Membanding-bandingkan Anak, Perilaku Toxic Parent yang Mengancam Kesehatan Psikologi Anak

Foto : freepik.com by user peoplecreations

"Kamu kok kerjaannya malas-malasan doang sih? Lihat tuh Ani, anak teman Mama. Rajin bersihin kamar, bantu masak dan belajar. Jago main piano lagi. Makanya dia pintar, juara kelas terus. Bisa bikin bangga orang tuanya. Kamu gimana bisa bikin bangga Mama kalau cuma tidur-tiduran setiap hari begini!"

Layaknya manusia biasa, anak juga melakukan kesalahan. Apalagi anak yang masih dalam tahap belajar dan belum berusia matang. Banyak ketidaktahuan atau pengambilan keputusan tidak tepat yang membuat anak akhirnya melakukan hal negatif. Orang tua yang memiliki tanggung jawab penuh untuk mendidik anak, semestinya bisa mengatasi hal ini dengan lebih bijak. Hindari perilaku toxic parent yang bisa mengganggu tumbuh kembang anak dan berpengaruh buruk pada masa depannya. Salah satu perilaku toxic parent itu adalah membanding-bandingkan anak dengan anak lainnya.


***

Orang Tua Sering Melakukannya Tanpa Sadar


Banyak orang tua tidak sadar bahwa mereka telah melakukan sesuatu yang berdampak buruk pada anak. Berdalih dengan alasan "demi kebaikan anak", orang tua malah membenarkan cara pengasuhan yang sudah jelas-jelas salah. Sama halnya dengan kebiasaan orang tua yang membandingkan kelemahan anak dengan anak yang lain. 

Saat mengatakan pernyataan yang membandingkan anak, orang tua memang memiliki alasan dan niat yang baik. Misalnya saja saat nilai rapor anak kurang bagus yang disebabkan oleh kebiasaan anak bermain game. Tanpa sadar orang tua akan membandingkan anak dengan teman sekelasnya yang juara kelas dengan harapan sang anak bisa meniru prestasinya dan cara belajarnya. Tapi apakah cara ini efektif? Apakah anak akan langsung menginstrospeksi diri, lalu merubah kebiasaannya agar dapat menjadi juara kelas seperti harapan orang tua? Jawabannya tentu saja tidak. 

"Sering membanding-bandingkan anak tidak memiliki dampak positif apapun, melainkan berakibat negatif dan mempengaruhi psikologi anak tersebut"
- dikutip dari popmama.com - 

Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Family Psychology mengungkapkan jika membanding-bandingkan anak bisa membahayakan mereka seumur hidup. 
-  dikutip dari haibunda.com -

Perkembangan masing-masing anak bersifat unik, tidak bisa disamakan. Begitu pula dengan bakat, minat dan kemampuan mereka. Orang tua seharusnya bisa mengetahui hal ini dan menerapkannya dalam pola pengasuhan, agar tidak ada lagi kebiasaan untuk membandingkan anak. Fokuslah dengan apa yang dimiliki anak. Jika ada kekurangan, maka tugas orang tualah untuk mendampingi dan mengajarkannya, bukan malah memojokkan anak dengan cara membanggakan anak lain didepannya. 

Apapun alasan dibelakangnya, membanding-bandingkan anak bukanlah cara yang tepat dalam mendidik. Baik itu membandingkan dengan anak orang lain atau dengan saudara kandungnya sendiri. Bukankah itu akan melukai perasaan anak? Coba ganti kalimat "Lihat itu, anak teman Mama rajin belajar, makanya juara kelas" dengan "Nak, kamu belajarnya lebih giat lagi ya, supaya nilaimu semester depan lebih baik. Mama akan bantu kamu. Yuk, kita usaha sama-sama." Manakah yang lebih bisa diterima? Jangankan anak, orang dewasa saja akan kesal jika dibandingkan dengan orang lain dari sisi kelemahannya.


