Tetap SADARI! Ibu Menyusui dan Pernah Menyusui Masih Berpotensi Terkena Kanker Payudara

SADARI kanker payudara

"Bukannya ibu menyusui itu bebas dari kanker payudara, ya? Kok temanku yang sedang menyusui bisa kena?

"Ya bisa lah! Kanker itu multifaktor." 


Kira-kira begitulah percakapan bersama adik saya waktu itu. Kebetulan ia seorang dokter, jadi saya sering sekali bertanya seputar masalah kesehatan padanya. Termasuk ketika saya melihat unggahan seorang teman lama yang membagi foto hasil kemoterapi kanker payudara hingga kukunya menghitam. Kok bisa? Padahal saya tahu bahwa ia sedang menyusui saat terakhir kali kami saling menyapa. 


Jawabannya sudah jelas, ibu menyusui pun bisa terkena kanker payudara karena penyebab kanker yang multifaktor. Ternyata anggapan saya selama ini keliru, menganggap dengan menyusui bisa terbebas dari serangan kanker payudara selamanya. Apalagi bagi saya yang sudah menyusui dua anak, masing-masingnya lebih dari satu tahun. Namun fakta bahwa potensi itu masih ada, menjadikan saya kembali waspada. Bukannya menakut-nakuti, bukankah lebih baik bila kita tetap peduli?




Mereka yang Berjuang Melawan Kanker Payudara

Pejuang kanker payudara
Pejuang kanker payudara di sekitar kita | Foto: freepik.com

Sejak mengetahui cerita nyata teman yang terkena kanker payudara, saya menjadi lebih aktif mencari artikel terkait penyakit ini. Saya sadar bahwa menanyakan secara detail apa yang dialaminya, gejala apa yang ia rasakan atau pengobatan apa yang sedang dijalankan bukanlah hal tepat. Makanya saya memutuskan untuk membaca kisah-kisah serupa yang ternyata banyak tersebar di Internet.


Kasus ibu menyusui yang terkena kanker payudara pernah beberapa kali diulas dalam situs kesehatan dan parenting. Beberapa di antaranya bermula ketika menyadari bahwa benjolan yang ada di payudara bukanlah gumpalan ASI. Selama masa menyusui, payudara memang sering membengkak atau terdapat benjolan karena ASI, namun benjolan yang disebabkan oleh kanker payudara berbeda. Parahnya, ada yang tidak merasakan sakit sama sekali ketika dokter menyatakan bahwa kanker sudah memasuki stadium 3B.


Kisah teman saya yang berjuang melawan kanker payudara ketika masih berusia di bawah 30 tahun bukanlah kejadian nyata pertama yang saya saksikan. Bila ia terkena kanker ketika menyusui, ibu dari dua orang teman saya di kantor juga mengalami kanker payudara, padahal dulunya pernah menyusui beberapa anak. Berbeda keadaanya dengan ibu menyusi yang lebih sering memperhatikan keadaan payudara, ibu yang sudah tidak lagi menyusui tentu lebih jarang mengamati kondisi payudaranya. Sehingga menyadari kehadiran kanker setelah memasuki stadium lanjut.


Menyaksikan tiga orang yang terkena kanker payudara meski mereka sedang menyusui atau pernah menyusui, semakin membuktikan bahwa saya dan ibu-ibu lainnya masih memiliki potensi kanker.
 

Selama menjalani pengobatan, yang pastinya tidak sebentar, banyak rasa sakit yang mereka rasakan. Saya memang tidak mendengar dan melihat langsung apa yang dikeluhkan, namun saya bisa melihat bagaimana reaksi orang-orang terdekat mereka. Dari fisik sudah jelas bahwa kemoterapi membuat tubuh melemah, sakit dan serba tidak nyaman. Mental pun juga diuji, bagaimana beratnya meninggalkan anak yang masih membutuhkan ibunya, biaya perawatan, keluarga yang mendampingi dan kecemasan bila tiba-tiba kondisi tubuh drop mendadak. Yang lebih membuat hati saya perih adalah ketika ketiga pejuang itu ditakdirkan menemui Sang Pencipta karena kanker sudah sangat luas menyebar. . 


Merinding. Menggali ingatan itu kembali membuat saya semakin takut dengan kanker payudara. Wajar dianggap momok bagi wanita. Bukan hanya penyebabnya saja yang multi-faktor, namun akibatnya juga multi-faktor. Terutama bagi ibu yang masih menyusui, sudah pasti ada bayi yang harus dipikirkan masa depannya. Saya yang masih mengasuh dua anak kecil sangat mengerti bagaimana pilunya ketika tidak bisa hadir sepenuhnya dalam kehidupan anak. Sudah jelas, kita sebagai ibu menyusui atau pernah menyusui harus tetap waspada dengan potensi kanker payudara!



