Pernahkah teman-teman ikut kelas online? Saya salah satu pelanggannya dan sudah tak terhitung ilmu yang saya dapatkan dari mengikuti berbagai kelas online ini. Namun, beberapa waktu belakangan, saya memberanikan diri mengadakan kelas online sendiri agar sedikit ilmu yang saya punya bisa lebih bermanfaat. Kali ini bukan sebagai peserta, bukan pembicara yang diundang, melainkan mengerjakan mandiri semua prosesnya dari awal sampai akhir. Ternyata, meski durasi kelas hanya 2 jam, persiapannya sangat panjang. Bisa berminggu-minggu sebelumnya saya berjibaku menatap layar laptop dan smartphone sampai bikin mata kering
Sungguh, ini dunia baru yang cukup menantang bagi saya. Seperti keluar dari zona nyaman. Wajar bila setiap kali kelas dimulai, akan menjadi momen penting yang paling menentukan. Selalu bikin deg-degan, khawatir ada yang kurang, tiba-tiba terjadi masalah teknis, atau peserta kecewa karena apa yang saya sampaikan tidak sesuai dengan ekspektasi mereka.
Tapi, saya percaya, niat baik akan selalu membawa hasil yang baik.
Insight yang Meyakinkan Saya untuk Berani Mulai
Sebagai ibu rumah tangga yang tidak sebebas itu keluar rumah mengikuti kelas luring, saya sangat terbantu dengan adanya kelas online. Saya masih bisa tetap belajar, mengembangkan diri, dan mempelajari banyak hal baru dengan lebih fleksibel. Mungkin kalau tidak ada kelas online, skill saya tak akan berubah banyak atau malah jalan di tempat.
Alasan sederhana inilah yang membuat saya berniat untuk membuka kelas online sendiri. Banyak ibu rumah tangga lain atau mereka yang sibuk dan memiliki waktu terbatas untuk mempelajari hal yang disenangi, sehingga membutuhkan kefleksibelan dalam mencari ilmu. Andai saya bisa berperan sedikit di dalamnya, tidak salah bukan?
Bila diminta mengajar tentang blogging, menulis kreatif, membuat konten media sosial, atau tentang produk digital, saya yakin bisa selama masih berada dalam lingkup pengalaman. Namun, skill saya belum dapat dikategorikan "pro" atau "suhu". Tapi, bukan yang terlalu buruk juga. Kira-kira skill saya berada di tengah.
Inilah yang sempat membuat ragu. Karena dalam bayangan saya, pembicara atau mentor kelas adalah orang-orang yang sudah profesional di bidangnya. Skill bersertifikat, didukung pendidikan formal atau informal yang relevan. Bukan yang sedang-sedang seperti saya, yang hanya mengandalkan pengalaman.
Di tengah keragu-raguan itu, saya justru mendapat insight mahal dari suatu kelas online yang saya ikuti. Mentornya Fanti Agustin dari Sekolah Bisnis Online. Ada yang kenal atau pernah ikut kelasnya juga? Insight inilah yang menjadi titik awal keberanian saya untuk mengadakan kelas online sendiri dan selalu menjadi pegangan sampai sekarang ketika kembali ragu. Berikut yang beliau sampaikan.
Pertama, yang dikatakan "profesional" itu ada dua, yaitu:
- Mereka yang mengikuti pendidikan formal/informal; dan
- Mereka yang memiliki pengalaman langsung dalam bidang tersebut atau disebut juga dengan praktisi.
Kedua, tentang level skill, yang menampar saya untuk tidak mengerdilkan kemampuan sendiri. Iliustrasi berikut bisa menggambarkannya dengan lebih jelas.
Dalam rentang 1-10, tentukan level skill kita berada di angka berapa. Contoh saya mengambil angka 5 sebagai nilai tengah yang mewakili skill blogging saya. Dengan begitu, saya bisa menargetkan mereka dengan skill di level 1-4 sebagai peserta kelas. Biasanya, pemula akan kesulitan untuk belajar langsung dengan mentor skill level atas, misal level 9 atau 10. Karena bisa jadi istilah yang digunakan sudah berbeda, fokus yang dibahas berbeda, hingga kasus yang dialami pun berbeda. Di sinilah kelas saya hadir sebagai penengah.
