Langkah Ibu Penggerak untuk Pendidikan Didukung ASUS Zenbook DUO (UX8406)

No comments

Pendidikan bertujuan untuk menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.

- Ki Hajar Dewantara -


Miris. Kasus kekerasan dalam lingkungan pendidikan semakin ramai diberitakan. Mulai dari perundungan hingga kekerasan seksual. Bikin hati semakin perih menyaksikan bahwa dampaknya sampai menggores trauma mental yang butuh pemulihan lama, hingga korban yang meregang nyawa. Praktiknya pun bukan hanya aksi tak terkontrol sesama siswa, tenaga pengajar atau sosok yang seharusnya bisa mengayomi dan melindungi, tak jarang jadi pelaku. Semenyeramkan itu. Akankah kita diam saja? Tujuan pendidikan yang dikatakan Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara, prosesnya masih ternodai.  


Langkah Ibu Penggerak untuk Pendidikan Didukung ASUS Zenbook DUO (UX8406)

Sudah lebih dari 2 tahun saya bergabung dalam barisan Ibu Penggerak. Titik yang membuat saya jauh lebih peduli dengan apa yang terjadi dalam dunia pendidikan kita. Alasan awal ikut pelatihannya waktu itu hanya karena kebetulan anak pertama saya akan masuk SD, dan pas sekali materinya tentang Kurikulum Merdeka. Bertahun-tahun tidak mengikuti perkembangan dunia pendidikan lagi, meski saya lulusan kuliah keguruan, banyak sekali informasi yang mesti dikejar agar tepat mendampingi masa-masa sekolah anak. Bagaimanapun pendidikan anak-anak akan selalu menjadi tanggung jawab saya sebagai orang tua. 


Seperti kurikulum dan pendidikan yang terus beradaptasi dengan zaman, saya yang merupakan ibu dari anak-anak yang mengenyam pendidikan, juga membutuhkan adaptasi agar tak ketinggalan. Caranya ya dengan menggali informasi dan belajar lebih banyak.


Ternyata, semakin lama saya bergabung dengan Ibu Penggerak, dan kini sudah menjadi Fasilitornya setelah mengikuti pelatihan khusus kembali selama 3 hari, banyak sekali ilmu yang saya dapatkan. Penerapan Kurikulum Merdeka yang ternyata begitu menghargai berbagai tipe kecerdasan anak, membebaskan guru dan siswa untuk belajar dengan lebih menyenangkan, serta langkah krusial dalam menumpas "dosa-dosa" yang menjadi momok dalam pendidikan saat ini. 


Ibu Penggerak membekali saya agar dapat mewujudkan tanggung jawab untuk memberi pendidikan terbaik dan mendampingi anak-anak dengan tepat. Tidak ingin sendiri, saya pun ingin semua ibu dapat mengupayakan hal serupa. Setidaknya dari apa yang saya dapat, bisa dibagikan kepada ibu-ibu terdekat.  Tentu kita sepakat kan kalau masa depan anak ditentukan oleh pendidikannya? 


By the way, ada yang tahu apa itu Ibu Penggerak? 



Yuk, Kenalan dengan Ibu Penggerak 

Kenalan dengan Ibu Penggerak

Ini bukan tulisan pertama saya yang membahas tentang Ibu Penggerak. Tidak bermaksud pamer atau niat negatif lainnya, saya beberapa kali membahas atau menyelipkan perjalanan ini karena merasa beruntung dan bangga. Beruntung berkat pelajaran dan pengalaman yang mungkin tidak akan saya dapatkan tanpa Ibu Penggerak, serta bangga bisa mendapatkan manfaat begitu banyak dan berbagi dengan sesama ibu. 


Ibu Penggerak merupakan para ibu yang menjadi perpanjangan tangan Kementerian Pendidikan, Budaya, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), untuk memotivasi dan menyosialisasikan kebijakan serta program baru pemerintah dalam dunia pendidikan Indonesia.


Menggandeng komunitas perempuan Sidina Community, yang fokus pada pendidikan, bisnis, dan pengembangan diri, hingga saat ini sudah menghadirkan lebih dari 1000 Ibu Penggerak di seluruh Indonesia. Saya mengikuti pelatihan batch 6 dan alhamdulillah lulus tanpa mengulang. Untungnya pelatihan ini diselenggarakan secara online melalui Zoom meeting. Meski butuh waktu 5 hari, sampai-sampai membawa headset agar tak ketinggalan bila kebetulan terpaksa ke luar rumah karena sebuah keperluan, saya bersyukur bisa mengikuti pelatihan sampai selesai. Karena memang saya sangat membutuhkan setiap materi yang disampaikan.


Secara garis besar, berikut topik yang menjadi pembahasan utama dalam pelatihan Ibu Penggerak.

๐ŸŒธ Kurikulum Merdeka

Singkatnya, Kurikulum Merdeka adalah kurikulum yang  mengacu pada pendekatan bakat dan minat. Peserta didik memiliki kemerdekaan, alias kebebasan untuk memilih mata pelajaran mana yang sesuai dengan minat dan bakatnya. Guru pun juga memiliki keleluasaan dalam memilih perangkat ajar yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik. Makanya istilah "merdeka" digunakan karena kemerdekaan diimplementasikan dalam proses berjalannya pendidikan.

๐ŸŒธ Profil Pelajar Pancasila

Dalam Kurikulum Merdeka, peserta didik akan diberikan projek dengan tema tertentu untuk penguatan Profil Pelajar Pancasila dengan 6 elemennya, yaitu beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, berkebinekaan global, mandiri, bergotong royong, bernalar kritis, serta kreatif. Sehingga diharapkan peserta didik bukan hanya cerdas secara kognitif, tapi juga memiliki karakter yang baik dan terpuji.

