Pengalaman Stimulasi Anak Agar Cepat Bisa Jalan

Foto : freepik.com

Setelah fasih merangkak, anak akan mencoba menggapai benda yang lebih tinggi dan memegangnya untuk mengangkat tubuh agar bisa berdiri. Awalnya merambat (berjalan dengan berpegangan), lalu kemudian berani melepaskan tangan dan berjalan mandiri beberapa langkah. Momen ini tentu saja memberikan banyak ketegangan sekaligus kebahagiaan bagi orang tua karena takut anak terjatuh namun bahagia akan kemampuan baru sang buah hati.


Mengangkat diri dengan bantuan

Sekitar usia 8-9 bulan, bayi akan tumbuh lebih kuat. Pada tahapan ini, dia bisa mengangkat dirinya sendiri dengan bantuan perabotan atau orang-orang yang ada di sekitarnya. Cara ini bisa membuatnya merasakan sensasi posisi berdiri.

_______________

Berjalan dengan bantuan

Bayi bisa berjalan dengan bantuan atau ditatih saat dia mampu mengangkat dirinya sendiri saat berusia 8-9 bulan. Perkembangan bayi ini bisa meningkatkan keberanian dan kepercayaan dirinya untuk melangkahkan kaki seorang diri.

_______________

Merambat

Pada usia 8-9 bulan, bayi juga bisa berjalan dengan cara merambat pada tembok atau perabotan yang ada di sekitarnya.

_______________

Berdiri tanpa bantuan

Tahapan ini merupakan bagian terpenting dari berjalan. Jika Si Kecil sudah bisa berdiri tanpa bantuan, berarti dia sudah memiliki keseimbangan yang bisa menjadi bekalnya untuk berjalan. Biasanya perkembangan bayi ini terjadi pada usia 9-12 bulan.

_______________

Langkah pertama

Yang ditunggu akhirnya tiba. Langkah pertama Si Kecil merupakan momen terpenting bagi Si Kecil. Dibutuhkan keberanian bagi Si Kecil untuk mampu melakukan hal tersebut. Jangan lupa untuk memujinya ketika Si Kecil sudah memperlihatkan langkah pertamanya. Momen ini biasanya terjadi pada usia 9-12 bulan.

_______________

Bisa berjalan

Setelah perjalanan panjang, akhirnya Si Kecil bisa berjalan sendiri. Umumnya ini terjadi pada bayi berusia 12-18 bulan. Saat baru bisa berjalan, mungkin Si Kecil agak kehilangan keberaniannya dan memilih untuk merangkak. Namun itu hal yang wajar. Lama-kelamaan dia juga akan terbiasa memijakkan kakinya.


Perkembangan masing-masing anak memang berbeda, namun umumnya anak bisa berjalan diusia 1 tahun. Meskipun ada yang lebih cepat dan ada pula yang lebih lambat. Selama masih berada di-range usia yang normal, maka orang tua tidak perlu terlalu khawatir. Sebaiknya, berilah stimulasi yang dapat merangsang kemampuan berjalan anak dengan cara yang menyenangkan. Hal ini penting karena bagaimanapun juga anak membutuhkan rangsangan agar dapat bertumbuh kembang sesuai usianya, salah satunya berjalan. Berikut beberapa stimulasi yang pernah aku lakukan untuk merangsang kemampuan berjalan anak dan alhamdulillah berhasil membuat mereka dapat berjalan mandiri diusia yang seharusnya.


Baca juga : Membanding-bandingkan Anak, Perilaku Toxic Parent yang Mengancam Kesehatan Psikologi Anak



1 Bebaskan Bermain Di Lantai

Sebenarnya membebaskan anak bermain di lantai bisa dilakukan semenjak bayi, karena ini merupakan cara yang paling ampuh untuk memberi kebebasan kepada anak berkeksplorasi dan mengembangkan kemampuan motoriknya. Bayangkan jika anak hanya dibiarkan bermain di kasur yang empuk, bahkan untuk membalik badan saja susah, apalagi untuk berjalan. Agar keamanan anak tetap terjaga dari permukaan lantai yang keras, berilah alas playmate, karpet atau apa saja yang bisa melapisi lantai agar sedikit empuk, tapi jangan sampai terlalu empuk seperti kasur supaya bisa menjadi tumpuan gerakan anak. Perhatikan dan amankan juga barang-barang yang berbahaya seperti sudut meja, benda tajam, air panas dan berbagai perabotan rumah tangga riskan lainnya yang kemungkinan bisa dijangkau anak saat berdiri.