Ketika pengalaman ngeblog saya sudah hampir menyentuh satu dekade, sudah bertahun-tahun pula konsisten membuat konten, atau sudah mendapatkan penghasilan tipis-tipis dari produk digital, bukankah saya sudah bisa dikatakan sebagai praktisi? Berarti sudah dapat dikategorikan sebagai profesional.
Level skill saya yang sedang-sedang saja ini sangat memungkinkan untuk berbagi ilmu dengan teman-teman yang baru mulai ngeblog, menulis, membuat konten, atau menjual produk digital. Level skill yang tidak terlalu jauh akan membuat pembahasan dan komunikasi kami sefrekuensi dan lebih mudah dimengerti.
Begitulah akhirnya saya mengadakan kelas pertama tentang membuat e-book dan gratis bagi siapa saja yang mau ikut. Tak disangka, 200 peserta hadir dalam momen tak terlupakan itu. Yang menjadi awal lahirnya Grow from Home dengan harapan dapat membantu siapa pun untuk bertumbuh dari rumah.
![]() |
| Kelas online pertama yang saya persiapkan sendiri dan beberapa kelas online Grow from Home |
Kini sudah ada 3 grup WhatsApp dalam payung Grow from Home yang saya bagi sesuai fokusnya, yaitu blogging, produk digital, dan microstock. Saya masih mengupayakan untuk mengadakan kelas rutin setiap bulan, tentunya bisa diikuti secara gratis oleh member. Doakan ya, teman-teman.
Proses Panjang untuk 2 Jam Kelas Online
Saya kira hanya butuh sewa Zoom, siapkan materi, lalu kelas berlangsung. Nyatanya, untuk satu kelas online yang dijadwalkan hanya 2 jam itu, saya harus menyiapkan banyak hal hingga berminggu-minggu. Mungkin karena masih serba meraba-raba, jadi banyak yang harus saya pelajari otodidak.
Salah satu kelas dengan persiapan paling panjang yang membuat saya begadang hampir setiap malam selama 3 minggu adalah tentang membuat video AI. Semakin diminatinya video AI di media sosial, menggerakkan saya untuk mengadakan kelas ini agar teman-teman di grup bisa membuka peluang baru. Sudah mencoba mengundang mentor berpengalaman, namun tak berhasil karena rencananya kelas diadakan gratis. Akhirnya ya sudah, saya pelajari sendiri mengandalkan referensi di internet.
Lagi-lagi saya salah menilai. Bayangannya, tulis prompt, generate, video jadi. Tapi, setelah dipraktikkan, tidak sesederhana itu. Karakter tidak konsisten, suara berubah-ubah, hingga hasil video yang kadang tak masuk logika. Inilah yang membuat saya begadang sampai mata perih. Bahkan sampai berlangganan akun pro supaya bisa generate video lebih banyak. Untungnya, berhasil juga ketemu struktur prompt dan cara yang "klik".
Itu baru satu, belum termasuk menyiapkan hal lain. Seperti yang saya singgung sebelumnya, mengadakan kelas online benar-benar memaksa saya keluar dari zona nyaman. Tapi, tetap terasa menyenangkan kok, apalagi kalau kelasnya berjalan lancar.
Memang sepanjang apa sih prosesnya kalau mau mengadakan kelas online secara mandiri?
Berikut tahapan yang saya lakukan. Mana tahu ada di antara teman-teman yang juga berniat untuk sharing ilmu tanpa menunggu undangan sebagai pembicara. Tapi, sebelumnya saya mau disclaimer dulu. Ini murni dari pengalaman pribadi saya dan tentu masih banyak yang harus disempurnakan. Ada masa saya gagal, ada juga yang berhasil. Kalau ada baiknya, diambil. Kalau terlihat celahnya, abaikan saja, ya. Namanya juga masih berproses.
🌸 Riset
Ini yang menjadi penentu apakah kelas diminati atau tidak. Belum tentu mengadakan kelas gratis akan selalu banyak peserta. Kalau tidak ada yang butuh, tetap juga sepi. Bahkan ada kelas saya yang dibatalkan karena yang daftar cuma 4 orang.
Skill yang dimiliki harus disamakan dengan target peserta. Target peserta ini, kita juga yang tentukan, lebih spesifik akan lebih baik. Karena akan berpengaruh pada topik kelas, bahasa untuk promosi, hingga nanti cara menyampaikannya.
