Nanti kalau lapar juga minta makan sendiri. Entah sudah berapa kali saya mendengarnya. Pas dipraktikkan, bukannya minta makan, seharian anak saya tak pernah menunjukkan gelagat lapar. Mending kalau masih ASI, masih ada yang masuk ke lambungnya. Tapi, kalau sudah lepas ASI, gizinya mau didapat dari mana kalau bukan makanan? Menunggu lapar, tidak pernah menjadi jawaban bagi anak saya yang memiliki masalah menelan.
Anak saya justru tidak pernah GTM (Gerakan Tutup Mulut). Selalu buka mulut setiap disuapi. Namun, ia sulit sekali menelan yang sering berujung muntah. Bahkan menelan bubur halus sekalipun. Ini berlangsung bertahun-tahun, mulai sejak hari pertama MPASI. Wajar kan bila saya takut ia terkena stunting?
Saya sudah mengupayakan pencegahan stunting sejak sebelum hamil. Minum susu persiapan hamil, berlanjut susu hamil, selalu rutin cek ke dokter kandungan setiap bulan dan menghabiskan setiap vitamin yang diresepkan, hingga memaksakan diri tetap makan meski mengalami mual parah di sepanjang kehamilan. Ketika bayi saya lahir, semua usaha itu seakan menguap. Di perut, mencukupkan kebutuhan nutrisinya masih dalam kendali saya, namun setelah keluar, saya hampir putus asa hanya untuk memasukkan satu sendok makanan.
Ini cerita perjuangan saya dengan anak yang mengalami kesulitan menelan dan sering muntah. Sekarang ia sudah berusia 10 tahun dan masalah makannya berhasil dilewati berkat proses kami yang tidak bisa dikatakan mudah. Saya percaya, stunting tidak sesederhana tentang "makan", melainkan melibatkan seluruh pola asuh yang diterapkan orang tua.
Muntah yang Tidak Wajar
Anak yang baru mulai MPASI memang butuh adaptasi. Saya pun awalnya menganggap wajar ketika anak terus-terusan muntah setiap kali disuapi bubur halus. Bahkan pisang yang dikerok, saya campurkan sedikit air agar lebih mudah ditelan. Entah kenapa, tetap saja muntah. Banyak sekali, sampai-sampai keluar dari hidung. Sehingga berat badannya sulit sekali naik, bisa 3 bulan berturut-turut atau lebih, berhenti di angka timbangan yang sama.
Apa sudah cek ke dokter? Sudah berkali-kali. Mulai dari Dokter Spesialis Anak (DSA) hingga dokter spesialis lainnya. Cek alergi pun juga pernah. Tapi, tidak ditemukan satu pun masalah. Katanya, anak saya baik-bak saja.
Di saat tidak tahu lagi harus bertanya ke siapa, tak ada pilihan selain berjuang sendiri.
Saya perhatikan lebih lekat dan akhirnya menemukan akar permasalahan yang selama ini tak terlihat. Anak saya tidak bisa menelan dengan baik. Saya lihat betul-betul gerakan di lehernya. Setiap hendak menelan, dia langsung muntah. Dia pun sudah berjuang menahan, tapi tak selalu berhasil. Dan belakangan saya tahu bahwa ini mengarah kepada disfagia.
Kabar buruknya, Kemenkes menyebutkan bahwa disfagia dapat menyebabkan malnutrisi, yang pastinya berkaitan erat dengan stunting. Inilah yang saya perjuangkan bersama anak sulung saya selama lebih dari 6 tahun.
Rutin Cek Tumbuh Kembang
Hal pertama yang tidak pernah terlewatkan adalah memantau tumbuh kembangnya. Ukur lingkar kepala, tinggi badan, dan berat badan secara rutin satu bulan sekali. Kalau tidak ke rumah sakit, Posyandu memfasilitasinya secara gratis. Ini bukan prosedur atau sekadar SOP, tapi parameter pasti yang akan jadi pegangan orang tua.
Jangan lupa, langsung ditandai di grafik yang ada dalam buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA). Andai kurva sudah di warna kuning, apalagi merah, saya harus sigap menyusun strategi peningkatan nutrisi dalam beberapa suap makanannya. Jadi, kalau belum punya buku KIA, minta ke petugas Posyandu atau rumah sakit karena ini juga gratis. Buku yang menurut saya wajib dimiliki orang tua.
