktif adalah program belajar untuk para ibu dan calon ibu yang sudah lulus kelas Bunda Cekatan. Di kelas ini para ibu dilatih untuk memahami potensi diri, menemukan jalan hidup sesuai fitur uniknya, sehingga antara mendidik anak, berkarya dan menjemput rejeki menjadi satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan apalagi dikorbankan. Disampaikan dalam 12 kali tatap muka dengan berbagai projek team setiap bulannya.

5. Program Bunda Shaleha

Program Bunda Shaleha adalah program belajar untuk para ibu dan calon ibu yang sudah lulus kelas Bunda Produktif. Di kelas ini para ibu dilatih untuk bisa menjadi agen perubahan di masyarakat sekitarnya, dimulai dengan perubahan diri sendiri dan perubahan di dalam keluarganya secara berkelanjutan. Disampaikan dalam 12 kali tatap muka dengan berbagai contoh projek perubahan setiap bulannya.

6. Training Trainer dan Fasilitator 

Program pelatihan untuk Trainer dan Fasilitator ini adalah program untuk para ibu yang sudah melampaui tahap Bunda Sayang, Bunda Cekatan, Bunda Produktif dan Bunda Shaleha. Ada program pelatihan tahap 1 diperuntukkan bagi para ibu yang sudah lulus Bunda Cekatan, dan pelatihan tahap 2  diperuntukkan bagi para ibu yang sudah lulus Bunda Shaleha. 


Saya semakin tertarik untuk mencari tahu lebih banyak mengenai komunitas Ibu Profesional melalui berbagai cerita member-nya yang sudah lebih dahulu mengikuti program melalui berbagai artikel internet. Ada yel-yel khusus yang sangat menyentuh bagi saya, yaitu What's your problem? No problem! What? Challenge! Di sini tidak ada yang namanya masalah, namun menganggapnya sebagai tantangan. Sejalan sekali dengan pemikiran saya selama ini.


Kabar gembiranya lagi, untuk merayakan 1 Dekade Komunitas Ibu Profesional, akan diselenggarakan Konferensi Ibu Pembaharu pada tanggal 18-22 Desember 2021. Tidak hanya bisa diikuti oleh member komunitas, namun juga umum. Jadi semuanya bisa ikutan! Antusias sekali rasanya bisa bergabung dan berperan lebih banyak dengan menjadi Ibu Pembaharu.



Konferensi ini akan mempertemukan Ibu Pembaharu dari dalam negeri dan luar negeri untuk saling berbagi mengenai kehidupan mereka, baik sebagai perempuan, istri dan ibu. Konferensi ini juga menjadi salah satu media publikasi agar semakin banyak ibu yang mampu mengembangkan dirinya terlepas dari status yang dimiliki, entah itu hanya beraktifitas di rumah, atau yang bekerja di luar rumah.


Konferensi Ibu Pembaharu

Mengusung tagline Dari Rumah untuk Dunia, Konferensi Ibu Pembaharu mengajak para ibu untuk dapat beraksi dari rumah. Mengembangkan diri, produktif dan menjadi berkualitas tidak mesti harus ke luar rumah, namun dari rumah pun bisa. Saya yang sangat sependapat dengan hal ini semakin jatuh cinta dengan komunitas Ibu Profesional. Saya merasa didukung, dipedulikan, diwadahi dan mendapat rangkulan bahwa ternyata saya tidak sendiri. 


Banyak sekali acara-acara seru yang semakin menggali potensi ibu dalam menyambut Konferensi Ibu Pembaharu. Salah satu adalah tulisan saya ini, yang tertuang berkat Sayembara Catatan Perempuan #darirumahuntukdunia. Membaca tema-tema seputar ibu dan mengubah masalah menjadi tantangan sebagai topik utama yang dibahas, sangat memacu semangat saya untuk saling berbagi dengan sesama ibu, sekaligus menerima sugesti positif dari komunitas Ibu Profesional sebagai penyelenggara, meski baru saja saya pelajari.


Nah, bagi kalian yang ingin menjadi sosok Ibu Profesianal dan Ibu Pembaharu, buruan daftar dalam komunitas dan ikuti acaranya. Saya juga sudah mendaftar di website dan siap bergabung lebih lanjut dengan penuh semangat dalam program lainnya.




Kesimpulan

Bagi saya, semua ibu memiliki kesempatan yang sama untuk sukses. Terlepas dari apa latar belakang kehidupannya, aktivitas kesehariannya dan tidak peduli apakah ia seorang ibu rumah tangga atau ibu bekerja. Ibu mampu menjadi profesional dengan cara yang mungkin tidak akan sama. Bidang yang ditekuni pun bisa jadi berbeda. Namun yang pasti, jangan pernah puas menjadi ibu yang biasa-biasa saja, karena disadari atau tidak, hidup memberikan segala yang kita butuhkan untuk menaklukkan impian.


Prosesnya tentu tidak instan. Butuh komitmen dan konsistensi agar apa yang menjadi tujuan bisa dicapai. Target-target penting dibuat agar tidak lepas kendali dan mengikuti emosi sesaat yang kadang menyesatkan ketika tantangan menerjang. Cari pula lingkungan positif yang mampu memberi semangat, dukungan, ilmu dan apresiasi sehingga ibu tidak lagi merasa sendiri. 


Ibu, berdaya dan berkaryalah dari mana saja!


Semoga bermanfaat.



No comments:

Post a Comment

Sebelum komentar, login ke akun Google dulu ya teman-teman. Jangan ada "unknown" diantara kita. Pastikan ada namanya, biar bisa saling kenal :)