Header Ads

Aku dan Kista Tiroid


Awalnya biasa saja (biar kayak lagu lawas). Nggak ada penyakit apa-apa yang aku rasakan ditubuh semok ini. Nah pas lagi megang leher karena kebetulan waktu itu aku terkena radang tenggorokan gara-gara makan salah satu mie instan yang super pedas, tanganku memegang benjolan kecil di leher bagian depan. Lah ini apa? Tapi karena aku pernah mengalami hal serupa saat masih anak-anak, aku tidak terlalu khawatir. Palingan ini sama aja, bengkaknya karena ada peradangan ditenggorokan. Nanti kalau udah sehat normal dan penyakitnya pergi pasti benjolannya juga hilang tak berbekas. Tunggu saja. Sempet nyesel sih nyobain mie super duper pedes itu dan mirisnya beberapa waktu belakangan ini aku lagi doyan-doyannya makan mie instan dengan cita rasa pedas yang bisa merubahku sementara menjadi naga yang menyemburkan api *lebay. Bahagia aja gitu menikmati sensasi bibir dower abis makan yang beginian. 

Setelah menunggu berminggu-minggu, berbulan-bulan, kok ini benjolan nggak ilang-ilang ya? Mulai deh rasa cemas itu datang. Radang tenggorokannya udah lama sembuh, harusnya benjolannya udah hilang dong? Tapi kenapa masih betah aja nangkring disana? Tanpa pikir panjang aku mulai mencari informasi di internet. Tapi makin lama dibaca kok makin serem ya? Bahkan bisa sampai menyebabkan kematian juga. Ya Allah apa umurku cuma sebentar lagi? Langsung mewek.

Okeh sedihnya nggak boleh berlama-lama. Aku harus tau ini benjolan apa dan obatnya apa. Pertama tanya dulu ke adik tercinta yang masih koas. Ya paling tidak pasti tau lah sedikit banyaknya tentang masalah ini. Setelah dia teliti dengan seksama, disimpulkanlah ini merupakan benjolan pada tiroid. Berbeda dengan benjolan kelenjar getah bening yang hanya diam tak bergerak dan bisa muncul dibagian mana saja di leher, benjolan tiroid ini akan bergerak naik turun saat kita menelan dan letaknya pasti pada leher bagian depan. Apakah berbahaya? Hmm lumayan sih, makanya harus segera cek ke dokter yang lebih ahli yaitu ke dokter spesialis penyakit dalam atau dokter bedah. Karena kata dokter bedah begitu menakutkan untuk didengar, aku memutuskan untuk konsultasi ke dokter spesialis penyakit dalam saja. 

Deg-degan takut divonis menderita penyakit kronis yang mematikan, saat menunggu antrian aku udah gemeteran. Namaku dipanggil dan masuklah ke ruangan pemeriksaan. Setelah curhat mengenai keluhan yang aku rasakan, dokter meraba-raba benjolannya. "Wah ini tiroidnya yang bermasah ini bu. Udah gede ya benjolannya, sekitar 5cm. Kalau udah gede begini ya harus dioperasi". Kira-kira begitulah kata beliau. Operasi? Ya Allah kok serem banget sih? Tapi sang dokter melanjutkan penjelasannya "Ibu ini terkena gondok, kalau bentuknya seperti ini sih nggak berbahaya. Cuma obatnya nggak ada. Jalan satu-satunya untuk menghilangkan benjolannya ya dioperasi. Tapi kalau nggak dioperasi dalam waktu dekat sih nggak apa-apa, karena ini tidak akan mengganggu soalnya pertumbuhannya keluar bukan ke dalam. Lebih ke kosmetika aja. Kalau ibu nggak masalah melihat benjolan dilehernya ya nggak usah operasi. Palingan pertumbuhannya baru terasa semakin membesar beberapa tahun lagi karena sangat lambat. Tapi cek darah dulu aja ya bu biar pasti". Aku diberikan surat pengantar untuk melakukan tes hormon tiroid di laboratorium. Beberapa hari menunggu hasilnya pun keluar dengan kesimpulan hormon tiroid yang normal. Alhamdulillah ternyata aku baik-baik saja. Lega.
Beginilah hasil cek lab hormon tiroidnya.

Beberapa bulan kemudian aku sempat melupakan benjolan ini. Bener-bener lupa. Entah kenapa tiba-tiba aku mulai cemas lagi karena saat diraba kok benjolannya makin besar? Mulai lagi deh searching artikel yang pastinya akan menambah tingkat kecemasan. Curhat sama si ayah dengan mata berkaca-kaca. Akhirnya kami sepakat untuk konsultasi lagi ke dokter bedah karena kata adikku yang spesialis menangani benjolan-benjolan begini ya dokter spesialis bedah. Berangkatlah kami ke rumah sakit lain untuk mendapatkan second opinion.