Terkadang saya menanyakan di grup atau media sosial, kira-kira mau belajar apa lagi. Juga menyediakan form feedback di setiap akhir kelas dan melakukan evaluasi dari sana. Jujur, saya pun masih terus belajar tentang riset yang baik. Tapi, saya sudah membuktikan bahwa riset yang kuat akan memperbesar peluang kelas sukses dijalankan.
🌸 Konsepkan Kelas
Berdasarkan hasil riset, konsepkan seperti apa kelas akan dilangsungkan dari awal sampai akhir. Sebaiknya diadakan kapan, flyer yang dibuat seperti apa, di-share ke mana saja, apakah ada praktiknya atau hanya teori, apakah ada tugas yang akan dikerjakan peserta, apa membutuhkan perangkat tambahan, tools tambahan, rekaman akan dibagikan atau tidak, hingga apa yang akan dilakukan setelah kelas.
Tidak jarang ketiadaan konsep kelas membuat bingung pembicara maupun peserta. Kalau memungkinkan, sebelumnya bisa di-spill dulu kira-kira nanti di kelas peserta harus apa dan mendapatkan ilmu apa secara garis besar. Ini akan memudahkan kita karena peserta sudah lebih siap.
🌸 Promosi
Karena promosi ini, saya membeli buku-buku copywriting dan ikut kelas-kelas digital marketing. Mempromosikan itu ternyata sulit! Bahasanya berbeda dengan menulis biasa. Tak peduli kelasnya gratis atau berbayar, kalau cara menyebarluaskan informasinya kurang tepat, hasilnya tak akan memuaskan.Bahkan juga harus diimbangi dengan personal branding agar lebih dipercaya.
Membuat flyer harus jelas dan mesti sesuai dengan target peserta kita, mulai dari warna, font, hingga kata-katanya. Kemudian harus ditentukan mau disebarkan ke mana. Apakah hanya di grup saja, di media sosial pribadi, atau mau diiklankan biar lebih banyak yang melihat. Itu pun konsep flyer dan caption-nya bisa berbeda di setiap platform. Trial-error pasti terjadi sampai menemukan strategi yang pas. Bagaimanapun, promosi ini menjadi salah satu bagian penting penentu apakah kelas kita ada pesertanya atau malah sepi.
🌸 Pastikan Perangkat, Jaringan, Platform, atau Tools yang akan Digunakan Aman
Di kelas terbaru saya kemarin, suara narasumber tidak jelas terdengar. Kebetulan suami saya sendiri yang mengisi tentang microstock. Padahal laptopnya masih tergolong baru dan sangat layak pakai. Tidak terpikirkan perangkat suaranya akan bermasalah. Saya lalai mengecek. Untung ada mic yang biasa saya pakai buat bikin konten. Kalau tidak ada, wah, entah bagaimana jadinya.
Hal sederhana seperti ini bisa bikin kelas terhenti cukup lama. Walau hanya 5 menit, tetap akan terasa panjang oleh peserta yang menunggu. Dan memang ada yang memberi feedback agar saya lebih mempersiapkan kelas lebih baik lagi setiap ada masalah teknis terjadi. Jadi, pastikan semua fasilitas aman sebelum kelas. Kalau perlu, cek berulang. Andai sudah dicek berkali-kali tapi masih ada masalah, itu sudah di luar kendali kita. Persiapkan diri juga supaya mampu mengatasi masalah teknis yang terjadi tiba-tiba.
🌸 Belajar serta Siapkan Materi dan Pendukung Lainnya
Saat itu kelasnya tentang platform menjual produk digital yang sangat biasa saya pakai. Pernah juga tentang membuat blog baru di Blogger. Tentu saya percaya diri sekali akan lancar menyampaikannya karena sudah familiar betul. Akhirnya tidak belajar dan hanya menyiapkan materi presentasi beberapa halaman. Jadinya apa? Pas kelas berlangsung, saya terbata-bata dan bingung harus mulai dari mana. Bahkan password email blog lupa. Beberapa pertanyaan juga di luar prediksi. Meksi kelas selesai juga, tapi tetap saja ada kekurangan yang seharusnya bisa dihindari.
Makanya, penting untuk belajar, belajar, dan belajar sebelum mengisi kelas. Meskipun topik yang dibahas sudah menjadi makanan sehari-hari. Persiapkan materi dengan baik. Kalau saya, seringnya membuat materi presentasi sehari sebelum kelas supaya tidak lupa. Dan sudah harus didasarkan dari hasil belajar, bukan hanya mengandalkan ingatan. Karena dalam pandangan peserta yang hadir, kita sudah sangat menguasai materi yang akan diberikan.