Menyusui Mengurangi Risiko, Bukan Menghilangkan Risiko

Menyusui menurunkan risiko kanker payudara
Ibu menyusui dan pernah menyusui tetap memiliki risiko kanker payudara | Foto: freepik.com
Kabar baiknya, menyusui memang terbukti dapat menurunkan risiko kanker payudara. Hasil maksimalnya akan terasa bila menyusui lebih dari satu tahun. Bahkan perempuan yang memiliki riwayat keturunan kanker payudara juga bisa menurunkan risiko hingga 60% sebelum menopause (jurnal Archives of Internal Medicine). 

Kenapa sih menyusui dapat menurunkan risiko kanker payudara?

Pertama, menyusui mengakibatkan perubahan hormon pada tubuh ibu yang dapat menunda periode menstruasi. Makanya menyusui dianggap sebagai KB alami. Semakin jarang tubuh mengalami masa ovulasi, maka berkurang pula produksi hormon estrogen, dimana hormon ini merupakan salah satu penyebab berkembangnya sel kanker.

Kedua, menyusui membuat payudara lebih fokus memproduksi ASI sehingga dapat menghambat perkembangan sel-sel yang bersifat merusak. Kemungkinan berkembangnya sel kanker akan semakin kecil.

Ketiga, menyusui meningkatkan kesadaran ibu untuk menjaga pola makan. Apa yang dikonsumsi ibu akan mempengaruhi kandungan ASI. Semakin sehat makanan dan kondisi fisik ibu, maka semakin baik pula produksi ASI. Tubuh yang menjalani pola hidup sehat tentu memiliki imunitas lebih baik untuk melawan sel kanker.


Sayangnya, menurunnya risiko ini bukan berarti menghindari 100%. Fakta lain menyatakan bahwa setidaknya 3% dari penderita kanker payudara adalah ibu menyusui. Termasuk teman saya yang mengalaminya ketika menyusui dan ibu dari dua teman saya yang dulunya juga menyusui. Jadi jangan terpedaya dengan artikel yang menuliskan menyusui menghindari ibu dari kanker payudara. Nyatanya masih ada ibu menyusui yang menderita kanker payudara. Walau risikonya dapat diperkecil, namun  ibu menyusui masih berpotensi.



Ketahui Ancaman Kanker Payudara

Mayoritas penderita kanker payudara adalah wanita
Tingginya angka penderita kanker payudara wanita di Indonesia (Globocan 2020) | Diagram: gco.iarc.fr
Berdasarkan data Globocan 2020, penderita kanker payudara di Indonesia mencapai 65.858 kasus atau sekitar 16,6% dari total keseluruhan kasus kanker di Indonesia. Mirisnya, semua penderita berjenis kelamin perempuan. Bila mengacu pada Global Burden of Cancer Study, jumlahnya malah lebih besar lagi, yaitu mencapai 69 ribu kasus kanker payudara pada tahun 2020. Ini menjadikan kanker payudara sebagai kasus kanker dengan pertumbuhan tertinggi dan menempati posisi nomor satu dengan jumlah kematian tertinggi. 

Bagaimana kanker bisa terbentuk?


Tubuh manusia memiliki organ-organ yang terbentuk dari kumpulan sel. Sel ini akan tumbuh, membelah hingga sampai ke titik henti, lalu mati dan digantikan oleh sel baru. Bila terdapat sel yang terpicu untuk terus tumbuh lalu menumpuk, inilah yang dikatakan tumor. Tumor bisa saja terus membesar dan bila tidak segera ditangani akan mengganggu fungsi organ tubuh yang lain


Namun tidak semua tumor dapat berkembang menjadi kanker. Tumor ini akan menjadi kanker bila terjadi mutasi dalam DNA sel atau sel. Belum diketahui penyebab pasti kenapa mutasi ini bisa terjadi. Ada yang disebabkan oleh keturunan genetik dan ada pula yang terjadi karena faktor lingkungan.


Kanker payudara terjadi karena pertumbuhan sel-sel ganas (kanker) yang terdeteksi dalam jaringan payudara. Biasanya muncul pada duktus (pembuluh) atau lobulus (kelenjar yang menghasilkan ASI) di payudara. 


Kanker payudara lebih banyak dialami wanita dari pada pria. Meski semua berisiko, namun kelompok wanita berikut memiliki risiko lebih tinggi terkena kanker payudara.

