Membawa Pulang Keyakinan akan Masa Depan Bloger

No comments

Memangnya masih ada tulisan bloger yang dibayar? Bahkan keraguan itu tidak hanya datang dari mereka yang bukan bloger, melainkan juga dari bloger itu sendiri. Banyak yang merasa job untuk bloger kian menipis, sedangkan domain dan hosting harus terus dibayar. Akhirnya, tak sedikit yang banting setir menjadi konten kreator, YouTuber, atau lainnya yang dianggap lebih menjanjikan. 


Membawa Pulang Keyakinan akan Masa Depan Bloger

Apakah realitanya betul-betul seperti itu? Apakah masa depan bloger segitu tidak menjanjikannya? Entah kenapa, di antara keraguan yang kian meluas, saya memilih percaya bahwa bloger belum kehilangan peluang. Mungkin memang ada pergeseran kebutuhan berbagai pihak di luar sana, tapi bukan berarti bloger sepenuhnya tidak dibutuhkan lagi. Ini sependek pengamatan saya.


Saya membayangkan Facebook yang katanya sudah tidak banyak dipakai karena ada platform media sosial lain yang lebih difavoritkan. Namun nyatanya? Meta Ads Facebook malah jadi media iklan paling diminati. Bahkan harga kelas untuk belajarnya saja bisa jutaan. Saya berpikir hal serupa juga terjadi di dunia blogging, yang mana pasti ada hal-hal di balik layar tentang potensi blog dalam era AI dan gempuran konten visual yang belum diketahui para bloger.


Nah, untungnya seminar dari Seedbacklik yang diadakan akhir tahun lalu, tepatnya tanggal 20 Desember 2025 di Ritz-Carlton Jakarta, dengan tajuk Seedbacklink Summit 2026: Marketing and Communication Outlock 2026, membuka tirai pandangan saya dan memberi bukti bahwa apa yang saya yakini tidak salah. Seminar ini menghadirkan pembicara-pembicara berikut:

  • Ahmad Desrayen - CEO of Seedbacklink
  • Bima Marzuki - Founder & CEO Media Buffet PR
  • Rizky Permata. N - Co-CEO of KOL.ID
  • Amrista Raje - Top Creator Indonesia
  • Leon Hartono - Founder The Overpost & Enterpreneur


Para ahli di bidangnya masing-masing tersebut, membuka data, memberi analisa, dan berbagi pengalaman mereka. Yang menyimpulkan bahwa bloger masih dibutuhkan ke depannya. Ya, hanya perlu beberapa adaptasi. Kini, saya sudah yakin dengan dasar, bukan hanya mengandalkan feeling dan pengamatan singkat saja. Kalau ahli yang bicara, pasti ada keprofesionalan yang menyertai. Dan itu sangat dapat dijadikan pegangan. Iya, kan?


Bloger Harus Siap Beradaptasi

Marketing Inventory yang Berdaptasi
Marketing Inventory selalu Berdaptasi

5 tahun mendatang, apakah AI akan menggantikan Google?

Satu pertanyaan menarik dari Bima Marzuki sempat membuat peserta seminar yang terdiri dari bloger, media, dan KOL terbagi menjadi dua kubu. Ada yang bilang iya, ada juga yang berpendapat tidak. Walau saat ini penggunaan AI meroket tajam, bahkan curhat saja ke ChatGPT, menurut analisa beliau, Google belum tergantikan.


Karena semakin sering orang menggunakan AI, semakin terlihat pula celah kekurangannya. Sehingga untuk mencari informasi tepercaya, pengguna internet tetap mengandalkan Google yang mampu mengoneksikan dengan jutaan sumber referensi. Terlihat jelas website-nya, jelas penulisnya. Bukan mengandalkan hasil pemikiran AI yang terkadang belum mampu memberikan jawaban sesuai. Ada yang merasakannnya juga?


