Racikan "Hangat" Urip Jamu untuk Pekerja Tambang Kalimantan

No comments
Ketika mendengar tentang pekerja tambang, mungkin yang pertama terbayang adalah gajinya yang menggiurkan. Namun, pernahkah melihat dari sisi lain, di mana ada pengorbanan yang tak kalah besar di balik nominal gaji tersebut? Pekerjaan penuh risiko karena medan berat, jam kerja panjang hingga 12 jam sehari, sistem kerja shift yang menuntut harus begadang semalaman, hingga lokasi terpencil yang menciptakan bentangan jarak dengan keluarga tercinta. Dampak dari kondisi inilah yang berusaha diringankan oleh Urip Jamu, melalui racikan herbal penambah energi, sekaligus membuka ruang hangat kebersamaan bagi para pekerja tambang Kalimantan.

Racikan Hangat Urip Jamu untuk Pekerja Tambang Kalimantan
Foto: Dokumentasi pribadi Eva Erviana

"Bukan mendekati perkotaan yang ramai, Urip Jamu justru membuka kedua cabang kedai di daerah pelosok agar lebih mudah dijangkau oleh para pekerja tambang." 
- Eva Erviana, owner Urip Jamu.

Diawali dari kepedulian sebagai sesama pekerja tambang, didukung keahlian orang tua dalam membuat jamu, Eva memulai perjalanan Urip Jamu pada tahun 2017 dan sekarang telah memberi manfaat herbal khas Nusantara bagi banyak orang, tepatnya ke lebih dari 1.600 pelanggan dengan lebih dari 22.000produk jamu yang terjual. Sekaligus berkontribusi dalam pelestarian tradisi meminum jamu yang bukan hanya merupakan warisan budaya Indonesia, melainkan juga sudah dinobatkan sebagai Warisan Budaya TakBenda dunia oleh UNESCO.

Dukungan Energi untuk Teman Seperjuangan

Dukungan Energi untuk Teman Seperjuangan
Foto: Dokumentasi pribadi Eva Erviana

Sebelum fokus mengembangkan bisnis Urip Jamu, Eva juga bekerja di salah satu perusahaan tambang Kalimantan dan memutuskan membawa serta kedua orang tuanya untuk tinggal bersama. Eva merasakan sendiri tantangan demi tantangan selama bekerja di pertambangan, dan tak jarang pula mendengarkan kebutuhan teman-teman sesama pekerja akan dukungan energi agar tetap prima selama bertugas. 

Di sinilah ide itu muncul, menjadikan jamu sebagai jawaban. Eva langsung mengutarakannya kepada orang tua yang jauh lebih paham soal jamu. Sederhananya, kalau solusinya ada, kenapa tidak dicoba menawarkan? Benar saja, ide itu berubah menjadi peluang yang segera menemukan pelanggan-pelanggan pertamanya. Pekerja tambang mulai memesan jamu racikan orang tua Eva yang dikemas praktis dalam botol-botol plastik kekinian. Sehingga saat sedang bekerja pun, jamu tetap bisa dikonsumsi. 

Penjualan awal masih secara online dan diantarkan langsung oleh Eva
Penjualan awal masih secara online, diproduksi di rumah, dan diantarkan langsung oleh Eva (Foto: Instagram @urip_jamu)
 
Eva menceritakan, yang membuat jamu di awal-awal masih orang tuanya. Sedangkan dirinya hanya bertugas untuk mengantarkan pesanan sembari bekerja. Tapi, seiring bertambahnya jumlah pesanan dan pelanggan, meski awalnya tidak tertarik, akhirnya Eva ikut turun tangan juga membantu dan mendalami proses pembuatan jamu.

Di tahun ketiga berjalan, setelah resmi menamai usaha dengan Urip Jamu pada tahun 2019, dilakukanlah penataan manajemen bisnis dan evaluasi untuk mencari segmen market yang lebih jelas. Langkah ini membuahkan ide inovasi untuk menghadirkan konsep menikmati jamu yang lebih modern dengan tetap mempertahankan kepedulian terhadap kebutuhan pelanggan. 