  1. Berusia lebih dari 50 tahun Wanita berusia lebih dari 50 tahun tercatat sebagai penyumbang banyak kasus kanker payudara.
  2. Keturunan. Bila terdapat keluarga kandung yang mengalami kanker payudara atau ovarium, maka risiko terkena kanker payudara akan semakin tinggi.
  3. Pernah mengidap kanker payudara sebelumnya. Bila pernah mengidap kanker payudara sebelumnya dan dinyatakan sembuh, maka peluang kanker untuk tumbuh kembali di bagian lain pada payudara yang sama atau payudara yang satunya akan semakin besar.
  4. Paparan radiasi. Wanita yang pernah terkena radiasi tinggi, terutama pada bagian dada, akan meningkatkan risiko kanker payudara. Apalagi radiasi didapatkan pada saat remaja. 
  5. Paparan estrogen. Semakin lama tubuh terpapar hormon estrogen, maka semakin tinggi pula risiko terkena kanker payudara. Seperti wanita yang mengalami menstruasi pertama di bawah usaia 12 tahun, melahirkan anak pertama setelah umur 35 tahun, menopause pada usia di atas 55 tahun, tidak pernah hamil atau tidak pernah menyusui.
  6. Kelebihan berat badan. Bila mengalami obesitas, terutama setelah menopause, maka akan menaikkan risiko kanker payudara. Jaringan lemak adalah sumber utama estrogen, maka lemak yang banyak akan meningkatkan jumlah hormon estrogen. Namun bila obesitas terjadi sejak masih kanak-kanak, maka tidak akan berpengaruh.
  7. Pernah mengalami kanker lainnya. Wanita yang pernah mengalami kanker ovarium, usus besar atau endometrium lebih mungkin terkena kanker payudara dari pada yang tidak pernah mengalaminya.
  8. Gaya hidup tidak sehat. Wanita yang sering mengonsumsi alkohol, merokok, banyak memakan makanan berlemak dan malas berolahrga akan membuka peluang lebih besar terkena kanker payudara.

Bila dilihat dari kelompok perempuan yang dinyatakan berisiko lebih tinggi terkena kanker payudara, mungkin ibu menyusui bisa sedikit berlega hati. Satu poin yang menyatakan paparan hormon estrogen yang lebih lama akan berkurang selama ibu hamil dan menyusui. Namun ada banyak faktor lain yang mesti diperhatikan. Terdapat faktor usia yang menandakan bahwa pada usia lebih dari 50 tahun, meski pernah menyusui, ibu tetap berisiko. Apalagi ditambah bila ibu memiliki riwayat keturunan kanker, mengalami kenaikan berat badan berlebih dan tidak peduli dengan kesehatan tubuh. 


Makanya mulai sekarang, mari sama-sama kita sebagai ibu menyusui dan pernah menyusui, teruslah perhatikan sesering mungkin tentang apa yang terjadi pada tubuh, sekecil apa pun itu. Kanker payudara mungkin saja diawali dengan benjolan kecil tanpa rasa sakit. Jangan sampai kelengahan kita karena  proses menyusui yang meminimalkan risiko menjadi bumerang suatu saat nanti. 



Deteksi Dini adalah Kunci

Deteksi dini kunci kesembuhan penderita kanker payudara
Pemeriksaan rutin dapat mendeteksi kanker payudara lebih dini | Ilustrasi: diolah dari freepik.com
Payudara merupakan bagian tertutup wanita, tentu menjadi area pribadi yang hanya bisa diamati oleh wanita itu sendiri. Menyadari akan hal ini, SADARI atau Periksa Payudara Sendiri tak hentinya dikampanyekan secara masif di tengah masyarakat sebagai salah satu cara efektif untuk mendeteksi dini kanker payudara. 

Sebelumnya, agar dapat membedakan mana kondisi yang mengarah kepada kanker payudara, tentu kita semua harus mengetahui dengan jelas gejala apa saja yang dinyatakan sebagai tanda peringatan kanker payudara.


1. Terdapat benjolan

Terkadang benjolan ini tidak terlihat langsung, namun akan terasa ketika disentuh. Benjolan mungkin juga tidak disertai rasa sakit. Benjolan inilah yang sering dianggap ibu menyusui sebagai penumpukan ASI, padahal bukan.


2. Gatal di sekitar puting

Gatal ini terjadi terus menerus yang tidak disebabkan oleh alergi bahan bra atau ketidakbersihan tubuh. 


3. Pendarahan atau keluar cairan yang tidak biasa dari puting

Cairan yang keluar biasanya berwarna coklat kemerahan seperti darah. Warna ini tentu berbeda sekali dengan ASI. Namun ibu juga harus mampu membedakan, terkadang lecet parah pada puting karena pelekatan mulut bayi yang tidak sempurna juga bisa mengeluarkan darah. 