Maka dari itu, website (termasuk blog) belum kehilangan eksistensinya di tahun 2026 hingga 5 tahun mendatang. Orang-orang masih percaya bahwa informasi yang mereka dapatkan dari hasil pencarian Google, lebih dapat diandalkan.


Disampaikan oleh Ahmad Desrayen, history just repeat, adaptation is the key. Marketing pasti memiliki inventory yang terus mengikuti kebutuhan zaman. Misal di tahun 2000-2010, inventory ini berupa koran, radio, TV, atau billboard. Maju ke tahun 2010 hingga sekarang, media baru terus bermunculan, seperti website dan blog. Tapi, platform-nya bisa jadi bertambah atau bergeser sesuai arus pengguna. Kalau sebelumnya Facebook merajai jagat maya sebagai platform bersosial secara daring, kini sudah ada Instagram, TikTok, YouTube, dan lainnya. Tentunya dengan algoritma yang masif bergerak.


Sama dengan blog, adaptasi pun menjadi kunci. Bisa jadi bukan hanya blogernya saja yang perlu berjuang mengikuti arus, tapi juga berbagai pihak di luar sana yang terus mencari teknik marketing paling berdampak. Selagi masih ada satu titik yang mempertemukan keduanya di tengah, ya, peluang bloger masih terbuka.


SEO to GEO

Eranya AI, saatnya bloger maju ke GEO
Eranya AI, saatnya bloger maju ke GEO

SEO tentu tidak asing bagi para bloger dan digital marketer. Tapi, tahukah bahwa sejak AI semakin diminati, SEO sudah beralih ke GEO (Generative Engine Optimization)? GEO ini hadir untuk merespon munculnya mesin pencari berbasis AI. Kebutuhan brand besar bukan lagi untuk mejeng di halaman pertama Google, melainkan juga dapat menjadi referensi AI. Coba perhatikan, ketika kita bertanya di platform AI, sering diberikan tautan sumber referensi yang bisa diklik. Nah, inilah tujuannya. Karena nyatanya, muncul di halaman utama Google, belum tentu bisa menjadi referensi AI.


Bila SEO fokus pada kata kunci, backlink, dan analisis website pesaing, GEO justru fokus pada ragam pertanyaan pengguna, lalu memberikan jawaban tepat dan relevan. Sehingga konten yang menjadi referensinya pun menggunakan bahasa yang lebih alami, kreatif, dan relate. Tapi, perlu dibarisbawahi bahwa bukan berarti SEO tidak lagi dibutuhkan. GEO justru menjadi teknik pengembangan SEO yang berlandas AI.


Lagi, di sinilah blogger dibutuhkan. Untuk menaikkan sebuah website/brand, jelas butuh penanaman backlink dan review positif. Makanya tawaran kerja sama content placement atau sponsored content masih ada untuk bloger.


Berkurang atau tidak, itu kembali lagi sejauh mana bloger beradaptasi. Di Seedbacklink sendiri, masih banyak bloger yang mendapatkan penghasilan rutin melalui penjulan backlink di blognya. Ini saya saksikan betul dari diskusi di WhatsApp Group-nya. Bahkan di seminar ini, juga diberi penghargaan bagi bloger dengan penjualan terbanyak.


Jadi, apakah masa depan blogger tidak cerah lagi? Itu keliru. Dari apa yang dijelaskan gamblang di Seedbacklink Summit 2026, saat ini dan beberapa tahun ke depan, blog masih diperlukan dalam berbagai kerja sama digital marketing, baik untuk SEO maupun GEO. Karena tanpa memaksimalkan dukungan dan "pertalian" rumit di belakang sistem pencarian digital, di mana ini yang terus diupayakan dalam digital marketing, sebuah website/brand akan kalah saing. Soalnya, kalau kita mencari informasi apapun pasti langsung searching kan? Entah itu melalui mesin pencari atau platform AI.


