Belajar Banyak dari Penanaman Mangrove di Pulau Tidung, Kepulauan Seribu

No comments

Menurut penelitian, satu pohon mangrove mampu menyerap gas CO2 4-5 kali lebih banyak dari pohon biasa. Dan Indonesia sendiri, memiliki hutan mangrove terluas di dunia! 


Bisa dibilang saya buta tentang mangrove. Ini pengalaman pertama saya mengikuti kegiatan penanaman mangrove secara langsung. Semua edukasi yang disampikan menjadi pengetahuan baru bagi saya. Mulai dari apa itu mangrove, fungsi apa yang dimiliki mangrove, sampai-sampai menjadi target konservasi untuk mencegah perubahan iklim, hingga proses penanaman mangrove di pesisir pantai. 


Penanaman 1000 Mangrove di Pulau Tidung
Penanaman 1000 Mangrove di Pulau Tidung Besar -  Bloggercrony Community x Yayasan Mangrove Indonesia Lestari

Tidak menyangka pengajuan diri saya menjadi perwakilan Bloggercrony Community dalam kegiatan penanaman 1000 mangrove di Pulau Tidung, Kepulauan Seribu, diterima dan memberi kesempatan luar biasa untuk belajar banyak tentang mangrove. Bersama empat blogger perwakilan lainnya, saya semakin exited karena ini juga merupakan offline event pertama saya bersama komunitas blogger. Daebak!


Kegiatan yang dilaksakanan pada 19 Maret 2022 ini didampingi oleh Mangrove Jakarta yang kini sudah menjadi Yayasan Mangrove Indonesia Lestari, yaitu yayasan yang fokus memberi edukasi terkait mangrove, serta konsisten melakukan penanaman mangrove di beberapa titik di Jakarta dan sekitarnya. Setelah dua tahun berdiri, Yayasan Mangrove Indonesia Lestari telah menerima penghargaan The Best Campaigner 2021 Kita Bisa Hero dan Community of the Year 2021 dari Indonesia Prestige Award. 


Selain itu, juga didukung oleh BEM FT UI, KAPA UI dan Pusan Budidaya dan Konservasi Laut (BPKL) - Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (DKPKP) DKI Jakarta.


Nah, sudah terbayang kan bagaimana "dagingnya" kegiatan penanaman mangrove ini? Kami dibekali pengetahuan tentang mangrove dengan cara yang seru. Jadi lebih gampang dicerna, diingat dan bagi saya pribadi, semakin menyadarkan bahwa ternyata semua orang bisa loh turut aktif dalam pelestarian lingkungan.



Perjalanan ke Pulau Tidung

Perjalanan ke Pulau Tidung
Perjalanan ke Pulau Tidung dengan kapal selama 2,5 jam

Mengingat waktu tempuh dari Pelabuhan Kali Adem Muara Angke ke Pulau Tidung memakan waktu kurang lebih 2,5 jam, maka kami diminta sampai di lokasi pukul 7 pagi. Sebelumnya ada Kak Bowo dari Bloggercrony yang mengantar sampai ke pelabuhan, kemudian disambut oleh Yayasan Mangrove Indonesia Lestari untuk pendampingan selanjutnya.


Kapal kami berangkat jam 8. Kembali untuk pertama kalinya saya menaiki kapal berukuran sedang seperti ini. Memilih duduk lesehan di bagian atas agar lebih bebas menikmati pemandangan laut. Di sinilah kami berkenalan lebih dekat satu sama lain. Baik itu saya dengan teman-teman Bloggercrony dan juga teman-teman dari Yayasan Mangrove Indonesia Lestari. 


Ada satu momen menarik. Sebagai pemecah kebosanan, perbincangan ringan mengenai mangrove memberi pelajaran pertama untuk saya. Sekaligus membuktikan bahwa ilmu saya tentang mangrove benar-benar dangkal. 


"Mangrove itu bakau bukan, sih?"

Pertanyaan yang spontan saya ungkapkan. Selama ini yang saya tahu mangrove itu ya bakau. Pohon dengan akar menjulang yang hidup di pinggir pantai. Itu pun hanya saya lihat dari balik layar. Belum pernah secara langsung. Padahal saya berasal dari Padang, yang secara geografis memiliki bibir pantai yang lumayan panjang. 


Ternyata itu keliru, guys! Bayu Pamungkas, Co-Founder Yayasan Mangrove Indonesia Lestari dan teman-teman blogger yang kebetulan juga sudah paham, menjelaskan bahwa mangrove dan bakau itu tidak sama, walau saling terkait. Jadi, mangrove merupakan nama kelompok tumbuhan yang hidup di sekitar garis pantai, dan bakau adalah salah satu jenisnya. 


Hayo, siapa yang baru tahu juga? 


