Langkah Ibu Hebat Ciptakan Keluarga Kuat Lawan Covid-19



Dua bulan di rumah saja tanpa kemana-mana, telah mengukir berjuta cerita yang tak kan mungkin dilupa. Beda keluarga, beda pula suka-dukanya. Tidak sedikit keluh kesah tergema, namun banyak pula kebahagiaan yang akhirnya terasa. Awalnya memang berat, tidak mungkin bisa bertahan berbulan-bulan tanpa liburan dan jalan-jalan. Bahkan hanya untuk ke mini market depan gang saja terasa begitu mencekam.

Anehnya, semakin lama kita semua semakin terbiasa. Setiap hari di rumah, mulai dari pagi hingga bertemu pagi lagi dan melakukan semua aktifitas tanpa pergi-pergi, menjadi hal lumrah yang harus dijalani. Inilah yang dikatakan New Normal, masyarakat dunia mulai merasa tak asing dengan banyak hal yang berubah karena pandemi Corona.

***

Ibu, menjadi pemegang peranan penting dalam menjaga kondisi keluarga agar tetap stabil. Tidak hanya memastikan kebutuhan jasmani suami dan anak-anak tercukupi, tapi juga kebutuhan rohani yang tidak boleh dikesampingkan. Menyediakan makanan sehat mulai dari sarapan, makan siang, makan malam hingga stok cemilan, menjadi prioritas utama agar tidak lagi sering-sering membuka aplikasi ojek online untuk memesan makanan siap saji. Mengatur jadwal sedemikian rupa agar semuanya tetap terkendali demi menjaga imunitas tubuh seperti tidur, makan, mandi, main, kerja dan sebagainya juga tak boleh ketinggalan. Tidak lupa pula menuangkan ide-ide kreatif yang selama ini berhibernasi dalam diri untuk menciptakan kegiatan seru bersama keluarga agar rasa bosan yang semakin kental bisa dicairkan. 

Menjadi ibu luar biasa bukan?


Berbicara masalah masak-memasak, mungkin sudah banyak resep baru yang berhasil dicoba. Mixer dalam kardus yang dibeli setahun lalu, sekarang terpajang indah di meja dapur karena sering digunakan. Oven juga begitu, selama ini tidak pernah terjamah, malah menjadi sahabat andalan.

Suami yang sebelumnya harus berangkat subuh dan pulang ba'da maghrib untuk menghindari macet, sekarang bisa bantu-bantu cuci baju dan meracik takjil. Selama work from home masih diberlakukan, pekerjaan rumah tangga dan jaga anak bisa dibagi meski sedikit.

Anak-anak kelebihan energi yang tidak bisa diam juga terpaksa harus betah di rumah dan melupakan sejenak kesenangannya bermain di area terbuka dan ramai. Padahal berjumpa dengan teman sebayanya adalah kebahagiaan yang dinantikan setiap waktu. Apalagi belajar juga harus dilakukan dari rumah, kapan lagi waktu mereka untuk saling bertemu dan bercengkrama?

Ah, kalau diingat-ingat memang semuanya berubah begitu saja tanpa ada yang mengira. Ini pertama kalinya bagiku dan mungkin juga bagi mayoritas penduduk bumi. Rumah yang dulunya menjadi tempat paling dirindukan saat lelah, kini sudah beralih fungsi menjadi tempat karantina teraman dari ancaman Covid-19.


***

Bosan Di Rumah? Ibu Bisa Lakukan 3 Hal Seru Sarat Makna Ini Bersama Keluarga


Lalu apa saja yang bisa dilakukan selama di rumah agar tidak berlalu sia-sia? Inilah beberapa hal yang aku lakukan bersama keluarga untuk menguatkan bonding satu sama lain dengan keseruan yang bermakna.

Semakin Memahami Satu Sama Lain

Kapan lagi bisa bersama-sama setiap hari di rumah selama berbulan-bulan? Biasanya untuk berkumpul dengan formasi lengkap harus menunggu akhir pekan atau libur nasional. Nah, dengan saling bertemu setiap waktu seperti ini, kita menjadi semakin mengerti dunia masing-masing. Meskipun terkadang percikan emosi bisa menyulut pertengkaran kecil, namun ujungnya akan memberi pelajaran baru yang berarti. 