๐ŸŒธ Literasi dan Numerasi

Menjadi fokus penting dalam Kurikulum Merdeka sampai ada Asesmen Kompetensi Minimun untuk menilainya. Bagaimana kemampuan kecakapan berpikir logis-sistematis, kemampuan bernalar menggunakan pengetahuan yang telah dipelajari, serta mengolah informasi. Jadi bukan hanya dalam menjawab soal ujian saja yang dikejar, tapi bagaimana mengolah setiap informasi yang diterima agar dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

๐ŸŒธ 3 Dosa Besar Pendidikan

Tantangan besar dalam pendidikan Indonesia saat ini, intoleransi, perundungan dan kekerasan seksual. Ini mesti diberantas tuntas agar dunia pendidikan dapat mencapai keberhasilan maksimalnya. Bagaimanapun, kenyamanan dan keamanan dalam menempuh pendidikan tetap menjadi penentu penerapan kurikulumnya. Betul?


Pengetahuan yang benar-benar baru buat saya ketika pertama kali mengikuti pelatihan. Mungkin kalau tidak bergabung dengan Ibu Penggerak, saya hanya akan mengandalkan informasi online yang bisa di-search dan di-scroll di internet. Mesti jeli memilah dan teliti memilih mana yang benar. Soalnya tidak sedikit juga unggahan mengenai Kurikulum Merdeka yang saya baca, cuma mengandalkan penilaian pribadi tanpa dasar yang kuat. Kalau di Ibu Penggerak yang memang merupakan program dari Kemdikbudristek, kan sudah terjamin kredibel. 


Mendapatkan wadah untuk mengetahui apa yang terjadi dalam dunia pendidikan kita saat ini saja saya sudah bersyukur. Apalagi di tahun 2024 ini, 80% sekolah sudah menerapkan Kurikulum Merdeka dan dengan dirilisnya Permendikburristek Nomor 12 Tahun 2024, Kurikulum Merdeka pun resmi menjadi Kurikulum Nasional yang wajib diimplementasikan di seluruh sekolah di Indonesia. Tentunya dengan terus mendapatkan pendampingan dari pemerintah agar dapat terlaksana sesuai harapan. Saya beruntung dapat mengikuti kabar ini karena anak-anak adalah peserta didik yang juga memakai kurikulum ini. 


Tidak disangka, bonusnya masih banyak lagi. Berkumpul bersama ibu-ibu dengan semangat belajar tinggi, mengalirkan semangat yang tak kalah besar pula kepada saya untuk berdaya bersama. Sidina Community yang menjadi komunitas mitra Kemdikbudristek, tak henti menyelenggarakan program-program padat ilmu yang membekali dan mengobarkan keinginan untuk lebih memajukan diri dan berperan lebih untuk keluarga dan sekitar.. 


Intinya, bergabung dalam komunitas yang tepat, pasti memberi pelajaran dan pengalaman berarti dan bermanfaat. Seperti keputusan saya bergabung bersama Ibu Penggerak dan Sidina Community. Terima kasih banyak!



Fasilitator Ibu Penggerak, Belajar untuk Diri dan Sebarkan agar Lebih Berarti

Fasilitator Ibu Penggerak, Belajar untuk Diri dan Sebarkan agar Lebih Berarti
ToT Fasilitator Ibu Penggerak Batch 3

Tidak lama setelah mendapatkan sertifikat kelulusan sebagai Ibu Penggerak Batch 6, bagai diberi jalan, saya mendapatkan kesempatan untuk mengikuti Training of Trainers (ToT) Batch 3 untuk menjadi Fasilitator Ibu Penggerak. Setelah mengirimkan CV dan mengikuti wawancara langsung dengan pengurus Sidina Community, saya bertemu dengan 50 Ibu Penggerak dari seluruh Indonesia. Sesuatu yang menjadi salah satu memori terbaik, berkatnya saya menemukan circle yang fokus akan pendidikan dan parenting. Ilmu yang sangat saya butuhkan mungkin hingga waktu tak terbatas, karena status ibu pun akan selamanya melekat pada saya setelah melahirkan dua jagoan.

Selama mengikuti ToT, ilmu mengenai Kurikulum Merdeka lebih diasah lagi, serta dilengkapi juga dengan materi public speaking dan membuat konten media sosial. Bekal yang lebih matang ini adalah persiapan menjadi Fasilitator ke depannya untuk memberi sosialisasi, edukasi, atau berbagi apa pun terkait dengan pendidikan. Bisa di sekolah-sekolah, perkumpulan orang tua, dengan tetangga atau grup arisan, bahkan di media sosial pun boleh. Apa pun langkahnya, metodenya, strateginya, melalui Fasilitator Ibu Penggerak inilah penyebarluasan informasi itu dapat semakin dimasifkan.


Fasilitator dipersilakan memilih bidang mana yang akan difokuskan. Kurikulum Merdeka, Literasi Numerasi, Profil Pelajar Pancasila, atau 3 Dosa Besar Pendidikan.

Saya memilih 3 Dosa Besar Pendidikan karena menurut saya, pendidikan terbaik adalah yang nyaman dan aman bagi semua yang terlibat, terutama peserta didik. Tentunya tanpa mengurangi fokus pada bidang yang lain juga agar ilmunya tidak setengah-setengah.