Jangan lupakan pula mempersiapkan hal pendukung kecil lain. Misal ada tautan yang harus dibagikan, form yang harus diisi, panduan tugas yang harus dikerjakan peserta, hingga tools dan e-book yang akan dibagikan. Masukkan semuanya dalam satu tempat penyimpanan agar mudah diakses.
🌸 Momen Penting Pelaksanaan Kelas, Pastikan Kondusif
Sampai sekarang, jantung saya serasa mau copot ketika kelas akan dimulai. Perut sampai mulas. Saya selalu menganggap setiap kelas yang saya isi, apalagi yang saya persiapkan sendiri dari awal, adalah momen terpenting yang menentukan. Membuktikan segala yang telah dipersiapkan berhasil.
Seringnya mata suka lelah, perih, dan terasa tidak nyaman karena sudah berhari-hari sebelumnya terus menatap layar untuk persiapan. Ditambah pula begadang. Fokus jelas jadi terganggu dan sering kedip-kedip. Rasanya kurang maksimal saja, meski semua materi berhasil disampaikan. Biasanya kalau mata sudah kering begini, saya langsung teteskan INSTO DRY EYES biar segar.
Penting sekali menjaga kesehatan mata dan tubuh secara keseluruhan hingga jadwal kelas, meski tak bohong persiapannya cukup mengurus waktu dan tenaga. Lingkungan juga harus dikondisikan sedemikian rupa agar jangan sampai ada yang berisik. Misal saya, biasanya anak-anak diperbolehkan menonton video atau film kesukaannya selama kelas berlangsung agar tidak mengganggu. Tentunya setelah memastikan jaringan internet tetap aman untuk kelas meski dibagi untuk streaming video anak juga.
🌸 Setelah Kelas
Kelas selesai, bukan berarti tidak ada lagi yang harus dilakukan. Download rekaman kelas, membagikannya bila sudah dijanjikan, dan bonus lainnya. Pernah suatu waktu saya demam, padahal mau memberikan bonus e-book usai kelas. Tak peduli, tetap saya paksakan membuat e-book karena sudah janji. Rasanya tak karuan. Makanya, ini perlu menjadi pertimbangan di awal agar tidak memberatkan.
Terakhir, peserta kelas harus dipertahankan agar tidak pergi begitu saja. Buatlah "kolam" dari sana agar bisa menjadi wadah sharing dan modal untuk mengadakan kelas selanjutnya. Grup ini dapat memberi ide atau saran sesuai dengan yang mereka butuhkan. Malah terkadang kita sebagai pencetus grup, juga bisa belajar banyak dari sini. Dan kolam ini wajib terus dirawat dengan konsisten, mengajak diskusi atau mengadakan kelas. Lagi dan lagi, itu tidak mudah dan sering bikin saya pusing, hehe. Tapi, tetap menyenangkan karena memang sudah diniatkan.
Bagi saya, semuanya adalah proses yang tak mungkin dibilang singkat dan mudah. Terus bersambung dari satu kelas ke kelas selanjutnya, dan saya harap tidak akan pernah putus. Walau sulit, semua perjuangan itu terbayar ketika peserta kelas mendapatkan ilmu dan mempraktikkannya. Melihat screenshoot peserta yang hadir saja, membuat saya sumringah berhari-hari. Rasanya luar biasa membahagiakan. Saya yang hanya ibu rumah tangga ini, masih bisa bermanfaat bagi orang lain melalui pengalaman produktif dari rumah. Tak apa kecil, yang penting berdampak.
Tantangan Mata Kering di Momen Penting
Ini masalah yang berpotensi besar dialami, namun aktivitasnya tidak mungkin dihindari, apalagi ditinggalkan. Saya pasti sering melihat layar ketika sedang mempersiapkan kelas online. Tanpa ada kelas pun, saya juga menulis blog atau melakukan aktivitas digital lainnya. Sudah menjadi prioritas.