Bagaimana cara seru ala aku agar dapat semakin memahami satu sama lain?

Bermain peran. Setiap kali ada kesempatan, secara bergilir kami akan memerankan tingkah laku anggota keluarga lain. Simple tapi banyak hal baru yang akan tergali. Anggota keluarga yang diperankan bisa mengetahui penilaian orang lain terhadap tingkah laku dan perbuatannya. Bisa jadi penilaiannya baik atau pun buruk.

Misalnya pernah beberapa kali anak sulungku diminta meniru kebiasaan Ayahnya dan langsung mengambil laptop lalu pura-pura mengetik, dan dilanjutkan memegang handphone dan terpaku menatap layarnya. Walaupun terlihat lucu dan membuat semua tertawa geli, namun tersirat bahwa yang dilihat anak selama ini hanya kesibukan dengan gadget dan melupakan waktu bermain bersama mereka. Setelah itu, aku dan suami sebagai orang tua harus benar-benar membatasi penggunaan gadget. Jika terpaksa, biasanya kami akan meminta izin dan memberi penjelasan terlebih dahulu kenapa harus menggunakan gadget tersebut beberapa saat agar anak mengerti. 

Ikut Serta dalam Aktifitas Harian

Sering bingung mau ngapain? Mending ikut turun tangan saja membantu yang lain. Tidak perlu yang susah-susah, membantu yang gampang saja. Mencoba melakukan hal baru pasti terasa menantang. Apalagi yang lain  juga turut terbantu.

Aku menamainya dengan Gotong Royong. Aturan permainannya sudah terbayang bukan? Mengerjakan suatu perkerjaan atau aktifitas secara bersama-sama. Misalnya saat suamiku sibuk membungkus dagangan online-nya, aku dan anak-anak akan mendekat dan membantu tanpa mengganggu. Anak-anak bisa meremukkan kertas penyumpal barang dalam kotak kemasan agar kedudukannya stabil selama dalam perjalanannya nanti, dan aku bisa menempelkan alamat pada paket sambil mengawasi anak-anak.

Begitu juga saat aku memasak, anak-anak biasanya aku biarkan bersama suami membersihkan sayuran atau mengupas telur puyuh. Sembari itu, aku bisa memotong-motong yang lain dan memasak dengan leluasa.

Bagaimana dalam hal aktifitas anak-anak? Tentu saja kami juga tetap bergotong royong dalam banyak hal, seperti membereskan mainan, menyusun bangunan dengan lego atau bersama-sama mewarnai kertas gambar berpola dengan membuat kompetisi kecil-kecilan sebagai pemancing semangat.

Bagaimana? Seru bukan?


Menciptakan Momen Bersama

Menciptakan momen bersama merupakan hal terindah dari semua hal yang aku dan keluarga lakukan. Tidak bisa setiap saat, namun paling dirindukan. Selama WFH ini, paling hanya beberapa kali saja momen bersama berhasil kami lakukan. 

Kami menamainya dengan Cerita-cerita. Yap, karena momen bersama ini didominasi oleh sesi curahan hati masing-masing. Biasanya kami melakukannya sesaat sebelum tidur malam atau sesekali sebelum tidur siang. Tertawa, marah, kesal, bahkan menangis, menyesal dan memberi nasihat satu sama lain menjadi sesuatu yang tidak bisa terbayarkan. Anak-anak yang masih kecil pun bisa belajar meluapkan emosinya dengan beberapa pertanyaan pancingan sehingga bisa menjadi pelajaran berharga bagi aku dan suami sebagai orang tua. Menasehati anak juga terasa lebih "ngena" karena setiap kalimatnya disampaikan tanpa amarah dan emosi yang meledak-ledak.