Jangan Memakai Alas Kaki

Terkadang orang tua terlalu buru-buru memakaikan alas kaki kepada anak meski belum bisa berjalan dengan alasan fashion. Padahal dengan bertelanjang kaki, akan melatih sensori telapak kaki anak untuk merasakan berbagai macam permukaan pijakan, seperti lantai yang keras dan datar, rumput atau pasir. Khusus saat belajar berjalan, sebaiknya anak tidak dipakaikan alas kaki dulu karena dapat mempersulit pijakan kaki anak sehingga ia kesulitan menyesuaikan diri dengan aktifitas berjalan. Jika takut kaki anak kotor, orang tua bisa memilih tempat yang bersih sebagai area anak belajar berjalan. 


Ditatah

Menatah adalah memegang kedua tangan anak untuk melatih kemampuan berjalannya. Jadi meski anak belum bisa berjalan tanpa pegangan, dengan bantuan tangan kedua orang tuanya sebagai tumpuan, maka anak tetap bisa melangkahkan kaki. Orang tua bisa menatah anak setiap ada kesempatan agar dapat konstan memberikan stimulasi supaya anak bisa melatih keseimbangan, cara melangkah dan dapat cepat berjalan secara mandiri.


Berikan Mainan untuk Dijangkau

Agar anak dapat berjalan dengan lancar, tentunya anak harus belajar cara berdiri dan melatih keseimbangan pijakan. Memberikan mainan di tempat yang lebih tinggi dan membutuhkan jangkauan anak untuk mengambilnya dapat menjadi salah satu stimulasi yang cukup berpengaruh. Misalnya dengan menempelkan beberapa bola plastik di dinding, memberikan mainan bola basket yang dimasukkan ke dalam ring setinggi meja atau cara kreatif lain yang menarik perhatian anak. Jika anak antusias untuk mengambil mainan yang diletakkan diposisi yang lumayan tinggi, maka ia akan berusaha berdiri sendiri dan tetap di posisi tersebut selama memainkannya. Lama kelamaan otot kaki dan kemampuan anak berdiri seimbang akan semakin berkembang sehingga dapat memdorong kemampuan berjalannya.


Menyediakan Pegangan untuk Merambat atau Berjalan

Sebenarnya sudah banyak mainan khusus stimulasi anak berjalan yang dijual dipasaran. Konsep mainan ini adalah seperti gerobak dorong, sesuatu yang bisa didorong dengan pegangan disalah satu sisinya. Jadi dengan mendorong mainan tersebut, anak dapat berjalan sambil berpegangan. Sayangnya harga mainan ini lumayan mahal karena ukurannya yang besar. Sebagai gantinya, banyak barang di rumah yang memiliki fungsi serupa, seperti kursi plastik, meja kecil, stroller bayi, keranjang dan sebagainya. Bisa juga memanfaatkan  sisi sofa, meja TV, rak, kasur atau bahkan dinding sebagai pegangan anak untuk merambat dan membantunya belajar berjalan langkah demi langkah.


Bermain Bersama Anak Lain

Apakah orang tua pernah merasa bahwa anak terlihat lebih aktif dan lincah saat bertemu teman sebayanya? Mereka tampak berinteraksi satu sama lain dengan cara yang orang dewasa tidak mengerti. Keaktifan ini harus dimanfaatkan untuk memancing semangat anak agar mau melangkahkan kakinya saat melihat temannya yang mungkin sudah mampu berjalan beberapa langkah. Orang tua sebaiknya sesekali membiarkan anak bermain dengan teman sebayanya karena juga terbukti ampuh merangsang kemampuan motorik anak, termasuk berjalan.