Dengan harapan mendapatkan hasil pemerikasaan yang memuaskan kami memilih rumah sakit yang lumayan tersohor. Walaupun bayarannya pasti muahal gila tapi nggak apa-apa yang penting puas. Singkat cerita bertemulah kami dengan dokter bedah umum. Beliau sabar mendengarkan curhatan emak-emak yang lagi risau gundah gulana ini. Aku disuruh duduk berhadapan dan beliau mulai memeriksa seluruh bagian leher. Alhamdulillah benjolannya cuma satu dan nggak ada dibagian lainnya. Analisanya pun sama yaitu pembengkakan tiroid. Tapi kalau dilihat dari bentuknya sih ini termasuk tumor jinak dan jalan satu-satunya untuk menghilangkannya adalah operasi. What? Tumor? Aduh mau pingsan rasanya denger kata tumor. Tapi ya dikuat-kuatin aja, segera diobatin biar selesai. Aku disuruh untuk USG leher. Dan memang terdapat kista besar di dalam tiroid. Saat dokter radiologi memeriksa, sempat terucap kalau isinya cairan begini kemungkinan bisa disedot saja. Waaah seperti mendapat harapan baru kalau aku tidak perlu lagi menjalani operasi untuk mengatasi masalah ini. Lagi-lagi aku bersyukur di dalam hati.
Beginilah hasil pemeriksaan USG lehernya.





Keesokan harinya aku konsultasi by WA saja dengan pak dokter karena memang ditawarkan oleh beliau. Dengan melampirkan foto hasil USG leher, beliau merekomendasikan untuk melakukan operasi 1 atau 2 bulan kedepan. Aku sempat menanyakan apa nggak bisa disedot aja cairannya? Tapi ternyata itu bisa memperbesar kemungkinan timbulnya infeksi dan memperparah keadaan. Kalau di operasi apakah tiroidnya diangkat? Beliau mengatakan kalau tiroidnya akan diangkat satu karena kalau tidak diangkat akan kambuh lagi. Selain itu juga dilakukan pemeriksaan apakah bersifat ganas atau tidak supaya bisa memastikan penanganan selanjutnya.

Sempet syok saat denger tiroidnya harus diangkat. Walaupun dokter bilang tidak akan berpengaruh apa-apa ke kesehatan fisik nantinya pasca operasi, tapi kok aku ragu. Ya kali nggak ada pengaruhnya. Bisa-bisa aku mengalami hipotiroid (kekurangan hormon tiroid) karena kehilangan kelenjar yang memproduksi hormonnya. Padahal setelah di tes sampai sekarang hormon tiroidku normal kok. Kenapa harus diangkat kalau masih baik-baik aja? Kalau yang diangkat cuma kistanya doang sih nggak masalah, tapi kalau aku sampai kehilangan kelenjar tiroid harus mikir seribu kali. Akhirnya aku memutuskan tidak dioperasi dan mencoba obat alternatif saja mudah-mudahan membantu. Selama tidak ada keluhan apa-apa dan aku merasa sehat, rasanya kesimpulan dokter spesialis penyakit dalam yang pertama aku kunjungi dulu bisa dipegang biar hatiku tenang.

Satu bulan lebih aku mengkonsumsi obat herbal yang diracik sendiri oleh suaminya temen kantor si ayah. Obatnya terdiri dari tiga kapsul yaitu daun sirsak, keladi tikus dan kunyit putih. Nggak ngerti deh itu apaan (kecuali daun sirsak) dan bagaimana proses pembuatannya hehe. Walaupun belum terlihat perubahan yang signifikan, paling nggak kistanya tidak membesar (sepenglihatanku). Alhamdulillah semoga bisa normal kembali.

Sekarang aku hamil. Bahagia dong pastinya. Tapi khawatir juga apakah kista tiroid ini akan memepengaruhi tumbuh kembang janinku nanti? Tetep ya nyari infonya ke mbah gugel padahal udah tau kalau artikel-artikel itu akan membuat kepanikan semakin menjadi-jadi. Yap setelah membaca berbagai artikel, aku makin semakin semakin semakin degdegan. Banyak yang bilang kalau nanti akan berpengaruh buruk terhadap janin, bisa cacat, kelainan mental dan banyak lagi. Kok makin serem aja ya.