4. Kulit payudara berubah

Kulit di sekitar payudara menebal atau berkerut dan berlubang kecil seperti kulit jeruk. Sayangnya perubahan kulit ini sering dianggap sebagai iritasi atau infeksi biasa. Padahal tidak seperti itu.


5. Puting tertarik ke dalam

Sel kanker dapat mengubah struktur sel di belakang puting, sehingga puting akan tertarik ke dalam. Namun terkadang ibu menyusui juga bisa mengalami puting terbalik atau masuk ke dalam karena faktor hormonal, bukan karena kanker. Kembali dibutuhkan kepekaan ibu untuk membedakannya. 


SADARI dapat membantu ibu untuk memeriksa kondisi payudara secara mandiri di rumah untuk memperhatikan apakah ada gejala kanker payudara yang terlihat atau teraba. SADARI sangat penting dilakukan secara berkala agar saat gejala ditemukan, bisa segera dikonsultasikan ke dokter.  Berikut langkah-langkah melakukan SADARI yang sesuai dengan anjuran kesehatan.

Langkah-langkah SADARI (Periksa Payudara Sendiri))

Selain itu, dianjurkan pula untuk melakukan SADANIS, yaitu Periksa Payudara Klinis, oleh tenaga kesehatan. Walau SADARI terkesan lebih praktis, namun tetap saja ada kekurangannya. Tidak semua wanita benar-benar profesional dalam memeriksa. Pilihlah fasilitas kesehatan yang memiliki petugas kesehatas terlatih dan kompetern serta sarana dan prasarana yang memadai. Seperti bidan desa, puskesmas, rumah bersalin atau rumah sakit.


Pada pemeriksaan klinis, petugas kesehatan akan melakukan pemeriksaan secara langsung sesuai dengan sistematika medis. Bila terdeteksi ada gejala kanker payudara, baik itu benjolan, perubahan kulit yang tidak wajar atau bentuk puting yang tidak normal, maka akan disarankan untuk melakukan skrining berikut.

Mamografi. Area payudara akan dirontgen untuk mendeteksi perubahan, seperti kepadatan payudara yang tidak normal.

USG (Ultrasonografi). Area mencurigakan yang terbaca pada pemeriksaan mamografi dapat dilihat lebih detail dengan USG. Sehingga dapat dibedakan antara massa padat yang kemungkinan adalah kanker atau hanya kista biasa yang bukan kanker.

MRI (Magnetic Resonance Imaging). Terkadang beberapa pasien memerlukan MRI untuk memeriksa area payudara yang terdeteksi bergejala. MRI sangat berguna pada wanita muda karena masih memiliki kepadatan jaringan payudara serta mamografi atau USG masih kurang sensitif dan spesifik untuk mendeteksi kanker tersebut.

SADARI dan SADANIS dilakukan setiap hari ke-7 hingga ke-10 dihitung mulai dari hari pertama haid. Bila tidak mengalami haid teratur, seperti pada ibu menyusui atau wanita yang sudah menopause, lakukanlah setiap bulan di tanggal yang sama.  Pada rentang umur tertentu juga direkomendasikan untuk melakukan skrining berjadwal.

39 tahun ke bawah : Pemeriksaan payudara secara bulanan

40 sampai 49 tahun : Pemeriksaan payudara secara bulanan dan skrining tahunan mamografi 1 kali dalam 1-2 tahun

50 tahun keatas : Pemeriksaan payudara secara bulanan dan satu kali mamografi skrining per tahun


Semakin dini kanker terdeteksi, maka semakin besar pula kemungkinan sembuhnya. Bahkan waktu pendeteksian menjadi kunci dari kelangsungan hidup setelahnya. Penilaian diberikan berdasarkan luasnya penyebaran kanker, jadi semakin kecil penyebarannya, tentu semakin besar pula kesuksesan untuk mengobatinya. Terdapat empat tahap atau stadium penilaian kanker payudara yang harus diperhatikan oleh seluruh wanita agar lebih waspada.


Stadium 0

Kanker belum merusak jaringan di sekitarnya. Tingkat kelangsungan hidup 5 tahun rata-rata sangat tinggi, yaitu 99%.

Stadium 1

Disebut juga dengan stadium awal. Kanker sudah berpotensi menyebar ke jaringan sekitarnya namun masih kecil, kurang dari 2 cm serta tanpa menyebar ke kelenjar getah bening aksila (terletak di bawah lengan.). Tingkat kelangsungan hidup 5 tahun rata-rata masih tinggi, yaitu 90%.

