5 Sikap Anak Saat Lebaran yang Sebaiknya Diajarkan Orang Tua

Foto: freepik.com

Allaahu akbar

Allaahu akbar

Allaahu akbar

Laa illaa haillallahuwaallaahuakbar

Allaahu akbar walillaahil hamd


Wah, enggak kerasa besok sudah hari kemenangan! Meski tahun ini pemerintah masih melarang mudik karena pendemi Covid-19 belum berakhir, silaturahmi hanya bisa dilakukan secara virtual, namun kita harus bersyukur karena masih dipertemukan dengan Ramadhan dan Idul Fitri 1442 H. Alhamdulillah. Semoga Idul Fitri tahun depan, kita semua sudah bisa berkumpul lengkap kembali bersama keluarga besar. Aamiin.


Seperti biasa, banyak aktivitas khas lebaran yang sangat lekat dalam kehidupan kita. Mulai dari yang bersifat ajaran agama, hingga tradisi turun temurun. Misalnya saling bermaafan, beli baju lebaran dan kue lebaran, atau bagi-bagi Tunjangan Hari Raya (THR). Dari zaman aku masih balita, semua ini sudah menjadi hal wajib di setiap rumah. Karena hanya terjadi satu kali dalam setahun, wajar jika momen meriah ini selalu dinanti seluruh muslim. 


Anak-anak yang bergerak aktif dan menggemaskan, pasti punya daya tarik sendiri. Orang tua perlu sadar bahwa anak akan menjadi pusat perhatian ketika lebaran nanti. 


Nah, sebagai orang tua, sikap anak yang baik ketika berlebaran harus dipersiapkan dan diajari. Berhubung semua keluarga berkumpul, maka besar kemungkinan anak-anak kita akan menjadi primadona. Jika sikap anak terkesan sopan, maka hujan pujian akan membuat bahagia. Namun jika ternyata anak malah bertindak tidak sesuai dengan tata krama, maka sindiran atau omongan tidak mengenakkan bisa saja merusak suasana hati. Berikut ini beberapa sikap yang sebaiknya diajarkan orang tua kepada anak ketika hari lebaran semakin dekat. 


Baca juga: 4 Hal yang Bisa Dilakukan Orang Tua Ketika Anak Sakit Saat Lebaran


1 Memberi Salam

Baik berkunjung ke rumah saudara secara langsung, maupun bersilaturahmi secara virtual melalui video call, ketika memasuki rumah atau memulai pembicaraan, tentu kalimat salam diucapkan sebagai pembuka yang sopan. Anak-anak yang sudah mampu berbicara fasih, apalagi sudah bersekolah, sebaiknya diajarkan untuk memberi salam, minimal Assalamualaikum ketika di awal dan di akhir pertemuan atau pembicaraan. Jika ucapan salamnya lebih lengkap lagi, maka lebih baik pula. Dijamin kesan pertama yang ditinggalkan oleh anak pasti sangat positif.



2 Salim dan Minta Maaf Lahir Batin

Bukan lebaran namanya jika tidak ada maaf-maafan. Inilah yang paling penting. Saling memafkan kesalahan sesama saudara dan sesama muslim. Setelah mengucap salam, maka bermaafan adalah yang selanjutnya dilakukan. Jika bertatap muka, maka harus disertai dengan bersalaman. Anak-anak yang bersalaman dengan orang yang lebih tua dikenal dengan istilah salim, bersalaman yang diikuti dengan mencium tangan sebagai tanda hormat. Pengalaman saya, anak usai di atas 1 tahun sudah mulai bisa menggenggam tangan dan mendekatkan mulutnya ke tangan orang tersebut. Bila usia anak sudah lebih besar dan lancar berkomunikasi, maka ajarkan pula kalimat "Mohon maaf lahir dan batin". 



3 Menghabiskan Makanan yang Diambil

Hidangan kue lebaran beserta minuman manis lainnya tentu terlihat begitu  menggiurkan. Apalagi kue-kue tersebut berlumuran cokelat dan sprinkle warna-warni, anak-anak pasti akan mendekati makanan dan minuman ini ketika matanya tertuju ke sana. Agar tidak mubazir, sebaiknya orang tua mulai membiasakan anak memakan apa yang diambilnya agar tidak ada yang terbuang. Bukan hanya sebuah kebiasaan yang tidak disukai Allah, namun makanan yang dibuang-buang pasti membuat yang punya makanan merasa kesal. 



4 Berterima Kasih

Lebaran identik dengan hari yang royal dan foya-foya. Orang dewasa tidak banyak pikir untuk mengeluarkan sejumlah uang atau mengabulkan apa yang diinginkan anak-anak. Jika anak mendapat pemberian dalam bentuk apa pun dari orang dewasa, maka berterima kasih adalah hal yang pantas untuk membalasnya. Sebenarnya bukan hanya ketika lebaran saja kebiasaan berterima kasih ini harus diterapkan, namun harus di setiap waktu. Jadi orang tua bisa mengajarkan berterima kasih sedini mungkin pada anak.



5 Jangan Biasakan Meminta THR

Meski memberi THR sudah menjadi tradisi yang bisa dibilang tidak mungkin untuk dihilangkan dalam momen lebaran bersama keluarga, namun mengajarkan anak untuk meminta-minta THR kepada kerabat bukanlah sebuah hal yang positif. Orang tua harus ingat bahwa meskipun sebuah tradisi kuat, memberi THR bukanlah sebuah kewajiban. Dampak buruknya adalah mental anak yang terlatih untuk meminta uang terutama ketika momen lebaran tiba, yang jika dibiarkan hingga dewasa akan menjadi sebuah kebiasaan yang sulit dihilangkan. Mungkin ketika masih kecil terlihat lucu, namun semakin bertambah usia anak, maka kelucuan itu akan berganti dengan ketidaknyamanan bagi kerabat yang dimintai THR. 


Baca juga: Langkah Ibu Hebat Ciptakan Keluarga Kuat Lawan Covid-19


Itulah lima sikap yang sebaiknya diajarkan orang tua kepada anak agar momen lebaran semakin menyenangkan, baik bagi anak maupun orang tua. Anak sudah mengerti apa yang seharusnya dilakukan ketika berbagai tradisi lebaran hadir di hadapnnya, seperti bersalaman, meminta maaf atau berterima kasih. Bagaimanapun, anak adalah cerminan orang tuanya. Apa saja sikap anak yang ditunjukkan, pasti orang tua juga turut menerima respon sosialnya.


Selamat Hari Raya Idul Fitri 1442 H. Mohon maaf lahir dan batin untuk semua pembaca :)


Semoga bermanfaat.



No comments:

Post a Comment

Sebelum komentar, login ke akun Google dulu ya teman-teman. Jangan ada "unknown" diantara kita. Pastikan ada namanya, biar bisa saling kenal :)