Aku harus berpikir dengan kapala dingin dan jangan terlalu panik membabi buta. Cari informasi dulu dari sumber yang pasti dan terpercaya. Mau konsul ke dokter kandungan, tapi pasti nanti disuruh balik lagi karena dengan usia kehamilan yang baru seumur jagung ini di USG pun pasti belum terlihat apa-apa. Akhirnya aku memutuskan untuk nanya ke adikku lagi dengan harapan mendapatkan jawaban yang menenangkan. Ternyata benar, menurut ilmu yang dia pelajari sampai saat ini, kista tiroid tidak akan berpengaruh kepada janinku. Alhamdulillah sudah mulai lega. Kepengen mendapatkan jawaban kedua biar lebih yakin, aku menghubungi saudaraku yang kebetulan seorang dokter spesialis penyakit dalam. Setelah menjelaskan panjang lebar mengenai kista tiroid ini dengan menjabarkan hasil pemeriksaan USG leher dan tes hormon tiroid yang normal, beliau juga mengatakan kalau kista tersebut tidak akan berpengaruh ke janin selama hormon tiroidnya normal. Malah aku dilarang untuk melakukan tindakan operasi yang mengharuskan mengangkat kista sekaligus dengan tiroidnya. Itu malah bisa lebih bahaya lagi. Aku akan meminum obat hormon seumur hidup karena sudah pasti aku akan mengalami hipotiroid (kekurangan hormon tiroid). Inilah yang sebenarnya berbahaya buat janin. Alhamdulillah aku bersyukur tidak terlalu cepat percaya dengan vonis dokter kemaren. Jadi intinya selama hormon tiroid masih normal dan tubuh tidak merasakan efek apa-apa maka operasi pengangkatan tiroid tidak perlu dilakukan. Apalagi operasi dibagian leher merupakan operasi yang sangat berbahaya. Jika memang merasa tidak nyaman dengan benjolan, maka ada opsi lain yaitu penyedotan cairan kista secara berkala. Disarankan supaya melakukan cek hormon tiroid sekali enam bulan untuk memantau saja. Yang pastinya pilihan untuk tidak gegabah melakukan tindakan operasi pengangkatan kista beserta toroidnya adalah pilihan yang tepat. Alhamdulillah Allah maha baik.

Terkadang kita butuh banyak pendapat dokter sebelum mengambil sebuah keputusan. Ambillah diagnosa dokter yang diyakini lebih baik dan meyakinkan, tentunya kita juga harus mencari informasi sebanyak mungkin mengenai penyakit yang diderita. Salah langkah sedikit saja pasti hidupku akan berubah total. Hati-hati ya buibu, bijaklah dalam mengambil keputusan besar seperti melakukan operasi apalagi sampai mengangkat atau membuang organ dalam tubuh kita yang seharusnya masih berfungsi dengan baik. Bukan menyalahkan dokter, pastinya diagnosa yang diberikan dan penanganannya berdasarkan ilmu yang telah mereka dapatkan. Hanya saja ada yang cocok dengan kita ataupun yang tidak cocok. Makanya banyak yang mempunyai dokter langganan yang jika sakit langsung menemui satu dokter tersebut, ya karena cocok.

Semoga bermanfaat :)


19 comments:

  1. Assalamualaikum mba. Skrng gimana benjolannya udh mengecil apa belum setelah konsumsi obat keladi tikus itu? Soalnya saya juga ada benjolan di leher. Tadi baru ke dokter THT kemungkinan kelenjar getah bening atau kista. Besok baru dirujuk ke dokter bedah. Mba ya minum obat tradisional apa aja selain kapsul itu? Terimakasih sebelumnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Walaikumsalam. Sekarang udah nggak minum obat-obatan lagi mba soalnya lagi hamil. Selama minum itu sih nggak ada perubahan yang signifikan mba.

      Delete
  2. Walaikumsalam mba. Maaf mba baru respon soalnya ini baru mulai on lagi ngeblognya setelah berbulan-bulan.
    Kayaknya sih sedikit membesar benjolannya mba, dan memang kata dokter begitu kan. Tapi alhamdulillah tidak ada gejala lain yang muncul.
    Aku cuma minum kapsul itu aja sih, tapi cuma dua bulanan aja soalnya lagi hamil lagi. Jadi takut kan minum obat macem-macem.
    Semoga nggak berbahaya ya mba kistanya dan segera sembuh 🤗
    (Doa buat diri sendiri juga, hee)

    ReplyDelete
  3. Hallo Mbak.. says juga menderita kista tiroid Dan saya juga ingin sekali memiliki anak lagi.. kisah Kita hampir sama Dan terima kasih sudah sharing.. mau nanya dari Mana saya bisa beli kapsul herbal itu?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo juga mba..kapsul herbal itu dikasih teman kantornya suami aku mba, dan dia juga nggak niat buat jualan, hanya hobi racik-racik aja. Maaf ya mba nggak bisa bantu masalah ini :(
      Mungkin bisa minta tolong ahli herbal lain untuk membuatnya dengan komposisi yang sama.
      Selama hormon tiroidnya normal insyaAllah tidak akan mengganggu kehamilan kok mba. Aku udah nanya ke beberapa dokter, dan buktinya alhamdulillah sampai sekarang kehamilanku dalam keadaan baik dan semoga sampai lahiran juga baik.