Stadium 2

Penyebaran kanker sudah lebih besar, antara 2-5 cm dan/atau mengenai kelenjar getah mening terdekat. Tingkat kelangsungan hidup 5 tahun rata-rata menurun menjadi 70%.

Stadium 3

Disebut juga dengan kanker payudara stadium lanjut lokal. Penyebarannya lebih luas lagi, yaitu melebihi 5 cm. Sudah menjalar ke kulit atau beberapa kelenjar getah bening. Tingkat kelangsungan hidup 5 tahun rata-rata semakin menurun ke angka 40%.

Stadium 4

Disebut stadium akhir dan metastasis yang diartikan bahwa sel kanker sudah menyebar ke organ tubuh lain, bahkan menjalar hingga ke organ yang secara posisi jauh dari payudara. Bisa dikatakan bahwa kanker sudah mengancam jiwa. Tingkat kelangsungan hidup 5 tahun rata berada di angka 20%.


Merinding sekali membayangkan bila kanker payudara baru terdeteksi melewati stadium awal. Betapa hancurnya perasaan mengetahui kemungkinan hidup bisa dihitung dalam persentase. Makanya penderita kanker payudara, entah itu diketahui lebih awal atau sudah memasuki stadium lebih tinggi, tetap saja ada ketakutan hebat menggerogoti mental. 


Beruntungnya, teknologi kesehatan sudah semakin maju. Berbagai pengobatan kanker yang semakin berkembang menjadi harapan baru bagi penderita kanker payudara untuk memperbesar peluang sembuh. Saya pribadi lebih memilih mempercayakan berbagai pengobatan penyakit melalui medis. Kepastian yang dapat diberikan oleh ilmu kedokteran jauh lebih besar. 



Bolehkah Ibu Tetap Menyusui Bila Terkena Kanker Payudara? 

Ibu menyusui yang menderita kanker payudara
Bila terkena kanker payudara, butuh beberapa pertimbangan sebelum menyusui | Foto: freepik.com

Mengacu pada beberapa artikel kesehatan, sebenarnya ibu yang menderita kanker payudara bisa-bisa saja tetap memberikan ASI pada bayinya. Kanker payudara bukanlah penyakit menular melalui ASI dan mungkin saja kanker tidak tumbuh pada sel-sel atau jaringan yang memproduksi ASI. Sehingga ASI masih bisa diproduksi dengan baik dan dianggap terlalu merugikan bila sang anak tidak mendapatkan nutrisi terbaik dari ASI tersebut.


Meski diperbolehkan, ada kondisi tertentu yang menjadi pertimbangan. 


Ibu penderita kanker perlu mendapatkan pengobatan agar kanker tidak semakin menyebar. Bagaimanapun ibu juga mesti berjuang agar dapat menemani kehidupan anak. Proses pengobatan inilah yang bisa mempengaruhi ASI. Pertama, mengonsumsi obat-obatan yang nantinya akan mengalir dalam darah dan juga ASI. Efek dari obat ini tentu bisa membahayakan bayi bila terminum. Kedua, ibu mungkin juga akan mendapatkan terapi radiasi untuk mematikan sel-sel kanker. Sebenarnya ibu masih diperbolehkan menyusui meski sedang menjalani terapi radiasi. Namun umumnya radiasi akan mengurangi produksi ASI. Bila kondisi ibu melemah, maka produksi ASI juga akan berkurang. 


Sebaiknya ibu tetap berkonsultasi dengan dokter mengenai hal ini. Walau secara medis ibu masih memiliki kesempatan untuk tetap memberikan ASI selama menjalani pengobatan, namun tetap ada kondisi yang membahayakan. Tetap utamakan keadaan fisik ibu yang harus dijaga ketat agar dapat segera sembuh dan juga bayi yang sebaiknya juga mendapatkan nutrisi terbaik. Andai ASI tidak memungkinkan untuk diberikan, masih ada susu formula yang siap memenuhi kebutuhan bayi. 




Raih Kesembuhan dengan Metode Pengobatan Terkini 

Pengobatan medis sangat membantu kesembuhan kanker payudara
    Pengobatan medis sangat membantu kesembuhan kanker payudara | Foto: freepik.com

Pengobatan kanker payudara memberi peluang kesembuhan beragam, tergantung dengan kondisi kanker, sudah memasuki stadium berapa, bagaimana penyebarannya, usia penderita, apakah masih muda atau sudah menopause. Pengobatan kanker untuk ibu menyusui sama saja dengan pengobatan kanker pada penderita yang tidak menyusui. Namun apa pun itu, tetap ada metode pengobatan yang dapat dilakukan. Bisa dengan operasi, kemoterapi, radioterapi, terapi hormon atau kombinasi dari metode-metode tersebut.