Pertama, 80% pelanggan masih dari para pekerja tambang dan sawit. Sehingga kebutuhan mayoritas pelanggan inilah yang menjadi dasar dari inovasi yang dilakukan. Berhubung kehidupan pekerja tambang dan sawit jauh dari permukiman dan akses kota, Urip Jamu memilih membuka cabang di pelosok agar lebih dekat dengan pelanggan. Kedai pertama berlokasi di Sangatta, lalu disusul cabang kedua di Bengalon.

Kedua, mereka tetap membutuhkan asupan energi untuk mendukung kondisi fisik yang terus diforsir ketika bekerja. Makanya, Urip Jamu tak henti mengembangkan racikan herbal untuk peningkatan energi atau penghangat tubuh ketika harus bertugas di malam hari. 

Ketiga, ternyata mereka juga butuh tepat nongkrong untuk mengusir kesepian atau sekadar bercerita bersama teman. Kondisi daerah pelosok yang berbeda dengan di perkotaan, membuat ketersediaan tempat nongkrong yang nyaman masih sangat terbatas. Inilah dasar inovasi selanjutnya yang membuat Urip Jamu semakin istimewa, berkat penerapan konsep kedai layaknya kafe atau coffee shop.  

Mendekatkan Tradisi dengan Gaya Hidup Masa Kini

Kedai Urip Jamu Bengalon
Kedai Urip Jamu Bengalon (Foto: Dokumentasi pribadi Eva Erviana)

Aktivitas nongkrong dikenal identik dengan duduk lama di kafe ditemani segelas kopi. Tapi, bagaimana bila kopi itu diganti dengan jamu? Ya, konsep unik ini diwujudkan oleh Urip Jamu di kedai yang dibangun di daerah Bengalon. "Kita membuat kedai dengan konsep homey, agar ketika para pekerja tambang bosan dan merasa sendiri di mess, mereka punya tempat untuk menuangkan masalah atau berbagi beban pikiran," jelas Eva.

Kedai dibuat luas dan minim sekat agar dapat membangun interaksi sosial antar pelanggan, sehingga lebih leluasa untuk saling bercerita dan mendengarkan. Open bar yang menjadi konsep andalan di coffe shop, juga diterapkan. Jadi, pelanggan yang datang bisa melihat jelas proses pembuatan jamu yang dipesan dan memastikan kesegarannya. 


Konsep open bar
Konsep open bar (Foto: Dokumentasi pribadi Eva Erviana)

Ternyata konsep ini bukan hanya bermanfaat untuk pelanggan, melainkan juga Eva sebagai owner untuk lebih mengenali kebutuhan tubuh mereka sehingga resep jamu dapat disesuaikan. Pengamatan penting yang membuat Urip Jamu masih menjadi pilihan para pelanggan setianya hingga sekarang.

Pelanggan Urip Jamu yang menikmati kebersamaan
Pelanggan Urip Jamu yang menikmati kebersamaan (Foto: Dokumentasi pribadi Eva Erviana)

Kembali ke tahun 2019, melalui kisah yang dibagikan Eva di akun Instagram @urip_jamu, setelah sekian lama hanya berjualan secara online, kedai pertama di Sangatta hadir dari hasil membeli gerobak kontainer bekas yang direnovasi dengan modal pas-pasan. Namun, karena inovasi menu jamu yang modern, kedai yang didesain layaknya kedai express yang bisa disinggahi di sela perjalanan. Hanya  butuh 1 tahun, kedai ini semakin ramai dan dibukalah kedai kedua di Bengalon pada tahun 2022.