***

Fight Covid-19! Ibu Hebat Ciptakan Keluarga Kuat


Pernahkah mendengar atau membaca kalimat "Ibu adalah nadi rumah tangga"? Hal ini juga berlaku dalam konteks menjaga keluarga di tengah pandemi Corona. Sekarang semua anggota keluarga berada di rumah karena memang disarankan harus seperti itu. Sebagai ibu, pasti merasa tertantang untuk bisa mengkondisikan suasana rumah agar tetap kondusif dan aman agar semuanya dapat melalui masa krisis yang panjang ini.

Lalu apa saja upaya yang dapat dilakukan ibu demi menjaga keluarga agar tetap terlindungi dari serangan Covid-19 yang semakin menyebar luas?

Kondisi Ibu Tentukan Kondisi Keluarga

Peran ibu dalam menjaga suasana rumah saat pandemi sangatlah besar. Semua tindakan pencegahan, penyediaan kebutuhan, hingga meciptakan aktifitas pengusir rasa bosan akan bertumpu padanya. Duh, aku orangnya ekstrovert banget, mana betah lama-lama dirumah. Aku mah nggak bisa masak, mana bisa masak setiap hari begini. Aku kan bukan guru, gimana nih ngajarin anak di rumah? Mulailah dari lingkup yang paling kecil, yaitu diri sendiri. Bagaimana bisa semuanya berjalan dengan baik jika pikiran dan emosi ibu tidak dalam keadaan baik? Perjernih pikiran, jangan hanya melihat sisi buruknya saja dan yakin semua bisa dijalani asalkan ada kemauan.

Meyakinkan diri dalam keadaan stabil akan menghindari terjadinya kepanikan berlebih dan bersikap diluar batas. 

Kepanikan bukanlah jawaban. Ibu bijak lebih berfokus untuk meningkatkan kewaspadaan. Mengendalikan diri dan emosi jauh lebih berguna untuk menentukan langkah tepat selanjutnya yang harus diambil. Kestabilan diri inilah yang membuat keadaan rumah tetap kondusif.

Gali Informasi

Ibu harus menggali informasi akurat sebanyak-banyaknya dari sumber terpercaya, seperti website resmi pemeritah, penjelasan para ahli atau berita di televisi agar tepat dalam bertindak dan tidak mudah terpengaruh oleh berita simpang siur yang tidak jelas kebenarannya. Dalam hal ini termasuk juga himbauan dan aturan pemerintah yang terus diperbarui. 

Informasi akurat dapat dijadikan dasar kuat untuk menilai keadaan, melakukan langkah pencegahan atau tindakan pertolongan pertama agar keluarga siap menghadapi Covid-19.

Patuhi Aturan

Inilah pentingnya belajar dan mencari tahu. Dengan mempelajari banyak hal mengenai Covid-19, ibu menjadi paham bagaimana protokol kesehatan yang harus diptaktekkan dan aturan pemerintah yang harus dipatuhi. Pastikan seluruh anggota keluarga (termasuk ibu) tetap melakukan physical distancing, rajin mencuci tangan, menjaga daya tahan tubuh dan tentunya diam di rumah saja. Kalau tidak penting-penting banget, tidak usah keluar dulu. Apalagi berdesak-desakan beli baju lebaran yang sebenarnya bisa dihindari. Kasihan bumi kita yang sudah terlalu tersakiti oleh ulah manusianya.

Tidak ada salahnya ibu bersikap tegas dengan membuat banyak aturan selama masa pandemi demi membentengi keluarga.


Jika Bisa Dilakukan Sendiri, Kenapa Tidak?

Poin yang satu ini memang butuh komitmen kuat untuk dipraktekkan. Biasanya ada asisten rumah tangga yang bantu-bantu membersihkan rumah, sekarang nyapu-ngepel harus dikerjakan sendiri supaya lebih aman. Biasanya catering makanan harian diantar setiap pagi, sekarang lebih baik memasak sendiri untuk memperkecil resiko tertularnya virus Covid-19 kepada anggota keluarga. Tapi nyatanya bisa kan dilakukan sendiri? Kalau bisa, kenapa sibuk mencari bantuan orang lain?