Operasi atau Pembedahan

Banyak dari penderita kanker payudara yang menjalani operasi untuk mengangkat sel kanker. Jenis operasi yang dilakukan juga disesuaikan dengan ukuran kanker.  

Bedah Lumpektomi. Bedah ini mengangkat kanker dan sedikit jaringan di sekitarnya.  Lumpektomi disarankan bagi penderita yang ukuran kankernya masih kecil. Penderita dengan kanker yang lebih besar juga bisa melakukan bedah lumpektomi, asalkan harus didahului dengan kemoterapi untuk mengecilkan ukuran kanker. 

Bedah Kuadrantektomi. Bedah ini akan mengangkat lebih banyak jaringan, yaitu seperempat dari payudara.

Bedah Mastektomi. Bedah ini mengangkat seluruh payudara karena tidak bisa ditangani dengan kedua bedah sebelumnya. 


Penderita yang menjalani diantara ketiga pembedahan tersebut juga akan disertai dengan pengangkatan beberapa kelenjar getah bening di bawah ketiak pada bagian yang sama untuk diperiksa lebih lanjut.


Radioterapi

Radioterapi adalah metode untuk menghancurkan sel kanker dengan sinar berkekuatan tinggi yang ditembakkan ke tubuh penderita. Biasanya dilakukan setelah menjalani pembedahan. Ini dimaksudkan agar sel-sel kanker yang mungkin tertinggal bisa dimatikan. Terutama pasca bedah lumpektomi yang menyelamatkan sebagian besar payudara, radioterapi akan memperkecil kemungkinan kanker menyerang kembali. Bagi yang menjalani bedah mastektomi, umumnya tidak memerlukan radioterapi. Namun terkadang juga ada yang membutuhkannya untuk merawat dinding dada dan kelenjar getah bening di bawah ketiak bila risiko kekambuhannya tinggi.


Kemoterapi

Kemoterapi merupakan pemberian obat khusus melalui infus atau suntikan untuk membunuh sel kanker dengan cepat dalam siklus tertentu. Kemoterapi dapat dilakukan sebelum operasi dengan tujuan memperkecil ukuran kanker agar mudah diangkat. Bisa pula dilakukan setelah operasi untuk membunuh sel-sel kanker yang mungkin tertinggal, kanker berada di bagian tubuh lain atau kanker memiliki risiko tinggi untuh kambuh kembali.


Terapi Hormon

Terapi hormon dilakukan pada kanker payudara yang dipengaruhi oleh hormon estrogen dan progesteron. Terapi ini juga dapat dilakukan sebelum dan setelah operasi untuk mencegah kemunculan sel kanker, kanker yang kambuh kembali setelah pengobatan atau bila kanker sudah menyebar ke bagian tubuh lain. 


Terapi Target

Terapi target dapat menghambat pertumbuhan sel kanker pada area yang lebih spesifik. Berbeda denegan kemoterapi yang turut menghancurkan sel-sel sehat, terapi target hanya fokus pada sel kanker saja dan tidak akan merusak sel sehat. Terapi target dapat diberikan pada penderita stadium awal atau stadium lanjut.  Salah satu contohnya adalah dengan menghambat kinerja protein HER2, yaitu protein yang membuat sel kanker lebih agresif. Obat dapat disuntikkan atau diminum. 


Mengetahui berbagai metode pengobatan ini menunjukkan bahwa peluang kesembuhan itu selalu terbuka. Demi mendapatkannya, penderita tidak bisa hanya berpasrah tanpa upaya. Jangan sia-siakan teknologi kesehatan, manfaatkanlah semaksimal mungkin agar dapat kembali pulih.


Selain pengobatan medis, penderita kanker juga butuh dukungan dari orang terdekat. Suami, orang tua, anak, bahkan teman dan kerabat. Kehidupannya akan terasa berarti bagi orang lain sehingga memancing semangat untuk terus berusaha melakukan yang terbaik demi kesembuhannya. Penderita kanker payudara juga harus banyak belajar mengenai penyakit ini agar semakin yakin untuk melakukan pengobatan yang disarankan petugas kesehatan, serta untuk mengetahui peluang hidup sebagai sumber harapan supaya tetap optimis. 


 

Apa Upaya yang Bisa Dilakukan untuk Menurunkan Risiko Kanker Payudara?

Hindari risiko kanker payudara
Beberapa faktor pemicu kanker payudara dapat dihindari | Foto: freepik.com

Beberapa faktor pemicu yang meningkatkan risiko kanker payudara mungkin tidak bisa dihindari. Misalnya faktor keturunan, haid yang datang pada usia lebih muda atau menopause di usia yang lebih tua. Namun masih ada faktor pemicu yang sebenarnya dapat dihindari dengan melakukan beberapa upaya berikut ini.