***

Banyak Menuntut Tapi Lupa Membimbing


Anak membutuhkan bimbingan orang tua dalam segala hal. Apapun bentuknya, dukungan orang tua sangat menentukan hidup anak. Saat membandingkan anak, seharusnya orang tua berkaca, sudah sejauh mana bimbingan dan dukungan yang diberikan kepada anak dalam hal yang dibandingkan tersebut. 

Contohnya saat membandingkan anak yang dirasa tidak memiliki kemampuan khusus dalam bidang apapun, tidak ada yang menonjol dan semuanya terlihat biasa saja. Orang tua yang ingin memiliki anak berprestasi malah membandingkannya dengan anak tetangga yang baru saja menjuarai lomba tenis meja tingkat provinsi. "Kamu harusnya punya prestasi dan kemampuan yang menonjol, seperti Si Andi anaknya Pak Lurah, berprestasi, juara tenis meja tingkat provinsi." Padahal sudah sejak usia 3 tahun, Andi diperkenalkan dengan tenis meja oleh orang tuanya. Melihat antusias anaknya, orang tua Andi mati-matian melatih dan mengikutsertakannya dalam berbagai perlombaan. Puluhan tahun jerih payah itu ditemani oleh jutaan tetesan keringat dan air mata. Hasilnya barulah beberapa minggu lalu Andi berhasil menjuarai perlombaan tingkat provinsi. Apakah perjuangan serupa telah dilakukan juga? 

Coba renungkan, sudah sejauh mana kita sebagai orang tua membimbing dan berusaha mengasah bakat anak. Apakah sudah maksimal, baru seadanya, atau malah tidak pernah sama sekali?
____________
Jika belum melakukan apa-apa, pantaskah orang tua menuntut anak dan membandingkannya dengan kehebatan anak orang lain? Apalagi untuk sesuatu yang merupakan kelemahan atau hal yang diluar batas kemampuan anak. 

Buah yang jatuh tidak akan jauh dari pohonnya. Hal ini juga berlaku pada hubungan antara orang tua dan anak. Peran orang tua dalam menentukan kehidupan anak sangatlah besar. Orang tualah yang membentuk anak, tidak terkecuali dalam prestasi, perilaku, hingga kehidupan dewasanya nanti. Jadi, sebelum banyak menuntut, lihatlah kebelakang, sudah seberapa jauh bimbingan yang dilakukan orang tua untuk anak.


***

Dampak Buruk Membanding-bandingkan Anak


Pada usia anak-anak, kritikan negatif dari orang lain sangat sulit untuk mereka terima. Apalagi jika kritikan itu didengar langsung dari orang tua, sebagai orang terdekat anak. Membandingkan anak dengan anak lain akan melukai perasaannya dan berpengaruh buruk terhadap kesehatan psikologisnya. Berikut adalah dampak buruk dari seringnya membandingkan-bandingkan anak dengan anak lain.

1 Anak Tertekan

Anak yang sering dibandingkan oleh orang tuanya akan merasa terbebani, apalagi hal yang dituntut untuk dikuasai anak tidak sesuai dengan minat dan bakat anak. Ditambah lagi jika orang tua tidak ikut serta bersama anak dalam usahanya merubah diri, tentu saja anak akan merasa berjuang sendiri. Beban yang ditanggung ini akan membuatnya tertekan dan mempengaruhi kesehariannya, misalnya saja mengalami stres dan kesulitan tidur. 

Anak Minder

Anak akan merasa memiliki banyak kelemahan, sehingga merasa tidak percaya diri saat bertemu orang lain yang dirasa jauh lebih hebat darinya. Hal ini tentu saja dapat mengganggu pergaulan anak. Anak cenderung lebih suka menyendiri karena rasa mindernya.