      Delete
  4. Mbak makasih ya sharing nya. Cerita kita sama. Aku juga disuruh operasi ama dokter endokrin nya. Tp katanya tidak emergency. Lebih baik punya anak dulu, baru kemudian ambil tindakan saran dokter ku. Smg kita cepat sembuh ya mbak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama mba :)
      Iya selama badan kita masih fit karena hormon tiroidnya masih normal, insyaAllah operasinya masih bisa ditunda. Soalnya operasi dileher itu termasuk operasi yang lumayan berbahaya. Apalagi sampai kelenjar tiroidnya diangkat, duh harus minum obat seumur hidup jadinya. Semoga ada keajaiban bisa hilang tanpa operasi ya mba, amin amin YRA.

      Delete
  5. beneeer banget. kita hrs proaktif cari second, third kalo perlu forth opinion segala. pengalaman mamaku, pas dulu kena tumor jinak di perut, diagnosa dokter beda2. ada yg bilang kista, ada yg bilang benjolan biasa, ada yg bilang tumor ganas. akhirnya mama milih berobat ke Penang, dan ternyata itu memang tumor tp ga bahaya. jinak lah. cm supaya ga mengganggu , dokter sana nyaranin diangkat. kan gitu enak dgrnya.. ga bikin stress ama diagnosa serem yg sampe berani perkirain umur segala -_-.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya memang, beda dokter beda juga diagnosanya. Ada yang bikin takut, ada juga yang bikin tenang. Pakai feeling kita aja mau pilih yang mana. Kadang nyari informasi sendiri juga penting banget.

      Alhamdulillah ya mba mamanya bisa mendapatkan penanganan terbaik.

      Delete
  6. betul kadanag pendapat dokter satu denagn yang lain suka agak beda ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, makanya sekarang agak riskan kalau percaya sama satu dokter aja. Harus nyari banyak pendapat dan yang pastinya kita sendiri juga harus nyari informasi sebanyak mungkin mengenai penyakit yang diderita.

      Delete
  7. Halo mba, gimana sekarang kistanya? Aku jg lg ada kista tiroid. Dokter jawabnya beda2, ada jg yg disarankan diangkat. Tp aku takut. Aku jg masih umur 20 tahun, takut mempengaruhi kalau nanti aku mau punya anak hehe. Maaf jd curhat.. lg khawatir

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo jugaaaa. Sekarang masih ada kistanya mba, makin besar sih emang. Tapi alhamdulillah nggak ganggu, hanya nggak enak dilihat aja.
      Kata adekku yang dokter sih nggak perlu dioperasi, disedot aja. Cuma ya sampai sekarang masih belum aku sedot juga. Coba konsultasikan ke dokter tentang metode sedot ini 😉

      Delete
  8. Haloo mbk aku juga ada kista teroid..dan dokter USG bilang ini disedot aja.. tapi dokter bedah maunya operasi aja padahal hormon teroid ku normal.. bener sekali kita harus cari informasi sebanyak mungkin.. jangan langsung ambil keputusan yang buat kita menyesal

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo jugaaaa. Sama banget kita mba, tosss.
      Aku rencananya juga mau disedot aja mba. Tapi velum sempat juga sampai sekarang. Sharing pengalamannya dong mba waktu melakukan prosedur sedot ini, aku masih awam banget soalnya.

      Delete
  9. Iya mbk ini aku masih cari waktu jadwal buat sedot nya.. nanti aku bagi pengalaman ku ya.. semoga ini keputusan yg paling tepat

    ReplyDelete
  10. Alhamdulillah mbk.. hari ini aku baru saja pulang dari rumah sakit bertemu dengan dokter patologi anatomi..aku konsul minta di sedot kista teroid..tapi dokter yakin kalau kista ku ini memang berisi cairan tapi cairan nya kental tidak bisa di sedot karena benjolan sudah 5thn..tapi aku sedikit memaksa dan minta tindakan kalau pun memang kental.aku siap di operasi..tapi di luar dugaan..kista berisi air sangat bening 60cc dokter sampai heran biasanya cairan kental dan berwarna keruh Alhamdulillah akhirnya tidak jd operasi hanya dengan 3kali sedotan jarum dan tidak sakit kista ku sudah kempes.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waaah alhamdulillah mbaaakkk...aku juga lega bacanya. Jadi semangat buat ke dokter juga minta disedot. Itu dibius dulu nggak mba sebelum disedot? Terus abis disedot bisa langsung pulang nggak? Prosesnya lama nggak? Maklumlah masih mikirin baby, takut ditinggal lama 😅
      Btw, makasi banyak ya mba sharingnya. Bermanfaat banget buat aku 😊

      Delete