Kedai pertama Urip Jamu di Sangatta
Kedai pertama Urip Jamu di Sangatta (Foto: Instagram @urip_jamu)

Mulanya kedai Bengalon belum seperti sekarang. Masih berupa kedai kontainer yang mirip dengan kedai Sangatta, walau modal renovasinya lebih besar. Tapi, tidak seperti yang diharapkan, kedai mengalami naik-turun yang luar biasa. Pernah saking sepinya, disambil dengan menjual kelapa muda dan aneka kue. Tapi, fase kelam terlalui juga dan pelanggan mulai berdatangan. Kursi-kursi ditambah dan sampai di satu titik semua kursi tidak cukup lagi menampung. Akhirnya pidahlah ke tempat baru yang lebih lega yaitu di lokasi kedai berbentuk ruko yang sekarang. 

Kedai Bengalon sebelum pindah ke ruko
Kedai Bengalon sebelum pindah ke ruko (Foto: Instagram @urip_jamu)

Bila selama ini jamu sering dianggap sebagai tradisi lama yang kian tergerus zaman, Urip Jamu tetap memilih mempertahankannya dengan memberi sentuhan inovasi kekinian. Sehingga jamu tetap diminati dan bisa menjadi bagian dari kehidupan masyarakat modern saat ini. 

Variasi Menu Jamu yang Nyaman Dinikmati 

Variasi Menu Jamu yang Nyaman Dinikmati
Foto: Dokumentasi pribadi Eva Erviana dan Instagram @urip_jamu

"Jamu itu pahit" kerap membuat sebagian orang enggan meminumnya meski tahu berkhasiat. Namun, anggapan ini sebenarnya keliru, karena tidak semua jamu memiliki rasa pahit. Jamu pahit hanyalah salah satu racikan yang tidak bisa dijadikan penilaian general pada seluruh racikan jamu. Bahkan menurut data Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Indonesia memiliki 33 ribu spesies obat yang berpotensi menjadi bahan baku obat herbal dan saat ini baru sekitar 800 spesies yang menjadi bahan jamu. Meski baru 800, itu sudah banyak sekali, bukan? Dan bahan bercita rasa pahit, jelas bukan seluruhnya. 

Variasi menu Urip Jamu memberi bukti bahwa jamu dapat dinikmati oleh semua kalangan. Saat ini, Urip Jamu memiliki 15 varian jamu cair, 4 varian jamu kapsul, dan 2 varian jamu kering. Produk jamu kering inilah yang berhasil menjangkau pasar lebih luas, sehingga penjualan bukan lagi sebatas di Sangatta dan Bengalon, namun juga sudah sampai ke Samarinda, Balikpapan, Pontianak, Kaliorang, Jawa Timur, hingga Jakarta. 
  • Jamu cair bisa dinikmati di kedai atau dibungkus dalam kemasan botol untuk dikonsumsi langsung, seperti STMJ (singkatan dari susu-telur-madu-jahe), jamu pegal linu, kunyit asam, temulawak, wedang uwuh, kombucha, sarabba, dan lainnya.
  • Jamu kapsul merupakan jamu yang sudah dikeringkan lalu dimasukkan dalam kapsul dan dikemas apik. Sehingga cocok bagi pelanggan yang tidak nyaman dengan rasa pahit atau butuh kepraktisan. Tersedia varian Pahitan untuk mengontrol gula darah, Kulangsing untuk membantu metabolise dan menurunkan berat badan, Sirawa untuk kesehatan wanita, dan Typhus Begone untuk membantu mengatasi gejala tifus. 
  • Terakhir, jamu kering bisa diseduh kapan saja dan di mana saja, seperti wedang uwuh berisi rempah alami yang dapat menghangatkan dan menjaga dayan tahan tubuh. Inilah produk 

Kualitas bahan-bahan pun juga menentukan setiap sajian dapat memberi khasiat sesuai harapan dengan rasa alami yang tetap terjaga. Urip Jamu membeli rempah basah dari petani lokal Bengalon dan Sangatta demi memastikan kesegarannya. Karena rempah basah inilah yang paling rentan terhadap kerusakan. Agar tahan lama, rempah basah segera dicuci, ditimbang, lalu dimasukkan ke freezer setelah diantarkan oleh petani. Jadi, ketika akan membuat jamu, tinggal diblender saja. Sedangkan untuk rempah kering seperti cengkeh, pala, atau kapulaga dikirim langsung dari Jawa.