Mata kering tak hanya mengganggu saat menyiapkan kelas online, tapi juga ketika kelas mau dimulai atau sedang berlangsung. Mana mungkin istirahat kalau kamera sudah menyala? Mengganggu banget dan bikin tidak fokus. Membuat momen penting yang sudah dipersiapkan jauh-jauh hari tak berjalan maksimal. Sayang banget kan kalau persiapannya sudah sedemikian rupa sampai begadang bermalam-malam, pas hari H malah terganggu mata kering?
Saya membahas ini karena mata kering bukanlah masalah yang jarang terjadi. Berdasarkan survei INSTO, 4 dari 10 orang mengalami gejala mata kering dan 50% di antaranya tidak sadar kalau matanya kering.
Diperkuat oleh penyataan dr. Eka Octaviani Budiningtyas, SpM, dokter spesialis mata dari JEC Eye Hospitals and Clinics, yang dikutip dari Antara, di mana pasien baru menyadari kalau matanya kering ketika kondisinya sudah cukup parah, meskipun gejala sudah muncul sebelumnya. Nah, lo! Mungkin saja sebelum jadwal kelas, mata sudah mulai kering, tapi diabaikan. Padahal kalau dibiarkan malah membuat kondisi mata semakin parah.
Yuk, bahas lebih detail sebenarnya apa saja sih Gejala Mata Kering? Pokoknya kalau teman-teman mengalami salah satunya atau lebih, mesti diwaspadai dan harus segera diatasi sebelum memburuk dan merusak momen penting.
Mata Sepet
Mata terasa gatal, tidak nyaman, atau seperti ada sesuatu di permukaan mata padahal tidak ada. Kadang ada sensasi seperti berpasir juga. Bikin tangan reflek mau mengucek. Ini salah satu gejala mata kering, ya.
Mata Perih
Ini yang paling sering saya alami. Mata terasa perih, panas, nyeri ringan, bahkan bisa disertai iritasi akibat terganggunya lapisan air mata dan permukaan mata.
Mata Lelah
Kalau begadang berhari-hari di depan laptop atau terus-terusan melihat smartphone, gejala ini juga kerap saya rasakan. Mata terasa berat, cepat lelah, pandangan mulai kabur dan susah fokus. Tandanya mata sudah kering dan jangan dibiarkan makin menjadi.
Biar lebih mudah, kita singkat saja dengan SePele, ya. Mata SEpet, PErih, LElah. Penyebabnya tentu bermacam-macam. Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes) mengatakan bahwa salah satu penyebab paling umum mata kering di era digital adalah menatap layar gadget terlalu lama, bahkan bisa menghabiskan lebih dari 8 jam sehari di depan layar. Kemudian, kurang tidur juga membuat mata menjadi kering. Fix, keduanya terjadi di saya.
Kemenkes lebih lanjut menjelaskan ketika kita fokus menatap layar, frekuensi berkedip dapat berkurang hingga sekitar 50%. dr. Dinda Arken Denova, Sp.M mendetailkan, secara normal, mata berkedip sekitar 11–15 kali per menit, sedangkan saat fokus menatap layar. dapat turun menjadi sekitar 5–7 kali per menit.
Padahal, berkedip berfungsi menjaga kelembapan alami permukaan mata. Akibatnya, dapat memicu mata kering, perih, lelah, dan berair. Coba deh ingat-ingat atau praktikkan sekarang, pas lihat laptop atau smartphone, pasti jarang berkedip kan? Enggak sadar, mata perlahan jadi kering.
Kalau sudah mengalami ini, apalagi sudah berkali-kali, tentu harus dicari solusinya. Jangan sampai ketika kelas dimulai dan menjadi momen paling ditunggu, mata kering malah mengganggu. Padahal bisa segera diatasi sebelumnya atau disiasati agar mata terlalu keras bekerja. Pokoknya #MataSePeLeJanganSepelein!
Mata SePeLe Jangan Disepelein, Ini Tips Ala Saya
Masih mau menyepelekan mata SePeLe? Kalau saya sih tidak mau. Karena mata adalah indera penting dalam melakukan nyaris segala aktivitas. Mana bisa mengadakan kelas online kalau mata tidak baik-baik saja? Jadi susah ngapa-ngapain. Terutama di momen terpenting saat kelas berlangsung. Mata mesti melek memperhatikan berbagai hal agar dapat merespon segera.
Nah, berikut beberapa tips #BebasMataKering ala saya tanpa mengurangi kemaksimalan dalam mempersiapkan kelas online.