Inilah waktunya untuk benar-benar merasakan menjadi ibu rumah tangga seutuhnya. 

Meskipun berat, akhirnya tetap saja akan banyak rasa syukur yang terucap. Bersyukur karena biaya yang dikeluarkan jauh lebih hemat (ya iyalah semuanya kan dikerjakan sendiri), makanan yang dikonsumsi jauh lebih sehat, ibu jadi bisa berolahraga dengan membakar kalori selama membereskan rumah, hingga bersyukur bahwa sebelum pandemi ada asisten rumah tangga yang membantu semua pekerjaan rumah tangga yang sangat banyak dan berat ini.

Stop Mengeluh, Cari solusi!

Kehidupan baru yang butuh banyak penyesuaian ini pasti menimbulkan ketidaknyamanan bagi banyak orang, termasuk keluarga kita. Namun masalah ini harus diselesaikan, bukan malah dikeluhkan.

Bersikap solutif, itulah yang harus dilakukan ibu.

Jika memang bosan di rumah, lakukan kegiatan menarik seperti menyalurkan hobi, memasak, menonton, membaca, menulis atau berkarya. Saat takut keluar rumah untuk berbelanja kebutuhan harian, jasa antar atau belanja online yang kian merebak bisa dimanfaatkan. Tinggal pesan, petugas siap mengantar. Ibu dituntut kreatif untuk menemukan solusi dalam setiap masalah baru yang muncul dalam keluarga. Sharing dengan ibu-ibu lain lumayan bisa diandalkan untuk menemukan ide-ide solutif yang sesuai harapan.

***

Intinya, ibu wajib meningkatkan kualitas diri dalam hal pengetahuan, keterampilan dan pengendalian emosi demi melindungi keluarga dari Covid-19. Semuanya harus dilakukan secara menyeluruh dan seimbang karena saling berhubungan satu sama lain. Kenyataannya, Ibu tetaplah menjadi inti dalam keluarga yang menentukan banyak langkah penting dalam menghadapi serangan virus Corona yang semakin bertaring ini.

Semangat para ibu! Kalian adalah pahlawan keluarga.

Doa kita semua masih sama, semoga pandemi ini segera berakhir. 

Semoga bermanfaat :)



4 comments:

  1. tdk semua ortu bs seperti ini ya, msh banyak anak berkeliaran di luar, di indomaret, dibawa keluar ortu tanpa masker

    ReplyDelete
    Replies
    1. Miris memang melihat kenyataan yang seperti ini. Entah karena kurang edukasi atau benar-benar tidak peduli *hiks

      Delete
  2. Kantor suamiku malah dlm tahap menggodok, supaya team suamiku itu bisa Wfh seterusnya mba :D. Karena melihat kerjaan mereka malah jauh LBH produktif sejak Wfh hahahahhaa. .. Cm listrik aja nih Ama pulsa jd naiiiik :p.

    Aku sudah mulai terbiasa dgn konsep ini. Positifnya jd terasa sih. Aku yg tdnya boro2 mau masak, jd mau terjun skr, sesekali. Walopun urusan cuci baju, bersihin rumah dll msh ttp dipegang kedua asisten. Tp setidaknya aku jd mau cari resep supaya ga bosen2 amat :D

    Tp kegiatan yg bener2 bikin aku happy itu, bikin itin baru utk persiapan saat traveling sudah bisa dilakukan. Aku tau skr ini msh blm mungkin utk jalan2. Tp dengan membuat itinerarynya aja dulu, itu udh bikin happy, serasa memang mau jalan :D. Obat stress ku bangetttt hahahah... Semoga yaaa vaksinnya ini cepet ketemu :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sepertinya memang beberapa perusahaan merasakan dampak positif dari WFH ya. Bisa jadi beberapa perusahaan tersebut akan membolehkan karyawannya WFH selamanya seperti yang dilakukan Twitter.

      Selalu ada positifnya ya, Mbak. Hehe

      Aamiiin semoga pendemi ini segera berakhir dan bumi benar-benar kembali pulih.

      Delete