Urip Jamu selalu menggunakan bahan-bahan yang segar untuk proses produksi
Urip Jamu selalu menggunakan bahan-bahan yang segar untuk proses produksi (Foto: Dokumentasi pribadi Eva Erviana)

Respon pelanggan terhadap inovasi kekinian ini cukup baik. "Mereka sangat welcome. Jadi lebih nyaman minum jamu dan merasa lebih diperhatikan," ungkap Eva. Tidak heran bila pelanggan Urip Jamu tak lagi terbatas pada pekerja tambang, melainkan juga warga sekitar yang datang bersama pasangan, keluarga dengan mengajak serta anak-anaknya, atau bersama kawan dekat. 

Karena sebenarnya yang membuat orang tidak mau minum jamu bukanlah rasanya yang pahit, melainkan pendekatannya. Bagaimana membuat tradisi itu relevan dengan kehidupan sekarang, lokasinya dekat, pemesanannya cepat dan mudah, serta sajian menu yang terlihat menarik untuk dicoba. Sehingga tanpa dipaksa pun, semua orang bisa menemukan racikan jamu yang sesuai dengan seleranya.

Eva berharap minuman herbal seperti jamu tidak lagi dipilih sebagai alternatif terakhir, melainkan sesuatu yang dicari sebagai minuman menyehatkan dengan bahannya yang alami dan tak perlu khawatir akan efek samping bahan kimia. Merujuk pada catatan Kementerian Perindustrian, masa pandemi yang membuat nyaris semua sektor mengalami penurunan, industri herbal atau obat tradisional justru menjadi salah satu industri yang tetap gemilang. Ini menyimpulkan bahwa herbal sebenarnya masih dipercaya berkhasiat. Hanya saja, butuh pendekatan yang relevan agar jamu tak hanya menjadi idola sementara, melainkan sesuatu yang dirutinkan.

Sempat Tak Tahu Arah untuk Mengembangkan Bisnis

Sempat Tak Tahu Arah untuk Mengembangkan Bisnis
Foto: Dokumentasi pribadi Eva Erviana

Meski di awal sudah menemukan pelanggan dari teman-teman sesama pekerja tambang, bukan berarti perjalanan Urip Jamu lepas dari tantangan dan kesalahan. Tantangan paling berat yang dirasakan Eva bukan melulu tentang pemasaran, melainkan menghadapi keterbatasan literasi pelanggan tentang jamu. Sehingga membutuhkan upaya lebih untuk mengedukasi mereka dengan bahasa yang lebih mudah dipahami oleh generasi sekarang. Selain itu, Urip Jamu sempat berpindah lokasi produksi berkali-kali, salah beli kemasan sampai rugi jutaan rupiah, hingga pernah gagal membuka cabang. 

Bisa dikatakan saat itu Urip Jamu hanya sebatas menjual produk, belum memiliki arah yang jelas dalam berbisnis. Kondisi usaha masih sangat minim, belum memiliki legalitas, segmen market juga belum jelas, dan tujuannya pun samar. "Urip Jamu yakin bisa sukses, tapi tidak tahu jalannya. Ibarat saya mau ke Samarinda, tapi tidak tahu mau naik apa, kapan waktunya, berangkat sama siapa, dan di mana beli tiketnya. Begitulah keadaan Urip Jamu kala itu," cerita Eva. 

Tapi, menyerah tak pernah terbersit sama sekali. Yang membuat tetap bertahan adalah para pelanggan. 