✅ Tetes Mata sebagai Pertolongan Pertama, Saya Pakai INSTO Dry Eyes
Sebelum mata kering semakin parah dan mengganggu, segera atasi dengan tetes mata. Baik saat mempersiapkan di balik layar, maupun saat kelas online berlangsung. Bukan tetes mata yang reguler, ya. Melainkan tetes mata yang sudah diformulasikan khusus untuk mata kering Makanya, kalau gejala SePele sudah mulai terasa, saya langsung meneteskan Insto Dry Eyes segera. Karena dari dulu obat tetes yang saya pakai memang Insto.
#InstoDryEyes mengandung Hydroxypropyl Methylcellulose (HPMC), yang dapat bekerja sebagai pelumas yang menyerupai air mata dan meringankan iritasi akibat kurangnya produksi air mata. Bahan aktif ini bahkan diajukan oleh International Council of Ophtalmology (ICO) ke Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebagai guideline terapi untuk mengatasi gejala mata kering.
Saat mata lagi perih dan lelah, lalu diteteskan Insto Dry Eyes, rasanya dingin segar. Cukup 1-2 tetes saja dan maksimal 3 kali sehari. Warna cairannya jernih seperti air putih, tidak lengket sama sekali, dan tidak beraroma. Sudah bersertifikasi BPOM pula, jadi sudah dipastikan aman.
Di rumah saya ada stok INSTO Dry Eyes untuk jaga-jaga. Dibawa juga kalau bepergian karena ukuran kemasannya kecil, gampang diselipkan. Soalnya yang butuh bukan cuma saya, kadang anak-anak juga pakai kalau matanya mulai sering berkedip setelah main gadget. Beli INSTO Dry Eyes juga tidak sulit, di mini market dekat rumah ada. Dan pastinya dengan harga terjangkau.
✅ Panjangkan Waktu Promosi Kelas
Bila baru pertama kali mengadakan kelas di satu topik, jangan buru-buru menjadwalkan pelaksanaan kelas dalam waktu dekat. Mungkin kalau sudah kelas kedua di topik yang sama, sudah ada materinya juga, tidak apa waktunya mepet. Jadi, kita memiliki masa yang lebih panjang dalam mempersiapkannya, tidak segala dikejar. Ini dapat menjadi cara terbaik untuk menghindari begadang dan melihat layar terus-menerus tanpa jeda yang dapat membuat mata kering. Sehingga saat momen penting berlangsungnya kelas, mata kita tetap terjaga. Bahkan kesehatan tubuh secara keseluruhan pun terjaga.
✅ Jangan Menjanjikan Bonus yang Belum Ada
Belajar dari pengalaman, menjanjikan sesuatu yang belum ada memang terlalu berisiko. Seperti saat saya menjanjikan bonus e-book untuk peserta yang akan dikirimkan setelah kelas selesai. Tidak mungkin mengirimkannya setelah para peserta lupa, sehingga mau tidak mau, harus diselesaikan dalam waktu singkat tak peduli sedang demam. Kembali lagi, kita pasti melihat layar laptop atau gadget demi menuntaskannya. Sudahlah persiapannya bikin mata kering, setelah kelas usai pun tetap bikin mata kering. Duh, kasihan mata kita.
✅ Kolaborasi
Tidak semua topik harus kita sendiri yang mengisi kelasnya. Andai memungkinkan, bisa mengundang teman atau kenalan yang lebih ahli supaya kita tidak memaksakan diri belajar terlalu banyak dalam waktu terbatas. Kalau waktunya sedikit, kita tentu akan lebih sering melihat layar kan? Entah itu mencari referensi, mencoba sampai bisa, hingga nanti merangkai materinya. Sama seperti saat saya mempelajari cara membuat video AI, mata benar-benar jadi lelah dan perih.
Pilihan lainnya, kelas dapat dibagi dalam dua sesi, satu sesi kita yang mengisi, sesi lain dengan materi berkaitan diisi oleh pemateri lainnya. Jadi, materi yang harus dipelajari tidak terlalu banyak dan waktu menatap layar berkurang, sehingga menurunkan risiko terkena gejala SePele mata kering. Jangan khawatir, sependek pengalaman saya, bersyukur sekali masih banyak orang hebat yang ikhlas berbagi ilmu meski tak dibayar. Soalnya kelas saya masih gratis, hehe. Jangan ragu untuk mencoba menawarkan kolaborasi.