1. Gaya Hidup Sehat

Banyaknya faktor yang bisa memicu kanker payudara, menjalani gaya hidup sehat tentu menjadi cara pertama yang paling dianjurkan agar tubuh memiliki daya tahan tubuh yang baik. Bukan hanya untuk menurunkan risiko kanker payudara saja, gaya hidup sehat ini juga akan menurunkan risiko penyakit lainnya. Makanlah makanan bergizi seimbang, bersih dan bebas bahan-bahan berbahaya. Imbangi juga dengan olahraga teratur agar metabolisme tubuh bekerja dengan baik. Penting menghindari minuman beralkohol dan rokok, karena keduanya akan meningkatkan peluang terkena kanker. Jangan abaikan waktu istirahat dengan tidur sesuai jamnya. Ibu menyusui yang menjalani gaya hidup sehat seperti ini malah dapat memberi menfaat lebih, yaitu untuk dirinya sendiri dan bayi yang sedang disusui.


2. Jaga Berat Badan

Banyak lemak berarti banyak hormon estrogen. Semakin banyak hormon estrogen maka semakin terpicu pula sel kanker tumbuh dalam tubuh. Makanya penting sekali menjaga berat badan ideal untuk menurunkan risiko kanker. Lalu bagaimana dengan ibu menyusui yang biasanya lebih banyak makan karena butuh nutrisi ekstra untuk memproduksi ASI? Sebenarnya menyusui itu sendiri sudah bisa menurunkan berat badan ibu secara perlahan. Namun kembali lagi ke gaya hidup sehat, ibu menyusui juga harus memilih makanan sehat tinggi serat dan berolahraga agar berat badan bisa turun kembali setelah melahirkan.


3. Penuhi Masa Menyusui

Wanita yang baru melahirkan memiliki kesempatan emas untuk menyusui bayinya. Upayakan agar dapat menyusui bayi secara teratur hingga 2 tahun agar manfaat menyusui yang dapat menurunkan risiko kanker payudara bisa didapatkan dengan maksimal. Anak sehat, ibu juga sehat. Tidak ada salahnya terus berjuang menyusui untuk semua anak yang dilahirkan. Semakin lama menyusui tentu semakin baik.


4. Hindari Paparan Hormon Pemicu dan Radiasi

Perlu disadari bahwa beberapa yang kita anggap biasa, terkadang dapat meningkatkan hormon estrogen dalam tubuh. Misalnya memilih KB hormonal berupa pil KB atau suntik KB. Wanita usia menopause juga kerap melakukan terapi hormon untuk mengurangi gejala-gejala yang membuat tubuh tidak nyaman. Sayangnya terapi hormon ini dapat menimbulkan efek jangka panjnag, termasuk meningkatkan risiko kanker payudara. Alangkah lebih baik bila terapi yang dapat meningkatkan kadar hormon estrogen ini dipikirkan dengan matang, atau apabila benar-benar dibutuhkan, konsultasikanlah dengan dokter apakah kadarnya bisa dikurangi. 


5. Hindari Stres

Semua penyakit berasal dari pikiran. Ternyata ungkapan ini memang terjadi dan ada penjelasan ilmiahnya. Contoh yang paling sering kita rasakan sebagai bukti bahwa pikiran dapat memengaruhi kondisi fisik adalah jantung yang berdebar kencang ketika cemas, keringat bercucuran ketika takut, bahkan bisa sakit kepala bila terlalu banyak pikiran. Terkadang tubuh yang sehat bisa saja terasa sakit dan sakit ringan bisa menjadi berkali-kali lebih sakit hanya karena kondisi pikiran yang tidak baik. Maka dari itu, jagalah kesehatan mental dan penuhi kebutuhan mental tersebut agar tidak sampai merusak tubuh secara fisik.


6. Wajib Periksa Payudara 

Lakukan SADARI setiap bulan di rumah. Hanya butuh waktu beberapa menit dan sekali sebulan pula. Tidak ada biaya yang mesti dikeluarkan alias gratis. Meski dilakukan sendiri dan hanya sebentar, manfaatnya sangat besar untuk mendeteksi kanker payudara lebih dini. Penting pula melakukan SADANIS sesuai jadwal yang dianjurkan agar pemeriksaan lebih akurat. Jangan pernah malu untuk segera mendatangi fasilitas kesehatan bila terjadi perubahan payudara sekecil apa pun itu. Jangan pernah pula meremehkan perubahan tersebut meski kadang tidak menimbulkan rasa sakit atau ukuran benjolan yang dirasakan sangat kecil. Semakin lama dibiarkan, maka semakin meningkat pula risiko kanker yang mungkin disebabkan oleh hal kecil yang diabaikan tersebut.