Ada salah satu kalimat yang pernah dibahas dalam grup Ibu Penggerak, "Tak jarang orang tua hanya meminta anak untuk jangan mengganggu teman, tapi lupa mempersiapkan anak untuk melindungi diri ketika diganggu teman." Saya pun pernah seperti itu. Ibu Penggerak yang membuka apa yang selama ini luput dari perhatian. Inilah jugalah yang saya harapkan bisa didapatkan oleh semua orang tua melalui sosialiasi Fasilitator Ibu Penggerak khusus dalam menghadapi perundungan, intolerasi, dan kekerasan seksual dalam perjalanan menempuh pendidikan. 


Saya masih ingat betapa deg-degannya ketika pertama kali melaksanakan Rencana Tindak Lanjut (RTL) sebagai implementasi ilmu selama ToT. Semua Fasilitator wajib melaksanakan untuk mendapatkan sertifikat dan sebagai bukti bahwa program ToT benar-benar melahirkan Fasilitator yang siap terjun ke lapangan. Padahal saya memilih lingkup warga rusun di tempat saya tinggal, hanya ibu-ibu pula, tapi gugupnya luar biasa. Maklum, pengalaman pertama.


RTL pertama saya setelah ToT Fasilitator Ibu Penggerak
RTL pertama saya setelah ToT Fasilitator Ibu Penggerak

Materi sudah aman, waktu dan peserta yang hadir pun sudah kenal, tapi kendala masih saja datang. Saya tidak mendapatkan infocus yang bisa dipinjam. Tujuannya agar paparan terlihat lebih besar. Walau sebenarnya pakai laptop pun tetap bisa karena yang hadir masih belasan peserta. Agak dirapatkan saja duduknya, pasti masih kelihatan. Tapi demi hasil maksimal, saya rela membopong TV dari unit di lantai 6 ke aula lantai dasar. Ah, kalau diceritakan kembali seperti ini berasa nostalgia.   


Tapi bukan berarti tantangannya berhenti sampai di situ. Soalnya di sepanjang pemaparan, ada beberapa video terkait perundungan yang mesti diputar agar lebih nyata dan jelas bagaimana kejadiannya. Beberapa peraturan pun mesti diperlihatkan agar sumber-sumber yang mesti diketahui dapat sekalian disosialisasikan. Mau atau tidak, saya mesti pindah-pindah window yang lumayan bikin makin panik. Sudahlah kewalahan mengatur kegugupan, jadi makin parah karena konsentrasi pecah akibat tampilan yang di-share harus digonta-ganti terus.


Andai layar laptop saya ada dua, pasti bakal lebih praktis. Iya, kan? 

Alhamdulillah RTL pertama itu berjalan lancar meski pertanyaan tentang perundungan, intolerasi, dan yang paling sensitif mengenai kekerasan seksual, berdatangan silih berganti. Begitu khawatirnya para ibu dengan masalah ini. Setidaknya saya bisa mengajukan diri untuk menjadi perantara mereka ketika amit-amit mengalami kejadian tak mengenakkan di satuan pendidikan anak-anak. Ada jajaran Ibu Penggerak yang siap membantu dengan jalur resmi yang ditetapkan oleh Kemdikbudristek.


Sejak saat itu saya semakin tersadarkan bahwa PR kita bersama masih sangat banyak untuk menciptakan pendidikan yang berkualitas, nyaman, dan aman bagi anak-anak. Butuh gerakan dan gandengan tangan untuk sama-sama mau belajar dan membekali diri terkait isu-isu pendidikan terkini agar semua pemangku kepentingan dapat berperan maksimal. Terspesial para ibu, sosok yang biasanya menghabiskan waktu paling banyak bersama anak, peran kita tidak main-main lo dalam mendampingi pendidikan anak. 


Pondasi kehidupan anak tetap dimulai dari rumah. Lingkungan keluarga, lingkungan terkecil yang pertama kali melukis diri mereka. Walaupun sekolah menjadi tempat belajar resminya, hasil maksimal hanya dapat tercapai bila ada kerja sama orang tua di dalam prosesnya.


Ibu penting meng-upgrade ilmu agar tak keliru. Lagi pula, kalau peran ibu tidak sebesar itu untuk pendidikan, mana mungkin Kemdikbudristek memogramkan Ibu Penggerak dengan segala fasilitasnya? Demi mewujudkan lebih banyak ibu yang tahu dan menyadari perannya.


Terkadang ketidaktahuan itu bukan karena malas mencari tahu. Tapi aksesnya yang belum sampai atau sulit sekali dijangkau. Inilah yang dibuka melalui Ibu Penggerak dan Fasilitatornya agar informasi penting tentang pendidikan bisa merangkul seluruh orang tua di penjuru Indonesia. Bukan hanya tentang kurikulum yang berlaku dan proses belajar mengajar, tapi juga bagaimana membekali anak agar dapat bersosial dengan sebaik mungkin. 



ASUS Zenbook DUO (UX8406) Lancarkan Proses Belajar dan RTL Fasilitator Ibu Penggerak

ASUS Zenbook DUO (UX8406) Lancarkan Proses Belajar dan RTL Fasilitator Ibu Penggerak

Tidak jarang kami berbagi cerita di grup chatting Fasilitoator Ibu Penggerak. Tentu banyak yang mengalami tantangan seperti saya dalam menjalankan RTL. Bagi yang melangsungkan pertemuan di sekolah atau acara yang diadakan instansi/lembaga, jelas fasilitasnya sudah tersedia. Tapi kalau lingkup pesertanya kecil, apalagi Fasilitatior "baru" yang masih mencari sendiri target yang akan diberi sosialisasi, segala keperluannya tentu harus disiapkan sendiri.