***


Next, akhirnya kami sampai di Pulau Tidung. Meski agak jauh dari pusat Jakarta, di sana sudah padat penduduk. Spesialnya, kedatangan kami disambut oleh penduduk lokal dengan pertunjukan rebana. Mungkin karena Pulau Tidung memang merupakan tujuan wisata. 


Namun ada pemandangan yang menampar saya begitu keras. Air laut jernih yang pastinya tidak akan saya lihat di pantai Jakarta, dicemari oleh banyak sekali sampah. Awalnya saya menganggap bahwa penduduk pulau lah penyebabnya. Tapi lagi-lagi saya salah. Ini adalah bukti nyata bahwa sampah yang dibuang sembarangan oleh warga luar pulau, hanyut dan berkumpul di sini. Miris sekali, bukan?


Pencemaran laut oleh sampah
Banyaknya sampah yang mencemari laut di sekitar Pulau Tidung

Sampah-sampah ini juga merupakan salah satu musuh besar mangrove. Sampah membuat media tumbuh mangrove tidak lagi bernutrisi baik, sehingga pertumbuhannya tidak optimal atau bisa jadi gagal tumbuh. Apalagi kalau sampah sampai menyangkut di bibit-bibit yang baru ditanam, tentu semakin mempermudah bibit tersebut hanyut terbawa arus laut. 


Please, jangan lagi buang sampah sembarangan, ya. Ini juga pengingat bagi diri saya sendiri agar lebih bisa diet sampah. Siapa tahu dari sampah yang mengambang tersebut, ada salah satu sampah plastik yang dihasilkan tangan kita. 



Sesi Edukasi Mangrove

Sebelum lanjut ke acara inti, kami menuju ke penginapan dulu dan makan siang. The best lah pokoknya Yayasan Mangrove Indonesia Lestari. Saya dan teman-teman BCC Squad merasa sangat dihargai dan jelas sekali bahwa event yang di-handle telah dipersiapkan dengan matang dan profesional.


Sesi edukasi mangrove
Sesi edukasi terkait mangrove oleh Yayasan Mangrove Indonesia Lestari

Setelah mengisi tenaga, kami tidak langsung ke lokasi. Paundra Hanutama selaku Founder Yayasan Mangrove Indonesia Lestari mengawali dengan sambutan. Dilanjutkan lagi untuk sesi edukasi oleh Kak Bayu. Jadi kami tidak dibiarkan ujug-ujug langsung praktik menanam bibit mangrove, tapi dibekali dulu dengan ilmu.


Sudah tahu belum, kalau Indonesia memiliki hutan mangrove terbesar di dunia, yaitu lebih dari 3 juta hektar atau sekitar lebih dari 20% dari total luas dunia! Rasanya tidak berlebihan menilai Indonesia sebagai wilayah strategis konservasi mangrove dan memberi peran besar dalam mencegah terjadinya pemanasan global. Mangrove di Indonesia pun beragam jenisnya, sehingga tak jarang menarik perhatian para peneliti dunia. 


Selain daya serap CO2-nya yang tinggi, mangrove juga memiliki berbagai peran penting dalam kelestarian lingkungan. 

  1. Sebagai tempat hidupnya biota laut dan darat. Contohnya kakap merah, bandeng, kepiting, udang dan menjadi tempat ikan-ikan bertelur juga. Bila dikaitkan dengan rantai makanan, tentu akan berkesinambungan hingga mencapai biota laut terbesar. Lalu hidup juga monyet ekor panjang, ular, burung, serangga dan masih banyak lagi. 
  2. Pencegah abrasi atau pengikisan pantai. Mangrove dengan akar-akarnya yang kokoh bisa memecah ombak sehingga memperkecil energinya untuk mengikis pantai secara perlahan. Bayangkan bila pantai ini terus terkikis, bisa-bisa banyak nelayan yang mengungsi, jalan-jalan pinggir pantai terancam dan pastinya daratan semakin menyempit.
  3. Lokasi ekowisata mangrove. Mungkin teman-teman sudah ada yang datang ke objek wisata hutan mangrove. Rindang, tenang dan punya nuansa tersendiri. Adanya ekowisata mangrove sangat menguntungkan secara finansial. Banyak warga sekitar yang bisa mendapatkan penghasilan, seperti berjualan, pemandu wisata atau membuka penginapan. Kas negara pun bisa bertambah.
  4. Lokasi ibadah. Meski bagi saya yang tinggal di Jakarta tidak familiar dengan manfaat yang satu ini, namun di Bali, hutan mangrove telah menjadi lokasi ibadah untuk berdoa di alam yang sering dilakukan oleh umat Hindu.