✅ Istirahatkan Mata secara Berkala
Ini yang sering lupa. Saking asyiknya atau karena mengejar waktu, kita lupa mengistirahatkan mata. Bisa jadi tubuh masih terasa baik-baik saja, tapi mata mungkin tak selama itu bisa bertahan dari aktivitas menatap layar.
Penelitian jurnal Predictive Analysis of Dry Eye Diagnosis and Digital Screen Usage: A Cross-sectional Study terhadap 144 pengguna layar digital, menemukan bahwa gejala mata kering meningkat signifikan mulai dari sekitar 2 jam penggunaan per hari, sementara penggunaan lebih dari 6 jam per hari dapat menyebabkan penurunan stabilitas lapisan air mata dan peningkatan perubahan pada permukaan mata. Bayangkan kalau sampai 8 atau 10 jam sehari, wajar banget bikin mata kering.
Cara yang paling sering direkomendasikan oleh ahli adalah metode 20:20:20. Pasti banyak yang sudah familiar dengan metode ini. Setiap 20 menit, istirahatkan mata selama 20 detik dengan melihat objek di sekitar yang berjarak 20 kaki atau 6 meter. Lebih bagus kalau objeknya yang segar-segar seperti tanaman hijau. Meski klasik, cara ini masih teruji ampuh untuk merilekskan otot mata dan kembali menormalkan frekuensi berkedip.
Meski ada persiapan panjang di balik kelas online yang mungkin pelaksanaannya hanya 2 jam, jangan sampai mengenyampingkan kesehatan mata, apalagi menyepelekan gejala SePeLe yang sering dialami ketika beraktivitas lama di depan layar. Kalau amit-amit terlanjur parah, belum tentu kita bisa mengadakan kelas online selanjutnya.
Tentu masih banyak yang harus saya pelajari dan perjuangkan. Saya ingin sekali berjalan bersama ibu rumah tangga lain, yang mungkin sering stres di rumah seperti saya dulu, agar bisa melakukan hal produktif dari rumah yang sejalan dengan passion-nya. Sehingga bisa lebih percaya diri, meningkatkan value, dan membuka peluang baru. Boleh kan punya mimpi besar?
Prosesnya memang panjang, bikin capek, dan berkejaran dengan waktu. Tapi, selama diniatkan untuk berbagi hal bermanfaat dan tahu cara menghadapi tantangan yang ada, seperti gejala mata kering SePele yang suka mengganggu momen penting, buah manis akan membayar semuanya. Tak melulu soal uang dan penghasilan. Bisa menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya saja sudah bikin candu. Karena skill yang menurut kita biasa, mungkin saja akan menjadi titik balik yang mengubah kehidupan seseorang.
Semoga bermanfaat.
Referensi
- Gejala SePeLe Mata Kering Jangan Disepelekan, Atasi dengan Insto Dry Eyes. URL: https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-8268748/gejala-sepele-mata-kering-jangan-disepelekan-atasi-dengan-insto-dry-eyes (diakses tanggal 22 Agustus 2026)
- Kebiasaan yang Tidak Disadari Dapat Merusak Mata. URL: https://www.kemkes.go.id/id/kebiasaan-yang-tidak-disadari-dapat-merusak-mata (diakses tanggal 22 Agustus 2026)
- Mata Perih dan Lelah Saat Menatap Layar? Kenali Penyebab dan Solusinya. URL: https://upk.kemkes.go.id/new/mata-perih-dan-lelah-saat-menatap-layar-kenali-penyebab-dan-solusinya (diakses tanggal 22 Agustus 2026)
- MEDIAKOM Edisi 123/Oktober 2020 Jaga Kesehatan Mata (diunduh tanggal 22 Agustus 2026)
- Jurnal Predictive Analysis of Dry Eye Diagnosis and Digital Screen Usage: A Cross-sectional Study. URL: https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC12454010/ (diakses tanggal 22 Agustus 2026)
- Pentingnya konsultasi dengan dokter untuk atasi mata kering. URL: https://www.antaranews.com/berita/5226761/pentingnya-konsultasi-dengan-dokter-untuk-atasi-mata-kering (diakses tanggal 22 Agustus 2026)















No comments
Sebelum komentar, login ke akun Google dulu ya teman-teman. Pastikan ada namanya, biar bisa saling kenal :)