Salah satu teman Fasilitator yang membagikan fotonya saat RTL mengingatkan pada kejadian bopong televisi ketika RTL saya yang lalu dan ribetnya ganti-ganti window. Berhubung beliau mengadakannya di sebuah cafe dengan jumlah peserta tidak banyak, laptop yang dibawa terpaksa dihadapkan kepada peserta dan teman saya ini mesti membungkuk dan memutar-mutar laptopnya bila ingin melanjutkan slide atau hendak menampilkan yang lain. Sama seperti saya, yang ditampilkan biasanya tidak jauh dari peraturan-peraturan atau video yang berhubungan dengan materi paparan. Soalnya peraturan dan video tetap menjadi acuan dan juga penguat yang efektif. 


Kalau tidak mau sibuk dengan satu laptop yang diputar-putar tersebut dan juga buka-tutup window, yang dapat sedikit meringankan adalah dengan mem-print berkas peraturan jika diperlukan. Kan tidak mungkin juga bawa dua laptop? Walaupun punya, beratnya dobel dan sulit untuk di bawa ke mana-mana. Apalagi sampai bawa TV seperti saya, untung masih di gedung yang sama. Kalau di cafe atau di luar rumah, mana bisa? Padahal pertemuan dengan circle kecil ini juga tak kalah melekat ilmunya. Serasa private dengan kebebasan bertanya dan berinteraksi.


Lagi-lagi, kalau laptop kami para Fasilitator punya dua layar, pasti akan lebih praktis. Fasilitator terbantu, peserta pun lebih maksimal menangkap ilmu tentang Kurikulum Merdeka dan perkembangan pendidikan Indonesia terkini.


Inovasi dari ASUS menjawab kebutuhan tersebut dengan menghadirkan ASUS Zenbook DUO (UX8406). Laptop yang dirancang khusus dengan dua layar kembar yang sama persis, sehingga dapat lebih memfasilitasi dan membebaskan pengguna dalam melakukan tugas dan agenda.


ASUS Zenbook DUO (UX8406) hadir dengan desain dan fitur revolusioner yang dirancang untuk memaksimalkan produktivitas melalui teknologi dua layar dan AI.


Saya yang dituntut untuk multitasking ini bak menemukan jodoh! Saya tahu multitasking itu tidak disarankan, tapi kalau mau tetap belajar dan berdaya di tengah tugas domestik dan mengurus anak, ya harus berdamai dengan mengerjakannya seefektif dan seefisien mungkin. 


Saking berbinar dan mupeng-nya dengan laptop ASUS Zenbook DUO (UX8406), saya sampai menonton beberapa review di YouTube agar dapat melihat wujud nyatanya dan mendengar penilaian dari yang punya kemampuan di sini. Ternyata, mereka juga merekomendasikan dan malah bilang kalau laptop ini luar biasa! Ini salah satu video yang bikin saya semakin ingin produktif dan aktif sebagai Fasilitator Ibu Penggerak bersama ASUS Zenbook DUO (UX8406).



Otak saya langsung menggambarkan kepraktiksan yang akan dirasakan saat belajar, mengembangkan diri, menulis blog, searching, scrolling, membuat konten, bahkan ketika bersama anak-anak sekalipun yang biasanya butuh tontonan agar tetap tenang ketika ada tugas mendesak yang mesti dituntaskan segera. Malah sebagai hiburan sepertinya juga bisa "sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui", saya nonton drama Korea, anak-anak nonton video kesukaannya. Iya, kan? Ibu-ibu juga butuh hiburan dan mencari inspirasi, lo.


๐ŸŒธ Layar Ganda, Ruang Kerja Luas

Layar Ganda, Ruang Kerja Luas

Tentu ini keutamaan pertama yang membedakan ASUS Zenbook DUO (UX8406), layar ganda yang ukurannya sama persis! Kalau biasanya bekerja dalam satu layar laptop, tinggal dikali dua saja. Seluas itu!


Dimulai dari Project Precog di tahun 2018, sebenarnya konsep laptop dengan layar ganda sudah lama dikembangkan ASUS. Setelah itu, pengembangan ini melahirkan ZenBook Pro 15 (UX580) dengan ScreenPad™, serta ZenBook Duo (UX481) dan ZenBook Pro Duo (UX581) dengan layar tambahan ScreenPad™ Plus. Akhirnya di tahun 2024 ini, hadirlah Zenbook DUO (UX8406) yang bisa dibilang wujud sempurna dari semua laptop layar ganda. Dibekali dua layar 14-inci 3K 120Hz berteknologi ASUS Lumina OLED, menjadikannya laptop dual-screen OLED terbaik di dunia yang memberikan visual berkualitas untuk memaksimalkan produktivitas. Kalau dibentangkan, ukuran layarnya setara dengan 19,8-inci atau dua kali laptop biasa. Menarik banget, kan?


Layar sentuh ganda 16:10 14 inci 3K (2880 x 1800) ASUS Lumina OLED memperluas pandangan pengguna, dengan kecerahan hingga 500 nits, dan rasio layar dengan bodi 91%.

Kedua layar Zenbook DUO (UX8406) mengusung teknologi ASUS Lumina OLED yang telah tersertifikasi Dolby Vision®, Pantone® Validated, dan memiliki color gamut 100% DCI-P3 untuk memastikan reproduksi warna terbaik dan akurat. Layar tersebut juga telah mengantongi sertifikasi VESA DisplayHDR™ True Black 500 dan mendukung teknologi touchscreen sehingga dapat digunakan bersama dengan stylus ASUS Pen 2.0 yang dapat memberikan input secara presisi.