![]() |
| Kartu Menuju Sehat di KIA dengan grafik yang bisa menjadi patokan pertumbuhan anak |
Perkembangannya juga dipantau, seperti perkembangan motorik. Bukan menakut-nakuti, salah satu gejala stunting juga bisa dilihat dari keterlambatan perkembangan motorik. Misal saat anak saya belum juga kunjung bisa merangkak, saya langsung menanyakannya ke dokter. Serta imbangi dengan stimulasi konsisten.
Kemudian, jangan pernah sekali pun membandingkan dengan anak lain. Apalagi standar "anak sehat adalah anak gemuk". Fokus pada kurva anak saja. Selama kurva pertumbuhan anak masih aman menurut dokter, itu sudah cukup dijadikan patokan. Terserah orang mau bilang apa, jangan pedulikan. Karena perkataan orang terkadang bikin ibu makin tertekan sehingga tidak bisa berpikir jernih. Ini sempat saya alami sendiri.
Intinya, jangan lengah untuk selalu memantau. Gunakan standar pasti dan percaya dengan ahli. Ingat, kehidupan anak tak bisa diulang untuk memperbaiki bila sudah terlambat. Terutama di usia 12-24 bulan yang menjadi kelompok usia paling banyak terjadi kasus stunting (sumber: buku KIA).
Makan Lebih Sering dan Pastikan Padat Gizi
Bagi kami, bisa masuk 5 sendok makanan saja tanpa muntah, menjadi hal yang sangat disyukuri. Demi menghindari makanan yang sudah masuk keluar kembali, saya mengusahakan untuk memberi makan lebih sering dengan porsi kecil. Bisa lebih dari 6 kali sehari, termasuk camilan. Hilangkan ekspektasi anak haus makan banyak, karena yang penting bisa makan dulu tanpa memuntahkannya kembali.
Sadar bahwa makannya hanya sedikit, saya selalu memadatkan gizi dalam setiap suapnya. Masukkan dobel protein dalam menu, misalnya memberi lauk ayam dan telur. Camilannya pun tidak selalu buah, saya selipkan juga protein seperti telur kukus atau rebus. Kementerian Kesehatan RI menyatakan bahwa kecukupan protein hewani dalam MPASI dinilai efektif dalam mencegah stunting, karena protein dan zat gizi yang terkandung di dalamnya mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak.
Tentunya juga dilengkapi dengan karbohidrat, protein nabati, sayuran dan lemak tambahan. Untungnya, sekarang sudah banyak referensi menu MPASI di media sosial. Kalau lelah masak, kadang saya bisa memasak 5 kali sehari demi anak tidak bosan, bisa diselingi dengan makanan bayi instan.
Pastikan tekstur makanan sesuai usia anak meski ia sulit menelan. Karena masalahnya bukan di tekstur, tapi motorik. Mau usia 8 bulan masih diberi bubur halus, tetap akan muntah juga. Jadi, sesuaikan tekstur agar kemampuan anak perlahan terlatih walau tidak secepat anak lain.
Penuhi Kebutuhan Kesehatan Anak
Sekali lagi, stunting bukan hanya soal "makan". Tubuh anak yang sulit makan, kemungkinan besar mendapatkan nutrisi yang pas-pasan atau kurang. Ini akan membuat tubuhnya semakin rentan. Makanya, penting memenuhi kebutuhan kesehatannya yang lain.
Cukupkan jam tidur. Contoh, WHO merekomendasikan anak usia 1-2 tahun untuk tidur 12-14 jam sehari. Dalam Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/MENKES/1928/2022, selain pemberian makan yang benar dan energi cukup, jadwal tidur teratur dengan waktu tidur malam mulai pukul 21.00 untuk mencapai tidur dalam (deep sleep) pada pukul 23.00-03.00, juga menjadi salah satu aspek dalam tata laksana stunting.
Kemudian perhatikan kebersihan apa pun yang berkaitan dengan anak. Lantai, lingkungan, pakaian, hingga air putih yang ia minum setiap hari. Pastikan juga imuniasi anak lengkap, jangan terlambat. Pemberian obat cacing pun tak boleh disepelekan.