Sayang sekali untuk berhenti ketika pelanggan menemukan penopang harapan saat sudah lelah berobat ke mana-mana tapi belum menghasilkan apa-apa. Juga saat mendengar kabar bahwa ada pelanggan yang sembuh atau berhasil sehat berkat racikan Urip Jamu. "Rasa bahagianya tidak bisa dibayar dengan duit, so happy banget bisa membantu orang lain," kata Eva. 

Hingga akhirnya titik balik itu datang pada tahun 2023, di mana seorang CSR dari PT Pamapersada Nusantara (PAMA) memberikan tawaran pada Urip Jamu untuk menjadi salah satu UMKM binaan Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA). Eva mengungkapkan rasa syukurnya karena pendampingan yang diberikan sangat sesuai dengan apa yang ia cari. Bukan yang hanya fokus memberikan kucuran dana, melainkan membantu dalam hal manajemen, legalitas, administrasi, hingga menanamkan mindset dan mental pebisnis.

Pendampingan 5R oleh YDBA
Pendampingan 5R oleh YDBA (Foto: Instagram @urip_jamu)

Lebih detail, Eva menjelaskan bahwa terdapat 4 perubahan signifikan yang dirasakan Urip Jamu setelah mendapat pendampingan YDBA. 

1. Enterpreneur Mentality

YDBA memberikan ilmu berharga yang menjadi dasar utama untuk memiliki mental kuat dalam menjalankan bisnis, yaitu mental seorang pengusaha yang mau terus upgrade diri. Meski pernah melakukan salah, dan itu wajar terjadi selama berproses, seorang pengusaha selalu mencari solusi alih-alih menyerah atau menutup diri. Berkatnya, walaupun Urip Jamu pernah merugi dan gagal, dapat segera bangkit dengan berinovasi.

2. Pelatihan 5R (Ringkas, Resik, Rapi, Rawat, Rajin)

Tak kalah penting, kesuksesan dalam berbisnis tak lepas dari penerapan konsep 5R sebagai ikhtiar untuk memantaskan diri menjemput rezeki. Urip Jamu selalu menjaga kebersihan dan kerapian kedai, serta tetap konsisten dan disiplin untuk mewujudkan tujuan bisnis.

3. Structure

Urip Jamu juga mendapatkan pelatihan untuk pembukuan dan manajemen usaha, sehingga setelahnya langsung merapikan dokumen-dokumen penting yang dibutuhkan. Mulai dari membuat Standart Operating Procedure (SOP), Key Performance Indicator (KPI), mengurus sertifikasi Halal, HAKI, PIRT, hingga mengikuti pelatihan herbalist. Urip jamu sadar sekali akan pentingnya struktur usaha agar terus bertumbuh dan dapat dipercaya.

4. Value dan Integrity

Bukan hanya ilmu tentang pengelolaan internal bisnis, Urip Jamu diberikan pula kesempatan untuk mengikuti berbagai lomba, memperluas jaringan, dan mendapatkan pelatihan instruktur sehingga lebih paham esensi berbagi. Agar tidak hanya menjadi usaha yang bertumbuh sendiri, melainkan tumbuh bersama. Urip Jamu percaya bahwa segala pencapaian yang diperoleh saat ini, tidak lepas dari kontribusi banyak pihak yang terlibat di dalamnya. 

Sangat berkesan ketika Urip Jamu berhasil menjadi UMKM Mandiri oleh YDBA, lalu mendapat pendampingan dalam program U for U untuk instruktur. Ini membuka peluang baru bagi Eva untuk membagikan ilmu kepada lebih banyak orang dan memberanikan diri membuka kelas setiap bulannya di Urip jamu.

