7 Tips Menjaga Nutrisi Anak yang Sering Muntah

No comments

Blog ini bisa dianggap sebagai perekam jejak bagaimana sulitnya anak pertama saya untuk makan saat berusia batita. Mungkin banyak artikel yang ditulis beberapa tahun lalu, menyangkut masalah makan, muntah, upaya mencari akar masalah dengan konsultasi ke dokter, tes alergi, hingga lahir pula berentet daftar resep MPASI saking seringnya saya memasak. 


7 Tips Menjaga Nutrisi Anak

Bukan karena GTM yang menjadi masalah ibu sejagad, tapi karena dia sering kali muntah setiap kali mencoba menelan makanan. Akhirnya merembet ke badan yang tampak lebih kurus dibandìngkan saat masih full ASI, hingga mommy shaming yang saya dapatkan dari orang-orang terdekat. 


Berbagai upaya saya coba, tapi tak membuahkan hasil apa-apa. Anak saya dinyatakan normal-normal saja, tidak ada masalah kesehatan. Malah saya yang disalahkan karena tidak telaten menyuapi anak atau tidak kreatif dalam memasak. Ah ya sudah lah, hanya saya yang tahu bagaimana perjuangannya. Vitamin penambah nafsu makan anak pun tak banyak membantu. Satu rak sudah penuh dengan berbagai merek yang katanya manjur.


Namun, satu hal yang saya syukuri. Meski sangat sering muntah, Si Sulung ini bisa mencapai berat badan normal anak sesusianya.


Walau tiap makan, muntah, alhamdulillah upaya saya untuk terus memenuhi nutrisinya dengan berbagai cara, mampu memenuhi kebutuhan tubuhnya. Meski dilihat secara fisik tidak segempal anak lain, dikatakan normal saja saya sudah bahagia.


Baca juga: Anak Sering Muntah, Kapan Normalnya?


Memang butuh upaya yang lebih keras. Tidak masalah asal ada hasilnya. Berikut 7 tips menjaga nutrisi anak yang sering muntah berdasarkan pengalaman saya. 


1. Tekstur Makanan Lebih Halus

Tekstur MPASI yang disarankan adalah yang tidak mudah jatuh saat sendok diangkat dan dimiringkan. Kental dan padat. Makanya lebih baik disaring saja. Sayangnya, ini sulit sekali dipraktikkan ke anak saya. Dia makin susah menelan dan ujung-ujungnya malah muntah. Jadi saya menyiasatinya dengan memblender makanan sampai halus, malah lebih seperti jus kental. Yang penting ada yang tertelan. Ini saya lakukan sampai usianya 9 bulan. Dan melewati usia itu, sesekali tetap memberi tekstur halus saat sakit atau benar-benar muntah seharian kalau dikasih makanan agak padat.


2. Bubur Instan

Beruntung rasanya ada bubur instan untuk bayi. Tekturnya pun juga sangat halus dan nutrisinya sudah dijamin seimbang. Saya sering mengandalkan bubur instan untuk diberikan kepada anak, terutama saat bepergian. Bahkan saya juga memberi beberapa sendok bubur instan pada jam snack, yaitu di antara jam makan berat. 


3. Suapan Kecil

Wajib menyuapi dengan sendokan yang kecil. Bahkan sendok kecil yang untuk bayi saja tidak pernah penuh terisi. Paling banyak setengahnya saja. Tidak apa lama, yang penting makanananya tidak dimuntahkan. 


4. Tetap Suapi Anak Sedikit-Sedikit Di Luar Jam Makan

Karena saat jam makan hanya sedikit yang tertelan, saya bisa menyuapinya sepanjang waktu. Sambil bermain pun, tetap saya suapi sesekali dengan cemilan kesukaannya atau makanan sedikit lebih padat, seperti telur rebus, pisang dan sebagainya. Tidak banyak, paling beberapa potongan kecil.


Ada yang mengatakan kalau hal inilah yang membuat anak saya malas makan. Karena sudah kenyang duluan. Tapi kondisi anak saya berbeda. Dia bukan tidak mau makan, tapi sering muntah karena sulit menelan. Walau saya membiarkannya tidak makan seharian pun, hasilnya sama saja. Dari pada tidak ada nutrisi, tidak masalah menyuapi lebih sering dan sedikit demi sedikit. 


5. Lengkapi dengan Susu Formula Tinggi Nutrisi

Jujur, inilah yang paling banyak membantu. Meski dikelilingi pro dan kontra, nyatanya susu tinggi nutrisi sangat berperan dalam memenuhi kebutuhan anak saya yang sulit makan. Dua produk yang paling manjur adalah Pediasure dan Nutrinidrink. Cuma memang harganya lumayan mahal untuk produk konsumsi harian. 


6. Cukupkan Jam Tidur

Paling tidak, anak saya bisa menghemat energi dan sisa lemak di tubuhnya selama beristirahat. Tidak berlebihan juga, tidurnya di jam normal, yaitu siang setelah makan siang 2-3 jam dan tidur malam dari jam 9 sampai jam 6 atau 7 pagi. Lagi pula, ketercukupan jam istirahat juga menjadi salah satu penunjang utama optimalnya tumbuh kembang anak. 


7. Jangan Terlalu Saklek

Saya tidak bisa terlalu saklek soal makanan pada anak. Sudah bisa masuk beberapa suap saja, sudah keajaiban bagi saya. Masak pakai margarin biasa saat usianya 10 bulan tidak apa, padahal ibu lain masih setia dengan unsalted butter. Saya berharap dengan rasa gurihnya, dapat memancing selera makan. Memberi roti cokelat, es krim atau biskuit juga tak masalah, asal bisa makan. Mau makan sambil main, sambil nonton video atau televisi, juga boleh. Bebas, yang penting makan.


Menerapkan 7 tips ini tentu tidak selalu sejalan dengan rekomendasi dokter, ahli gizi atau pakar tumbuh kembang anak. Tapi sekali lagi, saya hanya ingin nutrisi anak saya tercukupi. Bukannya belum mencoba apa yang namanya BLW, makan maksimal 30 menit, tidak boleh makan sambil jalan, tidak boleh memberi cemilan 2 jam sebelum jam makan dan seribu satu peraturan lainnya yang sudah hafal dalam kepala.


Tapi percayalah, realita tak selalu bisa sinkron dengan teori. 


Tidak ada seorang ibu pun yang akan membiarkan anaknya tidak makan sepanjang waktu. Kalau mengikuti teori, bisa-bisa anak saya cuma makan 3 suap saja. Sudah suapannya kecil, 3 suap pula. Apa kabar sama kebutuhan nutrisinya?


Baca juga: Waktunya Menyapih Anak, 2 Cara Tanpa Drama Ini Patut Dicoba!


Harapannya, beberapa tips ini bermanfaat bagi orang tua yang juga menghadapi permasalahan makan anak. Murni dari upaya saya yang hanya ingin anaknya bisa makan. Bagaimanapun, anak butuh nutrisi yang cukup agar dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Di sinilah tugas kita para orang tua. Apa pun caranya, bakal dilakuin. Setuju?


Semoga bermanfaat.

No comments

Sebelum komentar, login ke akun Google dulu ya teman-teman. Jangan ada "unknown" diantara kita. Pastikan ada namanya, biar bisa saling kenal :)