Pastikan Dilakukan Diusia yang Tepat

Orang tua pasti merasa bangga jika anak memiliki kemampuan yang belum dikuasai anak lain. Contohnya saat anak bisa berjalan diusia 10 bulan, maka  hal ini dirasa pantas untuk dipamerkan kepada orang lain. Respon yang didapat juga pasti sesuai harapan, yaitu berupa kekaguman yang sangat membahagiakan karena anak akan dicap sebagai anak yang pintar. Namun jangan sampai alasan seperti ini menjadikan orang tua memaksakan kehendak untuk mengajarkan anak berjalan diusia yang terlalu dini karena belum tentu tubuh dan otak anak siap melakukannya. Sebaiknya perhatikan dulu perkembangan anak apakah ada kecenderungan untuk mulai berdiri dan berjalan atau belum. Usia juga bisa dijadikan patokan waktu yang tepat untuk memberikan stimulasi berjalan pada anak, misalnya jika sampai diusia 1 tahun anak juga belum berinisiatif mencoba berjalan, maka orang tua sebaiknya lebih intens memberikan stimulasi agar perkembangan dan pertumbuhan anak masih sesuai dengan yang seharusnya.



Baca juga : Jangan Biarkan Anak Bermain Tanpa Pengawasan Di 8 Area Ini



Hindari penggunaan baby walker yang dianggap bisa membuat anak cepat bisa berjalan. Faktanya, baby walker tidak membantu anak untuk berjalan lebih cepat.

Ikatan Dokter Anak Indonesia ( IDAI)


Baby walker justru mengurangi keinginan anak untuk berjalan, karena anak akan merasa bahwa tanpa bersusah payah berjalan pun ia tetap bisa berkelana kemana saja dengan baby walkerBaby walker juga menguatkan otot yang salah. Kedua tungkai bawah memang diperkuat, tetapi tungkai atas (paha) dan pinggul tetap tidak terlatih. Padahal tungkai atas dan pinggul sangat penting untuk berjalan. 


Baby walker juga mengakibatkan anak tidak dapat melihat kaki dan anak kakinya. Anak tidak mempelajari cara untuk menyeimbangkan tubuh. Anak akan sering berdiri dengan ujung jari kaki yang mungkin mengakibatkan otat tegang dan mengajarkan anak untuk berjalan pada ujung jari kaki (jinjit).


Bahaya lain yang mengancam anak saat menggunakan baby walker adalah kecelakaan akibat menggapai benda-benda berbahaya yang ada di ketinggian, seperti luka kepala/otak, patah tulang dan luka bakar. Baby walker menjadikan anak lebih tinggi dan memungkinkan ia menggapai barang-barang yang letaknya tinggi. Baby walker juga membuat anak lebih mudah bergerak ke seluruh ruangan dan dapat meraih benda-benda yang berbahaya, contohnya pisau di atas meja, kabel listrik di dinding atau bahkan jatuh dari tangga. 


Penting sekali bagi orang tua untuk menstimulasi setiap tahap tumbuh kembang anak agar tidak ada yang terlewati.


Sedikit berbagi pengalaman, ternyata fase merangkak sangat berpengaruh terhadap masa belajar berjalan anak. Anak pertamaku yang melewati masa merangkak dan langsung belajar berjalan cenderung lebih sering jatuh terjengkang ke belakang saat belajar berdiri dan itu sangat membahayakan kepala bagian belakangnya. Sehingga aku harus selalu waspada setiap kali ia mulai berdiri agar tidak mencelakai dirinya. Berbeda dengan anak kedua yang merangkak sebelum belajar berjalan, ia akan terduduk jika jatuh ke arah belakang dan menumpu dengan lutut atau tangan jika terjatuh ke arah depan. Tentu hal ini akan meminimalisir cidera dan trauma yang mungkin saja terjadi. Maka dari itu, orang tua sebaiknya selalu memantau perkembangan motorik anak karena setiap tahapannya sangat penting dan berpengaruh kepada perkembangan tahap selanjutnya.


Baca juga : Kepala Anak Terbentur, Orang Tua Harus Apa?


***


Itulah beberapa stimulasi yang dapat diterapkan kepada anak untuk dapat merangsang kemampuan berjalannya agar dapat tercapai diusia yang seharusnya, dan sedikit saran terkait pentingnya merangkak dan tidak disarankannya penggunaan baby walker pada anak.


Semoga bermanfaat :)


No comments:

Post a Comment

Sebelum komentar, login ke akun Google dulu ya teman-teman. Jangan ada "unknown" diantara kita. Pastikan ada namanya, biar bisa saling kenal :)