Berbagi ilmu kepada orang lain
Berbagi ilmu kepada orang lain (Foto: Dokumentasi pribadi Eva Erviana)
    
"Pendampingannya banyak sekali. Semua diajarkan dari awal," jelas Eva. Pembenahan usaha yang dilakukan berkat ilmu dan pendampingan YDBA tersebut berhasil meningkatkan omzet, meluaskan jangkauan pasar, menambah jumlah karyawan, dan ada cabang baru yang berhasil dibuka. Ditambah lagi, Urip Jamu meraih Juara 1 QCC Terbaik Kuliner dan Juara 2 UMKM Mandiri Terbaik tahun 2025 oleh YDBA, serta Juara 3 UMKM Kuliner Terbaik oleh PT PAMA di tahun yang sama. Tapi, bagi Eva yang paling terasa adalah perubahan mindset yang dulunya hanya berpikir sebatas soal jualan, sekarang sudah lebih paham mana yang harus diprioritaskan dan mana yang harus dipikir ulang. "Mindset-nya sudah berubah jadi mindset enterpreneur, bukan mindset pedagang lagi."

Lebih lanjut Eva menceritakan momen paling membanggakan bagi Urip Jamu ketika mengikuti lomba yang akhirnya membuka kesempatan untuk memperkenalkan produk jamu ke berbagai daerah yang belum pernah dikunjungi. Di mana secara tidak langsung menyampaikan pesan bahwa di dunia ini masih ada warisan yang perlu dipertahankan dan memberi dampak baik untuk banyak orang. "Aku bangga bisa menjadi salah satu yang melestarikan budaya Indonesia," ungkapnya.

Rasa Syukur dan Harapan

Rasa Syukur dan Harapan
Foto: Dokumentasi pribadi Eva Erviana

Semua proses dalam perjalanan panjang Urip Jamu sangat disyukuri Eva sebagai owner. Baginya, Urip Jamu telah menjadi wadah untuk mencipta, berkreasi, dan membantu sesama. Mewarisi keahlian meracik jamu dari orang tua yang sempat dianggap tidak menarik, kini di sinilah Eva merasa bebas bereksplorasi, menumpahkan segala keingintahuan, dan menuntaskan rasa penasaran. Hal yang mungkin terlihat menguras energi bagi orang lain, nyatanya ketika sudah menemukan tujuan, justru semakin menambah energi Eva untuk terus berkembang dan berinovasi. Perjalanan Urip Jamu jelas berbanding lurus dengan pertumbuhan owner-nya.

Berangkat dari pengalaman inilah, Eva berpesan untuk sesama pelaku UMKM agar terus berjalan dan mengupayakan memperbaiki diri, karena setiap perjalanan pasti ada waktunya untuk sampai di tujuan selama ada keyakinan. "Lakukan yang terbaik. Andai kamu penjual kue, jadilah penjual kue yang terbaik. Andai kamu guru, jadilah guru yang terbaik. Andai kamu penjual jamu, jadilah penjual jamu yang terbaik. Bahkan untuk hal sederhana seperti mencuci piring pun, lakukanlah yang terbaik. That's it," kata Eva.

Kini bersama 3 karyawannya di dua lokasi kedai, yaitu di Bengalon dan Sangatta, Eva berharap Urip Jamu bisa memberi lebih banyak manfaat dan melebarkan sayapnya agar lebih banyak orang yang teredukasi tentang betapa penting dan luar biasanya warisan leluhur potensial ini. Semoga YDBA bisa terus memberi pendampingan dan membuka kolaborasi dengan berbagai pihak, terutama dengan lini atau anak perusahaan yang terkait dengan pertambangan dan sawit. 

Sejalan dengan tujuan Urip Jamu untuk merawat energi kehidupan, setiap manusia berhak mendapat energi yang mendukung perjuangannya. Tak terkecuali para pekerja tambang yang bertugas di seluruh pelosok negeri.

Referensi
Wawancara dengan Eva Erviana owner Urip Jamu melalui WhatsApp
Instagram @urip_jamu
Peluang Industri Obat Herbal Indonesia di Pasar Internasional. URL: https://agro.kemenperin.go.id/artikel/6520-peluang-industri-obat-herbal-indonesia-di-pasar-internasional (diakses 29 September 2026)

No comments

Sebelum komentar, login ke akun Google dulu ya teman-teman. Pastikan ada namanya, biar bisa saling kenal :)