Saya tidak bisa bohong, walau sedikit, sempat muncul rasa pesimis dan kekhawatiran saat mendengar cerita teman-teman bloger yang job-nya makin hilang. Saya rasa itu manusiawi. Tapi ternyata, apa yang saya dapatkan dari seminar ini berhasil membuat saya jauh lebih optimis dan yakin. Pulang-pulang jadi makin semangat!


Maksimalkan "The AI Recipe'', Ini yang Baru Saya Tahu!

Maksimalkan "The AI Recipe''

Masih berkaitan dengan GEO, lebih lanjut Bima membocorkan resep rahasia agar brand bisa menjadi referensi AI. Yang mana saya menangkapnya sebagai: blog kita bisa menjadi referensi AI ketika ada yang mengetik kata kunci tertentu. Ada satu hal yang ternyata berbeda dari yang selama ini saya pikirkan. Kira-kira seperti ini resepnya.

1 cup mention di sistem Google (misal Google Chrome, Goole Translate, YouTube, dan lainnya)

1/4 cup mention di media sosial

2 sendok teh mention di situs berita

1 1/2 sendok teh mention di website sendiri


Siapa sangka, menyebutkan merek sendiri di website sendiri pula, justru menjadi yang paling sedikit memberikan kontribusi. Yang paling utama adalah memunculkan nama brand di Google system. Selanjutnya baru penyebutan di konten-konten media sosial, disusul penyebutan di situs berita. Jadi, jangan malas bikin konten, ya! Sering-sering menaikkan branding dan menyebutkan blog kita di media sosial. Mana tahu, ini berhasil mendongkrak parameter blog dan membuka kesempatan lebih lebar agar menjadi rekomendasi AI.


Sesingkat pemahaman saya, semakin sering blog kita muncul sebagai referensi AI, berarti semakin menarik pula bagi para brand atau pihak lain untuk menawarkan kerja sama. Karena sekarang semua brand berlomba agar bisa muncul di pencarian AI.


Bonusnya, media sosial otomatis turut berkembang. Aktif di media sosial, berarti membuka peluang baru. Andai ada yang melirik, bisa jadi mendatangkan tawaran kerja sama. Blog jalan, media sosial jalan, branding pun jalan. Ingat, saat ini adaptasi dibutuhkan agar bisa bertahan. Dan inilah salah satu adaptasi nyata bagi para bloger.


Suasana dan Seminar Kit yang Menjadi Pengingat sekaligus Motivasi

Suasana dan Seminar Kit yang Menjadi Pengingat sekaligus Motivasi

Bukan hanya ilmu, seminar yang diselenggarakan dengan baik pasti meninggalkan kesan tersendiri. Menghadiri seminar yang berkaitan dengan aktivitas produktif dan passion saya di tempat sebagus  Ritz-Carlton, seakan memberi sinyal penghargaan bagi kami, para bloger. Kami disambut hangat, ramah, bahkan diberi name tag dengan nama masing-masing. Hal pertama yang bikin saya sumringah sekaligus bangga. Mungkin bagi sebagian orang tampak sepele, tapi bagi saya, ini sebuah wujud kematangan panitia untuk menghargai pesertanya. 


Setelah proses pendaftaran, setiap peserta diberikan seminar kit yang dimasukkan dalam satu tas kain hitam bertuliskan Seedbacklink. "Lumayan nih untuk bawa-bawa barang kalau pergi belanja", batin saya. Soalnya ada reseletingnya, hehe. Maklum emak-emak. Isi di dalamnya pun ada beberapa item familiar lain dengan desain serupa, yaitu payung, mug, dan kaos. 