Eh, tapi dua layar begini cara pakainya gimana sih? Saya sempat mempertanyakan hal ini di awal. Takutnya keribetan pindah-pindah window malah berganti ke bongkar-pasang perangkat. Dan ternyata, ASUS Zenbook DUO terbukti sangat jauh dari yang namanya "ribet". Penggambaran paling mudahnya, dua layar ini bisa dilipat seperti buku, lalu keyboard portable-nya diselipkan di antara kedua layar bak pembatas buku. Ya, keyboard-nya tidak menyatu permanen, tapi bisa dipakai atau dilepas. Mana keyboard-nya tinggal dilekatkan saja seperti menempelkan magnet. 


Istimewanya lagi, andai keyboard lupa dibawa tapi ingin mengetik, terdapat teknologi khusus yang dapat menjadikan salah satu layar sebagai keyboard virtual. Hanya perlu tap dengan enam jari untuk memanggil keyboard virtual dan touchpad ukuran penuh di layar kedua.


Lima mode penggunaan Zenbook DUO (UX8406)

Biar lebih jelas, berikut lima mode penggunaan Zenbook DUO (UX8406) yang sangat ramah dengan beragam pengguna, lebih banyak aktivitas dan mobilitas.

  • Dual-Screen Mode

Mode penggunaan yang paling membedakan Zenbook DUO (UX8406) dengan laptop lainnya. Memanfaatkan keberadaan layar kedua secara penuh, yaitu dengan memosisikan laptop secara lebih tinggi menggunakan penyangga terintegrasi sehingga kedua layar dapat dilihat secara lebih nyaman. Pengguna dapat mengontrol menggunakan keyboard Bluetooth ASUS ErgoSense, keyboard fisik nirkabel dengan koneksi Bluetooth.

  • Desktop Mode

Desktop Mode menawarkan dua layar vertikal yang diposisikan secara berdampingan. Mode ini sangat cocok untuk skenario penggunaan seperti menulis artikel, browsing, dan coding.

  • Laptop Mode

Menampilkan Zenbook DUO (UX8406) layaknya laptop clamshell pada umumnya dengan satu layar aktif dan keyboard yang ditempatkan di atas layar kedua. Cocok ketika digunakan di ruang terbatas.

  • Laptop Mode dengan Virtual Keyboard

Ini yang saya tulis sebelumnya. Solutif banget buat yang tidak ingin menggunakan keyboard fisik. Melalui ScreenXpert, pengguna dapat memunculkan keyboard virtual dalam layout penggunaan yang berbeda-beda lengkap dengan touchpad virtual.

  • Sharing Mode

Mode paling unik yang memungkinkan pengguna untuk berbagi layar dengan orang lain secara lebih mudah. Cukup buka layar laptop hingga 180° dan aktifkan mode ini. Kedua layarnya akan saling bertolak belakang sehingga memudahkan dua orang untuk berinteraksi secara langsung. 


Kalau diaplikasikan dalam aktivitas produktif sebagai Fasilitator Ibu Penggerak, di rumah tetap produktif, dan di luar rumah juga aktif seperti ada undangan sharing di luar bersama ibu-ibu perihal pendidikan, maka beberapa kemudahan ini pasti akan saya dapatkan bersama ASUS Zenbook DUO (UX8406).


Sosialisasi Jadi Lebih Mudah dan Canggih

Sosialisasi Jadi Lebih Mudah dan Canggih

Saya yakin bukan hanya saya. Semua Fasilititor Ibu Pengerak pasti juga mengidamkan kemudahan yang satu ini untuk melakukan sosialisasi dalam kelompok kecil. Atau mungkin semua orang dengan aktivitas serupa, seperti presentasi ke klien atau berdiskusi. Saya pribadi tidak masalah mau sharing tentang Kurikulum Merdeka atau 3 Dosa Besar Pendidikan hanya dengan satu atau dua orang. Yang penting sedikit informasi yang saya punya melalui Ibu Penggerak, bisa meluas tidak peduli walau perlahan. Syukur-syukur nanti semakin banyak yang butuh dan diperkenankan berbagi dalam acara yang lebih besar lagi. Aamiin.


Ketika sharing dengan lebih sedikit ibu, laptop ASUS Zenbook DUO (UX8406) sangat bisa saya andalkan untuk menampilkan lebih dari satu window presentasi. Bisa sekalian dengan video atau peraturan yang sejalan dengan poin presentasi tersebut. Atau juga memanfaatkan layar Sharing Mode agar peserta bisa melihat dari sisi yang berhadapan dengan saya. Ini sangat pas untuk berdiskusi dan saling mengeluarkan pendapat. Saya nyaman, peserta pun juga merasakan hal yang sama. 


Malah keterbukaan itu akan mengumpulkan lebih banyak sudut pandang dan cerita dari para ibu. Jangan salah, apa pun itu, akan sangat membantu sistem pendidikan kita yang jauh lebih baik ke depannya. Kemdikbudristek saja mengadakan sesi diskusi khusus untuk mendengarkan pemikiran, ide, atau pengalaman dari pihak-pihak terkait pendidikan, termasuk para ibu, agar dapat menjadi wadah yang merangkum kebutuhan nyata lapangan akan sebuah sistem pendidikan terbaik.