Menghindari faktor pemicu kanker yang menyangkut dengan gaya hidup dan kebiasaan tentu butuh waktu dan konsistensi. Tidak bisa hanya dilakukan sesaat saja, namun harus terus berlanjut. Makanya terkadang banyak yang menyerah karena menganggap hal ini terlalu sulit. Nah, lagi-lagi di sini juga terdapat kelebihan ibu menyusui yang kemungkinan akan lebih mampu untuk mengubah kehidupannya menjadi lebih baik dalam hal apa pun apabila menyangkut kehidupan bayi. Pakailah momen ini sebagai waktu yang tepat untuk menghindari faktor pemicu kanker payudara agar nanti terbiasa dengan sendirinya walau masa menyusui selesai.



Kesimpulan

Bulan Oktober diperingati sebagai bulan kesadaran kanker payudara. Data membuktikan bahwa wanita adalah penderita mayoritas kanker payudara. Di Indonesia sendiri, pertumbuhan kasus baru terus meningkat dengan angka kematian yang tinggi. Ibu menyusui dan pernah menyusui pun juga tak luput dari ancaman kanker payudara ini. Menyusui memang dapat menurunkan risiko kanker payudara, namun tetap saja menurunkan risiko bukan berarti menghilangkan risiko 100%.


Mengingat keberhasilan pengobatan dan persentase kelangsungan hidup penderita kanker payudara yang ditentukan oleh kondisi kanker ketika terdeteksi, maka perlu dilakukan pemeriksaan secara rutin agar dapat mengetahui keberadaan kanker secepat mungkin. SADARI dan SADANIS adalah pemeriksaan praktis yang sangat dianjurkan. Semakin cepat dideteksi, maka semakin cepat pula ditangani, sehingga peluang untuk sembuh semakin besar karena kanker belum menyebar. Metode pengobatan medis pun sudah semakin canggih, dapat menjadi harapan kesembuhan baru bagi penderita kanker payudara.


Bila bukan diri sendiri yang peduli akan kondisi tubuh, termasuk payudara, siapa lagi? Hindarilah beberapa faktor pemicu dengan upaya untuk selalu bergaya hidup sehat. Terkhusus ibu menyusui, jadikan anugerah menyusui sebagai waktu paling tepat untuk mengubah kebiasaan agar lebih sehat dan susuilah anak hingga masa menyapih tiba. 


Kemeterian Kesehatan Republik Indonesia berpesan:

Sekecil apapun benjolan yang ditemukan, segera konsultasikan diri Anda ke Dokter. Menunda berarti memberi kesempatan sel kanker berkembang dan mengurangi kesempatan untuk sembuh.


Ayo, tunjukkan kepedulian terhadap kanker payudara! 



Referensi:

Benarkah Menyusui dapat Melindungi Wanita dari Kanker Payudara?. Tautan: https://health.kompas.com/read/2020/08/06/180400568/benarkah-menyusui-dapat-melindungi-wanita-dari-kanker-payudara-?page=all

Bolehkah Menyusui Bayi saat Terkena Kanker Payudara?. Tautan: https://www.popmama.com/pregnancy/birth/rindi-1/bolehkah-menyusui-bayi-saat-terkena-kanker-payudara/

https://gco.iarc.fr/

http://p2ptm.kemkes.go.id/

Ini Dia 6 Gejala Kanker Payudara yang Sering Diabaikan. Tautan: https://www.halodoc.com/artikel/gejala-kanker-payudara-yang-sering-diabaikan

Kanker Payudara. Tautan: https://ahcc.co.id/cancer/kanker-payudara

Kanker Payudara. Tautan: https://www.sehatq.com/penyakit/kanker-payudara

Kelompok Wanita yang Berisiko Tinggi Alami Kanker Payudara. Tautan: https://www.halodoc.com/artikel/kelompok-wanita-yang-berisiko-tinggi-alami-kanker-payudara

Mitos atau Fakta, Semua Orang Punya Sel Kanker?. https://health.kompas.com/read/2020/02/08/073000268/mitos-atau-fakta-setiap-orang-punya-sel-kanker-?page=all

Pengobatan Kanker Payudara. Tautan: https://www.alodokter.com/kanker-payudara/pengobatan



2 comments:

Sebelum komentar, login ke akun Google dulu ya teman-teman. Jangan ada "unknown" diantara kita. Pastikan ada namanya, biar bisa saling kenal :)