Selama acara berlangsung, fasilitas aula hotel berbintang memang juara. Meja besar dengan kursi yang tersusun rapi, diberikan pula lembar kertas dan alat tulis untuk mencatat hal penting, serta air mineral yang jumlahnya menyesuaikan jumlah kursi. Jadinya peserta seminar bisa mengikuti seluruh rangkaian acara dengan sangat nyaman. Makan siang prasmanan pun disediakan, dengan menu lengkap yang semuanya enak-enak. Mulai dari nasi plus lauk-pauk, salad (ini saya suka banget), cream soup, berbagai macam kue, buah dan minuman. Serasa healing sejenak dari urusan rumah tangga. Semoga sering-sering deh saya diundang ke acara seminar seperti ini. Aamiiiiin.


Ruangan nyaman, menambah konsentrasi sehingga ilmu lebih mudah terserap
Ruangan nyaman sukses menjaga konsentrasi sehingga ilmu lebih mudah terserap
Menariknya lagi, bertemu dengan teman-teman sesama bloger, obrolan yang menyelimuti pasti berisi. Kami saling sharing dan saling menyemangati. Keakraban yang selalu saya rindukan ketika berkumpul dengan mereka yang sefrekuensi. Seru dan hangat. Bahkan sampai detik-detik mau pulang pun, kami masih tertawa bersama berfoto-foto di area photobooth.


Saya kira sudah berakhir sampai di situ. Saya pulang, lalu semuanya selesai. Tapi, saya salah. Seminar kit yang saya bawa pulang, selalu mengingatkan saya akan ilmu dan keyakinan pada masa depan bloger itu.


Berhubung paket seminar kit dari Seedbacklink ini bermanfaat semua, otomatis akan terpakai di rumah. Mug jelas buat minum atau ngopi saat menulis. Kaosnya pun nyaman dipakai untuk keseharian. Serta payungnya dengan warna oranye cerah khas Seedbacklik juga cantik dipakai saat hujan. Jarang-jarang kan payung warna oranye menyala? Apalagi sekarang musim hujan, pas banget deh. Awalnya hanya sebatas itu pikiran saya.


Seminar kit untuk peserta

Tapi, lama-lama saya sadar. Ketika melihat item-item buah tangan seminar itu, saya selalu teringat akan insight berharga yang saya dapatkan. Saya tidak tahu kenapa, seakan ada pecutan semangat untuk menulis artikel baru di blog dan menguatkan media sosial dengan konten yang diunggah konsisten. Sudah jelas-jelas para pembicara menyatakan bahwa blog masih punya peluang hingga 5 tahun ke depan, rasanya rugi kalau saya tidak mengupayakannya. Hanya berpasrah dan diam, gimana mau beradaptasi? Yang rugi siapa? Ya saya sendiri! 


Dari sini saya simpulkan, seminar kit bukan hanya soal bawaan pulang peserta atau penanaman branding penyelenggara. Melainkan juga sebagai pengingat bagi peserta seminar akan ilmu yang sudah didapatkan dan mempraktikkannya. Adakah yang juga pernah merasakannya?


Baca juga: 8 Sumber Penghasilan dari Blog, Bukan Cuma AdSense


Tidak heran bila seminar kit sekarang semakin kreatif rupa dan desainnya. Barusan saya lihat di website Mahada, salah satu produsen paket souvenir corporate gift custom dan paket seminar kit di Indonesia, banyak sekali variasi paket customnya. Ya, karena ada dampak panjang setelah pemberian seminar kit tersebut, bahkan mungkin saja terjadi hal-hal baik yang tak terpikirkan oleh penyelenggara. Siapa yang menyangka dengan memberikan paket seminar kit yang bisa dipakai sehari-hari, secara tidak langsung akan mengikat ilmu dan pengalaman tentang seminar tersebut, lalu menanamkan rasa optimis berulang kali, meski acaranya sudah lama berlalu.


Pokoknya saya bersyukur sekali bisa hadir di Seedbacklink Summit 2026 kemarin. Hampir 2 bulan berlalu, tapi kesan dan ilmunya masih melekat. Terima kasih!

No comments

Sebelum komentar, login ke akun Google dulu ya teman-teman. Jangan ada "unknown" diantara kita. Pastikan ada namanya, biar bisa saling kenal :)