Kalau sudah sakit, pasti makin tidak nafsu makan. Flu saja bisa membuat anak saya lebih sering muntah. Terlebih saat ia terkena campak di usia 9 bulan dulu, tubuhnya yang kurus, semakin kurus. Kalau berat badan sudah turun drastis, mengejarnya kembali akan sangat sulit. Jadi, jaga kesehatan anak semaksimal mungkin. Biarlah orang bilang berlebihan, kita yang paling tahu kondisi anak kita.
Literasi Orang Tua itu Penting!
Anak yang sulit makan dapat terhindar dari stunting selama orang tua mau meningkatkan literasi agar tahu harus bagaimana dan melakukan apa. Tentunya melakukan upaya yang berdasar, bukan hanya sekadar menuruti "kata orang". Orang tuanya kurus, ya wajar kalau anaknya juga kurus, ini yang pernah saya dengar karena memang suami saya agak kurus. Kalau iya-iya saja, dampaknya bisa sangat berbahaya.
Penelitian dalam jurnal Hubungan Riwayat Pemberian ASI Eksklusif, Pola Asuh dan Pengetahuan Ibu Tentang Gizi dengan Terjadinya Stunting pada Balita Usia 24–59 Bulan, ditemukan bahwa pengetahuan ibu tentang gizi berhubungan signifikan dengan kejadian stunting pada balita, sehingga pengetahuan gizi orang tua menjadi salah satu aspek penting dalam mendukung pencegahan stunting. Makanya, sesederhana searching dari sumber tepercaya, itu bisa sangat membantu menentukan langkah dalam menemukan solusi yang benar.
Bagi saya, pengasuhan bukan hal yang bisa dipasrahkan pada waktu, melainkan butuh dukungan ilmu yang kredibel. Termasuk soal pencegahan stunting.
Bersyukur bila anak-anak kita tak mengalami masalah apa pun dalam pemenuhan gizinya dan tumbuh kembangnya. Tapi, bagaimana jika tidak? Anak yang belum mandiri, sangat tergantung pada pengasuhan orang tuanya. Orang tua dengan literasi baik, tentu akan menerapkan pengasuhan yang lebih baik.
Satu kesalahan saya yang sebaiknya jangan terulang. Bila anak tampak sulit menelan dan sering muntah, jangan hanya beranggapan lambungnya bermasalah, ada alergi makanan, atau segala sesuatu yang berkaitan dengan metabolisme. Tapi, sulit menelan juga bisa disebabkan oleh masalah motorik dan sebaiknya dikonsultasikan ke dokter THT. Andai saya tidak terlambat menyadari, mungkin anak saya bisa membaik lebih cepat.
Terakhir, saran untuk para calon ibu, persiapkan tubuh sebaik mungkin untuk menjalani masa kehamilan, baik sebelum hamil, maupun saat hamil. Begitu pula ASI, bila memungkinkan, usahakan mencukupkan memberikan penuh selama 6 bulan dan melanjutkan sampai 2 tahun. Kita tidak akan tahu bagaimana nanti kebiasaan makan anak setelah mulai MPASI. Setidaknya, selama kendali masih penuh ada di kita, ibunya, maksimalkan untuk mencegah stunting.
Semoga sedikit pengalaman ini bisa membantu orang tua yang mengalami masalah serupa agar tak anak-anak kita dapat tumbuh sehat dan terhindar dari stunting.
#MasyarakatSehatIndonesiaKuat #LombaKesehatanKomdigi2026 #HUT81RI
Referensi
- Difagia. URL: https://kms.kemkes.go.id/pengetahuan/detail/6826b257c9d4a8554dbe6e3b (Diakses 20 Agustus 2026)
- Jurnal Hubungan Riwayat Pemberian ASI Eksklusif, Pola Asuh dan Pengetahuan Ibu Tentang Gizi dengan Terjadinya Stunting pada Balita Usia 24–59 Bulan oleh Yuni Malinda Gusman dan Lili Farlikhatun. URL: https://journals.uima.ac.id/index.php/jiki/article/view/2586/1448 (Diakses 20 Agustus 2026)
- Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/MENKES/1928/2022
- Protein Hewani Efektif Cegah Anak Alami Stunting. URL: https://www.kemkes.go.id/id/protein-hewani-efektif-cegah-anak-alami-stunting (Diakses 20 Agustus 2026)








No comments
Sebelum komentar, login ke akun Google dulu ya teman-teman. Pastikan ada namanya, biar bisa saling kenal :)