Fasilitator tidak akan kerepotan atau pusing memikirkan perangkat presentasi ketika melaksanaan RTL. Kecanggihan ASUS Zenbook DUO (UX8406) sudah cukup untuk diandalkan. Jadi bisa fokus dengan materi, proses RTL yang lancar, dan mengevaluasi setelahnya. Lagi pula, yang canggih-canggih seperti akan mematangkan persiapan dan berujung pada kepercayaan diri yang bulat. Peserta pun pasti lebih tertarik untuk memperhatikan. 


Menulis Blog dan Membuat Konten Jadi Lebih Cepat

Menulis Blog dan Membuat Konten Jadi Lebih Cepat

Selain melakukan sosialisasi secara langsung, Fasilitator Ibu Penggerak juga diperbolehkan RTL melalui berbagai media di internet. Potensi besar unggahan internet yang bisa dilihat oleh semua pasang mata di seluruh dunia, patut dimanfaatkan. Karena saya memiliki blog, maka RTL dengan menulis artikel di sini terasa menyenangkan. Begitu pula membuat konten, saya pun juga suka. Jadilah beberapa konten mengenai Kurikulum Merdeka dan juga 3 Dosa Besar Pendidikan sebagai RTL, seperti topik perbedaan perundungan dan bercanda, apa saja dosa yang masih ada dalam dunia pendidikan kita, serta mengulas kembali apa itu Kurikulum Merdeka.


Nah, dengan ASUS Zenbook DUO (UX8406), saya bisa menampilkan materi di layar yang satu, serta menulis blog atau membuat konten di layar yang satunya lagi. Jadi praktis, tidak perlu ganti-ganti window. Apalagi kalau tab yang dibuka di mesin pencari banyak banget, sering salah-salah klik. Maunya membuka tab yang membuka website Kemdikbudristek misalnya, malah klik-klik banyak tab dulu karena tidak ingat berada di tab yang mana. Kan makan waktu dan kadang bikin sebal. Dengan Zenbook DUO, tentu akan jauh lebih praktis dan cepat.


Lega untuk Searching, Scrolling dan Membaca Online 

Lega untuk Searching, Scrolling dan Membaca Online

Agar dapat terus membagikan hal baru (kebijakan pasti akan terus berubah dan menyesuaikan), maka uprade ilmu itu penting bagi Fasilitator Ibu Penggerak. Saya perlu searching artikel online atau scrolling akun media sosial resmi Kemdikbudristek dan akun tepercaya lainnya. Dengan dua layar, sudah bisa dipastikan akan lebih leluasa dan lebih banyak yang bisa ditampilkan. Enaknya sih membaca dengan layar ASUS Zenbook DUO (UX8406) secara vertikal. Kelebihan selanjutnya yang bikin pengguna nyaman sesuai aktivitasnya. 


Anak-anak Tidak Lagi Rewel Ketika Ibunya Butuh Waktu Bekerja

Anak-anak Tidak Lagi Rewel Ketika Ibunya Butuh Waktu Bekerja

Poin satu ini murni dari pengalaman pribadi saya yang suka riweh kalau ada pekerjaan yang harus diselesaikan segera, tapi ada anak-anak yang setiap detik menginteruspsi. Kalau tidak dicarikan solusi, bisa-bisa tidak akan selesai walau berganti hari. Biasanya saya memanfaatkan TV disambungkan ke laptop dengan kabel HDMI demi tetap bisa bekerja di layar laptop, dan layar TV untuk anak-anak streaming YouTube biar tenang. Soalnya membiarkan mereka bermain game di gadget sepanjang waktu juga takut bikin sakit mata. Makanya saya beri tontonan saja dengan jarak pandang yang lebih jauh.


Sudah terbayang kan dengan ASUS Zenbook DUO (UX8406) saya hanya perlu memutar video channel Alphabet Lore, Numberblock Band, atau PinkFong di layar pertama, kemudian nyaman bekerja di layar kedua. Kalau aktivitas ini, enaknya tetap dengan layar bertingkat yang horizontal. Tidak perlu lagi tarik-tarik kabel HDMI ke TV. Walau tidak di rumah sekalipun, tetap bisa mengejar deadline.


Satu kalimat dari saya, betul-betul definisi mobilitas yang bebas dan nyaman. Gimana enggak bebas dan nyaman, bila dua layar sudah bisa dibawa ke mana-mana. Sebelumnya kan pemasangan dan penggunaan layar lebih dari satu hanya bisa dilakukan di rumah. Mungkin berupa PC atau macam saya yang memanfaatkan TV. Kalau sudah ditemani ASUS Zenbook DUO (UX8406), rasanya malu bila tidak berupaya untuk berkarya dan berdaya lebih dan lebih lagi.


๐ŸŒธ Performa Luar Biasa Bertenaga AI

Performa Luar Biasa Bertenaga AI

Kualitas dua layar yang sebaik itu, tentu harus diimbangi dengan performa yang tidak main-main. Tenang, Zenbook DUO (UX8406) merupakan laptop AI dua layar bersertifikasi Intel® Evo™ Edition yang dibekali prosesor bertenaga AI, yaitu Intel® Core™ Ultra 7 155H terbaru. Prosesor Intel® Core™ Ultra ini dilengkapi NPU atau Neural Processing Unit untuk memproses aplikasi yang menggunakan AI. Jadi, semua aplikasi dan fitur yang bekerja dengan AI dapat dijalankan lebih baik tanpa menguras daya secara berlebihan.