Sayangnya, luas hutan mangrove semakin berkurang. Di Indonesia saja, terjadi penurunan 3,11% setiap tahunnya. Kalau ditransisikan, sekitar 749 km2 atau seluas provinsi Jakarta! Sedih enggak sih? Ini bisa disebabkan oleh penebangan untuk membuka lahan sekitar pantai plus kurangnya edukasi masyarakat terkait mangrove.


Untuk tumbuh menjadi pohon yang besar, butuh berpuluh-puluh tahun bagi mangrove. Itu pun harus dibayangi risiko arus laut, sampah dan lainnya. Tidak semua bibit yang ditanam pun bisa tumbuh. Dan tidak semua area pesisir pula bisa ditanami mangrove. Misalnya pencemaran pantai oleh sampah, ini akan membunuh mangrove secara perlahan karena merusak nutrisi pada pasir atau lumpur. Belum lagi ombak dan arus yang berisiko menghanyutkan mangrove-mangrove kecil yang belum kuat. Apalagi tidak semua bibir pantai bisa ditanami mangrove, dengan alasan pertimbangan nutrisi media tanamnya.


Di sinilah peran kita. Penanaman mangrove menjadi salah satu upaya terbaik untuk tetap menghadirkan hutan mangrove sebagai penyelamat bumi. Seperti tagline Yayasan Mangrove Indonesia Lestari, #onemanonemangrove, satu orang saja yang menanam satu bibit mangrove, lebih kurang 270 juta mangrove berpotensi hidup di negara ini. 


Pemberian nama untuk bibit mangrove
Pemberian nama untuk bibit mangrove yang ditanam

Oiya, Yayasan Mangrove Indonesia Lestari memperbolehkan kami memberi nama dari bibit mangrove yang ditanam. Disediakan kertas berlaminasi untuk menuliskan nama bibit dan pemiliknya. Kemudian nanti diikatkan pada bibit yang kita tanam. Tapi cukup untuk dokumentasi saja agar tidak menjadi sampah baru. Nanti bisa dibawa pulang sebagai kenang-kenangan.


Wah, bagi saya, ini sebuah apresiasi dan memberi kehangatan tersendiri. Sebagai emak anak dua, tentu nama yang saya beri sesuai dengan nama anak-anak saya. Terkhusus juga satu nama untuk BCC Squad. Mungkin saja berpuluh-puluh tahun lagi bibit tersebut tumbuh menjadi mangrove yang berakar setinggi manusia. Aamiin.



Menuju ke Lokasi dan Proses Penanaman 1000 Mangrove

Arahan dari PBKL BKPKP DKI Jakarta
Arahan Pak Lau dan Pak Ubay dari PBKL BKPKP DKI Jakarta

Untuk sampai ke lokasi penanaman 1000 bibit mangrove, kami berjalan tidak begitu jauh. Karena masih berada di Pulau Tidung Besar sekitar penginapan. Sesampainya di sana, terlihat susunan bibit yang sudah disediakan dalam polybeg kecil-kecil. Tampak agak tinggi, kira-kira 40 cm dengan beberapa helai daun. Inilah yang nantinya kami tanam.


Sebelum praktik menanam, kami kembali diberikan edukasi serta arahan oleh Bapak Fazhur R. Launuru selaku Kepala Divisi Mangrove dan Tanaman Pantai PBKL dan juga rekan beliau Bapak Ubay. Jadi, jenis mangrove yang akan kami tanam ini adalah Rhizophora Stylosa atau Bakau Kecil. Pembibitan sudah dimulai 4 bulan sebelumnya melalui biji buah bakau. Bayangkan, untuk siap tanam saja, bakau butuh masa pembibitan selama ini!


Bibit mangrove
Bibit mangrove jenis Rhizophora Stylosa atau Bakau Kecil

1000 bibit ditanam dengan teknik Rumpun Berjarak, yaitu dengan menggali lubang lebar dan memasukkan maksimal 300 bibit ke dalamnya. Kemudian dengan memberi jarak lebih kurang 1 meter, lubang berikutnya digali lagi. Makanya dinamakan rumpun berjarak karena memang ditanam secara berumpun dengan memberi jarak di setiap rumpunnya. Selain alasan penghematan waktu, teknik ini juga sesuai dengan media tanamnya yang lebih dominan pasir.


Untuk cakupan area penamanan sendiri, ada yang namanya Zona Intertidal. Zona ini merupakan zona pasang-surut maksimal. Di mana batas maksimal air pasang dan batas maksimal air surut, di rentang inilah bisa dilakukan penanaman mangrove. Dan proses tanamnya pun harus menunggu air laut surut dulu. 


Mangrove itu "tanam satu tumbuh seribu". Bukan hanya bermanfaat untuk alam, tapi juga manusia.