Anak Merasa Tidak Mampu

Orang tua yang selalu membandingkan kehebatan anak lain dengan kelemahan yang dimiliki anak, akan menjadikan anak merasa tidak mampu melakukan banyak hal, bahkan sebelum dia mencobanya. Anak menganggap dirinya lemah dan tidak memiliki kemampuan yang cukup dalam menyelesaikan suatu tugas atau memecahkan masalah. Padahal bisa jadi ketakutan itulah yang membuat anak tidak bersungguh-sungguh dalam melakukannya.

Anak Sering Berpikiran Negatif

Anak akan berpikiran negatif terhadap apapun hasil kerjanya. Misalnya saat mengikuti lomba melukis, anak tidak akan yakin bahwa usahanya bisa dihargai meskipun memenangkannya nanti. Orang tuanya tidak akan bangga apapun hasil yang akan ia peroleh. Apa yang ia lakukan tidak akan pernah dianggap cukup, sekalipun sudah mengerahkan seluruh kemampuannya.

Anak Menjadi Iri

Perasaan iri akan muncul jika kehebatan anak lain selalu dibanggakan orang tuanya, tanpa melihat sedikitpun usaha dan kemampuan yang ia miliki. Kenapa anak lain bisa begitu dilihat hebat, sedangkan ia tidak? Rasa iri ini bisa saja menumbuhkan rasa dendam yang mempengaruhi hubungan sosial anak.

Anak Haus Perhatian dan Pujian

Jika orang tuanya tidak bisa memperhatikan dan menghargai anak, bisa saja anak akan berusaha mendapatkan hal tersebut dari orang lain. Misalnya dengan bergaya nyentrik, usil, suka berbuat seenaknya atau berisik di kelas. Jika cara yang dilakukan anak masih dalam batas wajar, mungkin tidak ada yang perlu ditakutkan. Tapi jika anak mencari perhatian dengan melakukan hal-hal yang melanggar aturan dan norma, ini akan menjadi masalah serius bagi orang tua.

Anak Mencari Pelampiasan

Seringnya dibandingkan dengan orang lain, tentu membuat anak merasa kesal. Rasa kesal ini jika bertumpuk terlalu lama bisa berubah menjadi rasa marah yang berpotensi meledak kapan saja dan dilampiaskan dengan melakukan perbuatan negatif, seperti melawan, membangkang, berteriak, memukul dan sebagainya. 

Rusaknya Hubungan Orang Tua dan Anak

Orang tua yang seharusnya menjadi tempat bersandar anak, bisa saja menjadi orang yang paling dihindari anak. Anak merasa takut untuk berkomunikasi dengan orang tua karena itu hanya akan melukai perasaannya, sehingga anak lebih suka berdiam diri. Anak mungkin menyimpan rasa kesal, marah atau benci akan kebiasaan membanding-bandingkan yang kerap dilakukan orang tua. Hal ini tentu saja akan merusak hubungan baik antara orang tua dan anak. 

Setelah mengetahui banyaknya dampak buruk yang terjadi jika orang tua selalu membanding-bandingkan anak dengan anak orang lain, bukankah sebaiknya orang tua harus lebih bijak dalam bersikap? Janganlah menjadi toxic parent yang membawa pengaruh buruk dalam tumbuh kembang anak. Berubahlah menjadi lebih baik dengan banyak belajar dan temukan cara paling tepat dalam mengatasi masalah parenting. Menjadi orang tua adalah tugas besar yang tidak mudah. Orang tua wajib belajar agar dapat memberikan yang terbaik untuk anak. Ingat, yang terbaik, bukan yang dianggap baik.

Semoga bermanfaat.

_________________

Referensi:
haibunda.com
id.theasianparent.com
lifestyle.kompas.com
popmama.com


2 comments:

  1. betul ya tapi akdang kalau lagi kesel suak juag keluar begitu, sudahnay nyesel

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jadi orang tua memang harus punya stok sabar terus ya 😅

      Delete

Sebelum komentar, login ke akun Google dulu ya teman-teman. Jangan ada "unknown" diantara kita. Pastikan ada namanya, biar bisa saling kenal :)