Selain itu, prosesor Intel® Core™ Ultra 7 155H juga dibekali chip grafis Intel® Arc™ yang mampu menghadirkan performa hingga dua kali lipat dibandingkan dengan chip grafis terintegrasi di prosesor Intel® generasi sebelumnya. Sudah didukung berbagai teknologi grafis modern seperti real-time ray tracing, Xแต‰ Super Sampling, hingga DX 12 Ultimate dan Advanced Media Engine. Di ASUS Zenbook DUO (UX8406), Intel® Arc™ tidak hanya dapat mengakselerasi pemrosesan grafis, tetapi juga video encoding yang sangat penting bagi para konten kreator.

Meski belum sesukses konten kreator terkenal, saya pun juga lekat dengan dunia perkontenan, terutama untuk kebutuhan sharing sebagai Ibu Penggerak, serta sebagai blogger dan penulis buku. 


Penyimpanan SSD-nya hingga 2TB, RAM hingga 32GB, dan WiFi 6E¹⁰ yang memungkinkan pengguna menjelajah lebih jauh. Agar dapat mencapai performa maksimal, ditambahkan pula penyebar panas antara motherboard dan panel OLED sebagai bagian dari sistem pendingin canggih, yang memungkinkan CPU dan GPU bekerja pada TDP gabungan hingga 35 W, tanpa pembatasan!


Eits, masih ada lagi. 

"Hadir dengan sistem operasi Windows 11, ASUS Zenbook DUO (UX8406) juga merupakan laptop berfitur Copilot untuk dukungan AI. Copilot di Windows 11 melengkapi keahlian dan kreativitas Anda dengan bantuan kecerdasan serta jawaban relevan.

Selain itu, sudah dilengkapi Office Pre-Installed, agar Anda bisa nikmati semua manfaat dengan PC yang lengkap – PC sudah termasuk Office Home & Student 2021. Aplikasi Office versi lengkap (Word, Excel dan PowerPoint) memberikan semua fungsi yang dibutuhkan dan diharapkan oleh penggunanya."


Sudah terpampang nyata kan performa bertenaga AI dari ASUS Zenbook DUO (UX8406)? 


๐ŸŒธ Baterai Tahan Lama

Baterai Tahan Lama

Baterai 75Wh tahan lama yang tertanam dalam Zenbook DUO tetap dapat membuat pengguna produktif hingga 8 jam! Dan kalau baterai habis,  mengisi daya hanya butuh 49 menit untuk mencapai 60%  daya baterai karena sudah didukung Fast-charge Technology. Baterai berkapasitas tinggi 75Wh yang didesain ulang ini memiliki masa pakai lebih lama dan ramah lingkungan, yang mendukung siklus pengisian daya hingga 20% lebih banyak dibandingkan generasi sebelumnya.


Dengan baterai kuat ini, jangankan beraktivitas di rumah, di luar rumah pun tidak lagi pusing dan khawatir dengan daya baterai. 8 jam itu sudah dari pagi sampai sore, lo. Mau mengisi ulang daya pun juga cepat enggak pakai lama.


๐ŸŒธ Lancarkan Online Meeting

Lancarkan Online Meeting

Siapa yang sampai saat ini masih sering mengadakan pertemuan virtual? Meski pandemi Covid-19 sudah berakhir, tapi yang namanya online meeting atau webinar masih menjadi jalan ninja saya yang tidak lagi sebebas dulu ke mana-mana ini, untuk mendulang ilmu, sharing ilmu, rapat, berdiskusi, hingga bersilaturahmi. 


ASUS Zenbook DUO (UX8406) tentu saja mengerti kebutuhan new normal yang semakin akrab dengan online meeting. Memiliki kamera ASUS AiSense yang memastikan pengguna selalu tampil baik selama konferensi virtual, dan Two-Way AI Noise Cancelation dapat mengurangi kebisingan latar belakang pada mikrofon dan audio.


Laptop ini juga memberikan pengalaman mendengarkan yang lebih baik dengan smart amplifier dan ASUS Audio Booster. Mana tau online meeting-nya tidak pakai headset. Bakal mantap juga untuk menonton film, streaming video, atau hiburan lainnya.


๐ŸŒธ Desain Inovatif dan Tangguh

Desain Inovatif dan Tangguh

Dengan dua layar kembarnya, ASUS Zenbook DUO (UX8406) didesain sangat fleksibel, mudah, dan nyaman digunakan. Mulai dari port dan konektivitas yang sangat lengkap, lima mode penggunaan yang fleksibel, hingga desain yang tetap tipis dan ringan. Bobotnya hanya 1,35 kg dan ringkas dengan ketebalan hanya 14,6 mm. Wah, ini mah sama saja dengan bawa laptop satu layar. Masuk tas ransel saya yang biasanya pasti muat.


Laptop konsumen ASUS juga telah memenuhi standar militer MIL-STD 810H 20 yang sangat menuntut keandalan dan daya tahan, melewati serangkaian pengujian yang berat dan untuk pengoperasian di lingkungan yang keras, seperti temperatur tinggi dan rendah, benturan, getaran, hingga ketinggian. Faktor-faktor ini tentu membantu meningkatkan keawetan laptop, sehingga pengguna dapat tenang bekerja, bepergian, atau bersantai bersamanya. Sudahlah laptopnya mendukung multitasking, praktis dibawa, ketangguhannya pun tidak diragukan. Wajar sih kalau dinobatkan sebagai laptop dua layar terbaik di dunia.