- Bapak Ubay -


Sepanjang proses penanaman, penggalian lubang masih dibantu oleh Bapak Lau dan Bapak Ubay. Dengan menggunakan sekop agar lebih cepat. Lubangnya tidak dalam, sekitar 10 cm saja. Setinggi polybeg bibit mangrove. Nah, dalam lubang inilah kami menyusun rapat semua bibit. Kemudian ditutup lagi dengan pasir. Beres. Total akhirnya ada 4 rumpun yang tertanam dari 1000 bibit. Yey!


Penanaman Mangrove
Penanaman 1000 mangrove dengan teknik Rumpun Berjarak

Selanjutnya, bibit-bibit ini akan terus dimonitoring. Terutama untuk pengambilan polybag yang masih melekat bersamanya. Kenapa polybag dibiarkan saja? Karena bila bibit dikeluarkan dari polybag, maka kekokohannya akan berkurang. Lagi pula, polybag ini nantinya akan terangkat sendiri ke atas bersama mencuatnya akar mangrove. Tinggal diambil deh. Inilah manfaat jarak 1 meter yang diberi antar rumpun, yaitu untuk memudahkan proses monitoring dan pengambilan polybag-nya.


Secepat itu loh menanam 1000 mangrove! Dengan teknik Rumpun Berjarak, tidak sampai 1 jam, tugas kita selesai. Untung saja di pasir, kalau di lumpur, menanamnya ya satu-satu. Dan itu pun butuh perjuangan ekstra karena berjalan di lumpur tentu tidak mudah. Bahkan ada yang lebih ekstrim. Cerita dari teman-teman Yayasan Mangrove Indonesia Lestari, mereka pernah menanam mangrove di lumpur yang tingginya sampai ke leher!


***


Pengalaman menanam mangrove di Pulau Tidung memberi saya banyak sekali pelajaran baru, terutama mengenai mangrove itu sendiri dan juga upaya untuk pelestarian lingkungan. Sampai detik ini masih terngiang-ngiang pemandangan nyata betapa banyaknya sampah yang mencemari laut kita. 


Di lokasi penanaman, kami sempat mengumpulkan sampah-sampah di sekitar pantai. Saya syok! Di sekitar kami saja, yang mungkin hanya seluas beberapa meter, sampahnya begitu banyak. Terutama sampah sedotan dan plastik. Entah kenapa berulang kali melihat pencemaran laut oleh sampah ini membuat saya semakin terenyuh. Tidak pernah sebelumnya saya melihat sampah begini banyak di pantai.


Sampah di sekitar lokasi penanaman mangrove
Sampah di sekitar lokasi penanaman mangrove

Apa kabar dengan mangrove yang kami tanam? Jelas sampah sangat mengancam keberlangsungan pertumbuhan mereka.


Tidak ada yang lebih baik selain memulainya dari diri sendiri. Berbagai upaya pengurangan produksi sampah dari rumah, sudah berputar-putar dalam kepala. Dan tidak dipungkiri juga bahwa keinginan untuk kembali mengikuti kegiatan lingkungan seperti ini semakin meningkat. Sederhananya, makin sering saya terlibat dengan alam dan lingkungan, tentu makin besar pula tekad saya untuk melestarikannya.


Memang harus tahu dulu untuk bisa peduli. 

Memang harus melihat dengan mata kepala sendiri dulu untuk bisa menyadari.

Menyadari bahwa kitalah, manusia penghuni bumi, yang bisa menyelamatkan "rumah" kita ini. 


Bapak Paundra memberi pesan kepada saya dan teman-teman perwakilan BBC Squad, dan ini juga pernah disampaikan kepada seluruh anggota beliau di Yayasan Mangrove Indonesia Lestari.

"Menunggu sampai kapan pun, waktu luang itu tak akan pernah datang. Tapi LUANGKANLAH WAKTU. Kita yang harus meluangkan waktu."


Begitu pula untuk hadir dan berperan dalam kelestarian lingkungan dan mencegah perubahan iklim. Jangan menunggu waktu luang untuk berpartisipasi, karena pasti akan selalu ada kesibukan yang akhirnya menenggelamkan. Tapi luangkanlah waktu untuk berbuat sesuatu. 


Oiya, bagi yang mau menanam mangrove juga, menambah edukasi terkait mangrove atau ingin terlibat secara aktif dan ritin dalam event penanaman mangrove, bisa banget kepoin akun Instagram Yayasan Mangrove Indonesia Lestari di @mangrovejakarta.id dan websitenya dengan nama yang sama yaitu mangrovejakarta.id


Semoga bermanfaat dan jangan lupa meluangkan waktu untuk bumi!

No comments

Sebelum komentar, login ke akun Google dulu ya teman-teman. Jangan ada "unknown" diantara kita. Pastikan ada namanya, biar bisa saling kenal :)