Spesifikasi ASUS Zenbook DUO (UX8406)

Harga: Rp 33.999.000,-

Spesifikasi ASUS Zenbook DUO (UX8406)


Sepertinya bukan hanya saya dan Ibu Penggerak saja yang akan semakin produktif kalau dibersamai ASUS Zenbook DUO (UX8406). Aktivitas dan tugas-tugas digital yang semakin beragam, di tengah perkembangan teknologi yang kian pesat, pasti lebih banyak orang yang membutuhkan laptop dua layar yang membuat kerja semakin cepat dan praktis, serta hasilnya pun lebih baik.


Ibu Penggerak dan Fasilitator Ibu Penggerak bersama ASUS Zenbook DUO (UX8406), langkah maju kita untuk kemajuan pendidikan merata di seluruh Indonesia.  



Tentang Perempuan dan Pendidikan

Tentang Perempuan dan Pendidikan

Beberapa hari lalu saya membaca ungahan Co-Founder Sidina Community, Mbak Isti Budhi Setiawati, di akun Instagram pribadinya mengenai Perempuan dan Pendidikan. Sangat menarik. Bukan realitanya, tapi gagasannya. Kalau membahas realita, bikin patah hati. Perempuan masih dianggap sangsi untuk berpendidikan tinggi. Apalagi ibu rumah tangga, lebih negatif lagi pandangannya kalau masih mengejar pendidikan. Padahal, anak-anak yang dilahirkan dan dibesarkan membutuhkan ibu yang peduli dengan pendidikan agar masa depan mereka juga mengutamakan pendidikan. Sesimpel itu hubungannnya.


Kita paham bahwa kodrat wanita itu hamil, melahirkan, menyusui, lalu menjadi ibu. Itu kodrat wanita yang tidak akan pernah dimiliki pria. Pertanyaannya, sejauh mana kamu memandang dirimu dalam menjalani kodratmu sebagai ibu? Menurutmu, tingkat pendidikan dan tingkat ilmu seperti apa yang layak untuk seorang ibu?

- Isti Budhi Setiawati -


Real di depan mata, bahkan saya mengalami sendiri paradigma pada perempuan yang memilih menjadi ibu rumah tangga sebagai perempuan yang bodoh (maaf kalau pemilihan katanya agak ekstrim, tapi ini memang saya dengar dengan kedua telinga saya). Saya membahasnya bukan karena saya ibu rumah tangga, tapi lebih kepada bagaimana cara perempuan menanggapi pola pikir yang keliru agar jangan sampai terbawa arus. Coba bayangkan bila semua ibu rumah tangga menerima paradigma tersebut. Akhirnya malas mengembangkan diri dan langkahnya benar-benar mati. Ujungnya, tidak menutup kemungkinan untuk diwariskan kembali ke anak-anaknya. Iya, kan?


Saya merentangkan hal ini kepada ranah yang lebih luas. Sudah selayaknya semua ibu, termasuk ibu rumah tangga sekali pun, terus belajar dan mengembangkan diri agar dapat mendampingi anak-anak dengan lebih baik, serta menjadi tauladan yang patut dicontoh. Bukankah anak-anak itu peniru ulung? Orang tua sebagai manusia pertama yang mereka kenal, serta paling sering diperhatikan dan direkam gerak-geriknya, jelas menjadi contoh terbesar dalam hidup mereka. 


Makanya, yuk para ibu, pandang diri kita sebagai pemegang peran besar masa depan anak. Ingin mereka menjadi apa kelak, tergantung dari upaya kita sebagai orang tua. Jangan pernah berhenti untuk menggali ilmu demi menyukseskan proses belajar anak. Entah caranya dengan ibu mau melanjutkan sekolah lagi, bergabung dalam komunitas positif, atau mengembangkan diri secara otodidak, bebas. Yang penting, tetap upayakan membuka diri untuk mengikuti perkembangan yang terjadi. Apalagi soal pendidikan, penting sekali.


Bagi ibu yang diberi kesempatan melanjutkan pendidikannya di lembaga pendidikan formal hingga jenjang tinggi, bersyukurlah. Tapi bila kesempatan itu belum datang, ingatlah bahwa pendidikan BUKAN HANYA BERSIFAT FORMAL. Yang terpenting, ibu dapat memberi contoh pentingnya menuntut ilmu dan menjadi manusia berilmu.


Sekarang sudah banyak sekali jalur dan fasilitas yang semakin memudahkan. Asal ada kemauan, pasti ketemu cara yang pas. Asal mau saling mendukung, bukan menjatuhkan, pasti semua ibu bisa terus berbagi berbagai ilmu, pengalaman, dan hal positif yang bermanfaat bagi satu sama lainSeperti adanya program Ibu Penggerak, hadirnya Fasilitator Ibu Penggerak agar lebih banyak lagi ibu yang mendapat ilmu tentang dunia pendidikan, hingga inovasi perangkat yang semakin sesuai dengan kebutuhan masa kini, ASUS Zenbook DUO (UX8406).


Manfaatkan internet, berbagai media, dan teknologi untuk terus belajar

Ibu yang peduli pendidikan, pasti memiliki peluang lebih untuk menghadirkan anak-anak yang berpendidikan. Karena ia akan berusaha keras mewujudkannya, bukan memasrahkannya.


Semoga bermanfaat.


Referensi

Materi dari penyelenggara

https://www.asus.com/id/laptops/for-home/zenbook/asus-zenbook-duo-2024-ux8406/

No comments

Sebelum komentar, login ke akun Google dulu ya teman-teman. Jangan ada "unknown" diantara kita. Pastikan ada namanya, biar bisa saling kenal :)